• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH ORIENTASI BERAGAMA, IKLIM KELAS DAN VARIABEL DEMOGRAFI TERHADAP PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH ORIENTASI BERAGAMA, IKLIM KELAS DAN VARIABEL DEMOGRAFI TERHADAP PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA

SKRIPSI

Skripsi Ini Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi

Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

(S.Psi)

Oleh :

Nia Listiani Aprilliani NIM : 11160700000026

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

ii

PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI

TANGERANG RAYA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Salah Satu

Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)

Oleh:

Nia Listiani Aprilliani

NIM : 11160700000026

Pembimbing

Solicha, M.Si

NIP. 19720415 199903 2 001

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “PENGARUH ORIENTASI BERAGAMA, IKLIM

KELAS DAN VARIABEL DEMOGRAFI TERHADAP PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA” telah diujikan

dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 Juli 2020, skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana psikologi (S.Psi) pada fakultas psikologi.

Jakarta, 27 Juli 2020

Sidang Munaqosyah

Dekan/ Wakil Dekan/

Ketua Merangkap Anggota Sekertaris Merangkap Anggota

Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si Bambang Suryadi, Ph.D NIP. 19620724 198903 2 001 NIP. 19700529 200312 1 002

Anggota

Dr. Diana Mutiah, M.Si Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog NIP. 19671029 199603 2 001 NIP. 19650220 199903 1 003

Solicha, M.Si

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) di UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya

atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 21 Juli 2020

Materai Rp. 6.000

NIA LISTIANI APRILLIANI NIM: 11160700000026

(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Life Would Be Meaningless, If We Have A Meaning For Others (Unknown)

Al waqtu atsmanu mina ad dzahabi

“Waktu itu lebih berharga dari pada emas”

Persembahan Special

Terima Kasih Kepada Allah Maha Pemberi Banyak Cinta

Kupersembahkan karya ini sebagai cinta dan kasih sayang kepada keluargaku Terkhusus Ayahku Warino Handoyono dan Ibuku Lilis Fatmawati yang kurindukan. Kepada orang-orang yang telah memberi dukungan dan cinta hingga hari ini dengan penuh harapan-harapan positif. For who always smile and believe

(6)

vi

B) Juli 2020

C) Nia Listiani Aprilliani

D) Pengaruh Orientasi Beragama, Iklim Kelas dan Variabel Demografi Terhadap Perilaku Menyontek Siswa MAS/MAN di Tangerang Raya E) xv +112 halaman+ lampiran

F) Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel orientasi beragama intrinsik, orientasi beragama ekstrinsik personal, orientasi beragama ekstrinsik sosial, keterlibatan, afiliasi, orientasi tugas, keteraturan dan pengorganisasian, kompetisi, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru, inovasi, variabel demografi jenis kelamin dan kegiatan ekstrakurikuler terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Sampel berjumlah 211 siswa MAS/MAN di Tangerang Raya yang diambil dengan teknik non probability sampling, yakni purposive sampling. Peneliti menggunakan alat ukur yang disusun sendiri dari teori Taxonomy for Cheating Scale, mengadaptasi pengukuran E/I Religiousty Measurement dan memodifikasi pengukuran Classroom Environment Scale (CES).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN di Tangerang Raya. Hasil penelitian juga menunjukkan proporsi varian seluruh independen variabel adalah sebesar 37,3, sedangkan 62,7 sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. Hasil uji hipotesis menunjukkan lima variabel independen memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek, yaitu keterlibatan, afiliasi, keteraturan dan pengorganisasian, kompetisi dan jenis kelamin. Sedangkan orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik personal, orientasi ekstrinsik sosial, orientasi pada tugas, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru, inovasi dan keikutsertaan ekstrakurikuler tidak berpengaruh terhadap perilaku menyontek siswa.

Peneliti berharap implikasi dari hasil penelitian ini dapat dikaji kembali dan dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya. Misalnya, dengan menambah variabel lain yang terkait dengan perilaku menyontek yang dapat dianalisis sebagai IV yang mungkin mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku menyontek. Lalu, untuk penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan independent variable, seperti variabel demografi yaitu etnis dan status sosial ekonomi. Selain itu, faktor karakteristik kepribadian individu yaitu impulsivitas, skill dan tipe kepribadian untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek.

G) Kata Kunci: Perilaku menyontek, tujuan penelitian, pengukuran, hasil penelitian.

(7)

vii

ABSTRACT

(A) Faculty of Psychology University of Syarif Hidayatullah Jakarta (B) July 2020

(C) Nia Listiani Aprilliani

(D) The Effect of Religious Orientation, Class Climate, and Demographic Variables on Cheating Behavior MAS/MAN Students In Tangerang Raya (E) xv + 112pages + attachments

(F) The aim of this research is to determine the influence of religious orientation intrinsic, religious orientation personal extrinsic, religious orientation social extrinsic, involvement, affiliation, task orientation, organization and organization, competition, regulatory clarity, teacher control, teacher support, innovation, demographic variables included gender and activities extracurricular towards a cheating behavior on MAS/MAN in Tangerang Raya students.

This research used a quantitative approach with multiple regression analysis. The sample consisted of 211 MAS/MAN in Tangerang Raya students taken with non-probability sampling techniques, namely purposive sampling. The researcher used a self-composed measuring instrument from the Taxonomy for Cheating Scale theory, adapts the E / I Religiousty Measurement and modifies the Classroom Environment Scale (CES).

The results of this study indicate that there is an influence of religious orientation, class climate, and demographic variables on the cheating behavior of MAS/MAN in Tangerang Raya students. The results also showed that the proportion of all independent variables was 37.3%, while the remaining 62.7% was influenced by other variables outside this study. Hypothesis test results showed five independent variables significantly influence cheating behavior, namely involvement, affiliation, regularity and organizing, competition, and gender. Whereas intrinsic orientation, personal extrinsic orientation, social extrinsic orientation, task orientation, clarity of rules, teacher control, teacher support, innovation, and extracurricular participation do not affect student cheating behavior. Researchers hope the implications of the results of this study can be reviewed and can be developed in further research. For example, by adding other variables related to cheating behavior that can be analyzed as IV that may have a major influence on cheating behavior. Then, further research can consider independent variables, such as demographic variables namely ethnicity and socioeconomic status. Also, individual personality characteristic factors are impulsivity, skill and personality type to get more knowledge about the factors that influence cheating behavior. G) Keywords: Cheating behavior, research objectives, measurement, research

results

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Puji serta syukur atas kehadirat Allah Ta’ala

karena telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, karunia, dan

keberkahan-Nya. Berkat kekuasaan-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Pengaruh Orientasi Beragama, Iklim Kelas dan Variabel Demografi Terhadap Perilaku Menyontek Siswa MAS/MAN di Tangerang Raya”.

Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa salam, keluarga, sahabat dan seluruh umat senantiasa mencintainya.

Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak dapat terlepas

dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah peneliti untuk

mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Ibu Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.

2. Orang tua peneliti Ayah Warino Handoyono dan Ibu Lilis Fatmawati yang

telah memberikan dukungan yang teramat besar, karena kerinduan yang

sangat besar memotivasi peneliti untuk cepat lulus dan dapat membanggakan

mereka, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Serta

ucapan terima kasih kepada adik kandung peneliti Desy Adistia Prasanti yang

telah bersabar hingga hari ini untuk menyaksikan penulis menyelesaikan

(9)

ix

3. Dosen pembimbing skripsi Ibu Solicha, M.Si. Peneliti sangat berterima kasih

dan sangat beruntung dibimbing olehnya. Bimbingan beliau telah membuka

wawasan serta menambah pengetahuan mengenai banyak hal. Belajar menulis

dengan rapih dan jujur dalam bekerja merupakan semangat yang beliau

berikan untuk peneliti. Terima kasih atas segala arahan, masukan dan saran

serta koneksi dalam pengerjaan skripsi ini.

4. Dosen Pembimbing Akademik Ibu Neneng Tati Sumiati, M.Si., Psi yang

selalu memberikan feedback terhadap masa studi selama di UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta serta dosen pembimbing akademik yang tidak pernah

absen dan perhatian dalam mem-follow up perkembangan anak-anak didiknya.

