H. Potret dan Simbol Perjuangan Ulama
3. Pendampingan Lapangan Kerja
Meskipun sebagian besar penduduk Kota Tasikmalaya sudah beralih mata pencahariannya dari pertanian ke perdagangan dan industri kreatif, tetapi lapangan kerja dari sektor pertanian tetap diperlukan. Sebab.
salah satu faktor tingginya angka kemiskinan di Kota Tasikmalaya diakibatkan pergeseran budaya kerja dari pertanian ke industri dan jasa.
Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan atau kekagetan budaya (cultural shock). Akibatnya. banyak masyarakat yang kurang siap dalam menghadapi perubahan ini. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi agar mereka bisa bangkit dan merasa nyaman dengan kultur barunya itu. Pola pergeseran ini wajar saja terjadi karena Kota Tasikmalaya sedang dalam proses menuju kota metropolis.
Lahan-lahan pertanian berupa sawah dan ladang sekarang berubah menjadi permukiman dan perumahan, termasuk juga ada yang menjadi pertokoan dan perkantoran. Di satu sisi, hal ini mengakibatkan kemajuan dari ekonomi. Namun, di sisi yang lain, masyarakat menjadi gagap dalam menatap perubahan ini. Ketidaksiapan mereka disebabkan kebiasaan mengolah sawah dan ladang yang dihadapkan pada perubahan ekonomi yang bersifat jasa dan industri.41 Masyarakat yang terkena dampak dari perubahan ini memang tidak semuanya. Rata-rata yang mengalaminya adalah masyarakat yang ada di wilayah-wilayah pinggiran Kota Tasikmalaya yang suasananya masih pedesaan, seperti Kecamatan Tamansari, Mangkubumi, Kawalu, Indihiang dan Cibeureum. Di daerah-daerah ini masih cukup bagus sektor ekonomi di bidang pertanian.42
40Wawancara dengan Ustad Muhammad Irsyad, pada tanggal 1 Januari 2019.
41Data tersebut dapat dilihat dalam Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya tahun 2018, h.111.
42Data tersebut dapat di lihat dalam Survey Daerah (suseda) tahun 2017, h.
25
Pengentasan kemiskinan menurut para ulama yang ada di Kota Tasimalaya perlu diklasifikasi terlebi\h dahulu. Untuk memudahkan dan memetakan kondisi mereka, akan dijadikan pijakan untuk membantu orang-orang yang terkena kemiskinan tersebut. Klasifikasi tersebut berangkat dari asumsi bahwa banyak masyarakat yang mengaku miskin.
Namun, pada kenyataannya mereka mampu dan memiliki berbagai fasilitas hidup seperti rumah, kendaraan dan perkakas dapur.
Kenyataan tersebut, menunjukan bahwa masih banyak masyarakat yang mengaku miskin, padahal mereka berkemampuan untuk usaha dan mandiri. Kondisi yang ini menunjukan ada persoalan mental yang perlu diubah dalam jiwa masyarakat miskin.43 Orang yang mengaku miskin, padahal sebenarnya mereka mampu dan tergolong memiliki aset yang bisa dijadikan modal untuk perkembangan hidupnya menunjukan orang tersebut memiliki jiwa dan mental yang kurang baik. Bahkan, di Kota Tasikmalaya sendiri kemampuan rata-rata daya beli masyarkat relatif tinggi. Data menunjukan bahwa kemampuan daya beli masyarakat Kota Tasikmalaya jika dihubungkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan meningkat tajam pada tahun 2016. Tercatat pada tahun 2013 rata-rata pengeluaran per kapita sebesar Rp566.553,00 sedangkan pada tahun 2016 angkanya telah mencapai Rp933.599,00.
Data dalam tabel di bawah ini dapat menjadi pertimbangan bahwa banyak orang miskin yang terjebak dalam daya belinya yang rendah.
Oleh karena itu, perlu ada pendampingan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin berdasarkan pada kemampuan mereka. Namun, tentu saja diperlukan data-data yang konkret tentang kondisi sesungguhnya dari orang miskin itu. Sebab, tidak sedikit masyarakat yang miskin tidak mengaku miskin dengan alasan bahwa mereka malu dan tidak mau menjadi beban orang lain.
43Pembenahan mental sebagaimana diungkapkan oleh sekretaris Majlis Ulama Indonesia Kota Tasikmalaya, KH. Aminudin Bustomi, menurutnya pembenahan mental msyarakat supaya jangan menjadi fuqara-fuqara masakini yang memiliki mental tamak dan rakus serta mental toma’. Wawancara pada tanggal 21 Desember 2018.
150
Tabel. 4.1.
Persentase Pengeluaran Per Kapita Sebulan Menurut Golongan Pengeluaran di Kota Tasikmalaya tahun 2016
Melihat realitas tersebut, para ulama berpandangan bahwa klasifikasi sebagaimana telah dijelaskan di atas, dalam konteks ini, sangat penting dilakukan dengan menggunakan data-data diri mereka berdasarkan nama dan tempat (by name by adress). Bagi mereka yang benar-benar tidak mampu dan dikatagorikan tidak mampu bekerja, bantuan dalam bentuk pemberian bahan konsumtif sangat perlu dilakukan. Namun, bagi mereka yang secara fisik masih kuat dan memiliki kemampuan untuk bekerja, jalan keluarnya adalah dengan memberikan modal kepada mereka untuk berdagang. Pola seperti ini bisa membantu mereka yang benar-benar membutuhkan secara berkelanjutan.
Para ulama berpandangan bahwa kemiskinan yang menimpa suatu masyarakat dalam satu sisi merupakan masalah sosial yang rumit untuk dipecahkan karena penyebab dan faktor yang menyertai orang menjadi miskin itu banyak. Ada faktor budaya orang miskinnya yang tidak mau berubah dan memiliki mental ingin selalu diberi. Bahkan, tidak sedikit orang miskin yang rakus dan tamak.
Faktor lain penyebab kemiskinan adalah lingkungan sosial yang ada tidak peduli terhadap nasib orang miskin. Mereka acuh tak acuh terhadap kondisi tetangganya. Padahal, agama Islam mengajarkan untuk selalu memperhatikan tetangga dalam kerangka hubungan silataturahim.
Dua faktor inilah yang semestinya diselesaikan terlebih dahulu pada tingkatan sistem sosial yang paling kecil, yaitu lingkup keluarga dalam sebuah lingkungan.
Menurut para ulama, orang miskin yang berada di lingkungan tertentu sebenarnya bisa difungsikan dalam sistem sosial yang ada.
Memfungsikan mereka sesuai dilakukan dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh mereka, seperti menjadi pembantu rumah tangga, tukang kebun, tukang kebersihan, atau jenis usaha dan profesi lain yang sesuai dengan keahlian dan kemampuan dari orang miskin tersebut. Syaratnya, masyarakat yang terkatagori kaya maupun mampu memberikan lahan pekerjaan bagi mereka. Karena itu, K.H. Ate Musadik mengungkapkan bahwa
‚Saleresna kango jalmi miskin mah tiasa dipangmilariankeun padamelan. Da ari dibantos hungkul ku sumbangan mah moal nyelesaikeun pokok masalahna. Tetep we kedah dipasihan damel anu pantes. Teu kenging diantep.‛
‚Sebenarnya bagi orang miskin itu bisa dicarikan pekerjaan. Sebab, kalau hanya dibantu melalui sumbangan dan bantuan tidak akan menyelesaikan masalah. Tetap saja mereka perlu diberi pekerjaan yang layak. Jangan dibiarkan‛.44