BAB II PENENTUAN KUALITAS HADIS
A. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 19 September 2017, hlm. 3-4.
B. Identifikasi, Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah saya paparkan sebelumnya, maka saya melakukan identifikasi permasalahan sebagai berikut:
a. Penggunaan uang elektronik sangat pesat perkembangannya di Indonesia.
b. Uang elektronik merupakan alat pembayaran baru dalam proses transaksi secara non tunai.
c. Uang elektronik memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi jual beli.
d. Fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
e. Uang elektronik boleh digunakan sebagai alat pembayaran dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah
f. Kontroversi mengenai uang elektronik menjadi sebuah keraguan apakah uang elektronik termasuk riba atau tidak.
g. Sebagai landasan hukum, meskipun tidak disebutkan kualitas hadis-hadis yang dijadikan landasan dalam penetapan fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah, dapat diasumsikan bahwa hadis-hadis tersebut ṣaḥīḥ.
h. Untuk membuktikan asumsi ke-ṣaḥīḥ-an hadis-hadis yang terdapat pada fatwa DSN-MUI Nomor:
116/DSN-10
MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah, dalam penulisan ini saya akan melakukan penelitian sanad terhadap hadis-hadis yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam penetapan fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah.
2. Pembatasan Masalah
Untuk mempermudah pembahasan dalam penulisan skripsi ini, saya membatasi masalah yang dibahas agar pembahasannya menjadi lebih jelas, fokus dan terarah. Di sini saya membuktikan asumsi ke-ṣaḥīḥ-an hadis-hadis yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dengan meneliti kualitas sanad hadis-hadis yang terdapat dalam fatwa tersebut.
Fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah menyebutkan 8 hadis yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam penetapan fatwa tersebut. Dalam penelitian ini, saya hanya memfokuskan pada penelitian kualitas sanadnya saja.
3. Purumusan Masalah
Bagaimana kualitas sanad hadis-hadis yang menjadi landasan hukum dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penulisan skripsi ini adalah untuk membuktikan ke-ṣaḥīḥ-an sanad hadis-hadis yang dijadikan
sebagai landasan hukum dalam Fatwa DSN-MUI Nomor:
116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah.
2. Manfaat Penelitian
a. Secara akademik, saya berharap penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperluas dan mengembangkan khazanah keilmuan dalam bidang Ilmu Hadis serta dapat menjadi tambahan pengetahuan mengenai kualitas sanad hadis-hadis dalam Fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah.
b. Secara praktis, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kejelasan atas dalil-dalil hadis yang dijadikan sebagai landasan hukum dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah serta memberikan rasa ketentraman batin bagi para pengguna uang elektronik dalam kehidupan sehari-hari.
c. Secara khusus, penelitian ini menjadi salah satu persyaratan akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag) di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
D. Tinjauan Pustaka
Setelah melakukan penelusuran dari berbagai sumber penelitian, sejauh pengamatan dan pencarian yang dilakukan, saya menemukan beberapa karya ilmiah yang sejalan dengan kajian ini yang saya kategorikan berdasarkan tema penelitian, yaitu:
Kategori pertama, yaitu penelitian yang membahas tentang uang elektronik. Diantaranya yaitu: 1) Buku berjudul
12
