• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diskursus Sistem dan Struktur Sosial

C. Ulama, Sistem dan Struktur Sosial

2. Diskursus Sistem dan Struktur Sosial

Berdasarkan teori sistem sosial bahwa setiap individu tidak berada dalam kevakuman. Semuanya merupakan makhluk sosial yang berada dan memiliki eksistensi serta senantiasa berhubungan dengan makhluk sosial lainnya. Dalam pandangan Anthony Gidden (2016), dijelaskan bahwa masyarakat merupakan sistem sosial sekaligus pada saat yang tersusun dari huruf qof dan mim, seperti qama (qof-mim-alif) atau aqumu (ya-qof-mim) atau qiyaman ((qof-ya-mim), dan qum (qof-mim) bentuk perintah.

Menunjukan makna dasar berdiri tegak atau bangkit. Sedangkan kata anfus, seakar kata dengan nafs, yang bermakna jiwa, atau diri dalam pengertian daya atau spirit yang tak terindra, tetapi bisa dirasakan. Sehingga inti pesan dalam surat ar-Radu ayat 11tersebut mengandung makna tentang proses perubahan berdimensi spiritual transendental yang memiliki dampak sosial secara horizontal. Lihat Buku, Maulana Janah, Rekayasa Perubahan Sosial, (Jakarta : Mitra Pemuda, 2014), h.27-28.

sama dibentuk oleh persilangan di antara berbagai sistem sosial. Sistem sosial yang beragam tersebut bisa saja sepenuhnya berada ‘di dalam,’

masyarakat, atau mungkin menerobos ‘sisi luar’ dan ‘sisi dalam’, sehingga membentuk keragaman pola-pola hubungan potensial antara totalitas masayarakat dengan sisitem antarmasyarakat.119

Realitas ini merupakan hubungan-hubungan keseimbangan antara hak individu dan tanggung jawab.120Oleh karena itu, model sistem sosial mencakup kesatuan-kesatuan yang saling berinteraksi. Masing-masing kesatuan memiliki bagian-bagian dan setiap kesatuan adalah bagian dari kesatuan-kesatuan yang lebih besar. Suatu sistem merupakan suatu kompleks yang terdiri dari unsur-unsur atau komponen-komponen yang secara langsung atau pun tidak langsung berkaitan sehingga membentuk jaringan kerja yang nyata, yang relatif stabil dalam jangka waktu tertentu.

Ilmu sosiologi menjelaskan tentang teori praktik yang merupakan salah satu jenis dari teori budaya. Teori praktik, menurut definisinya, memusatkan perhatiannya pada, tentunya, praktik. Lalu kemudian apakah praktik itu? Praktik adalah cara bertindak yang dirutinkan dan semua asumsi prateoretis dan rutinitas yang memengaruhi bagaimana kita bertindak, terutama cara kita mangatur tubuh kita, memegang objek, memperlakukan subjek, mendeskripsikan sesuatu, dan memahami dunia.121Teori praktik melakukan hal yang sama bagi cara bertindak yang telah dirutinkan. Oleh karena itu, dalam praktik pengentasan kemiskinan seseorang yang melakukan kegiatan yang rutin dalam bentuk ragam usaha yang ia miliki dalam kehidupan sehari-harinya merupakan praktik dan tindakan yang diorientasikan untuk kemanusiaan.

Sebabnya, dalam teori tersebut ada sejumlah konsep inti yang bisa dipakai untuk melihat teori praktik tersebut, yaitu tubuh merupakan epifenomena yang dipengaruhi oleh, dan bahkan dikendalikan oleh, fenomena lain (pilihan rasional, norma, dan nilai). Selanjutnya adalah pikiran, aktivitas mental, yang berarti bahwa secara sadar mempertimbangkan apa yang akan dilakukan oleh tubuh maupun

119Anthony Gidden, Teori Strukturasi Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat. Penerjemah Maufur dan Daryanto, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2016), h. 252.

