• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data Hasil Penelitian

3. Deskripsi Subjek P

Gambaran Kepercayaan Diri

Subjek bernama P ini merupakan subjek berjenis kelamin perempuan, berasal dari Gunung Kidul dan merupakan anak terakhir dari 3 bersaudara. Orang tua subjek bekerja sebagai petani. Orang tua sangat mendukung subjek dan dapat menerima diri subjek apa adanya. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan kakak laki-laki subjek yang kurang dapat menerima subjek dengan keterbatasan fisiknya. Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan subjek termasuk orang yang cenderung percaya diri. Subjek yang sekarang genap berusia 17 tahun juga memiliki kemandirian sejak kecil. Subjek juga memiliki hobby bermain gitar. Kepercayaan diri subjek dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:

a. Konsep Diri

Subjek P berjenis kelamin perempuan dan termasuk orang yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dibandingkan dengan kedua subjek lainnya. Hal ini dapat terlihat ketika peneliti melakukan observasi di pusat rehabilitasi, dimana peneliti menemukan subjek sedang berkaca di depan kelas dan mengatakan kepada teman-temannya bahwa subjek itu cantik. Saat mengatakan demikian subjek terlihat mengibaskan rambut dengan tingkah laku yang percaya diri. Selain ingin mendapat perhatian dari teman-temannya, subjek juga mencari perhatian dari pendampingnya. Berkaitan dengan konsep diri, subjek cenderung belum memiliki konsep diri yang menetap (cenderung labil). Hal ini dapat tercermin dari simbol

yang digunakan subjek untuk menggambarkan dirinya. Subjek menyatakan dirinya seperti pohon yang masih mengikuti arah mata angin jika tertiup, akan tetapi subjek tetap teguh dengan pendiriannya untuk perubahan yang lebih baik. Berikut penuturan subjek P kepada peneliti :

Saya seperti pohon, kenapa?karena saya masih mengikuti arah mata angin, pohon itu setiap ditiup sama angin pasti gerak-gerak, jadi saya itu belum apa yah istilahnya belum bisa percaya pada diri saya sendiri gitu.

( W. P. 2 )

Yah..saya tetap akan teguh dengan pendirian saya walaupun itu sekecil apapun saya menghargai itu karena itulah perubahan saya untuk lebih baik lagi.( W. P. 3 )

Pemaparan P ini menunjukkan bahwa sebagai remaja P sedang mengalami masa peralihan atau pencarian identitas, dimana terkadang dirinya bersikap terlalu percaya diri namun pada suatu waktu dirinya akan bertingkah laku sebaliknya yakni kurang percaya diri. Selain itu, subjek juga suka mengeluh ketika dihadapi oleh suatu persoalan yang diberikan oleh pendamping. Berikut ini merupakan pendapat pendamping tentang P :

saya lihat pertama kali, P memang sudah cukup aktif yah dan sudah cukup memiliki inisiatif, hanya saja yang terkadang menjadi permasalahan adalah over jadi sikapnya yang berlebihan, ketika diminta maju sebenarnya dia itu bisa, banyak yang mungkin ini ekstrim kanan dan kiri, kalau lagi mencari perhatian ingin menunjukkan kepada kami sebagai pendamping ini loh…aku bisa, tapi kalau lagi negatif dia mengeluh, belum dicoba belum melakukan sesuatu dia mengeluh….( W. Pn. 4 )

Sebagai remaja, P juga mempunyai pemikiran ke depan untuk mandiri tidak menyusahkan orang lain sehingga dalam setiap aktivitas subjek

mempunyai inisiatif dan tekun dalam mendalami kegiatan yang subjek senangi salah satunya adalah membatik. Ketika ditanya mengenai cita-cita atau tujuan hidup P memaparkan :

Cita-citanya hm…itu yo semua orang sih pingin sukses yah tentunya itu, saya belajar dari nol, mulai dari nol itu saya dari sekarang berpikir untuk mencapai tujuan saya ke depannya karenakan belum tentu orang tua kita itu hidup lama dari kita, kan musti orang tua itu pasti meninggal jadi kita itu harus bisa mandiri dan gak mungkinkan saya harus tergantung dengan orang tua karena orang tua itu gak selalu ada.

