BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Penyakit Berbasis Lingkungan
2.5.2 ISPA
ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung, dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari. ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008).
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia, dan Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dan lain-lain (Suhandayani, 2007).
Salah satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran bahan bakar kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan bakar kayu ini banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga selalu melakukan aktivitas memasak tiap hari menggunakan bahan bakar kayu, gas, maupun minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa disadari telah mereka hirup sehari-hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk, sesak nafas, dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar kayu tersebut mengandung zat-zat seperti Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur, Nitrogen yang sangat bebahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2002).
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah : a. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek, dan sesak.
b. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 39˚C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.
c. ISPA berat
Gejala meliputi kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.
ISPA adalah suatu kelompok penyakit sebagai penyebab angka absensi tertinggi bila dibandingkan dengan kelompok penyakit lain. Lebih dari 50%
absensi dari semua angka tidak masuk kerja/sekolah disebabkan penyakit ini.
Angka kekerapan kejadian ISPA, tertinggi pada kelompok-kelompok tertutup di masyarakat, misalnya penghuni asrama, sekolah, atau sekolah yang juga menyelenggarakan pemondokan (Alsagaff dan Mukty, 2010).
ISPA yang mengenai saluran napas bawah, misalnya bronkitis, bila menyerang kelompok umur tertentu, khususnya bayi, anak-anak dan orang tua, akan memberikan gambaran klinik yang berat dan jelek dan seringkali berakhir dengan kematian (Alsagaff dan Mukty, 2010).
ISPA dikenal sebagai salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang (Denny dan Loda, 1986). Sebagian besar hasil penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20-35% kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan bahwa 2-5 juta bayi dan anak balita di berbagai negara setiap tahun mati karena ISPA. Dua per tiga dari kematian ini terjadi pada kelompok usia bayi, terutama bayi pada usia 2 bulan pertama sejak kelahiran (WHO, 2008).
Saluran pernapasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien dari sistem saluran pernapasan ini. Sudah menjadi suatu kecenderungan bahwa terjadinya infeksi bakterial mudah terjadi pada saluran napas yang telah rusak sel-sel epitel mukosanya, yang disebabkan oleh infeksi-infeksi yang terdahulu. Keutuhan gerak lapisan mukosa dan silia dapat terganggu karena asap rokok, gas SO2, pencemaran
udara, dan lain-lain. Makrofag biasanya banyak terdapat di alveoli dan baru akan dimobilisasi ke tempat-tempat dimana terjadi infeksi. Asap rokok menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri, sedang alkohol menurunkan mobilitas sel-sel ini. Antibodi setempat pada saluran napas, adalah IgA yang banyak terdapt di mukosa. Kurangnya antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran pernapasan (Alsagaff dan Mukty, 2010).
Pada ISPA dikenal tiga cara penyebaran infeksi yaitu: melalui aerosol yang lembut terutama oleh karena batuk, melalui aerosol yang lebih kasar, terjadi pada waktu batuk dan bersin-bersin, dan melalui kontak langsung/tidak langsung dari benda yang telah dicemari jasad renik (hand to hand transmission). Pada infeksi virus, transmisi diawali dengan penyebaran virus ke daerah sekitar terutama melalui bahan sekresi hidung. Virus yang menyebabkan ISPA terdapat 10-100 kali lebih banyak di dalam mukosa hidung daripada mukosa faring (Alsagaff dan Mukty, 2010).
2.5.3 Penyakit kulit
Salah satu bagian tubuh yang cukup sensitif terhadap berbagai macam penyakit adalah kulit. Kulit merupakan pembungkus yang elastik yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Lingkungan yang sehat dan bersih akan membawa efek yang baik bagi kulit. Demikian pula sebaliknya, lingkungan yang kotor akan menjadi sumber munculnya berbagai macam penyakit antara lain penyakit kulit (Harahap, 2000).
Faktor- faktor yang mempengaruhi tingginya prevalensi penyakit kulit adalah iklim yang panas dan lembab yang memungkinkan bertambah suburnya
jamur, kebersihan perorangan yang kurang baik dan faktor ekonomi yang kurang memadai (Harahap, 2000).
