MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi
Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
(S.Psi)
Oleh :
Nia Listiani Aprilliani NIM : 11160700000026
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ii
PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI
TANGERANG RAYA
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk Memenuhi Salah Satu
Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi)
Oleh:
Nia Listiani Aprilliani
NIM : 11160700000026
Pembimbing
Solicha, M.Si
NIP. 19720415 199903 2 001
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul “PENGARUH ORIENTASI BERAGAMA, IKLIM
KELAS DAN VARIABEL DEMOGRAFI TERHADAP PERILAKU MENYONTEK SISWA MAS/MAN DI TANGERANG RAYA” telah diujikan
dalam sidang munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 Juli 2020, skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana psikologi (S.Psi) pada fakultas psikologi.
Jakarta, 27 Juli 2020
Sidang Munaqosyah
Dekan/ Wakil Dekan/
Ketua Merangkap Anggota Sekertaris Merangkap Anggota
Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si Bambang Suryadi, Ph.D NIP. 19620724 198903 2 001 NIP. 19700529 200312 1 002
Anggota
Dr. Diana Mutiah, M.Si Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog NIP. 19671029 199603 2 001 NIP. 19650220 199903 1 003
Solicha, M.Si
iv
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) di UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 21 Juli 2020
Materai Rp. 6.000
NIA LISTIANI APRILLIANI NIM: 11160700000026
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Life Would Be Meaningless, If We Have A Meaning For Others (Unknown)
Al waqtu atsmanu mina ad dzahabi
“Waktu itu lebih berharga dari pada emas”Persembahan Special
Terima Kasih Kepada Allah Maha Pemberi Banyak Cinta
Kupersembahkan karya ini sebagai cinta dan kasih sayang kepada keluargaku Terkhusus Ayahku Warino Handoyono dan Ibuku Lilis Fatmawati yang kurindukan. Kepada orang-orang yang telah memberi dukungan dan cinta hingga hari ini dengan penuh harapan-harapan positif. For who always smile and believe
vi
B) Juli 2020
C) Nia Listiani Aprilliani
D) Pengaruh Orientasi Beragama, Iklim Kelas dan Variabel Demografi Terhadap Perilaku Menyontek Siswa MAS/MAN di Tangerang Raya E) xv +112 halaman+ lampiran
F) Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh variabel orientasi beragama intrinsik, orientasi beragama ekstrinsik personal, orientasi beragama ekstrinsik sosial, keterlibatan, afiliasi, orientasi tugas, keteraturan dan pengorganisasian, kompetisi, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru, inovasi, variabel demografi jenis kelamin dan kegiatan ekstrakurikuler terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi berganda. Sampel berjumlah 211 siswa MAS/MAN di Tangerang Raya yang diambil dengan teknik non probability sampling, yakni purposive sampling. Peneliti menggunakan alat ukur yang disusun sendiri dari teori Taxonomy for Cheating Scale, mengadaptasi pengukuran E/I Religiousty Measurement dan memodifikasi pengukuran Classroom Environment Scale (CES).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN di Tangerang Raya. Hasil penelitian juga menunjukkan proporsi varian seluruh independen variabel adalah sebesar 37,3, sedangkan 62,7 sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. Hasil uji hipotesis menunjukkan lima variabel independen memberikan pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek, yaitu keterlibatan, afiliasi, keteraturan dan pengorganisasian, kompetisi dan jenis kelamin. Sedangkan orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik personal, orientasi ekstrinsik sosial, orientasi pada tugas, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru, inovasi dan keikutsertaan ekstrakurikuler tidak berpengaruh terhadap perilaku menyontek siswa.
Peneliti berharap implikasi dari hasil penelitian ini dapat dikaji kembali dan dapat dikembangkan pada penelitian selanjutnya. Misalnya, dengan menambah variabel lain yang terkait dengan perilaku menyontek yang dapat dianalisis sebagai IV yang mungkin mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku menyontek. Lalu, untuk penelitian selanjutnya dapat mempertimbangkan independent variable, seperti variabel demografi yaitu etnis dan status sosial ekonomi. Selain itu, faktor karakteristik kepribadian individu yaitu impulsivitas, skill dan tipe kepribadian untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek.
G) Kata Kunci: Perilaku menyontek, tujuan penelitian, pengukuran, hasil penelitian.
vii
ABSTRACT
(A) Faculty of Psychology University of Syarif Hidayatullah Jakarta (B) July 2020
(C) Nia Listiani Aprilliani
(D) The Effect of Religious Orientation, Class Climate, and Demographic Variables on Cheating Behavior MAS/MAN Students In Tangerang Raya (E) xv + 112pages + attachments
(F) The aim of this research is to determine the influence of religious orientation intrinsic, religious orientation personal extrinsic, religious orientation social extrinsic, involvement, affiliation, task orientation, organization and organization, competition, regulatory clarity, teacher control, teacher support, innovation, demographic variables included gender and activities extracurricular towards a cheating behavior on MAS/MAN in Tangerang Raya students.
This research used a quantitative approach with multiple regression analysis. The sample consisted of 211 MAS/MAN in Tangerang Raya students taken with non-probability sampling techniques, namely purposive sampling. The researcher used a self-composed measuring instrument from the Taxonomy for Cheating Scale theory, adapts the E / I Religiousty Measurement and modifies the Classroom Environment Scale (CES).
The results of this study indicate that there is an influence of religious orientation, class climate, and demographic variables on the cheating behavior of MAS/MAN in Tangerang Raya students. The results also showed that the proportion of all independent variables was 37.3%, while the remaining 62.7% was influenced by other variables outside this study. Hypothesis test results showed five independent variables significantly influence cheating behavior, namely involvement, affiliation, regularity and organizing, competition, and gender. Whereas intrinsic orientation, personal extrinsic orientation, social extrinsic orientation, task orientation, clarity of rules, teacher control, teacher support, innovation, and extracurricular participation do not affect student cheating behavior. Researchers hope the implications of the results of this study can be reviewed and can be developed in further research. For example, by adding other variables related to cheating behavior that can be analyzed as IV that may have a major influence on cheating behavior. Then, further research can consider independent variables, such as demographic variables namely ethnicity and socioeconomic status. Also, individual personality characteristic factors are impulsivity, skill and personality type to get more knowledge about the factors that influence cheating behavior. G) Keywords: Cheating behavior, research objectives, measurement, research
results
viii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Puji serta syukur atas kehadirat Allah Ta’ala
karena telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, karunia, dan
keberkahan-Nya. Berkat kekuasaan-Nya peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Pengaruh Orientasi Beragama, Iklim Kelas dan Variabel Demografi Terhadap Perilaku Menyontek Siswa MAS/MAN di Tangerang Raya”.
Shalawat serta salam tak lupa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa salam, keluarga, sahabat dan seluruh umat senantiasa mencintainya.
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya skripsi ini tidak dapat terlepas
dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, perkenankanlah peneliti untuk
mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada:
1. Ibu Dr. Zahrotun Nihayah, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta beserta jajarannya.
2. Orang tua peneliti Ayah Warino Handoyono dan Ibu Lilis Fatmawati yang
telah memberikan dukungan yang teramat besar, karena kerinduan yang
sangat besar memotivasi peneliti untuk cepat lulus dan dapat membanggakan
mereka, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Serta
ucapan terima kasih kepada adik kandung peneliti Desy Adistia Prasanti yang
telah bersabar hingga hari ini untuk menyaksikan penulis menyelesaikan
ix
3. Dosen pembimbing skripsi Ibu Solicha, M.Si. Peneliti sangat berterima kasih
dan sangat beruntung dibimbing olehnya. Bimbingan beliau telah membuka
wawasan serta menambah pengetahuan mengenai banyak hal. Belajar menulis
dengan rapih dan jujur dalam bekerja merupakan semangat yang beliau
berikan untuk peneliti. Terima kasih atas segala arahan, masukan dan saran
serta koneksi dalam pengerjaan skripsi ini.
