• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Masyarakat Kota Tasikmalaya

Pada awalnya, masyarakat Kota Tasikmalaya memiliki dasar kepercayaan pada agama Hindu. Hal ini sebenarnya telah dijelaskan dalam suatu sejarah yang terdapat dalam amanat galunggung. Hal ini menjadi salah satu dasar bagi perkembangan dan budaya masyarakat Tasikmalaya. Amanat Galunggung tersebut telah ditranformasikan ke dalam kehidupan masyarakat Tasikmalaya secara bertahap sehingga dalam perkembangannya masyarakat Kota Tasikmalaya mengalami proses perubahan yang terus-menerus. Amanat Galunggung tersebut merupakan amanat yang diadopsi dari amanat Prabu Darmasiksa yang bercorak kebhataraan.13 Sebagai bentuk dari warisan para leluhur, amanat tersebut belakangan secara nilai telah mengalami pemaknaan yang beragam terlebih setelah proses dakwah Islam berkembang di wilayah Tasikmalaya.

Secara umum masyarakat Kota Tasikmalaya hidup rukun berdampingan dengan sesama umat beragama lainnya. Dalam masyarakat Kota Tasikmalaya, sudah sejak lama dikenal nilai-nilai budaya (khususnya Sunda) yang berlaku dalam tata kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai itu dapat difungsikan untuk mengatasi masalah kemiskinan dan permasalahan sosial lainnya.

Perilaku prososial yang telah lama dikenal diwujudkan dalam falsafah silih asih, silih asuh, silih asah. Secara harfiah, arti falsafah hidup yang sangat tinggi ini adalah saling mengasihi, saling mengasuh, dan saling memberikan pengetahuan di antara warga masyarakat baik dalam kehidupan keluarga, tetangga, kelompok, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai budaya tersebut tecermin jelas dalam berbagai adat atau kebiasaan masyarakat dan pergaulan sehari-hari.14

Berdasarkan bahasan di atas, beberapa perilaku sosial yang khas berlaku di masyarakat Jawa Barat dan tentunya berlaku juga bagi masyarakat Sunda Kota Tasikmalaya, sebagai berikut:

Berdaya Saing Menuju Masyarakat Madani”. Visi tersebut dapat dilihat dalam LKPJ-AMJ tahun 2017, h. 2.

13Lihat naskah Hidayat Suryalaga, Amanat Galunggung Prabuguru Darmasiksa Leluhur Sunda. tt.

14Ada peribahasa yang melekat dalam masyarakat sunda, peribahasa tersebut tercermin dalam kalimat sebagai berikut: “sabilulungan dasar gotong royong, sareundeuk saigel sabobot sapihanean, nulung kanu butuh, nalang kanu susah, silih asih, silih asuh, silih asuh, dan gemah ripah repeh rapih”.

102

1) Kerja sama yang harmonis dalam mengerjakan kegiatan pembangunan sosial dan gotong royong dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di lingkungan tempat tinggal dengan prinsip Sabilulungan dasar gotong royong. Contoh realisasinya adalah kerja bakti untuk membangun sarana prasarana sosial yang dibutuhkan masyarakat.

2) Musyawarah dalam memecahkan masalah kemasyarakatan seperti rapat-rapat atau pengajian antarwarga dan tokoh masyarakat.

Media ini berfungsi untuk mendiskusikan dan menyelesaikan berbagai persoalan kemasyarakatan dengan prinsip Silih asih, silih asuh, dan silih asuh.

3) Saling mendorong antartetangga (kesetiakawanan sosial) yang terlihat jelas dari spontanitas masyarakat dalam menolong anggota masyarakat lainnya yang terkena musibah atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya sebagai perwujudan prinsip Nulung kanu butuh, nalang kanu susah.

4) Saling mengingatkan jika tetangga melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat dan adanya kerukunan antar tetangga (Sareundeuk saigel sabobot sapihanean).

Mayoritas masyarakat Kota Tasikmalaya beragama Islam, yakni 684.052 orang atau sekitar 98,04%. Kehidupan dan suasana yang agamis mewarnai setiap kehidupan mereka.15Secara umum karakter masyarakat dapat dikatagorikan memiliki karakter sebagai berikut.