Salah satu faktor yang menyebabkan penyakit kulit adalah kebersihan perorangan yang meliputi kebersihan kulit, kebersihan rambut dan kulit kepala, kebersihan kuku, intensitas mandi dan lain- lain (Perry, 2005).
Penyakit kulit menurut Ganong (2006), merupakan peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respons terhadap faktor endogen berupa alergi atau eksogen berasal dari bakteri dan jamur. Gambarannya polimorfi, dalam artian berbagai macam bentuk, dari bentol-bentol, bercak-bercak merah, basah, keropeng kering, penebalan kulit disertai lipatan kulit yang semakin jelas, serta gejala utama adalah gatal.
Menurut Slamet (2007), kurangnya air bersih khususnya untuk menjaga kebersihan diri, dapat menimbulkan berbagai penyakit kulit. Hal ini terjadi karena bakteri yang selalu ada pada kulit mempunyai kesempatan untuk berkembang.
Penyakit akibat kurangnya air bersih adalah segala macam penyakit kulit yang disebabkan jamur dan bakteri.
Virus dapat pula mempengaruhi kulit dalam bentuk kutil. Kutil yang disebabkan oleh virus bentuknya datar. Ia merupakan papula yang gatal dan memperlihatkan tanda-tanda yang khas berupa autoinkulasi sepanjang bekas garutan. Gangguan virus sistemik dapat menimbulkan ruam-ruam pada kulit, seperti yang dapat kita temukan pada campak, cacar air (herpes simpleks), herpes zoster, virus Coxsackie dan virus hepatitis B (Delp dan Manning, 1996).
Fungi juga lazim menyerang kulit manusia. Sedikit sekali orang yang bebas dari serangan dari tinea kruris, tinea pedis, atau tinea korporis (kurap). Lesi yang terjadi pada kulit biasanya berwarna merah, bersisik, berbentuk seperti cincin dengan penyebaran marginal, dan bagian tengahnya akan menyembuh (Delp dan Manning, 1996).
Candida spp. dapat menyerang kulit dan selaput lendir, menimbulkan daerah bercak yang berwarna putih keabu-abuan, sementara dibagian bawahnya terjadi erosi. Skabies adalah infestasi parasit oleh tungau Sarkoptes. Tungau akan menembus ke bawah kulit, dengan meninggalkan papula dan vesikula berwarna merah, kecil, dan liang-liang yang sangat gatal. Daerah yang sering terserang adalah selaput dorsal jari-jari, genitalia, aksila, inguinal, pantat, dan punggung bagian bawah (Delp dan Manning, 1996).
Menurut Harijono (2007), patogenesis penyakit kulit dimulai dengan paparan imunogen atau alergen dari luar yang mencapai kulit, dapat melalui sirkulasi setelah atau secara langsung memalui kontak dengan kulit. Beberapa peneliti menyebutkan alergen yang umum antara lain adalah sebagai berikut :
a. Aeroalergen atau alergen inhalant : tungau debu rumah (house dust mite), serbuk sari buah (polen), bulu binatang (animal dander), jamur (molds) dan kecoa.
b. Makanan : susu, telur, kacang, ikan laut, kerang laut, dan gandum.
c. Mikroorganisme : bakteri seperti staphylococcus aureus, streptococcus species, dan ragi (yeast) seperti pityrosporum ovale, candida albicans dan trycophyton species.
d. Bahan iritan atau alergen : wool, desinfektan, nikel, perubalsam, dan sebagainya.
2.5.4 Kecacingan
Definisi infeksi Kecacingan menurut WHO (2011) adalah sebagai infestasi satu atau lebih cacing parasit usus yang terdiri dari golongan nematoda usus.
Diantara nematoda usus ada sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah yaitu A.lumbricoides, N.americanus, T.trichuira dan A.duodenale.
Infeksi Kecacingan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang masih tinggi prevalensinya terutama pada kelompok umur balita dan anak usia sekolah dasar terutama di daerah pedesaan dan daerah kumuh perkotaan (Mardiana dan Djarismawati, 2008).