120Jusman Iskandar, Teori Sosial, (Garut : Puspaga, 2003), h. 278-279.

121George Ritzer, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), h.

1128-1131.

86

pikiran kita: kita sekedar bertindak dalam suatu cara yang telah dirutinkan.122 Konsep inti berikutnya adalah pengetahuan untuk terjadinya praktik. Pengetahun mencakup cara memahami, mengetahui caranya, cara menginginkan, dan cara merasakan yang saling terkait dalam sebuah praktik. Yang terakhir adalah wacana atau bahasa serta struktur dan proses.123

Tatanan sosial dapat membentuk suatu sistem kemasyarakatan yang berpijak pada nilai dan norma tertentu.124Tatanan masyarakat tersebut dapat menjelma menjadi tatanan masyarakat yang ideal dan sistematik.

Masyarakatnya senantiasa membangun kebersamaan di atas persaudaraan yang tinggi. Memiliki toleransi dan perdamaian menjadi karakter yang inheren dalam jati dirinya. Dalam skala makro, hal tersebut harus masuk ke dalam dimensi, struktur, dan sistem kehidupan manusia yang luas.125Dimensi sistem tersebut tecermin dalam tiga sektor kehidupan, yaitu sektor publik, sektor privat, dan sektor sosial budaya. Sektor publik berkaitan dengan dimensi legislatif, birokrasi, dan yudikatif. Selanjutnya, sektor privat berkaitan dengan dimensi ekonomi. Sektor berikutnya adalah berkaitan dengan dimensi sosial dan budaya. Manusia harus memiliki keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia harus beretika dan beradab yang dicirikan dengan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Hal di atas sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam itu sendiri karena dengan agama manusia akan semakin terarah dalam mengisi kehidupannya sehingga pola keseimbangan (equilibrium)126dalam sistem

122George Ritzer, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern,h.1129.

123George Ritzer, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern,h.1131.

124Jawahir Thontowi, Islam, Politik, dan Hukum, (Yogyakarta : Madyan Press, 2002), h. 101.

125Ada pendapat yang mengatakan bahwa kemiskinan merupakan persoalan struktural. Dalam struktural tersebut ada ketimpangan yang membuat orang miskin tidak bisa mendapatkan akses pekerjaan untuk pengembangan diri. Analisis ini datapat dilihat pada Syarifullah,

‚Penanggulangan Kemiskinan‛, dalam Jurnal Dialog. Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan, ISSN: 126396X, No.2,Vol. 35, (2012), h. 315.

126 Untuk memahami konsep keseimbangan yang mengacu kepada sistem sosial. Para penganut teori fungsional seperti Emile Durkheim, Talcott Parson bahwa salah satu yang ada dalam sistem sosial itu adalah agama, ini akan dapat dipahami apabila memiliki fungsi sosial yang nyata dalam sistem kehidupan manusia sehingga melahirkan konsep keseimbangan tersebut.

kehidupan manusia dapat diwujudkan.127Dimensi-dimensi tersebut menunjukan bahwa terdapat sistem dan struktur social dalam sebuah negara.128Karena itu, dipandang wajar jika setiap individu merupakan agen sosial yang bisa melakukan transformasi sistem melalui tiga dimensi tadi. Dimensi tersebut merupakan bagian dari sistem pemerintahan atau sistem yang ada dalam lingkungan sosial yang berbentuk suatu lembaga formal. Karena itu, lembaga-lembaga tersebut dalam lingkup sistem pemerintahan telah menjadi lembaga yang berhubungan langsung dengan masyarakat.129Seperti lembaga ekonomi, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, serta lembaga-lembaga lainnya telah menjadi bagian dari tiga dimensi yang telah dibahas di atas.

