• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

D. Teknik Pengambilan Kasus

Teknik pengambilan kasus dalam Penelitian ini yaitu pengambilan kasus ekstrim. Kasus ekstrim (extreme case) atau tipikal (typical case) untuk mengungkapkan lebih banyak informasi karena mereka mengaktivasi mekanisme yang lebih mendasar dan lebih banyak figur dalam situasi yang diteliti dan selain itu, studi kasus berangkat dari sebuah perspektif yang berorientasi kepada pemahaman dan berorientasi kepada perilaku yang bagaimana yang diperbuat oleh para responden (Slamet, 2014:57). Kasus ekstrim dalam penelitian ini yaitu praktik strategi kelangsungan hidup keluarga difabel miskin di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo.

Sedangkan pengambilan sampel menggunakan teknik sampel variasi maksimum (maximum variation sampling). Dimana strategi pengambilan sampel variasi maksimum dimaksudkan untuk dapat menangkap atau menggambarkan suatu tema sentral dari studi melalui informasi yang silang menyilang dari berbagai tipe responden. Logika dari pengambilan sampel variasi maksimum adalah sebagai berikut: pola-pola umum yang muncul dari variasi-variasi yang besar menjadi perhatian khusus dan bernilai di dalam suatu Penelitian (Slamet, 2014:57). Lebih lanjut peneliti memilih strategi pengambilan sampel variasi maksimum bukan bermaksud untuk menggeneralisasikan penemuannya, melainkan mencari informasi yang dapat menjelaskan adanya variasi serta pola-pola umum yang bermakna dalam variasi tersebut .

Informan utama dalam penelitian ini berjumlah 18 orang yang terdiri dari keluarga pelaku penyandang difabel mental, difabel fisik dan mental sekaligus di Desa Karangpatihan yang dipandang sebagai aktor dan dipilih berdasarkan klasifikasi matapencaharian (petani, peternak dan buruh tani) dan jenis kecacatan (cacat mental, cacat fisik dan mental) di Desa Karangpatihan.

Informan yang dianggap dapat memberikan informasi berkaitan dengan permasalahan penelitian adalah:

1. Keluarga penyandang difabel mental di Dusun Tanggungrejo berjumlah 12 keluarga.

2. Keluarga penyandang difabel fisik dan mental di Dusun Tanggungrejo berjumlah 6 keluarga.

Pengambilan jumlah tersebut berdasarkan Data Profil Dusun tanggungrejo dengan pengambilan 25% dari 44 keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang cacat mental dan 25% dari 16 keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang cacat fisik dan mental sekaligus di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo dengan jumlah keseluruhan 64 keluarga. Selain itu, dalam penelitian ini masyarakat sekitar di luar Dusun Tanggungrejo dari golongan pejabat atau pegawai instansi pemerintahan Kelurahan Karangpatihan maupun wisatawan dari masyarakat umum dengan klasifikasi usia tua dan muda juga dilibatkan untuk peran baik pemerintah maupun swasta dan sebagai validitas data dengan teknik triangulasi sumber.

Adapun hasil penelitian dari Praktik Strategi Kelangsungan Hidup Masyarakat Difabel di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo bahwa informan dalam penelitian ini adalah para pelaku Praktik Strategi Kelangsungan Hidup Keluarga Difabel di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo berdasarkan keluarga yang memiliki klasifikasi jenis kecacatan (cacat mental, cacat fisik dan mental) yang memiliki klaster tingkatan (ringan, sedang dan berat) di Kampung Tunagrahita, status sosial dalam masyarakat, instansi pemerintah dan instansi Kelurahan Desa Karangpatihan dan swasta berdasarkan klasifikasi usia tua dan usia muda. Maka informan yang dianggap dapat memberikan informasi terkait permasalahan penelitian diantaranya adalah keluarga masyarakat yang memiliki jiwa penderita disabilitas intelektual pada tingkat ringan, keluarga masyarakat yang memiliki jiwa penderita disabilitas intelektual pada tingkat sedang, keluarga masyarakat yang memiliki jiwa penderita disabilitas intelektual pada tingkat berat, keluarga masyarakat yang memiliki jiwa penderita cacat fisik dan disabilitas intelektual sekaligus, instansi

