• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRITIK TERHADAP KINERJA KEMENTERIAN KOMINFO

Dalam dokumen Mozaik Islam dan Manajemen Kinerja (Halaman 178-185)

mengembangkan, melestarikan dan juga menjaga aspek-aspek ataupun hal-hal yang mendukung proses tranformasi tersebut agar hasil yang diperoleh dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat baik itu masyarakat kota maupun masyarakat desa. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, teknologi, dan juga demografis suatu wilayah. Jika dilihat kembali, tujuan dari modernisasi memang baik. Tetapi bagaimanapun, selama ada kutub positif pasti akan ada kutub negatif, terutama untuk negara-negara yang tengah berkembang layaknya Indonesia.

Indonesia sendiri sebagai negara yang tengah berkembang, juga terkena dampak dari arus modernisasi. Sebagai contoh, masuknya modernisasi memberikan pengaruh terhadap pola interaksi sosial masyarakat karena dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan, masyarakat yang awalnya masih terkekang dalam pemikiran tradisional akan mampu menciptakan suatu gagasan-gagasan baru yang lebih universal. Namun di sisi lain, gagasan-gagasan yang bersifat segar tersebut seringkali bertentang dengan tradisi yang ada di dalam masyarakat sehingga mengakibatkan perbedaan-perbedaan yang berpotensi memecah-belah persatuan dan kesatuan masyarakat. Selain itu, adanya modernisasi juga dapat menciptakan suatu kesenjangan sosial di antara masyarakat.

Kesenjangan yang terjadi merupakan dampak negatif yang timbul akibat adanya ketidaksiapan maupun penolakan sebagian orang, dalam menghadapi arus perubahan. Ada berbagai macam alasan yang dijadikan acuan untuk penolakan tersebut, salah satunya yaitu perubahan yang datang ditakutkan akan menghilangkan nilai-nilai luhur yang telah ada seperti budaya, adat istiadat, maupun tradisi turun-temurun yang diwariskan sejak dari nenek moyang mereka. Masyarakat, utamanya masyarakat desa, sangat menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi-tradisi tersebut. Selain itu, tradisi yang ada menjadi penghubung antara masyarakat satu dengan yang lainnya, tanpa memandang kasta maupun perbedaan yang lainnya. Hal ini sangat berkebalikan dengan dampak negatif yang dibawa oleh arus modernisasi ke masyarakat.

Sebagian orang menjadi terlena dalam arus perubahan jaman yang kemudian berubah menjadi orang yang individualistik, hedonis, dan konsumtif.

Hal ini juga memberi dampak terhadap kinerja dari masyarakat, utamanya masyarakat di kota. Banyak orang yang bekerja dengan menjadikan materi sebagai motivasi utama dalam menunjang kinerja mereka. Hal tersebut memang tidak bisa disalahkan, namun sangat penting untuk lebih mengedepankan aspek profesionalitas, dedikasi, serta gairah sebagai sumber motivasi utama dalam mempengaruhi kinerja daripada hal-hal yang bersifat material. Sebagai contoh pada suatu kasus pembuatan jalan di desa, masyarakat saling bahu-membahu untuk mengerjakan proyek tersebut tanpa ada imbalan sepeserpun. Hal ini menjadi bukti bahwa masih mungkin untuk membuat seseorang bekerja secara maksimal tanpa mengandalkan kekuatan materi, melainkan melalui ikatan kebersamaan serta kesadaran diri untuk berkontribusi kepada orang lain.

Kinerja Kominfo

Untuk mencapai hal tersebut, perlu adanya sinergi antara semua pihak, termasuk pemerintah. Melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kekominfo), pemerintah berusaha mengarahkan arus modernisasi agar dapat memberikan manfaat dalam upaya untuk memajukan Indonesia. Berdasarkan Renstra Kominfo Tahun 2015-2019, pembangunan bidang komunikasi dan informatika lima tahun ke depan diprioritaskan pada upaya mendukung pencapaian kedaulatan pangan, kecukupan energi, pengelolaan sumber daya maritim dan kelautan, percepatan pembangunan daerah perbatasan, dan peningkatan sektor wisata dan industri, berdasarkan keunggulan sumber daya manusia dan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.2

Namun untuk saat ini, kinerja dari Kominfo dapat dikatakan masih belum maksimal, melihat belum meratanya

2 Visi dan misi Kekominfo, https://www.kominfo.go.id. Diakses 17 Mei 2017.

kemudahan akses komunikasi dan informasi antar daerah-daerah di Indonesia. Terlalu berpusatnya pembangunan di pulau Jawa (Jawa sentris) membuat pemberdayaan di daerah-daerah lain menjadi terbengkalai, salah satunya pada sektor komunikasi dan infomasi. Pihak Kominfo seharusnya memperhatian bagaimana pelayanan yang mestinya diberikan kepada daerah lain di luar pulau Jawa, karena mereka juga termasuk rakyat Indonesia yang mempunyai hak untuk hidup sejahtera.

Jika dari tahun ke tahun kontribusi dari pihak Kementrian Kominfo hanya memberi pengaruh yang sedikit tanpa adanya prestasi yang signifikan, maka jurang kesenjangan yang terjadi dalam masyarakat hanya akan bertambah semakin dalam. Apalagi ditengah berkembangnya arus modernisasi di dunia global pada saat ini, efek negatif akan lebih dirasakan oleh masyarakat perbatasan, ketimbang efek positifnya.

