BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Data Hasil Penelitian
2. Deskripsi Subjek S
Gambaran Kepercayaan Diri
Subjek merupakan remaja penyandang tuna daksa bawaan berusia 20 tahun serta berjenis kelamin laki-laki dengan ciri fisik kulit sawo matang, kurus, dan mengalami osteoporosis dini sehingga tulang dari subjek cepat
capek dan rapuh. Subjek merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara yang tinggal di Purbalingga. Ayah subjek bekerja sebagai petani dan ibu subjek merupakan pembuat gula Jawa. Selain itu, selama observasi subjek juga menceritakan kepada peneliti, tentang ayah subjek yang bekerja sebagai petani dan menjual buah-buahan di pasar kemudian ibu subjek yang ikut mencari nafkah dengan cara membuat gula Jawa. Dalam keluarga, subjek termasuk anak yang kurang mandiri karena selalu diperhatikan oleh ibunya sehingga sebelum masuk ke pusat rehabilitasi, subjek belum memiliki kemandirian. Berikut uraian tentang konsep diri subjek:
a. Konsep Diri
Menurut subjek sebelum mengikuti program di Yakkum konsep diri subjek cenderung negatif terlihat dari sifatnya yang sensitif dan mudah tersinggung.
Diri aku, diriku itu orangnya simple sih sebenarnya, aku tuh tidak suka diejek tapi aku juga tidak suka mengejek, mungkin kalau ada teman yang mengejek kadang aku diam, tapi kalau kelamaan diam, orang sabar kan lama-lama diejek juga jengkel to nanti sabarnya ilang, tapi dari sekian banyak masalah yang sudah ku alami paling banyak itu terkadang mereka itu menyindir aku ke hal-hal yang sensitif gitu, gimana yah…disini itu istilahnya kita mencoba untuk melatih kesabaran kita, tadinya aku mudah tersinggung tapi sekarang udah agak mendingan udah bisa tidak tersinggung lagi walaupun sedikit. ( W. S. 4 )
Sejak mengikuti program rehabilitasi yang kedua, subjek S mulai berpikir realistis tentang masa depannya. Subjek ingin mandiri dan berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain. Oleh karena itu, setelah selesai mengikuti kursus elektro, subjek memiliki rencana berwiraswasta
membuka counter handphone. Kondisi ini menunjukkan bahwa subjek mulai memiliki konsep diri yang positif. Berikut ungkapan subjek kepada peneliti :
Punya, aku kan disini niatnya mau kursus elektro toh, nantinya kalau udah kursus elektro, dasar mau ke hape, ntar kalau udah lanjut ke hape sih inginnya buka counter gitu di rumah, yah…mungkin bisa servis hape, bisa campur apa gitu, elektronik gitu, jualan pulsa semacam itu,.
(W. S. 8)
Menurut pernyataan pendamping, S sudah mulai berubah, angkuhnya mulai berkurang dan mulai bisa menerima pendapat orang lain. Sisi positif dari subjek adalah pribadi yang sederhana, dewasa, enak diajak berbicara dan memiliki wawasan yang luas. Kondisi ini menunjukkan ada penerimaan diri terkait dengan konsep diri subjek. Berikut kutipan wawancara peneliti dengan pendamping tentang subjek sebelum mengikuti program pengembangan dan sesudahnya.
