dapat berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya.
Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), lembaga pemerintah yang mengatur pendidikan adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Berdasarkan Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2015 tentang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat, serta pengelolaan kebudayaan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan. Lalu apa jadinya jika mata pelajaran yang selama ini dianggap paling relevan karena berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari manusia dihapus oleh Kemendikbud dari struktur kurikulum?
Penghapusan TIK: Tepatkah?
Suatu keputusan yang cukup mencengangkan telah datang dari pemerintah. Sampai saat ini, revisi atau penghapusan Permendikbud No. 68 Tahun 2014 Bab V Pasal 8 masih menjadi gejolak. Melalui kurikulum 2013, pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) dihilangkan dari mata pelajaran wajib. Total sekolah yang telah menerapkan Kurtilas (Kurikulum 2013) dan berarti telah menghilangkan mata pelajaran TIK pada tahun ajaran 2016-2017, dari SLB berjumlah 2019 sekolah, SD berjumlah 27.727 sekolah, SMP ada 5.333 sekolah, dan SMA mencapai 2.049 sekolah.2
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan DKI Jakarta Septi Novida mengatakan, alasan penghapusan mata pelajaran TIK karena peserta didik akan lebih diajarkan pada implementasi, bukan lagi ilmu dasar komputer. Pada akhirnya mata pelajaran ini akan dialihkan menjadi kegiatan ekstrakurikuler sekolah, tidak menjadi mata pelajaran utama.
3 Kebijakan tersebut mendapat dukungan dari Pengembang
2 Menurut keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah No: 374/KEP/D/KR/2016 tanggal 11 Juli 2016.
3 Mata Pelajaran Bahasa Inggris Penjaskes dan TIK di SD Dihapus,
Teknologi Pembelajaran Pustekkom Kemendikbud, Uwes Anis Chaeruman berpendapat TIK bisa dipelajari dengan lewat implementasi di setiap mata pelajaran. Tidak butuh pendidikan khusus untuk mempelajarinya, cukup berintegrasi dengan pelajaran lain. Baginya, berdasarkan level pembelajaran yang disusun bersama Cambridge, kompetensi TIK Indonesia masih tertinggal. Karena selama ini yang dipelajari hanya sebatas teori bukan melihat implementasi.4
Dengan melihat pernyataan di atas, pada dasarnya pemerintah kurang nyaman dengan pembelajaran TIK yang selama ini diajarkan di kelas. Karena pada kurikulum sebelumnya, mata pelajaran TIK hanya mengajarkan ilmu dasar komputer saja. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut memperlambat tingkat keterampilan generasi muda Indonesia. Apalagi jika diamati kebiasaan anak didik era sekarang, banyak siswa TK yang telah terbiasa dengan alat teknologi. Tanpa adanya pelajaran pun, alat teknologi dapat mereka kuasai, begitu juga dengan internet. Kebijakan tersebut dibuat oleh Kemendikbud selaku pemegang kekuasaan tinggi dalam bidang pendidikan Indonesia. Lalu apakah kebijakan yang mereka buat menunjukkan bahwa lembaga ini memiliki kinerja yang bagus?
Standar Kompetensi untuk TIK
Manajemen kinerja dalam tingkat organisasi berkaitan dengan usaha mewujudkan visi organisasi.5 Visi dari Kemendikbud sendiri adalah “terbentuknya insan serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong royong.”6 Manajemen kinerja dapat menyediakan mekanisme untuk memastikan bahwa visi tersebut dapat dicapai. Mekanisme ini berkaitan dengan formulasi misi dan nila-nilai, penentuan dari faktor-faktor kritis keberhasilan,
4 Tidak Perlu Mata Pelajaran Khusus TIK, http://m.okezone.com. Diakses 27 Maret 2017.
5 Surya Dharma, Manajemen Kinerja Falsafah, Teori, dan
Penerapannya, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hlm. 229.
