Capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) meningkat dari tahun ke tahun, meskipun relative rendah peningkatannya dan berada dibawah angka Jawa Tengah. IPG Kabupaten Blora menempati ranking 35 di Jawa Tengah. Rendahnya IPG dikontribusikan oleh rata-rata lama sekolah perempuan yang baru mencapai 6,06 tahun, dan rata-rata pengeluaran perkapita perempuan hanya sepertiga dibandingkan laki-laki yaitu Rp5.968,00 sedangkan laki-laki-laki-laki sudah mencapai Rp14.382,00.
Capaian Indeks Pemberdayaan Gender (IDG)
mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2018, namun menurun di tahun 2019. Capaian IDG tahun 2019 berada dibawah Jawa Tengah maupun Nasional. Kabupaten Blora berada di ranking 25 dari 35 kabupaten kota di Jawa Tengah. Rendahnya capaian
IDG dikontribusikan oleh semua indikator pembentuk yaitu persentase perempuan di legislative (13,33%), Perempuan sebagai tenaga Manager, Profesional, Administrasi, Teknisi (39,92 % terendah di Jawa Tengah) dan Sumbangan Perempuan dalam Pendapatan Kerja (34,76%).
Capaian IPD dan IDG yang cenderung rendah berada pada persoalan ketrampilan dan keberdayaan perempuan. Hal ini dapat disimak dari rata-rata lama sekolah, rata-rata pengeluaran, peresentase perempuan dilegislatif, persentase perempuan yang
menduduki jabatan strategis dan sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja yang rendah.
Menilik dari prasyarat pengarusutamaan gender (PUG), dapat ditelusuri persoalan yang mengelayut adalah berkaitan dengan kebijakan, kelembagaan, system data gender dan anak, dan partisipasi masyarakat dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Hal ini bisa disimak belum adanya kebijakan respinsif gender setingkat Perda, serta belum optimalnya kelompok kerja, maupun focal point di OPD.
Menilik dari urusan yang diampu, permasalahan yang masih adalah dirasakan adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak. Data kekerasan anak tahun 2016-2019, terinci sebagai berikut : data kekerasan seksual tahun 2016 terdapat 8 kasus, 2017 meningkat menjadi 9 kasus, 2018 naik kembali sebanyak 11 kasus dan tahun 2019 menurun 6 kasus. Kasus tersebut berada di Kecamatan Blora, Sambong, Cepu, Kedungtuban, Randublatung, Jati, Kunduran, Ngawen dan Japah. Kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) tahun 2016-2017 tidak ditemukan, tahun 2018 ditemukan 8 kasus dan tahun 2019
83,54 83,54 83,55 83,79 83,96 2015 2016 2017 2018 2019 IPG Kabupaten blora 2015‐2019 69,94 69,96 70,52 70,72 65,59 2015 2016 2017 2018 2019 IDG Kabupaten Blora 2015‐2019
menurun hanya 3 kasus. Kasus tersebut ditemukan di kecamatan Jiken, Cepu, Sambong, Kedungtuban, Kunduran, Todanan, Banjarejo, Ngawen dan Japah. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi pada tahun 2016 sebanyak 5 kasus, tahun 2017 menurun menjadi 4 kasus, tahun 2018 ditemukan 2 kasus dan tahun 2019 menjadi 5 kasus. KDRT ditemukan di kecamatan yaitu Blora, Jepon, Sambong, Randublatung, Jati, Ngawen, Kunduran, Todanan, Banjarejo dan Tunjungan.
Pemerintah Kabupaten Blora telah berupaya dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak di Kabupaten Blora dengan melaksanakan berbagai program dan kegiatan salah satunya sistem penanganan terpadu berupa Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) agar bisa lebih cepat dan bisa melakukan deteksi sejak dini khususnya dalam menangani kekerasan. Selain itu kiprah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dalam menangani berbagai kerentanan perempuan dan anak juga tidak dapat disishkan.
Keberhasilan Kabupaten Blora dalam pemenuhan hak anak adalah dengan memperolehnya penghargaan Kabupaten Layak Anak tingkat Pratama Tahun 2019 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, hal tersebut akan terus ditingkatkan statusnya menjadi Nindya melalui rencana pembentukan desa layak anak di semua desa. Secara rinci perkembangan kinerja urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.24.
