• Tidak ada hasil yang ditemukan

35 didalam hukum p id ana, a&an teta p i hukumannja pada-

Dalam dokumen C A P I T A SELECTA PERBANDINGAN HUKUM (Halaman 41-49)

satu fihalc be-rsifat sebagai pengganti kerugian,se- dang t j a r a p e l a l c s a n a a n n japun tcrg.antung d a r i pada- ada—t i dakn j a pengaduan d ari fih a k jjang d iru g ik a n — it u kopada K epala Suku atau Rad3an3

O leh sebab it u , dika.talcan, bahwa hulcum jang—

• pertama—tama dikenal orang adalah. mil-rum p erdata, bu lean hukum p u b lik ; oleh karena pada wakiru itu pengu as an j a h a n ia bertindak atas dasax’ adanja laporan — atau pongaduan; d ja d i t id a k s e t ja r a alctif seperti--selcarang.

Sistim jang pass i f in i kemudian berkembang - m endjadi sistim ak± if, setelah diad ak an /diang kat — seorang pogawai jang' chusus difceri tugas untuk me—

-molihara lcsamananv jang d i Indonesia dinamakari ’’Ke petcngan” atau D ja ksa, dan did u n ia Barat discbut — P o l i s i dan Penuntut Umur.u

T eta p i d i Inggris sistim p a s s if i n i tetap ma 's ih d ip ort ahankan disamping sistim a k t i f , oleh lea—

rsn a t e r n ja t a , bahvja perseoranganpun sampai soka — ra,ng mas ill dapat rnenggugai orang la in dir,Taka hakim pid ana, ■ sclcalipun hal in i sangat djarang t e r d ja d i.

Ketilea orang banjak belum dapat membatja dan m enulis, maka segala sesuatu jang pcntxng haruslah diadakan dongan upatjara2 jang chusuk, sehingga da pat rnengesa^ikan para salesi'2—nja» Hal in i penting — untuk mendjaga, bahwa orang2 ,1 ang **:enjaksikan dan—

mengalami u p atjara jang bers.anglcuta.il itu , x^rus

i-• ngat pada p eristiv a i t u » K ita ingat m isaln ja pada—

upat jara2 perkawinan, jang menurut hulcurn Adat diha d i r i orang banjak? pada peristivra kolahiran, jang—

d ik etahui dongan adan j a upatjara penananian sri<^ a—

nak tersebut? pada berbagai i n i t i a t i c , djj-ka anak—

tersebut mendjadi a k il—b a lig , daj.i scba ga inja.

Maka oleh sebab itu hukuinpun pada asal r:iu la-11 ja merupakan hulcum jang fc-rmi i « 13alikan se^ei.iikian ru p a t sehingga d jik a at jar an,] a tolan d i 1aks an akan—

dengan tepat, hal itulah jang niorupakan

leap bagi adanja hale atau kei.'cid^iban pada orang — jang tclah uicndjalankan upatjara jang bcrbajif-.lcutan*)

* ) . Wiser^Jurisprudonce'’ , 1 95 9 , h a l. 1 4 1 .

Maka dikatakan orang, -bahwa hukun materiil itu timbulnja, oleh karena adanja hukun atjara ( jaitu - tjara bagaimana moridspat pcng&anti kerugian untuk — kerugian jang diderita).

Sehingga apabila' telah ada tjara2 untuk r.crr.in- ta ganti-kerugi an terhadap kerugian jang tolah. dide rita itu, barulah setjara umum diakui, bahvra orang-.

memiliki suatu (atau sorarigkaian) 'hak jang tertcutu, Dengan lain perkataan; adanja Haftung menentnkan a- pakah ada Recht atau tidak.

Sehingga hukum. kuno tidak mengenal Recht ohne ~ tung. Di Inggeris karci'.anja hukum perdjandjian tirr.~

bulnja, orang tolah. dapat rr.enuntut ganti keru gian, apabila ia melanggar djandjio Dikatakan orang bahwa "The law of contract” tumbuh dari gugatan, as­

sumpsit (suatu tjara rnonggugat sos-jorang) **)♦

Sstelah riongalani porkembangan dari r.asa keifta sa, maka wowenang Kcpala Sulru untuk' mengadili (dja- di mcrnncntuk hukum ini) dioperkan kepada negara '*)'.

