• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dokumentasi

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 124-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Metode Pengumpulan Data

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya (Suharsini Arikunto:2013). Dokumen yang digunakan oleh peneliti adalah foto-foto.

Alasan peneliti menggunakan metode dokumentasi adalah untuk memberikan gambaran secara konkrit mengenai situasi dan proses layanan bimbingan bersama dengan anak-anak di TK B1 Tarakanita Bumijo. Melalui metode ini peneliti menghimpun data melalui foto anak-anak selama mengikuti kegiatan permainan saat bimbingan diberikan.

I. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian (Sugiyono, 2013) adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Jenis instrumen yang digunakan oleh peneliti adalah:

1. Peneliti

Hidayat dan Badrujaman (2012) menyatakan, bahwa dalam penelitian kualitatif peneliti adalah instrumen utama dalam penelitian. Sehingga masih dimungkinkan ketika peneliti melakukan tindakan bersamaan dengan melakukan pengamatan.

2. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara berisi tentang uraian penelitian yang biasanya dituangkan dalam bentuk daftar pertanyaan agar proses wawancara dapat berjalan dengan baik.

(Riduwan:2007). Pedoman wawancara yang disusun oleh peneliti dimaksudkan

untuk mengetahui proses peneliti memberikan layanan bimbingan, tanggapan anak-anak beserta perilaku-perilaku yang muncul selama bimbingan klasikal berlangsung dengan menggunakan teknik permainan. Adapun kisi-kisi pedoman wawancara sebagai berikut:

Tabel: 2

Kisi-Kisi Lembar Wawancara Terhadap Guru Kelas

Aspek Sub aspek/

1. Apakah anak-anak mendengarkan saat peneliti menyampaikan peraturan dalam permainan 2. Apakah anak-anak sabar untuk menunggu

giliran. Misal: giliran dalam melakukan permainan

3. Apakah anak-anak perhatian terhadap peralatan sekolah seperti alat tulis yang mereka bawa 4. Apakah anak-anak mau cuci tangan setelah

melakukan aktivitas

5. Apakah anak-anak mencoret-coret tangannya dengan spidol saat melakukan aktivitas mewarnai.

6. Apakah anak-anak mengusapkan tangan yang terkena lem pada celana atau baju setelah menempel gambar

7. Apakah anak-anak pilih-pilih teman dalam bermain

Moral, Agama

1. Apakah anak-anak bereaksi membalas dengan memukul saat diganggu oleh temannya.

2. Apakah anak-anak mengikuti peraturan-peraturan yang disampaikan oleh peneliti saat melakukan permainan. Misal: berlari saat mengambil gambar, pilih salah satu gambar dan tidak boleh lebih.

3. Apakah anak-anak mau menolong teman dan berani untuk meminta tolong

4. Apakah anak-anak mengikuti gerakkan dalam berdoa. Misal: tangan terkatup atau tangan dibuka

5. Bagaimana selama ini ibu mendidik anak-anak supaya menjadi disiplin? Mohon penjelasan dari

ibu.

6. Apakah menurut ibu metode pembiasaan menjadi yang cocok untuk mengembangkan karakter disiplin anak? Mohon penjelasan dari ibu.

3. Pedoman observasi

Lembar observasi yang peneliti digunakan dalam penelitian ini dibuat berdasarkan aspek-aspek yang akan dikembangkan dalam penelitian dan aspek-aspek berdasarkan teori dan telah dipaparkan ahli. Lembar observasi berguna untuk mendapatkan data secara langsung oleh observer sehingga akan diketahui perubahan-perubahan yang terjadi selama proses pelaksanaan layanan bimbingan. Adapun kisi-kisi pedoman observasi sebagai berikut:

Emosional Mengendalikan perasaan 3,4,16,7 18,8,23 7

Moral Mentaati peraturan 14,15,20 3

Mengenal perilaku yang

4. Dokumentasi

Dokumentasi ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian. Data dari penelitian ini diperoleh melalui foto-foto dan catatan lapangan yang disusun oleh mitra kolaboratif dan pengamat lain selama proses pelaksanaan layanan bimbingan.

J. Tehnik Analisis Data

Bogdan dan Taylor (dalam Iskandar,2012) menyatakan analisis data sebagai proses yang mencari usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide.

Hidayat (2012) menjelasakan analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga data ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan oleh data. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif digunakan pada data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi.

