B. Ulama dan Pengentasan Kemiskinan
1. Kelas Sosial dan Indikator Kemiskinan
Sampai saat ini, masih banyak kebijakan tentang pengentasan kemiskinan hanya melihat pada aspek makro pendapatan per kapita masyarakat sehingga pengentasan kemiskinan kurang menyentuh pada level masyarakat. Dalam kajian sosial, aspek pendapatan, jika dianalisis lebih mendalam, akan didapat suatu gambaran bahwa hal tersebut bersifat relatif. Padahal, pendekatan untuk pengentasan kemiskinan memiliki banyak sisi dan banyak alternatif.
Secara sosiologis kondisi kemiskinan dalam suatu masyarakat dapat dilihat dalam teori stratifikasi sosial. Di dalamnya terdapat banyak tingkatan sosial yang selalu tersistem satu sama lainnya. Dengan demikian, tingakatan-tingkatan sosial secara bertingkat58tersebut membawa akibat pada saling ketergantungan antara satu invidu masyarakat dengan individu masyarakat lainnya atau antara kelompok, organisasi dan yang lainnya.
Secara teoretis, semua manusia dapat dianggap sederajat.59 Namun, dalam kenyataan sosial dan kenyataan hidup, banyak kelompok dalam suatu masyarakat. Akibatnya, pembedaan atas lapisan sosial merupakan gejala yang bersifat universal dalam sistem sosial setiap masyarakat.60Realitas tersebut memberikan makna dan tentu harus disadari bahwa hakikat manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Lapisan-lapisan sosial ini kadang-kadang berupa sebuah sistem kasta. Para anggota kasta yang berbeda memikul
58Pitirin A.Sorokin menjelaskan bahwa ditinjau dari sudut stratifikasi sosial merupakan pembedaan masyarakat atau penduduk ke dalama kelas-kelas secara hirarkis. Pembedaan tersebut dapat dilihat pada kelas yang lebih tinggi dan lebih rendah.
59Kata sederajat dapat diartikan dengan sama tingakatan pangkat dan kedudukan, kata asalanya adalah derajat yang berarti tingaktan, martabat, pangkat. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, (Jakarta:Balai Pustaka, 2003), h. 254.
60Stratifikasi Sosial adalah suatu sistem berlapis-lapis yang membagi wargawarga masyarakat dalam beberapa lapisan secara bertingkat diamana suatu lapisan tertentu kedudukannya lebih tinggi dari lapisan lainnya dimana tiap lapisan tersebut berisikan warga-warga masyarakat tertentu dengan ukuran-ukuran tertentu pula. Lihat Disertasi, La Ode Taufik Nuryadin, Kapital Sosial Komunitas Suku Bajo, (Depok : Universitas Indonesia, 2010), h.12.
peranan tertentu dan mereka tak dapat mengubah keanggotaan kastanya. Malah, seringkali lapisan sosial itu berbentuk kelas sosial.61
Para ahli penganut teori fungsional memandang bahwa struktur masyarakat yang berlapis dan bertingkat tersebut menunjukan bahwa sistem sosial yang dibangun oleh suatu norma dan kebudayaan menjadi ciri dari suatu masyarakat.62
Suatu sistem lapisan masyarakat dapat dilihat melalui unsur-unsur seperti distribusi hak-hak istimewa, penghargaan, lambang-lambang, kedudukan serta solidaritas di antara masyarakat itu sendiri sehingga beban tugas yang diangap perlu dan penting dapat diselesaikan. Konsep etnosentris63 merupakan salah satu kerangka dalam memahami lapisan sosial dalam masayarakat. Biasanya, dalam suatu masyarakat mereka memiliki suatu nilai yang berpangkal pada kebudayaannya sendiri.
Struktur dan lapisan sosial juga dapat dilihat sebagai wujud yang nyata dari suatu kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat. Oleh karena itu, suatu kemiskinan yang terjadi dalam struktur masyarakat perlu ditinjau melalui suatu timbangan kebudayaan yang mengakar dalam struktur dan sistem masyarakat tertentu.