Kebiasaan hidup kurang higienis menyebabkan angka terjadinya penyakit masih cukup tinggi. Infeksi parasit terutama parasit cacing merupakan masalah kesehatan masyarakat. Penyakit infeksi ini bisa menyebabkan morbiditas. Salah satunya banyak terjadi pada anak usia anak sekolah yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan mereka (Yulianto, 2007).
2.5.5 Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi yang dapat mengenai paru-paru manusia. Sama dengan penyakit infeksi lainnya, tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis sehingga tuberkulosis bukan merupakan penyakit keturunan dan dapat ditularkan dari seseorang terhadap yang lain. dahulu (Aditama, 1994).
Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih tinggi kasusnya di masyarakat. TB berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi bahkan mengancam keselamatan jiwa manusia. TB dapat diderita oleh siapa saja, orang dewasa atau anak-anak dan dapat mengenai seluruh organ tubuh kita, walaupun yang banyak diserang adalah organ paru (WHO, 2014).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis adalah adanya sumber infeksi yaitu penderita dengan kasus terbuka atau hewan yang menderita tuberkulosis (walaupun jarang ada), jumlah basil sebagai penyebab infeksi harus cukup, virulensi yang tinggi dari basil tuberkulosis, dan daya tahan tubuh yang menurun yang memungkinkan basil berkembang biak dan keadaan ini menyebabkan timbulnya penyakit tuberkulosis paru (Alsagaff dan Mukty, 2010).
Sebagian besar basil Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam jaringan paru melalui airborene disease. Keadaan ini hanya berlangsung beberapa saat dan akan berhenti bila jumlah kuman yang masuk sedikit dan telah terbentuk daya tahan tubuh yang spesifik terhadap basil ini. Pada permulaan infeksi, basil tuberkulosis masuk ke dalam tubuh yang belum mempunyai kekebalan, selanjutnya tubuh mengadakan perlawanan dngan cara yang umum yaitu melalui infiltrasi sel-sel radang ke jaringan tubuh yang mengandung tuberkulosis. Reaksi tubuh ini disebut reaksi non spesifik (tahap pra-alergis) yang berlangsung kurang lebih 3-7 minggu. Setelah reaksi radang non spesifik dilampaui, reaksi tubuh
memasuki tahap alergis yang berlangsung kurang lebih 3-7 minggu (Alsagaff dan Mukty, 2010).
Penularan yang sering terjadi ialah melalui saluran pernapasan yang dikenal sebagai droplet infection, dimana basil tuberkulosis dapat masuk sampai ke alveol. Penularan lebih mudah terjadi bila ada hubungan yang erat dan lama dengan penderita tuberkulosis paru aktif, yakni golongan penderita yang lebih dikenal sebagai open case. Bentuk penularan lain adalah melalui debu yang beterbangan di udara yang mengandung basil tuberkulosis (Alsagaff dan Mukty, 2010).
Keluhan yang paling sering dirasakan penderita biasanya memang adalah batuk yang berdahak. Keluhan ini biasanya berlangsung beberapa minggu. Karena itu banyak negara termasuk Indonesia yang menganjurkan warganya supaya segera memeriksakan dahaknya karena terdapat kemungkinan tuberkulosis bila seseorang batuk berdahak lebih dari 2 atau 3 minggu. Selain batuk berdahak, batuk darah juga sering dijumpai pada penderita tuberkulosis (Aditama, 1994).
Keluhan dan tanda-tanda lain yang terjadi adalah suhu badan meningkat, anak tampak sakit, nyeri pada persendian sehingga anak menjadi cerewet, malaise, anoreksia, anak kelihatan lelah dan disertai keluhan nafsu makan menurun (Alsagaff dan Mukty, 2010).
2.5.6 Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD merupakan penyakit infeksi yang endemis di daerah tropis seperti Indonesia. Penyakit ini berlangsung sepanjang tahun dan mencapai puncaknya pada saat musim hujan. Hal ini disebabkan karena banyaknya tempat yang
menjadi sumber genangan air yang erupakan sarana perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk Aedes aegypti si pembawa virus dengue (Nasronudin, 2007).
