• Tidak ada hasil yang ditemukan

ORGANISASI INTERNASIONAL DAN KELOMPOK LORD’S RESISTANCE ARMY

A. Perserikatan Bangsa-Bangsa

A.1 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa

Perserikatan Bangsa-Bangsa dibentuk pada akhir perang dunia kedua, sebagai hasil dari inisiatif beberapa negara. Negara-negara yang melakukan inisiasi pembentukan PBB tersebut merupakan negara-negara yang memimpin perang melawan Jepang dan German di Perang Dunia kedua, yakni Inggris, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Negara-negara tersebut ingin membentuk sebuah organisasi internasional bertujuan membangun perdamaian, dengan memperbaiki dan belajar dari beberapa kesalahan yang dilakukan saat menjalankan organisasi internasional League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa).

Pertemuan tersebut merupakan dasar dari terbentuknya Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang diharapkan merupakan penyempurnaan dari Liga Bangsa-Bangsa. Pada tahun 1945, perwakilan dari 50 negara bertemu di San Fransisco dalam pertemuan United Nations Conference on International Organization, untuk merumuskan Piagam PBB. Delegasi dalam pertemuan tersebut menyatukan beberapa bagian kesepakatan yang telah disepakati oleh perwakilan dari Cina, AS, Inggris, dan Uni Soviet di Dumbarton Oaks (AS) bulan Agustus-Oktober 1994. Perumusan Piagam

56 PBB dilakukan, dan pada akhirnya ditandatangani pada 26 Juni 1945, oleh 51 perwakilan negara, yang dikenal nantinya sebagai origin states.69

Perserikatan Bangsa-Bangsa terdiri atas struktur yang masing-masing institusi diberi mandat yang berbeda-beda. Institusi pertama adalah Secretariat (Sekretariat) yang merupakan badan yang menjalankan tugas kesekretariatan dari organisasi PBB.

Sekretariat ini dipimpin oleh Secretary-General, yang kemudian akan menerapkan kebijakan umum bagi organisasi, serta arahan umum. Institusi kedua dibawah PBB adalah General Assembly (Sidang Umum) yang merupakan badan utama PBB yang terdiri atas 193 negara. Setiap negara dalam Sidang Umum PBB memiliki satu hak suara, dan segala keputusan penting yang ingin diputuskan, memerlukan jumlah 2/3 dari keseluruhan negara dalam forum. Sidang Umum PBB membahas tentang segala masalah yang dihadapi oleh negara-negara, meskipun resolusi yang nantinya dihasilkan tidak bersifat mengikat kepada semua negara (hanya berbentuk rekomendasi).70

Institusi ketiga dalam PBB adalah Economic and Social Council (ECOSOC).

ECOSOC merupakan badan utama dalam koordinasi penyelesaian masalah ekonomi dan sosial, yang terdapat dalam PBB. ECOSOC terdiri atas 54 negara anggota, yang dirotasi berdasarkan wilayah geografis negara setiap 3 tahun. Alokasi negaranya adalah 14 kursi untuk negara Afrika, 11 negara Asia, 6 negara Eropa Timur, 10 negara Amerika Latin, serta 13 negara Eropa Barat dan negara-negara lainnya.

69 History of the United Nations. http://www.un.org/en/aboutun/history/. Diakses tanggal 2 Januari 2013.

70 Sri Setianingsih Suwardi, Pengantar Hukum Organisasi Internasional, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, hal. 267.

57 Institusi keempat dalam PBB adalah International Court of Justice (Mahkamah Internasional). Mahkamah Internasional terdiri atas 15 hakim yang langsung dipilih oleh Sidang Umum PBB, dan Dewan Keamanan PBB. Trusteeship Coucil merupakan salah satu badan supervisi yang melakukan pengamatan dan asistensi terhadap 11 negara yang berada dibawah kekuasaan 7 negara anggota PBB. Trusteeship Council kemudian dibubarkan pada tahun 1949 setalah kemerdekaan Palau.71

Institusi terakhir dibawah Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah United Nations Security Council (Dewan Keamanan PBB). Dewan Keamanan PBB merupakan badan yang memiliki kewenangan dan hak dalam menentukan segala resolusi yang berhubungan dengan keamanan dan perdamaian internasional. Tidak seperti badan lainnya yang berada dibawah PBB, Dewan Keamanan menghasilkan sebuah resolusi yang bersifat mengikat langsung negara-negara anggota PBB, mesti anggota lainnya tidak berkontribusi langsung terhadap prosesi penentuan resolusi tersebut. Keunikan utama dalam Dewan Keamanan PBB adalah hadirnya 2 macam keanggotaan, yaitu Permanent Members dan Non-permanent members.