5. Seluruh Dosen di fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang

telah mendidik, mengajarkan dan berbagi ilmu serta wawasan kepada peneliti.

6. Seluruh responden siswa MAS/MAN di Tangerang Raya yang telah

berpartisipasi untuk menjadi responden dalam penelitian skripsi ini.

7. Sahabat satu bimbingan skripsi peneliti, Lailiza Sabila yang selalu menghibur

peneliti dan selalu bersama di setiap perjuangan meraih mimpi, mengerjakan

skripsi dengan penuh semangat di ruang skripsi sampai petang hampir setiap

hari di perpustakaan.

8. Sahabat satu kamar penulis, Nur Fauzizatushifa yang setiap harinya saling

menyemangati untuk cepat lulus dan saling berdiskusi banyak hal, peneliti

akan rindu hal itu dengannya nanti.

9. Adik-adik satu kost peneliti, Mutia dan Septi yang menjadi mahasiswa baru di

(10)

x

entah buatan masakan mereka maupun snack semangat untuk memberi

semangat peneliti agar cepat lulus.

10. Sahabat-sahabat peneliti, Rismawati, Dian Kharimah, Siti Al-Fajar Junianti

Syahputri yang telah banyak memberi cinta dari jauh dengan menyemangati

peneliti dengan memahami kekurangan dan kelebihan. Semoga silaturrahim

ini dapat selalu kita jaga.

11. Sahabat-sahabat peneliti yang spesial memberi warna di kisah perkuliahan

ini, Brilianti, Ilham, Sania, Suci, Intan, Syahda, Tami, Atharana, Kiki,

Nandita, Tiara, Upi tanpa kalian sadari peneliti juga telah menemukan

pengalaman dari diskusi dan canda tawa kita selama 4 tahun bersama.

12. Teman-teman beasiswa bidikmisi fakultas Psikologi angkatan 2016 yang telah

menjadi penyemangat satu frekuensi untuk lulus tepat waktu.

13. Kepada rekan-rekan mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016, terima

kasih tidak terasa 4 tahun kita sudah bersama dalam menjalani suka duka

kehidupan kampus, kalian selalu kompak dan peneliti bangga menjadi bagian

dari orang-orang hebat di dalamnya.

Semoga Allah memberikan pahala yang tak henti sebagai balasan atas

segala kebaikan dan bantuan yang diberikan. Semoga skripsi ini memberi

manfaat, bagi para pembaca dan seluruh pihak yang terkait.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh

Jakarta, 21 Juli 2020

(11)

xi

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ...iii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ...viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ...xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 13

1.2.1 Perumusan Masalah ... 13

1.2.2 Pembatasan Masalah ... 15

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 16

1.3.1 Tujuan penelitian ... 16

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 18

BAB 2 LANDASAN TEORI ... 20

2.1 Perilaku Menyontek ... 20

2.1.1 Pengertian Perilaku Menyontek ... 20

2.1.2 Dimensi-Dimensi Perilaku Menyontek ... 22

2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menyontek ... 23

2.1.4 Pengukuran Perilaku Menyontek ... 26

2.2 Orientasi Beragama ... 27

2.2.1 Pengertian Orientasi Beragama ... 27

2.2.2 Dimensi-Dimensi Orientasi Beragama ... 29

2.2.3 Pengukuran Orientasi Beragama ... 32

2.3 Iklim Kelas ... 33

2.3.1 Pengertian Iklim Kelas ... 33

2.3.2 Dimensi-Dimensi Iklim Kelas ... 35

2.3.3 Pengukuran Iklim Kelas ... 36

2.4 Kerangka Berpikir ... 37

(12)

xii

BAB 3 METODE PENELITIAN ... 46

3.1 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 46

3.1.1 Populasi dan Sampel ... 46

3.1.2 Teknik Pengambilan Sampel ... 46

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 47

3.3 Pengumpulan Data ... 49

3.4 Uji Validitas Konstruk ... 54

3.4.1 Uji Validitas Konstruk Item Perilaku Menyontek ... 56

3.4.2 Uji Validitas Konstruk Item Orientasi Beragama ... 58

3.4.3 Uji Validitas Konstruk Item Iklim Kelas ... 62

3.5 Teknik Analisis Data ... 71

3.6 Prosedur Penelitian ... 73

BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 75

4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 75

4.2 Analisis Deskriptif ... 81

4.3 Kategorisasi Skor Variabel Penelitian ... 82

4.4 Uji Hipotesis ... 86

4.4.1 Analisis Regresi Variabel Penelitian ... 86

4.5 Pengujian Proporsi Varian IV Terhadap DV ... 93

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 97

5.1 Kesimpulan ... 97 5.2 Diskusi ... 97 5.3 Saran ... 103 5.3.1 Saran Metodologis ... 103 5.3.2 Saran Praktis ... 105 DAFTAR PUSTAKA ... 108 LAMPIRAN ... 112

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Tabel Skala Likert Bentuk 1 ... 50

Tabel 3.2 Tabel Skala Likert Bentuk 2 ... 50

Tabel 3.3 Tabel Skala Likert Bentuk 3 ... 50

Tabel 3.4 Blueprint Skala Perilaku Menyontek ... 51

Tabel 3.5 Blueprint Skala Orientasi Beragama ... 52

Tabel 3.6 Blueprint Skala Iklim Kelas ... 53

Tabel 3.7 Muatan Faktor Item Perilaku Menyontek ... 57

Tabel 3.8 Muatan Faktor Item Orientasi Intrinsik ... 59

Tabel 3.9 Muatan Faktor Item Orientasi Ekstrinsik Personal ... 60

Tabel 3.10 Muatan Faktor Item Orientasi Ekstrinsik Sosial ... 61

Tabel 3.11 Muatan Faktor Item Keterlibatan ... 62

Tabel 3.12 Muatan Faktor Item Afiliasi ... 63

Tabel 3.13 Muatan Faktor Item Orientasi Pada Tugas ... 64

Tabel 3.14 Muatan Faktor Item Keteraturan dan Pengorganisasian ... 65

Tabel 3.15 Muatan Faktor Item Kompetisi ... 66

Tabel 3.16 Muatan Faktor Item Kejelasan Peraturan... 67

Tabel 3.17 Muatan Faktor Item Kontrol Guru ... 68

Tabel 3.18 Muatan Faktor Item Dukungan Guru ... 69

Tabel 3.19 Muatan Faktor Item Inovasi ... 70

Tabel 4.1 Gambaran Subjek Penelitian ... 75

Tabel 4.2 Hasil Analisis Deskriptif ... 81

Tabel 4.3 Norma Skor Kategorisasi ... 83

Tabel 4.4 Kategorisasi Skor Variabel Penelitian ... 83

Tabel 4.5 Tabel R-Square ... 87

Tabel 4.6 Tabel ANOVA ... 87

Tabel 4.7 Tabel Koefisien Regresi ... 88

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 113 Lampiran 2 Analisis CFA ... 125 Lampiran 3 Hasil Uji Regresi ... 139

(16)

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Perilaku menyontek menjadi permasalahan akademis yang melibatkan beragam

fenomena psikologis, termasuk pengembangan, motivasi dan pembelajaran.

Fenomena perilaku menyontek ini membentuk permasalahan di dunia psikologi

pendidikan (Anderman & Murdock, 2007). Pada penelitian Bowers (1964)

permasalahan ini sudah terjadi selama abad terakhir, banyak penelitian perilaku

menyontek yang telah dilakukan, terutama ketika ujian yang terjadi di Amerika

Serikat. Kemudian, penelitian Schab (1991) ditemukan perilaku menyontek lebih

banyak terjadi di sekolah menengah dibandingkan dengan universitas. Kemudian,

setelah tahun 2000-an fokus penelitian perilaku menyontek bergeser ke

negara-negara berkembang (Maeda, 2019).

Perilaku menyontek pada negara-negara berkembang kurang mendapat

perhatian karena studi global tahun 2003 sampai 2009 secara luas telah dilakukan

studi komparatif dalam pendidikan tentang etika dan korupsi dalam pendidikan.