1. Analisis data hasil wawancara

Data hasil wawancara dianalisis dengan mendeskripsikan hasil wawancara dengan berpedoman pada aspek-aspek karakter perilaku disiplin seperti aspek sosial, emosional, moral, dan agama.

2. Analisis data observasi

Data hasil dari observasi terhadap kegiatan anak saat mengikuti kegiatan bimbingan dianalisis dan dideskripsikan. Data kualitatif yaitu berupa data aktivitas anak yang diperoleh melalui pencatatan tentang pencapaian anak dalam perilaku

disiplin. Penilaian dapat dilihat dari analisis lembar observasi yang digunakan. dan untuk mengetahui persentase keberhasilan tindakan, data diolah dengan menggunakan perhitungan berdasarkan persentase (%) dengan rumus yang dikemukakan oleh Anas Sudijono (2001) sebagai berikut:

Keterangan:

P = Persentase

F = Frekuensi siswa dalam suatu kategori N = Jumlah siswa keseluruhan

3. Analisis data dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah catatan-catatan dan foto-foto selama proses layanan bimbingan. Dokumentasi digunakan untuk mendukung dan memperkuat data hasil observasi dan wawancara.

K. Kriteria Keberhasilan

Pencapaian pengembangan karakter disiplin anak kelas B1 Taman Kanak-Kanak Tarakanita Bumijo Yogyakarta dalam penelitian ini ditetapkan sebagai berikut:

1. Kuantitatif

Persentase skor hasil observasi pengembangan karakter disiplin dianalisis sesuai dengan pedoman kriteria observasi sebagai berikut:

Presentase Kategori Angka 21 % - 40 % Lemah

Angka 41 % - 60 % Cukup Angka 61 % - 80 % Baik Angka 81 % - 100 % Sangat baik

2. Kualitatif

a. Ada perkembangan karakter disiplin anak yang dilihat dari rata-rata kelas berdasarkan observasi yang menunjukkan peningkatan presentase dari setiap siklus.

b. Anak-anak merespon dengan baik pertanyaan dan intruksi yang diberikan dari setiap kegiatan layanan bimbingan. Selama mengikuti kegiatan bimbingan anak-anak merasa senang, gembira, dan melakukan kegiatan tidak dengan terpaksa.

c. Anak-anak mendengarkan penjelasan dari peneliti. Anak-anak tidak bermain sendiri dan menganggu teman yang lain saat kegiatan bimbingan berlangsung.

d. Anak-anak aktif dalam melakukan kegiatan permainan dan dapat berpartisipasi dalam setiap bentuk permainan.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini dijelaskan secara terperinci mengenai hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian berasal dari hasil dari pra tindakan, siklus I, siklus II.

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan bimbingan ini dilakukan di taman kanak-kanak Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Penelitian dilakukan di kelas B1 yang berusia sekitar 4-5 tahun dengan jumlah anak 25 orang, 11 orang anak laki-laki dan 14 orang anak perempuan.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai bulan September 2014.

Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan dalam 2 siklus dan setiap siklus direncanakan satu kali pertemuan. Tindakan dalam penelitian ini adalah untuk mengembangkan karakter disiplin melalui metode pembiasaan dengan media permainan. Adapun waktu pelaksanaan penelitian tindakan bimbingan untuk kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta diuraikan sebagai berikut:

Tabel: 4

Jadwal Pelaksanaan Penelitian Kelas B TK Tarakanita Bumijo Siklus Hari/ Tanggal Topik Judul dan Bahan Permainan

I Senin,

25 Agustus 2014

Disiplin diri Judul permainan pada pra tindakan adalah

“harta karun” Bahan: kertas bergambar, kertas karton, karet gelang, spidol, lem.

Media ini disesuikan dengan permainan

Judul permainan pada siklus I adalah “Ini nama saya”.

Bahan: kardus bekas untuk membuat bingkai, foto anak-anak, lem. Media ini disesuikan dengan permainan yang

Judul permainan pada siklus II adalah

“Menggapai bintang”. Bahan: Gambar

teman bintang, kardus bekas untuk membuat bintang, tali, biji kacang hijau, beras merah, beras putih. Media ini disesuikan dengan permainan yang dilakukan saat bimbingan.