Permanent Members (anggota permanen) merupakan negara-negara yang posisinya dalam Dewan Keamanan tidak akan diganti lagi. Terdapat 5 negara permanen dalam Dewan Keamanan PBB, yakni Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina, Perancis, Rusia, dan Inggris. Posisi startegis dimiliki oleh kelima negara tersebut, bukan hanya sebab posisi kelima negara yang tidak mungkin lagi digantikan

71 Ibid, hal. 269.

58 oleh negara lain, akan tetapi juga karena adanya hak yang disebut Veto Rights (Hak Veto) yang diberikan kepada kelima negara tersebut.

Hak Veto merupakan hak yang dimiliki oleh kelima negara permanen Dewan Keamanan PBB, dalam pengambilan keputusan sebuah resolusi. Sama dengan Sidang Umum PBB, Dewan Keamanan PBB akan menjalani prosesi negosiasi dan pembahasan sebuah masalah. Hak Veto memberikan kekuatan untuk menolak resolusi yang ingin diterapkan oleh Dewan Keamanan, yang merupakan hasil dari negosiasi. Singkat kata, hak veto merupakan merupakan hak yang diberikan kepada negara-negara tertentu, untuk membatalkan sebuah resolusi yang dianggap tidak searah dengan kepentingan nasional negara pemegang hak veto tersebut.72 Konsiderasi Dewan Keamanan PBB sebagai badan keamanan internasional, tentunya kemampuan dalam pengendalian resolusi adalah sebuah kekuatan yang sangat besar bagi penerapan resolusi keamanan, sesuai dengan kepentingan nasional. Menjaga perdamaian dan keamanan internasional dilakukan melalui beberapa metode dibawah Piagam PBB.

Adapun negara non-permanen dalam Dewan Keamanan PBB, terdiri atas 10 negara. Berbeda dengan anggota permanen Dewan Keamanan, 10 negara tersebut tidak memiliki hak veto yang mampu membatalkan langsung sebuah resolusi keamanan yang disetujui sebelumnya oleh mayoritas anggota Dewan Keamanan PBB. Keanggotaan non-permanen Dewan Keamanan PBB dipilih langsung melalui

72 David M. Malone, The UN Security Council; From the Cold War to the 21st Century, Lynne Rienner Publishers Inc., USA, 2004, hal. 351.

59 mekanisme voting dalam Sidang Umum PBB, dan negara yang terpilih akan menjabat sebagai negara non-permanen selama periode waktu 2 tahun. Rotasi akan dilakukan kembali ketika masa 2 tahun tersebut telah usai. Negara yang kini menjadi anggota non-permanen dari Dewan Keamanan PBB, dan masa keanggotaannya adalah73, Argentina (2014), Azerbaijan (2013), Australia (2014), Guatemala (2013), Luxembourg (2014), Morocco (2013), Pakistan (2013), Republic of Korea (2014), Rwanda (2014), Togo (2013).

Dewan Keamanan PBB sebagai badan internasional yang menangani masalah keamanan, diberikan beberapa fungsi dan kekuatan dibawah Piagam PBB (United Nations Charter), yaitu74;

1. Menjaga perdamaian dan keamanan internasional yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan tujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa,

2. Formulasi perencanaan dalam menciptakan sistem untuk meregulasi persenjataan,

3. Mendorong negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyelesaikan sebuah konflik dengan cara-cara damai,

4. Melakukan investigasi terhadap segala sengketa atau situasi yang bisa mengarah terhadap perselisihan internasional, dan merekomendasikan syarat perdamaian terhadap aktor-aktor yang terlibat,

73 Current Members of the United Nations Security Council. http://www.un.org/en/sc/members/.

Diakses tanggal 4 Januari 2013.

74 United Nations Department of Public Information, Basic Facts About the United Nations, United Nations, New York,2011, Hal. 8-9.

