• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

B. Hasil Penelitian

3) Disabilitas Intelektual Kategori Berat di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo

Kategori ini bisa diartikan kategori yang banyak memerlukan pengawasan serta pengendalian dan pengasuhan baik dari keluarga itu sendiri maupun masyarakat sekitar di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo. Sebagian besar kategori berat disandang pada warga disabilitas intelektual serta penyandang bisu sekaligus. Dimana perilaku dan tindakan warga tersebut merupakan aktifitas yang ekstrim dalam kesehariannya. Variasi perilaku dan tindakan salah satunya seperti yang diutarakan oleh Tkh sosok ibu dalam satu keluarga yang memiliki anak penyandang disabilits intelektual kategori berat serta bisu yaitu mengutarakan sebagai berikut:

“Rewel terus, gawene nguntali watu-watu soko njobo gowo ngarep omah, kadang niku ditinggal lungo nyang gogo sakdelo muleh wes kebak watu omahe karo nangis-nangis nggaor-nggaor niku. Mangane jowo nanging ora jowo golek pangan, umbah-umbah yo mboten saged mboten gelem. Bendino kudune diopeni, dijogo yo ditunggu, dawasi ngene iki bendino lek mboten walah mpun mambrah-mambrah runtahe. Boro-boro masak, umbah-umbah piring wae mboten saged namung dadi gawe. Penting barang dijogo, pinggir-pinggire ojo nganti enek barang-barang atos lan landep mbok menowo mbilahi, diadohi kalih lare alit, prentah tonggo sing lanang menowo kulo mboten kua t ngatani

ngrumongso mpun sepuh niki” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 1, 9 Januari 2016).

Informasi tersebut bermaksud bahwa tunagrahita dalam kategori berat lebih cenderung rewel terus, biasanya melempari batu dari luar ke depan rumah dan menangis njerit-njerit. Makannya jawa tapi tidak jawa mencari makanan, nyuci tidak bisa dan tidak mau. Setiap hari harus dirawat, dijaga juga ditunggu, diawasi setiap hari menghindari berantakan. Jangankan masak, nyuci piring saja tidak bisa yang ada hanya menambah kerjaan. Yang penting barang-barang dijaga, dipinggir-pinggir rumah jangan sampai ada barang-barang keras dan tajam barangkali membahayakan, dijauhkan dari anak kecil, menyuruh tetangga yang laki-laki apabila tidak kuat mengatasi karena berhubung sudah tua. Gym juga menjelaskan hal yang sama sebagai keluarga disabilitas intelektual kategori berat yaitu Painten sebagai kakak saudarinya. Diantaranya mengutarakan sebagai berikut:

“Gaweane dolan kalih mangan, paling sapu-sapu tok. Nangis, nesu piyambak mpun biasa, kabeh mpun mboten cetho namung dadi gawe lek kumat nopo mboten bombong, kedah ditunggu, diomei kedahe nanging ngomei damel saene mboten ngomei mergo mboten seneng, diewang-ngi karo tonggo biasane podo-podo ngopeni yo njogo mergo ngamuk barang dadi rusake ra iso ndandani yo tambah repot. Lha bade kepripun malih kados niku. Mpun mboten saged nyambut damel nopo-nopo, gaweane

melbu metu omah lungguh neng emperan” (Sumber: Wawancara

berdasarkan panduan wawancara no: 1, 10 Januari 2016).

Hal tersebut berarti kaum tunagrahita kategori berat dalam kesehariannya hanyalah main dan makan, paling nyapu. Menangis, marah sendiri, semua sudah tidak jelas hanya menjadi beban kalau sedang kumat atau tidak senang, harus ditunggu, dimarahi bisanya namun memarahi untuk kebaikan bukan berarti memarahi karena tidak menyukai keberadaannya, dibantu dengan tetangga merawat dan menjaga karena ngamuknya merusak barang-barang sehingga semakin merepotkan. Tida ada aktivitas yang bermanfaat lain selain duduk menunggu emperan. Sedangkan Gdr yang memiliki anak kandung penyandang disabilitas intelektual kategori berat serta bisu juga menambahkan sebagai berikut:

“Sabendino kluyuran rono rene luweh bali mangan, golek yotro ga iso, mboten jowo, pekok sawumbarange anane namung dadi gawe bendino diawasi, diopeni sak-sake mergo lek nesu mpun mboten karuan, nangis yo gawene nangis. Mpun mboten cetho nopo-nopo, mangan dijupuk ke, piring disinggahke poke mpun wareg yowes gari ngopo karepe. Wes poke diadohke karo barang-barang sing penting mbok menowo dibuang, ugo ojo ngatoni barang-barang landep menowo

ngrusak deweke opo wong liyo” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 1, 14 Januari 2016).

Dalam penuturan tersebut bermaksud bahwa kaum difabel berat dalam kesehariannya hanyalah main dan makan, tidak bisa usaha, tidak jawa, segala aktivitas hanyalah menjadi beban untuk mengawasi, hanyalah dirawat sebisanya karena kemarahan tidak kontrol. Hal lain yaitu tidak bisa beraktivitas, seperti makan diambilkan, dan disinggahkan. Yang terpenting adalah dijauhkan dari baragng berharga, benda tajam. Hal tersebut juga dibenarkan adanya oleh PM sebagai Jogoboyo di Dusun Tanggungrejo sebagai berikut:

“Yo gaweane namung mangan, jowo mangan nanging mboten jowo nggolek pangan. Mangane ora sudo nanging usahane utowo mentale ora mumpuni. Wis arepo pie pie ndadekno tuno kegayuhane, segi opo wae wis ra iso nggayuh, nggayuh mangan, nyandang, nyambut gawe kurang, dadi tuno grahita, dadi tunagrahita niku tuno kegayuhane segi opo ae wis ra iso mampu , ra iso jalan, tuno tujuane, tuno kebijaksanaane, ketekadanane ra nduwe, dadi tuno kabeh. Wis mendho-mendho, usahane yo wes ra iso, mleot usahane sak rupo-rupo, omong yo ra iso, calok wes ra iso, calok wes ra jowo, usahane maneh ra mleoto, tuno pegaweane tuno sawumbarange. Sabendino kabeh-kabeh ngawasi kabeh-kabeh ra keno nggawe jalaran nesu mbuh kui kluargone mbuh kui tonggo-tonggo mergo lek mboten podo ngopenine bebareng lek wonten kedaden nopo-nopo

nggih kabeh ngroso” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan

wawancara no: 2, 7 Januari 2016).

Maksud dari informasi tersebut adalah kaum tunagrahita kategori berat kerjanya hanyalah makan, makannya tidak kurang namun usahanya atau mentalnya tidak bisa mandiri. Merupakan sosok yang rugi harapan, harapan makan, nyandang, kerja, jadi tunagrahita itu rugi harapannya segi apa saja sudah tidak mampu, tidak bisa berjalan, rugi tujuannya, rugi kebijaksanaannya, ketakadannya tidak ada, tidak bisa usaha, komunikasi tidak bisa, akhirnya rugi pekerjaannya rugi segalanya. Setiap hari semuanya mengawasi semuanya tidak boleh membuatnya terpancing marah entah keluarga atau tetangga karena kalau tidak bersama merawatnya apabila ada kejadian sesuatu semua merasakan.

Gambar 4.7

Keluarga Disabilitas Intelektual Kategori Berat (Sumber: dokumentasi oleh Munggono, 2016)

Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat disarikan bahwa disabilitas intelektual kategori berat merupakan warga penyandang yang memerlukan pengawasan, penjagaan, pengasuhan serta pendampingan secara terus menerus baik dari anggota keluara terkait maupun dari warga masyarakat sekitar di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo. Diantara pengendali tersebut karena mereka berkecenderungan memiliki aktifitas yang dipandang dapat merugikan baik bagi keluarga itu sendiri maupun masyarakat sekitar seperti mengamuk, merusak barang, menangis berlebihan, mengganggu tetangga. Dalam kesehariannya hanyalah makan, main dan tidak bisa bekerja sama sekali. Selain itu sebagian besar menyandang disabilitas intelektual kategori berat juga penyandang difabel bisu sekaligus sehingga tidak bisa berkomunikasi hanyalah diam diri dan atau menangis.

