BAB IV: EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-JA>MI’ LI AH{KA>M AL-QUR’A>N
B. Epistemologi Penafsiran al-Qurt}ubi
2. Epistemologi Penafsiran Ayat Hukum
Dalam telaah epistemologi penafsiran al-Qura’an, sumber penafsiran merupakan aspek penting dalam terbentuknya sebuah bangunan pemikiran.
Seorang penafsir sudah dapat dipastikan butuh pada bahan-bahan yang digunakan dalam membangun tafsirannya mengenai al-Qur’an. Al-Qurt{ubi telah menjelaskan dalam muqaddimah tafsirnya, sumber penafsiran yang ia gunakan dalam kitabnya adalah, al-Qur’an sebagai dasar, sunnah sebagai penjelas, dan instiba>t} ulama sebagai pengklarifikasi (tibya>n):
1) Al-Qur’an
Al-Qurt{ubi –sebagaimana mufassir lainnya– tidak meninggalkan al-Qur’an sebagai rujukan tafsir. Penafsiran yang menggunakan ayat lainnya sebagai rujukan dan penjelasan kandungan suatu ayat bisa dikategorikan sebagai manhaj al-tafsi>r al-Qur’a>n bi al-Qur’a>n. Metode tafsir ini dianggap oleh sebagian besar pakar tafsir sebagai metode tafsir yang paling utama dan terbaik untuk menfasirkan al-Qur’an; sebuah metode yang diteladankan oleh Nabi saw, sahabat dan tabi’in.
Berdasarkan penelitian ayat hukum di bab empat, al-Qurt{ubi melakukan interpretasi al-Qur’an dengan al-Qur’an ini berpedoman ulu>m al-Qur’a>n, diantara kaidah ulu>m al-Qur’a>n yang ia gunakan dalam dalam penafsirannya ini adalah:
a) Kaidah mut}laq dan muqayyad
Mutlaq adalah lafaz kha>s yang menunjukkan kepada maknakeseluruhan dan tidak dibatasi dengan suatu sifat dari
126
beberapa sifat.139 Jika lafaz yang mut}laq ini di taqyi>d, maka lafaz mut}laq tidak terpakai. Misalnya firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 173 tentang keharaman “al-dam”, yang menurut al-Qurt{ubi merupakan lafaz mut}laq yang di taqyi>d oleh ayat “au dam masfuh}”, sehingga maksud “al-dam” dalam surah al-Baqarah ayat 173 adalah darah yang mengalir, bukan darah secara mutlak.
Implikasi istinba>t| hukum dari hal ini adalah darah yang tidak mengalir seperti darah yang bercampur dengan daging tidak haram, sehingga darah yang ada di dalam sebuah daging tidak perlu dibersihkan sebelum dimasak.
b) Muna>saba>h ayat
Munāsabah al-Qur'an merupakan ilmu bantu penafsiran al-Qur'an secara ma’tsu>r pada hirarki tertinggi, yaitu tafsîr Qur'a>n bi al-Qur'a>n.140 Teknik kerjanya yang tegas diakui oleh Quraish Shihab,
“sangat mengandalkan pemikiran bahkan imajinasi.” Oleh karena itu, berada dalam suatu kemungkinan yang terbuka luas bila ada banyak ragam munāsabah yang dikemukakan oleh para mufassir.
Bahkan seorang mufassir dapat mengemukakan dua dan tiga hubungan pada suatu ayat.141
Diantara munasabah yang ia gunakan adalah saat ia menafsirkan surah al-Baqarah ayat 173. Poin muna>sabah ayat 173 dengan ayat 172 adalah, ayat 172 menghalalkan makanan yang baik secara mutlak, tanpa kecuali, lalu ayat 173 mengharamkan beberapa jenis makanan yang ayatnya dimulai denga kata “innama>” yang bermakna “al-has}r”. Implikasinya adalah, makanan yang diharamkan hanya terbatas pada makanan yang tercakup di ayat 173 ini, selain yang tidak dicakup olehnya, maka hukumnya halal.
2) Hadis Nabi saw.