60 5. Mendeterminasikan kehadiran sebuah ancaman terhadap perdamaian atau

agresi, dan merekomendasikan tindakan yang sebaiknya negara lakukan, 6. Mendorong negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk

memperhatikan langkah-langkah tersebut, untuk mencegah sebuah situasi semakin parah,

7. Mendorong negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menerapkan beberapa tindakan yang tidak termasuk pasukan bersenjata, atau sanksi, yang akan berpengaruh terhadap keputusan Dewan Keamanan, 8. Menggunakan cara pemaksaan untuk mengembalikan perdamaian dan

keamanan internasional,

9. Mendorong penyelesaian dengan cara damai terhadap penyelesaian sengketa lokal melalui perjanjian regional, dan menggunakan perjanjian regional tersebut dibawah otoritasnya,

10. Merekomendasi kepada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dalam pemilihan Secretary-General, dan bersamaan dengan Sidang Umum, memilih hakim International Court of Justice,

11. Meminta International Court of Justice untuk memberikan nasehat terhadap pertanyaan legal, dan

12. Merekomendasi Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap pengakuan anggota baru ke dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

61 Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Keamanan PBB dapat bertindak75:

1. Atas inisiatif Dewan Keamanan PBB (Pasal 34, piagam PBB), 2. Atas permintaan negara anggota (Pasal 35(1), piagam PBB), 3. Atas permintaan bukan negara anggota (Pasal 35(2), piagam PBB),

4. Atas permintaan Majelis Umum/Sidang Umum (Pasal 11, Piagam PBB), dan

5. Atas permintaan Sekretaris Jenderal (Pasal 99, Piagam PBB).

Respon Dewan Keamanan PBB terhadap sebuah ancaman keamanan yang baru saja terjadi, biasanya sangat beragam. Akan tetapi, Dewan Keaman awal mulanya akan merekomendasikan aktor-aktor yang terlibat dalam sebuah konflik/sengketa untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai. Dewan Keamanan memiliki hak untuk mengirim kelompok atau aktor mediator dalam asistensi prosesi perdamaian dalam konflik tersebut. Sementara dalam sebuah konflik yang kemungkinan akan menghasilkan collateral damage yang tinggi, maka kepentingan utama dari Dewan keamanan PBB adalah untuk mendorong negosiasi gencatan senjata, yang tentunya akan menghambat terjadinya eskalasi konflik. Dewan Keamanan juga bisa mengirim pasukan perdamaian atau membentuk operasi militer intervensi kemanusiaan sebagai respon untuk mengurangi ketegangan. Dalam keadaan dimana sebuah negara melanggar hukum internasional (namun bukan

75 Sri Setianingsih Suwardi, Pengantar Hukum Organisasi Internasional, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta, 2004, hal. 290.

62 merupakan konflik), Dewan Keamanan bisa dengan tegas menerapkan sanksi ekonomi, embargo senjata, dan larangan bepergian.

Metode-metode yang diterapkan dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional, pertama adalah enforcement (pemaksaan) sebagai respon terhadap ancaman keamanan dan perdamaian internasional. Cara pemaksaan tersebut dilakukan melalui sanksi ekonomi hingga militer, sesuai dengan Piagam PBB Chapter VII: Action with respect to threats of peace, breaches of the peace, and acts of agression.76 Dewan Keamanan telah diberikan kewenangan untuk menggunakan cara pemaksaan melalui sanksi di saat prosesi negosiasi telah gagal, dan terjadi ancaman terhadap keamanan dan perdamaian internasional. Sanksi telah diberikan kepada beberapa negara dalam waktu 10 tahun ini, yaitu Afganistan, Korea Utara, Iran, Iraq, dan beberapa negara Afrika yang pemerintahannya melakukan pelanggrana hak asasi manusia berskala masif terhadap rakyatnya sendiri.

Sanksi diputuskan oleh Dewan Keamanan PBB guna memberikan sebuah takanan kepada negara yang bersangkutan, sekaligus merupakan peringatan kepada negara tersebut agar bertindak sesuai dengan perintah Dewan Keamanan. Sanksi juga dianggap sebagai tahap pertama, dan Dewan Keamanan akan mengambil tindakan bersifat militer apabila negara yang diberi sanksi tetap mengabaikan perintah Dewan keamanan. Negara secara keseluruhan akan merasakan dampak dari sanksi, namun belakangan Dewan Keamanan memberikan sanksi yang fokus terhadap aktor utama

76 Peter Wallensteen dan Carina Staibano, International Sanctions; Between Words and Wars in the Global System, Frank Cass, New York, 2005, hal. 7.