Penyakit DBD saat ini menyerang semua umur dan jenis kelamin, memiliki gejala klinis yang luas, dan mengalami peningkatan saat musim hujan.
Oleh karena itu, penyakit DBD tidak dapat diatasi dengan hanya mengandalkan tenaga kesehatan saja. Partisipasi masyarakat dalam hal pencegahan serta penatalaksanaan sangat penting. Untuk menanggulangi penyakit DBD dibutuhan kebersamaan dan tanggung jawab masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan gerakan 3M (menguras, mengubur, menutup) dan abatesasi untuk mencagah perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan DBD (Nasronudin, 2007).
Saat ini DBD merupakan penyakit terpenting yang merupakan infeksi yang melemahkan data tahan tubuh. Umumnya menyerang anak-anak dan dewasa, dengan demam, sakit kepala, rasa sakit pada otot dan sendi, serta demam yang terkadang dihubungkan dengan kejang-kejang yang disebut dengan sindrom kejang dengue. DBD terjadi lebih sering pada anak balita dan anak kecil (Achmadi, 2011).
2.5.7 Filariasis
Penyakit Filariasis disebut juga elephantiasis atau kaki gajah. Infeksi penyakit ini terutama pada bagian tungkai atau tangan yang menyebabkan pembengkakan dan deformasi organ tubuh. Pembengkakan dan deformasi organ tubuh terjadi karena bentuk dewasa parasit cacing filaria (umumnya adalah Wucheria bancrofti) yang hidup dalam kelenjar getah bening pada bagian tungkai.
Karena parasit tersebut menutup saluran getah bening, timbunan kelenjar getah bening mengalami akumulasi (Sembel, 2009).
Cacing nematoda adalah cacing yang menyebabkan filariasis pada manusia, khususnya di Indonesia. Penyakit ini ditransmisi oleh nyamuk Cx quinquefasciatus, Anopheles gambiae, An.Funestus, An.Scapularis, dan An.Pseudoscutellaris, terutama untuk jenis cacing Wu. brancrofti. Sedangkan untuk Brugia malayi nyamuk penularnya adalah mansonia, Anopheles dan Aedes.
Untuk Brugia timori dapat pula ditularkan oleh An.barbirostris (Achmadi, 2011).
Sama halnya dengan dengan penyakit-penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk, pencegahan dan pengendalian filariasis juga sama, yaitu menghindari gigitan nyamuk. Sementara itu, pengendalian nyamuk dapat pula dengan menggunakan insektisida atau larvasida (Sembel, 2009).
2.5.8 Pneumonia
Pneumonia adalah penyakit utama baik dalam jumlah kesakitan maupun jumlah kematian. Di berbagai negara terutama negara-negara berkembang pneumonia merupakan pembunuh balita nomor satu. Pneumonia disebabkan Pneumococcal merupakan infeksi bakteri akut. Cara penularan melalui medium udara, percikan ludah, kontak langsung dengan mulut, dan melalui kontak benda-benda yang digunakan bersama. Kepadatan hunian penduduk diperkirakan merupakan faktor risiko utama (Achmadi, 2011).
Sebagian besar penyebab pneumonia adalah mikroorganisme (virus atau bakteri) dan sebagian kecil oleh penyebab lain seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke
dalam saluran pernapasan. Mikroorganisme tersering penyebab pneumonia adalah virus. Awalnya mikroorganisme masuk melalui percikan ludah, kemudian terjadi penyebaran mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan paru dan sebagian kecil karena penyebaran melalui aliran darah (Misnadiarly, 2008).
Perjalanan mikroorganisme bisa sampai ke paru-paru antara lain melalui:
a. Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar b. Aliran darah dari infeksi di organ tubuh yang lain
c. Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.