Pertama, masyarakat yang Islami atau agamis,16yaitu karakteristik yang berlandaskan pada nilai-nilai agama Islam. Nilai tersebut merupakan konsep-konsep yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat Kota Tasikmalaya mengenai apa yang mereka anggap berharga dalam kehidupan sehingga nilai tersebut menjadi pedoman bagi kehidupan mereka.17

Sebagai kota yang memiliki julukan Kota Santri, nilai-nilai tersebut secara jujur dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem nilai tersebut menjadi karakter dan model dalam kehidupan semua unsur lapisan masyarakat. Sistem nilai bermuara pada agama yang dijadikan

15Kota Tasikmalaya dalam angka, (Bapeda dan BPS Kota Tasikmalaya 2018), h.78.

16Dokumen naskah akademis rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) Kota Tasikmalaya, 2007-2027, h. 58.

17Hasil wawancara pada tanggal 12 januari 2019 dengan Ketua MUI Kota Tasikmalaya.

sebagai landasan untuk melakukan berbagai tindakan dan perbuatan yang positif. Hal tersebut dapat dilihat dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Kota Tasikmalaya yang relatif aman, damai dan rukun, mandiri, dan memiliki toleransi yang tinggi. Tokoh agama (ajengan)18 menjadi tokoh sentral dalam memberikan pengajaran dan bimbingan moral kepada masyarakat agar terbentuk sikap saling menghargai dan saling menghormati. Masyarakat Kota Tasikmalaya menjunjung tinggi nilai persaudaraan tanpa pandang bulu sebagai bentuk dari tradisi dan budaya lokal.

Masyarakat Kota Tasikmalaya dikatakan sebagai masyarakat santri karena masyarakanya tercerahkan oleh nilai agama yang diajarkan oleh para ulama di pesantren. Bahkan, Kota Tasikmalaya memiliki kekhasan tertentu yang tidak dimiliki lapisan sosial masyarakat lainnya.

Masyarakat Kota Tasikmalaya identik dengan masyarakat santri sebagai suatu lapisan sosial yang mempunyai karakter tersendiri. Nilai-nilai kepesantrenan cukup kuat mewarnai kehidupan masyarakat Kota Tasikmalaya. Hal tersebut membentuk tingkah laku masyarakat. Karena pesantren merupakan tempat pengembangan diri yang memberikan perubahan pikiran, sikap, persepsi, dan pencerahan. Kota tempat semua kalangan menimba ilmu agama Islam sehingga lahir menjadi pribadi yang berdaya guna.

Karakter masyarakat dengan sifat kesalehannya itu merupakan buah dari pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh para ulama di pesantren maupun di luar pesantren seperti majlis taklim sehingga masyarakat Kota Tasikmalaya lahir dan tumbuh menjadi entitas yang memiliki karakter mandiri dalam memandang persoalan-persoalan. Ciri dan gaya masyarakat Kota Tasikmalaya terletak pada sistem kekeluargaan yang sangat luhur nilainya. Kondisi masyarakat Kota Tasikmalaya memiliki hubungan yang harmonis dalam pola pergaulan sehari-hari. Pola pergaulan tersebut dapat dilihat dalam bentuk komunikasi antarindividu

Sebabnya, secara historis masyarakat Kota Tasikmalaya memiliki hubungan dengan budaya yang ada di daerah yang lain sehingga kultur masyarakat Kota Tasikmalaya secara umum relatif agamis. Dengan

18Ajengan dalam bahasa Sunda “sesebutan ka kiai nu luhung elmuna, biasana nu kagungan pasantren” (nama lain dari Kiai yang tinggi ilmunya, biasanya yang memiliki pesantren). Lihat kamus bahasa Sunda Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda (LBSS), (Bandung : Geger Sunten, 2007), h. 18.

104

demikian, sejarah Kota Tasikmalaya tidak terlepas dari sejarah pesantren yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

Kedua, masyarakat yang kreatif dan mandiri, yaitu masyarakat yang memiliki karakter tersendiri dalam hal pengembangan kreativitas lokal.

