BAB IV: EPISTEMOLOGI TAFSIR AL-JA>MI’ LI AH{KA>M AL-QUR’A>N
A. Analisis Ayat Mutasha>biha>t dan Ayat Hukum
2) Surah al-A’raf ayat 54
38 Ibn Manz|ur, Lisa>n al-‘Arab, jilid 14, h. 412.
39 Muhammad Iqbal Urawi, Duwar Siyaq fi Tarji>h} baina Aqa>wil al-Tafsi>riyyah, (Kuwait: Wiza>rah Auqa>f wal al-Shu’u>n al-Isla>miyyah, 2007), h. 25.
40 Rashid Rid{a, Tafsi>r al-Mana>r, jilid 1, (Kairo: Da>r al-Mana>r: 1947), h. 22.
41
42 Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsi>r al-Muni>r, jilid 4, (Beirut: Da>r al-Fikr, 2010), h. 597-598.
88
dunia agar mereka dapat beramal dengan amal yang berbeda dari yang pernah mereka lakukan.
Allah swt. menceritakan perihal tempat kembali manusia, seperti percakapan penghuni neraka, percakapan penghuni surga, serta kondisi di akhirat biasanya juga menyebutkan dalil-dalil keesaan, kesempurnaan kekuasaan, dan pengetahuan-Nya agar menjadi dalil (bukti) ke-Tuhan-annya dan kebenaran tempat kembali manusia.43
Pendapat inilah yang ia pilih. Meskipun demikian, ia mengakui pendapat yang lebih kuat (az{har) adalah pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas Arsh tanpa kaifiyyah, terpisah dari semua makhluk-Nya, karena telah diterangkan dalam al-Qur’an serta hadis dan merupakan pendapat ulama salaf yang telah diriwayatkan oleh orang-orang yang tepercaya.44
Dari sekian banyak makna bahasa kata istawa> dalam bahasa Arab, ia memilih makna ‘ululla>hu fi majdihi wa s{ifa>tihi wa malaku>tihi karena sesuai dengan kesucian Allah dari arah, tempat dan juga dari keserupaan dengan makhluk. Sementara itu, makna istawa> yang lain, meskipun ia mengakui makna-makna tersebut ada dalam bahasa Arab, tetapi makna-makna tersebut tidak memenuhi syarat penyucian Allah dari keserupaan dengan makhluk. Ia pun mengeritik dan membantah penakwilan dengan makna-makna tersebut, sebagaimana yang terdapat di dalam kitab “al-Asna>
fi Sharh{i Alla>hi al-H{usna>”, ia menginventarisir empat belas pendapat ulama terkait makna istawa>, lalu dari sekian pendapat tersebut, ia membantah sembilan pendapat yang menurutnya tidak sesuai dengan ke-Mahasucia-an Allah swt.
Diantara keritikan al-Qurt{ubi tersebut adalah, pendapat yang menyatakan istawa> bermakna al-Qahru. Artinya, Allah swt. menguasai Arsh atas keagungan dan kemuliaannya. Ia menyandarkan pendapat ini kepada Abu Al-Ma’ali. Al-Qurt{ubi pun mengeritik dan membantah pendapat ini, menurutnya, jika firman Allah “s|umma istawa ‘ala al-‘Arsh” dimaknai al-Qahru (penguasaan), maka bermakna “mulai berkuasa dari sebelumnya tidak berkuasa”, sedangkan Allah swt. senantiasa Maha Kuasa. maka pendapat ini, menurutnya, tidak benar, meskipun arti istawa> ini dari segi kebahasaan dibenarkan. Begitu pula pendapat yang menyatakan “al-Arsh” bermakna “al-mulku” (kerajaan) dan “istawa>” bermakna “qahara” (menguasai).
Sebab, Allah swt. senantiasa Maha Menguasai kerajaan langit dan bumi.45
Ia juga mengeritik pendapat “istawa>” bermakna “istaqarra” yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas. Makna ini diriwayatkan oleh Muhammad Ibn Marwan46 dari al-Kalabi47 atau dari Abu S{alih dari Ibnu Abbas. Al-Qurt{ubi mengeritiknya dari segi perawinya tersebut. Menurutnya, ahli hadis| meninggalkan riwayat dari mereka semua (matru>k) dan riwayat mereka tidak dijadikan hujjah.48 Jika “istiwa>’ a’la
43 Wahbah al-Zuhaili, Al-Tafsi>r al-Muni>r, jilid 4, 597.
44 Al-Qurt{ubi, al-Asna> fi Sharh{ al-Asma>’ al-H{usna>, jilid 2, h. 132.
45 Al-Qurt{ubi, al-Asna> fi Sharh{ al-Asma>’ al-H{usna>, jilid 2, h. 129.
46 Imam al-Bukhari mengomentari tentang Muhammad Ibn Marwan bahwa ia didiamkan oleh para ahli hadis dan hadisnya tidak ditulis sama sekali.
