• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

5.2 Diskusi

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hal-hal yang mempengaruhi perilaku

menyontek. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa dari

empat belas independent variable yang diteliti terdapat lima variabel yang

mempengaruhi perilaku menyontek secara signifikan. Kelima variabel tersebut

antara lain keterlibatan, afiliasi, keteraturan dan pengorganisasian, kompetisi serta

Dimensi dari variabel iklim kelas, ditemukan terdapat empat dimensi yang

memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN

di Tangerang Raya, yaitu keterlibatan, afiliasi, keteraturan dan pengorganisasian

dan kompetisi. Secara teoritis, menurut Lüftenegger et al. (2017) kecenderungan

siswa menyontek bukan hanya dipengaruhi oleh konsep pribadi, namun hal ini

juga dapat dilihat dari lingkungan kelas yang mempengaruhi segala perilaku dan

karakter baik siswa maupun guru dalam proses pengajaran. Pada iklim kelas yang

positif akan membantu siswa belajar, meningkatkan motivasi dan hasilnya

pembelajaran yang baik serta mendorong kejujuran akademik, salah satunya

mengurangi tindakan menyontek. Hal ini di dukung oleh penelitian Kadarsih et al.

(2016) bahwa iklim kelas penciptaan yang kondusif sangat mendukung untuk

terlaksananya proses belajar mengajar yang baik. Sedangkan, pada penelitian

Whitley Keith-Spiegel (2002) menyatakan bahwa pada iklim kelas yang negatif

akan menyebabkan siswa membenarkan tindakan menyontek untuk diri mereka

sendiri.

Penjelasan lain mengenai pengaruh iklim kelas dengan perilaku

menyontek sebagaimana penelitian studi dalam karakteristik yang menunjukkan

lingkungan belajar (kelas) oleh Anderman dan Won (2019). menunjukkan bahwa

lingkungan belajar (kelas) terkait dengan prediktor siswa menyontek. Hal ini

didukung pada hasil riset yang dilansir oleh Brackett (dalam Fitria, 2019)

munculnya permasalahan perilaku menyontek pada siswa berhubungan signifikan

dengan iklim di dalam kelas. Hal tersebut menunjukkan iklim dari lingkungan

(guru) yang kurang maksimal dapat mempengaruhi munculnya masalah perilaku

menyontek pada siswa ketika di sekolah.

Dimensi pertama dari iklim kelas yang berpengaruh signifikan adalah

keterlibatan. Dimensi ini menilai sejauh mana siswa berpartisipasi secara aktif dan

penuh perhatian kegiatan di dalam kelas. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa

dimensi keterlibatan memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku menyontek.

Alasan dari variabel keterlibatan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku

menyontek karena mayoritas siswa ada pada tingkat keterlibatan tinggi. Sehingga

semakin tinggi keterlibatan maka semakin rendah perilaku menyontek. Menurut

Trickett dan Moos (1974) siswa yang terlibat secara aktif dengan sesama siswa

maka akan tercipta iklim kelas yang positif. Dalam hal ini, siswa memahami akan

materi pembelajaran tersebut dan ketika mengikuti ujian siswa dapat mengerjakan

soal dengan baik, hal ini dapat mencegah perilaku menyontek karena siswa telah

memahami materi dengan baik dari proses kegiatan belajar di dalam kelas. Hal ini

menjadi wajar jika dimensi keterlibatan yang tinggi di dalam kelas ini

memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku menyontek.

Dimensi kedua yang memberikan pengaruh signifikan adalah afiliasi.

Dimensi ini menilai sejauh mana tingkat persahabatan yang dirasakan siswa satu

sama lain. Pada penelitian ini, peneliti menemukan sesuatu yang menarik, yaitu

arah pengaruh dari dimensi afiliasi adalah positif. Artinya semakin tinggi afiliasi

maka akan semakin tinggi tingkat perilaku menyontek. Secara signifikan dimensi

afiliasi diketahui mayoritas siswa ada pada afiliasi tinggi. Pengaruh tingkat

persahabatan yang mengarahkan untuk bekerja sama dalam melakukan tindakan

Won (2019) dimana lingkungan belajar (kelas) terkait dengan prediktor siswa

menyontek.

Pada dimensi ketiga dari variabel iklim kelas yaitu dimensi keteraturan

dan pengorganisasian berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku menyontek.

Dimensi ini menilai sejauh mana penekanan pada siswa untuk dapat sopan dan

tertib di dalam kelas baik pada organisasi tugas atau kegiatan kelas. Hasil

penelitian ini ditemukan bahwa dimensi keteraturan dan pengorganisasian

memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN di

Tangerang Raya. Dapat diartikan bahwa ketika keteraturan dan pengorganisasian

dalam pembelajaran tertib atau sesuai maka siswa akan merasa nyaman dalam

proses belajar, tugas dan aktivitas yang terorganisir dengan baik maka akan

semakin rendah siswa melakukan perilaku menyontek. Hal ini juga dipengaruhi

signifikan ketertaturan dan pengorganisasian pada siswa di dalam kelas ada pada

tingkat mayoritas tinggi. Kadarsih et al. (2016) dalam penelitiannya

mengemukakan bahwa penciptaan iklim kelas yang kondusif sangat mendukung

untuk terlaksananya proses belajar mengajar yang baik. Maka hal ini mendorong

iklim kelas yang positif dimana akan membantu siswa belajar, meningkatkan

motivasi dan hasilnya pembelajaran yang baik serta mendorong kejujuran

akademik, salah satunya mengurangi tindakan menyontek. Sehingga, wajar jika

dimensi ini memberikan pengaruh negatif terhadap perilaku menyontek.

Kemudian, variabel keempat yang memberikan pengaruh signifikan yaitu

dimensi kompetisi. Dimensi yang menilai sejauh mana siswa bersaing untuk

mendapatkan nilai dan pengakuan. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa dimensi

MAS/MAN di Tangerang Raya. Alasan dari variabel kompetisi berpengaruh

secara signifikan terhadap perilaku menyontek karena mayoritas siswa ada pada

tingkat kompetisi tinggi. Sehingga semakin tinggi kompetisi di dalam kelas maka

semakin rendah perilaku menyontek. Hal ini mendukung penelitian Kadarsih et al.

(2016) bahwa iklim kelas penciptaan yang kondusif sangat mendukung untuk

terlaksananya proses belajar mengajar yang baik. Maka, hal ini akan membuat

lingkungan belajar di kelas positif karena dapat membantu siswa belajar,

meningkatkan motivasi dan hasil pembelajaran yang lebih baik serta mendorong

kejujuran akademik, salah satunya mengurangi tindakan menyontek. Dalam hal

ini, perilaku menyontek dapat berkurang ketika siswa berkompetisi secara sehat

dengan saling mengenal, membantu dan berdiskusi tentang materi belajar yang

akan diujikan, sehingga ketika ujian siswa sudah memahami materi dengan baik

dan dapat bersaing sehat mengerjakan soal dengan baik.

Selanjutnya pada hasil penelitian ini terkait variabel jenis kelamin hasil

menunjukkan ada pengaruh yang signifikan jenis kelamin dengan perilaku

menyontek yang berarti bahwa ada perbedaan tinggi dan rendahnya perilaku

menyontek antara jenis kelamin laki-laki dengan perempuan. Penelitian ini

menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih banyak melakukan perilaku

menyontek dibandingkan dengan laki-laki. Hasil penelitian ini tidak selaras

dengan penelitian Hadjar (2019) bahwa perilaku menyontek lebih banyak

dilakukan oleh siswa laki-laki karena laki-laki memiliki sikap lebih permisif

terhadap perilaku menyontek dari pada siswa perempuan. Selain itu, pada

penelitian Cladellas et al. (2013) menunjukkan bahwa siswa laki-laki lebih sering

tanggung jawab yang kuat pada aturan yang berlaku. Kemudian, penelitian ini

tidak selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyo dan Solicha (2018)

menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap perilaku

menyontek dan tidak ditemukan perbedaan dalam kecurangan yang dilaporkan

antara jenis kelamin perempuan dan laki-laki penelitian ini. Tetapi, dari hasil

penelitian ini selaras dengan penelitian Leming (1980) bahwa siswa berjenis

kelamin perempuan memiliki perilaku menyontek yang tinggi dibandingkan siswa

berjenis kelamin laki-laki karena resiko hukuman yang rendah.

Dimensi-dimensi dari variabel orientasi beragama pada penelitian ini tidak

memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku menyontek. Sebagaimana

dijelaskan pada latar belakang penelitian ini, peneliti mencoba melihat seberapa

besar pengaruh dari variabel orientasi beragama terhadap tingkah laku manusia

dengan meneliti perilaku menyontek pada siswa, yang mana bahwa orientasi

beragama memiliki pengaruh terhadap perilaku menyontek. Hasil penelitian ini

tidak selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Indrianita et al. (2011)

menemukan hal lain yang turut mempengaruhi perilaku menyontek yaitu orientasi

beragama. Hasil penelitian ini berbeda karena terdapat perbedaan sampel

penelitian dalam fokus perbedaan pendidikan agama yang ditanamkan dan

lingkungan proses pembelajaran dari setiap kelas yang beragam. Hal ini terkait

juga dengan empat item dari empat belas item yang mengukur variabel orientasi

beragama dinyatakan tidak fit maka item perlu didrop, hal tersebut dapat

mempengaruhi hasil regresi orientasi beragama terhadap perilaku menyontek.

Berdasarkan diskusi yang telah peneliti uraikan di atas, penelitian ini

dalam penelitian ini tidak begitu saja dapat menggugurkan teori yang sudah ada,

khususnya terkait dengan pengaruh dimensi-dimensi lain terhadap perilaku

menyontek. Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini salah satunya adalah

adanya sampling error yang disebabkan oleh ketidakmerataan dalam mengambil

sampel penelitian pada masing-masing sekolah MAS/MAN di daerah Tangerang

Raya. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh harapan sosial (social desirability) yang

disadari oleh siswa dimana penelitian ini memiliki sifat yang sensitif, sehingga

siswa tidak mau mengakui perilakunya karena takut melanggar harapan sosial dan

siswa melaporkan suatu hal yang berbeda dari kondisi kenyataannya.

Dokumen terkait