pemerintah berdasarkan klasifikasi usia tua, instansi pemerintah berdasarkan klasifikasi usia muda, instansi swasta berdasarkan klasifikasi usia tua, instansi swasta berdasarkan klasifikasi usia muda. Sedangkan untuk validitas data dengan triangulasi sumber, informan yang dipilih adalah masyarakat sekitar di luar Kampung Tunagrahita dari golongan pejabat atau pegawai instansi Kelurahan Purbayan maupun wisatawan dari masyarakat umum dengan klasifikasi usia tua dan muda. Selanjutnya dijelaskan secara rinci dalam menggambarkan data informan penelitian dan relevansinya antara informan dengan fokus penelitian, profil serta relevansi informan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Smn merupakan sesepuh di kompleknya yaitu Rt 06 Rw 02. Umur beliau sudah mencapai 80 Tahun lebih dan masih kelihatan muda. Beliau sebagai kepala keluarga dan sosok yang menjadi pembimbing dan tuntunan keluarga baik secara sepiritual maupun material. Meskipun sudah dianggap sebagai sesepuh, beliau tetap bekerja keras sebagai tumpuhan untuk mencukupi kebutuhan keluarga bersama anaknya yang sudah berkeluarga namun tinggal bersama dalam satu rumah. Sebagian besar anaknya sudah berkeluarga dan punya rumah sendiri dan beliau sudah memiliki cucu. Pekerjaan beliau dalam kesehariannya sebagai petani, terkadang buruh tani ke tetangga maupun saudara dan dalam aktifitas tersebut disambi dengan pelihara ternak sapi dan kambing. Dalam sepanjang pengalaman hidupnya, beliau termasuk sosok yang banyak melewati peristiwa penting di Dusun Tanggungrejo sehingga beliau termasuk sesepuh yang bisa memberikan informasi tentang sejarah dan periode peristiwa yang terjadi di daerahnya dari masa penjajahan, masa babi hutan dan kera, dan masa tikus. Sedangkan Bapak Bakir itu anak pertama dari beliau berumur 50 Tahun yang mengalami keterbelakangan mental atau tunagrahita. Bapak Bakirlah sejak masih di dalam kandungan sampai terlahir umur 3 Tahun di daerah tersebut dalam masa penyerangan tikus pasca masa celeng/ babi hutan. Sejak kecil mengalami keterbelakangan mental atau disabilitas intelektual kategori sedang dan menyandang bisu. Berdasarkan relevansi latar belakang tersebut, maka beliau dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus peneitian.

2. Gym merupakan sosok kepala keluarga berumur 40 Tahun dan tinggal bersama adik laki-laki yaitu Dayat dan ibu kandung yaitu Painten. Keluarga tersebut merupakan keluarga dalam kategori miskin menurut data profil Dusun Tanggngrejo dan merupakan keluarga disbilitas intelektual yaitu Dayat beserta ibu kandungnya. Beliau bekerja sebagai petani, buruh tani dan ternak kambing serta lele. Sedangkan dayat bisa bekerja namun hanya kerja tabi pribadi tidak bisa buruh tani. Berhubung tidak bisa buruh tani maka belian terkadang mencari batu dan dijual untuk membantu penghasilan kakaknya. Keluarga tersebut sebenarnya terlahir dari keluarga yang tergolong miskin namun berada, berada dalam artian banyak tenaga yang mencari nafkah, banyak tabungan baik barang maupun ternak, namun semenjak ditinggal bapaknya akhir-akhir ini hidupnya menjadi semakin miskin. Hal tersebut disebabkan pada masa setelah meninggalnya bapak, hanya Ibu Gym lah yang menjadi tumpuan penerus keluarga untuk menghidupi sudara dan ibu kandungnya yang sudah lemah. Berdasarkan relevansi tersebut, maka beliau dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus peneitian di Kampung Tunagrahita.

3. Jmt adalah seorang warga Kampung Tunagrahita di Dusun Tanggungrejo RT 02 RW 02. Beliau beumur 55 tahun. Ibu Jmt adalah salah satu kepala keluarga yang memiliki dua anak yaitu anak pertama Pairan dan anak kedua Maseri. Beliau adalah seorang janda sehingga menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi anak-anaknya dan hanya mampu menyekolahkan Maseri sampai dengan Sekolah Dasar. Dalam kehidupan sehari-hari aktifitas beliau adalah sebagai petani jagung, kacang dan ketela, kadang buruh matun, gendong dan tandur/tanam. Maseri normal dan bekerja diperantauan namun belum bisa membantu biaya hidup orang tuanya sebagai buktinya selama diperantauan, pulang tidak membawa uang padahal pada saat pemberangkatan dijualkan tanah untuk sangu atau biaya perjalanan dan makan dalam pencarian pekerjaan. Keluarga ibu Jmt merupakan salah satu keluarga yang memiliki jiwa penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita yaitu Pairan. Pairan berusia 42 tahun yang menyandang disabilitas mental kategori sedang. Dengan latar belakang tersebut,

maka Ibu Jmt dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus penelitian yang dilakukan di Kampung Tunagrahita