Penjabaran Hasil Penelitian dan Pembahasan Tiap Siklus Sebagai Berikut:

1. Pra Tindakan

Kegiatan pra tindakan dilaksanakan pada hari Senin, 25 Agustus 2014 dengan tujuan untuk mengetahui situasi awal anak-anak di kelas B1 sebelum peneliti melangkah pada tindakan penelitian. Alokasi waktu yang digunakan adalah 1 x 35.

Pada saat tindakan bimbingan dilakukan observasi untuk mengamati perilaku anak-anak sehubungan dengan karakter disiplin anak-anak. Kegiatan pra tindakan dilaksanak-anakan sebagai berikut:

a. Perencanaan Pra Tindakan

Pada tahap perencanaan pra tindakan, penelitian mempersiapkan satuan pelayanan bimbingan (SPB) yang akan digunakan dalam bimbingan di pra tindakan. Sebelum kegiatan pra tindakan dilakukan peneliti mengkonsultasikan SPB tersebut kepada dosen pembimbing dan guru kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta. Selain itu peneliti juga menyusun instrumen penelitian yang akan digunakan dalam pra tindakan seperti panduan observasi dan pedoman wawancara dan telah dikonsultasikan kepada dosen pembimbing.

Hal ini dilakukan dengan tujuan mempersiapkan dan merencanakan segala sesuatu sebelum kegiatan penelitian. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan dengan perencanaan sebagai berikut:

1) Menyusun Perangkat Bimbingan

a) Satuan Pelayanan Bimbingan (SPB). SPB disusun sebagai pedoman ketika melaksanakan kegiatan bimbingan dalam penelitian, dan disesuaikan dengan media bimbingan yang digunakan. Media bimbingan dalam penelitian ini adalah permainan harta karun yang difokuskan pada pengembangan karakter disiplin anak. Pada pra tindakan topik yang dibahas adalah disiplin diri.

b) Alasan peneliti memilih permainan harta karun, karena didalamnya terkandung aktivitas yang dapat membantu anak untuk mengembangkan aspek sosial seperti anak mau meneriman teman lain sebagai teman satu kelompok, aspek emosional seperti sabar menunggu giliran untuk bermain, aspek moral, seperti tidak menganggu teman, mengikuti peraturan-peraturan dalam permainan harta karun.

2) Penyusunan Instrumen Penelitian

a) Lembar Observasi

Lembar observasi disusun sebagai alat untuk mencatat hasil pengamatan terhadap pelaksanaan kegiatan pra tindakan dengan fokus pada pengembangan karakter disiplin anak selama mengikuti bimbingan.

b) Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara ditujukan kepada guru kelas sebagai mitra kolaboratif sebanyak lima butir. Tujuan dari wawancara adalah untuk melengkapi hasil observasi serta sebagai sarana bagi peneliti untuk memperoleh pengetahuan dari mitra kolaboratif.

b. Pelaksanaan Pra Tindakan

Pada hari Senin tanggal 25 Agustus, peneliti mengadakan pra tindakan.

Peneliti dibantu oleh satu mitra kolaboratif yaitu wali kelas BI dan satu teman sebagai teknisi. Pada pra tindakan permainan yang digunakan berjudul “Harta Karun” dengan alat kertas bergambar, kertas karton, lem, spidol, karet gelang.

Adapun langkah kegiatan dalam pelaksanaan pra tindakan adalah sebagai berikut:

1) Kegiatan awal:

a) Peneliti membuka kegiatan dengan memberi salam.

b) Peneliti meminta anak-anak untuk tenang dan membuka kegiatan dengan berdoa.

c) Peneliti menyampaikan bentuk kegiatan bimbingan yang akan dilakukan bersama melalui permainan harta karun.

2) Kegiatan inti:

a) Peneliti menjelaskan permainan “Harta karun” dan menyampaikan peraturan-peraturan dalam permainan. Permainan ini menyimbolkan diri anak yang mempunyai kemampuan yang masih terpendam seperti kemampuan mendangarkan, tertib dalam berbaris, sabar menunggu giliran, perhatian dengan kebersihan diri, menolong orang lain, dan sebagainya, di mana semua itu perlu untuk digali. Melalui permainan ini kemampuan anak yang terpendam disimbolkan dengan kertas karton yang digulung, di dalamnya berisikan gambar anak sekolah dengan tulisan “aku anak disiplin”, “anak senang bermain dengan teman”, “aku tidak menganggu teman”, dan juga ada gambar anak yang sedang berdoa dengan tulisan “aku rajin berdoa”. Sebelum permainan ini dilaksanakan bersama anak-anak dalam bimbingan klasikal, peneliti terlebih dahulu mengkonsultasikan kepada guru kelas.