6 Visi dan Misi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
strategi, sasaran dan rencana yang dikuti oleh tindakan, umpan balik, dan evaluasi.7
Seperti yang dilakukan Kemendikbud atas kebijaksanaannya yang baru, pemerintah lupa bahwa dalam penguasaan TIK juga memerlukan etika. Padahal ada pernyataan ‘pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter’ dalam visi Kemendikbud. Arena ketidaksesuaian antara implementasi dan visi Kemendikbud, maka berapa banyak siswa Indonesia yang menggunakan TIK hanya untuk ingin eksis di media sosial. Berapa banyak siswa Indonesia yang menggunakan TIK hanya untuk bermain game. Bagi sebagian dari mereka, TIK dimanfaatkan untuk bersenang-senang, bukan untuk penunjang keterampilan. Padahal hakikat dalam manajemen kinerja adalah bagaimana mengelola seluruh kegiatan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.8
Dalam Islam telah diatur kewajiban manusia untuk memiliki kinerja yang baik, karena kinerja merupakan amal yang dimiliki manusia. Seperti yang dinyatakan dalam surat al-Ahqaaf ayat 19, yakni.
“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan”
Ayat tersebut mengemukakan pelajaran bahwa apapun yang dikerjakan oleh manusia yang berarti hal itu adalah kinerjanya, maka akan mendapatkan balasan sesuai apa yang telah mereka kerjakan. Sebenarnya yang perlu diubah dalam pelajaran TIK adalah standar kompetensi dengan menyesuaikan situasi siswa saat ini. Bukan menghapusnya hingga membiarkan mereka bebas menggunakan TIK dengan asal-asalan.
Dengan kondisi teknologi di dunia pelajar saat ini, tentu
7 Surya Dharma, Manajemen Kinerja Falsafah… hlm. 230.
8 Wibowo, Manajemen Kinerja, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), hlm. 10.
dengan hanya mengajarkan ilmu dasar computer saja kepada siswa tidak lagi relevan. Karena mereka telah melangkah jauh dari apa yang telah diajarkan di sekolah. Dengan begitu, maka standar kompetensi yang harus mendahului siswa agar dapat meningkatkan potensi diri melalui TIK . Termasuk di dalamnya ditanamkan etika penggunaan TIK sebagai ‘pagar’ agar siswa tidak terjerumus ke dalam lubang penyesalan.
Dengan menjadikan TIK sebagai mata pelajaran wajib di sekolah, pemerintah dapat dituntut untuk memberikan fasilitas teknologi lebih baik sebagai penunjang keterampilan siswa. Karena istilah ‘wajib’ bagi mata pelajaran akan mengharuskan pemerintah untuk memberikan dukungan-dukungan dalam hal finansial agar kewajiban tersebut berjalan maksimal. Apabila TIK hanya diadakan dalam ekstrakurikuler, maka pemerintah tidak akan punya tanggungan dalam mengembangkan TIK di dunia pendidikan.
Selain itu, tidak semua sekolah menjadikan ekstrakurikuler sebagai suatu keistimewaan yang harus dijalankan, dan tidak semua sekolah dapat memberikan fasilitas sebagai media pendukung kemajuan TIK di kalangan siswanya. Dan hal itu menyebabkan perkembangan TIK menyebar tidak merata di kawasan Indonesia. Padahal salah satu misi Kemendikbud adalah ‘mewujudkan akses yang meluas, merata, dan berkeadilan’.9
Sedangkan awal dari proses manajemen kinerja adalah formulasi dari pernyataan misi.10 Hal ini menunjukkan bahwa antara implementasi dan rencana yang dibuat Kemendikbud tidak sejalan, sehingga menyebabkan manajemen kinerja Kemendikbud dipertanyakan.
9 Visi dan Misi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019. https://www.kemdikbud.go.id. Diakses 21 April 2017.
Daftar Pustaka
Mulayasa, E. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008.
Surya Dharma. Manajemen Kinerja Falsafah, Teori, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013.
Wibowo. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013.
Mata Pelajaran Bahasa Inggris Penjaskes dan TIK di SD Dihapus. http://megapolitan.kompas.com. Diakses 27 Maret 2017. Tidak Perlu Mata Pelajaran Khusus TIK. http://m.okezone.
com. Diakses 27 Maret 2017.
Visi dan Misi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019. https://www.kemdikbud.go.id. Diakses 21 April 2017.
Nurul Istiqamah, lahir di Desa Sukaoneng, Tambak, Bawean, Gresik, dua puluh tahun yang lalu. Sekolah di SDN Sidokumpul 6 Gresik, SMPN 3 Gresik, MA Syarifuddin Lumajang. Sekarang sedang menempuh studi Manajemen Dakwah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama menjadi pelajar mahasiswa, aktif di Pondok Pesantren al-Luqmaniyyah Yogyakarta dan organisasi IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama).