Perlu ada definisi jelas tentang hutan negara dan hutan adat di Papua.
Yang penting dikerjakan oleh DKN adalah membuat suatu pemetaan mengenai bagaimana di 7 region yang menjadi bagian kerjanya memiliki identifikasi peta bagaimana putusan MK direspon oleh masing-masing wilayah itu.
Keadaan yang ada saat ini harus dianggap sebagai kerja bersama sehingga perlu duduk bersama. Pusat tidak boleh mengklaim diri atas putusan MK dan lalu menugaskan pemda dan masyarakat. Secara bersama-sama juga harus mengakui bahwa kesalahan tempo dulu adalah kesalahan bersama, diantaranya kesalahan atas Papua.
Setelah putusan MK perlu ada spesifikasi wilayah. Pelaksananya akan dipikirkan bersama.
Apakah putusan MK berlaku surut atau berlaku sejak tanggal ditetapkan? Jika berlaku surut maka kesalahan tempo dulu adalah kesalahan bersama tapi jika berlaku sejak tanggal ditetapkan maka HPH harus angkat kaki dari Papua. Prioritas pencabutan HPH dilakukan terhadap HPH tidak aktif. Sedangkan yang masih aktif diajak duduk bersama. Indikator aktif tidaknya HPH di tiap level pemerintahan, berbeda-beda. Perbedaan indikator ini melahirkan penilaian dan juga mempengaruhi kebijakan. Walaupun rekomendasi gubernur adalah cabut ijin HPH tidak aktif akan tetapi Keputusan Menteri tidak menyatakan demikian, maka ijin tidak akan dicabut. Oleh karena itu perlu ada standar prosedur mengenai indikator aktif tidaknya HPH. Standar yang berbeda-beda akan memunculkan tindakan saling menyalahkan. Yang jadi korban adalah pelaksana.
Perlu ada kesepakatan mengenai pihak yang akan menentukan peta dasar. Peta dasar merujuk pada Bakosurtanal. Peta dasar kemudian dioverlay dengan peta tematik agar semuanya bisa terlihat.
Harmonisasi dan Sinkronisasi kebijakan dan aturan sudah dibicarakan sejak 6 tahun lalu di Papua tapi tidak dihiraukan. Harmonisasi dan sinkronisasi aturan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan. Aturan-aturan diinventarisir. Aturan yang tidak cocok, yang disusun berdasarkan aturan kolonial dan tidak mempunyai nilai pemanfaatan bagi pemberdayaan ekonomi rakyat, harus dinyatakan batal. Jika aturan seperti itu masih dipakai maka yang membuat aturan tersebut harus disalahkan terlebih dahulu baru kemudian
pelaksananya.
Pembentukan Perda harus ada instruksi secara nasional kepada Gubernur. Papua sudah punya Perda berkaitan dengan masyarakat adat akan tetapi hanya mengatur tentang bagaimana posisi adat diperlakukan. Belum sampai kepada bagaimana memberdayakan masyarakat di dalam hutan adat. Memisahkan hutan negara dan hutan adat. Perlu dilihat indikator penentuan
menjadi batas ruang. Dalam penentuan batas hutan negara harus aspek sosial, ekonomi dll harus diperhitungkan agar tidak terjadi konflik.
b). David (Kamar Bisnis)
Penataan kawasan hutan merupakan salah satu alternatif yang cukup baik untuk membenahi hutan Indonesia, yang menjadi masalah semua hutan sudah diberikan ijin konsesi. Jika setelah selesai penataaan kawasan hutan dan didapati ternyata sebagian berada di hutan adat, apakah konsesinya nanti akan berkurang atau tidak?
