• Tidak ada hasil yang ditemukan

2016 2017 2018 2019 2020 dievakuasi terhadap kejadian

Dalam dokumen RPJMD KABUPATEN BLORA TAHUN DAFTAR ISI (Halaman 50-54)

bencana

19. Layanan Pemadaman,

Penyelamatan dan Evakuasi oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan

% 75 76,56 55,67 76,56 55,67

20. Layanan Pemadaman yang dilakukan oleh relawan

kebakaran (Balakar, Satlakar, dan atau komunitas masyarakat lainnya) yang dibentuk dan/atau dibawah pembinaan Dinas Pemadam Kebakaran dan

Penyelamatan/Perangkat Daerah

% 1 1 1 1 1

Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020

Untuk kegiatan penanggulanagan kebencanaan di kabupaten Blora terdapat 4 indikator yaitu Jumlah Desa yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana selama lima tahun (2016-2020) terdapat 56 Desa yang sudah dilatih simulasi kebencanaan; sedangkan untuk Kelurahan ada sebanyak 10 keurahan yang telah mendapatkan pelatihan simulasi penanggulanagan bencana dan ada 16 Kecamatan di Tahun 2020. Sedangkan untuk jumlah orang yang dilatih sejak tahun 2016 meningkat dari sebanyak 160 orang menjadi 445 orang di tahun 2020. Adapun perkembangan datanya dapat diihat sebagai berikut:

Tabel 2.21.

Perkembangan Kegiatan Pelatihan dan Simulasi Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Blora Tahun 2016-2020

No. Indikator Satu an 2016 2017 Capaian 2018 2019 2020 1. Jumlah Desa yang mendapat

pelatihan simulasi penanggulanan bencana

Desa 15 12 18 8 3

2. Jumlah Kelurahan yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana

Kelurah

an 7 0 3 0 0

3. Jumlah Kecamatan yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana

Keca

matan 4 3 7 7 16

4. Jumlah Orang yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana

Orang 160 160 320 440 445

6. Sosial

Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dalam konsep penyelenggaraan kesejahteraan sosial warga masyarakat tersebut dikenal dengan sebutan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dan masyarakat miskin yang menjadi kelompok sasaran pelayanan sosial.

Upaya untuk mengurangi jumlah PPKS di Kabupaten Blora dilakukan dengan berbagai cara. Meskipun demikian persentase PPKS yang mampu tertangani dengan baik memang masih relative sedikit. Dari tahun 2016 sampai tahun 2020 persentase PPKS yang tertangani baru mencapai 2%. Bentuk-bentuk penanganan PPKS antara lain adalah pemberian bantuan social untuk memenuhi kebutuhan dasar PPKS, pemeberdayaan social melalui kelompok usaha bersama (KUBE), pelayanan terhadap penyadanag disabilitas, dan juga pelayanab kepada kelompok-kelompok PPKS yang menjadi sasaran dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Blora dalam menangani PPKS juga melibatkan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kepdulian terhadap permasalahan sosial. Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang terlibat aktif dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial di tahun 2020 mencapai 80%. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2017-2018.

Selain penanganan PPKS dan pemberdayaan PSKS, kewenangan kabupaten dalam urusan sosial adalah penanganan sosial korban bencana, dan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan (TMP). Persentase korban bencana yang mendapatkan bantuan sosial di masa tanggap darurat dari tahun 2016-2020 semakin meningkat, dimana pada tahun 2020 capaiannya telah mampu 100%. Sedangkan untuk pemeliharaan TMP, kebutuhan sarana dan prasarana TMP yang memenuhi standar pada tahun 2020 juga baru mencapai 80%.

Lebih rinci capaian indikator urusan sosial tersaji dalam tabel berikut.

Tabel 2.22.

Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Sosial Kabupaten Blora Tahun 2016-2020

No. Indikator Satuan 2016 2017 2018 2019 2020 Capaian 1. Penanganan penyandang

masalah kesejahteraan sosial

% 0,55 0,67 0,7 2,08 2

2. Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar

% 100 67 70 1 50

3. Persentase (%) PMKS skala kab/kota yang menerima program pemberdayaan sosial melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) atau kelompok sosial ekonomi sejenis lainnya

% 100 23 90 7 7

4. Persentase (%) korban bencana skala

kabupaten/kota yang menerima bantuan sosial selama masa tanggal darurat

% 75 100 100 100 100

5. Persentase (%) penyandang cacat fisik dan mental, serta lanjut usia tidak potensial yang telah menerima jaminan sosial