4. Dosen Pembimbing Akademik Ibu Neneng Tati Sumiati, M.Si., Psi yang
selalu memberikan feedback terhadap masa studi selama di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta serta dosen pembimbing akademik yang tidak pernah
absen dan perhatian dalam mem-follow up perkembangan anak-anak didiknya.
5. Seluruh Dosen di fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah mendidik, mengajarkan dan berbagi ilmu serta wawasan kepada peneliti.
6. Seluruh responden siswa MAS/MAN di Tangerang Raya yang telah
berpartisipasi untuk menjadi responden dalam penelitian skripsi ini.
7. Sahabat satu bimbingan skripsi peneliti, Lailiza Sabila yang selalu menghibur
peneliti dan selalu bersama di setiap perjuangan meraih mimpi, mengerjakan
skripsi dengan penuh semangat di ruang skripsi sampai petang hampir setiap
hari di perpustakaan.
8. Sahabat satu kamar penulis, Nur Fauzizatushifa yang setiap harinya saling
menyemangati untuk cepat lulus dan saling berdiskusi banyak hal, peneliti
akan rindu hal itu dengannya nanti.
9. Adik-adik satu kost peneliti, Mutia dan Septi yang menjadi mahasiswa baru di
x
entah buatan masakan mereka maupun snack semangat untuk memberi
semangat peneliti agar cepat lulus.
10. Sahabat-sahabat peneliti, Rismawati, Dian Kharimah, Siti Al-Fajar Junianti
Syahputri yang telah banyak memberi cinta dari jauh dengan menyemangati
peneliti dengan memahami kekurangan dan kelebihan. Semoga silaturrahim
ini dapat selalu kita jaga.
11. Sahabat-sahabat peneliti yang spesial memberi warna di kisah perkuliahan
ini, Brilianti, Ilham, Sania, Suci, Intan, Syahda, Tami, Atharana, Kiki,
Nandita, Tiara, Upi tanpa kalian sadari peneliti juga telah menemukan
pengalaman dari diskusi dan canda tawa kita selama 4 tahun bersama.
12. Teman-teman beasiswa bidikmisi fakultas Psikologi angkatan 2016 yang telah
menjadi penyemangat satu frekuensi untuk lulus tepat waktu.
13. Kepada rekan-rekan mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2016, terima
kasih tidak terasa 4 tahun kita sudah bersama dalam menjalani suka duka
kehidupan kampus, kalian selalu kompak dan peneliti bangga menjadi bagian
dari orang-orang hebat di dalamnya.
Semoga Allah memberikan pahala yang tak henti sebagai balasan atas
segala kebaikan dan bantuan yang diberikan. Semoga skripsi ini memberi
manfaat, bagi para pembaca dan seluruh pihak yang terkait.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Jakarta, 21 Juli 2020
xi
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ...iii
LEMBAR PERNYATAAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ...viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ...xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah ... 13
1.2.1 Perumusan Masalah ... 13
1.2.2 Pembatasan Masalah ... 15
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 16
1.3.1 Tujuan penelitian ... 16
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 18
BAB 2 LANDASAN TEORI ... 20
2.1 Perilaku Menyontek ... 20
2.1.1 Pengertian Perilaku Menyontek ... 20
2.1.2 Dimensi-Dimensi Perilaku Menyontek ... 22
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menyontek ... 23
2.1.4 Pengukuran Perilaku Menyontek ... 26
2.2 Orientasi Beragama ... 27
2.2.1 Pengertian Orientasi Beragama ... 27
2.2.2 Dimensi-Dimensi Orientasi Beragama ... 29
2.2.3 Pengukuran Orientasi Beragama ... 32
2.3 Iklim Kelas ... 33
2.3.1 Pengertian Iklim Kelas ... 33
2.3.2 Dimensi-Dimensi Iklim Kelas ... 35
2.3.3 Pengukuran Iklim Kelas ... 36
2.4 Kerangka Berpikir ... 37
xii
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 46
3.1 Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 46
3.1.1 Populasi dan Sampel ... 46
3.1.2 Teknik Pengambilan Sampel ... 46
3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 47
3.3 Pengumpulan Data ... 49
3.4 Uji Validitas Konstruk ... 54
3.4.1 Uji Validitas Konstruk Item Perilaku Menyontek ... 56
3.4.2 Uji Validitas Konstruk Item Orientasi Beragama ... 58
3.4.3 Uji Validitas Konstruk Item Iklim Kelas ... 62
3.5 Teknik Analisis Data ... 71
3.6 Prosedur Penelitian ... 73
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 75
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian ... 75
4.2 Analisis Deskriptif ... 81
4.3 Kategorisasi Skor Variabel Penelitian ... 82
4.4 Uji Hipotesis ... 86
4.4.1 Analisis Regresi Variabel Penelitian ... 86
4.5 Pengujian Proporsi Varian IV Terhadap DV ... 93
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 97
5.1 Kesimpulan ... 97 5.2 Diskusi ... 97 5.3 Saran ... 103 5.3.1 Saran Metodologis ... 103 5.3.2 Saran Praktis ... 105 DAFTAR PUSTAKA ... 108 LAMPIRAN ... 112
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Tabel Skala Likert Bentuk 1 ... 50
Tabel 3.2 Tabel Skala Likert Bentuk 2 ... 50
Tabel 3.3 Tabel Skala Likert Bentuk 3 ... 50
Tabel 3.4 Blueprint Skala Perilaku Menyontek ... 51
Tabel 3.5 Blueprint Skala Orientasi Beragama ... 52
Tabel 3.6 Blueprint Skala Iklim Kelas ... 53
Tabel 3.7 Muatan Faktor Item Perilaku Menyontek ... 57
Tabel 3.8 Muatan Faktor Item Orientasi Intrinsik ... 59
Tabel 3.9 Muatan Faktor Item Orientasi Ekstrinsik Personal ... 60
Tabel 3.10 Muatan Faktor Item Orientasi Ekstrinsik Sosial ... 61
Tabel 3.11 Muatan Faktor Item Keterlibatan ... 62
Tabel 3.12 Muatan Faktor Item Afiliasi ... 63
Tabel 3.13 Muatan Faktor Item Orientasi Pada Tugas ... 64
Tabel 3.14 Muatan Faktor Item Keteraturan dan Pengorganisasian ... 65
Tabel 3.15 Muatan Faktor Item Kompetisi ... 66
Tabel 3.16 Muatan Faktor Item Kejelasan Peraturan... 67
Tabel 3.17 Muatan Faktor Item Kontrol Guru ... 68
Tabel 3.18 Muatan Faktor Item Dukungan Guru ... 69
Tabel 3.19 Muatan Faktor Item Inovasi ... 70
Tabel 4.1 Gambaran Subjek Penelitian ... 75
Tabel 4.2 Hasil Analisis Deskriptif ... 81
Tabel 4.3 Norma Skor Kategorisasi ... 83
Tabel 4.4 Kategorisasi Skor Variabel Penelitian ... 83
Tabel 4.5 Tabel R-Square ... 87
Tabel 4.6 Tabel ANOVA ... 87
Tabel 4.7 Tabel Koefisien Regresi ... 88
xiv
DAFTAR GAMBAR
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 113 Lampiran 2 Analisis CFA ... 125 Lampiran 3 Hasil Uji Regresi ... 139
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Perilaku menyontek menjadi permasalahan akademis yang melibatkan beragam
fenomena psikologis, termasuk pengembangan, motivasi dan pembelajaran.
Fenomena perilaku menyontek ini membentuk permasalahan di dunia psikologi
pendidikan (Anderman & Murdock, 2007). Pada penelitian Bowers (1964)
permasalahan ini sudah terjadi selama abad terakhir, banyak penelitian perilaku
menyontek yang telah dilakukan, terutama ketika ujian yang terjadi di Amerika
Serikat. Kemudian, penelitian Schab (1991) ditemukan perilaku menyontek lebih
banyak terjadi di sekolah menengah dibandingkan dengan universitas. Kemudian,
setelah tahun 2000-an fokus penelitian perilaku menyontek bergeser ke
negara-negara berkembang (Maeda, 2019).