Apakah pengelolaan hutan adat kedepannya bersifat otonomi atau semuanya diserahkan untuk masyarakat adat? Apakah masyarakat adat cukup mereka kelola sendiri atau tetap memerlukan perijinan dari instansi teknis
Kehutanan? Apakah di tingkat kabupaten-Kota, Propinsi, ataukah tetap masih di pusat? Ini untuk pengelolaan hasil hutan kayu maupun hasil hutan bukan kayu. Hal yang berkaitan dengan mekanisme hak pengelolaan hutan adat perlu diklarifikasi kedepannya, mengingat coverage hutan adat sangat besar. Bagaimana konsesi-konsesi yang sudah diberikan apabila masyarakat adat
tidak berkenan terhadap ijin konsesi HPH yang telah diberikan. Apakah pengelolaan hutan oleh masyarakat adat masih memerlukan ijin
pengelolaan, baik hasil hutan kayu maupun hutan bukan kayu.
c). Agus Justianto (Kamar Pemerintah)
Terkait pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat
Pemisahan konsepsi hutan adat dari hutan negara akan berimplikasi pada keberadaan masyarakat hukum adat dan pengelolaan hutan adat itu sendiri. Saat ini yang tersisa hanya komunitas tertentu yang terdiri dari beberapa desa. Tidak ada lagi wilayah masyarakat hukum adat yang secara hukum masih utuh, seperti tahun 80-an. Padahal pertimbangan hakim pada putusan MK ini jika keberadaan masyarakat hukum adat tidak hidup lagi maka hak pengelolaan kembali kepada negara. Artinya status hutan adat menjadi hutan negara. Konstruksi dan fakta hukum ini rancu karena di satu sisi pengakuan hutan adat terpisah dari hutan negara, di sisi lain keberadaan masyarakat hukum adat sulit dibuktikan jika harus kembali seperti tahun 1980-an. Oleh karena itu diperlukan penyamaan pemahaman atau persepsi karena kebijakan pemerintah dalam hal pengakuan masyarakat hukum adat harus didasarkan peraturan atau hukum yang berlaku. Di sinilah peran DKN untuk bisa membantu menyamakan persepsi atau menjembatani antara pemerintah dan masyarakat hukum adat.
d). Yohanes Balubun (Kamar Masyarakat)
Harapannya NKB bukan merupakan bagian dari cara pembendungan departemen-departeman terhadap korupsi yang dilakukan sebelum NKB karena kalau dalam penataan kawasan hutan kedepan untuk lebih baik dan jauh dari korupsi dsb, sebelumnya itu ternyata dugaan kita banyak yang terjadi. Contohnya pengalihan kawasan hutan di pulau-pulau kecil. Pulau- pulau yang sebenarnya tidak bisa diijinkan, tapi itu diijinkan. Pulau Roma yang kecil yang besarnya dua kali mall di Jakarta, itu diijinkan untuk pertambangan. Kepulauan Aru yang karangnya begitu banyak tapi diijinkan ribuan hektarnya untuk ditanami tebu. Pasti ada sesuatu di pemberian ijin-ijin tersebut.
Terkait dengan keputusan MK. Kata “sepanjang masih hidup” itu tidak beda dengan pernyataan pak Bambang bahwa itu harus dibuktikan dulu. Jadi sepanjang-masing-hidup itu artinya masyarakat adat dipaksa untuk mengidentifikasikan dirinya lalu meminta pemerintah untuk melegitimasi, padahal masyarakat adat sudah ada jauh sebelum negara ini ada. Tapi di Maluku, pembuktian dilakukan melalui sidang-sidang pengadilan dimana masyarakat adat menggugat PT. Wahana Potensi Nusa dan Koperasi Wahana Lestari di pulau Buru karena menghancurkan tempat-tempat keramat dari marga-marga yang ada di sana. Gugatan itu dikabulkan oleh pengadilan. Tanpa peta. Marga-marga bersangkutan datang dan melakukan ritual-ritual adat di wilayahnya dan itu diakui. Peta jangan dijadikan satu-satunya alasan bahwa kawasan hutan ini harus ditetapkan dengan peta. Perda 14/2005 di Maluku merupakan Perda penetapan kembali negeri menjadi persekutuan masyarakat hukum adat. Kita turut mengawal perda itu. Hanya saja yang tidak diakomodir oleh DPRD ketika itu adalah pengakuan terhadap agama- agama suku yang ada di Maluku. Hutan yang berada di belakang negeri tetap menjadi hutan dan bukan berarti tidak dikelola karena di dalamnya terdapat binatang buruan, tanaman obat-obatan dll. Hubungan masyarakat hukum adat dengan hutannya jelas ada. Kalau hal itu dibawa ke peta, tidak ada yang namanya hutan negara di Maluku. Batasan antar negeri adalah batas antar marga. Implementasi dengan pengakuan kawasan hutan harus dibedakan antara pulau-pulau kecil dan pulau-pulau besar.
