BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Data Hasil Penelitian
1. Deskripsi Subjek T
Gambaran Kepercayaan Diri
Subjek T berjenis kelamin laki-laki dengan ciri fisik berkulit sawo matang, rambut lurus, bertubuh agak gemuk, serta memiliki kecacatan pada bagian kedua kaki (tanpa jari-jari) dan salah satu tangan kirinya. Subjek yang lahir di Cilacap pada tahun 1993 merupakan anak ke 2 dari 4 bersaudara dan mempunyai dua adik kembar. Terlahir dengan kondisi cacat fisik membuat subjek cenderung kurang percaya diri. Rendahnya kepercayaan diri subjek salah satunya dipengaruhi oleh konsep diri subjek yang cenderung negatif. Uraian berikut merupakan gambaran konsep diri dari subjek T:
a. Konsep Diri
Hasil temuan terhadap subjek T menunjukkan bahwa sebelum menjalani program rehabilitasi, T secara psikologis mempunyai konsep diri yang cenderung negatif karena T pribadi yang menutup diri, tidak mau berkomunikasi verbal secara langsung dengan orang lain, pemalu dan pemalas.
Berikut pernyataan T kepada peneliti :
Waktu sebelum kesini aku orangnya pemalu, malas juga mau ngapa-ngapain malas, dibilang pemalu juga nomor satu tuh aku pemalu, tapi setelah aku nyampek disini mungkin aku kalau dibilang pede yah pede mending, dibilang gak malu ya gitu gak malu(W. T. 33)
Kecenderungan T yang menutup diri dikuatkan oleh pendapat pendamping:
Kalau Tris ketika pertama kali dia ada di Yakkum, dia pribadi yang menutup diri dengan lingkungannya dan dia juga tidak mau
berkomunikasi dengan yang lain bahkan bisa dibilang kunci dia untuk berkomunikasi adalah menggunakan handphonenya meskipun disitu banyak temannya yang ada, teman merasa bahwa teman-teman merasa dicuekin sama dia, nah ketika permasalahan itu terjadi kemudian yang dilakukan adalah bagaimana kami untuk bisa bertindak untuk mengambil handphonenya, dengan harapan agar dia bisa bersosialisasi dengan nyata, mau mendekatkan diri dengan teman-teman lain,mau ngobrol seperti itu, dan mau bersikap lebih terbuka.
( W. Pn. 1 )
Sejak mengikuti program rehabilitasi selama 6 bulan, dalam diri T ada perubahan. Subjek T mulai berani keluar dari “zona aman” dengan mulai membuka diri berani tampil di depan umum, aktif, menunjukkan bakat dan kemampuannya. Saat observasi tanggal 12 Oktober 2011, peneliti menjumpai T bersosialisasi aktif dengan mengajar kesenian kepada anak TK di sebuah mall dan subjek berani mengunjungi beberapa counter. Setelah mengikuti program pengembangan kepribadian, T merasa ada perubahan ke arah yang positif dari dirinya. Subjek sudah mau berkenalan dengan orang lain walaupun masih ada rasa canggung atau takut penolakan. Berikut pernyataan T :
….kalau dulukan kalau ada orang banyak malu….kalau sekarang mendingan, sekarang kalau mau kenalan mau nyapa itu aku masih agak-agak takut, takut orangnya gak mau orangnya maaf-maaf biasakan ada orang seperti itu, aku takutnya cuma itu doang.