Perilaku menyontek pada negara-negara berkembang kurang mendapat
perhatian karena studi global tahun 2003 sampai 2009 secara luas telah dilakukan
studi komparatif dalam pendidikan tentang etika dan korupsi dalam pendidikan.
Tetapi, perilaku menyontek ketika ujian kurang mendapatkan perhatian (Maeda,
2019). Perilaku menyontek merupakan fenomena yang sudah lama ada dalam
dunia pendidikan, terdapat banyak pertanyaan kapan perilaku menyontek mulai
terjadi, tentu sulit menjawabnya. Tetapi ditengarai bahwa perilaku menyontek
mulai terjadi seiring dimulainya penilaian dalam dunia pendidikan (Mujahidah,
Pada penelitian Maeda (2019) di Kamboja bahwa survei penelitian dalam
memeriksa praktek perilaku menyontek selama ujian sebelum kebijakan anti
menyontek 2014 diperkenalkan. Studi ini menemukan bahwa dari 157 siswa
sekolah menengah 65% membeli lembar contekan sebelum ujian, 78% meminta
contekan kepada teman, 16% berkomunikasi dengan orang-orang di luar ujian
dengan melemparkan melalui jendela, menggunakan ponsel dan menerima
bantuan dari orang terpercaya. Kemudian, ditemukan 65% dari siswa menyuap
seseorang yang dipercaya selama ujian dengan pembayaran sekitar $ 30 (Maeda,
2019).
Perilaku menyontek ini memberikan dampak negatif bagi dunia pendidikan,
terutama pada siswa yang melakukannya. Para siswa melakukan ujian sebagai
evaluasi pembelajaran yang digunakan untuk melihat kinerja siswa di sekolah
(Pramadi et al., 2017). Namun apabila dalam proses evaluasi hasil belajar (tes atau
ujian) siswa menyontek, maka hasil tes tersebut bisa bias. Hasil tes tidak dapat
menggambarkan kemampuan yang dimiliki siswa secara riil dan sebenarnya tidak
menunjukkan perubahan yang terjadi pada diri siswa. Menurut Anderman dan
Murdock (2007) menyatakan bahwa perilaku menyontek dapat mengurangi fungsi
penggunaan data asesmen yaitu tujuan tercapainya proses pembelajaran dan
sumber acuan bagi para guru dalam melakukan penilaian, tindakan, serta
pemberian arahan kembali (Anderman & Murdock, 2007).
Tindakan menyontek ini juga sarana bertumbuhnya perilaku korupsi di
kemudian hari, karena mengingat menyontek merupakan mengambil hak orang
lain atau perilaku curang dengan tujuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi
menyontek yang dapat merugikan banyak pihak yaitu siswa yang menyontek
maupun siswa yang dicontek akan mengalami kerugian. Siswa yang menyontek
tidak akan mengetahui batas kemampuan yang dimilikinya, sedangkan dampak
negatif yang merugikan siswa yang dicontek secara tidak langsung haknya
diambil oleh siswa yang menyontek. Secara psikologi pun, perilaku menyontek
memiliki dampak yang tidak baik, sebab perilaku menyontek dapat mendidik
siswa untuk berbohong demi mendapatkan sesuatu yang nantinya akan menjadi
kebiasaan (pribadi pembohong). Selain itu perilaku menyontek dapat menyulitkan
guru dalam memberikan penilaian yang sesuai dengan kemampuan dirinya. Hal
ini menyebabkan nilai yang diperoleh bukan berasal dari kemampuan
sesungguhnya yang menunjukkan tingkat kemampuan dan pemahaman siswa itu
sendiri.
Survei penelitian yang dilakukan oleh Lindale High School (LHS)
memberikan angka prosentase terbaru 65% dari 205 siswa mengaku pernah
menyontek. Pada 07 Februari 2019, survey Yale Daily News mengungkapkan
prosentase 82% perilaku menyontek yang dilakukan siswa sekolah menengah di
Yale belum tertangkap. Perilaku menyontek di berbagai Negara, salah satunya
bagian Amerika, Dr. Donald, Mc. Cabe dan The International Center for
Academic Integrity telah dilakukan selama 12 tahun (2002-2015) di 24 sekolah menengah di Amerika Serikat bahwa lebih dari 70.000 siswa, baik yang sudah
lulus pernah melakukan perilaku menyontek. Hasil yang diperoleh yaitu 95%
siswa mengaku melakukan tindakan menyontek pada saat ujian (Danilyuk, 2019).
Kondisi tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia.
Komputer (UNBK) 2019 dari Jawa Timur yang ditemukan 21 kasus kecurangan
saat UNBK, kemudian Kalimantan Selatan 18, Bali 15, Jawa Barat 13 dan
Lampung 13 (Alfons, 2019). Ternyata, data Kemendikbud yang didapatkan pada
berita survei mencatat 126 kecurangan selama ujian nasional 2019 yang
dinyatakan oleh Inspektur Jenderal Kemendikbud, Muchlis R. Luddin bahwa
terdapat 202 aduan kecurangan selama pelaksanaan ujian nasional 2019 tingkat
SMA/SMK/MA yang terverifikasi menjadi 126 kasus kecurangan. Pada catatan
data yang diperoleh tahun 2017, terdapat 71 peserta, kemudian tahun 2018 hanya
79 peserta, dan pada tahun 2019 terbanyak yaitu 126 yang terverifikasi (Abdi,
2019).
Hal ini juga terjadi pada siswa SMA kelas XII di kota Bandung sering
melakukan tradisi menyontek bekerja sama dengan teman kelasnya saat
mengerjakan soal ujian. Di kota Tangerang, seorang siswa ketika diwawancara
mengakui bahwa menyontek menjadi sebuah kegiatan rutin saat musim ujian,
dirinya mengakui lebih sering menyontek secara mandiri tanpa bekerja sama
dengan teman-temannya. Beragam hal bisa menjadi alasan oleh mereka untuk
memutuskan menyontek. Cara-cara yang dilakukan saat menyontek sudah sangat
beragam mulai dari membuat rangkuman materi hingga menyiapkan kode dengan
menyembunyikannya pada secarik kertas kecil (Khairunnisa, 2018). Artikel di
Local Newspaper, bahwa sekelompok siswa melakukan perilaku menyontek dengan alasan perasaan mereka sendiri sebagai tekanan untuk mampu bersaing
dalam dimensi masyarakat (Maeda, 2019).
Berbagai cara yang dilakukan dalam perilaku menyontek dikarenakan
setiap siswa. Respon tersebut ada yang positif dapat menjadikan siswa lebih giat
belajar, sedangkan respon negatif siswa akan menghalalkan segala cara untuk
memperoleh nilai tinggi. Madrasah Aliyah menuntut setiap siswa untuk lebih
menekankan religiusitas, akhlak serta moral yang tinggi agar tidak melakukan
kecurangan dalam belajar. Meskipun begitu masih ada siswa yang menyontek
dikarenakan nilai menjadi salah satu hal yang menjadi tolak ukur kelulusan siswa
(Nur Sani, 2017). Hal ini memberikan evaluasi diri dan berbenah agar generasi
Islam ke depan tidak terjebak dalam perilaku tercela yang mengingkari roh dan
dan semangat Islam (Kusaeri, 2017).
Evaluasi pada lembaga pendidikan formal mulai tingkat dasar, menengah,
sampai dengan perguruan tinggi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang
berkualitas, sama halnya seperti Madrasah Aliyah (MA). Madrasah Aliyah
merupakan lembaga pendidikan formal tingkat menengah atas yang menekankan
pada nilai religius. Kurikulum Madrasah Aliyah sama dengan kurikulum Sekolah
Menengah Atas (SMA), hanya pada Madrasah Aliyah terdapat porsi lebih banyak
mengenai pendidikan agama Islam. Sama seperti Sekolah Menengah Atas pada
umumnya, Madrasah Aliyah juga menjadikan nilai sebagai tolak ukur dalam
mengukur kemampuan siswa, seperti menerapkan nilai kriteria ketuntasan
minimal (KKM) yang tinggi. Hal ini akan menimbulkan tekanan kepada siswa
untuk bisa mencapai nilai yang tinggi (Nur Sani, 2017).