Penggunaan hadis sebagai sumber penafsiran ayat al-Qur’an biasa disebut sebagai aplikasi metode tafsir dengan riwayat (manhaj al-tafsīr bi mas|ūr/bi al-sunnah). Al-Qurt{ubi menjelaskan fungsi hadis bagi al-Qur’an:
menjelaskan ayat al-Qur’an yang global (mujmal), menafsirkan ayat yang masih problematik (mushkil), dan menetapkan ayat yang memiliki beragam kemungkinan arti.142
Dalam kitabnya ini, al-Qurt{ubi banyak menggunakan hadis yang menjadi dalil hukum dan turunnya ayat yang ia bahas, dengan disertai menyebutkan perawi yang meriwayatkannya. Sebab, menurutnya,
139 Abdul Wahbah al-Zuhaili, Al-Waji>z fi Us}u>l al-Fiqh, (Damaskus: Da>r al-Fikr, 1999), h.206.
140 Al-Zarqani, Mana>hil al-‘Irfa>n fi> ‘Ulu>m al-Qur'a>n, (Beirut: Da>r al-Kita>b al-‘`Arabi, 1995), h. 11.
141 M Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-Ayat al-Qur'an, h. 245.
142 Al-Qurt}ubi, Al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m al-Qur’a>n, jilid 1, h. 12.
127
berhujjah dan ber-istidla>l dengan hadis yang tidak menyebutkan perawi yang meriwayatkannya tidak boleh diterima hingga hadis yang dinukil disertai penyebutan perawi yang s|iqqah.
Ia pun mengkritik hadis yang terdapat di kitab-kitab fikih dan tafsir tidak jelas, karena perawinya tidak diketahui, sehingga hadis tersebut tidak dapat diketahui status s{ahih atau d{a’ifnya, kecuali jika diteliti ke kitab-kitab hadis. Padahal, mengetahui status hadis merupakan ilmu yang penting. Sebab, tafsir dengan hadis memiliki persoalan terkait kes{ahihan hadis karena para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh mentakhs{i>s{ al-Qur’an dengan hadis yang d{‘i>f.
Pernyataan al-Qurt{ubi dalam muqaddimahnya ini mengisyaratkan komitmennya untuk meriwayatkan hadis di dalam kitabnya ini disertai dengan perawi hadisnya. Berdasarkan penelitian di bab empat, ada beberapa cara yang dilakukan oleh al-Qurt{ubi dalam meriwayatkan hadis di dalam kitabnya ini:
a) Periwayatan hadis secara lafz{i disertai perawinya dan juga status kes{ahihannya, sebagaimana hadis yang men-takhs}i>s}
keharaman bangkai. Ia menjelaskan, ayat keumuman haramnya bangakai di- takhs}i>s oleh hadis s{ah}i>h} oleh Imam Muslim dari hadis Abdullah Ibn Abu Aufa yang berkata:
هعم دارجلا لكأن انك تاوزغ عبس ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر عم انوزغ
“Kami pernah berperang bersama Rasulullah saw. sebanya tujuh kali peperangan, dulu kami memakan belalang bersama beliau.”
b) Periwayatan hadis secara lengkap disertai perawinya, tanpa ada penjelasan status kes{ahihannya, sebagaimana hadis yang men-takhs}i>s} keharaman bangkai yang diriwayatkan al-Daruqut}ni:
.ِنا م د و ِنا ت ـتْـي م ا ن ل ْتَّلِح ُتوُحْلا و ُدا ر جْلا ف :ِنا ت ـتْـي مْلا اَّم أ ف
:ِنا مَّدلا اَّم أ و
ُدِب كْلا و ُلا حِ طلا ف
“Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai itu adalah belalang dan ikan, sedangkan dua macam darah adalah hati dan jantung.”
c) Menyebutkan perwai hadis, tetapi matan hadis tidak diriwayatkan secara lengkap
Ini terlihat ketika al-Qurt{ubi meriwayatkan hadis tentang makna “al-ka’bu” adalah mata kaki. Ia menukil hadis yang diriwayatkan dari al-Nu’man:
ق ْمُكِبوُلُـق نْي ـب ُهَّللا َّن فِلا خُي ل ْو أ ْمُك فوُفُص َّنُميِقُت ل ِهَّللا و لُجَّرلا ُتْي أ ر ـف لا
ِب ُه بْع ك و ِهِبِحا ص ِة بْكُرِب ُه ت ـبْكُر و ِهِبِحا ص ِبِكْن مِب ُه بِكْن م ُق زْل ـي ِهِبْع ك
“Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf shaf kalian, atau Allah benar--benar akan membuat hati kalian saling berselisih." Kata Nu'man; Maka saya melihat seseorang melekatkan (merapatkan) pundaknya dengan pundak temannya
128
(orang di sampingnya), demikian pula antara lutut dan mata kakinya dengan lutut dan mata kaki temannya.”