Alasan peneliti memilih permainan harta karun, karena didalamnya terkandung aktivitas yang dapat membantu anak untuk mengembangkan aspek sosial seperti anak mau meneriman teman lain sebagai teman satu kelompok, aspek emosional seperti sabar menunggu giliran untuk bermain, sabar menunggu giliran untuk mengumpulkan hasil karyanya. Aspek moral, seperti tidak menganggu teman, mengikuti peraturan-peraturan dalam permainan harta karun. Selain itu bentuk permainan harta karun ini juga dapat membantu anak untuk

mengembangkan aspek motorik seperti berlari, mengembangkan kognitif anak seperti mengenal warna ketika memilih gulungan kertas yang peneliti sediakan, memilih warna ketika akan mewarnai gambar.

Kemudian permainan harta karun juga dapat mengembangkan aspek bahasa anak, seperti anak diminta untuk mengungkapkan perasaan atau pengalaman yang dialami selama bermain. Selama peneliti menjelaskan peraturan dalam permainan harta karun, masih ada beberapa anak yang kurang memperhatikan, seperti bercerita dengan teman disampingnya, bermain sendiri, menganggu temannya, berebut tempat untuk berdiri paling depan.

Pada saat permainan harta karun dimulai anak-anak sangat antusias untuk bermain dan mereka tidak sabar menunggu giliran untuk lekas bermain, sehingga anak-anak menjadi berebut. Setelah anak-anak mendapat kesempatan untuk bermain dan mendapatkan kertas yang digulung sebagai media untuk mewarnai, media ini justru digunakan untuk bermain. Kendati demikian ketika anak-anak mendengar intruksi untuk berkumpul menjadi satu kelompok dengan teman yang mempunyai kertas berwarna sama, mereka cepat tanggap dan segera berkumpul.

Bentuk dinamika dalam kelompok adalah mewarnai gambar yang belum seluruhnya diwarnai. Gambar yang warnai ialah anak yang sedang berjalan mau pergi sekolah, anak-anak bermain bersama, dua anak yang saling bergandengan tangan, anak yang sedang berdoa.

Gambar yang sudah diwarnai kemudian ditempelkan pada kertas karton yang telah peneliti sediakan. Intruski yang peneliti sampaikan dalam dinamika ini ialah, anak-anak yang sudah selesai boleh membantu teman yang lain. Kenyataannya yang terjadi adalah tidak ada anak-anak yang bergerak untuk membantu teman yang belum selesai mengerjakan tugas. Hal ini terlihat, sekalipun sudah selesai anak-anak tetap asyik bermain sendiri dengan media yang dipegangnya.

Proses penggalian pengalaman anak-anak, dilakukan oleh peneliti setelah anak-anak selesai menempelkan gambar pada karton. Caranya adalah meminta satu anak maju ke depan memperlihatkan hasil gambarnya dan peneliti membacakan tulisan yang sudah peneliti tuliskan pada kertas karton, seperti “Aku anak yang disiplin”, “Aku rajin ke sekolah”. Kembali dalam proses ini anak-anak berebut untuk mendapatkan giliran maju, dan hasil karyanya diperlihatkan ke teman-temannya serta dibacakan. Kemudian pertanyaan-pertanyaan yang peneliti ajukan untuk menggali pengalaman anak-anak ketika bermain, hanya dijawab oleh sebagian anak. Kendati demikian ada anak yang dengan spontan mengungkapkan pengalamannya terkaitkan dengan indikator yang dibahas. Misalnya soal “aku rajin berdoa”. Ada anak yang dengan polosnya mengatakan “aku tidak berdoa kalau mau tidur”.

Hal ini merupakan pengalaman anak yang perlu untuk diluruskan tapi sekaligus juga perlu diberi pujian sebab anak sudah berani jujur dengan apa yang sudah ia lakukan. Selama proses berdinamika, terkadang

masih ada anak yang asyik bermain sendiri, bercerita dengan teman yang duduk disampingnya, dan juga masih ada yang menganggu teman lain.