Perilaku menyontek dipengaruhi oleh banyak faktor. Mujahidah (2009),
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi menyontek adalah faktor
situasional yang meliputi orientasi tujuan, pengawasan atau kontrol selama ujian,
teman sebaya, soal yang sulit dalam ujian, ketidakpastian dalam menghadapi
ujian, suasana akademis sekolah. Faktor situasional lain, seperti ruangan kelas
yang sangat besar, kurangnya perhatian pada kualitas ruang kelas, tes yang berisi
pilihan berganda, menggunakan soal ujian yang sudah lama mempengaruhi
perilaku kecurangan, yaitu perilaku menyontek.
Selain itu dalam penelitian Murdock bahwa tahun 1990 literatur bergeser
ke studi yang lebih fokus pada faktor-faktor kontekstual seperti karakteristik kelas
dalam penelitian kecurangan dan faktor personal yang mempengaruhi perilaku
menyontek ini adalah umur, gender dan rata-rata nilai. Pada penelitian Maeda
diketahui bahwa perilaku menyontek dipengaruhi oleh faktor kontekstual lain
yang menyangkut rumah siswa dan lingkungan sekolah termasuk kebijakan
integritas sekolah, tingkat hukuman, hubungan teman sebaya, kesempatan,
perilaku dan sikap guru terhadap kecurangan, metode pembelajaran dan tekanan
orang tua (Maeda, 2019).
Peneliti melakukan wawancara tidak terstruktur pada hari Kamis tanggal
15 Agustus 2019 kepada satu guru civitas akademika di salah satu sekolah di
Tangerang Selatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru tersebut, beliau
menyatakan bahwa ketika ujian berlangsung masih ditemukan siswa yang
menyontek, siswa-siswi menyontek rata-rata pada mata pelajaran yang sulit,
seperti mata pelajaran matematika dan bahasa, dikarenakan mata pelajaran
tersebut membutuhkan hafalan yang kuat. Cara siswa menyontek dengan
menanyakan jawaban kepada teman. Padahal masih selalu kami peringatkan,
namun perilaku menyontek tersebut masih kerap terjadi. Menurutnya beberapa
catatan-catatan kecil, bertanya dengan teman, mencatat sontekan di meja dan ditulis di
belakang pergelangan tangan. Alasan siswa menyontek karena tidak ingin
remedial, mendapatkan nilai yang bagus, menyontek dilakukan juga karena
sulitnya mata pelajaran tersebut, serta kurang menguasai materi ujian (Rif’atun
Naili Al-Mastury, personal communication, Agustus 2019).
Dengan semakin maraknya perilaku menyontek ini pada kalangan siswa.
Maka, diperlukan antisipasi dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
menyontek. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan dan menurukan perilaku
menyontek pada kalangan siswa sekolah menengah atas yaitu cara pandang
seseorang dalam beragama. Cara pandang seseorang tentang agama yang dianut
akan mempengaruhi tingkah lakunya dalam menafsirkan agama tersebut dan
menjalankan apa yang dianggapnya sebagai perintah dari agama tersebut. Pada
penelitian Sutton dan Huba ternyata menemukan hal lain yang turut
mempengaruhi perilaku menyontek yaitu aspek beragama. Allport sendiri
menggunakan istilah lain yaitu orientasi beragama. Orientasi beragama lebih
dalam lagi yang merujuk pada sistem cara pandang seseorang mengenai
kedudukan agama dalam hidupnya. Sistem cara pandang inilah yang akan
menentukan bentuk relasi seseorang dengan agamanya (Indrianita et al., 2011).
Orientasi beragama pada individu dapat dilihat dalam kualitas ketaatan
kepada Tuhan yang dikembangkan dalam sikap dan perilaku beragama. Konsep
tersebut mengacu pada konsep awal yang dikembangkan oleh Allport dan Ross
(1967). Perkembangan konsep orientasi beragama berawal dari ketertarikan ilmu
psikologi dalam mengamati dampak yang diberikan agama terhadap tingkah laku
motivasional dan kebutuhan yang mendasari perilaku keagamaan seseorang, yaitu
orientasi beragama intrinsik dan ekstrinsik. Dimana terdapat sebagian orang
memiliki orientasi beragama ekstrinsik bahwa lebih termotivasi untuk
menggunakan agamanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial,
menyediakan status rasa aman dan ada pula yang menggunakan agama sebagai
pencitraan diri. Sebaliknya, orientasi beragama intrinsik yaitu seseorang
termotivasi untuk hidup di dalam agamanya. Walaupun ada kebutuhan lain yang
menyertainya namun tetap dapat mengesampingkan kebutuhan tersebut, sadar
bahwa ajaran agama perlu dihayati dan diamalkan sesuai tuntunan dalam
beragama (Allport & Ross, 1967).
Menurut Tiliopoulos (dalam Darvyri et al., 2014) orientasi beragama telah
menjadi tonggak penting dalam psikologi agama yang berkaitan dengan cara
hidup seseorang dan kepercayaan seseorang dengan agamanya. Hal ini
mempengaruhi orang tersebut dalam menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam
agamanya di kehidupan, termasuk salah satunya implementasi nilai kejujuran.
Oleh karena itu, nilai beragama bisa menjadi variabel yang penting memprediksi
beberapa perilaku manusia. Studi Paloutzian dan Wilhelm (dalam Indrianita et al.,
2011) menyatakan bahwa seseorang yang memiliki nilai intrinsik yang tinggi
kemungkinan kecil untuk melakukan perbuatan menyontek. Hal ini didukung oleh
penelitian Indrianita et al. (2011) dimana terdapat hubungan negatif yang
signifikan antara orientasi beragama intrinsik dan kecurangan akademis, salah
satunya perilaku menyontek (Indrianita et al., 2011).
Seorang siswa yang memiliki orientasi beragama intrinsik yang tinggi
dikarenakan bahwa siswa yang memiliki orientasi beragama intrinsik yang tinggi
akan semakin menginternalisasikan nilai-nilai dan aturan yang ada dalam
agamanya, termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai kejujuran yang tentunya tidak
sejalan dengan perilaku kecurangan, seperti menyontek, plagiat dan sebagainya.
Berbeda hal dengan siswa yang memiliki orientasi beragama ekstrinsik yang
tinggi, penelitian Indrianita menyatakan bahwa, “Ada hubungan positif yang
signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik dan kecurangan akademis, salah
satunya perilaku menyontek”. Hal ini disebabkan karena seseorang yang orientasi
beragamanya ekstrinsik hanya menjadikan agama sebagai alat, bukan
menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan ke dalam dirinya” (Indrianita et al.,
2011).
Fenomena perilaku menyontek juga dipengaruhi oleh faktor kontekstual
yaitu kelas. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan pada tanggal 15 Agustus
2019 di salah satu sekolah Madrasah Aliyah (MA) Tangerang Selatan, hampir
seluruh siswa menyadari bahwa sebenarnya perilaku menyontek merupakan
perbuatan salah. Namun, mereka terpaksa melakukan perilaku menyontek tersebut
karena tidak ingin mengulang tes kembali dan mengakui hampir satu kelas
melakukan tindakan menyontek tanpa ketahuan oleh pengawas meskipun ada
CCTV. Faktor kontekstual seperti kelas memiliki pengaruh pada perilaku
menyontek siswa, penelitian Luftenegger bahwa kecenderungan siswa menyontek
bukan hanya dipengaruhi oleh konsep pribadi, namun hal ini juga dapat dilihat
dari lingkungan kelas yang mempengaruhi segala perilaku dan karakter baik siswa
Iklim kelas mengacu kepada berbagai dimensi psikologis dan sosial di
dalam kelas. Iklim kelas yang positif akan membantu siswa belajar, meningkatkan
motivasi dan hasilnya pembelajaran yang baik serta mendorong kejujuran
akademik, salah satunya mengurangi tindakan menyontek. Seperti ketika siswa
terlibat secara aktif dalam setiap aktivitas kelas serta memiliki hubungan
persahabatan yang baik dengan saling tolong menolong, saling membantu dan
saling mendukung. Kemudian, kemampuan dari guru untuk mendukung dan
memberikan perhatian terhadap siswa, memberikan peraturan yang jelas untuk
dijalankan sebagai kontrol di dalam kelas serta berusaha mencari cara untuk
menghindari kebosanan siswa dari cara belajar yang monoton. Hal ini di dukung
oleh penelitian Kadarsih et al. (2016) bahwa iklim kelas penciptaan yang kondusif
sangat mendukung untuk terlaksananya proses belajar mengajar yang baik.