“Uang Elektronik dalam Perspektif Islam” yang diterbitkan oleh CV. IQRO pada tahun 2018 yang membahas dan mengkaji secara mendalam mengenai konsep, gagasan, serta implementasi uang elektronik dalam dunia perbankan. 2) Skripsi berjudul “Analisis Pandangan Penggunaan Uang Elektronik (E-money) T-Cash sebagai Alat Transaksi pada Pelanggan Telkomsel (Tinjauan Ekonomi Keuangan Islam) yang disusun oleh Aliyya La Aba Wastakbaru di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh pada tahun 2018 yang menganalisa penggunaan uang elektronik (E-money) T-Cash sebagai alat transaksi pelanggan Telkomsel berdasarkan tinjauan ekonomi keuangan Islam. 3) Skripsi berjudul “Kedudukan Hukum Uang Elektronik (E-MONEY) dalam Melakukan Transaksi Pembayaran Non Tunai” yang disusun oleh Linda Nur Hasanah di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada tahun 2018 yang membahas kedudukan hukum uang elektronik (E-Money) dalam transaksi pembayaran di Indonesia dan tinjauan hukum Islam terhadap penggunaan uang elektronik (E-Money) dalam transaksi non tunai. 4) Skripsi berjudul “Konsep Uang Elektronik dan Peluang Implementasinya pada Perbankan Syariah” yang disusun oleh Asep Saiful Bahri di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2010 yang membahas jenis akad syariah pada uang elektronik serta peluang implementasi dan implementasi uang elektronik pada perbankan syariah. 5) Artikel berjudul “E-Money (Uang Elektronik) dalam Perspektif Hukum Syari’ah” yang ditulis oleh Chairil Anam dalam jurnal Jurnal Qawanin 2 no. 1 pada tahun
2018 yang membahas pandangan hukum syariah terhadap E-Money (Uang Elektronik). 6) Artikel berjudul “Eksistensi Uang Elektronik sebagai Alat Transaksi Keuangan Modern” yang ditulis oleh Rifqy Tazkiyaturrohmah dalam jurnal Muslim Heritage 3 no.1 pada tahun 2018 yang membahas transformasi uang menjadi alat transaksi keuangan modern. 7) Artikel berjudul “Uang Elektronik (E-MONEY) ditinjau dari Perspektif Hukum dan Perubahan Sosial” yang ditulis oleh Suharni dalam jurnal Spektrum Hukum 15 no.1 pada tahun 2018 yang menganalisa kebijakan uang elektronik dan pengaruhnya terhadap perubahan yang terjadi di masyarakat sosial. Dari ketujuh penelitian yang membahas uang elektronik tersebut berbeda dengan penelitian saya yang membahas penggunaan transaksi uang elektronik dalam pandangan hadis Nabi SAW.
Kategori kedua, yaitu penelitian yang membahas tentang analisa Fatwa MUI. Diantaranya yaitu: 1) Skripsi berjudul
“Analisis Implementasi Fatwa DSN-MUI No: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah (Studi BCA Syariah di Bandar Lampung” yang disusun oleh Rimbi Fadila Tunnisa di Fakultas Syariah Universitas Islam Raden Intan Lampung pada tahun 2019 yang menganalisa implementasi uang elektronik syariah di bank BCA Syariah Bandar Lampung. 2) Artikel berjudul “Analisis Hukum Bitcoin dalam Perspektif Fatwa MUI No: 116/DSN/MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah” yang ditulis oleh Muhammad Yusup dalam jurnal Khozana: Journal of Islamic Economic and Banking 3 pada tahun 2020 yang menganalisa praktik Bitcoin di Indonesia serta
14
menganalisa tinjauan hukum Fatwa MUI No:
116/DSN/MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah berdasarkan perspektif maqasid al-Syariah. 3) Artikel berjudul
“Analisis terhadap Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) tentang Uang Elektronik Syariah (Studi Kartu Flazz BCA, Go-Pay, dan Grab-Pay)” yang ditulis oleh Novia Nengsih dalam jurnal Jurisdictie: Jurnal Hukum dan Syariah 10 no. 1 pada tahun 2019. yang menganalisa hukum penggunaan E-Money di Indonesia berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No:
1168/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah. 4) Artikel berjudul “Perlindungan Hukum terhadap Transaksi Uang Elektronik berdasarkan Fatwa No.116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah oleh Bank Syariah” yang ditulis oleh Julianik Musfirotin dalam jurnal Jurist-Diction 3 no. 1 pada tahun 2020 yang membahas hubungan hukum para pihak dalam transaksi uang elektronik berdasarkan fatwa DSN-MUI No.116/DSN-MUI/IX/2017. 5) Artikel berjudul “Qawaid Fiqhiyyah dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia” yang ditulis oleh Heri Firmansyah dalam jurnal Al-Qadha 6 pada tahun 2019 yang membahas kaidah fiqih dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dari kelima penelitian yang membahas analisa Fatwa MUI tersebut berbeda dengan penelitian saya yang menganalisa dalil hadis yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI No: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah.