Suatu gambaran untuk menjelaskan sistem dan tatanan sosial terkait dengan posisi ulama atau para pengikut agama yang dikaitkan dengan negara. Sebab, apabila berbicara tentang ulama, hal ini tidak bisa dipisahkan juga dari agama Islam itu sendiri. Pengaruhnya juga bisa dilihat dalam kehidupan negara. Kenyataannya nilai agama menjadi sesuatu yang tidak bisadipisahkan dalam kehidupan manusia.130 Agama

127Sektor tersebut dapat berwujud dalam bentuk lembaga birokrasi, legislatif dan yudikatif untuk sektor publik, kemudian lembaga bisnis atau ekonomi, pelaku bisnis untuk sektor privat dan lembaga pendidikan, seni, budaya, lembaga swadaya masyarakat (NGO), lembaga penelitian, ormas kemasyarakatan dan lembaga-lembaga yang lainnya untuk sosial budaya.

128Disamping merupakan sistem, konsep agama menunjukan bahwa secara sosiologis (fungsional-struktural), agama dapat merubah masyarakat kearah yang lebih produktif dan merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat dihindari. Dengan kata lain, ummat beragama dengan semangat ajarannya, bukan saja memikul tanggung jawab untuk memperkuat nilai-nilai moral, etik dan spiritual sebagai landandasan pembangunan, tetapi juga dituntut untuk memerankan fungsi inspiratif, korektif, kreatif dan integratif agama ke dalam proses-proses sosial sebagai bentuk pengamalan ajaran agama.

129Lembaga atau Pranata Sosial adalah sekumpulan tata aturan yang mengatur interaksi dan proses-proses sosial di dalam masyarakat. Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 48.

130Ada banyak perbedaan pendapat antara sarjana barat dan sarjana muslim dalam memaknai dan mendefinisikan agama. Seperti halnya Harun Nasution yang menjelaskan bahwa agama dapat disebut agama jika telah memenuhi empat unsur yaitu, unsur credial, unsur ritual, unsur ritus serta unsur emosionil. Definisi tersebut sejalan dengan pendapat Yusuf Qordowi yang berpandangan bahwa agama adalah keyakinan akan adanya dzat yang ghaib dan

88

telah menjadi inspirasi, ideologi, dan keyakinan setiap manusia di dunia ini.131

Bahkan, nilai-nilai agama merupakan akar bagi lahirnya ideologi sebuah bangsa. Demikian pula. agama merupakan akar bagi kelahiran negara.132Melihat sistem ini, hampir seluruh dunia telah terinsprasi oleh keyakinan agama sebagai norma yang membentuk suatu sistem tertentu, baik dalam bentuk ideologi negara, keyakinan masyarakat, sampai pada kebijakan negara.133 Pada masa lalu, ada ide tentang sekulerisasi, yaitu ide yang memisahkan antara agama dengan kehidupan dunia. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, ide tersebut mulai pudar dan mendapat perlawanan dari kalangan kaum agamawan. Semua hal yang berkaitan dengan keyakinan tidak datang dengan sendirinya, tetapi ada luhur, yang dzat itu mempunyai perasaan-perasaan dan pilihan, serta mempunyai pelaksanaan dan pengaturan terhadap berbagai hal yang diingini manusia, dan keyakinan bahwa seseorang itu memang diutus untuk bermunajat kepada dzat yang tinggi itu baik secara suka rela atau terpaksa dengan segala kerendahan dan ketundukan. Yusuf Al-Qardhawi, Sistem Pengetahuan Islam, (Jakarta : Restu Ilahi, 2004), h.1. Pendapat lain menjelaskan bahwa makna sistem religi merupakan suatu agama hanya bagi penganutnya. Misalnya, sistem religi Islam merupakan agama hanya bagi anggota umat Islam, begitupun kata religi bagi agama-agama yang lainnya. Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan, (Jakarta : Gramedia, 1993), h. 25.