( W. P. 4 )

Hm..saya mau ikut kursus batik karena batik itu seni dan kita harus melestarikan budaya itu karena itu budaya Indonesia.( W. P. 5 )

b. Kondisi Fisik

1) Gambaran Kondisi Fisik

Subjek P terlahir sebagai tuna daksa bawaan sejak 17 tahun yang lalu. Kecacatan yang disandang P adalah di bagian tangan dimana subjek tidak mempunyai jari-jari atau dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu (Congenital amputation ). Subjek P adalah pribadi yang percaya diri sehingga keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk berperilaku mandiri mengerjakan segala sesuatunya sendiri, hanya untuk hal-hal tertentu saja subjek meminta tolong kepada orang lain seperti menjepitkan ikat rambut.

Saya bisa nyapu, bisa nyuci baju sendiri, terus bisa ngelap piring apalah yang sepantasnya teman-teman saya lakuin, yo…misalkan saya tergantung sama orang lain misalkan minta tolong misalkan jepitin rambut atau kuncirin rambut gitu, tapi kalau hal-hal lain saya tidak tergantung dengan teman-teman kalau saya bisa melakukan saya

melakukannya sendiri. Kalau saya minta tolong sama teman tuh kalau hal-hal tertentu, kayak gitu. (W. P. 21 )

Keterbatasan fisik juga tidak menghalangi P untuk belajar alat musik gitar dan membatik ketika berada di Yakkum. Saat subjek memainkan gitar posisi gitarnya diletakkan di lantai, senar gitar dipetik secara luwes dengan menggunakan jari-jari kakinya. Subjek terlihat mahir mengiringi peneliti menyanyikan beberapa lagu. Berikut penuturan subjek :

….saya membuktikan bahwa orang cacat itu bisa dengan segala keterbatasan apapun, tapi kalau misalkan kita ada niat ada kemauan untuk maju pasti kita bisa untuk maju, buktinya dulu saya gak bisa maen gitar sekarang sudah bisa maen gitar gitu. Yang menghambat itu, kalau mau metik senar gitar itu pasti kepetik semua itu, jadi saya itu berlatih untuk sabar dan teliti untuk maen gitar itu karena setiap saya memetik satu senar gitar pasti kepetik semua jadi maklum pakek kaki jadi kepetik semua gitarnya tapi saya dapat memetik satu senar gitar, saya belajar dari sekarang akhirnya sedikit demi sedkit saya bisa melakukannya (sambil tertawa).(W. P. 26 dan 27 )

Yah..kalau gak pakek kaki, saya membatiknya pakek tangan, kalau tangan capek pasti saya gantikan dengan kaki untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena tanpa kaki sama tangan saya tidak bisa melakukan seperti ini, contohnya gitar atau mbatik gitu, kalau saya tanpa ini semua gak bisa melakukannya.(W. P. 33 )

2) Penerimaan Diri

Berikut ungkapan subjek bahwa dirinya merupakan remaja yang percaya diri dan mandiri yang bisa menerima keterbatasan fisiknya secara apa adanya.

Yah…saya merasa percaya diri yo…saya sudah merasa percaya diri dengan keadaan seperti ini karena keadaan ini tidak bisa mengubah kita walaupun yah…misalkan kalau sudah kayak gini yah kayak gini, kita menerima ajah jalanin ajah dengan sepenuh hati kan gak mungkin kan berubah. (W. P. 12 )

Saat peneliti mengajak teman ke Yakkum dan memperkenalkan kepada subjek, subjek mengulurkan tangannya layaknya orang normal. Subjek menanggapinya secara wajar tanpa disertai dengan perasaan minder ataupun malu. Temuan ini dikuatkan oleh pendapat pendamping.

.…wujud dari penerimaan diri mereka adalah ketika mereka tetap mau salaman tapi dengan menggunakan cara mereka bukan cara kita normal secara fisik. Misalkan seperti Puji ini, Pujikan tidak punya jari yah ada sampai lengan, kemudian indikator kami ketika anak ini sudah cukup dapat menerima diri ketika diajak salaman dia tetap mengulurkan tangannya, meskipun hanya sampai pada lengannya, lengan tanpa jarinya dan itu merupakan wujud suatu penerimaan diri….(W. Pn. 10)

c. Sosial

1) Lingkungan Keluarga

Subjek P adalah seorang gadis yang terlahir sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara. Komunikasi antara P dengan orang tuanya dapat berlangsung dengan baik dimana ada sikap saling mempercayai dan menghargai. Namun, hal ini berbeda ketika subjek berhubungan dengan kakaknya, kakak subjek cenderung kurang dapat menerima kehadiran subjek di dalam keluarga. Berikut penuturan subjek kepada peneliti :