Hal ini tecermin dari sikap mandiri yang dimiliki seluruh lapisan masyarakat. Kemandirian masyarakat Kota Tasikmalaya ditandai dengan karya nyata dalam bentuk karya home industri kerajinan, seperti alas kaki,19 bordiran,20 payung geulis,21 kelom geulis,22 mendong,23 batik,24dan beraneka ragam bentuk kreativitas lainnya. Potensi tersebut merupakan warisan budaya yang sudah lama hidup dalam masyarakat Kota Tasikmalaya. Dalam keseharian, masyarakat Kota Tasikmalaya selalu mengutamakan kemandirian dalam mengolah produksi hasil usaha sehingga di kota ini juga muncul berbagai potensi olahan kuliner khas Kota Tasikmalaya.

Ketiga, masyarakat pedagang, yaitu suatu masyarakat yang secara umum bekerja melalui perdagangan. Bahkan, sudah sejak lama orang Tasikmalaya dikenal dengan ”tukang kredit” yang hampir ada di setiap daerah di Indonesia. Pekerjaan sebagai tukang kredit menjadi salah satu ciri masyarakat yang memiliki sikap terbuka dan jujur. Dalam teori dagang ini, kepercayaan dan saling percaya menjadi ciri khusus dan paling fundamental dalam berjualan dengan sistem kredit. Istilah tukang kredit ini seringkali digunakan dalam berjualan barang, seperti pakaian atau kebutuhan lainnya. Mereka berkeliling dari satu kompleks perumahan ke kompleks perumahan yang lain. Sistem pembayarannya secara bertahap, seperti harian, mingguan, bulanan, tiga bulanan, sampai enam bulanan. Bahkan, dalam istilah lain disebut dengan

19Pusat Home Industri kerajinan alas kaki dan kerajinan bambu berada di Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya.

20Pusat Home Industri Bordiran berada di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya.

21Pusat Home Industri kerajinan Payung Geulis di Kecamatan Indihiang tepatnya di Kampung Payingkiran.

22Pusat Home Industri Kerajinan Kelom Geulis berada di Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya.

23Pusat Home Industri Kerajinan Mendong berada di Kecamatan Purbaratu dan Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya.

24Pusat Home Industri Kerajinan dan industri Batik berada di Kecamatan Cipedes.

ngageblug.25Orang Tasikmalaya yang menjadi tukang kredit tersebar di beberapa kota di Indonesian yang menjadi tempat perantauan mereka, seperti Tangerang, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta pulau-pulau lainnya. Di samping sebagai tukang kredit, para pedagang yang berasal dari Tasikmalaya juga mengembangkan perdagangannya di Ibu Kota Jakarta, khususnya di Tanah Abang, mereka membuat suatu perkumpulan para pedagang yang berasal dari Tasikmalaya.

Keempat, masyarakat seni, bukan hanya nuansa agamis yang menjadi ciri dari masyarakat Tasikmalaya, tetapi juga memiliki dan mencintai kesenian khas daerah.26 Contohnya, di Kecamatan Mangkubumi ada kesenian Rudat. semenatara di Kecamatan Tawang berkembang kesenian padalangan. Kemudian, kesenian Badud dimiliki Kecamatan Indihiang dan Kuda Lumping tumbuh dan berkembang di Kecamatan Cipedes. Di samping kesenian yang tadi telah disebutkan, terdapat nuansa kesenian yang Islami seperti kasidahan yang berkembang di Kecamatan Cibeureum dan Kesenian Al-Hadra berkembang di Kecamatan Cihideung. Kesenian di Kota Tasikmalaya dapat dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu

1) Kesenian Rumpun Karawitan yang terkatagori seni tradisi, seperti kliningan, Cianjuran, Celempungan, Kacapian, Calung, Degung, Rampak Kendang.

2) Kesenian nontradisi, seperti Borelak, Kacapi Jenaka, Bangkolung, Rampak Kacapi, dan Rapidang.

3) Pertunjukan rakyat yang terkatagori seni tradisi, seperti Angklung Buncis, Rudat, Badud, Kuda Lumping, Gondang, dan Tutunggulan.