Kategori ketiga, yaitu penelitian yang membahas tentang kualitas hadis dalam fatwa MUI. Diantaranya yaitu artikel berjudul
“Kualitas Hadis-hadis Komunikasi dalam Fatwa MUI No. 18 tentang Pedoman Mengurus Jenazah yang Terinfeksi Covid-19”
yang ditulis oleh Corry Aulia dalam jurnal Komunikas Islamika:
Jurnal Ilmu Komunikasi dan Kajian Islam 7 no. 1 pada tahun 2020 yang membahas kualitas hadis-hadis komunikasi yang terdapat dalam fatwa MUI No. 18 tentang Pedoman Mengurus Jenazah yang Terinfeksi Covid-19. Penelitian tersebut berbeda dengan penelitian saya yang membahas kualitas sanad hadis transaksi uang elektronik yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI No: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, saya menggunakan jenis penelitian kualitatif. Yaitu sebuah metode penelitian data yang dikumpulkan dalam bentuk kata-kata dan gambar, bukan angka-angka.9 Adapun dalam meneliti hadis-hadis yang terdapat di dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah, saya menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan sumber-sumber data dari bahan-bahan tertulis dalam bentuk kitab, buku, jurnal dan lain-lain yang relevan dengan topik pembahasan.
2. Sumber Data
9 Afrizal, Metode Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 16.
16
Dalam penelitian ini, saya membagi sumber data ke dalam dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer dalam penelitian ini yaitu Fatwa DSN-MUI Nomor:
116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah dan al-Kutūb al-Ḥ.adīth Sedangkan sumber sekundernya ialah buku-buku, jurnal, dan karya ilmiah lainnya yang berhubungan dengan objek kajian penelitian.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian hadis-hadis yang terdapat di dalam fatwa DSN-MUI Nomor: 116/DSN-MUI/IX/2017 tentang Uang Elektronik Syariah, saya mengumpulkan data dengan melakukan takhrīj al-Ḥadīth yang merupakan suatu kegiatan penelusuran hadis dengan menggunakan salah satu dari tiga metode takhrīj al-Ḥadīth, yaitu:
1. Metode Lafaz Hadis (dengan menelusuri kitab Mu’jam al-Mufahras li Alfāẓ al-Ḥadīth al-Nabawwi karya Arent Jan Wensink)
2. Metode Tema Hadis (dengan menelusuri kitab Miftāḥ Kunūz al-Sunnah Arent Jan Wensink)
3. Metode Awal Matan Hadis (dengan menelusuri kitab Mausū’ah Aṭrāf al-Ḥadīth al-Nabawwī al-Sharīf karya Abū Hājar Muḥammad al-Sa’īd bin Buyūnī Zaglūl al- Sa’īd).
Setelah melakukan takhrīj al-Ḥadīth, saya juga mengumpulkan data berupa informasi mengenai hal ihwal dan sejarah kehidupan para periwayat hadis yang disebut rijāl al-Ḥadīth dengan menggunakan kitab Tadhhīb Tahdhīb al-Kamāl fī Asmā’ al-Rijāl karya Jamaluddin Abī al-Ḥajjaj Yūsuf al-Mizī,
Tahdhīb al-Kamāl fī Asmā’ al-Rijāl karya Shamsuddin Abī
‘Abdillah Muḥammad bin Aḥmad bin ‘Uthman bin Qaimaz al-Shahir bi al-Dhahabī, dan Taqrīb Al-Tahdhīb karya Aḥmad bin
’Alī bin Hajar al-‘Asqalanī.10 4. Analisis Data
Dalam menganalisis hadis, langkah pertama yang saya lakukan dalam penelitian ini adalah:
a. Melakukan takhrīj al-Ḥadīth
b. Membuat skema sanad (I’tibar) untuk mempermudah pembacaan jaringan sanad hadis.