Harapannya KPK tidak hanya melihat kedepan tapi juga mengungkapkan korupsi sebelum adanya NKB.
e). Endro Siswoko (Kamar Bisnis)
Untuk pak Bambang Soepijanto:
Perlu ada antisipasi pemekaran kabupaten. Bisa jadi wilayah yang semula berada di satu kabupaten, karena ada pemekaran kabupaten, sebagian wilayahnya tidak diakui oleh kabupaten baru.
Perlu ada antisipasi kemungkinan masyarakat adat yang meminta kembali hutannya yang semula sudah diserahkan kepada negara.
Area konsesi bisa jadi akan terkurangi karena adanya enclave, pengakuan atas wilayah konsesi. Berkurangnya wilayah konsesi juga perlu menjadi catatan.
Untuk pak Dian Patria:
Perlu pencerahan mengenai interpretasi illegal logging. Interpretasi illegal logging yang berbeda-beda menimbulkan ketidakpastian di dunia usaha. Ini membingungkan dunia usaha. Siapakah yang akan menjadi wasit ketika timbul masalah-masalah seperti ini?
f). Mateus Pilin (Kamar LSM)
Dengan fakta-fakta sosial yang ada sekarang, dalam konteks kehutanan di Indonesia, KPK harus segera melakukan tindakan-tindakan strategis. Apa terminologi online dalam perijinan online? Perijinan online di satu sisi
membuka akses pada banyak pihak tapi di sisi yang lain masih ada masalah akses di tingkat masyarakat.
Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan dirasa cukup serius. Di Kalimantan Barat, akses masyarakat terhadap wilayah tinggal 6,68%. Ini paradoks. Ijin-ijin yang diberikan masih tetap jalan tapi di sisi lain ada persoalan di lokal.
Tuntutan-tuntutan lain yang disampaikan oleh AMAN agar segera difollowup oleh pemerintah.
g). Hariadi Himawan (Kamar Pemerintah)
Untuk pak Noer Fauzy:
Tadi ada statemen yang mengatakan bahwa konsekuensi dari putusan MK ini akan menimbulkan potensi pertarungan. Pertarungan ini bisa berupa perang intelek,
Stop perijinan dan proses kebijakan-kebijakan yang selama ini mengkriminalisasi masyarakat.
bisa juga perang tubuh. Bisakah pertarungan ini dibawa menjadi dialektika yang dilandasi dengan persaudaraan? Ada beberapa provinsi yang sudah punya rintisan ke arah itu. Jika tadi banyak yang mengatakan bahwa ini sudah terlanjur menjadi konsesi, ini hak, ini batas, banyak kaitannya dengan hak. Pernahkah kita melihat bahwa nanti kalau masyarakat adat berdaulat, prinsip hutan lestari tetap akan inkonsisten? Ini belum disinggung. Kita punya kepentingan di situ. Jangan sampai nanti ini berdaulat otonom, disalipkan semua. Di propinsi yang hutan adatnya dominan, di Sumatera Barat dan NTT, sebelum ada putusan MK ini kami sudah sepakat dengan pemerintah daerahnya, ini akan dikompatibelkan dengan hutan-hutan desa yang ada di dalam kerangka regulasi. Maksudnya adalah supaya mereka ini dilatih dan didampingi bagaimana mengelola hutan secara benar.