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Blora
Tahun 2016-2020
No. Program/Indikator Satuan 2016 2017 2018 2019 2020 Capaian
1. Jumlah Focal point aktif Unit 8 40 41 43 43
2. Indeks Pembangunan
Gender % 83 83,55 83,79 83,96 84,05*)
3. Indeks Pemberdayaan
Gender % 70 70,52 70,72 65,59 66,05*)
4. Jumlah pusat Pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) di tingkat
kecamatan dan kabupaten
Unit 1 4 7 2 2
5. Persentase partisipasi
No. Program/Indikator Satuan 2016 2017 Capaian 2018 2019 2020 6. Persentase SKPD menyusun
analisis gender dalam dokumen perencanaan dan penganggaran SKPD
% 20 90 90 90 90
7. Kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak Kasus 5 12 38 14 0
8. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan
% 100 100 100 100 100
9. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KTP/A dan PPT/PKT di RS
% 100 100 100 100 100
10. Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
% 100 100 100 100 100
11. Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan engadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak
% 100 100 100 100 100
12. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum
% 100 100 100 100 100
13. Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 100 100 100 100 100
14. Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 100 100 100 100 100
15. Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
% 100 100 100 100 100
16. Persentase jumlah tenaga
kerja dibawah umur % 0 0 0 0 0
17. Jumlah Kelompok anak
No. Program/Indikator Satuan 2016 2017 Capaian 2018 2019 2020 ada di Kabupaten,
Kecamatan dan desa/kelurahan
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020 *) angka prediksi
Ketidaktercapaian indikator persentase perempuan di legislative disebabkan karena penetapan calon legislative perempuan bukan hanya berada pada calon itu sendiri, namun juga keijakan partai politik dan partisipasi masyarakat memilih perempuan sebagai wakil rakyat. Persoalan lain adalah kualitas anggota legislative perempuan belum terekspose sehingga kinerja anggota legislative belum dapat dinilai oleh masyarakat.
Ketidak tercapaian indikator jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan disebabkan karena aksesibilitas perempuan terhadap sumber informasi yang terbatas, stereotype bahwa perempuan lemah masih mengakar serta budya paternalistic yang tidak dihilangkan, sehingga perempuan yang rentan, selalu memposisikan dirinya sebagai kaum lemah yang mudah ditindas.
3. Pangan
Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, diantara kebutuhan yang lain, pangan harus terpenuhi agar kelangsungan hidup seseorang dapat terkamin. Ketersediaan pangan di suatu wilayah dipengaruhi oleh produksi, distribusi, akses, stabilitas harga dan konsumsi. Berdasar hasil analisis FSVA (Food Security And Vulnerability Atlas) atau peta ketahanan dan kerentanan pangan yang merupakan hitungan dari komposit antara lain akses ketersediaan pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan di Kabupaten Blora tahun 2019 di dapat bahwa ada beberapa desa yang masih menjadi prioritas dalam penanganan pangan antara lain Desa Gempol dan Desa Tobo Kecamatan Jati, Desa Ngliron dan Desa Bodeh Kecamatan Randublatung.
Dilihat dari aspek ketersediaan pangan di Kabupaten Blora yang dapat dilihat dari produki pangan utama antara lain produksi padi, dan jagung di Kabupaten Blora sudah cukup meningkat (produksi padi pada Tahun 2020 menurun sebesar 59.701 ton dari tahun 2019 dikarenakan kurangnya curah hujan sehingga banyak petani yang gagal panen) produksi jagung meningkat 84.404 ton dari tahun 2019. Produksi kedelai meningkat sebesar 1.211 ton dari tahun 2019.
Tingkat konsumsi pangan dapat dilihat dari pencapaian indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH). Skor PPH Kabupaten Blora tahun 2020
meningkat sebesar 5,4% dari tahun 2019, hal ini karena konsumsi masyarakat atas sumber pangan yang cukup beragam. Pencapaian produksi pertanian dan ketahanan pangan merupakan tujuan pembangunan berkelanjutan ke 2 (dua) yakni menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Secara rinci perkembangan pembangunan bidang pangan di Kabupaten Blora dapat dilihat pada:
Tabel 2.25.
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan pangan Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan 2016 2017 2018 2019 2020 Capaian 15. Jumlah desa rawan
pangan
Desa 3 3 4 8 4
16. Jumlah desa rentan pangan yang
tertangani
Desa 4 3 4 4 0
17. Skor Pola Pangan
Harapan % 62,0 70,5 84,6 85,1 90,5
18. Tingkat Konsumsi
protein hewani kapita/ gram/ hari
54,39 45 56,73 61,23 16,4
19. Tingkat konsumsi
energi kap/hari kkal/ 2.890 1.842,2 1.898,79 2.225,178 2.178,2 4. Pertanahan
Kinerja urusan pertanahan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 memiliki kewenangan terkait sub urusan: izin lokasi; pengadaan tanah untuk kepentingan umum; sengketa tanah garapan; ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan; subyek dan obyek redistribusi tanah, serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee; tanah ulayat; tanah kosong; izin membuka tanah; dan penggunaan tanah. Sampai dengan tahun 2020 untuk pemberian izin lokasi masih dilaksanakan oleh Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan sudah dilaksanakan dengan baik.