( W. T. 15 )
Pernyataan dari T tersebut, dikuatkan oleh pendapat pendamping :
…. Tris juga kami rasa ada suatu perkembangan sendiri, ketika berkomunikasi untuk juga bisa menampilkan diri apa adanya, hanya saja yang terlihat adalah motivasi berbeda saat ini, ketika dia sudah kenalan banyak orang, dia sudah mau apa yah bisa dibilang mau bernisiatiflah seperti itu….( W. Pn. 1 )
Konsep diri subjek T yang mengalami perkembangan ke arah positif menurut pendamping masih harus terus dikembangkan karena hingga saat ini (31 Oktober 2011), menurut pendamping perubahan ini baru T lakukan di panti belum teruji di lingkungan yang lebih luas. Pendapat pendamping ini dikuatkan oleh temuan peneliti saat membaca status facebook subjek (www.facebook.com). Tulisan subjek di status facebook (28 Desember 2011), menunjukkan adanya rasa syukur atau penerimaan diri subjek terhadap kondisinya secara apa adanya. Lain halnya dengan tulisan status
facebook subjek (2 Januari 2012). Tulisan subjek tersebut cenderung menunjukkan konsep diri yang negatif dimana subjek dalam statusnya mempertanyakan bagaimana pandangan orang lain tentang dirinya (apa yang anda rasakan bila Anda seperti ini) .
“Aku hrz menzukuri dg hdupq zkrng ni dg kondzi ca2t mkn tuhan d mkzud knpa aku d kzh zprti ni. Tpi q zlalu enjoy dg hdpq zkrng ni. Tuhan maha adil dan maha sempurna dg zgalanya. Mkzh tuhan. Q tdk zdh ko dg kondziku zkrng mlh aku zenang love you tuhan”(Aku harus mensyukuri dengan hidupku sekarang ini dengan kondisi cacat makin Tuhan ada maksud kenapa aku di kasih seperti ini. Tapi aku selalu enjoy dengan hidupku sekarang ini. Tuhan maha adil dan maha sempurna dengan segalanya. Makasih Tuhan. Aku tidak sedih kok dengan kondisiku sekarang malah aku senang Love you Tuhan,terjemahan peneliti)
C.A.C.A.T. Pa y9 anda rzakan bla anda kya gni. Pakh mw trima pakh gk trima dn mw bnh dri. Jwb...(C.A.C.A.T. apa yang anda rasakan bila anda kayak gini. Apakah mau terima apakah gak terima dan mau bunuh diri. Jawab…,terjemahan peneliti)
b. Kondisi Fisik
1) Gambaran Kondisi Fisik
Menurut hasil observasi jenis gangguan fisik yang disandang T adalah tuna daksa yang dibawa sejak lahir pada kaki (seperti tongkat/club foot) dan tangan kiri dengan jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya (syndactylism). Subjek T memiliki proporsi tubuh yang tidak seimbang dimana subjek bertubuh pendek dan berbadan besar. Kondisi fisik ini menghambat ruang gerak subjek dalam melakukan aktivitas sehari-hari, untuk mengatasi keterbatasan fisiknya subjek menggunakan alat bantu kaki palsu dan kursi roda apabila subjek tidak menggunakan kaki palsu.
Adanya gangguan fisik tersebut tidak membatasi ruang gerak T untuk mandiri melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, minum, menyapu, memasak, dan mengepel. Jadi sebelum menjalani rehabilitasi di Yakkum, di rumah T sudah terbiasa mengerjakan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri dan menurut penuturannya aktivitas tersebut tidak ada yang mengajari. Berikut penuturan T kepada peneliti :
kalau dirumah sih kalau dibilang mandiri yah setengah-setengah sih emang sih kalau di rumah aku nyuci baju satu keluarga yang nyuci satu keluarga itu aku, masak kan orang tuanya gak dirumah jadi masak sendiri kadang yang masak aku sama adik, aku sama adik nyapu ngepel yah….yang membersihkan rumah aku, adik, dan kakak kan gada yang perempuan cowok semua 4 kan cowok semua adikku kembar