4. Ktn adalah salah seorang warga Dusun Tanggungrejo Desa Karangpatihan RT 05 RW 02. Beliau berusia 40 tahun. Sosok ibu yang ditinggal suaminya merantau selama 3 tahun di Kalimantan. Selama suami merantau di Kalimantan tidak pernah mengirimkan uang kepada ibu Ktn sebagai isterinya. Ibu Ktn bekerja sebagai petani, buruh tani dan ternak. Dalam bidang pertanian segala macam pekerjaan dilakukan oleh ibu Ktn termasuk pekerjaan menurut beliau selayaknya dikerjakan oleh seorang laki-laki diantaranya danger, mencangkul untuk penggemburan lahan, nyemprot dan ngerabuk. Segala proses penanaman sampai pada penjualan, hanya terkadang dibantu oleh ibu Budeng yang berusia 56 tahun sebagai ibu kandungnya yang menyandang disabilitas intelektual atau tunagrahit dan bisu dalam kategori sedang. Ibu Ktn dirumahnya tinggal berempat bersama ibu dan dua anak kandungnya. Beliau sosok yang bekerja keras untuk menyekolahkan anaknya dan anak yang pertama telah lulus menempuh perjalanan sekolah SMA dan sedang dalam proses mencari pekerjaan. Sedangkan anak yang kedua masih duduk di Sekolah Dasar kelas enam. Kesemuanya itu merupakan ibu Ktn yang membiayai tanpa bantuan suami, dengan asumsi beliau entah dikumpulkan untuk membangun rumah dan atau ada kepentingan lain. Dengan latar belakang yang dimiliki, diharapkan Ibu Ktn mampu memberikan informasi terkait fokus penelitian yang dilakukan di Kampung Tunagrahita

5. Kdm adalah seorang warga di Kampun Tunagrahita RT 02 RW 02. Beliau berusia 70 tahun. Beliau merupakan sosok janda yang sudah bertahun-tahun ditinggal suaminya meninggal. Ibu Kdm memiliki tiga anak pertama yaitu Kruwet atau pairan, anak kedua Dasri dan yang ketiga baru merantau di Malaysia. Dalam kesehariannya beraktifitas sebagai petani, ternak dan buruh. Dalam bidang pertaniannya ibu Kdm mengerjakan pekerjaan yang ringan seperti matun dan ripu, sedangkan pekerjaan yang berat dikerjakan oleh Dasri dan Kruwet meskipun Kruwet. Keluarga tersebut merupakan keluarga yang memiliki jiwa penyandang disabilitas intelektal yaitu Kruwet. Kruwet berusia 48 tahun terlahir dengan normal, namun pada saat usia 7 bulan mengalami panas sampai kejang atau step,

semakin beranjak besar menderita disabilitas intelektual atau tunagrahita berkategori ringan. Selain menyandang disabilitas intelektual, Kruwet juga terbebani dengan penyakit panggel/gondok di lehernya dan tumbuh lagi dipunggungnya namun tidak mampu berobat karena biayanya yang mahal. Berdasar relevansi tersebut, maka Ibu Kdm dipilih sebagai informan karena dipandang dapat memberikan informasi terkait fokus penelitian.

