• Tidak ada hasil yang ditemukan

87 perkara serta pemberian hukuman patut dibiarkan ber—

Dalam dokumen C A P I T A SELECTA PERBANDINGAN HUKUM (Halaman 97-107)

laku, djika ia bertentangan dengan dasar utama dari- keadilan dan kepatutan.”

Seperti halnja V .O .C , maka Dasndolspun menganggap bahwa hukum asli di Djawa terdiri dari hukum Islam , ternjata dengan dipergunakannja seorang penghulu jang dianggap sebagai ahli dan djuru penacihat dalam hal lipergunakan hukum adat dipengadilan.

Djuga Daondels menganggap’’hukum adat "itu lobih- rondali deradjatnja daripada hukum Eropah# la berang—

gapan hukum adat tidak tjukup baik untuk orang Eropa.

Hal ini dapat terbuktikan dari peraturan bahwa djika orang\ Eropa malakukan kedjahatan bersama sama dengan orang Djawa asli, maka ^aad van Justitie jang borhak untuk mcngadilinja menurut hukum Eropah.

J I I . has a pomerintahan Raffl e ( In^geris j A

8

ll--l

8

l

6

,

Raffles bcrpendapat bahwa bagi bangsa Indonesia berlaku hulcum Adat, tapi berlakiinja itu • °

®1

“ bertentangan dengan "the universal and actoowledged- principles of natural justice", atau dengan the ac­

knowledged principles of substantial 3 * *

Salah satu sifat politifc Raffles lalah bahwa xa

“ d ilip u ti fikiran pori keroawsiaan jang <- am (huma>-

\ i • iivi+nV menghilangkan atau se

. nisme) jan:_: roondorongnoa uutuk o ^ + T Udak- tiaaknja »«nguran|l ^ 3^ a l i .

donesia jg menurut ponclapaTOj** .

Monurut Supomo. dan j&okopuji° ^ . 2 <} '

"Haffleo merit jela sangat I T v^ b qMl ' 0 ' 0 ' to Jana «o»bi«rkaa - i ^

* G VfigaalS. tor)the v a r i < * L r native o f f i c e r s ...

the tbo Paramount law M s

Where the will of the * ^ . jcnded on his natural good- vassals could only have d o 9 intaMy treated. Kb- noflB of disposition for

0

^ ^ ^ ^

remedy was horded where - sccurity t no frcGdomL and they possesed in tihort, l >(• , „

I t e S o ? . " (Baffles "SutetM ca oc a llxnute", hai.

156 - 1 5 7 ).

27

). "Sedjapal) politilc hukiim Adat*’ d jilid

1

, hal.

74

.^

Keadaan inilah, jang sobagaimana kita ketahui , djuga diketjara oleh -faltatuli dalam tulisan2 n ja ,d i samping ia mentjela sikap pciiguasa2 Belanda pada wak tu itu.

Akan tetapi maksud jang berperikemanusiaan dari Raffles ini seringkali ditiadakan oleh dua sifatnja- jang lain, jaitu nasionalisme (terhadap segala apa — jang bersufat Inggeris) jang berkelebih-lebihan, dan ket jenderungannja pada tcori, sehingga peraturan? - jang diadakan olch Raffles, kebanjakan tak borsaudar pada keadaan didalam masjarakat jang njata2, oleh ka rena ia hanja mengambil balian2 jang dapat membuktikan teorinja sendiri,"dengan akibat bahwa peraturan2 xa- di hajijalah berarti scbagai "poraturson diatas kortas jang talc berlaku'^S),

Kengenai susunan poradiian Raffles membedakan —

"susunan pengadilan untuk bangsa Indonesia didalam -

"Stad .en cmmelanden" ^ ) (daerah2 kota dan sekitarnja), dan susunan pengadilan untuk bangsa Indonesia Mdide—

sa-desa" 0

Sedang mengenai hukum Adat Raffles mengira, bah­

wa (ses'uai dengan anggapan pemerintah Inggeris mengo nai hubungan agama Hindu dan hukum orang2 In d ia ), hu—

kum Adat adalah sama dengan hukum Islam. Pendapatnja 'in i dapat kita sirapulkan dari kata2-nja "The Koran®,

forms the general law of Java",

30

) walaupun oleh - nja didalam badan2 pengadilan ditenpatkan pula seo — rang djaksa, scbagai penaschat disamping seorang pong hulu (djuga sebagai penacehat),oleh karena djaksa i- tu "seorang dari daliulu kala melakukan hukum kebiasa an asli»»- 3 l ) dan penghulu itu seorang ahli agama Is lam.