Tetapi, perilaku menyontek ketika ujian kurang mendapatkan perhatian (Maeda,

2019). Perilaku menyontek merupakan fenomena yang sudah lama ada dalam

dunia pendidikan, terdapat banyak pertanyaan kapan perilaku menyontek mulai

terjadi, tentu sulit menjawabnya. Tetapi ditengarai bahwa perilaku menyontek

mulai terjadi seiring dimulainya penilaian dalam dunia pendidikan (Mujahidah,

(17)

Pada penelitian Maeda (2019) di Kamboja bahwa survei penelitian dalam

memeriksa praktek perilaku menyontek selama ujian sebelum kebijakan anti

menyontek 2014 diperkenalkan. Studi ini menemukan bahwa dari 157 siswa

sekolah menengah 65% membeli lembar contekan sebelum ujian, 78% meminta

contekan kepada teman, 16% berkomunikasi dengan orang-orang di luar ujian

dengan melemparkan melalui jendela, menggunakan ponsel dan menerima

bantuan dari orang terpercaya. Kemudian, ditemukan 65% dari siswa menyuap

seseorang yang dipercaya selama ujian dengan pembayaran sekitar $ 30 (Maeda,

2019).

Perilaku menyontek ini memberikan dampak negatif bagi dunia pendidikan,

terutama pada siswa yang melakukannya. Para siswa melakukan ujian sebagai

evaluasi pembelajaran yang digunakan untuk melihat kinerja siswa di sekolah

(Pramadi et al., 2017). Namun apabila dalam proses evaluasi hasil belajar (tes atau

ujian) siswa menyontek, maka hasil tes tersebut bisa bias. Hasil tes tidak dapat

menggambarkan kemampuan yang dimiliki siswa secara riil dan sebenarnya tidak

menunjukkan perubahan yang terjadi pada diri siswa. Menurut Anderman dan

Murdock (2007) menyatakan bahwa perilaku menyontek dapat mengurangi fungsi

penggunaan data asesmen yaitu tujuan tercapainya proses pembelajaran dan

sumber acuan bagi para guru dalam melakukan penilaian, tindakan, serta

pemberian arahan kembali (Anderman & Murdock, 2007).

Tindakan menyontek ini juga sarana bertumbuhnya perilaku korupsi di

kemudian hari, karena mengingat menyontek merupakan mengambil hak orang

lain atau perilaku curang dengan tujuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi

(18)

menyontek yang dapat merugikan banyak pihak yaitu siswa yang menyontek

maupun siswa yang dicontek akan mengalami kerugian. Siswa yang menyontek

tidak akan mengetahui batas kemampuan yang dimilikinya, sedangkan dampak

negatif yang merugikan siswa yang dicontek secara tidak langsung haknya

diambil oleh siswa yang menyontek. Secara psikologi pun, perilaku menyontek

memiliki dampak yang tidak baik, sebab perilaku menyontek dapat mendidik

siswa untuk berbohong demi mendapatkan sesuatu yang nantinya akan menjadi

kebiasaan (pribadi pembohong). Selain itu perilaku menyontek dapat menyulitkan

guru dalam memberikan penilaian yang sesuai dengan kemampuan dirinya. Hal

ini menyebabkan nilai yang diperoleh bukan berasal dari kemampuan

sesungguhnya yang menunjukkan tingkat kemampuan dan pemahaman siswa itu

sendiri.

Survei penelitian yang dilakukan oleh Lindale High School (LHS)

memberikan angka prosentase terbaru 65% dari 205 siswa mengaku pernah

menyontek. Pada 07 Februari 2019, survey Yale Daily News mengungkapkan

prosentase 82% perilaku menyontek yang dilakukan siswa sekolah menengah di

Yale belum tertangkap. Perilaku menyontek di berbagai Negara, salah satunya

bagian Amerika, Dr. Donald, Mc. Cabe dan The International Center for

Academic Integrity telah dilakukan selama 12 tahun (2002-2015) di 24 sekolah menengah di Amerika Serikat bahwa lebih dari 70.000 siswa, baik yang sudah

lulus pernah melakukan perilaku menyontek. Hasil yang diperoleh yaitu 95%

siswa mengaku melakukan tindakan menyontek pada saat ujian (Danilyuk, 2019).

Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia.

(19)

Komputer (UNBK) 2019 dari Jawa Timur yang ditemukan 21 kasus kecurangan

saat UNBK, kemudian Kalimantan Selatan 18, Bali 15, Jawa Barat 13 dan

Lampung 13 (Alfons, 2019). Ternyata, data Kemendikbud yang didapatkan pada

berita survei mencatat 126 kecurangan selama ujian nasional 2019 yang

dinyatakan oleh Inspektur Jenderal Kemendikbud, Muchlis R. Luddin bahwa

terdapat 202 aduan kecurangan selama pelaksanaan ujian nasional 2019 tingkat

SMA/SMK/MA yang terverifikasi menjadi 126 kasus kecurangan. Pada catatan

data yang diperoleh tahun 2017, terdapat 71 peserta, kemudian tahun 2018 hanya

79 peserta, dan pada tahun 2019 terbanyak yaitu 126 yang terverifikasi (Abdi,

2019).

Hal ini juga terjadi pada siswa SMA kelas XII di kota Bandung sering

melakukan tradisi menyontek bekerja sama dengan teman kelasnya saat

mengerjakan soal ujian. Di kota Tangerang, seorang siswa ketika diwawancara

mengakui bahwa menyontek menjadi sebuah kegiatan rutin saat musim ujian,

dirinya mengakui lebih sering menyontek secara mandiri tanpa bekerja sama

dengan teman-temannya. Beragam hal bisa menjadi alasan oleh mereka untuk

memutuskan menyontek. Cara-cara yang dilakukan saat menyontek sudah sangat

beragam mulai dari membuat rangkuman materi hingga menyiapkan kode dengan

menyembunyikannya pada secarik kertas kecil (Khairunnisa, 2018). Artikel di

Local Newspaper, bahwa sekelompok siswa melakukan perilaku menyontek dengan alasan perasaan mereka sendiri sebagai tekanan untuk mampu bersaing

dalam dimensi masyarakat (Maeda, 2019).

Berbagai cara yang dilakukan dalam perilaku menyontek dikarenakan

(20)

setiap siswa. Respon tersebut ada yang positif dapat menjadikan siswa lebih giat

belajar, sedangkan respon negatif siswa akan menghalalkan segala cara untuk

memperoleh nilai tinggi. Madrasah Aliyah menuntut setiap siswa untuk lebih

menekankan religiusitas, akhlak serta moral yang tinggi agar tidak melakukan

kecurangan dalam belajar. Meskipun begitu masih ada siswa yang menyontek

dikarenakan nilai menjadi salah satu hal yang menjadi tolak ukur kelulusan siswa

(Nur Sani, 2017). Hal ini memberikan evaluasi diri dan berbenah agar generasi

Islam ke depan tidak terjebak dalam perilaku tercela yang mengingkari roh dan

dan semangat Islam (Kusaeri, 2017).

Evaluasi pada lembaga pendidikan formal mulai tingkat dasar, menengah,

sampai dengan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang

berkualitas, sama halnya seperti Madrasah Aliyah (MA). Madrasah Aliyah

merupakan lembaga pendidikan formal tingkat menengah atas yang menekankan

pada nilai religius. Kurikulum Madrasah Aliyah sama dengan kurikulum Sekolah

Menengah Atas (SMA), hanya pada Madrasah Aliyah terdapat porsi lebih banyak

mengenai pendidikan agama Islam. Sama seperti Sekolah Menengah Atas pada

umumnya, Madrasah Aliyah juga menjadikan nilai sebagai tolak ukur dalam

mengukur kemampuan siswa, seperti menerapkan nilai kriteria ketuntasan

minimal (KKM) yang tinggi. Hal ini akan menimbulkan tekanan kepada siswa

untuk bisa mencapai nilai yang tinggi (Nur Sani, 2017).

Perilaku menyontek dipengaruhi oleh banyak faktor. Mujahidah (2009),

menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi menyontek adalah faktor

situasional yang meliputi orientasi tujuan, pengawasan atau kontrol selama ujian,

(21)

teman sebaya, soal yang sulit dalam ujian, ketidakpastian dalam menghadapi

ujian, suasana akademis sekolah. Faktor situasional lain, seperti ruangan kelas

yang sangat besar, kurangnya perhatian pada kualitas ruang kelas, tes yang berisi

pilihan berganda, menggunakan soal ujian yang sudah lama mempengaruhi

perilaku kecurangan, yaitu perilaku menyontek.