Hadis terpotong dibagian awalnya, yaitu tentang kondisi Rasulullah saw. saat menyampaikan hadis ini dan juga perintah beliau untuk meluruskan shaf. Hadis secara lengkapnya adalah:
بْـق أ ُلوُق ـي ٍريِش ب نْب نا مْعُّـنلا ُتْعِم س لا ق ِ يِل دُجْلا ِمِسا قْلا يِب أ ْن ع ُلوُس ر ل
فوُفُص اوُميِق أ لا ق ـف ِهِهْج وِب ِساَّنلا ى ل ع مَّل س و ِهْي ل ع ُهَّللا ىَّل ص ِهَّللا ِهَّللا و اًث لا ث ْمُك
ِلا خُي ل ْو أ ْمُك فوُفُص َّنُميِقُت ل ـف لا ق ْمُكِبوُلُـق نْي ـب ُهَّللا َّن ف
ُه بِكْن م ُق زْل ـي لُجَّرلا ُتْي أ ر
اد وبأ هاور( ِهِبْع كِب ُه بْع ك و ِهِبِحا ص ِة بْكُرِب ُه ت ـبْكُر و ِهِبِحا ص ِبِكْن مِب .)دو
143
d) Periwayatan hadis tanpa disertai penyebutan perawinya dan juga tanpa ada keterangan status ke-s}ah{ih-an hadis.
Ini sebagaimana hadis Nabi saw. yang menjadi dalil wajib membasuh kedua kaki saat wudu. Rasulullah saw. bersabda:
ِراَّنلا ْنِم ِما دْق ْلأا ِنوُطُب و ِبا قْع ْلِْل ٌلْي و
“Celakalah tumit-tumit dan telapak kaki bagian dalam (yang tidak terkena air wudlu) dari api neraka,” (HR. Al-Tirmiz|i).
Al-Qurt{ubi menyebutkan hadis ini tanpa menjelaskan perawi yang meriwayatkannya, padahal telah di jelaskan di muqaddimah tafsirnya bahwa ia menyebutkan sebuah hadis beserta perawi yang meriwayatkannya agar dapat diketahui status kualitas hadis tersebut. Bahkan ia sendiri mengungkapkan bahwa hadis yang dinukil tanpa menyebutkan perawinya tidak dapat dijadikan dalil.
Jika kita telusuri, hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Tirmiz|i dari Abu Hurairah.144
Hal ini menunjukkan ketidak konsistenan al-Qurt{ubi dalam pernyataan di muqaddimahnya yang mengharuskan meriwayatkan hadis dalam sebuah kitab disertai dengan perawinya.
Diantara metode penafsiran al-Qur’an dengan hadis yang ia gunakan adalah men-takhs{i>s{ keumuman ayat al-Qur’an dengan hadis Nabi saw.
Salah satu tugas pokok seorang mufassir adalah memahami teks (nash), baik memahami makna sebuah lafaz, wilayah, obyeknya, dan bagaimana cara penunjukkan lafaz atas makna serta jenis dan derajat dila>lah-nya. Para ahli ushu>l fikih membagi tema ini ke dalam dua bagian, yaitu penunjukkan (dila>lah) teks atas sebuah makna dan penunjukkan (dila>lah) teks atas hukum syara‘ secara langsung. Penunjukkan (dila>lah) teks atas sebuah makna ini meliputi kajian ‘a>m dan kha>sh. Dalam kajian ini, berlaku mentakhs}is{ lafaz yang ‘a>m dengan lafaz yang kha>s}.
143 Abu Dawud, Sunan Abi> Da>wud, jilid 2, (Beirut: Da>r Al-Risa>la Al-‘Ilmiyyah, 2009), h. 5.
144 Al-Tirmiz|i, Sunan Al-Tirmiz|i>, jilid 1, hlm. 26.
129
Takhs}i>s} adalah Membatasi lafaz umum atas sebagian obyeknya.145 Berdasarkan definisi ini, dapat dipahami bahwa dalil ‘a>m itu tetap berlaku bagi satuan-satuan yang masih ada sesudah dikeluarkan satuan tertentu yang ditunjuk oleh mukha>s}is}, sebagaimana kaidah us}u>l:
ىقابلا يف ةجح صيصختلا دعب ماعلا
“lafaz ‘a>m setelah di takhs}i>s} yang menjadi hujjah adalah yang tersisa.”