Teori berikut ini berbeda dengan teori stratifiksi sosial. Para ahli teori konflik memandang bahwa teori kelas sosial menganggap kemiskinan merupakan akibat dari sistem produksi yang tidak berpihak kepada masyarakat buruh dan para pekerja.64 Dalam teori ini ketimpangan yang terjadi disebabkan terjadinya kelas-kelas sosial dalam berbagai segmen kehidupan masyarakat sehingga berakibat pada pola dan distribusi pendapatan masyarakat. Ketimpangan sosial terjadi sebagai wujud dari kehidupan yang berkelas-kelas yang saling
61Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta : Erlangga, 1993), h. 233.
62Muchamad Syawie, ‚Kemiskinan Dan Kesenjangan Sosial‛, dalam Jurnal Informasi, Vol. 16, No. 03 (2011), h. 216.
63Istilah etnosentris adalah seseorang yang menilai kebudayaan-kebudayaan lain, melulu menurut ukuran yang berlaku dalam kebudayaan-kebudayaannya sendiri bersifat etnosentris. Orang demikian bukan saja kurang cocok untuk melakukan tugas-tugas antropologi, tetapi dia juga barangkali tidak sanggup mengidentifikasikan dan memecahkan problema-problema sosial dalam kebudayaannya sendiri. Analisis dapat dilihat dalam buku; T.O. Ihromi, Pokok-Pokok Antropologi Budaya, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2006), h. 16.
64Secara intelektual Marx sangat terganggu dengan struktur-struktur kapitalisme dan dampaknya yang menindas terhadap para aktor. Secara politis, dia berminat untuk membebaskan manusia dari struktur-struktur kapitalisme yang menindas. Geroge Ritzer, Teori Sosiologi, h. 40.
64
mengeksploitasi di antara sesama mereka.65 Kelas sosial yang paling tinggi menjadi pemenang dan banyak menikmati hasil jerih payah masyarakat yang kelas sosialnya berda di bawahnya. Meskipun dalam konteks tertentu, kelas-kelas sosial dalam sebuah masyarakat diperlukan untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat nyata.66
Kata kemiskinan membawa pikiran pada gambaran yang berbeda dan telah lama digunakan untuk menggambarkan sebuah variasi dari keadaan atau kondisi kekurangan. Dalam pembicaraan umum, kemiskinan khusus mengacu pada kekurangan sumber daya ekonomi.
Terkadang, hal ini didefinisikan secara lebih luas sebagai pengeluaran sosial (dalam konteks kondisi di Eropa). Untuk beberapa hal, kemiskinan menimbulkan gambaran tentang anak-anak dan keluarga yang miskin dari pembangunan ekonomi negara yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.67
Sebagai contoh, para ahli pembangunan di negara Vietnam bekerja dan fokus memikirkan pengentasan kemiskinan. Hal ini telah menjadi bagian dari kebijakan negara guna menurunkan angka kemiskinan.
Dalam programnya, ada peran agen internasional seperti Bank Dunia.
Sesuai dengan pandangan ini, kemiskinan adalah sebuah keadaan objek
65Para ahli sosial, khususnya madzhab Frankfurt, dulu dinamakan institut for social reseach dibangun pada tahun 1923 mengembangkan satu persi penting neo-marxisme yang sering disebut teori kritis. Teodore Adorno, Herbert Marcuse, Max Horkheimer, Jurgen Habermas membuat revisi canggih atas teori asli Marx, yaitu melalui rekonstruksi filosopis dan psikoanalisis marxisme, bahwa kemiskinan merupakan akibat dari dominasi, hegemoni, dan eksploitasi kekuasaan secara kultural dan ideologis. Lihat buku, Ben Agger, Teori Sosial Kritis, (Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2006), h. 157-198.
66Marxdalam gagasannya melalui teori kelas terkait dengan struktur kemiskinan,66 menggambarkan bahwa kemiskinan akibat dari struktur sosial yang tidak berpihak kepada masyarakat. Marx menjelaskan bahwa sejarah manusia atau masyarakat yang ada sampai kini adalah sejarah persaingan kelas.
Teori Marx secara umum memandang kebudayaan, termasuk ilmu sosial, sebagai cermin dari hirarki ekonomi dunia. Analisis ini berdasarkan buku, Syed Farid Alatas, Diskursus Alternatif Dalam Ilmu Sosial Asia, Tanggapan terhadap Eurosentrisme, Penerjemah Ali Noejaman, (Jakarta : Mizan Publik, 2006), h. 52.