Pada pneumonia pneumokok, kuman yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam alveol menyebabkan reaksi radang berupa sembab seluruh alveol yang terkena disusul dengan infiltrasi sel-sel radang. Sebagai awal pertahanan tubuh, terjadi fagisitosis kuman penyakit oleh sel-sel radang melalui proses psedopodi sitoplasmik yang mengelilingi dan “memakan” bakteri tersebut (Alsagaff dan Mukty, 2010).
Gejala pneumonia bersifat akut. Penderita merasa badannya panas dingin disertai menggigil dan disusul dengan peningkatan panas badan 40˚C. Panas badan meninggi pada pagi dan sore hari. Batuk-batuk terdapat pada 75%
penderita, batuk disertai dahak berwarna merah cokelat, kadang-kadang berwarna hijau dan purulen. Dapat pula batuk disertai darah yang bervariasi dari sedikit sampai banyak. Nyeri dada atau nyeri pleuritik dirasakan waktu menarik napas dalam (Alsagaff dan Mukti, 2010).
2.5.9 Aspergillosis
Agen penyakit Aspergillosis adalah Aspergillis fumigates atau Aspergillus flavus, sedangkan media utama kontaknya adalah udara. Aspergillus beredar di seluruh dunia dan jarang namun sporadik menimbulkan gangguan kesehatan (Achmadi, 2011).
Aspergillosis adalah salah satu contoh penyakit yang disebabkan oleh jamur, khususnya aspergillus. Penyakit ini muncul dengan berbagai sindroma klinis. Penderita yang alergi dapat terkena penyakit ini menyebabkan allergic bronchopulmonary aspergillus. Jamur aspergillus juga bisa bergabung dengan bakteri yang menyebabkan abses paru. Sedangkan aspergillosis invasive (menyerang seluruh sistem) terjadi pada penderita yang menerima imunosupresif atau obat penekan immune sistem (misalnya pada penderita cangkok organ).
Jamur bisa menyerang ke seluruh organ khususnya otak dan jantung (Achmadi, 2011).
2.5.10 Malaria
Malaria merupak penyakit infeksi parasitik yang terpenting di dunia dengan perkiraan satu liliar orang berada dalam risiko tertular penyakit ini. Setiap tahunnya 2,5 juta penderita meninggal dunia dan sebagian besar merupakan anak-anak yang berumur di bawah 5 tahun (Soedarto, 2009).
Menurut Soedarto (2009), terdapat 4 spesies parasit malaria pada manusia, yaitu Plasmodium falciparum, P.vivax, P.ovale, P.malariae. Ciri khas morfologi Plasmodium adalah sebagai berikut:
1. Plasmodium falciparum : gametosit berbentuk pisang
2. P.vivax : trofozoid berbentuk amuboid dengan sel darah merah yang terinfeksi membesar ukurannya
3. P.ovale : sel darah merah yang terinfeksi bentuknya tidak teratur dan bergerigi
4. P.malariae : trofozoid dewasa berbentuk pita (band-form).
Malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles betina . Penularan malaria juga dapat terjadi melalui transfusi darah , melalui jarum suntik yang berulang kali digunakan, atau melalui cara transplasental (Soedarto, 2009).
Gejala malaria tergantung jenis agen penyakit, yakni parasit Plasmodium.
Malaria oleh P.falciparum memberikan gejala klinis yang sangat bervariasi seperti demam, menggigil, berkeringat, batuk, diare, sakit kepala, gangguan pernapasan, dan pucat. Semua gejala tersebut tidak harus ada semua (Achmadi, 2011).
2.5.11 Demam Chikungunya
Chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya yang disebarkan ke manusia melalui gigitan nyamuk. Sebagai penyebar penyakit adalah nyamuk Aedes aegypti, juga dapat disebabkan Aedes albopictus. Nama penyakit berasal dari bahasa Swahili yang berarti berubah bentuk atau bungkuk, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi yang hebat (Suharto, 2007).
Penderita chikungunya tidak bisa berjalan, untuk menahan rasa sakitnya penderita membungkuk seperti udang. Diperkirakan berasal dari Afrika dan kini
telah merebak di Indonesia, Australia bagian utara, India dan merambah ke seluruh dunia terutama wilayah tropis atau subtropis (Achmadi, 2011).
Masa inkubasi berkisar 1-4 hari, merupakan penyakit self-limiting dengan gejala akut yang berlangsung 3-10 hari. Nyeri sendi merupakan keluhan utama pasien yang kadang-kadang berlangsung sampai beberapa minggu atau bulan.
Meskipun tidak pernah dilaporkan menyebabkan kematian, masyarakat sempat cemas karena penyakit ini disertai keluhan nyeri sendi yang mengakibatkan pasien seperti lumpuh (Suharto, 2007).
Gejala deman Chikungunya mirip dengan gejala DBD yaitu demam tinggi, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah di kulit terutama badan dan lengan. Bedanya dengan DBD adalah pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, syok, maupun kematian.
Nyeri sendi terutama mengenai sendi lutut, pergelangan kaki, serta persendian jari tangan dan kaki (Suharto, 2007).
Tindakan pencegahan Chikungunya adalah dengan menghilangkan tempat dimana nyamuk dapat meletakkan telurnya, terutama pada tempat penyimpanan air buatan, misalnya bak mandi, kolam ikan, ban mobil, atau kaleng kosong.
Tempat menyimpan air hujan atau penyimpanan air (kontainer plastik, drum) hendaknya tertutup rapat. Ban mobil bekas maupun kaleng kosong sebaiknya dimusnakhkan. Tempat air minum hewan peliharaan dan vas bunga hendaknya dikosongkan atau diganti setidaknya seminggu sekali (Suharto, 2007).
2.6 Balita
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih populer dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris, 2006).
Menurut Sutomo dan Anggraeni (2010), balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah (3-5 tahun).
Pada kelompok bayi dan balita, penyakit-penyakit berbasis lingkungan menyumbangkan lebih 80% dari penyakit yang diderita oleh bayi dan balita.
Keadaan tersebut mengindikasikan masih rendahnya cakupan dan kualitas intervensi kesehatan lingkungan. Munculnya kembali beberapa penyakit menular sebagai akibat dari semakin besarnya tekanan bahaya kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan masalah sanitasi cakupan air bersih dan jamban keluarga yang masih rendah, perumahan yang tidak sehat, pencemaran makanan oleh mikroba, telur cacing dan bahan kimia, penanganan sampah dan limbah yang belum memenuhi syarat kesehatan, vektor penyakit yang tidak terkendali (nyamuk, lalat,kecoa,pinjal,tikus), pemaparan akibat kerja, bencana alam, serta perilaku masyarakat yang belum mendukung pola hidup bersih dan sehat (Putri, 2008).
2.7 Kerangka Konsep
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Penilaian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei, yaitu suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu.
Survei yang dilakukan pada penelitian ini termasuk ke dalam survey rumah tangga (household survey), yaitu survey deskriptif yang ditujukan kepada rumah tangga yang digunakan untuk memperoleh informasi tidak hanya mengenai keluarga saja melainkan juga dapat berupa informasi tentang lingkungan dan rumah.
Penelitian ini termasuk penelitian observasional karena peneliti hanya melakukan pengamatan langsung (observasi) dan wawancara tanpa memberikan perlakuan pada objek penelitian.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Sihonongan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai Agustus 2016.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang tinggal di Desa Sihonongan dengan total sebanyak 150 balita.
3.3.2 Sampel
Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin:
n = N
1 + N(d)² n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d = Derajat kepercayaan (0,1)
Berdasarkan rumus diatas maka besar sampel dapat dihitung sebagai berikut :
n = N
1 + N(d)²
n = 150
1 + 150(0,1)² n = 60
Berdasarkan perhitungan diatas didapatkan jumlah sampel keseluruhan yang dibutuhkan adalah 60 sampel.
3.4 Teknik Pengambilan Sampel
Metode yang digunakan adalah Simple Random Sampling atau sering disebut random sampling atau probability sampling. Dengan metode ini sebuah sampel diambil sedemikian rupa sehingga setiap unit penelitian dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.
3.5 Metode Pengumpulan Data
3.5 Metode Pengumpulan Data