Namun sebaliknya, pada penelitian Whitley dan Keith-Spiegel (2002) iklim kelas
yang negatif akan menyebabkan siswa membenarkan tindakan menyontek untuk
diri mereka sendiri. Hal ini dikarenakan iklim negatif yang tercipta di dalam kelas
membuat siswa sulit menerima materi pembelajaran yang diberikan guru sehingga
keberhasilan belajar menurun, keberhasilan belajar yang menurun juga membuat
siswa sulit termotivasi untuk mencapai keberhasilan belajarnya, siswa cenderung
melakukan berbagai cara yang melanggar aturan masyarakat untuk mendapatkan
nilai yang baik, seperti menyontek dan perbuatan curang lainnya. Maka, dampak
penciptaan iklim kelas ini dapat mempengaruhi segala perilaku siswa maupun
guru dalam proses pengajaran dimana penciptaan iklim kelas ini dapat
Penelitian studi dalam karakteristik lain menunjukkan lingkungan belajar
(kelas) terkait dengan prediktor siswa menyontek (Anderman & Won, 2019).
Kecenderungan siswa menyontek dipengaruhi oleh konsep pribadi, namun hal ini
juga dapat dilihat dari lingkungan kelas yang mempengaruhi segala perilaku dan
karakter baik guru maupun siswa dalam proses pengajaran (Lüftenegger et al.,
2017). Hasil riset yang dilansir oleh Brackett (dalam Fitria, 2019) munculnya
permasalahan perilaku menyontek pada siswa berhubungan signifikan dengan
iklim di dalam kelas seperti afiliasi siswa dengan guru. Hal tersebut menunjukkan
iklim dari lingkungan sekolah terutama iklim yang terbentuk di dalam kelas serta
pengawasan pendidik (guru) yang kurang maksimal dapat mempengaruhi
munculnya masalah perilaku menyontek pada siswa ketika di sekolah. Ini berarti
ada dugaan bahwa lingkungan kelas berperan tehadap terjadinya perilaku
menyontek siswa.
Fenomena selanjutnya yang mempengaruhi perilaku menyontek yaitu
variabel demografi (jenis kelamin dan kegiatan ekstrakurikuler). Jenis kelamin
berpengaruh signifikan berhubungan dengan perilaku menyontek. Penelitian
Hadjar dimana perbedaan jenis kelamin dalam studi sex sebagai faktor kecurangan
salah satunya perilaku menyontek yang telah dilakukan turut mempengaruhi
perilaku menyontek. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa siswa laki-laki lebih
banyak melakukan tindakan menyontek dibandingkan siswa perempuan. Perilaku
menyontek lebih banyak dilakukan oleh siswa laki-laki karena mereka memiliki
sikap lebih permisif terhadap perilaku menyontek daripada siswa perempuan
(Hadjar, 2019). Hal ini diperkuat dengan penelitian Cladellas et al. (2013)
perempuan dikarenakan tidak dapat membangun rasa tanggung jawab yang kuat
pada aturan yang berlaku. Lain halnya dengan penelitian Leming (1980)
menunjukkan bahwa siswa berjenis kelamin perempuan lebih tinggi melakukan
tindakan menyontek dibandingkan dengan siswa berjenis kelamin laki-laki karena
hukuman dengan resiko yang rendah. Sedangkan, penelitian Cahyo dan Solicha
(2018) menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin terhadap perilaku
menyontek dan tidak ditemukan perbedaan dalam kecurangan yang dilaporkan
antara jenis kelamin perempuan dan laki-laki terhadap perilaku menyontek.
Berdasarkan perbedaan dari hasil penelitian sebelumnya, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian variabel jenis kelamin karena tidak menutup kemungkinan
akan selalu ada hasil yang berbeda dari hasil penelitian sebelumnya dan peneliti
ingin mengetahui pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek.
Selain jenis kelamin, faktor yang diduga berpengaruh terhadap perilaku
menyontek yaitu kegiatan ekstrakurikuler. Di antara beberapa penelitian, McCabe
dan Trevino menyatakan bahwa adanya keterlibatan siswa dalam kegiatan
ekstrakurikuler terdapat pengaruh signifikan terhadap perilaku menyontek,
kecenderungan tingkat perilaku menyontek yang tinggi terjadi karena siswa
terlibat di dalam kegiatan ekstrakurikuler (Anderman & Murdock, 2007). Padahal,
kegiatan ekstrakurikuler pada dasarnya untuk meningkatkan dampak positif
kemampuan non-akademik bagi siswa yang mengikutinya. Dari penelitian terkait
variabel kegiatan ekstrakurikuler peneliti ingin meneliti lebih lanjut mengenai
pengaruh kegiatan ekstrakurikuler untuk mengetahui pengaruh signifikan terhadap
Dari pembahasan fenomena dan berbagai penelitian yang telah dipaparkan,
bahwa perilaku menyontek merupakan masalah yang krusial dalam dunia
pendidikan untuk segera ditindaklanjuti, guna mencapai tujuan pendidikan yang
lebih baik. Oleh sebab itu, peneliti mengajukan judul dan memilih variabel
psikologi dari pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi
terhadap perilaku menyontek di ranah pendidikan. Dari pemikiran tersebut,
peneliti tertarik untuk meneliti dan menganalisa lebih dalam “Pengaruh orientasi
beragama, iklim kelas dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek siswa MAS/MAN di Tangerang Raya”.
1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah 1.2.1 Perumusan masalah
Perumusan masalah mayor yang akan diteliti pada penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama, iklim
kelas, dan variabel demografi terhadap perilaku menyontek pada siswa
MAS/MAN di Tangerang Raya?
2. Seberapa besar sumbangan orientasi beragama, iklim kelas dan variabel
demografi terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang
Perumusan masalah minor pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama intrinsik
terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
2. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik
personal terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
3. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi beragama ekstrinsik
sosial terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang
Raya?
4. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara keterlibatan terhadap perilaku
menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
5. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara afiliasi terhadap perilaku
menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
6. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara orientasi tugas terhadap
perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
7. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara keteraturan dan
pengorganisasian terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di
Tangerang Raya?
8. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kompetisi terhadap perilaku
menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
9. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kejelasan peraturan terhadap
perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
10. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kontrol guru terhadap
11. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara dukungan guru terhadap
perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
12. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara inovasi terhadap perilaku
menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
13. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara jenis kelamin terhadap
perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
14. Apakah terdapat pengaruh yang signifikan antara kegiatan ekstrakurikuler
terhadap perilaku menyontek pada siswa MAS/MAN di Tangerang Raya?
1.2.2 Pembatasan masalah
Pembatasan masalah penelitian ini dibatasi agar tidak meluas, maka pembatasan
penelitian ini dibatasi pada perilaku menyontek, orientasi beragama, iklim kelas
dan variabel demografi. Adapun variabel yang diteliti adalah sebagai berikut:
1. Cizek (2003) mendefinisikan perilaku menyontek merupakan tindakan atau
suatu perbuatan seperti memberi, mengambil dan menerima informasi yang tidak
diperbolehkan, menggunakan materi atau peralatan yang dilarang seperti kertas
contekan dan handphone serta memanfaatkan kelemahan orang lain untuk
menyontek demi mendapatkan keuntungan pada saat ujian berlangsung.
2. Orientasi beragama yaitu bagaimana individu memandang agama dan
menggunakan agama dalam kehidupan yang dibagi menjadi tiga dimensi meliputi
orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik personal dan orientasi ekstrinsik sosial
(Gorsuch dan McPherson, 1989).