2) Penerimaan Diri
Berkenaan dengan penerimaan diri, subjek T merasa malu untuk tampil di muka umum dikarenakan kondisi fisiknya yang cacat. Berikut ungkapan T kepada peneliti :
Yah…malu sih kan aku pendek kan kelihatan kalau orang pendek, kakinya kecil, badannya besar, mungkin yang bilang itu orang cacat gitu, apalagikan kalau turun kan jalannya udah keliatan orang cacat kakinya bunyi gitu sih…malu kalau masalah itu(W. T. 23)
Sesudah mengikuti program pengembangan di Yakkum, T mengalami perubahan, rasa malunya sedikit demi sedikit bisa diminimalisir. Subjek sudah mulai berani menampilkan diri di tempat umum seperti saat merayakan lebaran di rumahnya dan pergi ke pasar saat menjalani rehabilitasi di Yakkum. Berikut penuturan subjek kepada peneliti :
tapi sih kalau sekarang yah..udah bisa.. Waktu kemarin lebaran dirumah kan pergi aku sekarang kalau udah turun dari motor malunya udah mending, mungkin kalau besok kalau udah pengembangan disini nyampek rumah udah gak malu (sambil tertawa sedikit)(W. T. 23)
Aku udah 3 kali ke pasar dan sendirian, tapi aku merasa pede aja, orang ngliatin gak masalah gak malu, yah….ada sedikit tapikan udah mendingan(W. T. 34 )
c. Sosial
1) Lingkungan Keluarga
Interaksi antara T dengan orang tua memiliki frekuensi pertemuan yang jarang dan durasinya hanya sebentar. Lain halnya antara T dengan saudara-saudaranya, mereka setiap hari bertemu namun karena kesibukan
masing-masing mereka hanya sekedar bertegur sapa dan jarang bertukar pikiran. Berikut penuturan T kepada peneliti :
Keluargaku sih ya aku sama keluarganya baik, yah emang sih bapak dan ibuku jarang dirumah, bapak dan ibuku kan jualan gitu lo di pencaharian batu-batu yang besar, pulangnya 2 minggu sekali ya satu minggu sekali. Aku dirumah cuma adik dan kakak ya…tiap hari cuma adik dan kakak. ( W. T. 10 )
Meskipun jarang bertemu, baik orang tua maupun saudara-saudaranya tetap memberikan dukungan yang positif pada subjek untuk mandiri secara ekonomi di masa yang akan datang.
Kalau orang yang kebanyakan mendukung aku, aku sukanya kepada orang tua, emang orang tuaku sangat mendukung apalagi ibu saya, ibu aku itu mendukung aku sangat mendukung, apa yang ku lakuin pasti ibu aku mendukung….( W. T. 39)
….kakak saya pingin aku bisa mandiri dan bisa bekerja, kan takutnya kakak aku bilang seperti itu, aku gak bisa kerja dan gak bisa ngapa-ngapain mungkin dirumah terus repotin orang tua, mungkin gara-gara itu juga makanya kakak aku bilang seperti itu. (W. T. 41)
2) Lingkungan Teman Sebaya
Subjek menjalani pendidikan dasar 9 tahun (SD-SMP) di sekolah umum. Semasa di SD subjek merasa tidak minder ataupun malu karena keterbatasan fisiknya. Namun, setelah duduk di bangku SMP subjek merasa malu berada di lingkungan teman-temannya yang secara fisik normal.
Waktu SD sama teman-teman biasa sih, gak ada masalah apa-apa. Kalau menghina kalau SD gak ada masalah, aku gak ngrasa masalah, kalau pertama kali masuk SMP mungkin merasa malu, waktu pertama masuk yang ngeliatin banyak gitu, ngrasa malu…kalau ngejek mungkin
yah gak, kan ngejek-ngejeknya mungkin kalau udah akrab sama teman.
(W. T. 47 + 48 )
Subjek merasa nyaman ketika berada di lingkungan yang senasib dengan dirinya (penyandang tuna daksa) namun ketika berada di lingkungan yang baru subjek terkadang masih kurang percaya diri dalam mengambil inisiatif untuk berkenalan.