131Yang mendasari argumentasi ini adalah bahwa agama adalah karekteristik utama yang mencirikan sebuah peradaban, dan sebagaimana dikatakan oleh Cristopher Dawson, ‚Agama-agama besar adalah bangunan-bangunan dasar bagi peradaban-peradaban besar‛, Untuk analisis ini lihat buku, Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban, (Yogyakarta : Qalam, 2001), h. 52.

132Dalam pandangan Imam Mawardi sebagaimana diungkan oleh Munawir Sjadzali, dari segi politik negara itu memerlukan enam sendi utama yaitu;

agama yang dihayati, penguasa yang berwibawa, keadilan yang menyeluruh, keamnan yang merata, kesuburan tanah yang berkesinambungan, dan harapan kelangsungan hidup. Lihat buku Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara, (Jakarta : UI Press, 1993), h. 61-62.

133Makna negara telah dijelaskan dalam bab awal disertasi ini. Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik. Negara adalah agency (alat) dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat. Ia juga mengambil pendapat Roger H. Soltau yang mendefinisikan negara , menurut dia negara adalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat. Ulasannya dapat dibaca dalam buku; Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, h. 38-39.

agen sosial yang mengenalkannya atau mempraktikannya dalam sistem dan struktur sosial tersebut.

Pada awalnya, suatu negara seringkali berada dan berdiri pada sebuah keyakinan yang diadopsi dari agama-agama tertentu sehingga landasan ideologi suatu bangsa dan negara berdasarkan pada keyakinan dan pemahaman keagamaan. Sejarah bangsa-bangsa yang ada di dunia ini merupakan sejarah agama karena sebelum ide tentang negara itu ada, keyakinan beragama bangsa-bangsa telah mengakar dalam kehidupan adat istiadat mereka. Oleh karena itu, mungkin sangat langka di dunia ini, bangsa dan negara yang tidak beragama dan tidak bertuhan karena agama merupakan fitrah manusia yang akan senantiasa dicari, diyakini, dan diaplikasikan.

Nanat Fatah Natsir menjelaskan bahwa sekalipun negara Amerika yang memproklamasikan agama terpisah dari kehidupan negara, mereka mencetak uangnya dengan menuliskan kalimat ‘Pada Tuhan Kami Percaya’. Ini menunjukan bahwa Tuhan akan terus diyakini. Keyakinan terhadap Tuhan tetap dipertahankan dan agama terintegrasikan dengan negara (sekalipun dipungkiri). Pada titik inilah agama berperan sebagai ideologi bangsa.134Sukron Kamil menjelaskan bahwa para teoretisi politik Islam biasa menghubungkan kepentingan terhadap negara dengan kenyataan bahwa manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara sendirian sehingga diperlukan negara sebagai bentuk dari kerja sama. Tujuannya mencapai kebahagian material, spiritual, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, antara agama dan negara keduanya merupakan sesuatu yang saling melengkapi.135

Atas dasar gambaran di atas, pengentasan kemiskinan bisa diarahkan melalui peran tokoh agama (ulama) dan tokoh negara (umara). Kedua peran tersebut bisa dijalankan secara beriringan dan saling melengkapi. Hal ini bisa dilakukan karena Indonesia merupakan negara yang mengakui adanya peran-peran agama dalam konstitusinya, dengan tidak bermaksud mengesampingkan agama diluar agama Islam.

Khususnya agama Islam, nilai-nilai ajarannya telah menjadi ruh dan spirit bagi lahirnya konstitusi dan dasar negara.

Dalam negara seperti Indonesia, peran-peran tersebut sudah sejalan dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 yang secara jelas telah

134Nanat Fatah Natsir, Yahudi Versus Islam Konflik Agama Dan Politik, (Bandung : Sega Arsy, 2009), h. 17.

135Sukron Kamil, Pemikiran Politik Islam Tematik, h. 3-4.

