Program KB merupakan program Pemerintah yang bertujuan untuk mengendalikan jumlah penduduk. Target pengendalian penduduk dalam program KB adalah total fertility rate yakni jumlah kelahiran dalam satu keluarga sekitar 1,2 artinya bahwa dalam satu keluarga diharapkan memiliki anak 1 atau 2 anak. Pada akhir tahun 2020 TFR di Kabupaten Blora adalah 2,2 % dari target 2,28 % yang ditetapkan, sehingga hal ini tercapai karena dibawah target yang telah ditetapkan.
Cakupan kepesertaan KB di Kabupaten Blora pada Tahun 2020 sebesar 74,33% meningkat dari Tahun 2019 yang hanya sebesar 73,28 %, sedangkan untuk cakupan PUS yang ber KB tidak terpenuhi (Unmeetneed) di tahun 2020 ini belum tercapai karena diatas target dengan capaian sebesar 11,89% dari target sebesar 9,7%. Hal ini karena
terjadinya pandemi covid 19 yang menyebabkan masyarakat tidak aktif untuk melalukan program KB, khususnya peserta KB MKJP (Metodea kontrasepsi jangka panjang) yang menurun, hal ini disebabkan adanya biaya rapid test, biaya perlengkapan APD, serta masyarakat cenderung takut tindakan operasi masa pandemi covid 19.
Disamping pengendalian penduduk diharapkan pula program KB juga mengatasi permasalahan lain seperti kemiskinan dalam Program KKBPK (Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan pembangunan keluarga), Program Kampung KB merupakan program integrasi dalam pelaksanaan tersebut. Di Kabupaten Blora sampai Tahun 2020 telah terbentuk 185 kampung KB.
Secara rinci, capaian kinerja pembangunan urusan bidang pengendalian penduduk dan keluarga berencana sebagai berikut:
Tabel 2.29.
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Blora
Tahun 2016-2020
No. Indikator Satu an 2016 2017 2018 2019 2020 Capaian 1. Cakupan Pasangan Usia
Subur yang isterinya dibawah usia 20 tahun
% 1,2 1,2 6,9 1,56 1,56
2. Cakupan peserta KB aktif % 81,16 83,19 78,92 73,28 74,33
3. Total Fertiity Rate (TFR) % 2,25 2,3 2,24 2,21 2,20
4. Cakupan PUS yang ingin ber-KB tidak terpenuhi
(unmetneed)
% 7,9 7,01 9,8 9,79 11,89
5. Cakupan PUS peserta KB anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB
% 65,8 65 79,52 78 80,38
6. Angka pemakaian kontrasepsi/CPR bagi perempuan menikah usia 15-49 (semua cara dan cara modern)
% 78,83 96,96 78,92 73,28 74,33
7. Cakupan anggota Bina
Keluarga Balita (BKB) ber-KB % 68,1 67,35 78,47 79 82,24
8. Jumlah Kelompok
Masyarakat Peduli KB Kelom pok 6 6 6 6 6
9. Perhubungan
Terminal merupakan pangkalan kendaraan bermotor umum yang digunakan untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikan atau menurunkan orang dan atau barang serta perpindahan moda angkutan. (Permenhub No PM 132 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Terminal Penumpang Angkutan Jalan). Jumlah terminal di Kabupaten Blora tahun 2020 sebanyak 6 terminal, terdiri dari 1 terminal Tipe A (dikelola Kemenhub RI), 1 terminal tipe B (dikelola Provinsi Jawa Tengah), dan 4 terminal tipe C (dikelola Kabupaten). Terminal tipe C yaitu Terminal Ngawen, Terminal Kunduran, Terminal Wulung dan Terminal Todanan. Dari keempat terminal tipe C tersebut yang berkondisi cukup baik adalah Terminal Ngawen (60 % baik), sisanya dalam kondisi memprihatinkan (70 % rusak). Walaupun demikian hingga saat ini semua terminal masih beroperasi melayani angkutan umum. Untuk terminal Ngawen melayani angkutan sekelas terminal tipe A, karena terminal ini menjadi pangkalan bus antar kota jurusan Blora-Jakarta. Sedangkan 3 terminal yang lain melayani angkutan perdesaan. Persentase ketersediaan terminal angkutan penumpang dibandingkan jumlah kebutuhan tahun 2020 mencapai 68 %.