….Sigit itu diajak ngobrol bisa lebih nyambung, pemikirannya yang luas, kemudian yang menjadi tantangan kami sebagai pendamping adalah sikapnya yang terkadang ketika dia memiliki suatu pandangan yang luas dia menjadi pribadi yang mempunyai sikap kurang merendahkan diri. Jadi merasa dirinya benar, merasa ini loh mas yang salah temanku….(W. Pn. 4)
….saya merasa sikapnya lebih membumi paling tidak, sikapnya lebih bersahaja tidak dalam tanda kutip angkuh, dan tidak menyalahkan teman-teman yang lain, terkadang dia juga sudah mau mengalah, mengalah dalam artian positif, memahami teman-teman, paling tidak ketika teman-temannya memancing untuk mengejek dia, sudah mulai tidak terpancing lagi, tidak mengikuti emosinya sendiri gitu.( W. Pn. 4 )
b. Kondisi Fisik
1) Gambaran Kondisi Fisik
Gangguan fisik bawaan yang dialami S adalah osteoporosis dini dimana secara fisik subjek mengalami pembengkokkan pada tulang tangan, kaki, badan yang sedikit membungkuk sehingga membuat penampilan subjek secara fisik terlihat kecil dan kurus. Kondisi S yang demikian membuat S sensitif dan cepat merasa lelah. Karena keterbatasan fisiknya subjek menggunakan alat bantu kursi roda untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari. Sebelum mengikuti program rehabilitasi dalam melakukan aktivitas (makan, mandi, dan minum) subjek lebih banyak tergantung dengan orang lain, khususnya dengan ibunya. Sejak kecil hingga umur 8 tahun S selalu berada di rumah, tidak pernah kemana-mana. Berikut ungkapan subjek kepada peneliti :
Dulu aku gak pernah keluar rumah, dirumah gak pernah ngapa-ngapain, dari umur 1 sampai 8 tahun aku selalu dirumah ga pernah keluar, gak pernah kemana-mana, terus setelah orang tuaku berpikir, bapakku gimana yah ga bisa keluar rumah, mungkin digendong, terus bapakku berpikir membuatkan sepeda beroda tiga, agar pertama itu aku, bersepeda biar bisa keluar. Terus setelah itu aku ke Yakkum, dapat kursi roda lalu disini gak betah pulang, terus di rumah sekolah lagi terus terakhir biar aku bisa bepergian jauh jalan-jalan lebih jauh dibuatkan motor gitu ama orang tua, biar bisa jalan-jalan ama temen-temen juga.(W. S. 33 )
Sejak di Yakkum, S berubah menjadi pribadi yang cenderung percaya diri dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Berikut pernyataan S kepada peneliti :
Kalau aku saat mandiri, aku termasuk mandiri di Yakkum nih karena dirumah, makan diambilin, mandi disiapin airnya kalau dirumah, terus kalau disini untuk berusaha apa-apa itu sendiri, dirumah baju dicuciin, kadang kalau sedang mau mencuci baju sendiri disini bisa, apa-apa bisa sendiri, mandi sendiri,makan sendiri, pakaian sendiri, minum bisa ambil sendiri kalau di rumah kadang minum diambilkan, makan diambilkan gitu karena kondisi tempatnya juga dirumah susah.( W. S. 27 )
2) Penerimaan Diri
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti (12 Oktober 2011) di sebuah mall, dapat disimpulkan meskipun memiliki keterbatasan fisik, subjek bisa menerima kondisi dirinya apa adanya, subjek merasa berharga dan bermanfaat bagi orang lain. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku subjek yang mau mengajari anak-anak TK membuat kerajinan dari stik es krim, mengunjungi beberapacounter, dan mau berinteraksi di area permainan dengan orang normal lainnya. Ketika peneliti bertanya melalui handphone (Jumat, 13 Januari 2012) apakah subjek sudah bisa menerima kondisi fisiknya, subjek menyatakan bahwa dirinya mempunyai sikap realitis (mampu menerima kondisi fisiknya dengan apa adanya). Hal ini ditunjukkan dengan sikap subjek misalnya jika naik angkutan umum subjek mampu melakukannya sendiri, dan subjek meminta tolong kepada orang lain untuk menaekkan kursi rodanya ke angkutan umum. Berdasarkan beberapa teman subjek merupakan orang yang mandiri.
