mengendalikan kegiatan dalam ranah pembelajaran dalam kelas, dimana guru menjadi nahkodanya. Dan hal ini erat sekali kaitanya antara perubahan kurikulum dengan kinerja guru dalam mengajar. Keresahan kerap dirasakan guru-guru di sekolah lantaran perubahan kurikulum yang mana terdapat banyak perubahan di dalamnya. Keresahan tersebut semakin parah setelah adanya kebijakan pemerintah yang memberlakukan kurikulum yang berbeda-beda. Bahkan kurikulum tersebut diterapkan ketika kurikulum yang baru dibuat, belum benar-benar matang diterapkan.
Penulis menduga perubahan tersebut muncul karena pola pikir dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang ketika ganti menteri maka peraturan/regulasi yang diterapkan juga baru. Padahal kurikulum yang sebelumnya diterapkan belum dapat dilaksanakan dengan maksimal. Akibat dari keresahan yang dirasakan oleh guru-guru, tentunya berdampak pada kinerja mereka dalam kegitan mengajar. Keresahan tersebut adalah mengenai teknik dan metode apa yang paling relevan dan sesuai ketika diterapkan di dalam kelas. Tujuan akhirnya adalah siswa merasa nyaman dalam kegiatan pembelajaran dengan adanya tuntutan kurikulum yang baru. Ada kalangan guru yang mengeluh bahwa murid mereka tidak menyukai pembelajaran dengan kurikulum baru yang cenderung menjadikan murid untuk berlaku mandiri dalam berbagai aspek padahal mereka sebelumnya sudah terbiasa dengan model mendengarkan penjelasan dari guru, terlebih juga terhadap guru yang sudah tergolong tua ataupun lanjut usia juga mengalami dampak dari adanya perubahan kurikulum tersebut terutama dalam ranah teknologi yang semakin berkembang seiring dengan majunya zaman.
Dampak Perubahan Kurikulum
Akan tetapi tak hanya keresahan yang muncul, di balik adanya kalangan guru yang merasa resah dengan adanya pergantian kurikulum tersebut. Ada kalangan guru yang senang dengan adanya perubahan kurikulum. Mereka menganggap bahwa dengan adanya perubahan kurikulum
maka inovasi juga muncul untuk dapat merubah perilaku atau sikap murid menjadi lebih baik. Sehingga murid menjadi anak yang cedas dan santun budi pekerti. Baik dampak yang menuju ke arah negatif maupun dampak yang menuju ke arah positif. Hal ini tentunya dapat menjadi refleksi diri bagi kalangan guru tentang bagaimana mengeluarkan performa mengajar mereka di dalam kelas. Juga menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pemerintah untuk menganlisis secara lebih mendalam, sehingga dalam penerapan kurikulum dampak-dampak negatif akibat adanya perubahan tersebut dapat diminimalisir dan ditentukan jalan keluarnya.
Setelah kita mengetahui seluk beluk mengenai dampak yang ditimbulkan oleh adanya perubahan kurikulum yang ada di Indonesia, baik yang bersifat pro ataupun kontra. Selanjutnya akan menganalisis dampak yang ditimbulkan oleh adanya perubahan kurikulum terhadap kinerja guru. Untuk melihat hakikat kinerja guru di sekolah, terlebih dahulu dikemukakan pandangan para ahli tentang apa sebenarnya kinerja itu. Whitmore secara sederhana mengemukakan bahwa kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang.1 Pandangan lain dikemukakan oleh Patricia King bahwa kinerja adalah aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas pokok yang dibebankan kepadanya.2 Berdasarkan pendapat ahli maka disimpulkan bahwa kinerja adalah perilaku seseorang yang membuahkan hasil setelah memenuhi sejumlah persyaratan.
Kinerja Guru
Dalam kaitan dengan kinerja guru di sekolah, kinerja mereka dapat terefleksi dalam tugasnya sebagai seorang pengajar dan sebagai seorang pelaksana (administrator) kegitan mengajarnya. Dengan kata lain kinerja guru di sekolah dapat terlihat pada kegiatan merencankan, melaksanakan, dan menilai proses belajar mengajar yang intensitasnya dilandasi
1 Dwi Helly Purnomo dan Louis Novianto, Seni Mengarahkan
untuk Mendongkrak Kinerja, ( Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997).
hlm. 104.
etos kerja dan disiplin profesional guru. Mengacu pada tugas yang berkaitan dengan kinerja guru sebagaimana disebutkan di atas, dapat dikemukakan bahwa terdapat dua tugas guru yang dijadikan acuan untuk mengukur kinerja guru di sekolah. Kedua tugas tersebut adalah tugas yang berkaitan dengan kegiatan proses pembelajaran dan tugas yang berkaitan dengan penataan, serta perencanaan yang berkaitan dengan tugas pembelajaran.