90

mencantumkan keberpihakannya kepada kaum miskin.136 Hal ini merupakan pijakan agar setiap kemiskinan yang ada di wilayah Indonesia dapat diatasi dengan baik. Cara pengentasannya adalah dengan melakukan pemberdayaan secara berkelanjutan.137 Sementara dalam konteks ajaran agama, khususnya Islam, peran tersebut dapat dilakukan oleh para ulama yang menjadi sentral tokoh masyarakat.

Ulama dalam konteks ini tidak hanya berperan sebagai pemberi fatwa saja, tetapi mampu mendidik dan memberdayakan masyarakat. Bahkan, dalam ajaran agama Islam karakter inilah yang harus dimiliki oleh setiap lapisan masyarakat, menjadi pribadi yang memiliki karakter untuk mampu berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain atau menjadi beban bagi orang lain.

Argumentasi di atas menunjukan bahwa sebenarnya ajaran agama Islam sangat mengutuk dan menentang orang yang tidak berzakat, kikir, antikemanusiaan, dan tidak berpihak kepada warga miskin. Ajaran ini bisa dilaksanakan dalam dua bentuk, pertama bisa melalui peran negara seperti zakat dan infak, yang kedua bisa diimplementasikan secara langsung oleh kaum muslimin dengan membentuk lembaga-lembaga sosial untuk membantu mereka yang kurang beruntung tersebut.

Sebenarnya, hal ini akan tersistem dengan baik jika semua dilaksanakan melalui peran negara yang memiliki kekuatan yang besar dalam menjalankannya. Peran tersebut dapat disinergikan dengan lembaga-lembaga keagamaan yang memiliki hubungan langsung dengan masyarakat.

136Lihat Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34 ayat 1 sebagai wujud dari Negara kesejahteraan, Negara Indonesia memberikan jaminan kosntitusional yang mengatur kewajiban Negara di bidang kesejahteraan sosial sehingga rakyat dapat hidup sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Baca buku, Panduan Pemasyarakatan UUD 1945 dan Ketetapan MPR RI, (Jakarta : Sekjend MPR RI, 2013), h. 199.

137Hal ini bisa dibandingkan dalam kasus kemiskinan perikanan di Banglades dan Tanzania. Dalam jurnal tersebut dijelaskan Perlu adanya kebijakan dan institusi yang menentukan akses ke aset, mengatur konteks kerentanan dan menentukan pilihan mata pencaharian masyarakat, reaksi dan strategi, dan pada akhirnya hasil dari strategi tersebut dalam hal kemampuan mereka untuk mencari nafkah dan kemauan untuk berinvestasi dalam membantu melestarikan basis sumber daya alam. Svein Jentoft, Paul Onyango and Mohammad Mahmudul Islam, Freedom and poverty in the fishery commons, International Journal of the Commons, Vol. 4, No. 1 (February 2010), pp. 345-366, URL: https://www.jstor.org/stable/26523026, h. 360.

Accessed: 09-09-2019 14:40 UTC.

Diskursus tentang kelembagaan sosial yang salah satunya adalah lembaga-lembaga keagamaan seringkali memunculkan perdebatan berkaitan dengan peran lembaga keagamaan itu dalam konteks pembangunan. Seringkali para tokoh agamawan terjebak memahami agama merupakan satu-satunya lembaga yang membedakan antara yang suci (sacred) dan hal yang profane.138Padahal, hal ini tidak berarti bahwa agama hanya membicarakan soal-soal yang sakral atau soal-soal yang menyangkut keakhiratan.

Meskipun pada masa lampau hal tersebut sangat tampak, tetapi pada masa sekarang peran kelembagaan agama telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembangunan. Misalnya, lembaga keagamaan di bidang zakat yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini ada upaya penyesuaian lembaga-lembaga keagamaa dan derap pembangunan dalam sebuah negara. Implenentasi peran tersebut dapat dimainkan oleh elite sosial keagamaan seperti tokoh-tokoh agama yang membangkitkan semangat beragama dalam memberikan jawaban atas problem-problem sosial yang dihadapi oleh manusia seperti tentang persoalan kemiskinan.