6. Pni merupakan warga Kampung Tunagrahita di Dusun Tanggungrejo RT 03 RW 01. Beliau berusia 47 tahun dan memiliki satu anak yang merantau di Malaysia. Istri bernama Ibu Parni berusia 42 tahun. Bapak Pni i sebagai kepala keluarga merupakan tumpuan kelangsungan hidup keluarganya untuk mencukupi kebutuhannya yang dibantu dan didampingi oleh sosok istri. Beliau berperan mengatur keluarga dan adiknya yang mengalami disabilitas intelektual atau disebut oleh masyarakat sebagai penyandang tunagrahita yaitu untuk bisa bekerja dan melestarikan warisan dari orangtuanya. Pekerjaan beliau seperti pada umumnya yaitu sebagai petani, buruh dan peternak. Sedangkan istrinya sebagai ibu rumah tangga, selebihnya mambantu pekerjaan suami yang tergolong ringan yaitu lipu, matun, nanam, gendong dan merumput sebagai bawaan pulang selekas kerja. Sedangkan pekerjaan suami yaitu mencangkul, memikul pupuk, ngerabuk, merumput, danger, dan aktifitas tersebut dibantu oleh Miswan sebagai adiknya yang mengalami disabilitas intelektual kategori ringan namun tugas pokok Miswan yaitu merumput untuk melestarikan warisan sapi dua ekor dari orangtuanya. Berdasar relevansi yang ada, maka Bapak Pni dipilih sebagai informan karena dipandang dapat memberikan informasi terkait fokus penelitian. 7. Snn merupakan warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo di Desa

Karangpatihan RT 04 RW 01. Usia beliau 48 tahun dan pendidikan terakhir taman Sekolah Dasar. Dalam satu keluarga tersebut terdapat enam jiwa diantaranya Bapak Snn dan istri beserta dua anak, Mbah sebagai orang tua Semok. Aktifitas keseharian Bapak Snn sebagai kepala keluarga adalah petani, peternak dan kerja bangunan. Beliau adalah sosok yang berusaha untuk menyekolahkan anaknya setidaknya sampai SMA. Anak yang pertama duduk di bangku SMA kelas dua dan anak yang ke tiga masih duduk di Sekolah Dasar kelas dua. Beliau adalah

sebagai penopang keluarga dalam mencukupi kebutuhannya, dibantu dengan istri dan mbahnya. Keluarga tersebut merupakan salah satu keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas intelektual atau yang disebut masyarakat sebagai tunagrahita namun masuk dalam kategori sedang yaitu Ibu Semok. Ibu Semok berusia 45 tahun dan merupakan adik kandung Bapak Snn. Aktifitas Ibu Semok yaitu membantu pekerjaan di kebun dan dirumah yang bersifat ringan dan mudah dipahami dan tidak mendapat kerugian apabila terdapat aktifitas yang tidak diinginkan. Aktifitas yang dikerjakan Ibu Semok diantaranya yaitu ripu, matun, membawa rerumput, membuat kerajinan keset dan bersih-bersih rumah. Sehingga berdasarkan relevansi tersebut beliau dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus penelitian ini.

8. Spn adalah warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo Desa Karangpatihan RT 02 RW 02. Ibu Spn berusia 70 tahun. beliau tidak Sekolah Dasar, beliau hanyalah mengikuti sekolah buta huruf. Keseharian beliau yaitu buruh, bertani dan ternak kambing bantuan. Beliau adalah seorang janda tua yang ditinggal suaminya meninggal bertahun-tahun. Beliaulah yang menghidupi kedua anaknya sebagai penyandang disabilitas intelektual keduanya yaitu Bodong yang masuk dalam kategori sedang dan bisu sedangkan jamun yang masuk dalam kategori berat dan juga bisu. Bodong berusia 36 tahun dan Jamun berusia 33 tahun. Pekerjaan Ibu Spn hanyalah menanam jagung, ketela untuk makanan pokok dan padi kalau hujannya memadai. Sedangkan yang membuat penataan lahannya yaitu Bodong termasuk perawatannya. Selain itu Bodong juga merumput untuk kambing ternaknya yang diperoleh dari bantuan. Pada tahap tanaman sedang dalam masa perawatan ditinggal Ibu Spn buruh di tetangga diantaranya buruh matun, tandur atau tanam, ripu, dan atau gendong itupun hanyalah kalau ada dan hanya di musim penghujan, ketika kemarau atau musim paceklik beliau hanyalah repek di hutan dijual per giling untuk betahan hidup karena semua warga tidak bisa menanam dimusim ketigo/kermarau. Sedangkan Jamun sebagai adik dari Bodong tidak bisa bekerja sama sekali, hanyalah jaga rumah dan jaga lurung/jalan gang. Dari kondisi keluarga Ibu Spn tersebut maka relevan dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus penelitian ini.