63 yang melakukan pelanggaran HAM, misalnya diktator dan kelompok pemegang kekuasaan negara. Bentuk sanksi yang diberikan adalah pembekuan aset, blokir transaksi finansial, dan beberapa sanksi lainnya.

Ketika sanksi yang diberikan oleh Dewan Keamanan terus diabaikan, Dewan Keamanan akan bertindak dengan metode militer. Keadaan ini diperlihatkan dari Dewan Keamanan yang memberi otoritas penuh kepada operasi militer, untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam sebuah negara. Sebuah operasi militer terdiri atas negara-negara yang telah ditunjuk oleh Dewan Keamanan PBB. Setiap operasi memiliki mandat yang berbeda, tergantung pada karakterisasi konflik yang terjadi. Bentuk operasi militer bisa merupakan misi pemberantasan kelompok pemberontak seperti di Mogadishu (Somalia) tahun 1992, atau dalam bentuk no-fly zone seperti yang terjadi di Libya, tahun 2011.77

Enforcement ini kembali diperkuat di tahun 2005 setelah lahirnya Responsibility to Protect. Responsibility to Protect merupakan dasar filosofi yang digunakan sebagai respon dari hadirnya kejahatan perang, pembunuhan massal, dan terancamnya kehidupan masyarakat di sebuah negara. Filosofi tersebut akan digunakan dalam membenarkan intervensi kemanusiaan dalam kasus yang sangat parah, perihal pelanggaran hak asasi manusia. Responsibility to Protect muncul pada World Summit di New York, yang mempertemukan kepala-kepala negara. Terdapat 2 poin penting yang dideklarasikan dalam pertemuan tersebut, yaitu78:

77 Compendium of United Nations Security Council Sanctions Lists.

http://www.un.org/sc/committees/list_compend.shtml. Diakses tanggal 17 Januari 2013.

78 Alex J. Bellamy, Responsibility To Protect, Polity Press, Cambridge, 2009, hal. 68.

64

“Each individual state has the responsibility to protect its populations from genocide, war crimes, ethnic cleansing, and crimes against humanity. This responsibility entails the prevention of such crimes, including their incitement, through appropriate and and necessary means. We accept that responsibility and will act in accordance with it. The international community through the United Nations, also has the responsibility to use appropriate diplomatic, humanitarian, and other peaceful means, in accordance with Chapter VI and VIII of the Charter, to help to protect populations from these crimes.”

“In this context, we are prepared to take collective action, in a timely and decisive manner, through the United Nations Security Council, in accordance with the Charter, including Chapter VII, on a case-by-case basis and in cooperation with relevant regional organizations as appropriate, should peaceful means be inadequite and national authorities are manifestly failing to protect their populations from genocide, war crimes, ethnic cleansing and crimes against humanity.”

Deklarasi yang dilakukan tahun 2005 memberikan pesan yang sangat tegas terhadap dunia internasional, terutama para diktator dan pemerintahan non-demokratis. Dalam sebuah keadaan dimana aktor negara tidak memiliki kapasitas dalam melindungi warga negaranya sendiri, maka dunia internasional diberikan obligasi untuk campur tangan, sesuai dengan Chapter VII dalam Piagam PBB.

Penggunaan militer dalam eradikasi ancaman keamanan dan perdamaian kemudian dianggap sebagai hal yang diperbolehkan dalam upaya eradikasi tersebut.

Metode kedua adalah Peacekeeping yang merupakan sebuah metode alternatif dan efektif dalam observasi gencatan senjata, dan pemisahan kubu yang berkonflik.

Penjaga perdamaian sangat berbeda dengan sebuah operasi militer, sebab penjaga perdamaian tidak diperbolehkan untuk menggunakan senjatanya. Namun kini, penggunaan senjata diperbolehkan agar tujuan dari penggunaan tersebut adalah secara

65 fisik melindungi masyarakat setempat. Keunikan dari peacekeeping yang tidak fokus terhadap kekerasan militer, dianggap sebagai sebuah metode yang tepat digunakan di tempat-tempat konflik, agar menuju sebuah perdamaian dan tidak mengancam nyawa para prajurit.