Kengenai hubungan antara hukum Adat dan Itukunv- Eropah dapatlah aikatakan, bahwa ^affles menganggap-2^) Supomo Djokosutono, op.cit.hal, 1 5 '

2^/ Batjalah op.cit. hal. 77 - 86 *

) dikutip dari Supomo dan Djokosutomo, op .cit hal

86 ,

31 ) o p .c it . hal. 86 .

hukum Adat itu hanja baik untuk bangs a indcnesia a- kan tetapi talc patut, djika diperlakukan ataa orLn'--

Eropah.n °

XV• Masa p-jriorintahan Commissarisson Seneraal ( lSl

Hukum adat masih tetap diperlakukan bagi orang Indonesia, hal in i ternjata dari peraturan .jang ter—

dapat didalam S . I

825

no 42, jang borbun.ji "bahvia Raad van J u e t it ie , seperti djuga Fengadilan Negcri (Larid- r a a d ), dalam mengadili perkara jang dikomuk^Jcan pada n ja sebagai appel dari keputusan Landraad, barus rae- nurut hukum2 Adat dan hukum agama ataupun adat 3srta kebiaaaan • dari golongan anok negeri dari kodua be - lah pihak jan^ berpsrkara, atau .jang dituntut, asal sadja huku;:i in i tak berten+angan dengan kcadil an dan kcpantasan1'.

Masih djuga hukuin Adat itu dicnggap sama dgn hk.

fslam, karena djaksa dan penghulu ditundjuk sebagai- penasihat kepada hakim tenting hukum adat j?jig harus diperlakukan. Den tan tak n:emperbedaknn antara kev;a - d jiban djaksa, jang menurut kedud’.ikannja didalam ;na- ujarakat Indonesia sesunggahnjalah dapat dipandang - sebagai a h li tcntang bahagian hukum .adat jang asli , dan lccwad jiban penghulu sebagai aclili' liulcom Iciam,ta ranglah balivra ,ComiriiE:.?ai-iscen Ge

.1

^raalf tak nurn^v-.tahui benar

2

bentuk dan tjorak hukum adat.

Pada niasa in i d jika dalam p o r n c l isihan antara oranf>- Indonesia dan orang 3r-;rah, jang dituntut adalah. o- rang Indonesia, maka hakim jang akan .r.engaaili ada — lah ^ancLraad dsn hukurr jang akan diperlakukan adalah hulcum adat.

D i s in i nampaklah. kemunycinan bahv.’a at as oraag Erop?Ji sebagai penuntut, akan diperlakukan hukum Adat.

V t Masa

18

A

8

- 1928 .

Pada tahun

1848

berd^arkan _ azas konkoriansi- ( ooncordantis beginsel) di IndoncS.^a L‘

1

_ad

a- ai1

kod-i - f i k a s i hukuin Perdata, (Burgerlijk Wetback, totapi ko­

d if i k a s i in i tidak msliputi hukum ja»S berlaku bagi-89

rakjat Indonesia, jaitu hukum Adat, karena Mr.Schol- ten van Oud-Haarlem sebagai ketua panitya dari pem - bentukan kodifikasi itu borpendapat, bahwa bangsa In donesia terhindar dari berlakunja sondi persamaan hu kum jang termaktub dalam perintah Pemerintah Agung dinegeri Belanda.

Untuk melaksanakan kemungkinan berlakunja kodi­

fikasi ini bagi orang Indonesia dan Timur Asing,malca' VJ ichers mengadaksn' pen j el idikan

2

,

Tapi achirnja kodifikasi itu tidak berlaku bagi Bumi putra karena konsepsi Wichers utk mendjadikan seba­

gian hukum Eropah berlaku bagi orang Indonesia Asli- ditentang oleh Raad van Indie.

Selandjutnja bagi orang Indonesia tetap berlaku hukum a slin ja, jang rnula2 diatur dalam fatsal 11 AB, keniu—

dian azas

2

jang tertjantum dalam fatsal ini dimasuk—

-kan kedalam pasal 75 ajat 3 redaksi lama RR tahun - I

854

. Pada tahun 1919 fatsal 75 RR ini mendapat re - daksi baru.

Pada tahun 1925 dibuat IS, sehingga fatsal 75 RR re- daks i baru mendjadi fatsal 131 IS.