67Lawrence M. Berger, dkk, ‚Anti-Poverty Policy Innovations‛, New Proposals for Addressing Poverty in the United States, The Russell Sage Foundation In Jurnal of the Social Sciences, Vol. 4, No. 2, (February, 2018), h.3. Published by: Russell Sage Foundation Stable URL:
https://www.jstor.org/stable. Accessed: 04-10-2018 07:41 UTC
dan keobjektifan ukuran atau keadaan dan keilmiahan suatu uraian.
Untuk melihat kemiskinan, diperlukan suatu uraian kajian dengan melihat faktor lingkungan secara geografis, seperti tofografi, iklim, atau lokasi perkampungan yang terpencil atau juga dapat dilihat dalam diri masyarakat itu sendiri.68
Dari definisi dan uraian di atas ditunjukan bahwa pembahasan tentang konsep kemiskinan belum selesai sampai kini. Sejumlah ahli sosial masih berdebat untuk mencari titik temu yang bisa menengahi semua pendapat yang ada. Pendapat tentang konsep dan teori kemiskinan di setiap negara berbeda-beda bergantung pada standard tertentu yang digunakan oleh setiap negara.69 Artinya, tidak bisa disamakan antara konsep kemiskinan yang dianut oleh negara maju dengan konsep kemiskinan yang dimiliki oleh negara-negara berkembang atau negara dunia ketiga.
Setiap negara berbeda-beda dalam menetapkan suatu masyarakat itu diangap miskin. Suatu negara dalam keadaan kekurangan atau miskin jika orang yang hidup di dalamnya terlalu lama mengalami kemiskinan sehingga kualitas hidupnya berkurang, seperti pekerjaan seseorang kurang berkualitas70. Bahkan, mereka bisa dianggap di bawah garis kemiskinan jika berada pada level kemampuan pendapatan yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan dasar, seperti makan, pakaian, dan atau untuk membayar suatu kebutuhan hidup di suatu tempat71.
Sebagai bahan perbandingan, selanjutnya kita dapat melihat hasil penelitian yang dilakukan di Vietnam, bahwa Pemerintah Vietnam juga menggunakan konsep 'daerah miskin dan komunitas miskin' untuk mengidentifikasi tempat-tempat yang persentase rumah tangga miskinnya jauh lebih tinggi dan standar hidup jauh lebih rendah daripada tingkat rata-rata nasional. Daerah tersebut biasanya ditandai dengan kondisi alam yang tidak menguntungkan (tanah miskin, sering terjadi bencana alam) dan infrastruktur yang kurang berkembang.
68Peter Chaudhry, ‚The Struggle to be Poor in Vietnam’s Northern Borderlands,‛ dalam Jurnal Political Metis and Biopower in the Local State Arena Chapter ANU Press. (2016),h.207-208. https://www.jstor.org/stable.
69Angela Joy Donelson, Social Networks, Poverty and Development: An Analysis of Capacity Building in Arizona and New Mexico Colonials, (Amerika Serikat : University Of Arizona, 2005), h. 86.
70AS Hornby, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, Internationa Student’s edition, eighth edition, (Oxford University Press, 2015), h. 1146.
71AS Hornby, Oxford Advanced Learner’s, h. 1146.
66
Dalam menafsirkan data, pemerintah Vietnam telah menggunakan dua garis kemiskinan. Kemiskinan didefinisikan dalam hal pendapatan di bawah tingkat minimum yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan, pendidikan, perjalanan, dan komunikasi. Untuk tingkat yang lebih rendah. Kemiskinan didefinisikan sebagai garis kelaparan (atau kemiskinan pangan) untuk membedakan dengan apa yang digambarkan sebagai populasi' sangat miskin' dari populasi 'miskin'.72
Kelaparan atau kemiskinan pangan, didefinisikan sebagai situasi dengan pendapatan di bawah tingkat minimum yang diperlukan untuk menyediakan pangan untuk dimakan, sandang yang cukup untuk dipakai, dan pendapatan yang cukup untuk menopang kehidupan mereka. Garis 'kelaparan' yang lebih rendah ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi proporsi populasi yang kekurangan makanan selama beberapa bulan dalam setahun. Biasanya, mereka harus meminjam untuk bertahan hidup karena kekurangan kapasitas pembayaran.