Selain itu dalam penelitian Murdock bahwa tahun 1990 literatur bergeser

ke studi yang lebih fokus pada faktor-faktor kontekstual seperti karakteristik kelas

dalam penelitian kecurangan dan faktor personal yang mempengaruhi perilaku

menyontek ini adalah umur, gender dan rata-rata nilai. Pada penelitian Maeda

diketahui bahwa perilaku menyontek dipengaruhi oleh faktor kontekstual lain

yang menyangkut rumah siswa dan lingkungan sekolah termasuk kebijakan

integritas sekolah, tingkat hukuman, hubungan teman sebaya, kesempatan,

perilaku dan sikap guru terhadap kecurangan, metode pembelajaran dan tekanan

orang tua (Maeda, 2019).

Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur pada hari Kamis tanggal

15 Agustus 2019 kepada satu guru civitas akademika di salah satu sekolah di

Tangerang Selatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru tersebut, beliau

menyatakan bahwa ketika ujian berlangsung masih ditemukan siswa yang

menyontek, siswa-siswi menyontek rata-rata pada mata pelajaran yang sulit,

seperti mata pelajaran matematika dan bahasa, dikarenakan mata pelajaran

tersebut membutuhkan hafalan yang kuat. Cara siswa menyontek dengan

menanyakan jawaban kepada teman. Padahal masih selalu kami peringatkan,

namun perilaku menyontek tersebut masih kerap terjadi. Menurutnya beberapa

(22)

catatan-catatan kecil, bertanya dengan teman, mencatat sontekan di meja dan ditulis di

belakang pergelangan tangan. Alasan siswa menyontek karena tidak ingin

remedial, mendapatkan nilai yang bagus, menyontek dilakukan juga karena

sulitnya mata pelajaran tersebut, serta kurang menguasai materi ujian (Rif’atun

Naili Al-Mastury, personal communication, Agustus 2019).

Dengan semakin maraknya perilaku menyontek ini pada kalangan siswa.

Maka, diperlukan antisipasi dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

menyontek. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan dan menurukan perilaku

menyontek pada kalangan siswa sekolah menengah atas yaitu cara pandang

seseorang dalam beragama. Cara pandang seseorang tentang agama yang dianut

akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam menafsirkan agama tersebut dan

menjalankan apa yang dianggapnya sebagai perintah dari agama tersebut. Pada

penelitian Sutton dan Huba ternyata menemukan hal lain yang turut

mempengaruhi perilaku menyontek yaitu aspek beragama. Allport sendiri

menggunakan istilah lain yaitu orientasi beragama. Orientasi beragama lebih

dalam lagi yang merujuk pada sistem cara pandang seseorang mengenai

kedudukan agama dalam hidupnya. Sistem cara pandang inilah yang akan

menentukan bentuk relasi seseorang dengan agamanya (Indrianita et al., 2011).

Orientasi beragama pada individu dapat dilihat dalam kualitas ketaatan

kepada Tuhan yang dikembangkan dalam sikap dan perilaku beragama. Konsep

tersebut mengacu pada konsep awal yang dikembangkan oleh Allport dan Ross

(1967). Perkembangan konsep orientasi beragama berawal dari ketertarikan ilmu

psikologi dalam mengamati dampak yang diberikan agama terhadap tingkah laku

(23)

motivasional dan kebutuhan yang mendasari perilaku keagamaan seseorang, yaitu

orientasi beragama intrinsik dan ekstrinsik. Dimana terdapat sebagian orang

memiliki orientasi beragama ekstrinsik bahwa lebih termotivasi untuk

menggunakan agamanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial,

menyediakan status rasa aman dan ada pula yang menggunakan agama sebagai

pencitraan diri. Sebaliknya, orientasi beragama intrinsik yaitu seseorang

termotivasi untuk hidup di dalam agamanya. Walaupun ada kebutuhan lain yang

menyertainya namun tetap dapat mengesampingkan kebutuhan tersebut, sadar

bahwa ajaran agama perlu dihayati dan diamalkan sesuai tuntunan dalam

beragama (Allport & Ross, 1967).

Menurut Tiliopoulos (dalam Darvyri et al., 2014) orientasi beragama telah

menjadi tonggak penting dalam psikologi agama yang berkaitan dengan cara

hidup seseorang dan kepercayaan seseorang dengan agamanya. Hal ini

mempengaruhi orang tersebut dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam

agamanya di kehidupan, termasuk salah satunya implementasi nilai kejujuran.

Oleh karena itu, nilai beragama bisa menjadi variabel yang penting memprediksi

beberapa perilaku manusia. Studi Paloutzian dan Wilhelm (dalam Indrianita et al.,

2011) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki nilai intrinsik yang tinggi

kemungkinan kecil untuk melakukan perbuatan menyontek. Hal ini didukung oleh

penelitian Indrianita et al. (2011) dimana terdapat hubungan negatif yang

signifikan antara orientasi beragama intrinsik dan kecurangan akademis, salah

satunya perilaku menyontek (Indrianita et al., 2011).

Seorang siswa yang memiliki orientasi beragama intrinsik yang tinggi

(24)

dikarenakan bahwa siswa yang memiliki orientasi beragama intrinsik yang tinggi

akan semakin menginternalisasikan nilai-nilai dan aturan yang ada dalam

agamanya, termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai kejujuran yang tentunya tidak

sejalan dengan perilaku kecurangan, seperti menyontek, plagiat dan sebagainya.

Berbeda hal dengan siswa yang memiliki orientasi beragama ekstrinsik yang

tinggi, penelitian Indrianita menyatakan bahwa, “Ada hubungan positif yang

signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik dan kecurangan akademis, salah

satunya perilaku menyontek”. Hal ini disebabkan karena seseorang yang orientasi

beragamanya ekstrinsik hanya menjadikan agama sebagai alat, bukan

menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam dirinya” (Indrianita et al.,

2011).

Fenomena perilaku menyontek juga dipengaruhi oleh faktor kontekstual

yaitu kelas. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 15 Agustus

2019 di salah satu sekolah Madrasah Aliyah (MA) Tangerang Selatan, hampir

seluruh siswa menyadari bahwa sebenarnya perilaku menyontek merupakan

perbuatan salah. Namun, mereka terpaksa melakukan perilaku menyontek tersebut

karena tidak ingin mengulang tes kembali dan mengakui hampir satu kelas

melakukan tindakan menyontek tanpa ketahuan oleh pengawas meskipun ada

CCTV. Faktor kontekstual seperti kelas memiliki pengaruh pada perilaku

menyontek siswa, penelitian Luftenegger bahwa kecenderungan siswa menyontek

bukan hanya dipengaruhi oleh konsep pribadi, namun hal ini juga dapat dilihat

dari lingkungan kelas yang mempengaruhi segala perilaku dan karakter baik siswa

(25)

Iklim kelas mengacu kepada berbagai dimensi psikologis dan sosial di

dalam kelas. Iklim kelas yang positif akan membantu siswa belajar, meningkatkan

motivasi dan hasilnya pembelajaran yang baik serta mendorong kejujuran

akademik, salah satunya mengurangi tindakan menyontek. Seperti ketika siswa

terlibat secara aktif dalam setiap aktivitas kelas serta memiliki hubungan

persahabatan yang baik dengan saling tolong menolong, saling membantu dan

saling mendukung. Kemudian, kemampuan dari guru untuk mendukung dan

memberikan perhatian terhadap siswa, memberikan peraturan yang jelas untuk

dijalankan sebagai kontrol di dalam kelas serta berusaha mencari cara untuk

menghindari kebosanan siswa dari cara belajar yang monoton. Hal ini di dukung

oleh penelitian Kadarsih et al. (2016) bahwa iklim kelas penciptaan yang kondusif

sangat mendukung untuk terlaksananya proses belajar mengajar yang baik.