Terkait dengan kondisi tersebut banyak ragam pula strategi untuk mengatasinya terutama dijauhkan dari anak-anak kecil maupun warga yang lemah, dijauhkan dari barang-barang benda tajam serta barang-barang berharga. Selain itu melibatkan warga sekitar terutama tindakan yang bersifat fisik hanya tidak dengan diberi kekerasan hanyalah menjaga secara fisik untuk menghindari serta menjauhkan dari tindakan yang bersifat merugikan. Untuk lebih mempermudah pemahaman terkait perilaku maupun tindakan yang merugikan kaum disabilitas intelektual baik kategori ringan, sedang maupun berat, disederhanakan dalam tabel mariks berikut:

Matriks 4.5

Tindakan Kaum Difabel Kategori Berat yang Dianggap Merugikan serta Strategi Solusi dalam Mengatasinya di Kampung Tunagrahita

Tindakan Merugikan Strategi Solusi

1. Cenderung merusak, aktivitas tindakan berkecenderungan dapat merugikan baik keluarga dan lingkungan seperti mengamuk, merusak barang, menangis berlebihan, mengganggu tetangga.

2. Cenderung pasif, aktivitas kesehariannya hanya makan, main dan tidak bekerja. 3. Tidak bisa berkomunikasi,

diam diri.

Selain dengan solusi strategi kategori ringan dan sedang, yaitu perlu adanya: 1. Peran keluarga, memerlukan

pengawasan, penjagaan, pengasuhan serta pendampingan ekstrim dan secara terus menerus.

2. Peran lingkungan, perlu adanya peran lingkungan dalam nasehat, penjagaan, pengendalian,

pendampingan apabila terdapat tindakan yang melibatkan fisik. 3. Dijauhkan dari bahaya, bahaya

bagi dirinya maupun orang lain (benda tajam, kaum lemah, barang berharga, anak kecil)

4. Mendeteksi indikasi (menagis: lapar, haus, sakit, ingin ganti baju, dll; menggigil: kedinginan; )

Sumber: Disarikan dari hasil wawancaraberdasarkan pedoman wawancara no: 1-2, Januari 2016.

h. Kelebihan Maupun Keahlian Penyandang Difabel Mental, Difabel Fisik Dan Mental Sekaligus Serta Strategi dalam Membentuknya

Pada dasarnya setiap manusia memiliki kelebihan serta kekurangan dalam hal bertindak baik terhadap sesama manusia dalam sosial masyarakat, terhadap lingkungan alam serta kepada Yang Maha Esa, dengan adanya keduanya maka bisa menjadikan sebuah proses perbaikan demi perbaikan dari waktu demi waktu dalam memperjuangkan hidup di dunia ini. Dalam kaitannya dengan kelebihan yang dimiliki oleh warga penyandang disabilitas intelektual di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo dapat digambarkan berdasarkan survey dan wawancara di lokasi tersebut. Diantaranya masing-masing memiliki aktivitas yang khas serta berfariasi yang dapat membantu meskipun dianggap tidak maksimal seperti warga normal baik dalam bidang pertanian, peternakan maupun buruh serta kegiatan-kegiatan maupun ativitas lain yang bermanfaat bagi

kelangsungan hidup warga terkait. Hal ini karena pada dasarnya Dusun Tanggungrejo telah mengalami banyak perubahan baik dilihat dari pengembangan infrastruktur maupun fasilitas dan kegatan-kegiatan sosial kemasyarakatan lain yang dapat membantu perekonomian maupun sumber daya manusia dalam memperjuangkan supaya masyarakat dapat bertahan hidup maupun meperbaiki pola kehidupan baik bagi masyarakat normal maupun penyandang difabel mental maupun fisik dan mental sekaligus melalui keterlibatan dan peran aktif kaum difabel tersebut.

1) Kelebihan yang Dimiliki Oleh Penyandang Disabilitas Intelektual Kategori