V I. Hasa 1928 - 1945 •

Peradilan adat didaerah jang setjara l.aagsung di perintah (oleh pemerintah Belanda), diberi beberapa-- aturan dasar dalam oraonasi tertanggal

18

Pebruari - 1932 jang diundangkan dalan S. 1932 no

80

, dan dalam peraturan

2

penjelenggara jang dibuat oleh residen se tempat.

Peradilan cwapradja diberi beberapa aturan2 dasar dalam Zclfbestuurrogeler tahun 1938, jang diundangkan dalam S#1938 no 529*

Hakim desa diberi wewenang untuk mengadili dalam S1935 no 102.

Pada tanggal 1 Djanuari 1938 , Raad van Juatitie dikota Betacwi didirikan 3uatu Adatkamer jang raenga —■

<iili dalam tingkat bandingan perkara2 hukum perdatar*

Adat jang telah diputuskan oleh Landraad2 dipula»

Djawa, di Palembang, Djambi, Banka dan Belitung Kalimantan dan Bali dengan S

«1937

no 631#

Y II. Maga l<j4.lS-3ekarang.

Pada maea kemerdekaan dasar berlakunja hukuin Ar- dat maeih terdapat dalam pasal 131 IS, karena dalan

91 1102*45 tidak ada ketentuan mengenal hukum Mat, dan

oleh sebab pasal 11 U.U.D. *

45

, Aturan peralihan ber bunji "s e g a la badan Negara dan peraturan jang ada ma sib. langsung berlaku selama belum diadakan jang baru menurut Undang2 Dasar in i.”

Pada tahun i

960

telah dibuat Undang2 Pokok Agra r ia jang merupakan hukum Agraria jang berlaku bagi - seluruh warganegara Indonesia, sehingga dibidang hu­

kum Tanah in i boleh dikatakan suaeli terdapat unifika s i hukum dengan dihapuskannja perbedaan antara "ta - nah Eropahudan "tanah Adat”

Sekalipun Undang2 Pokok Agraria masih raengandung kekurangan2, bahkan djuga masih mengandung bahaja2 - jang tersembunj i 32) , akan tetapi Undang2 tersebut te lah mengandung satu petundjuk jang pcnting bagi pero- bentukan seluruh hukum Hasional kita, jaitu bahwa - didalam membentuk hukuin Nasional kita jang baru itu, maka Hukum Adatlah jang mendjadi dasamja, sebagaima na t e m j a t a dalam Memcri Pendjelasan Undang2 tersebut ad. I l l ajat 1 , bahwa:"hukum agraria jang baru terse­

but akan aidasaa'kan pula pada ketcntuan2 hukum adat- itu, sebagai hulcum jan,? asli. ianr disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentinfian mas.iarakat dalam Ne - gara .jang modern dan dalam hubnn/-:ann.ia dengan duniar*

internasiona l , serta diseauaikan dengan sosialisr.'.o - Indonesia” bawah oleh kami S.H.J*

Tampak dalam kalimat ini bahwa hukum Nasional- jang alcan dibentuk itu tidak harus merupakan hukum - Adat sebagaimana adanja sekarang (atau lebih tepat : sebagaimana diketahui isi dan bentuknja pada waktu - sebeium i>etjahnja Perang Dunia kedua (djadi hampir -

30

tahun jang la lu S ),o le h lcarena sesudah itu belum - pernah diadakan penjelidikan

2

jang chusus mengenai - keadaan hukum Adat kita ini, sebagaimana pernah dila kukan oleh P ro f, Hazairin, Supomo, Djojodidiguno dan Tirtaw in ata, dan lain2 Sardjana2 jang mengungkapkan- h a s iln ja didalam Adat rocht bmidels).

3 2 ) Bat jalali Sunar.jati Hartono: "Dari Hukum Antar go~

longan ko Hiilmm’jVataP' Adat.1’

Akan tetapi hukum Nasional kita itu harus merupakan hukum Adat ,jan~ clisorapur nakan dan disesua-ikan den,r;a^.

ko p o n t in ,?an mas.jarakat dalam Novara ,jan^ no deni d_afl dalam hubungaanja dengan dunia inter- lasicnalsgrta disesiiaikg^ijien^<; sosialisriio'^Indonosfa,-.