Garis kemiskinan makanan ditetapkan rata-rata 2.100 kilo kalori per orang per hari. Sejalan dengan definisi yang digunakan oleh sebagian besar organisasi internasional dan negara berkembang. Orang-orang yang pengeluarannya tidak cukup untuk mencapai tingkat ini dianggap miskin dalam hal makanan.73
Kemiskinan merupakan suatu kondisi yang serbakekurangan dan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini seperti apa yang telah dijelaskan oleh Bank Dunia bahwa kemiskinan adalah ‚situasi serbakekurangan dari penduduk yang disebabkan oleh terbatasnya modal yang dimiliki.74 Karena itu, secara umum, kemiskinan diakibatkan oleh rendahnya pengetahuan dan keterampilan, rendahnya produktifitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar rupiah atas hasil produksi orang miskin, dan terbatasnya kesempatan berperan.
72Brian Van Arkadie and Raymond Mallon, Proverty Alleviattion, (ANU Press, 2004),h.225. Stable URL: https://www.jstor.org/stable/j.ctt2jbjk6.22
73Brian Van Arkadie and Raymond Mallon, Proverty Alleviattion, (ANU Press, 2004),h.226. Stable URL: https://www.jstor.org/stable/j.ctt2jbjk6.
74Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk miskin yang sangat tinggi di dunia. Diprediksi menurut data Bada Pusat Statistik jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan di Indonesia mencapai 25,95 juta penduduk atau sekitar 9,82 persen. Sementara Bank Dunia membuat standard garis kemiskinan jika seseorang pendapatannya sebesar USD 1,9 per hari.
https://www.worldbank.org/in/country/indonesia/overview.
Akibatnya, masyarakat yang terkena kemiskinan sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis mereka.
Ada tiga macam dampak psikologis apabila kemiskinan terjadi pada diri seseorang, yaitu rendahnya pendidikan, rendahnya aspirasi atau harapan rendah, dan munculnya rasa putus asa.75 Oleh karena itu, deklarasi Copen Hagen menjelaskan tentang kemiskinan absolute adalah sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan sangat parah atas kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi76.
Terdapat banyak pandangan tentang makna dan definisi serta katagori tentang kemiskinan. Misalnya, definisi tentang kemiskinan absolut adalah sebuah kondisi yang tingkat pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan atau jumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, perumahan, dan pendidikan yang diperlukan untuk bisa hidup dan bekerja.77Kemiskinan relatif adalah kondisi yang pendapatannya berada pada posisi di atas garis kemikinan, tetapi relatif lebih rendah dibanding dengan masyarakat sekitarnya.78 Kemiskinan
75Rendahnya pendidikan bagi masyarakat yang terkena kemiskinanbukan hanya kendala biaya disatu sisi tetapi juga dibutuhkan kemampuan dan kecerdasan yang tinggi, dimana kecerdasan sangat ditentukan oleh kualitas gizi yang dimakan, dan stimulasi mental yang diterima sianak. Orang miskin sangat sulit memenuhi hal tersebut karena lemahnya potensi dasar dan kemampuan keuangan guna membiayai sekolah dan fasilitas penunjang lainnya sehingga berakibat pada daya saing yang lemah dengan anak-anak yang lebih mampu.
Selanjutnya dari sisi aspirasi dan harapan, mereka cenderung pasrah, tidak memiliki cita-citadan menerima apa yang sudah menjadi suratan nasib, hal ini berkolerasi dengan tingkat pendidikan yang rendah yang menyebabkan seseorang tidak punya keyakinann diri sehingga tidak ada kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Lihat buku; Djamaludin Ancok, Psikologi Islami, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), h. 50-51.
76Setiap manusia memiliki kesamaan dalam hal pemenuhan kebutuhan primer yang bersifat aksioma. Kebutuhan primer tersebut meliputi; pangan, air, tempat tinggal, keluarga, keamanan, dan pakaian. Untuk analsisi ini lihat buku; Raghib As-Sirjani, The Harmony Of Humanity, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2015), h. 280-309.
77AtmaRas,‚Pemberdayaan Masyarakat Sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan‛, dalam Jurnal Socius, Volume XIV, Oktober-Desember, (2013): h.
57.
78Martiyan Ramdani, ‚Determinan Kemiskinan di Indonesia tahun 1982-2012‛, dalam Jurnal Ekonommi Unes, ISSN 2252-6765, (2015): h. 60.