c. Sosial
1) Lingkungan Keluarga
Subjek merupakan anak ke 2 dari 2 bersaudara. Keluarga subjek adalah keluarga sederhana, orang tua subjek bekerja sebagai penjual buah-buahan di pasar dan membuat gula Jawa. Berikut beberapa kutipan pemaparan S kepada peneliti :
keluargaku itu keluarga sederhana sih kalau bapak aku itu kerjaannya apa yah…tani, bertani padi, terus kadang-kadang mencari buah, buah yang masih di pohon itu nanti dipetik menyuruh orang terus dijual ke pasar…. (W. S. 13)
Selain itu, subjek memiliki keluarga yang terbuka satu dengan yang lainnya. Kondisi ini memunculkan percaya diri dalam diri subjek untuk menjalin komunikasi dengan orang lain. Orang tua maupun saudaranya memberikan dukungan supaya subjek dapat mandiri dalam kegiatan sehari-hari maupun mandiri secara ekonomi. Ayah subjek mengemukakan bahwa subjek tidak selamanya bisa bergantung pada orang tua maupun saudaranya. Berikut ungkapan subjek kepada peneliti :
….sangat mendukung, mendukung apa yang aku inginkan, misalkan kemarin yah, sebelum aku ada keinginan kesini lagi, bapak aku bilang begini Git, kamu kalau dirumah terus kayak begini, kapan kemajuanmu nanti, emang aku bapakmu ama ibumu mau idup terus apa?kalau misalkan kedua orang tuamu ini udah meninggal, nanti kamu idup sama siapa?terus kalau kamu belum punya keahlian apa-apa, belum bisa mencari uang, walaupun sedikit, kalau meninggal sapa yang ngurusin gitu low, jadi kamu sekarang udah dewasa berpikirlah untuk maju, jangan seperti ini ajah, mendukung gitu, terus setelah itu aku berpikir, yah…udah aku kalo gitu ke Yakkum lagi, nanti telepon, aku masuk kesana lagi mencari ketrampilan disana untuk bisa mencari ilmu di bekal masa depan gitu.(W. S. 15 )
….yah…mendukung sih sangat mendukung untuk ke depannya, kamu harus berjuang walaupun kamu begini kamu harus buktikan sama orang-orang yang normal kalau kamu juga bisa seperti mereka, mencari uang, bukan hanya orang normal saja yang bisa mencari uang, tapi meskipun dalam kondisi seperti itu, kamu harus bisa maju mencari uang jangan hanya terpuruk dengan keadaanmu gitu.( W. S. 17 )
2) Lingkungan Teman Sebaya
Subjek pernah bersekolah hingga pendidikan SD di sekolah umum dan ada niatan untuk melanjutkan ke SMP. Selama mengikuti pendidikan di SD, subjek awalnya merasa malu dan takut diejek karena kondisi fisiknya. Namun hal ini hanya berlangsung sebentar (seminggu). Berikut pemaparan S kepada peneliti :
Pernah itu aku cuma lulusan SD sampai lulus SD di sekolah umum di desaku, semuanya itu anak normal cuma aku sendiri. Pertama yah..mungkin agak malu yah takut diejek, tapi mungkin ejekan itu berlaku seminggu tapi setelah itu mereka bosan karena sudah bosan mengejek, biasa ajah. Dulu niatnya mau melanjutkan SMP kan sudah dibuatin motor, tapi karena jatuh dari motor tangannya patah, terus gak bisa ikut melanjutin sama temen-temen, jadi mau sekolah bareng ama temen-temen, pulang bareng, pinginnya digoncengi motor tapi kadung tangannya jatuh jadi gak ada niat untuk melanjutkan sekolah lagi sampai sekarang.( W. S. 34, 35, dan 37 )
Saat menjalani program di Yakkum subjek sebagai remaja memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan teman sebayanya. Bahkan subjek mampu memberikan solusi bagi teman-temannya ketika mereka mempunyai masalah. Berikut penuturan subjek kepada peneliti :
…. kalau teman punya masalah ouh..aku bisa memberikan masukan kepada temenku gitu ajah, masukannya misalkan temenku putus asa, aku memberikan motivasi kepada dia, kamu harus berusaha untuk melanjutkan hidupmu atau kamu janganlah kamu menyerah hanya karena keterbatasanmu yang ini, kita itu hidup sudah cacat, tapi kalau
kita terpuruk dengan keadaan kita, kita tidak akan pernah maju, kita akan begini saja, tidak ada perkembangannya.(W. S. 41 )
Meskipun tidak terlihat seperti subjek T dan P di dalam keseharian, tetapi subjek yang masih tergolong usia remaja ini juga mengalami masa jatuh cinta. Hal ini ditemukan peneliti di status account facebook (6 Januari 2012) yang menunjukkan bahwa subjek sedang jatuh cinta. Berikut beberapa kutipan statusfacebooksubjek :