Hal mans. berarti, bahwa disampinp unsur2 hukum Adat itu nasih diadakan Rj?xat2 Inin, jaitu r 2 3 )

1) balivia hukiun barn itu harus sssua-i dongan c'-kebutuhan masjarakat ■ dalam lie gar a jang mo­

dern;

2

) bahwa kepentingan masjarakat dalam Negara-- jang modern itu berarti pula, bahwa kepen-' tingan bangsa Indqnesia itu talc dapat di - tindjau terlepas daripada kobutuhan

2

nja bagai akibat dan untuk memungkinkan perga>"

.. ulannja dengan lain

.2

bangsa didunia--..

3' bahwa pen j enpurnaan hukum Adat itu harus sesuai atau disesuaikan dengmi faham bang-*

sa Indonesia tentang Keadilan Sosial (so si alisme Indonesia) o' 3 4 )P

Maka kiranja katiga sjarat ini tidak mengha - lang-halangi digunakannja kaodah.2 hukum jang asal nja dari sistim hukuiA lain, (bukan-kaedah hukum A ~ la t )s apab.ila ternjata bahwa kaedah hukum asing itu didalajn hidup kernas jarokatan sohari-hari -sudah t i dak dirasakan sobaftai kaedah hukum aslnf? lag.i« daji diiicuti set.jar a eadar ataupun tak nadar oleh raasja- rakat; hal ms.na membuktikan teloh tordjadinja resep si daripada kaedah hukum asing itu kedalan: liukum A—

dat kita „

Pada lain fihak ketiga

3

.jarat dlatas itu k ir a — nja djuga tidak menghalang-halangi. diadakannja per a turan atau kaedah hukum

7

.jang mirip dengan kaedah - hukum’ dari sistim hukum jang lain* oleh pembuat nun dangC, atcuipuij badan

2

oksekutif, apabila kaedah itu

>3 ' Bandingkan - Suflar ja ti ^artono ,!D;iri Hukum Antar go Ionian kc flukum Antar--AdatBab Ic

34-) Batjalah bab ~engeno,i.(',Hakf hukum dai\ keadilan"' dalam buku i n i tLebih mendalam hal ini d.iuraikan dalam karangan kami; "Apakah the Rule of Law”

itu ?

dipcrlukan untuk memenuhi salah satu kcbutuhan masja rakat, baik dalam pergaulan hulcumnja setjara intcrn- nasional, maupun dalam hubungan dengan pergaulan in­

ternes ional bangsa kita, asal sadja kaedah tcrsebut- itu sesuai (artinja, merupakan satu kcsatuan dalam - keseluruhan sistim hukum kita) dongan faham bangsa - kita tentang Keadilan Sosial, sebagaimana tcrsurat - dan tersirat didalam Pantja^ila dan Undang2 Dasar -1945.

Dalam hubungan ini siapakah jang scbaiknja meni- lai apakah suatu kaedah hvlcum itu telah diresepsi

0

-

loh hukum kit?. ? Atau apakah suatu kaedah diperlukan yntuk memenuhi kcbutuhan masjaralcat bagi pergaulan - intern nas ional atau pergaulan internasionalnja? L - tau apakah suatu kaedah hukum itu secuai dengan ^an- tja-oila dan Ur.dang2 Dasar ?

Dalpjn karangan kami mengenai ”Apakah the Rula of Lavr itu?” setjara lebih torpcrintji tolah kami urai- kan, mcngapa menurut pcndapat lca:ui, didalan ouatu He gara Hukum hakimlah (dimulai dengan liakim Pengadilan Negeri) jang

1

Tarus~merupakan satu

2

--nja instansi jang berwenang memberi putusan mengenai hal ini, dan me -

ngapa putusannja itu (harus) merupakan putusan jang- mengikat; djuga bagi lembaga eksckutif, sampai pada- s.aat tcrd jadinja perubahan undang

2

oleh pembuat un - dang2 send iri (jan g menurut U .U.D. kita terdiri dari Pemerintah bersatr.a-sama dengan DoP-R.), atau olch ju risprudcn si

35

) Dan mengenai hal ini kiranja tjukup - kami rncnundjuk pada karangan torseLut.

D ic in i.h a n ja ingin kami kutip kata2 I!arcclla da lam d issortasin ja iang tcrkcnal **Algemene Bcpalingon van wotgeving voor Ncdcrlandsch •- Indio5* jang dal ain­

't ahun

1913

(d ja d i

50

tahun jang lalu. t) sv.dah nenga- takens • • die hot adat privaatrccht -______ __ -______

) Tontang parbedaan pembentukan hukum olch ^porun - dang-undangan' dan jurisprudensi batjalah Sunnrjr,.

t i Har tono: ’’Cost-law1’ atau -‘Sia'lutc Lav:'* untuk lu donas ia ? " dalam' Madjailah Hukum dan I*asj~ rakat Tha

±964

l J. o 3 5 •-

6

. ) h a l . 73 .

