• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelebihan yang Dimiliki Oleh Penyandang Disabilitas Intelektual Kategori Ringan dan Sedang serta Strategi Pembentukannya

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian

B. Hasil Penelitian

1) Kelebihan yang Dimiliki Oleh Penyandang Disabilitas Intelektual Kategori Ringan dan Sedang serta Strategi Pembentukannya

Kelebihan yang dimiliki dalam karakteristik difabel mental merupakan penyandang disabilitas intelektual yang banyak diantaranya memiliki aktifitas yang dipandang membantu maupun menunjang Strategi Kelangsungan Hidup Keluarga Kampung Tunagrahita di Dusun Tanggungrejo. Aktivitas tersebut tentunya sebagai penunjang dalam berbagai arena bagi keluarga terkait yaitu ranah pertanian dan ranah peternakan namun tidak pada ranah buruh tani. selanjutnya disabilitas intelektual juga memiliki aktivitas dan keahlian tersendiri serta dilibatkan dalam kegiatan lingkungan sosial keasyarakatan sebagai bentuk integrasi di Kampung Tunagrahita Dusun Tanggungrejo. Namun terkait peran disabilitas intelektual yang dipandang menonjol yaitu pada ekonomi yang berdasarkan keahlian dan keadaan tertentu sehingga mendatangkan banyak bantuan sebagai pendukung keluarga terkait utnuk menjaga eksistensi Kampung Tunagrahita melalui praktik-praktik strategi yang dimiliki. Hal tersebut berdasarkan hasil informasi yang salah satunya diperoleh dari Tkj dengan penuturannya sebagai berikut:

“Senajan ngoten niku nggih saget ngopeni kewan, mbantu ngaret,

ngempani kewan, menawi wonten tani nggih saget matun, beduli suket, nggih pedamelan sing ringan-ringan lan gampang tur mboten katah ngrugekne menawi wonten kesalahan. Lek wonten kerja bhakti nggih Gimun tumut, sambatan nopo rewang-rewang tonggo niku sak grubyag grubyuke yo penting melu kados kenduren nyang kluwargo kapesan. Arisan mawon tumut kok, nembe niki malah tumut dameli keset sing diajari kalih Pak Samuji, gek mbien jamane disukani ternak lele nggih ngopeni lele, kantun ngajarine mawon niku kepripun kalih ketelatenane mergo kan kadang angel sok mboten mesti saget nanging dasare sampun

gadah keahlian ternak awit cilik dibelajari bendino karo kluwargo kalih lingkungan dados nggih biasa lek cetho kalih ternak. Ngoten niku nggih kedah katah kesabaran mergo lek mboten sabar nggih nesu piyambak

malah” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 1, 9 Januari 2016).

Hal tersebut dimaksudkan bahwa meskipun tunagrahita mereka bisa pelihara hewan, membantu merumput, memberi pakan hewan, di pertanian kadang matun, beduli suket, yang merupakan pekerjaan ringan-ringan dan mudah serta tidak banyak merugikan apabila ada kesalahan. Aktivitas lain yaitu

sambatan atau bantu-bantu tetangga walaupun ikut-ikutan seperti

kenduren/pengajian ke keluarga yang meninggal, arisan, membuat keset yang diajarkan oleh Bapak Samuji, pelihara lele, karena pada dasarnya dari kecil sudah memiliki keahlian dalam ternak yang dibelajari oleh keluarga dan lingkungan setiap hari sehingga ahli dalam ternak tergantung cara mengajarinya serta ketelatenannya karena terkadang susah dan tidak mesti bisa. Seperti itu kan harus dengan banyak kesabaran. Hal yang senada juga disampaikan oleh Pmn diantaranya dalam penuturannya sebagai berikut:

“Nggih mboten benten kalih tonggo-tonggo, mangsan gawe panganan yo gawe panganan, mangsan nyambut gawe teng gogo yo nyambut gawe teng gogo sak-sake sing pancen mpun dados pendamelane, yo matun yo ripu yo ngaret nggo pakan mendo, kadangan nggih rewang damel tempe buk e, lek seg omber gawean yo nggawe keset kadang moro ngone Pak Samuji kadang dibekto wangsul didamel teng griyo. Tonggo podo dandan yo sak-sake iso macak dandan senajan kadang disawang mboten mathuk lek wonten kondangan” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 1, 14 Januari 2016).

Dari penjelasan tersebu bahwa kaum tunagrahita tidak jauh berbeda dengan tetangga-tetangga, waktunya membuat makanan mereka bikin makanan, waktunya kerja di ladang sebisa-bisanya memang sudah menjadi pekerjaannya seperti matun, ripu, merumput untuk pakan kambing, terkadang membantu membuat tempe ibunya, kalau sedang renggang bikin keset ke rumah Bapak Samuji atau dibawa pulang dibuat dirumah. Tetangga berdandan kondangan sebisa-bisanya juga bisa berdandan untuk kondangan walaupun kadang dilihat tidak cocok.