Salah satu macam takhs}i>s} yang diimplementasikan al-Qurt{ubi adalah takhs}i>s} ayat al-Qur’an dengan hadis Nabi saw. Menurutnya, ayat al-Qur’an yang bermakna umum boleh di-takhs}i>s} oleh hadis yang s{ah}i>h, tetapi tidak boleh di-takhs}i>s} dengan hadis d}a’i>f. Diantara implementasi implementasi takhs}i>s} al-Qur’an dengan hadis s}ah}i>h} adalah tentang keumuman term larangan memakan “al-maitah” (bangkai) hewan di surah al-Baqarah dengan hadis Nabis saw.:
ِنا مَّدلا اَّم أ و ُدا ر جْلا و ُتوُحْلا ف ِنا ت ـتْـي مْلا اَّم أ ف ِنا م د و ِنا ت ـتْـي م ا ن ل ْتَّلِحُأ ُدِب كْلا ف
لا حِ طلا و
“Telah dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dua darah itu adalah hati dan limpa,” (HR. Al-Daruqut{ni).
Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Abu Aufa:
ِهَّللا ِلوُس ر ع م ا نْو ز غ
-ﷺ دا ر جْلا ُلُكْأ ن ٍتا و ز غ عْب س
-“Kami berperang bersama Rasulullah Saw dalam tujuh peperangan dengan mengonsumsi belalang,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
3) Pendapat ulama salaf dan ulama yang mengikutinya.
Pendapat ulama salaf menjadi salah satu sumber penafsiran al-Qurt{ubi. Pendapatnya ini mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu seperti Abu Bakar Al-Anbari yang menyatakan, “Barang siapa yang menafsirkan problematika al-Qur’an dengan pendapat yang tidak diketahui berasal dari mazhab awal seperti sahabat dan tabi’in, maka ia akan mendapatkan kemurkaan Allah,” meskipun penafsirannya benar, tetapi ia tetap melakukan kesalahan karena penafsirannya tidak diketahui dasarnya dan tidak berdasarkan mazhab Ahlu As|ar.146
Sumber ini banyak ia gunakan dalam penafsirannya, khususnya saat menafsirkan ayat hukum. Ia banyak mengutip pendapat ulama-ulama dari berbagai mazhab fikih saat menafsirkan ayat hukum beserta problematika hukum fikih yang terkait dengan ayat hukum. Dalam hal ini, ia melakukan studi mazhab fikih(muqara>n). Setidaknya ada dua cara yang ia lakukan
145 Al- Shaukani, Irsha>d al-Fuh}u>l, (Beirut: Da>r al-Fikr, t.t.), h. 142.
146 Al-Qurt}ubi, Al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m al-Qur’a>n, jilid 1, h. 40-41.
130
dalam menyikapi perbedaan pendapat ulama terkait penafsiran ayat hukum beserta problematika hukum fikihnya:
a) Metode tarjih.
Ada beberapa cara yang ia lakukan dalam melakukan tarjih terhadap perbedaan pendapat ulama:
1) Mentarjih dengan melihat kualitas dalil.
Metode tarjih semacam ini ia gunakan saat membahas hukum memakan bangkai ikan. Dalam hal ini, ada dua pendapat, Imam Malik berpendapat tidak boleh, begitu juga Imam al-Hasan dan Jabir yang memakruhkannya.
Pendapat ini berdasarkan keumuman ayat “h}urrimat
‘alaikum al-maitah” dan juga hadis yang diriwayatkan oleh Jabir Ibn Abdullah bahwa Rasulullah saw. bersabda:
قوف ايفاط وأ اتيم هومتدجو امو هاقلأ امو رحبلا نع رسح ام اولك .هولكأت لاف ءاملا
Terkait hadis ini, al-Qurt}ubi menyebutkan beberapa sanad periwayatan hadis ini dan mentakhrijnya:
Pertama, periwayatan melalui jalur Jabir Ibnu Abdullah.
Al-Qurt{ubi menukil pendapat al-Daruqut}ni yang menganggap salah seorang perawi dari jalur ini yang bernama Abdul Aziz Ibn Abdulullah sebagai perawi yang d}a’i>f yang tidak boleh dijadikan hujjah.