kangen nih,,, ma Yg jauh d'Jogja....!!! (Kangen nih,sama yang jauh di Jogya,terjemahan peneliti)
Ya' Allah percepatlah blan februari,,,,,,! ! ! agarQ cpt brtmu dngan DiA,,,,!! (Ya Allah percepatlah bulan Februari,agar aku cepat bertemu dengan Dia,terjemahan peneliti)
3) Lingkungan Masyarakat Umum
Ketika diberi tugas atau kepercayaan dari pendamping untuk bersosialisasi dengan orang lain yang belum dikenal, subjek berusaha untuk bertanggung jawab menjalankan tugas tersebut dengan baik. Berikut pernyataan S kepada peneliti :
yah…waktu itu ke Galle dan ke Amplas, waktu ke Galleria kan waktu ke Amplas diberikan tanggung jawab mencari eh menanyakan produk-produk yang ada di toko, terus dicatet sampai 5. Produk di toko, nama karyawan 2, asal produk itu darimana gitu mencari 5, terus yang kedua bertanya kepada pengunjung, dan meminta tanda tangan pengunjung sampai 8 orang untuk bukti kalau kami itu di Amplas sudah bisa bersosialisasi dengan orang-orang yang baru kita temui. ( W. S. 28 )
Karena kondisi fisiknya, subjek tidak terlalu mengikuti banyak organisasi di lingkungan rumahnya. Subjek hanya aktif lomba 17an di sekolah dan pengajian . Berikut penuturan subjek:
Kalau di masyarakat sih belum pernah terlibat aktif di dalam masyarakat, paling cuma dulu sih waktu sekolah di sekolah umum, mungkin dulu waktu ada lomba 17an di sekolah, ada lomba makan kerupuk, aku cuma ikut itu yang aku bisa kan sambil duduk di sepeda gitu, cuma itu kalau hal-hal gak pernah cuma kebanyakan di rumah gitu.(W. S. 20 )
yah….mungkin kalau ada pengajian, kalau ada undangan pengajian yah..ikut mengaji kalau pengajian anak-anak mudakan sering, dulukan aku sering kalau di balai desa cuma itu.( W. S. 21 )
d. Ringkasan Hasil Penelitian Subjek S
Berdasarkan hasil pernyataan diatas dapat disimpulkan dan dipaparkan bahwa kepercayaan diri subjek sebagai berikut :
Konsep diri subjek sebelum mengikuti program rehabilitasi di Yakkum cenderung rendah ditandai dengan sifat subjek yang sensitif, mudah tersinggung, angkuh, dan merasa dirinya paling benar (egois). Sisi positif dari subjek adalah individu yang sederhana, bersikap dewasa, enak diajak berkomunikasi dan memiliki wawasan yang luas. Setelah mengikuti program rehabilitasi konsep dirinya yang negatif cenderung berkurang dimana sifat angkuh subjek mulai berkurang dan mulai dapat menerima pendapat orang lain. Subjek juga mempunyai pandangan ke depan untuk membuka usaha sendiri.
Subjek mengalami osteoporosis dini dimana kualitas ototnya kurang optimal sehingga mengalami pembengkokkan pada tulang. Kondisi ini membuat tubuh subjek terlihat kecil dan cepat merasa lelah. Sebelum mengikuti program rehabilitasi di Yakkum subjek S lebih
banyak tergantung pada ibunya dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Akan tetapi, setelah mengikuti program pengembangan subjek S sedikit demi sedikit sudah dapat melakukan aktivitas tersebut secara mandiri. Meskipun memiliki keterbatasan fisik subjek S bisa menerima diri apa adanya, merasa berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
Keterbukaan komunikasi dan dukungan keluarga membuat subjek menjadi pribadi yang percaya diri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Semasa SD subjek awalnya mempunyai perasaan malu dan takut diejek karena kondisi fisknya tetapi situasi ini hanya bersifat sementara. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, subjek mampu memberikan solusi kepada teman-teman sebayanya ketika mempunyai masalah. Seperti remaja pada umumnya, subjek S juga merasakan ketertarikan dengan lawan jenis.
Ketika berada di lingkungan masyarakat, subjek dapat bersosialisasi dengan orang lain dan berusaha menjalankan tanggung jawabnya. Subjek S hanya aktif mengikuti pengajian di lingkungan sekitarnya.
Kesimpulannya, subjek cenderung percaya diri dan dapat menerima kondisi fisiknya apa adanya. Subjek bahkan mampu memberikan masukan atau solusi kepada teman-temannya yang mempunyai masalah. Kepercayaan diri subjek S yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan subjek T dipengaruhi oleh faktor sosial yakni dukungan keluarga.