Gambar 4.8

Ternak Kambing dan Lele Keluarga Disabilitas Intelektual (Sumber: dokumentasi oleh Munggono, 2015)

Pni juga memberikan penjelasan yang sama terkait aktifitas yang dilakukan yang oleh Miswan yaitu sebagai berikut:

“Kabeh sing wes dadi gawene yo dimek, gaweane biasane

ngrumput ngopeni kewan yo ngrumput, bar ngrumput lek pas wonten pegawean teng wono nggih nyambet damel teng wono mbuh niku macul, danger yo mikul,lek buruh yo gawene brayan gawean. Pedamelan teng griyo nggih lek pancen dasare niku pedamelane deweke yo dimek. Neng umah wayah dolan yo dolan, wayah adus yo adus, wayah kerja bakti yo sak-sake tumut kerjo bakti. Nanging kadang lali nggih mpun biasa kantun trampil-trampile mawon ngomongi kalih ngelingke. Kadang lek kerjo bakti dijak kalih tonggo-tonggo kan yo malah semangat ugo bombong”

(Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 1, 12 Januari 2016).

Informasi tersebut menunjukkan bahwa kaum tunagrahuta bisa bekerja apabila kerjaan tersebut merupakan pekerjaannya seperti merumput, pelihara hewan, kerja di ladang seperti mencangkul, danger dan juga mikul, ketika buruh juga brayan / suka berbagi pekerjaan dengan peburuh lain serta aktif kerja di lingkungan rumah dan kerja bakti. Mereka terkadang tahu kapan waktunya main, mandi, kerja. Namun terkadang kelupaan merupakan hal biasa biasa tinggal terampil-terampilnya saja ngomongin dan memberi tahu. Terkadang kalau kerja bakti diajak dengan tetangga-tetangga menjadikan semangat dan merasa senang. SJ juga membenarkan sebagai warga di kampung tersebut dan juga sebagai ketua

LBK yang selalu mendampingi serta mengajari warga disabilitas intelektual dalam hal kerajinan, beliau mengutarakan sebagai berikut:

“Mereka kebanyakan yo tau apa yang harus dilakukan dan apa yang memang sudah menjadi kebiasaannya. Bidang pertanian ya mereka bekerja dibidang pertanian, bidang peternakan juga bekerja dibidang peternakan, bidang kemasyarakatan ya ra ketang melu-melu juga mereka mengikuti. Dengan melihat orang lain melakukan aktifitas tertentu secara terus menerus kan setidaknya menjadikan mereka tau. Hanya memang tidak semuanya akifitas yang mereka tahu dan lihat itu bisa untuk mengerjakannya meskipun hal itu sudah menjadi pekerjaannya, tinggal bagaimana orang-orang terdekat menghadapinya serta mengajarinya karena hal yang sudah bisa pun suatu saat menjadi tidak bisa sehingga mau tidak mau ya diajari lagi, dilatih lagi” (Sumber: Wawancara berdasarkan panduan wawancara no: 2, 20 Januari 2016).

Gambar 4.9

Kerajinan Keset Oleh Warga Disabilitas Intelektual (Sumber: dokumentasi oleh Munggono, 2016)

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut menggambarkan bahwa aktifitas yang dilakukan oleh warga disabilitas intelektual di Kampung Tunagrahita beragam adanya dan dapat membantu dalam kaitanya untuk kelangsungan hidup keluarga yang berkaitan baik berpartisipasi dalam bidang pertanian, peternakan maupun kegiatan-kegiatan pelatihan pelatihan serta kegiatan sosial

kemasyarakatan. Sebagain besar mereka melakukan apa yang memang sudah menjadi bagian dari aktifitasnya atau pekerjaannya, mengerjakan aktifitas yang telah menjadi kebiasaannya dalam kesehariannya. Dalam arena pertanian misalnya, mereka mencangkul, danger, mikul, dan merawat tanaman, sedangkan dalam arena peternakan kebanyakan mereka merumput, memberi pakan dan menjaga ternak, aktivitas lain yaitu seperti pembuatan keset, kendurean/tahlil, kerja bakti dan sambatan sehingga dari aktivitas tersebut secara terus menerus maka terbentuklah keahlian maupun kepekaan terhadap pekerjaan yang sudah menjadi pekerjaannya meskipun terkadang lupa atau marah bahkan malas namun biasanya kembali pada kebiasaan kerjanya. Banyak cara supaya warga tersebut bisa melakukan aktifitas yang dipandang dapat bermanfaat, diantaranya diperoleh dari lingkungan keluarga itu sendiri, dari lingkungan sekitar secara tersu menerus serta dari pihak-pihak yang berpengaruh seperti lembaga-lembaga tertentu dari pemerintah maupun swasta dan berdasarkan keikhlasan serta kepedulian masing-masing. Selain itu, hal tersebut juga membentuk perilaku keluarga terkait serta masyarakat di lingkungan sekitarnya untuk menjadi peduli terhadap sesama manusia, sabar dan teliti.

2) Kelebihan yang Dimiliki Oleh Penyandang Disabilitas Intelektual dan