Kami menyampaikan dengan cara santun bahwa ini bukan soal menang kalah namun Pemerintah ingin mengawal dan mengantarkan. Tapi ini hanya ada pada provinsi yang sejarah konsesinya tipis. NTT tidak pernah ada HPH sejak dulu. Masalah akan terjadi pada provinsi-provinsi yang sebagian wilayahnya sudah
terfragmentasi. Pasti akan terjadi perang saling klaim. Penyelesaian masalahnya harus dilakukan dengan duduk bersama.
Untuk pak Dian Patria:
Delapan bulan lagi pemerintahan efektif. NKB baru sampai pada tataran instrumental kebijakan, belum sampai tataran ideologis. KPK harus mengantisipasi kemungkinan pemerintah yang baru akan tergagap-gagap yang dikhawatirkan akan kembali pada kebijakan yang populis.
Untuk pak Bambang Soepijanto:
Harapannya pak Bambang menularkan ke eselon 1 yang lain agar tidak hanya menjadi urusan planologi saja.
Respon Narasumber
Pemerintah ingin mengawal masyarakat. Kalaupun nanti mereka menjadi masyarakat adat yang otonom di dalam pengelolaan hutan, dia tetap bisa mengelola hutan dengan prinsip-prinsip lestari.
Tidak fair jika persoalan penataan hutan diserahkan kepada daerah.
Kementerian Kehutanan juga harus ikut duduk bersama dan difasilitasi DKN. Kalau ini dibiarkan bisa berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan.
a). Bambang Soepijanto (Dirjen Planologi Kemenhut)
Duduk bersama pasti dilakukan tapi yang dikaji hanyalah hal yang pasti, karena putusan MK tidak berubah, bahwa hutan adat adalah bukan hutan negara melainkan hutan hak. Segala sesuatunya akan berlaku hutan hak. Tata usaha kayunya berlaku hutan hak. Jadi, tidak ada lagi yang namanya
interpretasi ganda. Pembuktiannya dilakukan dengan Undang-undang. Jika belum ada Undang-undang, Perda. Itu mandat, jangan ditafsir-tafsir lagi. Duduk bersama dilakukan hanya untuk membicarakan bahwa itu harus dilaksanakan.
Putusan MK tidak berlaku surut. Tidak ada putusan majelis manapun yang
backward looking, pasti forward looking. Tetapi adat itu ada sejak dulu.
Ketika Perda yang baru atas symptom, atas bukti-bukti, atas hal-hal yang baru, maka Perda baru itu akan mengeliminasi ijin. Putusan memang tidak retroaktif tapi adat itu ada sejak dulu, kemarin belum diperdakan. Kalau sekarang sudah diperdakan oleh daerah maka adat itu diakui.
Tidak masalah jika masyarakat adat tidak menggunakan peta. Yang penting bisa menunjukkan dimana letak kawasan masyarakat adat. Peta dasar sudah ada UU-nya, bahwa single referencenya BIG. Kedepan, BIG dimita untuk membuat peta dasar seluruh Indonesia dengan skala 50.000 per propinsi. Kalau pakai skala 250.000 batas-batas kawasan bisa mencong.
Ada tiga tata batas, tata batas fungsi, tata batas luar dan tata batas perijinan. Dalam rangka bareng ini, untuk tata batas luar maupun tata batas fungsi, kalau kemudian ada masyarakat adat yang sudah ada perda-nya itu bersamaan kita akan lakukan tata batas itu. Saya tidak terlalu mengandalkan patok batas karena vocated. Saya menggunakan koordinat geografis. Jika menggunakan batok batas, rentan hilang. Titik koordinat tidak mungkin hilang. Patok tidak terlalu penting tapi patok adalah stick boundary yang di peta merupakan koordinat geografis.