waktu percaya diri mungkin waktu punya sesama teman sama seperti ini (sambil memegang kaki) sama cacat juga, jadikan cacatnya gak cuma aku doang jadi lebih pede, kalau aku sekarang pedenya kalau disini mungkin kalau ada teman-teman sesama cacat mungkin pede, kalau sendirian ya…pede tapi gak pede banged mungkin yamg diliat cuma aku doang mungkin sih(W. T. 20 )
Seperti remaja pada umunya T juga mengalami fase ketertarikan dengan lawan jenis. Saat observasi 7 Oktober 2011, peneliti menemukan T seolah-olah sedang menelepon teman dekatnya (peneliti tidak yakin T benar-benar melakukan hal tersebut karena peneliti menemukan subjek tidak memiliki jeda dalam berbicara sehingga terkesan monolog). Peneliti juga mendengar bahwa subjek mengatakan “kissnya mana?” dan beberapa kali menyebut kata sayang atau cinta kepada teman dekatnya tersebut. Sebagai penggunahandphone T juga memiliki account facebook. Hampir seluruh status facebooknya bertemakan cinta dan wanita. Status facebook
subjek tanggal 26 Desember 2011 mengatakan :
“PNgggggnnÑNNNNN...dpt Cwe tpi gmna cra'y y br cwe mw ma cwo kya q ni yg ca2t.?cwe jmn zkrng kn mlh'y cwo y zmpurna+ganteng dan kaya.kalo q kan ca2t+jelek dan pendek mana ada cwe yg mw ma q. Q cma bza pzrah dan tunggu keajaiban yg dtang” (Pingin, dapet cewek tapi bagaimana caranya yah biar cewek mau sama cowok kayak begini yang cacat?cewek jaman sekarang kan milihnya cowok yang
sempurna+ganteng dan kaya.kalau aku kan cacat+jelek dan pendek mana ada cewek yang mau sama aku. Aku cuma bisa pasrah dan tunggu keajaiban yang datang,terjemahan peneliti)
“Cinta sejati datanglah kesini, Q butuh kamu, Q lagi menunggumu disini“ (3 Januari 2012).
Ketertarikan T terhadap lawan jenis juga dinyatakan oleh pendamping. Menurut pendamping cara pendekatan T terhadap wanita kurang tepat.
….dia mendekati seorang wanita, ….bahwa apakah sikapmu ketika kamu mendekati dengan wanita itu dapat membuatmu nyaman ataukah tidak,…. tapi yang kemudian saya tekankan ke dia adalah caranya, bahwa juga dia harus tahu kenapa kok dia melakukan seperti itu, bukan kejadian yang sebelumnya, dimana dia ternyata pernah memiliki seorang pacar dan akhirnya mengakhiri hubungan itu tanpa alasan yang jelas, yah…mungkin alasannya mereka sama-sama difabel dan ada pihak yang tidak setuju kemudian ditinggalkan begitu saja, nah..menurut saya itu itu komunikasi yang tidak baik juga seperti itu.
(W. Pn. 2)
Selama berada di Yakkum subjek diajarkan untuk bersosialisasi dengan orang lain baik teman-teman yang ada di panti maupun dengan yang di luar panti. Sosialisasi di luar panti dilakukan di pusat perbelanjaan dan di panti jompo. Selama berada di panti, subjek berusaha untuk mengikuti aturan yang berlaku di panti dengan mengikuti piket pagi sehabis mandi. Keikutsertaan subjek hanya sebatas menjalankan kewajiban tanpa didasari rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama penghuni asrama (masih cenderung egois). Hal ini tercermin dari pernyataan subjek :
Mungkin kalau aku sih kalau ada orang yang gak piket, kalau aku sih gak ngebangunin yang penting aku udah ngelaksanain tugas aku, aku uda nepatin peraturan sini, aku cuma ikutin aja emang sih kadang teman gak piket sekali aku bangunin kalau aku gak sih aku sendiri aja gak mikirin orang lain, mungkin itu kesukaan masing-masing, udah kebiasaan (W. T. 19)
3) Lingkungan Masyarakat Umum
Ketika berada di tempat umum, subjek masih memiliki perasaan malu, takut diremehkan, dan ditolak oleh orang lain karena kondisi fisiknya. Sifat ini membuat subjek kurang memiliki inisiatif untuk menjalin komunikasi terlebih dahulu. Apabila subjek menjalin komunikasi dengan orang lain dan mendapat penolakan, subjek akan langsung patah semangat dan malas untuk memulainya kembali. Berikut pernyataan subjek :