Kedua, jalur riwayat Sufyan al-S|auri dari Abu Zubair dari Jabir. Al-Qurt}ubi juga mengutip pendapat al-Daruqut}ni yang menghukumi hadis ini mauqu>f.
Ketiga, jalur riwayat Abu Ayub al-Sikhtiyani, Ubaidillah Ibnu Amr dan yang lainnya yang meriwayatkan dari Abu al-Zubar. Al-Qurt}ubi menghukumi sanad ini mauqu>f. Keempat, jalur sanad Ibn Abu Z|i’b dari Abu al-Zubair dari Jabir dari Nabi saw., al-Qurt}ubi menukil pendapat Abu Dawud yang menghukumi hadis dengan sanad ini hukumnya d}a’i>f.
Setelah menjelaskan kelemahan dalil yang digunakan oleh pendapat pertama ini, al-Qurt}ubi lalu berpendapat bahwa hadis yang paling s}ah}i<h} terkait masalah ini adalah hadis yang mentakhis{i>s{ ayat keharaman bangkai yang bersifat umum, yaitu hadis:
هتتيم لحلا هؤام روهطلا وه
“Itu (laut) suci airnya, halal bangkainya”.
131
2) Metode tarjih dengan menggunakan pendekatan kebahasaan dan hadis.
Metode tarjih dengan aspek kebahasaan dan hadis digunakan oleh al-Qurt{ubi saat ini mentarjih perbedaan pendapat ulama tentang makna “al-ka’bain” di surah al-Ma’idah ayat 6. Pendapat pertama mengatakan “ al-Ka’bain” adalah bagian atas telapak kaki. Pendapat kedua, pendapat mayoritas ulama, mengatakan “al-Ka’bain” adalah dua tulang yang menonjol di kedua sisi kaki.
Berdasarkan kedua pendapat ini, al-Qurt{ubi membenarkan pendapat kedua, ia melakukan tarjih dengan menggunakan pendekatan kebahasaan dan riwayat hadis:
Pertama, aspek kebahasaan (linguistik), ia menjelaskan makna etimologi “al-ka’b” yang diambil dari kata “
al-‘uluw” (tinggi atau menonjol) sebagaimana ungkapan
“ka’abat al-mar’atu iz|a> falaka s|adyuha>”. Al-Qurt{ubi menjelaskan makna etimologi ini untuk menunjukkan bahwa pengertian “al-ka’bu” secara fikih –pendapat mayoritas ulama–tidak dibuat secara asal-asalan, tapi pondasinya adalah makna etimologi karena makna dalam terminologi fikihnya adalah pengembangan dari makna etimologi, yaitu dua tulang yang menonjol di kedua sisi kaki. Kita tahu bahwa bagian kaki yang terlihat menonjol yang sepadan dengan makna etimologi al-ka’bu adalah bagian dua tulang yang ada di sisi kiri dan kanan kaki, yaitu mata kaki. Berbeda halnya dengan pendapat pertama yang mengatakan maksud al-ka’bu adalah bagian atas telapak kaki karena jauh dari makna al-ka’bu secara etimologi.
Kedua, kedua pendekatan riwayat hadis. Al-Qurtubi menukil sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Nu’man Ibn Basyir, Rasulullah saw. bersabda:
ْمُكِبوُلُـق نْي ـب ُهَّللا َّن فِلا خُي ل ْو أ ْمُك فوُفُص َّنُميِقُت ل ِهَّللا و لُجَّرلا ُتْي أ ر ـف لا ق
ُه بْع ك و ِهِبِحا ص ِة بْكُرِب ُه ت ـبْكُر و ِهِبِحا ص ِبِكْن مِب ُه بِكْن م ُق زْل ـي ِهِبْع كِب
“Demi Allah, hendaklah kalian benar-benar meluruskan shaf shaf kalian, atau Allah benar--benar akan membuat hati kalian saling berselisih." Kata Nu'man; Maka saya melihat seseorang melekatkan (merapatkan) pundaknya dengan pundak temannya (orang di sampingnya), demikian pula antara lutut dan mata kakinya dengan lutut dan mata kaki temannya.”
b) Metode al-Jam’u baina al-aqwa>l
Metode ini al-Qurt{ubi gunakan saat beliau menjelaskan makna “id{t{ira>r” di surah al-Baqarah ayat 173. Ia menukil tiga
132
pendapat ulama tentang maksud kata tersebut. Ketiga pendapat ini saling melengkapi antara satu dengan yang lain dan juga tercakup dalam makna “id{t{ira>r”, sehingga al-Qurt{bi menggunakan ketiga pendapat tersebut sebagai makna “id{t{ira>r”, yaitu keterpaksaan itu adakalanya karena dipaksa oleh orang yang zalim atau terpaksa karena lapar.