Kewajiban, kewenangan pemegang ijin merupakan konsekuensi hukum azas hukum. Kalau ada yang baru maka yang lama diabaikan. Kalau ada yang tinggi, yang rendah diabaikan. Kalau ada yang khusus, yang umum diabaikan. Kalau ada hutan baru maka yang lama diabaikan. Perijinan itu akan tereliminasi dengan besiking yang baru. Untuk yang baru harus ada pembuktian dulu. Mandatnya dalam MK adalah Perda. Introspeksi internal Kemenhut, sebenarnya banyak SK-SK HPH/HTI yang cacat karena belum tata batas. Besiking itu kongkrit, final, individual. Tidak ada lagi luasan plus-
minus. Kalau plus-minus namanya belum final. Seharusnya ketika
memberikan ijin itu harus sudah tata batas. SK yang masih menjanjikan dua tahun penyelesaian tata batas adalah SK yang belum final. Saat ini bahkan pada perpanjangan baru tata batas. Telah terjadi kesalahan-kesalahan berjamaah dalam pengurusan ijin. Angka pasti dalam tata batas menghindari kesalahan sanksi administrasi atas boundary. Sudah pasti pidana kalau keluar dari itu.
Kalau masyarakat adat sudah bisa membuktikan wilayahnya, pengurangan working area pasti terjadi.
Karena pembuktian tata batas tidak sederhana maka perlu ada instrumen untuk membuktikan bahwa masyarakat hukum adat berhak berada di satu kawasan tertentu. DKN bisa memberikan masukan kepada UU Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat.
Berkaitan dengan ijin di pulau-pulau kecil, teguran bisa langsung
disampaikan ke Bupatinya karena ijin diberikan langsung oleh Bupati. Kalau kemudian dia sampai ke Jakarta pada kawasan hutan yang dapat dikonversi, kalau syarat kecukupannya oke, tidak ada jalan lain menteri akan melepas. Yang harus dipersoalkan kenapa Bupati memberi ijin. Pada HPK,
peruntukkannya adalah untuk kegiatan non-kehutanan. HPK adalah bukan hutan tetap. Jadi boleh dilepaskan. Harus dipertanyakan langsung kepada Bupati setempat mengapa pulau-pulau kecil diberikan ijin konsesi. Peta spasial sangat penting ketika pemekaran kabupaten terjadi. Ketika
kabupaten berkembang, spasial tidak berubah. Yang berubah hanya judul wilayah spasial. Letak masyarakat hukum adat berdasarkan spasialnya walaupun nomenklatur pemdanya bisa berbeda.
Jika ada pejabat yang memberikan ijin tidak sesuai dengan peruntukkannya bisa ditindak dengan menggunakan UU 26/2007. UU tersebut sangat mengikat kuat pejabat yang memberikan ijin manfaat yang tidak sesuai dengan ruangnya. Pejabat yang melanggar bisa dicopot dari jabatannya dan dipidana.
Hutan adat yang berada di posisi hutan lindung juga punya fungsi lindung, tidak hanya statusnya kawasan hutan. Ini adalah persoalan status. Letak yang akan menentukan peran.
Sosialisasi mengenai kawasan dan ruang di internal Kemenhut sangat diperlukan. Biasanya persoalan kawasan dan ruang diurus oleh Planologi. 70% urusan Kehutanan berada di Planologi, termasuk menjadi kuasa hukum
Menteri. Perubahan, peruntukkan, pelepasan, ijin pinjam pakai, semuanya di Planologi. Tugas Planologi adalah mensosialisasikan persoalan-persoalan ini di internal Kemenhut. Pak Hariadi yang selama membantu kami dalam hal- hal seperti ini.
b). Dian Patria (KPK)
KPK tidak perlu menjadi bagian dalam implementasi NKB jika pimpinan pemerintah komit untuk perbaikan tata kelola sumberdaya alam kehutanan. DKN dan KPK bisa saja hanya memberikan saran dan yang menjalankan komitmen adalah pemerintah. KPK memiliki fungsi pencegahan dan penindakan, disamping koordinasi dan supervisi.
Dalam menjalankan fungsi pencegahan KPK bekerja bersama bagian penindakan. Di bagian pencegahan pun KPK memiliki fungsi-fungsi deteksi RHKPN, ada gratifikasi, bahkan punya nation interest; ketahanan pangan, ketahanan energi dan pendapatan.
