BAB 2 LANDASAN TEORI
2.1.3. Dimensi-dimensi Intuitive Eating
Hawks et. al (2004), yang mengembangkan Intuitive Eating Scale alternatif (Hawks IES), menyimpulkan bahwa model Intuitive eating terdiri dari intrinsic eating (kemampuan untuk menganali tanda fisik dari rasa lapar, kepuasan, dan
kekenyangan), extrinsic eating (pertimbangan akan kemungkinan makanan
dengan cakupan yang luas dan makan apa yang diinginkan), anti diet atau menghargai makanan dan memperhatikan efek fisik dari makan, dan terakhir self care atau penghargaan lebih kepada kesehatan dan energi daripada penampilan semata.
Tribole dan Resch (1995), mengidentifikasi tiga komponen utama dalam intuitive eating. Pertama, unconditional permission to eat when hungry and what food is desired atau izin tanpa syarat dimana seseorang memperbolehkan dirinya sendiri untuk makan apa yang ia inginkan pada saat lapar. Kedua, eating for physical rather than emotional reasons atau makan untuk kepentingan tubuh bukan karena alasan emosional. Ketiga, reliance on internal hunger and satiety
21
cues to determine when and how much to eat atau menentukan waktu dan porsi makan berdasarkan isyarat internal dari rasa lapar dan kenyang. Komponen-komponen ini saling berhubungan satu sama lain dan setiap Komponen-komponen dibutuhkan untuk merefleksikan intuitive eating (Tylka, 2006).
Tylka dan Kroon Van Diest (2013) dalam mengembangkan revisi dari Intuitive Eating Scale (IES-2), kemudian menambahkan sebuah komponen dari intuitive eating yang diungkapkan oleh Tribole dan Resch (2003), mengenai menghargai kesehatan atau mempraktekan “gentle nutrition”. Gentle nutrition mencerminkan kecenderungan seseorang untuk membuat pilihan makanan yang mempertahankan kesehatan dan fungsi tubuh mereka (seperti memilih makanan yang meningkatkan tenaga, stamina dan performa tubuh) dan juga tetap terasa enak dimakan.
Secara lebih rinci komponen - komponen intuitive eating terdiri dari empat unsur utama yaitu:
1. Eating for physical rather than emotional reason
Seseorang dengan intuitive eating menggunakan makanan sebagai pemuas dorongan rasa lapar fisik mereka dan bukan untuk mengatasi fluktuasi ataupun tekanan emosi. Herman dan Polivy (dalam Tylka & Wilcox, 2006), menjelaskan hubungan antara perilaku makan dan emosi melalui sebuah model pembatas (boundary model). Seseorang yang tidak melakukan diet memiliki dua pembatas dalam merespon rasa lapar dan kenyang. Ketika lapar, mereka makan sebagai jalan keluar dari rasa lapar dan akan berhenti makan ketika sudah tidak tertarik atau sedikit kenyang.
Ketika seseorang melakukan diet perilaku makan seringkali menjadi tidak terkontrol dan berlawanan dengan batasan rasa lapar dan kenyang. Gejolak emosi seringkali mengacaukan batasan diet. Hal ini dikarenakan seseorang yang membatasi makanan mereka akan meningkatkan asupan makanan mereka ketika mengalami afek negatif (Tylka, 2006).
2. Unconditional permission to eat
Unconditional permission to eat mencerminkan kesiapan untuk makan dalam merespon sinyal lasa lapar fisiologis internal dan untuk makan mkanan yang diinginkan pada saat itu Seseorang yang menggunakan strategi makan ini tidak mencoba untuk membiarkan sinyal lapar yang mereka rasakan. Mereka juga tidak mengklasifikasikan makanan kedalam kategori boleh dimakan dan tidak boleh dan berusaha untuk menghindari makanan dalam kategori tidak boleh.
Seseorang yang membatasi kapan mereka makan dengan membatasi waktu, banyaknya makanan dan jenis makanan yang bisa mereka makan berdasarkan standar eksternal akan meningkatakan kecenderungan mereka untuk merasa kekurangan dan terokupasi oleh makanan. Sebuah eksperimen menunjukan bahwa orang-orang yang membatasi makananya menjadi terlalu memanjakan dirinya dengan makanan, sebagai hasil dari persepsi aturan diet yang telah dilanggar atau bahwa mereka telah makan makanan yang terlarang (Herman & Polivy, Woody et. al dalam Tylka, 2006).
Selain itu, seseorang yang melakukan diet dengan membatasi makanan biasanya cenderung membiarkan isyarat visual dan penciuman dari makanan
23
untuk mengendalikan asupan makanan dibandingkan dengan orang-orang yang tidak membatasi makan mereka (Fedoroff et al., dalam Tylka, 2006). Karena diet membatasi makanan mendorong meningkatnya ketergantungan terhadap makanan, seseorang yang membatasi asupan makanan mereka sebenarnya bisa saja makan lebih banyak dibandingkan orang-orang yang memberikan diri mereka sendiri izin tanpa syarat untuk makan. (Tylka, 2006) 3. Reliance on hunger and satiety cues
Seseorang dengan intuitive eating menyadari sinyal-sinyal rasa lapar dan kenyang internal mereka serta mempercayai sinyal-sinyal ini untuk mengendalikan perilaku makan mereka (Carper et al.; Tribole & Resch, dalam Tylka, 2006). Kesadaran atas pengalaman internal merupakan aspek utama pada well-being. Kesadaran ini merupakan bawaan sejak lahir, hanya saja pada perkembangannya beberapa orang mengganti pengalaman internal ini dengan aturan-aturan dari luar (larangan waktu, apa dan seberapa banyak porsi makan) seiring dengan terinternalisasinya pesan-pesan lingkungan yang mengatakan bahwa diet akan memberikan hasil yang sesuai harapan (Tylka, 2006).
4. Body-food choice congruence
Tylka dan Kroon Van Diest (2013) dalam mengembangkan revisi dari Intuitive Eating Scale (IES-2), kemudian menambahkan sebuah komponen dari intuitive eating yang diungkapkan oleh Tribole dan Resch (2003), mengenai menghargai kesehatan atau mempraktekan “gentle nutrition”. Gentle nutrition mencerminkan kecenderungan seseorang untuk membuat
pilihan makanan yang mempertahankan kesehatan dan fungsi tubuh mereka (seperti memilih makanan yang meningkatkan tenaga, stamina dan performa tubuh) dan juga tetap terasa enak dimakan.
Individu yang melaksanakan gentle nutrition dapat menanyakan pada dirinya sendiri “bagaimana tubuh ini akan terasa karena makanan ini? Apakah saya menyukai perasaan tersebut” dan “apakah makanan ini memberikanku
tenaga yang akan bertahan lama? Apa yang kurasakan setelah memakannya?”
dan menggunakan informasi dari pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk menjadi petunjuk untuk memilih makanan di masa yang akan datang, namun tidak dengan aturan yang kaku.
Tribole dan Resch (dalam Tylka & Kroon Van Diest, 2013) menempatkan gentle nutrition di akhir buku mereka dengan pertimbangan agar seseorang tidak terlalu berfokus pada nutrisi sebelum mempelajari prinsip-prinsip intuitive eating lainnya. Meskipun begitu mereka menekankan pentingnya gentle nutrition dalam pengalaman intuitive eating. Bila intuitive eating dinyatakan sebagai adaptif, maka intuitive eating juga harus merepresentasikan individu seringkali memilih makanan yang bernutrisi untuk membantu fungsi tubuh mereka.