4) Bahasa Arab
Al-Qurt{ubi menaruh perhatian besar terhadap bahasa Arab sebagai sumber penafsiran ayat hukum. Sebab, di beberapa tempat, ia membangun argumen penadapat hukum fikihnya melalu aspek kebahasaan. Ada beberapa langkah yang ia gunakan dalam menggunakan bahasa sebagai sumber penafsirannya:
a) Menjelaskan makna kata secara etimologi dan implikasi hukum fikihnya
Al-Qurt{ubi menaruh perhatian besar terhadap cakupan suatu kata yang memiliki konsekuensi terhadap penetapan suatu hukum, seperti ia menjelaskan cakupan makna di surah al-Ma’idah ayat 6 diantaranya: kata “al-mash}u”, “al-ghaslu”, dan “ru’u>sakum”.
b) Kaidah kebahasaan
Penggunaan kaidah kebahasaan ini terliat saat al-Qurt{ubi menafsirkan kata “ila>” (huruf jar) di ayat “wa aidiyakum ila> al-mara>fiq”. Menurutnya “ila>” di ayat ini bermakna “gha>yah”.
Implikasi dari “ila>” bermakna “ghaya>h” adalah hukum yang terkandung di lafaz setelah “ila>” mengikuti hukum yang terkandung sebelum lafaz “ila>”, sebagaimana kaidah jika sedua-duanya sejenis, sebagaimana kaidah:
همكح يف لخاد اهلبق ام سنج نم ىلإ دعب ام ناك اذإ
“Apabila lafaz yang jatuh setelah ‘ila>’ termasuk jenis dari lafaz sebelum ‘ila>’, maka hukumnya masuk ke dalam lafaz sebelum’ila>’.”147
Terkait hal ini, para ulama berbeda pendapat apakah hukum yang berlaku pada lafaz sebelum “ila>” juga berlaku pada lafaz setelah
“ila>”: pertama, tidak masuk secara mutlak, karen ila> bermakna “ al-niha>yah”, yaitu sampai awal batas;148kedua, masuk secara mutlak.
Imam Al-Subki berkata, “Jika tidak ada qari>nah yang menunjukkan masuknya lafaz setelah ‘ila>’ dan juga tidak ada qari>nah yang menunjukkan tidak masuknya lafaz setelah ‘ila>’, maka masuk secara mutlak.”; ketiga, jika ada qari>nah yang menunjukkan masuknya lafaz setelah ‘ila>’ ke dalam lafaz sebelum ‘ila>’ atau ada qari>nah yang menunjukkan tidak masuknya lafaz setelah ‘ila>’ ke
147 Al-Qurt}ubi, Al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m al-Qur’a>n, jilid 2, h. 328.
148 Ibnu Siraj, Al-Us{u>l Fi Al-Nah{wi, jilid 1, (Beirut: Mu’assasah Al-Risa>lah, 1996), h.
411.
133
dalam lafaz sebelum ‘ila>’, maka hukum yang berlaku sesuai qari>nah-nya.149 al-Rad{i berkata, “Umumnya batasan awal dan akhir tidak masuk ke dalam sesuatu yang dibatasi.” Contohnya,
“ishtaraitu min ha>z|a> al-maud{i’ ila z|alika al-maud{i’,” zahirnya kedua tempat yang disebutkan tidak termasuk yang dibeli. Namun, jika ada qari>nah yang menunjukkan kedua tempat tersebut termasuk yang dibeli, maka berlakulah qari>nah tersebut. Keempat, Jika lafaz setelah ila> sejenis dengan lafaz sebelum ‘ila>’, maka hukum lafaz setelah ‘ila>’ masuk ke dalam hukum sebelum ‘ila’. Jika tidak sejenis, maka tidak masuk.150 Manurut al-Muradi, pendapat ini berlaku jika tidak ada qari>nah.151 Inilah pendapat yang dianut al-Qurt{ubi dalam menafsirkan kata “ila>” di ayat di atas, implikasi hukum fikihnya adalah, siku wajib dibasuh dalam berwudu.
b. Motode Penafsiran
Metode kitab Tafsir al-Ja>mi’ li Ah{ka>m al-Qur’a>n menggunakan – meminjam istilah Islah Gusmian– metode deduktif-analitis yang bersifat atomistik (tahli>li>), yakni menafsirkan ayat al-Qur’an secara parsial, kata per-kata dan ayat per ayat, sesuai dengan urutan mushaf. Metode tah}li>li> memang merupakan metode konvensional yang banyak dipakai oleh para mufassir klasik.