Akses Komunikasi: Lokalisasi vs Westernisasi

Arus modernisasi terkadang juga disalahtafsirkan sebagai perubahan yang menjadikan dunia barat sebagai role model atau yang sering disebut westernisasi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi paling pesat terjadi di dunia Barat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, dengan mengadopsi seluruh budaya Barat tanpa memfilternya terlebih dahulu, akan berimbas kepada hilangnya identitas dan juga eksistensi budaya lokal. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi kedaulatan NKRI. Contohnya pada saat ini, banyaknya orang yang lebih senang menghabiskan waktunya dengan alat komunikasi yang dimiliki, karena kemudahan akses yang menembus batasan-batasan ruang yang ada, ketimbang menghabiskan waktu bersama orang lain untuk saling berbagi cerita.

Pada awalnya hakikat dari adanya alat komunikasi sendiri yaitu untuk memudahkan setiap orang dalam berkomunikasi baik dengan sanak saudara ataupun dengan orang yang lainnya. Namun semakin lama batasan-batasan ruang sosial mulai ditembus. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi

(seperti: internet) memang melahirkan relasi-relasi sosial baru yang mampu menembus ruang.3 Namun kadang ruang nyata yang sekian lama telah terbentuk dan menyatukan setiap anggota masyarakat dapat dirusak oleh arus deras modernisasi. Untuk menanggulangi hal tersebut, pembangunan karakter setiap masyarakat mutlak diperlukan. Selain melalui jenjang pendidikan, salah satu cara guna membentuk karakter yang kuat dalam masyarakat yaitu melalui kearifan lokal setiap daerah. Lalu pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan kearifan lokal?

Penulis merasa perlu mengacu pada istilah local genius yang ditampilkan oleh Quaritch Wales. Seperti yang dikutip Poespowardojo (1986:30), Quaritch Wales merumuskan local genius sebagai “the same of the cultural characteristics which the vast majority of a people have in common as a result of their experiences in early life”. Pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam definisi tersebut adalah 1) ciri-ciri budaya; 2) sekelompok manusia pemilik budaya; serta 3) pengalaman hidup yang menghasilkan ciri-ciri budaya. Pokok-pokok pikiran tersebut menunjukkan bahwa local genius merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh sekelompok (etnis) manusia yang diperoleh melalui pengalaman hidup serta terwujud dalam ciri-ciri budaya yang dimiliki. Seorang anggota masyarakat budaya menjadi cerdas berkat pengalaman hidup yang dihayatinya. Ia memiliki kecerdasan karena proses belajar yang dilakukannya dalam perjalanan pengalaman hidup.

Mengacu kembali definisi kearifan, yang juga berarti kecerdasan, kearifan dalam budaya juga merupakan bentuk kecerdasan yang dihasilkan oleh masyarakat pemilik kebudayaan itu. Dengan demikian, mempelajari dan menghayati budaya sendiri akan menghasilkan kecerdasan bagi para pelakunya, karena mereka terlibat langsung dalam penciptaan budayanya; namun bukan berarti kebudayaan suku atau bangsa lain tidak dapat dipelajari. Pengembangan dan penerapan kearifan lokal menjadi sangat penting dan strategis

3 Sunyoto Usman, Esai-Esai Sosiologi Perubahan Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hlm. 283.

dalam rangka pencerdasan bangsa.

Faktor-faktor yang menjadikan pembelajaran dan pemelajaran kearifan lokal memiliki posisi yang strategis adalah sebagai berikut.

1. Kearifan lokal merupakan pembentuk identitas inheren sejak lahir.

2. Kearifan lokal bukan sebuah keasingan bagi pemiliknya.

3. Keterlibatan emosional masyarakat dalam penghayatan kearifan lokal kuat.

4. Pembelajaran kearifan lokal tidak memerlukan pemaksaan.

5. Kearifan lokal mampu menumbuhkan harga diri dan percaya diri.

6. Kearifan lokal mampu meningkatkan martabat bangsa dan negara.

Budaya (masuk di dalamnya kearifan) yang tercipta di lingkungan hidup dimana ia tinggal menjadi salah satu ‘menu makanan’ yang membentuk serta menumbuhkembangkan identitasnya sebagai manusia seutuhnya.4 Kecerdasan karakter yang dibentuk melalui kearifan lokal menjadi pondasi yang kuat guna menghadapi dampak negatif dari modernisasi yang semakin lama menjadi ancaman bagi eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Kearifan lokal dapat menjadi solusi untuk membuat masyarakat dapat memanfaatkan arus modernisasi dengan baik dan bijaksana demi kemajuan bangsa dan negara.

Satu hal yang tak kalah pentingnya dalam membentuk kecerdasan masyarakat sosial yaitu adalah dengan memperdalam ilmu agama. Karena agama merupakan pemandu utama manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan. Kapal yang di dalamnya tidak ada agama sebagai penunjuk jalan, akan mudah kehilangan arah dan kemudian tenggelam dengan sendirinya. Dalam Islam sendiri, dianjurankan untuk senantiasa menjaga harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat, seperti yang tertuangkan dalam Al-Qur’an QS al-Hujurat ayat 13, yakni.

4 Rahyono, Kearifan Budaya dalam Kata, (Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2015), hlm. 8-10.

“Hai manusia, sesungguhnya kami menjadikan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesunggunya orang mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.”

Daftar Pustaka

Rahyono, Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widya Sastra, 2015.

Sunyoto Usman. Esai-Esai Sosiologi Perubahan Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Modernisasi, https://id.m.wikipedia.org. Diakses 15 Mei 2017 Visi dan misi Kekominfo, https://www.kominfo.go.id. Diakses

17 Mei 2017.

Rilo Pratama Rami, lahir di Desa Jatimulyo, sebuah desa kecil yang terletak di perbatasan kabupaten Bantul. Saat ini tengah menempuh studi (S1) Manajemen Dakwah di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

BAB V

ISLAM, KINERJA,

Dalam dokumen Mozaik Islam dan Manajemen Kinerja (Halaman 178-185)