BAB III METODE PENELITIAN
4.3 Kondisi Rumah Tinggal
Penilaian rumah sehat dilakukan berdasarkan Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat (Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes RI 2007). Pedoman teknis ini disusun berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Kriteria rumah ditentukan dengan menghitung skor. Skor adalah total perkalian antara nilai dengan bobot. Skor untuk rumah yang memiliki nilai tertinggi pada setiap aspek adalah 1280. Rumah dikategorikan sehat atau memenuhi syarat jika total perkalian antara nilai dengan bobot berkisar antara 80%-100% dari total skor atau 1024-1280. Rumah dikategorikan tidak sehat atau tidak memenuhi syarat jika total perkalian antara nilai dengan bobot < 80% total skor atau <1024.
Berdasarkan observasi yang dilakukan di Desa Sihonongan didapat hasil bahwa rentang skor dari 60 rumah balita yang diteliti adalah 287 - 856 atau sekitar 22% - 67% dari total skor sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh rumah tergolong tidak sehat.
Kondisi rumah tinggal dari 60 sampel penelitian di Desa Sihonongan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Penilaian Rumah Sehat
b. Ada, kotor, sulit dibersihkan, dan rawan
kecelakaan 8 13,33
tembok/pasangan bata atau batu yang tidak diplester/papan tidak kedap air.
43 71,67 c. Permanen(tembok/pasangan bata atau
batu yang diplester), papan kedap air 17 28,33
3. Lantai
a. Tanah 0 0
b. Papan/anyaman bambu dekat dengan
tanah/plesteren yang retak dan berdebu 25 41,67 c. Diplester/ubin/keramik/papan (rumah
b. Ada, luas ventilasi permanen <10% dari
luas lantai 9 15
c. Ada, luas ventilasi permanen >10% dari
luas lantai 0 0
7. Lubang asap dapur
a. Tidak ada 60 100
b. Ada, luas ventilasi dapur <10% dari luas
lantai dapur 0 0
c. Ada, luas ventilasi dapur >10% dari luas lantai dapur (asap keluar dengan untuk dipergunakan membaca dengan normal
19 31,67 c. Terang dan tidak silau sehingga dapat
dipergunakan untuk membaca dengan
normal 10
16,67
N
memenuhi syarat kesehatan 0 0
c. Ada, milik sendiri dan tidak memenuhi
syarat kesehatan 0 0
d. Ada, bukan milik sendiri dan memenuhi
syarat kesehatan 4 6,67
e. Ada, milik sendiri dan memenuhi syarat
kesehatan 52 86,67
b. Ada, bukan leher angsa, tidak ada tutup,
disalurkan ke sungai/kolam 0 0
c. Ada, bukan leher angsa, ada tutup,
disalurkan ke sungai/kolam 2 3,33
d. Ada, bukan leher angsa, ada tutup, sumber air (jarak dengan sumber air <10 m)
0 0
c. Ada, dialirkan ke selokan terbuka 0 0 d. Ada, diresapkan tetapi tidak mencemari
sumber air (jarak dengan sumber air >10 m)
0 0
e. Ada, disalurkan ke selokan tertutup
(saluran kota) untuk diolah lebih lanjut 0 0 4. Sarana
N
Berdasarkan kegiatan observasi yang dilakukan di Desa Sihonongan, kondisi rumah tinggal dari 60 sampel penelitian di Desa Sihonongan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Komponen rumah
Pada umumnya rumah yang dihuni penduduk tidak memiliki langit-langit rumah yaitu 50 rumah (83,33%). Sebagian besar rumah penduduk memiliki dinding dengan kategori semi permanen/setengah tembok yaitu 43 rumah (71,67%). Lantai rumah penduduk dalam kondisi diplester (semen) yaitu 35 rumah (58,33%). Pada umumnya rumah telah memiliki jendela kamar tidur yaitu 50 rumah (83,33%) dan jendela ruang keluarga yaitu 59 rumah (98,33%). Pada umumnya rumah yang dihuni penduduk memiliki ventilasi. Namun ventilasi tersebut ditutup dengan karton atau triplek akibat suhu udara yang sangat dingin yang berkisar antara 16-19˚C sehingga digolongkan tidak memiliki ventilasi rumah yaitu 51 rumah (85%). Seluruh rumah tidak memiliki lubang asap dapur, dan kondisi pencahayaan rumah penduduk lebih banyak dalam kondisi yang tidak
terang sehingga tidak dapat dipergunakan untuk membaca dengan normal yaitu 31 rumah (51,67%).
2. Sarana Sanitasi
Pada umumnya rumah telah memiliki sarana air bersih yang tergolong dalam kategori milik sendiri dan memenuhi standar kesehatan yaitu 52 rumah ( 86,67%). Sebagian besar rumah telah memiliki jamban leher angsa dan septic tank yaitu 39 rumah (65%). Seluruh rumah tidak memiliki saluran pembuangan air limbah, dan pada umumnya rumah tidak memiliki sarana pembuangan sampah yaitu 55 rumah (91,67%).
3. Perilaku Penghuni
Berdasarkan kegiatan observasi penelitian yang dilakukan di Desa Sihonongan didapat hasil penilaian bahwa lebih banyak penghuni rumah yang membuka jendela kamar setiap hari yaitu 30 rumah (50%). Sebagian besar penghuni rumah membuka jendela ruang keluarga setiap hari yaitu 45 rumah (75%). Sebagian kecil penghuni rumah membersihkan halaman rumah kadang-kadang yaitu 34 rumah (43,33%), lebih banyak penghuni rumah yang membuang tinja balita ke jamban setiap hari yaitu 32 rumah (53,33%), dan pada umumnya penghuni rumah membuang sampah secara sembarangan, ke kebun, atau langsung dibakar yaitu 56 rumah (93,33%).
4.4 Penyakit Berbasis Lingkungan
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Paranginan, penyakit berbasis lingkungan yang tertinggi berdasarkan jumlah kunjungan di Desa Sihonongan adalah ISPA, diare, dan penyakit kulit. Pada bulan Maret sampai
dengan Juni 2016, terdapat 47 kasus ISPA, 19 kasus diare, dan 17 kasus penyakit kulit.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap responden dari sampel penelitian yaitu balita yang terdiri dari 33 laki-laki dan 27 perempuan di Desa Sihonongan Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 4.3 Riwayat Keluhan Penyakit Berbasis Lingkungan Pada Balita
Keluhan Jumlah
Balita
Persentasi (%) Perut mulas, frekuensi BAB meningkat, dan
konsistensi tinja yang lembek atau encer selama kurang dari 14 hari.
5 8,33
Batuk dan pilek yang berlangsung selama kurang lebih 14 hari.
11 18,33
Ruam, kemerahan dan gatal pada kulit 6 10
Tidak ada riwayat penyakit 38 63,33
Jumlah 60 100
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa sebagian besar balita tidak memiliki keluhan penyakit, yaitu 38 orang (63,33%), sedangkan yang memiliki keluhan penyakit sebanyak 22 orang (36,67%).
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil penelitian, pendidikan terakhir responden yang ditamatkan lebih banyak pada tingkat SMP yaitu 32 orang (53,3%). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden masih tergolong rendah.
Tingkat pendidikan yang masih rendah mungkin disebabkan oleh penghasilan keluarga yang masih rendah dan tidak mencukupi karena pada umumnya masyarakat Desa Sihonongan bekerja sebagai petani. Kondisi ini membuat akses masyarakat terhadap pendidikan menjadi sulit untuk dijangkau.
Jenis pekerjaan dan keadaan ekonomi penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga. Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh yang lebih baik, misalnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat. Tingkat pendidikan yang lebih baik memungkinkan seseorang dapat menyerap informasi lebih baik dan juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi setiap masalah yang dihadapi, termasuk masalah kesehatan. Tingkat pendidikan seseorang akan memiliki andil besar dalam pola pikir dan masalah kesehatan. Tingkat pendidikan juga menentukan pengetahuan terhadap sesuatu khususnya pengetahuan tentang kondisi lingkungan dalam penanganan keluhan penyakit.