Dalam rangka penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan, Pemerintah Kabupaten Blora telah melengkapi jalan dengan fasilitas keselamatan lalu lintas berupa rambu-rambu lalu lintas. Ketersediaan rambu-rambu lalu lintas tahun 2020 sebesar 75%, kondisi ini meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Persentase sarana dan prasarana perhubungan dalam kondisi baik 85% pada tahun 2019, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain peningkatan penyediaan rambu lalu lintas, Pemerintah Kabupaten Blora juga melaksanakan uji kir. Pelaksanan uji kir dilakuka untuk memastikan bahwa kendaraan tersebut layak digunakan secara teknis di jalan raya, khususnya bagi kendaraan yang membawa angkutan penumpang dan barang. Persentase kendaraan yang lolos uji tahun 2019 sebesar 85%, menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 90%. Kepemilikan KIR angkutan umum tahun 2019 sebesar 4.200 unit.
Kabupaten Blora juga memiliki Bandar Udara yang dibangun di Kecamatan Cepu. Bandar Udara merupakan kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu yang digunakan sebagai tempat pesawat udara mendarat dan lepas landas, naik turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antarmoda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas Keselamatan dan Keamanan Penerbangan, serta fasilitas pokok dan fasilitas
penunjang lainnya. Pembangunan Bandara Ngloram di Kecamatan Cepu sudah selesai dilaksanakan. Bandara ini sebelumnya milik Kementerian ESDM dan sudah diserahkan kepada Kementerian Perhubungan untuk dikembangkan dari bandara khusus menjadi bandara umum. Kondisi lahan eksisting saat ini 21,743 hektar dan memerlukan tambahan lahan sebesar 76,819 hektar sehingga menjadi seluas 98,562 hektar.
Secara umum, Capaian kinerja urusan bidang perhubungan selengkapnya sebagai berikut ini:
Tabel 2.30.
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Perhubungan Kabupaten Blora Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan 2016 2017 Capaian 2018 2019 2020 1. Terminal
* Tipe A Unit 1 1 1 1 1
* Tipe B Unit 1 1 1 1 1
* Tipe C Unit 4 4 4 4 4
2. Jumlah terminal Tipe C yang beroperasi Unit 4 4 4 4 4 3. Tersedianya terminal angkutan penumpang pada setiap Kabupaten/Kota yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek
% 71,42 71,42 68 70 NA
4. Jumlah pemasangan rambu-rambu Unit 710 820 856 856 NA
5. Jumlah kasus Kecelakaan lintas Kasus 508 386 421 500 NA
6. Persentase Sarana dan Prasarana Perhubungan dalam Kondisi Baik % 85 87 75 85 NA 7. Tersedianya unit pengujian kendaraan bermotor bagi Kabupaten/Kota yang memiliki populasi kendaraan wajib uji Perhubungan Bermotor minimal Jumlah unit pengujian kendaraan bermotor 1 1 1 1 1 Jumlah Alat Pengujian Kendaraan Bermotor 11 11 11 11 11
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
4000 (empat ribu) kendaraan wajib uji.
8. Jumlah angkutan kota Unit 16 16 16 16 16
9.
Tersedianya
angkutan umum yang melayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan
Kabupaten/Kota
% 8 8 8 8 8
10. Jumlah orang melalui terminal per tahun
Orang 5.736.056 5.920.654 322.462 325.500 NA
11. Rasio ijin trayek % 29 29 55 55 NA
12.
Jumlah uji KIR angkutan umum (Persentase kendaraan yang lolos uji) % 90,84 91 90 85 NA 13. Kepemilikan KIR angkutan umum (Jumlah kendaraan yang mengajukan uji KIR)
Unit 4.072 4.134 4.017 4.200 NA
14. Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) Menit 20 20 20 20 NA 15. Biaya pengujian kelayakan angkutan umum JBB: 0 – 5000 39.000 39.000 39.000 N.A NA JBB: 5001-8000 44.000 44.000 44.000 N.A NA JBB: >8000 49.000 49.000 49.000 N.A NA 16. Persentase kendaraan umum yang memenuhi ambang batas emisi gas buang (Lulus uji emisi) % 100 100 100 100 NA 17. Tersedianya halte pada setiap Kabupaten/Kota
yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek
No. Indikator Satuan Capaian 2016 2017 2018 2019 2020 18. Tersedianya terminal angkutan penumpang pada setiap Kabupaten/Kota yang telah dilayani angkutan umum dalam trayek
% 70 70 70 70 NA
19. Ketersediaan rambu-rambu lalu lintas
% 85 87 61 75 NA
20.
Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka, dan guardrill)
Kabupaten/Kota
% 80 84,5 75 75 NA
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahanan Daerah, 2020