9. Nmk adalah warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo Desa Karangpatihan RT 05 RW 02. Ibu Nmk berusia 69 tahun. Beliau tidak sekolah dan memiliki satu anak perempuan bernama Cikrak yang berusia kurang lebih 50 tahun dan tidak memiliki suami. Cikraklah yang menyandang disabilitas intelektual berkategori berat dan bisu. Keseharian beliau yaitu buruh, bertani dan ternak kambing bantuan dan momong anak. Beliau adalah seorang janda tua yang ditinggal suaminya meninggal bertahun-tahun. Beliaulah yang menghidupi anaknya yang menyandang disabilitas intelektual kategori berat. Keluarga Ibu Nmk sebenarnya keluarga miskin namun berada. Berada dalam arti meskipun miskin namun memiliki banyak tabungan dan barang yang berharga pada saat suami masih hidup. Namun setelah meninggalnya sosok suami maka Ibu Nmk tidak bisa mengolahnya, kesemuanya itu dijual dan merupakan bagian dari cara untuk bertahan hidup. Sehingga berdasarkan relevansi tersebut beliau dipilih untuk memberikan informasi terkait fokus penelitian ini.

10.Sim merupakan warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo RT 02 RW 02. Usia beliau 57 tahun memiliki satu anak laki-laki sedang dalam perantauan di Malaysia. Pendidikan beliau dan istrinya yaitu tamat Sekolah Dasar. Belau dirumahnya tinggal bersama istri dan adik perempuannya yang bernama Sami. Sebagai kepala keluarga, dalam aktifitas kesehariannya beliau bekerja sebagai petani, buruh dan peternak. Dalam aktifitas tersebut dibantu oleh istrinya. Keluarga tersebut merupakan keluarga yang memiliki jiwa penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita dalam kategori sedang yaitu Mbak Sami. Mbak Sami berusia 53 tahun. Dalam kesehariannya Mbak Sami bekerja membantu Ibu Gimun sebagai seorang istri Bapak Sim, diantaranya yaitu membersihkan rumah, cuci gerabah, tanam, matun dan merumput sehingga keluarga tersebut relevan untuk dipilih dalam memberikan informasi terkait fokus penelitian.

11.Sni merupakan warga Kampung Tunagrahita di Dusun Tanggungrejo RT 01 RW 01. Usia beliau 42 tahun. Pendidikan terakhir tamat Sekolah Dasar. Beliau adalah seorang janda yang ditinggal suaminya dua kali diantaranya suami yang pertama cerai dan suami yang kedua meninggal. Beliau memiliki satu anak laki-laki yang sudah berkeluarga ikut mertua dan sedang dalam perantauan di Malaysia.

Aktifitas beliau sebagai petani, buruh, ternak sapi dan kambing. Pada saat aktifitas pertanian, beliaulah yang mengerjakan segala pekerjaan dibidang pertanian dari mencangkul, danger, rabuk, penanaman dan perawatan sampai pada pemanenan. A Diantara sela-sela stuktur aktifitas pertanian tersebut beliau meninggalkan tanamannya untuk buruh di tempat tetangga maupun saudaranya. Aktifitas pertanian dibantu oleh Mbak Wiji sebagai kakaknya namun hanya sebatas pekerjaan-pekerjaan tertentu yang bersifat ringan dan mudah dlakukan serta tidak begitu merugikan apabila ada kesalahan. Mbak Wiji merupakan sosok perempuan yang menyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita atau tunagrahita dalam kategori ringan. Usia beliau 55 tahun. Bertani dan buruh hanya pada saat musim penghujan tiba, dimusim kemarau tidak ada pekerjaan termasuk di pertaniannya sendiri, aktifitasnya hanyalah merumput sedapatnya, membuat arang dan repek untuk dijual. Berdasarkan relevansi tersebut sehingga Ibu Sni dipilih sebagai informan untuk memberikan informasi daripada fokus penelitian.

12.Tkj adalah warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo RT 06 RW 02. Usia beliau 49 tahun dengan pendidikan terakhir Sekolah Dasar. Dalam keluarga tersebut diantaranya Bapak Tkj sebagai kepala keluarga, istri, tiga anak kandung, ibu dan adik yang bernama Gimun. Pekerjaan beliau sebagai petani, buruh dan ternak. Sebagai kepala keluarga, beliaulah sebagai penopang segala kebutuhan dibantu dengan istri, ibu dan adiknya. Istri membantu pekerjaan yang bersifat ringan dan merumput sedangkan ibunya mengurus rumah dan cucunya. Keluarga tersebut merupakan keluarga yang memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas intelektual berkategori sedang yaitu Gimun. Sejak kecil gimun menderita disabilitas intelektual namun bisa bekerja membantu pekerjaan kepala keluarga diantaranya seperti mencangkul, merawat tanaman dan merumput selain itu juga mengikuti kegiatan sosial kemasyarakatan seperti kerja bakti, kenduren/tahlil dan arisan, membuat keset dan ternak lele. Dari aktifitas dan kondisi keluarga tersebut, maka beliau dipandang dapat memberikan informasi terkait fokus penelitian.