3. Iklim kelas yang dimaksud dalam penelitian ini merupakan penilaian yang
yang merupakan aspek-aspek di dalam kelas. Iklim kelas memiliki sembilan
dimensi yaitu keterlibatan, afiliasi, orientasi tugas, keteraturan dan
pengorganisasian, kompetisi, kejelasan peraturan, kontrol guru, dukungan guru
dan inovasi (Trickett & Moos, 1974).
4. Variabel demografi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis kelamin
dan kegiatan ekstrakurikuler MAS/MAN di Tangerang Raya.
5. Sampel dalam penelitian ini yaitu laki-laki dan perempuan yang menjadi
siswa MAS/MAN di daerah Tangerang Raya yang terdiri dari kelas 10, 11, 12.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian
Berdasarkan pemaparan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menguji pengaruh orientasi beragama, iklim kelas dan variabel demografi
terhadap perilaku menyontek.
2. Mengetahui seberapa besar sumbangan orientasi beragama, iklim kelas dan
variabel demografi terhadap perilaku menyontek.
3. Menguji pengaruh orientasi intrinsik pada variabel orientasi beragama
terhadap perilaku menyontek.
4. Menguji pengaruh orientasi ekstrinsik personal pada variabel orientasi
beragama terhadap perilaku menyontek.
5. Menguji pengaruh orientasi ekstrinsik sosial pada variabel orientasi beragama
terhadap perilaku menyontek.
6. Menguji pengaruh keterlibatan pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
7. Menguji pengaruh afiliasi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
8. Menguji pengaruh orientasi tugas pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
9. Menguji pengaruh keteraturan dan pengorganisasian pada variabel iklim kelas
terhadap perilaku menyontek.
10. Menguji pengaruh kompetisi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
11. Menguji pengaruh kejelasan peraturan pada variabel iklim kelas terhadap
perilaku menyontek.
12. Menguji pengaruh kontrol guru pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
13. Menguji pengaruh dukungan guru pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
14. Menguji pengaruh inovasi pada variabel iklim kelas terhadap perilaku
menyontek.
15. Menguji pengaruh jenis kelamin variabel demografi terhadap perilaku
menyontek.
16. Menguji pengaruh kegiatan ekstrakurikuler pada variabel demografi terhadap
1.3.2 Manfaat penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan
ilmu psikologi, khususnya Pendidikan dengan memberikan bukti-bukti
empiris pada penelitian ini. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi referensi
bahan rujukan dan pembanding bagi penelitian selanjutnya. Kemudian
menambah khazanah pengetahuan tentang perilaku menyontek serta
faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi para guru, siswa, orang tua siswa dan
dunia pendidikan terkait perilaku menyontek dan faktor yang
mempengaruhinya.
1. Bagi para guru, penelitian ini dapat memberikan informasi dari bentuk
perilaku menyontek sehingga guru dapat meminimalisir penyebab perilaku
menyontek dengan teknik yang tepat dalam menghadapi siswa yang
menyontek dan memberi penekanan terhadap siswa tentang keharusan
memahami materi pembelajaran untuk memperoleh hasil yang baik tanpa
menyontek.
2. Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat sebagai pembelajaran diri bahwa
menyontek itu memberikan dampak buruk bagi pribadi di dalam diri dan
merugikan. Memberikan pelajaran bahwa jika ingin mendapatkan nilai
yang baik, tentunya siswa harus belajar dengan tekun sesuai dengan
untuk siswa dapat menghilangkan kebiasaan menyontek dan dapat
memperoleh hasil ujian secara jujur, hal ini juga bertujuan untuk
mengurangi perilaku korupsi dan kejahatan di masa depan nanti.
3. Bagi orang tua, penelitian ini memberikan informasi mengenai perilaku
menyontek yang tidak etis yang mungkin dapat dilakukan oleh anak-anak
mereka. Dengan demikian orang tua dapat memberikan arahan dalam
mendidik proses belajar yang benar kepada anak agar tidak menjadi pelaku
tindak perilaku menyontek.
4. Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini bermanfaat memberikan
informasi penyebab terjadinya perilaku menyontek. Faktor-faktor
mengenai proses terjadinya perilaku menyontek membantu instusi
(sekolah) untuk memberikan perhatian lebih dalam mempertimbangkan
berbagai cara yang efektif sebagai pencegahan dan meminimalisir
20
LANDASAN TEORI
2.1 Perilaku Menyontek
2.1.1 Pengertian perilaku menyontek
Menurut Anderman dan Murdock (2007) pengertian perilaku menyontek ditinjau
dari perspektif pembelajaran merupakan strategi yang berfungsi sebagai cara
berpikir dalam penggunaan pengaturan diri dan pikiran yang kompleks, dimana
menyontek menghalangi kebutuhan untuk menggunakan strategi tersebut dimana
siswa kecenderungan memilih untuk menyontek karena penggunaan strategi
pembelajaran yang tidak efektif. Kemudian perspektif yang dilihat dari dorongan
siswa pada perilaku yang terjadi karena fokus pada hasil ekstrinsik seperti nilai
dan mempertahankan citra dirinya terhadap teman dan guru di dunia persaingan.
Perilaku menyontek yaitu cara yang digunakan untuk mendapatkan nilai
hasil ujian yang baik dengan cara yang negatif tidak dibenarkan pada konteks
lingkungan akademis yang menekankan nilai yang baik dan kompetisi di
dalamnya. Perilaku menyontek adalah tindakan tidak terpuji atau tindakan tidak
jujur pada salah satu bentuk kebohongan yang merupakan salah satu jenis korupsi
dalam pendidikan (Fachruddin, 2017).
Perilaku menyontek menurut Cizek (dalam Anderman & Koenka, 2017)
mendefinisikan perilaku menyontek merupakan tindakan berbuat curang dalam
yang pintar. Menurut Davis et al. (2009) perilaku menyontek merupakan suatu
perbuatan yang dilakukan oleh siswa untuk menipu atau mengecoh pengajar
sehingga pengajar berpikir bahwa pekerjaan akademik yang diselesaikan adalah
hasil pekerjaan siswa tersebut.
Definisi perilaku menyontek menurut Cizek (2003), pertama perilaku
menyontek merupakan tindakan pelanggaran aturan yang ditetapkan secara
administratif ketika ujian berlangsung dan penyelesaian tugas yang telah
diberikan. Kedua, tindakan menyontek dicerminkan dalam bentuk memanfaatkan
keuntungan kemampuan hasil teman dan menjadi ketidakadilan terhadap siswa
yang lain ketika ujian atau pemberian tugas. Ketiga, perilaku menyontek adalah
perbuatan yang didapatkan bukan hasil dari kemampuannya dalam ujian maupun
pengerjaan tugas, sehingga perbuatan ini dapat mengurangi nilai riil kemampuan
siswa.
Pengertian perilaku menyontek menurut Cizek (2003) digunakan dalam
penelitian ini. Dikarenakan pada teori literatur memberikan penjelasan yang
lengkap tentang perilaku menyontek, cara menyontek dan dampak dari perbuatan
2.1.2 Dimensi-dimensi perilaku menyontek
Dimensi yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Cizek (2003) yang
memiliki tiga dimensi dalam teori Taxonomy for Cheating, di antaranya adalah:
a. Memberi, Mengambil dan menerima informasi, yaitu memberikan, mengambil
dan menerima hasil jawaban ujian atau tugas yang sudah di kerjakan.
b. Menggunakan materi (bahan) yang terlarang, yaitu menggunakan materi atau
jawaban dari luar secara tidak legal atau tidak sah. Contohnya menyiapkan
kunci jawaban dengan menulis di kertas ataupun menggunakan handphone
untuk melihat pedoman atau materi ujian secara tidak sah pada saat ujian.
c. Memanfaatkan kelemahan seseorang, prosedur atau proses untuk
mendapatkan keuntungan, yaitu mencari kesempatan untuk menyontek dengan
memanfaatkan kelengahan pengawas.