c. Melakukan penelitian terhadap sanad hadis dengan mengumpulkan data berupa informasi mengenai hal ihwal dan sejarah kehidupan para periwayat hadis untuk mengetahui ketersambungan sanad hadis seperti nama lengkap, tahun lahir/wafat, guru, murid, lafaz penerimaan atau lafaz penyampaian hadis
d. Melakukan penelitian terhadap sanad hadis dengan memperhatikan unsur-unsur kaidah ke-ṣaḥīḥ-an sanad hadis
e. Memperhatikan penilaian al-Jarh wa al-Ta’dil dari para ulama kritikus hadis
f. Menyimpulkan kualitas sanad hadis tersebut..
10 Alfi Azizi, Skripsi: Kualitas Hadis-hadis Akhlaq Kepada Orang Tua dalam Kita al-Akhlāq li al-Banīn karya Umar bin Ahmad Baraja (Jakarta:
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2020), hlm. 16-17.
18
F. Sistematika Penulisan
Dalam skripsi ini, saya membagi bahasan menjadi 4 bab dengan rincian sebagai berikut: Bab pertama dalam penulisan ini berisi pendahuluan yang membahas latar belakang penulisan skripsi, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Selanjutnya, pada bab kedua berisi bahasan mengenai kajian Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) dan Uang Elektronik. Pada bab ketiga, berisi kritik sanad dan analisis terhadap sanad hadis-hadis yang diteliti. Dan pada bab keempat, berisi simpulan dari hasil analisis saya pada bab ketiga serta jawaban atas rumusan masalah yang terdapat pada bab pertama, dan kemudian dilengkapi dengan saran-saran.
19 BAB II
PENENTUAN KUALITAS HADIS
A. Kritik Hadis
Kritik secara bahasa merupakan peralihan bahasa dari kata naqd (
دقن
) yang berarti penelitian, analisis, pengecekan dan pembedaan. Secara istilah, kata kritik dapat diartkan sebagai suatu usaha untuk menemukan kekeliruan dan kesalahan yang dimaksudkan untuk mencapai kebenaran.1 Dalam hadis, terdapat dua bagian yang perlu diteliti yaitu sanad dan matan hadis.Kritik sanad hadis adalah suatu upaya penelitian yang dilakukan terhadap sanad hadis untuk mengetahui kualitas sanad hadis apakah termasuk ṣaḥīḥ al-Isnad atau ḍa’īf al-Isnad.2 Sedangkan kritik matan hadis adalah suatu upaya berupa penelitian dan penilaian terhadap matan hadis yang dilakukan setelah meneliti sanad hadis untuk menentukan kualitas matan hadis apakah termasuk ṣaḥīḥ atau ḍa’īf.3
Hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an, sehingga penelitian terhadap hadis Nabi SAW. sangat penting untuk dilakukan.Berikut adalah faktor-faktor yang
1 Ali Yasmanto dan Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, “Studi Kritik Matan Hadis: Kajian Teoritis dan Aplikatif untuk Menguji Kesahihan Matan Hadis” Al-Bukhari Jurnal Ilmu Hadis 2, no. 2 (2019): 211.
2 Zubaidah, “Metode Kritik Sanad dan Matan Hadis” Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam 4, no. 1 (2015): 43.
3 Ali Yasmanto dan Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, “Studi Kritik Matan Hadis: Kajian Teoritis dan Aplikatif untuk Menguji Kesahihan Matan Hadis” Al-Bukhari Jurnal Ilmu Hadis 2, no. 2 (2019): 211.