Diakhir proses bimbingan klasikal, ada beberapa anak yang tanpa disuruh membereskan spidol yang masih berserakkan di lantai dan meletakan di atas meja. Sebaliknya, sebagian besar dari anak-anak kurang peduli dengan situasi itu, bahkan hanya melihat ketika ada satu dua anak yang merapikan spidol.

b) Di pengujung pelaksanaan bimbingan klasikal peneliti mengajak anak-anak untuk bernyanyi “Aku anak-anak yang disiplin”. Lagu ini berisikan tentang karakter disiplin. Adapun syair lagu tersebut adalah:

Aku seorang yang rajin, slalu bersikap disiplin,

slalu taati aturan, aku seorang disiplin.

Penekanan makna dari lagu ini adalah untuk mengajak anak-anak memiliki perilaku disiplin. Perilaku disiplin dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku di sekolah.

3) Kegiatan penutup:

a) Peneliti mengevaluasi kegiatan hari ini dengan cara bertanya kepada anak-anak apakah kegiatan hari menyenangkan atau tidak.

b) Peneliti mengajak anak-anak untuk mengakhiri kegiatan dengan berdoa.

c) Peneliti mengajak anak-anak mengucapkan terima kasih kepada ibu guru sebagai pengamat, kepada teknisi dan peneliti.

d) Peneliti mengajak anak-anak untuk berbaris untuk masuk kelas.

c. Data Hasil Wawancara dan Observasi Pra Tindakan 1) Data Hasil Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas sebagai mitra kolaboratif ditemukan beberapa masukan sebagai berikut:

a) Bimbingan sudah menarik, anak-anak merasa senang, karena kegiatan bimbingan dilakukan dengan bermain. Hanya kesiapan penelitian dalam menghadapi anak-anak kurang. Peneliti terkesan buru-buru, dan peneliti agak kualahan untuk menghadapi anak-anak yang mempunyai antusias bermain cukup besar, serta anak-anak yang masih kurang bisa mendengarkan peneliti.

b) Saat permainan harta karun dimulai anak-anak saling berebut untuk mulai lebih dulu.

c) Media permainan harta karun yang digunakan, setelah anak-anak mendapatkan justru dipakai untuk bermain oleh anak-anak, sehingga ada media yang rusak.

d) Anak-anak setelah mendapatkan media sebagai sarana untuk permainan menjadi tidak bisa diam dan kurang fokus terhadap peneliti, tetapi anak-anak lebih fokus dengan media yang sudah dipengangnya.

Adapun perilaku yang ingin dibantu dikembangkan lewat pembiasaan lebih ditekankan pada disiplin masuk sekolah, perhatian dengan barang milik sendiri, tertib dalam berbaris, sabar menunggu giliran, tidak memukul teman, mau menolong teman, tertib dan tenang dalam berdoa, tidak berebut mainan, tidak berjalan-jalan di kelas saat guru menjelaskan pelajaran.

2) Data Hasil Observasi

Observasi dilakukan oleh peneliti dan juga oleh mitra kolaboratif, untuk mendapatkan data tentang karakter disiplin anak melalui bimbingan klasikal.

Penentuan penilaian hanya didasarkan pada anak yang berkembang sangat baik (BSB), berkembang sesuai harapan (BSH), dan anak yang mulai berkembang (MB), sedangkan anak yang belum berkembang (BB) dipandang sebagai karakter yang belum berkembang. Berikut hasil observasi pada pra tindakan.

7 Anak mendengarkan dengan

15 Anak mengikuti aturan-aturan permainan

Pencapaian hasil penelitian pada pra tindakan belum mencapai target. Jika dipersentasekan keberhasilan perkembangan karakter disiplin dari 25 anak pada pra tindakan ini adalah:

Tabel: 6

Prosentasi (%) Nilai Perkembangan Pra Tindakan

No Hal-hal yang diobservasi Hasil observasi

pra tindakan 1 Anak bergegas berbaris saat mendengar intruksi

untuk berbaris

60%

2 Anak tertib dalam berbaris 52%

3 Anak menujukan wajah senang 76%

4 Anak duduk dengan tenang 56%

5 Anak menirukan gerakan ibadah 72%

6 Anak berbicara dengan teman saat diberi penjelasan 52%

7 Anak mendengarkan dengan sungguh-sungguh 56%

8 Anak jalan-jalan di kelas 64%

9 Anak menganggu teman 76%

10 Anak keluar ruangan tanpa ijin 80%

11 Anak bersedia bermain dengan teman lain 76%

12 Anak berebut mainan 48%

13 Anak bertengkar dengan teman 76%

14 Anak sabar menunggu giliran 52%

15 Anak mengikuti aturan-aturan permainan 56%

16 Anak senang melakukan permainan 72%

17 Anak mau menolong teman 8%

18 Anak tidak mau mengalah 56%

19 Anak merespon dengan baik ketika diberi pertanyaan 76%

20 Anak berhenti bermain pada waktunya 72%

21 Anak merapikan dan menyimpan alat tulis milik sendiri

12%

22 Anak mencuci tangan setelah melakukan permainan 88%

23 Anak tidak memukul teman 72%

24 Anak mau meminta tolong pada teman 8%

25 Anak berbicara sopan dengan sesama teman 76%

Rata-rata 60%

Data Skor Karakter Disiplin Anak Tabel: 7

Data Skor Karakter Disiplin Anak Pada Pra Tindakan No Nama Jumlah Kategori Pra

Kategori Skor karakter Disiplin Anak pada Pra Tindakan

Kategori Jumlah Subyek Persentase

Lemah

Dari tabel di atas dapat dideskripsikan bahwa, anak yang memiliki kategori lemah tidak ada. Ada lima belas anak masuk dalam kategori cukup, dan dipersentasekan menjadi 60%. Ada enam anak masuk dalam kategori baik, dan dipersentasekan menjadi 28%. Selanjutnya ada empat anak masuk dalam kategori sangat baik, bila dipersentasekan menjadi 12%.

b) Kualitatif

Sesuai dengan pengamatan pada pra tindakan, anak-anak senang melakukan permainan, dan anak-anak juga sangat antusias melakukan permainan. Antusiasnya anak untuk bermain, justru membuat anak-anak saling berebut dan tidak sabar ingin melakukan permainan lebih dulu.

Permainan harta karun dalam bimbingan di pra tindakan, dimainkan secara bergilir. Selain berebut, akhirnya anak-anak menjadi tidak tertib dalam berbaris, saling dorong, memukul teman, berbicara kurang sopan terhadap teman. Begitu juga saat melakukan permainan anak-anak kurang memiliki kepedulian terhadap temannya sekalipun ada intruksi untuk saling membantu satu sama lain. Diakhir kegiatan permainan harta karun, hanya ada beberapa anak yang tergerak hatinya untuk membereskan alat-alat yang digunakan dalam bermain, seperti merapikan spidol, dan juga pering kecil yang digunakan untuk tempat lem.

Peneliti melakukan observasi selama proses bimbingan dan juga di luar jam bimbingan. Observasi ini dilakukan pada saat anak-anak istirahat.

Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan terkait dengan karakter

disiplin, masih terdapat anak-anak yang menolak teman yang ingin bermain bersama, memukul teman, berebut mainan, tidak menolong saat ada temannya yang jatuh. Melihat hal ini peneliti mengingatkan anak-anak, bahwa menolak teman, memukul teman, berebut mainan itu tidak baik. Terkait dengan perilaku menolong teman, anak-anak juga masih diajari dan dingatkan.

d. Evaluasi dan Refleksi

Setelah pelaksanaan bimbingan klasikal dengan menggunakan permainan harta karun, kemudian pengamat dan peneliti mengadakan evaluasi terhadap bimbingan yang telah berlangsung. Setelah evaluasi dilanjutkan dengan refleksi.

Hasil evaluasi dari pra tindakan yang dilakukan oleh mitra kolaboratif menyatakan bahwa dalam pelaksanaan bimbingan, kegiatan yang diberikan terlalu banyak peraturan, sehingga anak-anak lelah. Pengamat melihat, pada dasarnya peneliti sudah berusaha memberikan bimbingan dengan baik, hanya masih perlu perbaikan dalam mengelola kelas. Terlihat selama kegiatan bimbingan berlangsung masih banyak anak-anak yang tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan peneliti, sehingga peneliti lebih sering mengajak anak-anak untuk diam.

Refleksi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa tindakan bimbingan dengan menggunakan media permainan baik untuk anak-anak,

Refleksi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa tindakan bimbingan dengan menggunakan media permainan baik untuk anak-anak,

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 124-0)