93

heeft toe te possen, hier vrijer tcgen over staat t blijlct al dadelijk uit zijn bevoegdheid om dit recht

te toots on nan Algoncon erkcnde beginsolen van bil- lijkheid en recht vaardigheid". K iranja/'te • toet£en aan Algemeen orkende boginselen van billijkheid en- recht-vaardiglieid" itu, kini tidak lain berarti bah wa hakim berwewenang monentukan apakah kaedah

2

-

hulcum itu sesuai dengan faham bangs a Indonesia ten- tang Koadilan Sosial, jang djuga, artinja, sesuai de­

ngan apa jang tersurat dan tersirat didalam Pantja- Sila dan Undang2 Dasar 1945*

Dan rr.engenai perubahan dalam hulaim Adat Parcel la mongatakan 37): "cok het adat recht (zal) hicr- en daar vcrondercn en tekortSchieteno Dit^wo.rdt_

-i»ant,, n i e t yAioon dat men b i j e l k gswoonte r o c h t doze d r io b c s t a n d do o len kan o n d e r s c h c id e n : h e t afstcrvondo'j het hedondaagsche e n ' hot w ordonde - niouv;o . . . maar cok is^liot_ z cc r wc 1 m o g e l i j k . d a t

-. • c£etv o I^ r E o e ‘S^s^§3a--.snol wijzigen;^dat E S F S a S F f ^ l E F c ^

garis SawSE^ISS^aJuxTnJTHT)•

Dan selandjuunja ,?Hij { jaitu hakim) hoeft eloclrfcs uit te maken, of de voor rechts-herstel aangovoerde foi tolljke gronden juist en bewezen zijn , en, zoo ja,

V° C£e hersto1

inlandsche-,Uu uo-grippcn het ues g tussen de betrokken perso non Kan worden vor kregen; torwijl or geen voorsoh-ift

, (oolc m et het laatste lid van'"::iTi~’f

‘~**1

tx

1 1

v rr *~*V

Hal mana borarti* bafivjjilpifvm •«”'— -~i-“

tuk hukum sesuai dengan kebutehan

la k“ i » i

Karcolla' kobebasan hakim Adat monurut Landraad, sekarang hakim aahulu hakim "

"on-miBbaar'' terutama dibidan- WGgcri^ ad?'lah"

dan hulcum perdata intorniq-in % -ntar-golongaJi Bahwa pembentukan h u l o T n A

samping pembentukan hukum n i u para hakira itu dl --- nuJcum °leh pembuat undang

2

tidak

37 )

hal. 74

.

sadja sesuai dengan az as

2

hukuin /idat (sebagaimana tc lah dapat dilihat d iatas), tetapi djuga sesuai dengan tjara

2

pembentukan hukum jang paling m o d e r nfdapat ki

*a lihat pada halaman

95

dari dissertasi Marcella

1

*

sebagai bcrikut: "Naast do vrijheid, welke de rechtcr zieh tegen-over de lecmten en gebreken van- d° wet of de adat hceft toe tc kanncn, wordt hem en bcven in tal van gevallen ruimte tot exgon aPP£°*

ciatie golaten; . . . een mcthodc van wetgevingwo

■ *•0

moderne regelingen schijnt ingang to vxn c

^ heb hot oog n . l . op die gevallen, waar in ^

^at met opzet den rechter naar een bcgrip

verwijst, zonder daar van een nauwskeurxgor deu

t e S °v e n ” - °oDcnbarc ordo i

b n ? .

13

ti-lah

2

seperti, goedc . J ; de redenen, i:L3k h eid ,e e n good huis vadcr, drmu>- latig -hp° I G Ve^ waarlozing, onvoorzichtighexc ^e

sp0

1'iShoideI’r e liJk wanecdraSf S^ Cha ^ GdanXs ^ ;1gain:ia * rnisbruik van bevoegdhcj.a s _ ^ i-i-fc'i h?.ruf!'' Gllinega kalau sistim hulcua Naeiwc^ virLnja ki-+„ Palccn. sistim hukum jang modern, jj,ng