PCata "state" Lorasal dari kata*Latin "status", iang sernula berarti ,!pangkat” sesecrango

Totapi dalam abad ke XVI. kata ’’status’1 itu su dali berarti {'pangi:at kebe’saran” seseorang, dan pada abaci ke XVIII '‘status” itu mendja,di ’’kumpulan orang2 jang .'icmpunjai pangkat kctsosaran” atau dengan lain—

porkataans • ’’status” berarti ^pembosar".

Ololi karena biasanja soorang pembesar djuga — 'mempunjai kckuasaan jang besar, maka acLirnja "sta-

"fcus” disamakan dengan 'kckuasaan itu, sehingga non - djadi berarti ’’sovereignty” , ks-daulatan atau kelcua- saan jang diakui. (ingat, bahwa ,;sovt.reigii”-pmi di-

"artikan sebagai "radja” , sehingga kckuasaan seseo - rang diidentikkan uongan orangnja sendiri). Maka -

"state” itu mendjadi synoniem (sama) dengan "rs.dja- jang Lordaulat ponuh” .

-*)„ So Barker: ’’Principles of Social & Political Theory” , 19^3, hal. 39 dsl,

*-*) oCheshire & Tifcot : ”Th.c Law of Contract” .

Maka tid a k la h mengherankan, a p a b ila r a d ja — Lou is ko-XIV dengan penuh kejak inan mengatakan bail wa "L * E t a t c *c s t moi" (iUcu in il a h S ta tu s , orang —

ja n g berdaulat penuh).

demoJcrasi

Dengan la h ir n ja d i Perant j i s , maka berubah — p u la la h a r t i ’’sta tu s” (a tau negara) it u , d a r i "p c — megang kedaulatan. adalah r a d ja " ke "pemegang kodau la ta n adalah r a k ja t " ( L ’ Etat e 'e s t n o u s ). Sehingga k i n i "t h e s ta te " itu b o r a r ti: scluruh masjarakat ,

seluruh o rg an isasi hukum dan p o l it i k , karena nega—

r a adalah "pemegang sta tu s" atau” pcmbcsar" jang - b erd au lat jjenuh itu .

Dalam a r t in ja , jang baru, maka negara (the — s t a t e ) , sebagai pemegang kedaulatan itu dibebankan dengan tugas pemerintah (to g overn).

Sehingga sedjarah d ari pada is t i l a h "s t a t u s "

i n i iv.cmperlihatkan kepada k it a , bahwa t id a k sadja—

suatu i s t i l a h itu dapat berubali—ubah a r t in ja d ari—

masa kemasa, akan tetapi d juga, bahwa tugas Negara ja n g scmula adalah pcrtama-tama memelihara perda — m aian. Dan in i b e r a r t i, bahwa tugasn ja jang perta- rna adalah mongadi l i .

’Tugas dan "hale untuk memorintah, barulah tim—

bul sotelaii adanja pengakuan, bahwa pemegang sta -- tus berdaulat penuh, sehingga " z i j n woord is w e t ".

Setelah kedaulatan penuh in i disorahkan ( d i ­ anggap d im ilik i) oleh Negara, maka tirnbullah sema—

tjam kaodah2 hulcum, jang k it a kenal sekarang seba- g a i hukum pub lik.

Sehingga ternjata, bahv.Ta d i Eropah, sebenar—

n j a x>cmbodaan antara Hulcun p ublik dan nukum porda—

t a itu scdjalan dengan porkembangaii s if a t negara — d a r i ikatan kesukuan, mclalui kcradjaan dan negara kekuasaan, kerogara jang demokratis dan negara2 na s io n a l, sebagai aicibat dari portentangan antara go longan jang uomcrintah dan rakjat jang dipor intab.n

Oleh sebab itu lah, SchoX^ h da'.a.OL ,fAl — gemoen Dceliija *•) ? bersama-skfrra "dehgaiv'Harnalcer ber pendapat, bahwa hukum perdata adalah al>*et3€‘err'(gel 'x') i'sser's Iloderlands B u rg erlijk Recht: s,Algcmeen~

D e e l ".