% 50 10 42,58 7 7

6. Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi

% 26 25 21 22 22

7. Persentase (%) panti sosial skala kabupaten/kota yang menyediakan sarana

prasarana pelayanan kesejahteraan sosial

% 90 90,1 90,2 100 100

8. Jumlah Panti Sosial

- Panti Sosial Asuhan Buah 26 25 21 21 21

- Panti Sosial Bina Pasca

Lara Kronis Buah 1 1 1 1 1

- Panti Sosial Bina Karya Buah 1 0 0 0 0

9. Persentase (%) wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat

(WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial

No. Indikator Satuan Capaian 2016 2017 2018 2019 2020 10. Persentase 1. Penyandang disabilitas terlantar 2. Anak terlantar 3. Lanjut usia terlantar 4. Gelandangan dan

pengemis

yang terpenuhi kebutuhan dasarnya di luar panti

% 2 1 100 8 2 1 100 8,1 3 1 100 8,3 6 1 100 11 3 1 100 8

11. Persentase korban bencana alam dan sosial yang

terpenuhi kebutuhan dasarnya pada saat dan setelah tanggap darurat bencana daerah

kabupaten/kota

% 80,1 80,3 80,4 100 100

12. Persentase Sarpras Taman Makam Pahlawan yang tersedia dan terpelihara sesuai standar

% N.A N.A 100 100 80

Sumber: Sistem Informasi Pemerintah Daerah, 2020

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pemerintah Wajib Yang Tidak Berkaitan dengan Pelayanan Dasar

1. Tenaga kerja

Salah satu tujuan Pembangunan Nasional adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bagi seluruh rakyat Indonesia serta memberikan peluang usaha bagi masyarakat. Pembangunan dibidang ketenagakerjaan adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari Pembangunan Nasional, dimana sasaran utamanya adalah memperluas dan memberikan kesempatan kerja bagi masyarakat.

Selanjutnya salah satu aspek penduduk yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia adalah ketenagakerjaan, karena mencakup dimensi ekonomi dan sosial. Bagi individu-individu, dimensi ekonomi berkaitan dengan pemenuhan hidup sehari-hari, dimensi sosial berkaitan dengan pengakuan masyarakat terhadap kemampuan individu. Setiap upaya pembangunan selalu diarahkan pada perluasan lapangan kesempatan kerja/berusaha sehingga penduduk dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan. Kendala yang dihadapi dalam perluasan lapangan kerja saat ini yaitu penyerapan melalui kegiatan proyek pembangunan yang tidak sebanding dengan besarnya angkatan kerja yang ada. Masalah lain adalah jumlah

penduduk usia kerja yang sangat besar tetapi dengan basis pendidikan dan ketrampilan rendah.

Masalah pokok ketenagakerjaan adalah adanya kesenjangan antara angkatan kerja (pencari kerja) dengan kesempatan kerja yang tersedia, sehingga menyebabkan pengangguran. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kabupaten Blora sejak tahun 2016 sampai 2020 kondisinya fluktuatif dengan capaian meningkat di tahun 2020. Di tahun 2016 TPT sebesar 4%, kemudian menurun menjadi 2,85% di tahun 2017 lalu semakin meningkat dan di tahun 2020 menjadi 4,89%. Meningkatnya TPT, juga diikuti dengan menurunnya tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). Pada tahun 2016 TPAK sebesar 71% kemudian tahun 2020 turun menjadi 69,05%.

Dalam rangka meningkatkan kapasitas pencari kerja, pemerintah melaksanakan berbagai macam kegiatan pelatihan. Pelatihan ketrampilan tersebut ada yang berbasis pada kompetensi, pelatihan berbasis masyarakat dan pelatihan kewirausahaan. Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan tahun 2016 sebanyak 400 orang, dan terbanyak ada di tahun 2019 yakni 747 orang, sedangkan di tahun 2020 sebanyak 500 orang. Dari total tersebut sebagian besar mampu diserap oleh pasar kerja yang ada. Di tahun 2020, 80% peserta pelatihan mampu diterima di pasar kerja.

Dilihat dari sisi kesejahreaan pekerja, UMK Kabupaten Blora dari tahun ke tahun semakin meningkat. Proporsi UMK mencapai 95% dari kebutuhan hidup layak di Kabupaten Blora.

Tabel 2.23.

Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Ketenagakerjaan Kabupaten Blora Tahun 2016-2020

No. Indikator Satuan

Capaian

2016 2017 2018 2019 2020

Dalam dokumen RPJMD KABUPATEN BLORA TAHUN DAFTAR ISI (Halaman 50-54)