Namun sebaliknya, pada penelitian Whitley dan Keith-Spiegel (2002) iklim kelas

yang negatif akan menyebabkan siswa membenarkan tindakan menyontek untuk

diri mereka sendiri. Hal ini dikarenakan iklim negatif yang tercipta di dalam kelas

membuat siswa sulit menerima materi pembelajaran yang diberikan guru sehingga

keberhasilan belajar menurun, keberhasilan belajar yang menurun juga membuat

siswa sulit termotivasi untuk mencapai keberhasilan belajarnya, siswa cenderung

melakukan berbagai cara yang melanggar aturan masyarakat untuk mendapatkan

nilai yang baik, seperti menyontek dan perbuatan curang lainnya. Maka, dampak

penciptaan iklim kelas ini dapat mempengaruhi segala perilaku siswa maupun

guru dalam proses pengajaran dimana penciptaan iklim kelas ini dapat

(26)

Penelitian studi dalam karakteristik lain menunjukkan lingkungan belajar

(kelas) terkait dengan prediktor siswa menyontek (Anderman & Won, 2019).

Kecenderungan siswa menyontek dipengaruhi oleh konsep pribadi, namun hal ini

juga dapat dilihat dari lingkungan kelas yang mempengaruhi segala perilaku dan

karakter baik guru maupun siswa dalam proses pengajaran (Lüftenegger et al.,

2017). Hasil riset yang dilansir oleh Brackett (dalam Fitria, 2019) munculnya

permasalahan perilaku menyontek pada siswa berhubungan signifikan dengan

iklim di dalam kelas seperti afiliasi siswa dengan guru. Hal tersebut menunjukkan

iklim dari lingkungan sekolah terutama iklim yang terbentuk di dalam kelas serta

pengawasan pendidik (guru) yang kurang maksimal dapat mempengaruhi

munculnya masalah perilaku menyontek pada siswa ketika di sekolah. Ini berarti

ada dugaan bahwa lingkungan kelas berperan tehadap terjadinya perilaku

menyontek siswa.

Fenomena selanjutnya yang mempengaruhi perilaku menyontek yaitu

variabel demografi (jenis kelamin dan kegiatan ekstrakurikuler). Jenis kelamin

berpengaruh signifikan berhubungan dengan perilaku menyontek. Penelitian

Hadjar dimana perbedaan jenis kelamin dalam studi sex sebagai faktor kecurangan

salah satunya perilaku menyontek yang telah dilakukan turut mempengaruhi

perilaku menyontek. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa siswa laki-laki lebih

banyak melakukan tindakan menyontek dibandingkan siswa perempuan. Perilaku

menyontek lebih banyak dilakukan oleh siswa laki-laki karena mereka memiliki

sikap lebih permisif terhadap perilaku menyontek daripada siswa perempuan

(Hadjar, 2019). Hal ini diperkuat dengan penelitian Cladellas et al. (2013)

(27)

perempuan dikarenakan tidak dapat membangun rasa tanggung jawab yang kuat

pada aturan yang berlaku. Lain halnya dengan penelitian Leming (1980)

menunjukkan bahwa siswa berjenis kelamin perempuan lebih tinggi melakukan

tindakan menyontek dibandingkan dengan siswa berjenis kelamin laki-laki karena

hukuman dengan resiko yang rendah. Sedangkan, penelitian Cahyo dan Solicha

(2018) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap perilaku

menyontek dan tidak ditemukan perbedaan dalam kecurangan yang dilaporkan

antara jenis kelamin perempuan dan laki-laki terhadap perilaku menyontek.

Berdasarkan perbedaan dari hasil penelitian sebelumnya, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian variabel jenis kelamin karena tidak menutup kemungkinan

akan selalu ada hasil yang berbeda dari hasil penelitian sebelumnya dan peneliti

ingin mengetahui pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek.

Selain jenis kelamin, faktor yang diduga berpengaruh terhadap perilaku

menyontek yaitu kegiatan ekstrakurikuler. Di antara beberapa penelitian, McCabe

dan Trevino menyatakan bahwa adanya keterlibatan siswa dalam kegiatan

ekstrakurikuler terdapat pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek,

kecenderungan tingkat perilaku menyontek yang tinggi terjadi karena siswa

terlibat di dalam kegiatan ekstrakurikuler (Anderman & Murdock, 2007). Padahal,

kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya untuk meningkatkan dampak positif

kemampuan non-akademik bagi siswa yang mengikutinya. Dari penelitian terkait

variabel kegiatan ekstrakurikuler peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai

pengaruh kegiatan ekstrakurikuler untuk mengetahui pengaruh signifikan terhadap

(28)

Dari pembahasan fenomena dan berbagai penelitian yang telah dipaparkan,

bahwa perilaku menyontek merupakan masalah yang krusial dalam dunia

pendidikan untuk segera ditindaklanjuti, guna mencapai tujuan pendidikan yang

lebih baik. Oleh sebab itu, peneliti mengajukan judul dan memilih variabel

psikologi dari pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi

terhadap perilaku menyontek di ranah pendidikan. Dari pemikiran tersebut,

peneliti tertarik untuk meneliti dan menganalisa lebih dalam “Pengaruh orientasi

beragama, iklim kelas dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN di Tangerang Raya”.

1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah 1.2.1 Perumusan masalah

Perumusan masalah mayor yang akan diteliti pada penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama, iklim

kelas, dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek pada siswa

MAS/MAN di Tangerang Raya?

2. Seberapa besar sumbangan orientasi beragama, iklim kelas dan variabel

demografi terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang

(29)

Perumusan masalah minor pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama intrinsik

terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik

personal terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik

sosial terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang

Raya?

4. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara keterlibatan terhadap perilaku

menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

5. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara afiliasi terhadap perilaku

menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

6. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi tugas terhadap

perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

7. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara keteraturan dan

pengorganisasian terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di

Tangerang Raya?

8. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetisi terhadap perilaku

menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

9. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kejelasan peraturan terhadap

perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

10. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kontrol guru terhadap

(30)

11. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan guru terhadap

perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

12. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara inovasi terhadap perilaku

menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

13. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis kelamin terhadap

perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

14. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan ekstrakurikuler

terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?

1.2.2 Pembatasan masalah

Pembatasan masalah penelitian ini dibatasi agar tidak meluas, maka pembatasan

penelitian ini dibatasi pada perilaku menyontek, orientasi beragama, iklim kelas

dan variabel demografi. Adapun variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:

1. Cizek (2003) mendefinisikan perilaku menyontek merupakan tindakan atau

suatu perbuatan seperti memberi, mengambil dan menerima informasi yang tidak

diperbolehkan, menggunakan materi atau peralatan yang dilarang seperti kertas

contekan dan handphone serta memanfaatkan kelemahan orang lain untuk

menyontek demi mendapatkan keuntungan pada saat ujian berlangsung.

2. Orientasi beragama yaitu bagaimana individu memandang agama dan

menggunakan agama dalam kehidupan yang dibagi menjadi tiga dimensi meliputi

orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik personal dan orientasi ekstrinsik sosial

(Gorsuch dan McPherson, 1989).

3. Iklim kelas yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan penilaian yang

(31)

yang merupakan aspek-aspek di dalam kelas. Iklim kelas memiliki sembilan

dimensi yaitu keterlibatan, afiliasi, orientasi tugas, keteraturan dan

pengorganisasian, kompetisi, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru

dan inovasi (Trickett & Moos, 1974).

4. Variabel demografi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis kelamin

dan kegiatan ekstrakurikuler MAS/MAN di Tangerang Raya.

5. Sampel dalam penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan yang menjadi

siswa MAS/MAN di daerah Tangerang Raya yang terdiri dari kelas 10, 11, 12.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian

Berdasarkan pemaparan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Menguji pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi

terhadap perilaku menyontek.

2. Mengetahui seberapa besar sumbangan orientasi beragama, iklim kelas dan

variabel demografi terhadap perilaku menyontek.

3. Menguji pengaruh orientasi intrinsik pada variabel orientasi beragama

terhadap perilaku menyontek.

4. Menguji pengaruh orientasi ekstrinsik personal pada variabel orientasi

beragama terhadap perilaku menyontek.