13.Tkh merupakan warga Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo RT 06 RW 02. Beliau berusia 72 tahun. Ibu Tkh merupakan sosok janda yang ditinggal suami

meninggal. Dirumahnya hanya tinggal bersama satu anak perempuannya yaitu Gareng. Beliau salah satu yang mendapatkan bantuan rumah tempat tinggal. Pekerjaan beliau sebagai petani di lading bawon/tanah sewa, buruh dan ternak kambing dari bantuan. Semenjak disebut sebagai Kampung Tunagrahita beliau sering tinggal dirumah karena menunggu datangnya bantuan baik dari pemerintah maupun swasta baik berupa sembakau maupun peralatan dan perlengkapan untuk kehidupannya, disela-sela tersebut disambi repek/mencari kayu untuk dijual dan merumput. Akhir-akhir ini beliau sudah tidak lagi bekerja buruh di tetangga berhubung kondisi fisik yang semakin melemah dan sepuh selain itu juga momong Gareng yang menyandang disabilitas intelektual kategori berat karena sering bertindak yang tidak diinginkan seperti melempari batu ke rumah, menangis, dan ngamuk-ngamuk. Usia Gareng 54 tahun, sejak lahir menderita tunagrahita. Kesehariannya Gareng hanyalah dirumah sebagai teman Ibu Tkh. Berdasarkan relevansi tersebut, maka beliau dipilih sebagai informan untuk memberikan informasi terkait fokus penelitian.

14.Wdi adalah warga Dusun Tanggungrejo RT 05 RW 01. Beliau berusia 50 tahun. Bapak Wdi tinggal bersama Ibu Sarinem sebagai istri dan Agung anak laki-laki satu-satunya. Keluarga tersebut merupakan keluarga yang memiliki anggote penyadang disabilitas intelektual kategori ringan dan sedang. Ibu Sarinem berusia 48 tahun menyandang disabiolitas intelektual kategori ringan sedangkan anaknya berusia 8 tahun tidak sekolah dan menyandang disabilitas intelektual kategori sedang. Keluarga beliau merupakan salah satu keluarga sangat miskin dan penyandang tunagrahita yang tidak mendapatkan bantuan rumah meskipun rumah bambunya hampir roboh. Pekerjaan Bapak Wdi sebagai kepala keluarga yaitu bertani, buruh dan berternak. Pekerjaan seorang istri hanyalah mengasuh anak, dan ibu rumah tangga, membantu pekerjaan suami hanya kadang-kadang pada saat ada keinginan. Sedangkan Bapak Wdi dalam kehidupannya sering sakit-sakitan diantaranya tenaganya yang mudah mengalami kelelahan, demam dan pusing apabila tidak meminum kopi dan merokok hal ini merupakan bagian dari hambatan dalam kerja di tetangga atau buruh. Dari kondisi tersebut sehingga

beliau relevan dijadikan informan dalam memberikan informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian.

15.Pmn adalah warga Kampung Tunagrahita di Dusun Tanggungrejo RT 05 RW 02. Usia beliau 48 tahun tinggal bersama Ibu Parni sebagai istrinya dan Ibu Woni sebagai ibu kandungnya. Beliau merupakan keluarga yang belum memiliki anak. Dalam satu keluarga tersebut tidak ada yang sekolah. Pekerjaan beliau sebagai petani, buruh, ternak dan pencari batu. Sedangkan Ibu Parni sebagai ibu rumah tangga dan membantu pekerjaan suami dalam proses pertanian serta disambi dengan merawat ternak dan membuat keset. Ibu Woni sebagai ibu kandung bekerja sebagai pembuat tempe untuk dijual keliling kepada pedagang dan tetangga. Keluarga tersebut merupakan kaluarga yang memiliki anggote keluarga penyandang tunagrahita atau disabilitas intelektual kategori ringan yaitu Ibu Parni berusia 40 tahun sebagai istri Bapak Pmn. Keluarga tersebut merupakan keluarga