Eksistensi kesenian masyarakat KotaTasikmalaya tersebut di atas menjadi wadah untuk memperlihatkan jati diri masyarakat yang memiliki ciri khas tradisi dan budaya lokal. Nuansa budaya lokal Sunda Priangan27 tersebut, dikombinasikan dengan sikap masyarakat yang islami sehingga menjadi miniatur kota yang berjuluk Kota Santri.28

25Ngageblug istilah untuk pembayaran terhadap suatu barang yang dikreditkan tetapi dengan jangka waktu 3 dan 6 bulan dengan dibayar langsung lunas oleh si pengutang kepada tukang kredit.

26Sebagaimana diungkapkan oleh tokoh kesenian dan budayawan Kota Tasikmalaya yaitu Kang Amang, pada tanggal 10 Januari 2019.

27Secara geografis, Priangan Timur merupakan wilayah geografis paling timur dari sebuah wilayah yang bernama priangan. Munculnya priangan seiring

106

C. Sistem dan Struktur Masyarakat Kota Tasikmalaya Struktur masyarakat Kota Tasikmalaya dapat dikatagorikan menjadi dua bagian, yaitu struktur horizontal dan struktur sosial vertikal.

Adapun, struktur yang bersifat horizontal ditandai dengan kenyataan bahwa kesatuan-kesatuan sosial ditandai dengan adanya berbagai perbedaan suku, ras, agama, dan adat istiadat yang berada di Kota Tasikmalaya. Meskipun secara umumnya, masyarakat Kota Tasikmalaya memiliki latar belakang asli Sunda Priangan dan agama mayoritas yang dipeluk oleh penduduk adalah agama Islam.29

Walaupun demikian, masyarakat Kota Tasikmalaya selalu terbuka terhadap perkembangan budaya yang ada sehingga mereka selalu menyesuikan pola dan tingkah laku kehidupan mereka. Sebagaimana diketahui, bahwa nilai-nilai yang dihayati oleh masyarakat Kota Tasikmalaya bukan saja mencerminkan kebudayaannya, tetapi sekaligus membentuk sikap mental dari suatu masyarakat itu sendiri dalam berbagai segi kehidupan, seperti sosial, ekonomi, politik, hukum, atau juga ilmu pengetahuan.30

Dalam data statistik ditunjukan bahwa mayoritas penduduk Kota Tasikmalaya beragama Islam dan bersuku Sunda. Kemudian dari sisi pemeluk agama Islam data-data itu dapat dilihat dalam angka stastistik bahwa di Kota Tasikmalaya jumlah penduduk yang beragama Islam sebanyak 684.052 orang.31 Jumlah tersebut sebanding dengan 98,04%.

Jumlah ini juga didukung oleh banyaknya sarana peribadatan umat Islam seperti masjid dengan jumlah 937 mesjid, kemudian 1.536 langgar dan sebanyak 348 mushola. Adapun jumlah pesantren yang tersebar di Kota Tasikmalaya sebanyak 214 Pesantren.32

dengan keruntuhan kerajaan sunda pada 1579, yang salah satu dampkanya memunculkan pusat politik baru di tatar Sunda, diantaranya sumedanglarang di bawah pimpinan Prabu Geusan ulun. Untuk analisis ini dapat di lihat dalam tulisan, Nina Herlina Lubis, Morfologi Kota-kota Di Priangan Timur pada Abad XX-XXI; Stusi Kasus Kota Garut, Ciamis, Dan Tasikmalaya, dalam Jurnal Patanjala, Vol.9 No.1 Maret 2017, h. 4.

28Naskah Akademis RPJP Kota Tasikmalaya, 2007-2027, h. 58-59.

29Kota Tasikmalaya dalam angka, (Bapeda dan BPS Kota Tasikmalaya 2006), h. 59.

30Alfian, Politik Kebudayaan dan Manusia Indonesia, (Jakarta : LP3S, 1982), h.17.

31 Kota Tasikmalaya dalam angka,(BPS Kota Tasikmalaya,2018), h. 78.

32Kota Tasikmalaya dalam angka, (Bapeda dan BPS Kota Tasikmalaya,2006), h.59.