20
mendorong ulama mengadakan penelitian terhadap hadis Nabi SAW:
1. Hadis merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah Al-Qur’an
2. Pada zaman Nabi, tidak semua hadis tertulis 3. Munculnya hadis-hadis palsu
4. Proses penghimpunan hadis disusun ketika hadis telah mengalami pemalsuan-pemalsuan.4
B. Kaidah-kaidah ke-ṣaḥīḥ-an Hadis
Dalam menentukan kualitas ke-ṣaḥīḥ-an hadis, terdapat beberapa kaidah yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Sanadnya bersambung
2. Perawinya bersifat ‘adil (beragama Islam, mukallaf, berakal, menjaga muru’ah, menjauhi dosa kecil, dan terhindar dari kefasikan)
3. Perawinya bersifat ḍabit (kuat ingatannya, tidak pelupa, dan menguasai apa yang diriwayatkan)
4. Tidak terdapat shadh (tidak terdapat kejanggalan / tidak menyalahi riwayat lain)
5. Tidak terdapat ‘illat (penyakit samar-samar yang dapat menodai ke- ṣaḥīḥ-an hadis seperti me-muttaṣil-kan sanad hadis yang munqaṭi’).5
4 M. Syuhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadis (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2014), hlm. 87-122.
5 Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits (Bandung: PT Alma’arif: 1974 (Cetakan ke-12)), hlm. 118-123.
Dari kelima kaidah ke-ṣaḥīḥ-an hadis tersebut, kelimanya merupakan kaidah ke-ṣaḥīḥ-an sanad hadis. Sedangkan yang termasuk kaidah ke-ṣaḥīḥ-an matan hadis hanya mencakup 2 kaidah saja, yaitu:
1. Tidak terdapat shadh
Shadh dalam matan dapat diketahui setelah dilakukan perbandingan matan-matan hadis beserta sanadnya masing-masing dalam suatu tema hadis pada kitab hadis yang sama maupun yang berbeda. Matan hadis yang mengandung shadh menyebabkan lemahnya suatu hadis yaitu apabila terdapat matan hadis yang menyalahi matan hadis lain yang perawinya lebih thiqah atau lebih banyak periwayatannya.
2. Tidak terdapat ‘illat
‘Illat dalam matan dapat diketahui dari gejala kepalsuan yang sangat beragam seperti penyaduran makna matan hadis ke dalam redaksi hadis yang rancu bahasanya. ‘Illat pada matan hadis terbagi menjadi:
a. Penyisipan teks hadis b. Pembalikan teks hadis
c. Perbedaan redaksi dan kandungan makna matan yang kontradiktif sehingga tidak ada yang dapat diunggulkan dan tidak dapat dikompromikan
d. Kesalahan ejaan pada huruf atau syakal.6
6 Ali Yasmanto dan Siti Rohmaturrosyidah Ratnawati, “Studi Kritik Matan Hadis: Kajian Teoritis dan Aplikatif untuk Menguji Kesahihan Matan Hadis” Al-Bukhari Jurnal Ilmu Hadis 2, no. 2 (2019): 216-222
22
C. Metode Kritik Hadis 1. Metode Kritik Sanad
Dalam kegiatan kritik sanad hadis, terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan, yaitu:
a. Melakukan takhrīj al-Ḥadīth yang merupakan suatu kegiatan penelusuran hadis dengan menggunakan salah satu dari tiga metode takhrīj al-Ḥadīth, yaitu:
1) Metode Lafaz Hadis 2) Metode Tema Hadis
3) Metode Awal Matan Hadis
b. Membuat skema sanad (I’tibar) untuk mempermudah pembacaan jaringan sanad hadis.
c. Melakukan penelitian terhadap sanad hadis dengan mengumpulkan data berupa informasi mengenai hal ihwal dan sejarah kehidupan para periwayat hadis untuk mengetahui ketersambungan sanad hadis seperti nama lengkap, tahun lahir/wafat, guru, murid, lafaz penerimaan atau lafaz penyampaian hadis
d. Melakukan penelitian terhadap sanad hadis dengan memperhatikan unsur-unsur kaidah ke-ṣaḥīḥ-an sanad hadis
e. Memperhatikan penilaian al-Jarh wa al-Ta’dil dari para ulama kritikus hadis
f. Menyimpulkan kualitas sanad hadis tersebut.