47 Habib Ibn Abu S|abit menilai Abu Shalih sebagai seorang pendusta.
48 Al-Qurt{ubi, al-Asna> fi Sharh{ al-Asma>’ al-H{usna>, jilid 2, h. 129-130.
89
arsh”diartikan secara zahir (istaqarra), maka akan terjadi kontradiksi (tana>qud{) dengan ayat “wa huwa ma’akum” dalam surah al-Hadid ayat 4:
َا مَُم ل ْع يَِۚ ِش ْر عْلاَى ل عَى و ت ْساَ مُثَ ما ي اَ ِة ت ِسَْيِفَ ضْر اْلا وَ ِت و م سلاَ ق ل خَ ْي ِذ
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Hadi>d [57]: 4).
Hal ini menunjukkan keharusan menakwil kata “istiwa>’”. Sebab, menolak takwil sama saja menerima kontradiksi ini.49
Konsistensi al-Qurt{ubi dalam menyucikan Allah dari tempat dan arah tidak hanya pada ayat istiwa>’ saja, tetapi juga ayat yang mengindikasikan Allah bertempat, sebagaimana dalam surah al-Mulk ayat 16:
َْمُت ْ
“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”, (QS. al-Mulk [67]: 16).
Menurutnya, kemungkinan arti ayat ini adalah “Apakah kalian merasa aman dari Sang Pencipta penduduk langit yang dapat menjungkirbalikkan bumi sebagaimana Ia menjungkirbalikkannya pada Qarun hingga bumi itu bergoncang?”.50
49 Al-Qurt}ubi, Al-Ja>mi’ Li Ah}ka>m al-Qur’a>n, jilid 17, h. 230.
50 Al-Qurt{ubi juga menyebutkan pendapat ulama ahli tahqiq terkait ayat ini, mereka mengatakan bahwa maknanya “Apakah kalian merasa aman dari Yang di atas langit” seperti dalam firman Allah:
“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di bumi selama empat,” (QS. Al-Taubah [9]: 2). Maksudnya adalah di atas bumi.
Namun, Allah di atas Langit tidak dengan cara menyentuh dan membatasi dalam arah tertentu, melainkan dengan kekuasaan dan perawatan.
Ada ulama yang berkata: Maksudnya adalah “Apakah engkau merasa aman dari yang di atas langit” seperti dalam firman Allah:
َْمُ
“Akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma,” (QS. T{aha [20]: 71).
Maksudnya adalah di atas pohon kurma. Makna surah al-Mulk ayat 16 adalah Allah yang mengurus dan memiliki langit, seperti ungkapan “Fula>n ‘ala> al-Ira>q wa al-hija>z (Fulan
90
Adapun penyifatan Allah dengan ketinggian dan keagungan bukanlah dalam makna tempat, arah dan batasan karena hal itu adalah sifat bagi Jisim (susunan materi). Sesungguhnya tangan diangkat ke arah langit waktu berdoa tidak lain karena langit adalah tempat turunnya wahyu dan hujan, tempat kesucian, tempatnya para malaikat yang suci dan ke langit itulah amal manusia diangkat. Di atasnya ada Arash Allah dan surga-Nya. [Mengangkat tangan ke langit itu] sama seperti Allah menjadikan Ka'bah sebagai kiblat bagi doa dan shalat. Juga sebab Allah adalah pencipta dari semua tempat sedangkan Dia sendiri tidak butuh pada tempat. Allah telah ada pada masa yang tidak ada awal mulanya sebelum Ia menciptakan tempat dan waktu. Saat itu tiada tempat dan tiada waktu sedangkan Allah saat ini tetap seperti apa adanya saat itu.”51
Al-Qurt{ubi menafsirkan ayat ini menggunakan pendekatan linguistik dan logika. Maksudnya, ia memilih makna kebahasaan kata istawa>’ yang sesuai dengan konteks ayat dan juga yang sesuai dengan kesucian Allah dari keserupaan dengan makhluk.
2. Analisis Ayat-Ayat Hukum