Berdasarkan pembahasan dimensi-dimensi perilaku menyontek, maka
dimensi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah dimensi Cizek (2003)
yang menyatakan bahwa perilaku menyontek terdiri dari tiga dimensi yang
mencakup tindakan atau perbuatan perilaku menyontek ketika ujian berlangsung
dengan memberi, mengambil, menerima informasi yang tidak diperbolehkan.
Menggunakan materi atau peralatan yang tidak diperbolehkan, memanfaatkan
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek pada siswa cukup
beragam. Hal ini dapat dilihat dari penelitian terdahulu tentang perilaku
menyontek:
a. Faktor pribadi yaitu karakteristik individu, termasuk jenis kelamin, usia, sosial
kelas dan kepribadian seperti motivasi belajar dan sikap bermoral (Maeda,
2019). Kajian literatur yang dikembangkan oleh McCabe dan Trevino
menemukan keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler berhubungan dengan
perilaku menyontek karena menciptakan lebih banyak tuntutan pada siswa
(Anderman & Murdock, 2007). Pada penelitian Whitley menyatakan bahwa
karakteristik kepribadian individu juga meningkatkan kemungkinan perilaku
menyontek seperti impulsivitas, skill dan tipe kepribadian. Individu memiliki
impulsivitas kebutuhan yang tinggi akan menyebabkan intensitas yang tinggi
dalam menyontek. McCabe et al. (2001) Perilaku menyontek juga terlihat
pada konsep skill (kemampuan) sebagai grade point average (GPA) yang
berkorelasi terhadap perilaku menyontek, secara umum diyakini bahwa siswa
dengan kemampuan rendah lebih mungkin terlibat dalam perilaku menyontek
dan sebaliknya. Namun, konsep kemampuan yang dimiliki sangat beragam
yang dapat dikaji lebih jauh dalam literatur kecurangan.
b. Faktor kontekstual menurut McCabe et al. (dalam Maeda, 2019) meliputi
rumah siswa dan lingkungan sekolah, termasuk integritas sekolah, pemberian
hukuman, hubungan teman sebaya, kesempatan, teman sebaya, sikap guru
c. Faktor situasional yaitu variabel yang signifikan dalam ketidakjujuran
akademik pada kajian literatur yang dilakukan oleh Anderman dan Murdock
(2006), menunjukkan hasil bahwa menyontek dapat disebabkan oleh faktor
kelas seperti keterlibatan siswa secara aktif di dalam kelas, memiliki
hubungan interpersonal yang baik sesama siswa dan penciptaan sistem belajar
yang kondusif. Faktor kelas dapat mendorong siswa berperilaku menyontek
atau justru menghindarinya. Namun ada hal yang lebih dalam lagi dari faktor
kelas secara umum, yaitu iklim kelas sebagai kepribadian suatu ruang kelas
dimana perilaku individu dalam lingkungan sosial adalah fungsi bersama dari
individu dan lingkungannya. Menurut Mujahidah (2009) menjelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku menyontek dalam keadaan yang bersifat
mendasar seperti pengawasan atau kontrol selama ujian, apabila suasana
pengawasan ketat, maka kecenderungan menyontek kecil, sebaliknya jika
suasana pengawasan longgar, maka kecenderungan menyontek lebih besar.
Penggunaan tes yang sudah berulang kali digunakan, ruangan kelas yang tidak
di program dengan baik dapat menimbulkan persepsi kemudahan untuk
melakukan tindakan menyontek.
d. Faktor demografi dari beberapa temuan menarik mencatat beberapa penemuan
yang mempengaruhi perilaku menyontek terkait dengan gender, usia, tingkat
kelas, etnis, status sosial ekonomi (SES) dan agama. Dalam hal ini juga
terdapat penelitian secara khusus menyelidiki perbedaan gender terhadap
perilaku menyontek. Laporan penelitian yang dilakukan oleh Calabrese et al.
(dalam Anderman & Murdock, 2007) menemukan bahwa siswa berjenis
berjenis kelamin perempuan. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
Jacobson et al. (dalam Anderman & Murdock, 2007), menyatakan bahwa
siswa perempuan lebih banyak menyontek dari pada laki-laki.
e. Faktor agama yaitu pada sejumlah penelitian khusus menyelidiki hal lain
yang turut mempengaruhi perilaku menyontek yaitu aspek beragama. Dalam
penemuan variabel aspek beragama, ditemukan dari penelitian psikologi
agama sejak tahun 1960 telah mengamati dampak agama terhadap tingkah
laku manusia. Hal ini dilaporkan oleh penelitian Robertson (dalam Indrianita
et al., 2011) yang menunjukkan hasil penelitian adanya hubungan signifikan
antara orientasi beragama dan perilaku menyontek. Studi literatur bergeser
lebih dalam lagi tentang bentuk relasi seseorang dengan agamanya, bahwa
jika keberagamaan lebih cenderung menunjukkan ketaatan dan komitmen
terhadap agamanya, dan sikap beragama yang merupakan suatu keadaan
dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai
bentuk kepercayaannya. Maka orientasi beragama lebih merujuk pada sistem
cara pandang seseorang mengenai kedudukan agama dalam hidupnya yang
dilihat dari kualitas ketaatan kepada tuhan yang dikembangkan dalam sikap
dan perilaku agama (Allport & Ross, 1967). Penelitian Indrianita et al. (2011)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara
orientasi beragama ekstrinsik dan kecurangan akademis, salah satunya
perilaku menyontek.
Perilaku menyontek memang terkait dengan banyak faktor, berdasarkan
pembahasan pada berbagai faktor penyebab terjadinya perilaku menyontek di
demografi karena mencakup berbagai hal yang kompleks menyentuh seluruh
aspek kepribadian, baik batiniah maupun tingkah laku fisik dalam orientasi
beragama. Iklim kelas yang mencakup personality kelas terkait hubungan siswa,
guru dan lingkungan kelas di dalamnya serta variabel demografi yang terdapat
hasil penelitian yang berbeda dari penelitian terdahulu, yang tidak menutup
kemungkinan akan ada hasil yang berbeda juga dari penelitian yang peneliti
lakukan untuk mengetahui pengaruh variabel demografi. Variabel tersebut sangat
penting untuk diteliti pada pengaruh perilaku menyontek, hal ini dikarenakan
masih ditemukan bentuk perilaku tersebut agar pihak yang terkait dapat
meminimalisir dan mencegah tindakan siswa menyontek.
2.1.4 Pengukuran perilaku menyontek
1. Pattern of Adaftive Learning Survei (PALS) dari Midgley et al. (1998) yang
terdiri dari 14 item dimensi yaitu kemampuan, performance dan orientasi
tujuan belajar siswa (Anderman & Murdock, 2006).
2. Cheating Scale yang dikembangkan oleh Finn dan Frone (2004) yang
menggunakan skala likert dengan 5 respon dari tidak pernah sampai sangat
sering. Pengukuran perilaku menyontek ini terdapat empat tipe yaitu
menyontek pada ujian, menyalin PR (Pekerjaan Rumah) siswa lain,
memperoleh PR (Pekerjaan Rumah) yang sudah diselesaikan oleh orang lain,
dan plagiarisme (Finn & Frone, 2004).
3. Taxonomy for Cheating dari Cizek (2003) pada pengukuran yangberdasarkan
3 dimensi yaitu memberi, mengambil dan menerima informasi, menggunakan
Dikarenakan beberapa skala perilaku menyontek diatas tidak memiliki
kesamaan indikator dari Cizek (2003)yaitu perilaku menyontek terdapat tindakan,
cara dan akibat dari menyontek. Oleh karenanya dalam penelitian ini, peneliti
mengembangkan skala perilaku menyontek sesuai dengan taksonomi dari Cizek
(2003).
