2011, dan mulai wajib
untuk dilaksanakan
terhitung 1 Januari 2014
(sesuai bunyi pasal 11).
seluruh Pegawai Negeri Sipil,karena SKP merupakan rencana kerja PNS selama satu tahun yang disusun secara sistematis dan dapat diukur baik secara kuantitas, kualitas, waktu dan biaya.SKP ini wajib dibuat oleh seorang PNS, hal ini sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat 1 PP No. 46 Tahun 2011 yang bunyinya sebagai berikut “Setiap PNS wajib menyusun SKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a berdasarkan rencana kerja tahunan instansi”.
Karena bersifat wajib, maka ada aturan sanksi jika seorang PNS tidak melaksanakannya. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam pasal 5 ayat 6, yang bunyinya sebagai berikut “PNS yang tidak menyusun SKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dijatuhi hukuman disiplin sesuai dengan ketentuan
peraturan per undang— undangan yang mengatur mengenai disiplin PNS .
Bertitik tolak dari pasal 5 ayat 1 dan pasal 6 PP No. 6 Tahun 2011 tersebut, di pandang
penting untuk terus
mensosialisaikan dan melaku kan kegiatan bintek tentang SKP dan P2KP kepada PNS Dinas Pendidikan Prov. Sumsel.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Drs. Widodo MPd, dalam sambutannya pada saat membuka kegiatan tersebut mengatakan bahwa seluruh PNS Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, wajib memiliki kemampuan
(pengetahuan dan keterampilan) dalam membuat SKP.
Dalam kesempatan tersebut, Kadisdik Sumsel juga berpesan agar seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan Bintek SKP dan P2KP dengan baik dan tertib, sehingga nanti memperoleh pegatahunan dan keterampilan yang baik untuk membuat SKP dan juga memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Penilaian Presasi Kerja Pegawai (P2KP).
Nara sumber utama dalam kegiatan tersebut adalah Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Prov. Sumsel yang diwakili oleh Kepala Bidang Administrasi dan Pengolahan Sistem (Ibu DR.
O le h:
Bimtek
Sri Sulastri, SH, M,Si)
Dalam kesempatan tersebut, Ibu Sri Sulastri menjelaskan secara sistematis dan mendetail tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS dan Sasaran Kerja Pegawai.
Materi beliau dimulai dengan dasar hukum penerapan PP No. 46 Tahun 2011. Dasar hukumnya yaitu sebagai berikut :
1. UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang pokok-pokok kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan UU nomor 43 tahun 1999,
2. PP No. 10 tahun 1979 tentang penilaian pelaksanaa pekerjaan PNS,
3. PP no. 46 tahun 2011 tentang penilaian prestasi kerja PNS dan
4. Perka BKN nomor 1 tahun 2013 tentang petunjuk
pelaksanaan PP 46 tahun 2011 Sebelum menjelaskan secara rinci tentang SKP dan P2KP, Ibu Sri Sulastri terlebih dahulu menjelaskan tentang Reformasi
Birokrasi Pegawai Negeri Sipil, sebagai berikut :
Berdasarkan hal diatas, tujuan reformasi birokrasi adalah untuk meningkatkan profesionalisme PNS. Dan salah satu instrumen untuk meningkatkan
profesionalisme PNS tersebut adalah dengan melakukan pengukuran kinerja individu / Penilaian Prestasi Kerja Pegawai (P2KP).
Menurut ibu Sulastri, P2KP adalah penilaian terhadap hasil kerja PNS pada suatu satuan organisasi sesuai dengan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) dan
Penilaian Perilaku Kerja.
SKP adalah rencana kerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS, dan menurut PP No. 46 Tahun 2011 pasal 5 ayat 2,
SKP adalah memuat kegiatan tugas jabatan dan target yang harus dicapai dalam kurun waktu penilaian yang bersifat nyata dan dapat diukur.
Dalam menyusun SKP, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai
berikut :
1. Jelas, yaitu kegiatan yang
dilakukan harus dapat diuraikan secara jelas
2. Dapat diukur, yaitu kegiatan yang dilakukan harus dapat diukur secara kuantitas dan kualitas
3.Relevan, yaitu kegiatan yang dilakukan harus berdasarkan lingkup tugas jabatan masing- masing.
4. Dapat dicapai, yaitu kegiatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan kemampuan 5. PNS Memiliki target waktu, yaitu kegiatan yang dilakukan harus dapat diselesaikan dalam waktu tertentu’
Bimtek
sasaran dalam SKP, penilaian SKP juga meliputi tugas tambahan dan kreativitas. Tugas tambahan
adalah tugas tambahan yang berkaitan dengan tugas pokok jabatan, hasilnya dinilai sebagai bagian dari capaian SKP. Sedangkan kreativitas adalah kreativitas yang bermanfaat bagi organisasi, hasilnya dinilai sebagai bagian dari capaian SKP. Sedangkan perilaku kerja adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan oleh
PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Seperti telah dijelaskan diatas, bahwa SKP wajib dibuat oleh seluruh PNS untuk dinilai. Sehubungan dengan hal tersebut diatur pula sanksi jika tidak membuatnya dan atau target sasaran yang ingin dicapai terealisasi dengan nilai yang dibawah standar.