Kalau bapak sama ibu sih kalau sama saya, baik-baik saja yo gak ada masalah, dia menerima saya dengan apa adanya tapi yang kakak saya yang laki-laki itu kalau sama saya gak ada akur-akurnya setiap saya pulang ke rumah pasti bertengkar terus, mungkin gara-gara punya adik seperti saya jadi yah dia malu punya adik seperti saya dengan teman-temannya, punya adek kayak gini. (W. P. 7 )

Menurut penuturan subjek komunikasi yang terjalin antara subjek dengan saudara laki-lakinya kurang harmonis, terkadang terlontar kata-kata yang tidak menyenangkan terkait kondisi fisik subjek. Akan tetapi, subjek berusaha menunjukkan sikap percaya diri dalam menjalin komunikasi dengan kakaknya tersebut. Berikut pemaparan subjek :

Sikap saya yah cuma biasa-biasa ajah tapi yo kalau misalkan dia ngomong apa, pasti omonganya itu tak balik jadi ketika dia itu caci maki saya pasti saya kalau sudah membalikkan kata-kata itu pasti dia diem gak bisa jawab apa-apa.(W. P. 9 )

2) Lingkungan Teman Sebaya

Ketika berada di lingkungan sekolah, semasa SD subjek berusaha untuk menyesuaikan diri dan menjalani aktivitasnya dengan senang hati.

Pernah waktu itukan saya mengikuti pendidikan disini berapa…8 tahun terus bersekolah di sekolah umum, waktu itu saya jalanin dengan senang ajah, happy happy….(W. P. 28 )

Sebelum di Yakkum subjek cenderung sensitif dan hanya bisa menangis ketika mendengar suara ejekan yang berhubungan dengan kondisi fisiknya. Namun, setelah menjalani program pengembangan, dirinya bisa mempunyai rasa percaya diri dan bisa bersikap sopan pada orang lain. Berikut penuturan subjek kepada peneliti :

Kalau dirumah sih biasa-biasa ajah, kalau dulu sih denger suara dikit nangis atau gimana, semenjak disini mau denger suara kayak apapun ah…biasa-biasa ajah, cuekin ajah, kenyataannya emang begini, kenyataan itu gak bisa diubah oleh suatu apapun. Jadi saya tetep merasa percaya diri dan optimis dalam menjalani hidup karena hidup itu cuma sekali jadi dibuat senang-senang ajah walaupun disamping itu ada susahnya pikir ntar-ntar ajah gitu.(W. P. 25 )

Sebagai remaja, subjek juga mengalami masa-masa tertarik dengan lawan jenis. Peneliti menemukan sebagian besar status di account facebooknya berisi tentang percintaan. Salah satu diantaranya, yaitu :

tuhan zmga aq bza k'tmu ma dy .. krma aq cynx bgt ma dy .. I LOVE YOU(Tuhan semoga aku bisa ketemu sama dia, karena aku sayang banget sama dia. I LOVE YOU, 19 Desember 2011,terjemahan peneliti

3) Lingkungan Masyarakat Umum

Sewaktu berhubungan dengan orang lain, subjek merasa percaya diri bahkan subjek terlibat aktif di dalam kegiatan masyarakat. Berikut penuturan subjek tentang aktivitas yang diikutinya :

….waktu jadi panitia pas lebaran kemarin itukan ada lomba takbiran dan saya jadi panitia itu. Yo….dari awal nyiapin apa yah apa yang mau disiapin buat misalkan kalau malam takbiran itu keliling semua seperti itu, jadi nyiapin barang-barang yang diperlukan dan harus bisa bertanggung jawab dengan yang saya lakukan itu.(W. P. 14 )

Saat berada di tempat yang baru subjek juga berusaha untuk ramah dan bersikap sopan saat berkenalan. Berikut penuturan subjek kepada peneliti saat di lingkungan yang baru :

….caranya kenalan, yah..ramah, ngomongnya yang sopan

yo…istilahnya apa yah kalau bercanda jangan kelewatan, kan orang kalau ada yang baru kalau ngomongnya celek-lekan kan yo pasti marah dan orang itu menganggap bahwa saya atau siapa itu gak punya etika, jadi kita kalau mau berkenalan dengan orang atau gimana itu jadi kita harus sopan dan ramah, kalau kita sudah menjalani itu pasti mereka akan tau kok. (W. P. 18 )