2.2 Orientasi Beragama
2.2.1 Pengertian orientasi beragama
Secara umum dapat disimpulkan bahwa keberagamaan dapat direalisasikan dalam
berbagai kehidupan yang tidak hanya dilihat dari wujud kegiatan agama akan
tetapi mencakup hal-hal yang lebih dalam lagi, seperti aspek perasaan, motivasi
dan batiniah manusia. Sehingga keberagamaan memiliki makna yang terkait
keyakinan, penghayatan, pengalaman, pengetahuan dan penyembahan seseorang
penganut agama terhadap agamanya yang kemudian diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
Salah satu konsep yang paling penting dalam penelitian psikologi agama
sejak tahun 1960-an adalah konsep orientasi beragama. Kajian tentang orientasi
beragama yang paling terkenal dikembangkan oleh Allport. Menurut Allport dan
Ross (1967) orientasi beragama merupakan sistem cara pandang individu
mengenai kedudukan agama dalam hidupnya, yang dapat dilihat dalam kualitas
ketaatan kepada Tuhan yang dikembangkan dalam sikap dan perilaku beragama.
Sistem cara pandang ini akan mempengaruhi tingkah laku individu dalam hal
menafsirkan ajaran agama dan menjalankan apa yang dianggapnya sebagai
Allport mengutarakan adanya kebutuhan dan tujuan seseorang dalam
beragama dengan adanya motif yang berbeda-beda, maka manusia pun bisa
menjadi religius dengan gaya yang berbeda-beda pula. Dilihat lebih jauh lagi,
Allport mengajukan dua konsep dalam dua tipe ideal individu orientasi beragama
berdasarkan aspek motivasional yang mendasarinya yaitu orientasi beragama
ekstrinsik dimana individu menjadikan agama sebagai sarana untuk memenuhi
kebutuhan lain di luar agama (extrinsically motivated person uses his religion)
seperti status sosial, kepentingan pembenaran diri dan selektif dalam membentuk
keyakinan agar sesuai dengan tujuannya sendiri. Sedangkan individu yang
menjadikan agama sebagai tujuan dengan menginternalisasikan nilai-nilai agama
dalam kehidupan disebut berorientasi intrinsik (the intrinsically motivated lives
his religion), dimana individu mengikuti secara penuh ajaran agama yang dianutnya.
Konsep orientasi beragama yang didefinisikan Gorsuch dan McPherson
adalah bagaimana individu memandang agama dan menggunakan agama dalam
kehidupan yang dibagi menjadi tiga dimensi meliputi orientasi intrinsik yaitu
individu yang menjalankan praktek keagamaannya berdasarkan komitmen dirinya
sendiri, orientasi ekstrinsik personal yaitu individu yang menjalankan seluruh
kegiatan keagamaannya berdasarkan motif untuk mencapai tujuan pribadinya dan
orientasi ekstrinsik sosial yaitu individu yang menjalankan praktek agamanya
berdasarkan motif untuk memenuhi harapannya dalam kehidupan sosial (Gorsuch
& McPherson, 1989).
Menurut Francis (2007) dalam perkembangannya dikatakan bahwa
kepercayaan dan hukum agama untuk menginternalisasikan, mengikuti dan
menghayati agamanya. Sedangkan, individu yang cenderung menggunakan agama
untuk tujuan mereka sendiri yang agama berguna untuk memberikan keamanan,
penghiburan, status dan pembenaran.
Berdasarkan pembahasan pengertian-pengertian orientasi beragama, maka
definisi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah definisi Gorsuch dan
McPherson (1989) yang menyatakan bahwa orientasi beragama adalah bagaimana
individu memandang agama dan menggunakan agama dalam kehidupan yang
dibagi menjadi tiga dimensi yang meliputi orientasi intrinsik, orientasi ekstrinsik
personal dan orientasi ekstrinsik sosial. Di dalam pengertian ini memberikan penjelasan orientasi beragama secara lengkap mencakup lebih luas dalam
perkembangan teori orientasi beragama.
2.2.2 Dimensi-dimensi orientasi beragama
Dalam pengembangan, dimensi-dimensi pada orientasi beragama terbagi menjadi
beberapa dimensi yang disusun oleh beberapa peneliti sebelumnya sebagaimana
penjabaran yang terdapat dalam variabel orientasi beragama di bawah ini:
a. Pada konsep Allport menyatakan bahwa orientasi beragama didasarkan
menjadi dua dimensi, yaitu orientasi beragama ekstrinsik dan orientasi
beragama intrinsik. Mereka berdua menafsirkan orientasi beragama ekstrinsik
sebagai pandangan untuk menyediakan kenyamanan dan keselamatan agama
sebagai alat. Dalam orientasi ekstrnsik ini yaitu individu menggunakan agama
sebagai tujuan pribadi, kepentingan pembenaran diri dan selektif membentuk
merupakan cara beragama yang memikirkan komitmen terhadap agama
dengan seksama dan memperlakukan komitmen tersebut terhadap agama
dengan seksama dan memperlakukan komitmen tersebut dengan
sungguh-sungguh sebagai tujuan akhir. Seseorang dengan orientasi beragama intrinsik
merupakan seseorang yang menginternalisasikan keyakinan agamanya secara
penuh, bukan sekedar kehadiran di tempat ibadah. Pada individu intrinsik,
bahwa beragama cara memikirkan komitmen terhadap agama dengan
memperteguh dan memperlakukan komitmen tersebut dengan
sungguh-sungguh sebagai tujuan akhir hidup (Darvyri et al., 2014).
b. Kemudian, pada tahun 1982 dikembangkan oleh Batson dan Ventis dengan
mengidentifikasi orientasi individu menjadi tiga dimensi yaitu orientasi
intrinsik, orientasi ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest). Pada orientasi
intrinsik dan orientasi ekstrinsik sama dengan konsep Allport, sementara
orientasi pencarian merupakan bentuk keagamaan yang melibatkan ciri
keraguan, kejujuran dan terkait esksistensinya. Individu dengan orientasi ini
cenderung terus mencari jawaban tentang kepercayaannya dalam peristiwa
kehidupan (Francis, 2007). Lalu, tahun 1985 evaluasi pengklasifikasian
berbeda pada religiuos orientation scale oleh Allport dan Ross mengacu pada
modifikasi empat tipologi orientasi beragama yaitu orientasi ekstrinsik,
orientasi intrinsik, orientasi pro beragama (tinggi dalam keduanya, orientasi
non-beragama (rendah dalam keduanya). Orientasi pro beragama yang
dimaksud adalah orientasi beragama yang setuju dengan keduanya (intrinsik
orientasi beragama yang tidak setuju dengan keduanya (Indrianita et al.,
2011).
c. Gorsuch dan McPherson (1989) membagi dimensi orientasi beragama menjadi
3 dimensi yaitu orientasi intrinsik dimana individu yang menjalankan praktek
keagamaannya berdasarkan komitmen dirinya sendiri. Kemudian, memecah
orientasi beragama ekstrinsik menjadi dua tipe, yaitu ekstrinsik personal dan
ekstrinsik sosial. Dikatakan bahwa ekstrinsik personal (Ep) berorientasi pada
individu yaitu individu yang menjalankan seluruh kegiatan keagamaannya
berdasarkan motif untuk mencapai tujuan pribadinya, sedangkan ekstrinsik
sosial (Es) berorientasi pada lingkungan sosial yaitu individu yang
menjalankan praktek agamanya berdasarkan motif untuk memenuhi
harapannya dalam kehidupan sosial (Gorsuch & McPherson, 1989).
d. Francis (2007) 40 tahun terakhir mengoperasionalkan ulang orientasi
beragama dengan konsep pemecah orientasi menjadi 3, yaitu intrinsik,
ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest). Orientasi beragama dalam tiga
komponen konseptual dengan gagasan afiliasi agama yang ditugaskan sendiri,
praktek keagamaan, dan sikap terhadap agama yang dirancang untuk
membedakan individu satu sama lain pada tinggi dan rendahnya orientasi
beragama individu.
e. Neyrinck et al. (2010) mengevaluasi kembali konsep Allport dan Ross dengan
perspektif self-determination pada 3 dimensi orientasi beragama, yaitu
orientasi ekstrinsik, orientasi ekstrinsik dan orientasi pencarian (quest).
Berdasarkan pada pembahasan dimensi-dimensi orientasi beragama, maka