Dalam pemberantasan korupsi, ada 3 lembaga yang menangani yaitu KPK, polisi dan kejaksaan. Tapi kalau bukan korupsi, misalnya illegal logging semata, bukan urusan KPK. Tapi kalau korupsi, KPK bisa menangani, dan ada dua penegak hukum yang lain, KPK menjalankan fungsi koordinasi dan supervisi atas penanganan kasus yang ada di kepolisian dan kejaksanaan. Itu ditangani secara spesifik dikerjakan oleh Korsub penindakan yang kerjanya keliling polda dan melakukan koordinasi-supervisi kasus-kasus korupsi yang sedang ditangani oleh Polda setempat. KPK dimungkinkan untuk mengambil alih kasus ketika dianggap penanganan polisi tidak seperti yang seharusnya. KPK sangat berharap ada masukan dari kamar masyarakat jika ada
pengaduan-pengaduan yang bisa disampaikan melalui bagian pengaduan masyarakat KPK, surat, atau website Indonesia Memantau Hutan. KPK adalah lembaga independen. KPK bukan di bawah presiden, legislatif
ataupun yudikatif. Secara teoritik, tidak masalah jika pemerintahnya ganti karena yang dipegang oleh KPK adalah MoU dengan kementerian.
c). Noer Fauzi Rachman (Direktur Eksekutif SAINS)
Renaksi penindakan tidak mungkin dimasukan ke dalam NKB karena kemungkinan tidak akan ada K/L yang bersedia menandatangani MoU.
DKN harus menguatkan kemampuan untuk mengurus konflik dengan skala yang besar. Selama ini DKN mengurus konflik yang skalanya kasus per kasus. Pulau- pulau kecil seperti Maluku Utara atau Maluku Tenggara bisa saja satu pulau keluar dari kawasan hutan negara karena seluruhnya wilayah hutan adat. Maka jika dikerjakan prosesnya, dimana sudah ada konsesi pada waktu itu maka itu akan menjadi konflik dengan pemegang konsesi. Dan itu akan datang begitu besar arusnya dalam DKN.
Tidak ada yang tidak bisa diurus, termasuk konflik. Pengalaman di Filipina, National Commision on Indegineous People mencanangkan 7 juta hektar dari 70 juta hektar. 70 juta itu adalah keseluruhan kawasan nasional Filipina. Tujuh juta hektar adalah wilayah teritorial adat. Saat ini kawasan yang sudah mendapatkan CADC dan CADT, Certificate of Ancestral Domain Claim dan Certificate of Ancestral Domain Title mencapai di atas 1 juta hektar. Dari claim ke title membutuhkan 10-15 tahun. Besaran di Indonesia belum bisa diketahui jumlahnya. Kalau DKN punya
pengalaman dengan mediasi konflik maka ini jumlahnya akan jauh lebih besar lagi, begitu dia masuk ke dalam dan membuka prosesnya. Karena konsesinya bekerja dengan proses dimana hutan adat dianggap hutan negara. Gerakan Plangisasi sangat mungkin terjadi, dan jumlahnya sangat banyak karena jumlah HPH-HTI juga tidak sedikit. Itupun jika Perdanya bener. Di sinilah kemampuan mengurus konflik dalam skala yang besar diperlukan.
Tidak sederhana ketika National Land Commision Filipina membuat kamar penyelesaian konflik. Di situ berkenaan dengan bagaimana konflik diajudikasi, data- data dari kementerian kehutanan, bagaimana bisa keluar ijin di wilayah itu,
bagaimana masyarakat tidak terlihat ketika ijin itu keluar, bagaimana sekarang visibilitas dilakukan supaya masyarakat adat bisa kelihatan. Proses verifikasi itu membutuhkan skill yang tidak sedikit. Kita belum sampai pada membayangkan seperti itu. Itu akan tumbuh dari kemampuan yang ada naik ke dalam kelas berikutnya.