Selama menjalani program di Yakkum, P dapat mengembangkan hobi bernyanyi dan bermain gitar. Keinginannya bermain gitar karena tertarik atau termotivasi oleh temannya yang pandai bermain gitar bahkan P

sempat tampil di depan umum menunjukkan kemampuannya. Berikut ungkapan subjek kepada peneliti ;

Pernah di depan umum, pernah yah waktu itu hari Sabtu sore kita tampil di Amplas waktu itu kita nyanyi, sambil maen gitar waktu itu kita nyanyi dulu abis itu baru aku menampilkan sesuatu yang apa yah…saya yang maen gitar itu. Waktu itu dilihat orang banyak banged, orang disitu pas pameran.(W. P. 29 )

Walaupun pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan (diremehkan oleh orang tua temannya) subjek tetap berusaha untuk tampil percaya diri menjalin komunikasi dengan orang lain. Berikut pemaparan subjek kepada peneliti :

….waktu itu aku lagi jalan-jalan sama teman mau ke pantai toh, terus abis itu teman aku itu gak boleh jalan ama aku terus mereka apa orang tuanya dia itu ngejek-ngejek kamu mau jalan kayak gitu, apa kamu gak liat dia tuh cacat kayak gini masa kamu gak malu ama temen-temenmu mau bawa orang cacat ini maen, terus saya bilang…ouh…maap sekali yah bu saya itu gak ngajak anak ibu untuk maen tapi anak ibu yang ngajak maen saya, mmap bu bukannya saya mau ngapa-ngapain anak ibu tapi tanyalah sama anak ibu sendiri, terus saya tinggal pergi.

( W. P. 19 )

d. Ringkasan Hasil Penelitian Subjek P

Pemaparan tentang kepercayaan diri subjek P adalah sebagai berikut: Konsep diri P cenderung belum memiliki konsep diri yang menetap (cenderung labil) dimana suatu waktu sikap subjek cenderung percaya diri dan terkadang sering mengeluh. Hal ini terjadi karena subjek sedang mengalami masa peralihan atau pencarian identitas. Selain itu, subjek juga sudah mempunyai pemikiran ke depan untuk dapat menjadi pribadi yang lebih mandiri.

Subjek P hanya mengalami kecacatan pada di bagian tangan dimana subjek tidak mempunyai jari-jari atau dilahirkan tanpa anggota tubuh tertentu atau yang disebut dengan Congenital amputation. Walaupun memiliki keterbatasan fisik tidak menghalangi subjek untuk dapat melakukan aktivitas sehari-hari, hanya dalam keadaaan tertentu saja subjek meminta bantuan kepada orang lain seperti menjepitkan ikat rambut. Subjek bahkan mampu memetik dan memainkan alunan melodi dengan gitarnya dengan membatik hanya dengan kedua kakinya. Subjek S lebih dapat menerima dirinya secara apa adanya. Hal ini terlihat ketika subjek mau menjulurkan tangannya dan memulai duluan sewaktu berkenalan dengan orang yang baru dikenal.

Meskipun subjek mengalami ketidakharmonisan dengan kakak laki-lakinya akan tetapi orang tua subjek tetap mendukung subjek untuk menjadi pribadi yang mandiri sehingga membuat subjek percaya diri ketika berada di lingkungan yang baru. Sebelum di Yakkum subjek cenderung sensitif ketika mendapat ejekan dari teman sebayanya. Namun, setelah menjalani program pengembangan subjek dapat lebih menerima kondisi dirinya secara apa adanya. Subjek juga memiliki perasaa jatuh cinta kepada lawan jenisnya.

Subjek termasuk pribadi yang aktif di dalam kegiatan masyarakat diantaranya ikut panitia malam takbiran di lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu, subjek juga pernah tampil di depan umum menunjukkan kemampuannya untuk bermain gitar. Subjek juga pernah memiliki

pengalaman yang tidak menyenangkan diremehkan oleh orang tua temannya. Namun demikian subjek tetap berusaha untuk percaya diri.

Jadi kesimpulannya subjek P cenderung memiliki rasa percaya diri karena sudah terbiasa tampil di depan umum. Meskipun konsep diri subjek masih cenderung labil atau tidak menetap. Faktor kepercayaan diri pada subjek P dipengaruhi oleh dukungan sosial (keluarga & lingkungan sekitar) dan konsep diri.

Dokumen terkait