37

dend) recht (hulcum jang berlaku unmra), sedang hulcum publik adalah hukum jang chusus (hot bijzondere — recht).

Sebagaimana dapat dikonstatir sekarang, seka lipun ada boberapa sardjana hukum Inggeris, jang i—

ngin mengoper klasifikasi hulcum Sropah Kontinental—

kedalam hulcurn puoli^d^,^iulcum perdata itu, seperti misalnja Professor feollandj' namun sedjarah Hulcum — Inggeris telah menundjttkkan? bahwa tidak pcrnah sis tim itu mengadakan kiassif ikasi seperti in i. olch — karena, pembagian seluruh bahan jang diatur oleh hu­

kum itUj selalu d.ilakukaimja setjara indukti'f, so — suai dengan ob.jok jang diatur. ’

Ini dapat dilihat dengan mcmperhatikan klas—

s ifik a s i sistim hukum Inggeris itu kedalam m isalnja, ''Property Law1' dan bukan seperti di dalan; hulcun 3 e — landa dinamakan "Zakenrocht" \ demikian pula, orang — Inggeris berbitjara tentang "The law on Contract - ’ and -Torts17 j dan bukan mengenai "verbintenissenrecht” , sedang ,^L^.ndlaw,,• nja tidak dimasukkan kedalam b i - -dang Zakenrecht« ?i;an tetapi seperti didalam Hulcurn—

Adat kita, diatur sptjara tersendirio

Lagi pula, seperti tad.i dikatakan, didalam — .Hulcum Pidanapun inasili dialcui adanja kernungkinan sc- seorang menggugat orang jang dianggapnja telah me—

rugikan dirinja, jaitu menggugat setjara langsung, bukan seperti halnja didalam klachtdelictcn, mcla — lui penuntut umum.

Dan achirnja xoiak-.berulang kali k it a sobut- apa jang dikat^kar^ri_ej^iami\ bahwa didalam sistim- hukum modern ( Inggc^ie-Iaesiica), tetapi djuga Rro - pah Kontinental. , maka bcrhubung dengan Icons ops i rlogara Kesedjalrtcraan, makin lama male in ban jakiah — terdapat poraturan2 hulcum5 jang tidak dapat k it a go longkan, atau kedalarn hulcum perdata, atau kedalam - hulcom publik; karena telah mengandung unsur2 jang. - sudah bogitu bortjampur baur, sehingga tidak mung - kinlah o,ipastikaa apa jang merupakin kepc:iting an umum,; dan apa jang merupakan lcepentingan pcrseo- ran-ran.

■*). A.F> Schni+zor s S!Handbuch des international on Privatrcchts"»

Bahwa- ini adalah sesuai dengan dan raerupokan- akibat dari pandangan aliran filsaiali jan£ fun^si- onil dan prr.cj.iatis, kiranja telah dixT.aklumi oloh - k ita 'bcrsaiv.a .

DALAM HUKUM JANG BERLAKU DI BJDONffilA.

At as d'~isar pasal I I Aturan Peralihan UUD — 1945j jan£ r.'.on^akibatkan laiwa pluralismc hukum di Indonesia, masih diportahankan, maka selcarans ini - masih berlaku dua matjam sistim hulcam di Indonesia, jaitu sis tip. hukum Adat dan sistim hulcum Barat.

Mcn^'oyiai sistim hulcum Adat, para alili hukum- menjatakan '..ahv/a hukum Adat tidalc nien^onal penbagi an kedalam hulaua publik dari perdata.

Ini ternjata dari sistim janf; dipalcai oloh van Vol lenhoven dan rnuridnja, Tor Haar untuk mclukiskan - Hukum Adat •

Dari sistinatik jang dibuat oleh kedua ahli- hukum adat tersebut, teran^lah bahwa didalam hukum / Adat tidak diadakan pembagian antara hukum publik- dan hulcum perdata. Sotidak-tidoknja ”Latas2 antara kodua lapangan itu didalam hukum adat adalah borla

inan daripada.. .(dalamKhukufii Barat” * ) .