Selain metode tahli>li>, ia juga menggunkan metode muqa>ran, yaitu ia membandingkan berbagai pendapat ulama dalam menafsirkan sebuah ayat.
Kedua metode yang ia gunakan sebenarnya secara tersirat telah ia jelaskan dalam muqaddimah Tafsir aj-Ja<mi’ li Ah}ka>m al-Qur’a>n ini, ia mengungkapkan bahwa tafsirnya ini berisi tafsir, bahasa (lughah), morpologi (i’rab), qira’ah, bantahan terhadap golongan yang menyimpang dan sesat, hadis dalil hukum dan turunnya ayat, dan pendapat ulama salaf untuk menjelaskan problematika hukum dan turunnya ayat. Al-Qurt}ubi menghindari terlalu banyak menukil kisah-kisah mufassir dan berita dari ahli sejarah, kecuali memang dibutuhkan sebagai penjelasan, agar bisa lebih fokus menjelaskan ayat-ayat hukum.
c. Validitas Kebenaran Penafsiran
Jika mengacu pada teori kebenaran koherensi152, penulis melihat ada beberapa kasus penafsiran al-Qurt{ubi yang tidak konsisten karena ada beberapa penafsirannya tidak sesuai dengan metode penafsiran yang ia tempuh sebagaimana yang ia jelaskan di dalam muqaddimah tafsirnya. Dintaranya, ia
149 Al-Subki, Al-Ashba>h wa Al-Naz{a>’ir, jilid 2, (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Alamiyyah, 1991), h. 204.
150 Al-Subki, Al-Ashba>h wa Al-Naz{a>’ir, jilid 2, h. 411.
151 Al-Muradi, Al-Ja>n Al-Da>ni, (Beirut: Da>r Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1992), h. 385.
152 Teori ini menyatakan bahwa standar kebenaran itu tidak dibentuk oleh hubungan antara pendapat dengan sesuatu yang lain (fakta atau realitas), tetapi dibentuk oleh hubungan internal (internal relation) antara pendapat-pendapat atau keyakinan-keyakinan itu sendiri.
Dengan kata lain, sebuah penafsiran itu dianggap benar jika ada konsistensi logis-filosofis dengan proposisi-proposisi yang dibangun sebelumnya. Lihat: Abdul Mustaqim, Epistemologi Tafsir Kontemporer, h. 291.
134
menyampaikan bahwa pengutipan hadis disertai dengan perawinya yang meriwayatkannya. Jika perawi hadis tidak disebutkan, maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.153 Dalam hal ini, penulis melihat al-Qurt{ubi tidak konsisten menerapkannya karena penulis mendapati ada beberapa hadis yang tidak ia sebutkan perawinya, ia hanya menyebutkan matan-nya, seperti hadis yang al-Qurt{ubi jadikan dalil bulu anjing tidak haram. Bisa dimanfaatkan oleh tukang jahit, sebagaimana telah diriwayatkan dari seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang penjahit dengan menggunakan bulu babi, Rasulullah bersabda: “tidak apa-apa dengan yang demikian”.154 Hal ini
menyampaikan bahwa pengutipan hadis disertai dengan perawinya yang meriwayatkannya. Jika perawi hadis tidak disebutkan, maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.153 Dalam hal ini, penulis melihat al-Qurt{ubi tidak konsisten menerapkannya karena penulis mendapati ada beberapa hadis yang tidak ia sebutkan perawinya, ia hanya menyebutkan matan-nya, seperti hadis yang al-Qurt{ubi jadikan dalil bulu anjing tidak haram. Bisa dimanfaatkan oleh tukang jahit, sebagaimana telah diriwayatkan dari seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang penjahit dengan menggunakan bulu babi, Rasulullah bersabda: “tidak apa-apa dengan yang demikian”.154 Hal ini