Bukan hanya sarana peribadatan dalam bentuk infrastruktur, melainkan juga di lingkungan masyarakat Kota Tasikmalaya dibangun sumber daya manusianya. Hal ini terbukti dengan banyaknya tokoh agamawan yang berfungsi untuk melakukan pembinaan akhlak, pengajaran ilmu, serta pembangunan mental spiritual yang bersifat menyeluruh dalam berbagai aspek. Kondisi ini didukung dengan jumlah ulama dan mubaligh yang cukup banyak. Khususnya, di Kota Tasikmalaya terdapat 706 ulama, 367 kiai, 467 mubaligh, 1.956 khotib, empat penyuluh agama, dan 200 penyuluh honorer.33

Realitas masyarakat Kota Tasikmalaya juga tidak hanya yang beragama Islam, tetapi juga ada yang beragama Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Penduduk yang beragama Protestan sebanyak 3.349 orang, Katolik sebanyak 2.066 orang, dan Hindu sebanyak 883 orang.

Kondisi ini didukung oleh infrastruktur peribadatan yang ada,seperti jumlah gereja di Kota Tasikmalaya sebanyak 14 gereja, sedangkan jumlah Kelenteng hanya satu bangunan.34Dari data dan realitas di atas ditunjukan bahwa Kota Tasikmalaya memiliki diferensiasi sosial yang cukup majemuk dan heterogen. Suasana kehidupan keberagamaan pun terasa aman dan damai. Toleransi sebagai dasar dari pergaulan di masyarakat Kota Tasikmalaya telah menjadi bagian dari sistem keyakinan yang menjelma dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi masyarakat Kota Tasikmalaya, hidup berdampingan dengan etnis dan ras yang berbeda serta agama yang berbeda tidak seharusnya memunculkan konflik antarmereka. Hal ini ditandai dengan kehidupan keagamaan yang harmonis dan pola perdagangan sebagai transaksi antara orang Tasikmalaya dan para pengusaha etnis Tionghoa yang berjalan saling menguntungkan selama puluhan tahun. Sudah puluhan tahun pula para pedagang etnis Tionghoa menjadi bagian dari masyarakat Kota Tasikmalaya. Rata-rata mereka bertempat tinggal di Kecamatan Cihideung.

Selain dijadikan tempat tinggal di Kecamatan ini juga menjadi pusat perkembangan pertokoan sebagai lahan usaha dan perdagangan mereka.

Kecamatan Cihideung ini menjadi denyut dan jantungnya perkekonomian Kota Tasikmalaya. Sebagai bentuk dari struktur sosial

33Kota Tasikmalaya dalam angka, (Bapeda dan BPS Kota Tasikmalaya 2006), h. 60.

34Kota Tasikmalaya dalam angka, (Bapeda dan BPS Kota Tasikmalaya 2006), h. 59.

108

yang bersifat vertikal dalam masyarakat Kota Tasikmalaya ditandai dengan stratifikasi dan difrensiasi sosial yang ada.35

Dari sisi kegiatan ekonomi dan pekerjaan, masyarakat Kota Tasikmalaya sebagian masyarakatnya masih banyak yang bertani di sawah, serta banyak pula yang menjadi buruh, terutama di Kecamatan Mangkubumi, Tamansari, Cibeureum, Purbaratu, Indihang, dan Bungursari. Adapun di pusat kota seperti yang ada di tiga kecamatan Tawang, Cihideung, dan Cipedes, kegiatan perekonomian masyarakat banyak di dominasi oleh perdagangan dan jasa.

Perbedaan status ekonomi masyarakat ditandai dengan banyaknya para pengusaha yang sukses. Usaha tersebut ada yang berskala makro dan mikro. Usaha berskala makro tersebut, misalnya usaha jasa otobus, perhotelan, dan perdagangan sementara usaha berskala mikro di Kota Tasikmalaya merupakan lumbungnya. Jenis usaha kreatif yang beraneka ragam banyak ditemukan di Kota Tasikmalaya, seperti bordiran, batik, kelom geulis, payung geulis, kerajinan tangan, alas kaki, serta berbagai jenis olahan makanan yang menjadi ciri khas Kota Tasikmalaya. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kota Tasikmalaya memiliki semangat bekerja yang cukup tinggi.