5. Menguji pengaruh orientasi ekstrinsik sosial pada variabel orientasi beragama

terhadap perilaku menyontek.

6. Menguji pengaruh keterlibatan pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

(32)

7. Menguji pengaruh afiliasi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

8. Menguji pengaruh orientasi tugas pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

9. Menguji pengaruh keteraturan dan pengorganisasian pada variabel iklim kelas

terhadap perilaku menyontek.

10. Menguji pengaruh kompetisi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

11. Menguji pengaruh kejelasan peraturan pada variabel iklim kelas terhadap

perilaku menyontek.

12. Menguji pengaruh kontrol guru pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

13. Menguji pengaruh dukungan guru pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

14. Menguji pengaruh inovasi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku

menyontek.

15. Menguji pengaruh jenis kelamin variabel demografi terhadap perilaku

menyontek.

16. Menguji pengaruh kegiatan ekstrakurikuler pada variabel demografi terhadap

(33)

1.3.2 Manfaat penelitian

1. Manfaat teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan

ilmu psikologi, khususnya Pendidikan dengan memberikan bukti-bukti

empiris pada penelitian ini. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi

bahan rujukan dan pembanding bagi penelitian selanjutnya. Kemudian

menambah khazanah pengetahuan tentang perilaku menyontek serta

faktor-faktor yang mempengaruhinya.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini dapat bermanfaat bagi para guru, siswa, orang tua siswa dan

dunia pendidikan terkait perilaku menyontek dan faktor yang

mempengaruhinya.

1. Bagi para guru, penelitian ini dapat memberikan informasi dari bentuk

perilaku menyontek sehingga guru dapat meminimalisir penyebab perilaku

menyontek dengan teknik yang tepat dalam menghadapi siswa yang

menyontek dan memberi penekanan terhadap siswa tentang keharusan

memahami materi pembelajaran untuk memperoleh hasil yang baik tanpa

menyontek.

2. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat sebagai pembelajaran diri bahwa

menyontek itu memberikan dampak buruk bagi pribadi di dalam diri dan

merugikan. Memberikan pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan nilai

yang baik, tentunya siswa harus belajar dengan tekun sesuai dengan

(34)

untuk siswa dapat menghilangkan kebiasaan menyontek dan dapat

memperoleh hasil ujian secara jujur, hal ini juga bertujuan untuk

mengurangi perilaku korupsi dan kejahatan di masa depan nanti.

3. Bagi orang tua, penelitian ini memberikan informasi mengenai perilaku

menyontek yang tidak etis yang mungkin dapat dilakukan oleh anak-anak

mereka. Dengan demikian orang tua dapat memberikan arahan dalam

mendidik proses belajar yang benar kepada anak agar tidak menjadi pelaku

tindak perilaku menyontek.

4. Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini bermanfaat memberikan

informasi penyebab terjadinya perilaku menyontek. Faktor-faktor

mengenai proses terjadinya perilaku menyontek membantu instusi

(sekolah) untuk memberikan perhatian lebih dalam mempertimbangkan

berbagai cara yang efektif sebagai pencegahan dan meminimalisir

(35)

20

LANDASAN TEORI

2.1 Perilaku Menyontek

2.1.1 Pengertian perilaku menyontek

Menurut Anderman dan Murdock (2007) pengertian perilaku menyontek ditinjau

dari perspektif pembelajaran merupakan strategi yang berfungsi sebagai cara

berpikir dalam penggunaan pengaturan diri dan pikiran yang kompleks, dimana

menyontek menghalangi kebutuhan untuk menggunakan strategi tersebut dimana

siswa kecenderungan memilih untuk menyontek karena penggunaan strategi

pembelajaran yang tidak efektif. Kemudian perspektif yang dilihat dari dorongan

siswa pada perilaku yang terjadi karena fokus pada hasil ekstrinsik seperti nilai

dan mempertahankan citra dirinya terhadap teman dan guru di dunia persaingan.

Perilaku menyontek yaitu cara yang digunakan untuk mendapatkan nilai

hasil ujian yang baik dengan cara yang negatif tidak dibenarkan pada konteks

lingkungan akademis yang menekankan nilai yang baik dan kompetisi di

dalamnya. Perilaku menyontek adalah tindakan tidak terpuji atau tindakan tidak

jujur pada salah satu bentuk kebohongan yang merupakan salah satu jenis korupsi

dalam pendidikan (Fachruddin, 2017).

Perilaku menyontek menurut Cizek (dalam Anderman & Koenka, 2017)

mendefinisikan perilaku menyontek merupakan tindakan berbuat curang dalam

(36)

yang pintar. Menurut Davis et al. (2009) perilaku menyontek merupakan suatu

perbuatan yang dilakukan oleh siswa untuk menipu atau mengecoh pengajar

sehingga pengajar berpikir bahwa pekerjaan akademik yang diselesaikan adalah

hasil pekerjaan siswa tersebut.

Definisi perilaku menyontek menurut Cizek (2003), pertama perilaku

menyontek merupakan tindakan pelanggaran aturan yang ditetapkan secara

administratif ketika ujian berlangsung dan penyelesaian tugas yang telah

diberikan. Kedua, tindakan menyontek dicerminkan dalam bentuk memanfaatkan

keuntungan kemampuan hasil teman dan menjadi ketidakadilan terhadap siswa

yang lain ketika ujian atau pemberian tugas. Ketiga, perilaku menyontek adalah

perbuatan yang didapatkan bukan hasil dari kemampuannya dalam ujian maupun

pengerjaan tugas, sehingga perbuatan ini dapat mengurangi nilai riil kemampuan

siswa.

Pengertian perilaku menyontek menurut Cizek (2003) digunakan dalam

penelitian ini. Dikarenakan pada teori literatur memberikan penjelasan yang

lengkap tentang perilaku menyontek, cara menyontek dan dampak dari perbuatan

(37)

2.1.2 Dimensi-dimensi perilaku menyontek

Dimensi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Cizek (2003) yang

memiliki tiga dimensi dalam teori Taxonomy for Cheating, di antaranya adalah:

a. Memberi, Mengambil dan menerima informasi, yaitu memberikan, mengambil

dan menerima hasil jawaban ujian atau tugas yang sudah di kerjakan.

b. Menggunakan materi (bahan) yang terlarang, yaitu menggunakan materi atau

jawaban dari luar secara tidak legal atau tidak sah. Contohnya menyiapkan

kunci jawaban dengan menulis di kertas ataupun menggunakan handphone

untuk melihat pedoman atau materi ujian secara tidak sah pada saat ujian.

c. Memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur atau proses untuk

mendapatkan keuntungan, yaitu mencari kesempatan untuk menyontek dengan

memanfaatkan kelengahan pengawas.

Berdasarkan pembahasan dimensi-dimensi perilaku menyontek, maka

dimensi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dimensi Cizek (2003)

yang menyatakan bahwa perilaku menyontek terdiri dari tiga dimensi yang

mencakup tindakan atau perbuatan perilaku menyontek ketika ujian berlangsung

dengan memberi, mengambil, menerima informasi yang tidak diperbolehkan.