Mengacu pada dua bidang tugas guru yang dikemukakan serta pandangan atas kinerja, maka Mitchell merinci cakupan wilayah kinerja atas lima faktor dominan, yaitu kualitas kerja, kecepatan/ketepatan, inisiatif, kemampuan, dan komunikasi.3
Selanjutnya terdapat tiga kriteria dasar yang berkaitan dengan kinerja guru, yaitu proses, karakteristik guru, dan hasil atau produk (perubahan sikap siswa).
Akibat adanya perubahan kurikulum yang terus menerus terjadi di Indonesia, kinerja guru di sekolah menjadi tidak maksimal. Guru yang sejatinya adalah nahkoda dari serangkaian kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi resah karena adanya perubahan kurikulum yang terjadi secara terus menerus maka berbagai aspek seperti mengelola proses belajar mengajar, mengelola kelas menggunakan media atau sumber belajar, penguasaan landasan pendidikan, merencanakan progam pengajaran dan lain sebagainya harus selalu dirubah agar sesuai dengan adanya kurikulum baru yang diterapkan. Padahal aspek-aspek serangkaian kegiatan pembelajaran yang diterapkan berdasarkan kurikulum yang ada sebelumnya belum maksimal. Bahkan dalam hal ini para siswa juga mengalami keresahan karena tidak semua siswa bisa dan nyaman terhadap metode-metode baru yang dibuat oleh para guru sesuai kurikulum yang diterapkan.
Sedikit menengok kinerja dalam pandangan Islam, seperti yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-Ahqaaf ayat 1, yakni.
3 B. Uno Hamzah dan Lina Lamatenggo, Teori Kinerja dan
“Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka, sedang mereka tiada dirugikan.”
Ayat di atas memiliki makna bahwa Allah pasti akan membalas setiap amal perbuatan manusia berdasarkan apa yang telah dikerjakan. Artinya jika seorang melaksankan pekerjaan dengan baik dan menunjukan kinerja yang baik bagi organisasi, maka orang tersebut akan mendapat hasil yang baik pula dari kerjaanya dan akan memberikan keuntungan bagi organisasinya. Perihal ini dapat dijadikan kritik baik pihak maupun pemerintah untuk membuat sesuatu yang baru dengan perencanaan yang matang agar penerapan dari sesuatu yang baru tersebut mencapai sebuah kesesuaian. Begitupun dengan kalangan guru agar dapat melaksankan tugas dan kewajibanya dengan semaksimal mungkin. Dari bahasan mengenai dampak Inkonsistensi kurikulum terhadap kinerja guru di Indonesia dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan kurikulum yang terjadi secara terus menerus mengakibatkan kinerja guru yang ada di Indonesia menjadi tidak maksimal.
Daftar Pustaka
B. Uno Hamzah, Teori Kinerja dan Pengukurannya, Jakarta: Bumi Aksara, 2012.
Dwi Helly Purnomo dan Louis Novianto, Seni Mengarahkan untuk Mendongkrak Kinerja, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997.
Samsudin, lahir tahun 1996 di Desa Tretep, Temanggung, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan di SDN 1 Tretep, MTS dan MA di As-Salaam Temanggung. Kemudian melanjutkan di Universtas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selama pelajar dan mahasiswa sangat aktif berorganisasi, mulai menjadi pengurus hingga aktif di Studi Club Research of Manajemen Dakwah, Himpunan Mahasiswa Progam Studi Manajemen Dakwah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Sekretaris Bidang Keilmuan Pimpinan Komisariat Dakwah periode 2014-2015. Kemudian menjadi Ketua Bidang Tabligh & Keilmuan Pimpinan Komisariat Dakwah periode 2016-sekarang, serta menjadi Korp Instruktur PC IMM Kabupaten Sleman periode 2016-sekarang.
Amirullah Akbar
Pendidikan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, karena sangat berpengaruh pada kemajuan suatu bangsa. Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu kegiatan pembelajaran di dalamnya. Sekolah merupakan hal yang utama untuk peserta didik menerima pendidikan secara formal. Pada proses pembelajaran di sekolah, guru menempati posisi utama dan memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Profesi guru memiliki peranan, fungsi, dan kedudukan yang penting guna tercapainya tujuan pendidikan untuk menciptakan generasi yang cerdas dan kompetitif. Sehingga dengan peran tersebut guru dapat membuat mutu pendidikan menjadi lebih baik lagi.
Upaya peningkatan mutu pendidikan ditentukan oleh sumber daya manusia yang terlibat dalam proses pendidikan. Kualitas guru dapat diukur dengan kinerjanya. Menilai kinerja erat kaitannya dengan menilai proses pembelajaran, maka seorang guru harus menjalankan profesinya secara profesional.