Peacekeeping memiliki keunikan dalam kekuatan dan legitimasi. Kemampuan Dewan Keamanan dalam mengirim pasukan penjaga perdamaian dalam bentuk militer atau kepolisian dari seluruh negara, dalam banyak kasus telah memperlihatkan efektifitas dari operasi tersebut. Pasukan perdamaian menyediakan keamanan, bantuan politik dan pembangunan perdamaian untuk membantu negara-negara dalam fase transisi dari konflik ke perdamaian. Alasan ini yang menjadikan pasukan perdamaian tidak dapat dikirim ketika terjadi eskalasi perang, dan biasanya akan dikirim dalam keadaan kedua pihak yang berperang telah menyetujui sebuah perjanjian perdamaian. Pasukan Perdamaian kemudian akan masuk dan memastikan perjanjian tersebut berjalan dengan lancar, dan memberikan perlindungan kepada warga dalam konflik yang mendadak pecah. Pasukan Perdamaian didasarkan pada 3 prinsip dasar79;

1. Consent of the parties (persetujuan aktor-aktor), 2. Impartiality (keadilan), dan

3. Non-use of force except in self-defence and defence of the mandate (tidak menggunakan kekerasan kecuali dalam keadaan perlindungan diri dan perlindungan terhadap mandat).

79 What is Peacekeeping? http://www.un.org/en/peacekeeping/operations/peacekeeping.shtml. Diakses tanggal 3 Januari 2013.

66 Peacekeeping bersifat sangat fleksibel, dan Dewan Keamanan telah membentuk dan mengirim pasukan perdamaian di banyak negara. Saat ini, terdapat 15 operasi pasukan perdamaian aktif yang ditempatkan di 4 benua yang berbeda.

Pasukan perdamaian bersifat sangat multidimensional yang tidak hanya ditunjuk untuk menjalin perdamaian dan keamanan, tetapi juga untuk fasilitasi proses politik, melindungi warga negara, asistensi gencata senjata, demobilisasi dan reintegrasi mantan pemberontak, mendukung organisasi pemilihan umum, melindungi dan mempromosikan hak asasi manusia, serta mengembalikan hukum sebagai aturan yang mengikat dalam negara.80

Dewan Keamanan PBB akan melakukan respon terhadap krisis dari seluruh belahan dunia, berdasarkan kasus per kasus. Meskipun demikian, terdapat beberapa konsiderasi yang diambil oleh Dewan Keamanan PBB dalam mengirimkan sebuah pasukan perdamaian81, yaitu:

1. Whether there is a ceasefire in place and the parties have committed themselves to a peace process intended to reach a political settlement (apabila terdapat gencatan senjata di tempat dan aktor-aktor telah komitmen untuk melakukan prosesi perdamaian untuk mencapai kesepakatan politik);

80 Ramesh Thakur dan Albrecht Schnabel, United Nations PeaceKeeping Operations; Ad Hoc Missions, Permanent Engagements, United Nations Press, USA, 2001, hal. 48.

81 Role of the Security Council in Peacekeeping Operations.

http://www.un.org/en/peacekeeping/operations/rolesc.shtml. Diakses tanggal 6 Januari 2013.

67 2. Whether a clear political goal exists and whether it can be reflected in the mandate (apabila terdapat tujuan politik yang jelas dan bisa direfleksikan dalam mandat);

3. Whether a precise mandate for a UN operation can be formulated (apabila sebuah mandat operasi PBB bisa diformulasikan); dan

4. Whether the safety and security of UN personnel can be reasonably ensured, including in particular whether reasonable guarantees can be obtained from the main parties or factions regarding the safety and security of UN personnel (apabila keamanan dari personil PBB dapat dijamin, termasuk jaminan yang dapat diberikan oleh aktor-aktor yang berkonflik).

Dewan Keamanan PBB membentuk sebuah operasi pasukan perdamaian melalu aplikasi dari sebuah resolusi Dewan Keamanan. Resolusi akan menjelaskan besarnya operasi (dari segi personil) dan mandat yang diberikan. Dewan Keamanan akan melakukan observasi terhadap perkembangan dari pasukan perdamaian tersebut, dan akan dilakukan beberapa sesi komite/committee sessions untuk membahas perkembangannya. Dewan Keamanan PBB memiliki hak untuk memperanjang/menambahkan mandat, atau mengakhiri mandat jika dianggap perlu.