K0

Z Un.harus cljuga mau mcngakui < * « * t o * J

ini-s . ,i

Ba <Hal ini kami kemukalcan disini, o

®1

^ g

2

coatja-i*i - J 1 1 t?JnPak adanja dua a li

^-*1

^ ^ V a n hukum ^asio- nal dalam proses pornben*

Jang pertama hendak t

0

ditcraaJ^-4irt hulcum •’ida1; k it a ( j “ is -jang dltetahfi ' bC M a,“ - sebenarnja merupakan 3" c'^ ' Kcdua

sc*cl1

*h Sam» a i potjahnja Por®

6

'^ h o n S a ! : ticnPff 4 , 1 9 4 ° sedans aliran kod® J & *

1

4

fc.*K*

U u ^ ,

«■*.(•« SUggC

95

s e b a g a i S"

c,th-^ f S L 2 " > p at •p S S t o T T t a . * « » i M

b0rfSf b^ S r p m ,a ^ a r r a l i r 3 J i l e T & a s B ^ ,sXl 1 ji

-^ i k i r i ^ - c t i a . d e n g a n ^ c r r t c r d apat cix_

* W SOt^ara le e is t iS ’ . f i t u W ^ T p c m e r ^ -dal. Gluruh hukum Indonesia x ratursn2 p

w 5® u “ i ® s 2 (k o d if it o s iS ) atau VOT

tertulis sadja I tahua e^P lcCdj&J*

■’ n d a , ™ ^ nenjadari, tohwa hal2 ^ ia ,

«ia „? .tahun J-S6 8 ' ini tela5-vSan B®>u S i a ^ "

sch-i Taogitu merubah ;o ium P°r t h l» e s a b a n ja k la h W « ^ 2 3 ^ S° °

kedua itu dianggap sebagai kebenaran jang mutlak (bah wa rnisalnja hak milik itu merupakan hak jang semut - lak-mutlaknja; atau bahwa' orang kulit putih lebih - pandai dari pada orang kulit berwarna dan lain2) ki- J?-L tidak lagi dianggap sebagai kebenaran. atau bah -

•jzc., ian^ ’a^. scbagai Prasa^glca2 (prejudice) beiaka" • chingga apabila bangsa kita kinihcndaic dianggapsc

•vf

+1

banssa modcrnf maka kita tidak boleh meng i i perdjalanan sedjarah pertumbuhan hukum dincga- f c' n° Li1ar?' sudah rr.adju, jaitu perkembangan

dari-h w n

Warna9

melalui kodifikasi, kekesatuan-u >. m. /Jean tetapi kita harkekesatuan-us molampakekesatuan-ui ( overslaan | s ipj fase kodifikasi itu dengan membcntuk sistim hu

<-urn jang modern, jang scsuai dengan k c b u t u h a n 2 masja raKat Indonesia diachir abad -ke

-20

in i. Jaitu morn - tni* s^stiin hukum scdemikian rupa, dimana pembon - v can u^um itu tidak sadja boleh dilakukan oleh pern

„T.Un^an^’? sadja, akan tetapi disamping itu dju-

o ch para hakim Pengadilan Negeri dan achirn'ja - olohJ£ira tidak langsung jaitu melalui "kebiasaan” ) - b'-o- .GGmuc^ justitiabelen. Dengan- tj at at an, bahwa se- d'ar* Pad-a ko difikasi,kita mcngadakan kom 'j i j ^ ^ ^ 'P CnCurapulan) dari pada kaedah

2

hukum menurut

^lu^cur‘1 jang tertentu untuk mcnudju kcpada kc- pastian hulcum.

b^hlm allWa ha^ ifii tidak sadja modern, akan tetapi -4.^* <~'n BCBUai dengan azas2 hulcum Adat kita telah di—

•-Grangkan diatas38) .

rnas .. ^ Can tetapi kalau begitu banjak dipert jajakan -rrk^t1*^"1/ kcPa<^a h?.kim2nja7 <naka sudah tentu

masjajarw ?Un ( harus) monginginkan diponuhinja sjarat2 -e . °^tcntu dan tjukup b-erat bagi p-emangku2 djabat ..I, wadjib mendjamin dan memelihara keadilan di nciuara kita ini.

3S ^

■^andr^^n PU‘1'a’ — rechtspraak van de — on Bon--iv.n ? aar onGGSChi‘cven recht" dan, Begrippen kum ildT,tS° Gn’ ta^ monScnai pembontukan

hu-97

Dalam dokumen C A P I T A SELECTA PERBANDINGAN HUKUM (Halaman 97-107)