2. Metode Kritik Matan
Berbeda dengan kritik sanad hadis, berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan kritik matan hadis, yaitu:
a. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya b. Meneliti susunan dan lafal matan yang semakna c. Meneliti kandungan matan.7
D. Kaidah-kaidah al-Jarḥ wa al-Ta’dil
Ketika meneliti periwayat hadis, apabila terjadi ta’aruḍ atau perbedaan pendapat antara ulama yang satu dengan ulama yang lain dalam memberikan penilaian al-Jarḥ wa al-Ta’dil, terdapat 4 pendapat yang dijadikan sebagai kaidah-kaidah untuk menentukan al-Jarḥ wa al-Ta’dil, yaitu:
1. Jarḥ harus didahulukan secara mutlak, walaupun jumlah mu’addil-nya lebih banyak daripada jarḥ
2. Ta’dil harus didahulukan daripada jarḥ
3. Jika jumlah mu’addil-nya lebih banyak daripada jarḥ, maka yang didahulukan adalah ta’dil
4. Masih tetap dalam ke-ta’aruḍ-annya selama belum ditemukan yang me-rajih-kannya.8
7 Zubaidah, “Metode Kritik Sanad dan Matan Hadis” Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Islam 4, no. 1 (2015): 68-79.
8 Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits (Bandung: PT Alma’arif: 1974 (Cetakan ke-12)), hlm. 312-313.
24 BAB III
UANG ELEKTRONIK DALAM FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA
(DSN-MUI)
A. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI)
Sebagai lembaga yang memiliki wewenang dalam bidang keagamaan yang berhubungan dengan kepentingan umat Islam Indonesia, pada tanggal 10 Februari 1999 Majelis Ulama Indonesia (MUI) membentuk suatu dewan yang disebut Dewan Syariah Nasional (DSN) untuk menumbuh kembangkan penerapan nilai-nilai syariah dan menjalankan tugas MUI dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan ekonomi syariah, yaitu ekonomi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Al-Qur’an dan hadis.1
Selain itu, DSN juga memiliki wewenang untuk:
1. Memberikan dan mencabut rekomendasi nama-nama yang akan ditetapkan sebagai anggota Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada suatu lembaga keuangan syariah
2. Mengeluarkan fatwa yang mengikat DPS di masing-masing lembaga keuangan syariah dan menjadi dasar tindakan hukum terkait
1 Rahmat Ilyas, “Peran Dewan Pengawas Syariah dalam Perbankan Syariah”. Jurnal Perbankan Syariah 2, no. 1 (2021): 45.
3. Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan hukum bagi ketentuan yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang seperti bank Indonesia
4. Memberikan peringatan kepada lembaga keuangan syariah untuk menghentikan penyimpangan dari fatwa yang telah dikeluarkan oleh DSN
5. Mengusulkan kepada pihak yang berwenang untuk mengambil tindakan apabila peringatan diabaikan.2
Dalam mengeluarkan sebuah fatwa, MUI membentuk suatu komisi fatwa yang bertugas menganalisis permasalahan yang akan difatwakan dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadis, pendapat empat Imam mazhab serta kesepatan para ulama.
Kemudian, DSN bertugas untuk menggali, mengkaji dan merumuskan prinsip-prinsip syariah untuk dijadikan sebagai pedoman dalam kegiatan transaksi di lembaga-lembaga keuangan syariah serta mengawasi pelaksanaan dan implementasinya. Hasil kajian tersebut dituangkan dalam bentuk rancangan fatwa DSN untuk dibahas dalam rapat pleno dan ditetapkan sebagai fatwa DSN.