Selandjutnja professor(Supor.-o borpendapat bahwa f

antara sistim hulcum AdalFfccf sistim hukum Barat ,- terdapat beberapa perbedaan fundai.icntil, antara la

in disebutnja ’’hukum Barat n'on^c-nal perbedaan anta ra publiek rocht dan. privaat recht; sodans'kan hu - leum Adat tidalc monr;onal perbedaan donikian” .

iiomanc-; Lenar utjapan para sardjana tersebut- diata^, karena kalau kita raolihai: pada undanc2 Mo- djopahit **') misalnja, maka kita tidak menemukan - -. Soopomc : :,Bab2 tentang Hulcum Adat” , h a l -.2 2 -.-

* * ) . SIa^.lot Liuljana : "Perunclanc-midan/;an Hodjopa -

h i t , ^

*"**). John Dewoy "Reconstruction in Philosophy’*.

39

pembagian hukum publik dan hukum perdata, karena—

soal2 hukum perdata bertjampur-baur dongan soal2- hukuin publik#

Mengapa dalam hukum /.dat tidak dikenal pem­

bagian antara hukum publik dan hukum privaat ? Pertama' kita ketahui, bahwa sistim2 hukum dinega- ra—no.'-:ara Sropah Kontinental mcngenal pembagian — kedalam dua golongan -tersebut, karena pengaruh . - (resopsi) dari hukur. Itomawi terhadap hukum morclca9 Sehingga kctika negara2 Sropah Kontinental menga- dakan kodifikasi daripada hukumnja, mereka mengi- Icuti' sistimatik hulourrRomawi jang mengadaican pom- bagian antara hukum publik dan hukum perdata,Se -dangkan hujaim Adat, seperti halnja dengan hukum •-Inggeris tidalc' mcngenal pembagian tersebutskarena Hukum Adat tidak dipongaruhi oleh hukum Rornawi . -

B a g simsnakah halnja dengan hulaim Indonesia-

jang asalnja dari Barat, apakah disini diadalcan - penbedaan antara hukum publik dan hulcum perdata ?

Sesuai dengan induknja jaitu hukum Bolanda, jang mcngadakan pembedaan antara hukum publik dan hukum perdata, maka bagian daripada hukum kita - jang asalnja dari hukum Bolanda itu mongikuti pem banian tcrscout puj.a& 1

Sehingga tanjak sardjana hulcum Indonesia -x jang mempersoaikan hubungan antara hukum publik — dan hulcum privaat, • Sebagai tjontoh professor 3oe- diman c1-alam '"'Pon^antar Tata Hulaim

"di Indor.es ia'‘, rionjatakan bahwa: "ualam turnbuh — dan berkombangnja hukum itu teivlapat dua faktor •-

janglmciiiiijngai-u^j^

-kum masjarakat dangi'aktsr •politik hulaim nogaran'* ) Torgantung pada faktor manakaiy jang 1613111 - l-;erpongaruh dalam suatu djenic hulcum, maka hulcum-

d a p a t dibafji dalasi dua golongan: hukum perdata —

(privaatrccht) dan hulaim publik (pub'iickrocht) Hulcum perdata (privaatrccht) ialah golongan lvuhim dimana kecadaran hukum j&ng lebih borpengaruh, so- dang hukum putlik- (publielcrocht) ialah golongan ~

*) 1 9 cj 6 , hal. 17 - 18 .

1

hukum dimana dalam tubuh dan p c r kc ml) an gann j a fak — to r p o l i t i k hukum negara lebih bcrpengaruh.

Atas dasar in ila h maka b eliau membagi hulcum Xndo — n o s ia kea.alam dua golongan, ja itu :

Hukum pordata : Hukum publik;

1 . Hukum perdata B arat. 1 . Hukum tata negara . a . Hukum s i p i l . (staatsrechtjVorfas -D* Hukum dagang. sungsrecht) «

-2 . Hukum (perdata) adat. 2 . Hukura tat a usaha nega ra, (ildriiinistratief — r ocht; Verwal1tungsr echt) 3 . Hukum perdata p c rsclisih 3 .Hukum pidana.

axu .

-a . H . -ant-ar golong-an 4 .Eukum a tja ra pxaana.

b . H . antar agarna. 5 . Hukum a tjara perdata.

c . Ho antar daerah - , .

d . H . antar bagian. 6 * Hukum nCLiar ' c . H . perdata intcrnasi—

o n al.

f . Ho antar waktu.