68
struktural adalah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pada pendapatan. Kemiskinan kultural adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Oscar Lewis, kemiskinan dapat muncul sebagai akibat adanya nilai, norma, dan kebudayaan yang dianut oleh orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja, boros, tidak kreatif, meskipun ada pihak lain yang berusaha membantunya untuk memperbaiki tingkat kehidupannya.79
Dengan demikian, dalam banyak kamus juga ditunjukkan bahwa kemiskinan dapat mencakup kisaran dari kebutuhan yang sangat dibutuhkan hingga tidak adanya kenyamanan materi. Ini memberikan suatu gambaran tentang makna definisi kemiskinan yang bervariasi pada istilah tersebut. Namun, hal ini juga mengharuskan kita membedakan antara ‘kemiskinan absolut’ dan ’kemiskinan relatif’.
Kemiskinan absolut berarti ‘kekurangan sumber daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar’. Kemiskinan relatif berarti
‘pendapatan rendah atau sumber daya sehubungan dengan rata-rata’. Ini adalah gagasan yang sangat berbeda. Seratus tahun yang lalu, prioritas tindakan adalah kemiskinan absolut. Dalam pengantar mereka untuk pencegahan kemelaratan, bahkan ada beberapa pendapat seperti Sidney dan Beatrice Webb mencatat bahwa ‚kami terdorong untuk menggunakan kata ‘kemelaratan’ karena tidak ada padanan yang lebih baik‛.80
Definisi dan makna kemiskinan yang telah dibahas di atas menunjukan bahwa adanya perbedaan di antara para ahli sosial dalam merumuskannya. Misalnya, perbedaan-perbedaan tersebut dihubungan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Herbert Gant yang menemukan bahwa kemiskinan dapat berfungsi bagi unit sosial yang lainnya81. Namun, pendapat ini berbeda dengan Sheraden yang menjelaskan bahwa kemiskinan akibat dari kebijakan yang mengabaikan
79Hendrikus Triwibawanto Gedeona,‚Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat‛, dalam Jurnal Administrasi Publik, Volume 5, No. 1 ( 2008), h. 5.
80Barry Knight, ‚The narrative on poverty has failed, Rethinking Poverty What makes a good society?‛, (Bristol University Press : Policy Press, 2017), h. 5. https: www. jstor. org.
81George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (Jakarta : Rajawali Press, 2007), h. 23-24.
aset orang miskin.82 Pendapat ini pun diperkuat oleh Parsudi Suparlan yang yang menjelaskan bahwa kemiskinan tidak semata-mata diakibatkan oleh buruknya suatu sistem sosial tertentu, tetapi terkait dengan suatu kebudayaan dari orang miskin. Ia mencontohkan suatu perbudakan melalui utang buruh pada majikannya pada kasus perusahaan batik di Jawa.83 Sementara itu, pendapat Amartya Sen menjelaskan bahwa akibat dari kemiskinan dan ketidakadilan sangat berhubungan erat dengan timbulnya kekerasan.84 Berbeda dengan Amartya Sen, Edward Royce menjelaskan, bahwa kemiskinan merupakan produk dari karakter dan perilaku pribadi orang miskin itu sendiri.85
Suatu kemiskinan dapat dijelaskan melalui indikator-indikator yang terukur sehingga gambaran tentang kemiskinan dalam masyarakat dapat dengan mudah diatasi atau diselesaikan dengan komprehensif. Indikator kemiskinan dapat dilihat pada indeks kemiskinan manusia (IKM).
Setidaknya ada lima indeks yang tecermin dalam kemiskinan, yaitu (1) persentase penduduk yang meninggal sebelum usia 40 tahun, (2) persentase buta huruf, (3) persentase penduduk yang tidak memiliki akses ke air bersih, (4) persentase penduduk yang jarak ke fasilitas kesehatan lebih dari 5 km, dan (5) persentase balita berstatus gizi kurang.86 Indeks kemiskinan manusia tersebut dapat dijadikan sebagai standard dalam mengukur tentang kemiskinan di suatu daerah.
Joint High Level Forum on Statical Capacity for Asean Cauntries yang diadakan oleh Bank Pembangunan Asia (ADB) di Manila pada bulan November 2002 menyimpulkan bahwa memerangi kemiskinan tidak hanya dengan meningkatkan pendapatan. Sebabnya, pendapatan hanya salah satu indikator kemskinan. Indikator lainnya, seperti tingkat
82Michael Sherraden, Aset Untuk Orang Miskin Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan, (Jakarta : Rajawali Press, 2006), h. 104.