…. waktu kemarin di Amplas kan aku bertemu dengan orang terus kenalan orangnya gak mau, aku langsung malas mau ngapain-ngapain malas, mau kenalan sama orang malas, Ya…takutnya mungkin besok kalau kenalan sama orang itu lagi seperti itu jadi sudah malas pasti seperti ini lagi langsung gak mau( W. T. 17 )
Selain di pusat perbelanjaan, subjek juga belajar bersosialisasi dari kegiatanlive indi panti jompo. Melalui kegiatan live in, subjek juga dapat mengambil hikmahnya. Berikut pernyataan subjek kepada peneliti :
….cuma itu doang seh dampingin simbah-simbah, jadi kita bisa menghargai orang yang udah tua seperti itu, dan mudah-mudahan besok kalau kita udah orang tua kita udah tua seperti itu, kita bisa mengurus jangan dititipin di panti asuhan seperti itu.( W. T. 2 – 3 )
d. Ringkasan Hasil Penelitian Subjek T
Hasil penelitian kepercayaan diri pada subjek T dapat dipaparkan sebagai berikut :
Secara psikologis, sebelum menjalani rehabilitasi, T mempunyai konsep diri yang cenderung negatif dimana subjek adalah individu yang
tertutup, tidak bisa berkomunikasi verbal secara langsung dengan orang lain, pemalu dan pemalas. Setelah menjalani program rehabilitasi subjek mengalami perubahan atau perkembangan ke arah yang positif, mulai berani membuka diri, tampil di depan umum, dan mau bersosialisasi dengan orang lain. Namun, perubahan ini belum teruji di lingkungan yang lebih luas atau di luar “zona aman” subjek.
Jenis gangguan fisik yang disandang T adalah tuna daksa bawaan pada kaki (seperti tongkat/club foot) dan tangan kiri dengan jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya (syndactylism) dan menggunakan alat bantu kursi roda. Secara motorik subjek mengalami kesulitan menggunakan anggota tubuh yang dominan (kaki). Namun, keterbatasan fisik ini tidak membuat subjek menjadi tergantung dengan orang lain, subjek mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Keterbatasan fisik yang dialami oleh subjek menjadikan subjek memiliki kesulitan untuk mengembangkan hubungan sosial, subjek merasa malu untuk tampil di muka umum. Namun, setelah mengikuti program pengembangan di Yakkum rasa malu tersebut sedikit demi sedikit bisa berkurang.
Komunikasi yang terjalin antara subjek dengan orang tua relatif jarang dan durasinya hanya sebentar karena jarak antara rumah dan tempat kerja yang jauh. Namun demikian orang tua maupun saudara subjek tetap memberikan dukungan kepada subjek untuk dapat mandiri. Dalam pergaulan semasa SD subjek tidak mempunyai rasa malu atau
minder dengan kondisi fisiknya tetapi setelah duduk di bangku SMP subjek sudah mulai memiliki rasa malu bergaul dengan teman sebayanya. Subjek merasa nyaman ketika berada di lingkungan teman-teman sesama penyandang tuna daksa tapi ketika berada di lingkungan yang baru subjek terkadang masih mengalami rasa kurang percaya diri untuk memulai perkenalan. Sebagai remaja subjek juga mengalami ketertarikan dengan lawan jenis. Subjek juga pernah memiliki pacar sesama penyandang tuna daksa meskipun akhirnya hubungan itu berakhir tanpa alasan yang jelas.
Saat tampil di depan umum subjek masih memiliki rasa malu dan takut diremehkan dan ditolak oleh orang lain karena kondisi fisiknya. Subjek juga termasuk individu yang tidak aktif untuk berorganisasi di masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan bahwa subjek cenderung kurang percaya diri ketika berada di lingkungan yang baru/ tempat umum karena konsep diri subjek yang negatif. Selain itu, faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri ialah faktor sosial.