(E ,_ Utrechti dalam ” Pengant'ar dal an Hukum Indone

s ia ” ^"-jang -men j atalcan: "Perbedaan antara hukum pu­

b l i k -dan hulcum privaat tidak lainlah daripada hu — kum publilc itu telah apriori mcmalcsa sedangkan hu—

kum p r ivat tidalc a priori memaksa. 'lretapi apabila—

para f ih a k tidak mampu menggunakazi kemerdekaan me—

roka supaja raenjelesaikan seal meroka :jcrdasarkan—

suatu poraturaji scncliri, maka hukun privatpun me — males a,", * )

Se la n d ju tn ja dikatakan: "bahwasanja pembuat undang2, kalau kriterium kami in i dipakai, tidalc atau ku - rang konsekwen dalam raombagi bcrancka waraa matjam pcraturan2 huku;a itu dalam kitab2 undang2 hukum ' **

jang dibuat sedjak tahun 1848, itulah ternjata cla—

r i hal dalam■ IC.U.H.Pordatapun termuat peraturan2 - hukum p ub lik, jang scharusnja- tidak. boleh dimuat . Beberapa tjontoh tcntang hulcam publik dalam IC.U.He Perdata: p asal2 27 (perkawinan berdasarkan mono ga­

rni), 1 4 7 * 3 3 3 » l603:c,“

41

-■*). 1 9 ^ 1 , hal. 49 - 50

Pembagian hukum dalam hulcum jang kami adakan, boleh dikaiakan sodjalan (i n ovcreenstemming) do. — ngan pembagian hukum dalam hukum r.emaksa dan hukum mongatur. Torutama bosarnja kepcntingan "rilling — class"-jang monguasai alat2 negara jang membuo/t — dan raempcrtahankan hukum-monentukan apakah sosuatu j)eraturan termasuk hukum publik atau hukum privatl*

Karena tradisi (ileijcrs, Lemaire) dan prak — tck (Bellefroid, Krananburg) rnengadakan perbedaan—

jan-tare. hukun: publik dengan hukum perdata itu,maka—

Utrocht niongadakannja djuga sebagai berilcut :

^1';—Hukun publik terdiri ax an: hulcum publik dalam — arti kata sempit ( istilah. kogemann) (hukorri noga

■ r a ); hukuin at jar a adr. in i s t r as i , pidana dazi p r i—

vat; hulcun; perburuhan (modern); hukui;i x^adjalc — dan hulcum (publik) internasional.

•2 . Hukun privat terdiri atas: hulcum perdata dan hu kum dagang.

3. Hukum porselioihan.

4 . liukura e lco n o ra is.

5 . Hukun: pidana sebagai hv.kum sanksi (s a n c t ic r e c h t ).

6 . Hukum transitur (hukum antar uaktu).

Djadi kalau kita lihat- maka nampaklah bahva- didalam sistim hulcum jang kini berlaku d i Indone - sia, dieatu fihak tidak diadakan pembagian antara- hukum -publik dan hulaim perdata dalan sistim hulaim- ildat, tetapi ilmu hukum raengadakan pembagian itu — sesuai dengan ilmu liukum berdasarkan sistim hiikmn—

Barat. Disinilah xampak inkonsokuensi dari pada il inu hulcum kita. - • --- ’

Karena kita bcrtjita—t jit a membentuk suatu — htJcurr. nasional, rnaka nondjadi pertanjaan apakah lei ta akan mengikuti pembagian antara hukum p ublik — dan hulcurn perdata itu, ataukah tidak* .

Balam hal ini kita temui pendapat dari profes s °r Kusumad i Pud j o 3 ov/o.io dalam "Pedoman P'eladjaran Tata Hulcum Indonosia',i, dimana beliau mengatakan —

•’Fembagi duaan dapat kita tinggalkan,, s istim atik — jang lebih terpcrintji nampaknja lebih dapat menem patkan segala sesuatu pada tempat jang scuadjarnja**.

Pendapat ini kiranja lobih sosuai dengan anggapan—

43

Dalam dokumen C A P I T A SELECTA PERBANDINGAN HUKUM (Halaman 41-49)