Sesuai PP No. 53 Tahun 2010, sanksinya adalah sebagai berikut :
Bimtek
Apabila pencapaian SKP pada akhir tahun hanya mencapai 25% s.d. 50%, dapat diberikan sanksi ;
* Penundaaan kenaikan gaji berkala selama 1 (satu) tahun * Penundaan kenaikan pangkat selama 1 (satu) tahun
* Penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 1 (satu) tahun
2. Apabila pencapaian SKP pada akhir tahun kurang dari 25%, dapat diberikan sanksi; * Penurunan pangkat setingkat l ebih rendah selama 3 (tiga) tahun
* Pemindahan dalam rangka penurunan pangkat setingkat lebih rendah
* Pembebasan dari jabatan * Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS
* Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
Dalam P2KP, penilaian SKP adalah dengan membandingkan realisasi kerja dengan target kerja dari aspek kuantitas, kualitas, waktu dan biaya.
Sedangkan penilaian perilaku kerja adalah hasil pengamatan terhadap perilaku kerja pegawai bersangkutan yang meliputi aspek: * Orientasi pelayanan * Integritas * Komitmen * Disiplin * Kerjasama dan * Kepemimpinan
P2KP, berfungsi juga untuk melihat kinerja PNS, semakin tiggi nilai prestasi kerja, semakin tinggi pula kinerjanya. Selain itu, P2KP (SKP dan perilaku kerja)
bermanfaat untuk :
* Pengembangan karier atau promosi
* Menentukan training * Menentukan standar penggajian
* Menentukan mutasi dan perpindahan pegawai
* Meningkatkan produktivitas dan tanggung jawab pegawai
* Meningkatkan motivasi kerja pegawai
* Menghindari pilih kasih dan * Mengukur keberhasilan kepemimpinan seseorang. Sebelum mengakhiri paparan materinya, Ibu Sri Sulastri, menyampaikan kesimpulan dari SKP dan P2KP sebagai berikut :
1. P2KP dimaksudkan untuk mewujudkan PNS yang professional dan berkinerja baik dalam rangka mendukung reformasi birokrasi
2. Agar pelaksanaan P2KP dapat berjalan efektif, diharapkan pimpinan instansi menerapkan langka-langka yang diperlukan
3. P2KP dilakukan dengan cara menggabungkan penilaian SKP dan Perilaku Kerja 4. Seluruh PNS diwajibkan membuat SKP. (*)
Apakah Saya PNS yang BERKINERJA?
60% x Nilai SKP
40% x Nilai PKP
Tergantung Nilai Prestasi Kerja ANDA.
Semakin tinggi Nilai PK PNS, semakin baik kinerja ANDA.
PK PNS = Penilaian Kerja PNS SKP = Standar Kerja Pegawai PKP = Perilaku Kerja Pegawai
Nilai PK PNS =
Kinerja
D
alam Warta Pendidikan Edisi Juni 2014, saya pernah menulis tentang Permeneg PAN & RB Nomor 16 tahun 2009, dengan judul “Asa Untuk Menjadi Guru Pembina Utama dengan Golongan Ruang IV/e”.Melengkapi artikel sebelumnya tersebut, saya ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang Permeneg PAN & RB, khususnya tentang Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Dengan terbitnya Permeneg PAN & RB Nomor 16 tahun 2009, banyak orang yang ber anggapan bahwa peningkatan karier
kepangkatan guru akan terhambat, karena kewajiban untuk dapat melakukan pengembangan profesi tidak lagi di mulai sejak pangkat/ Golongan Pembina/IV.a melainkan di mulai sejak guru pertama berpangkat / Golongan Penata Muda TK.I/III.b.
Wijaya Kusumah, salah seorang Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia, mengatakan bahwa guru sudah sangat sibuk dengan tugas utama (mengajar 24 jam per minggu) dan tugas administrasinya. Dengan kondisi demikian, guru sudah tidak mudah untuk bisa me luangkan waktu melakukan pengembangan keprofesian berkelanjutan, terutama melakukan publikasi ilmiah dan karya inovatif. (dikutif dari Kompas.com 6 November 2014).
Iwan Hermawan, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia, menambahkan, secara teori kebijakan pemerintah bagus. Namun, mengingat sumber daya guru di Indonesia yang masih rendah, pembuatan publikasi ilmiah tentu saja memberatkan,