Menggunakan materi atau peralatan yang tidak diperbolehkan, memanfaatkan

(38)

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek

Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek pada siswa cukup

beragam. Hal ini dapat dilihat dari penelitian terdahulu tentang perilaku

menyontek:

a. Faktor pribadi yaitu karakteristik individu, termasuk jenis kelamin, usia, sosial

kelas dan kepribadian seperti motivasi belajar dan sikap bermoral (Maeda,

2019). Kajian literatur yang dikembangkan oleh McCabe dan Trevino

menemukan keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler berhubungan dengan

perilaku menyontek karena menciptakan lebih banyak tuntutan pada siswa

(Anderman & Murdock, 2007). Pada penelitian Whitley menyatakan bahwa

karakteristik kepribadian individu juga meningkatkan kemungkinan perilaku

menyontek seperti impulsivitas, skill dan tipe kepribadian. Individu memiliki

impulsivitas kebutuhan yang tinggi akan menyebabkan intensitas yang tinggi

dalam menyontek. McCabe et al. (2001) Perilaku menyontek juga terlihat

pada konsep skill (kemampuan) sebagai grade point average (GPA) yang

berkorelasi terhadap perilaku menyontek, secara umum diyakini bahwa siswa

dengan kemampuan rendah lebih mungkin terlibat dalam perilaku menyontek

dan sebaliknya. Namun, konsep kemampuan yang dimiliki sangat beragam

yang dapat dikaji lebih jauh dalam literatur kecurangan.

b. Faktor kontekstual menurut McCabe et al. (dalam Maeda, 2019) meliputi

rumah siswa dan lingkungan sekolah, termasuk integritas sekolah, pemberian

hukuman, hubungan teman sebaya, kesempatan, teman sebaya, sikap guru

(39)

c. Faktor situasional yaitu variabel yang signifikan dalam ketidakjujuran

akademik pada kajian literatur yang dilakukan oleh Anderman dan Murdock

(2006), menunjukkan hasil bahwa menyontek dapat disebabkan oleh faktor

kelas seperti keterlibatan siswa secara aktif di dalam kelas, memiliki

hubungan interpersonal yang baik sesama siswa dan penciptaan sistem belajar

yang kondusif. Faktor kelas dapat mendorong siswa berperilaku menyontek

atau justru menghindarinya. Namun ada hal yang lebih dalam lagi dari faktor

kelas secara umum, yaitu iklim kelas sebagai kepribadian suatu ruang kelas

dimana perilaku individu dalam lingkungan sosial adalah fungsi bersama dari

individu dan lingkungannya. Menurut Mujahidah (2009) menjelaskan

faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek dalam keadaan yang bersifat

mendasar seperti pengawasan atau kontrol selama ujian, apabila suasana

pengawasan ketat, maka kecenderungan menyontek kecil, sebaliknya jika

suasana pengawasan longgar, maka kecenderungan menyontek lebih besar.

Penggunaan tes yang sudah berulang kali digunakan, ruangan kelas yang tidak

di program dengan baik dapat menimbulkan persepsi kemudahan untuk

melakukan tindakan menyontek.

d. Faktor demografi dari beberapa temuan menarik mencatat beberapa penemuan

yang mempengaruhi perilaku menyontek terkait dengan gender, usia, tingkat

kelas, etnis, status sosial ekonomi (SES) dan agama. Dalam hal ini juga

terdapat penelitian secara khusus menyelidiki perbedaan gender terhadap

perilaku menyontek. Laporan penelitian yang dilakukan oleh Calabrese et al.

(dalam Anderman & Murdock, 2007) menemukan bahwa siswa berjenis

(40)

berjenis kelamin perempuan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh

Jacobson et al. (dalam Anderman & Murdock, 2007), menyatakan bahwa

siswa perempuan lebih banyak menyontek dari pada laki-laki.

e. Faktor agama yaitu pada sejumlah penelitian khusus menyelidiki hal lain

yang turut mempengaruhi perilaku menyontek yaitu aspek beragama. Dalam

penemuan variabel aspek beragama, ditemukan dari penelitian psikologi

agama sejak tahun 1960 telah mengamati dampak agama terhadap tingkah

laku manusia. Hal ini dilaporkan oleh penelitian Robertson (dalam Indrianita

et al., 2011) yang menunjukkan hasil penelitian adanya hubungan signifikan

antara orientasi beragama dan perilaku menyontek. Studi literatur bergeser

lebih dalam lagi tentang bentuk relasi seseorang dengan agamanya, bahwa

jika keberagamaan lebih cenderung menunjukkan ketaatan dan komitmen

terhadap agamanya, dan sikap beragama yang merupakan suatu keadaan

dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai

bentuk kepercayaannya. Maka orientasi beragama lebih merujuk pada sistem

cara pandang seseorang mengenai kedudukan agama dalam hidupnya yang

dilihat dari kualitas ketaatan kepada tuhan yang dikembangkan dalam sikap

dan perilaku agama (Allport & Ross, 1967). Penelitian Indrianita et al. (2011)

menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara

orientasi beragama ekstrinsik dan kecurangan akademis, salah satunya

perilaku menyontek.

Perilaku menyontek memang terkait dengan banyak faktor, berdasarkan

pembahasan pada berbagai faktor penyebab terjadinya perilaku menyontek di

(41)

demografi karena mencakup berbagai hal yang kompleks menyentuh seluruh

aspek kepribadian, baik batiniah maupun tingkah laku fisik dalam orientasi

beragama. Iklim kelas yang mencakup personality kelas terkait hubungan siswa,

guru dan lingkungan kelas di dalamnya serta variabel demografi yang terdapat

hasil penelitian yang berbeda dari penelitian terdahulu, yang tidak menutup

kemungkinan akan ada hasil yang berbeda juga dari penelitian yang peneliti

lakukan untuk mengetahui pengaruh variabel demografi. Variabel tersebut sangat

penting untuk diteliti pada pengaruh perilaku menyontek, hal ini dikarenakan

masih ditemukan bentuk perilaku tersebut agar pihak yang terkait dapat

meminimalisir dan mencegah tindakan siswa menyontek.

2.1.4 Pengukuran perilaku menyontek

1. Pattern of Adaftive Learning Survei (PALS) dari Midgley et al. (1998) yang

terdiri dari 14 item dimensi yaitu kemampuan, performance dan orientasi

tujuan belajar siswa (Anderman & Murdock, 2006).

2. Cheating Scale yang dikembangkan oleh Finn dan Frone (2004) yang

menggunakan skala likert dengan 5 respon dari tidak pernah sampai sangat

sering. Pengukuran perilaku menyontek ini terdapat empat tipe yaitu

menyontek pada ujian, menyalin PR (Pekerjaan Rumah) siswa lain,

memperoleh PR (Pekerjaan Rumah) yang sudah diselesaikan oleh orang lain,

dan plagiarisme (Finn & Frone, 2004).

3. Taxonomy for Cheating dari Cizek (2003) pada pengukuran yangberdasarkan

3 dimensi yaitu memberi, mengambil dan menerima informasi, menggunakan

(42)

Dikarenakan beberapa skala perilaku menyontek diatas tidak memiliki

kesamaan indikator dari Cizek (2003)yaitu perilaku menyontek terdapat tindakan,

cara dan akibat dari menyontek. Oleh karenanya dalam penelitian ini, peneliti

mengembangkan skala perilaku menyontek sesuai dengan taksonomi dari Cizek

(2003).

2.2 Orientasi Beragama

2.2.1 Pengertian orientasi beragama

Secara umum dapat disimpulkan bahwa keberagamaan dapat direalisasikan dalam

berbagai kehidupan yang tidak hanya dilihat dari wujud kegiatan agama akan

tetapi mencakup hal-hal yang lebih dalam lagi, seperti aspek perasaan, motivasi

dan batiniah manusia. Sehingga keberagamaan memiliki makna yang terkait

keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan penyembahan seseorang

penganut agama terhadap agamanya yang kemudian diaplikasikan dalam

kehidupan sehari-hari.

Salah satu konsep yang paling penting dalam penelitian psikologi agama

sejak tahun 1960-an adalah konsep orientasi beragama. Kajian tentang orientasi

beragama yang paling terkenal dikembangkan oleh Allport. Menurut Allport dan

Ross (1967) orientasi beragama merupakan sistem cara pandang individu

mengenai kedudukan agama dalam hidupnya, yang dapat dilihat dalam kualitas

ketaatan kepada Tuhan yang dikembangkan dalam sikap dan perilaku beragama.

Sistem cara pandang ini akan mempengaruhi tingkah laku individu dalam hal

menafsirkan ajaran agama dan menjalankan apa yang dianggapnya sebagai

(43)

Allport mengutarakan adanya kebutuhan dan tujuan seseorang dalam

beragama dengan adanya motif yang berbeda-beda, maka manusia pun bisa

menjadi religius dengan gaya yang berbeda-beda pula. Dilihat lebih jauh lagi,

Allport mengajukan dua konsep dalam dua tipe ideal individu orientasi beragama

berdasarkan aspek motivasional yang mendasarinya yaitu orientasi beragama

ekstrinsik dimana individu menjadikan agama sebagai sarana untuk memenuhi

kebutuhan lain di luar agama (extrinsically motivated person uses his religion)

seperti status sosial, kepentingan pembenaran diri dan selektif dalam membentuk

keyakinan agar sesuai dengan tujuannya sendiri. Sedangkan individu yang

menjadikan agama sebagai tujuan dengan menginternalisasikan nilai-nilai agama

dalam kehidupan disebut berorientasi intrinsik (the intrinsically motivated lives

his religion), dimana individu mengikuti secara penuh ajaran agama yang dianutnya.