83Parsudi Suparlan, Kemiskinan Perkotaan, (Jakarta : Yayasan Obor, 1995), h. 101.
84Amartya Sen, Violence, ‚Identity and Poverty‛, dalam Jurnal of Peace Research, vol. 45, no. 1, 2008, pp. 5–15 Sage Publications (Los Angeles, London, New Delhi and Singapore), 1.
85Edward Royce, Poverty and Power: Structural Perspective On American Inequality, (Lanham: Rawman & littlefield Publisher, 2009), h. 14.
86Lihat Erwan Agus Purwanto, ‚Mengkaji Potensi Usaha Kecil Menengah untuk Pembuatan Kebijakan Anti Kemiskinan di Indonesia‛, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gajah Mada (UGM), ISSN 1410-4946. Volume 10, Nomor. 3, tahun (2007), h. 301.
70
kematian ibu melahirkan, tingkat malnutrisi pada anak-anak, tingkat kematian pada bayi dan balita, tingkat kelulusan pendidikan dasar, kesetaraan gender, akses untuk memperoleh air bersih, dan akses kesehatan seringkali terlupakan. Tanpa adanya indikator tersebut, program pengentasan kemiskinan akan berjalan tanpa arah sehingga kemiskinan tetap sulit teratasi.87
Selanjutnya, untuk menjelaskan penyebab kemiskinan yang menimpa suatu masyarakat dapat dilihat dari beberapa faktor, yaitu pertama, Paul Horton menjelaskan bahwa perilaku terjadinya kemiskinan berawal dari sikap fatalistik atau pasrah terhadap kehidupan masa kini dan masa depan. Kemiskinan ini bermuara pada sikap mental seseorang. Kedua, kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Ketiga, kemiskinan buatan, yaitu kemiskinan yang dibuat oleh manusia, dari manusia, dan terhadap manusia pula. Kemiskinan ini disebabkan pola perubahan sosial secara fundamental, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme, perubahan teknologi yang cepat, kolonialisme, dan pola pembangunan yang tidak berpihak kepada rakyat. Konsep pembangunan hanya bertumpu pada filsafat ketergantungan terhadap negara-negara maju atau modern.88Keempat, subbudaya dan tradisi keyakinan yang langsung bersentuhan dengan individu menyebabkan keluarga lemah. Subbudaya adalah penyebab kemiskinan yang sangat substantif dalam ruang kesadaran sosial seseorang.
Empat penyebab kemiskinan di atas menunjukan bahwa dalam konteks pembangunan yang dilakukan adalah perlu melihat aspek-aspek terdalam suatu masyarakat. Sebabnya, kemiskinan itu selalu menjadi persoalan yang akut dalam dimensi pemabangunan manusia. Namun demikian, pembangunan juga memiliki akibat-akibat positif dan negatif yang dapat berdampak pada masyarakat. Jika pembangunan dilakukan secara parsial, akibatnya pembangunan banyak menyisakan persoalan kesenjangan yang mengakibatkan terjadinya masalah kemiskinan. Atas dasar itu, model pembangunan seharusnya bertumpu pada keinginan
87Doli D. Siregar, Manajemen Aset, (Jakarta : Gramedia, 2004), h. 218.
88Teori struktural berpendapat bahwa kemiskinan yang terdapat di negara dunia ketiga yang mengkhususkan diri pada produksi pertanian adalah akibat dari struktur perekonomian dunia yang bersifat eksploitatif, di mana yang kuat melakukan eksploitasi terhadap yang lemah. Maka, surplus dari negara-negara dunia ketiga beralih ke negara-negara industri maju. Argumen ini dapat dilihat dalam buku; Arief Budiman, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, (Jakarta : Gramedia, 2000), h. 41.
masyarakat agar langsung dinikmati oleh masyarakat. Corten dan Carner menjelaskan bahwa konsep pembangunan harus berpusat pada rakyat, yakni memandang inisiatif kreatif dari rakyat sebagai sumber daya pembangunan yang utama dan memandang kesejahteraan material dan spiritual mereka sebagai tujuan yang ingin dicapai oleh proses pembangunan.