Konsep orientasi beragama yang didefinisikan Gorsuch dan McPherson

adalah bagaimana individu memandang agama dan menggunakan agama dalam

kehidupan yang dibagi menjadi tiga dimensi meliputi orientasi intrinsik yaitu

individu yang menjalankan praktek keagamaannya berdasarkan komitmen dirinya

sendiri, orientasi ekstrinsik personal yaitu individu yang menjalankan seluruh

kegiatan keagamaannya berdasarkan motif untuk mencapai tujuan pribadinya dan

orientasi ekstrinsik sosial yaitu individu yang menjalankan praktek agamanya

berdasarkan motif untuk memenuhi harapannya dalam kehidupan sosial (Gorsuch

& McPherson, 1989).

Menurut Francis (2007) dalam perkembangannya dikatakan bahwa

(44)

kepercayaan dan hukum agama untuk menginternalisasikan, mengikuti dan

menghayati agamanya. Sedangkan, individu yang cenderung menggunakan agama

untuk tujuan mereka sendiri yang agama berguna untuk memberikan keamanan,

penghiburan, status dan pembenaran.

Berdasarkan pembahasan pengertian-pengertian orientasi beragama, maka

definisi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah definisi Gorsuch dan

McPherson (1989) yang menyatakan bahwa orientasi beragama adalah bagaimana

individu memandang agama dan menggunakan agama dalam kehidupan yang

dibagi menjadi tiga dimensi yang meliputi orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik

personal dan orientasi ekstrinsik sosial. Di dalam pengertian ini memberikan penjelasan orientasi beragama secara lengkap mencakup lebih luas dalam

perkembangan teori orientasi beragama.

2.2.2 Dimensi-dimensi orientasi beragama

Dalam pengembangan, dimensi-dimensi pada orientasi beragama terbagi menjadi

beberapa dimensi yang disusun oleh beberapa peneliti sebelumnya sebagaimana

penjabaran yang terdapat dalam variabel orientasi beragama di bawah ini:

a. Pada konsep Allport menyatakan bahwa orientasi beragama didasarkan

menjadi dua dimensi, yaitu orientasi beragama ekstrinsik dan orientasi

beragama intrinsik. Mereka berdua menafsirkan orientasi beragama ekstrinsik

sebagai pandangan untuk menyediakan kenyamanan dan keselamatan agama

sebagai alat. Dalam orientasi ekstrnsik ini yaitu individu menggunakan agama

sebagai tujuan pribadi, kepentingan pembenaran diri dan selektif membentuk

(45)

merupakan cara beragama yang memikirkan komitmen terhadap agama

dengan seksama dan memperlakukan komitmen tersebut terhadap agama

dengan seksama dan memperlakukan komitmen tersebut dengan

sungguh-sungguh sebagai tujuan akhir. Seseorang dengan orientasi beragama intrinsik

merupakan seseorang yang menginternalisasikan keyakinan agamanya secara

penuh, bukan sekedar kehadiran di tempat ibadah. Pada individu intrinsik,

bahwa beragama cara memikirkan komitmen terhadap agama dengan

memperteguh dan memperlakukan komitmen tersebut dengan

sungguh-sungguh sebagai tujuan akhir hidup (Darvyri et al., 2014).

b. Kemudian, pada tahun 1982 dikembangkan oleh Batson dan Ventis dengan

mengidentifikasi orientasi individu menjadi tiga dimensi yaitu orientasi

intrinsik, orientasi ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest). Pada orientasi

intrinsik dan orientasi ekstrinsik sama dengan konsep Allport, sementara

orientasi pencarian merupakan bentuk keagamaan yang melibatkan ciri

keraguan, kejujuran dan terkait esksistensinya. Individu dengan orientasi ini

cenderung terus mencari jawaban tentang kepercayaannya dalam peristiwa

kehidupan (Francis, 2007). Lalu, tahun 1985 evaluasi pengklasifikasian

berbeda pada religiuos orientation scale oleh Allport dan Ross mengacu pada

modifikasi empat tipologi orientasi beragama yaitu orientasi ekstrinsik,

orientasi intrinsik, orientasi pro beragama (tinggi dalam keduanya, orientasi

non-beragama (rendah dalam keduanya). Orientasi pro beragama yang

dimaksud adalah orientasi beragama yang setuju dengan keduanya (intrinsik

(46)

orientasi beragama yang tidak setuju dengan keduanya (Indrianita et al.,

2011).

c. Gorsuch dan McPherson (1989) membagi dimensi orientasi beragama menjadi

3 dimensi yaitu orientasi intrinsik dimana individu yang menjalankan praktek

keagamaannya berdasarkan komitmen dirinya sendiri. Kemudian, memecah

orientasi beragama ekstrinsik menjadi dua tipe, yaitu ekstrinsik personal dan

ekstrinsik sosial. Dikatakan bahwa ekstrinsik personal (Ep) berorientasi pada

individu yaitu individu yang menjalankan seluruh kegiatan keagamaannya

berdasarkan motif untuk mencapai tujuan pribadinya, sedangkan ekstrinsik

sosial (Es) berorientasi pada lingkungan sosial yaitu individu yang

menjalankan praktek agamanya berdasarkan motif untuk memenuhi

harapannya dalam kehidupan sosial (Gorsuch & McPherson, 1989).

d. Francis (2007) 40 tahun terakhir mengoperasionalkan ulang orientasi

beragama dengan konsep pemecah orientasi menjadi 3, yaitu intrinsik,

ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest). Orientasi beragama dalam tiga

komponen konseptual dengan gagasan afiliasi agama yang ditugaskan sendiri,

praktek keagamaan, dan sikap terhadap agama yang dirancang untuk

membedakan individu satu sama lain pada tinggi dan rendahnya orientasi

beragama individu.

e. Neyrinck et al. (2010) mengevaluasi kembali konsep Allport dan Ross dengan

perspektif self-determination pada 3 dimensi orientasi beragama, yaitu

orientasi ekstrinsik, orientasi ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest).

Berdasarkan pada pembahasan dimensi-dimensi orientasi beragama, maka

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ...........................................................................
Gambar 2.1 Bentuk Kerangka Berpikir Iklim Kelas Variabel Demografi Orientasi Beragama Ekstrinsik Personal Intrinsik Ekstrinsik Sosial Keterlibatan Afiliasi Dukungan Guru Orientasi Pada Tugas
Tabel 4.2 Analisis Deskriptif (N = 211)
Tabel 4.3 Norma Skor Kategorisasi
+3

Referensi

Dokumen terkait

Populasi Tikus betina didefinisikan dengan mengklik dua kali sampai muncul kotak Define Variable lalu mengkalikan dua variabel yang terdapat pada kolom linked variable

Dengan adanya media ini, tentu Perguruan Tamansiswa  Cabang Medan yang saat ini mengelola Bagian Taman Indria (TK), Taman Muda (SD), Taman Dewasa (SMP), Taman Madya

 Terdapat pemisahan fungsi antara bagian-bagian yang ada dalam perusahaan sehingga setiap bagiannya dapat menjalankan tugasnya serta dapat bertanggung jawab

Selama triwulan I-II 2016, lapangan usaha dengan tingkat pertumbuhan ekonomi paling besar adalah kategori pengadaan listrik dan gas yang tumbuh hingga 27,09

Hubungan Perilaku Asertif dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa MTs Al Istam Serang.Skripsi .Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negri (UIN) Maulana malik Ibrahim

Pembayaran Biaya Sertifikasi harus diikuti dengan penyerahan Sertifikasi Insinyur Profesional dalam waktu ditentukan oleh Pengurus Pusat, yaitu waktu mulai dari pembayaran pada Biro

Sehubungan dengan persyaratan yang ditetapkan untuk menjadi Peserta Diklat Prajabatan Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa