MENGEMBANGKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN DENGAN MEDIA
PERMAINAN DI TK B1 TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Nurhayati NIM 101114041
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2015
i
MENGEMBANGKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN DENGAN MEDIA
PERMAINAN DI TK B1 TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling
Oleh:
Nurhayati NIM 101114041
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA 2015
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan kepada Tuhan Yesus dan
kepada Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Santo Carolus
Borromeus Provinsi Indonesia.
v
MOTTO
“……Waktu itu kami mulai menerima anak-anak miskin, dengan maksud membangun dasar baik dalam batin mereka, kami memberikan pelajaran agama Kristen, menjahit,
berdoa, serta memberikan dorongan ke arah semangat hidup yang suci………”
(Bunda Elisabeth Gruyters, Pendiri Kongregasi CB.)
(Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskanNya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya....)
(Matius 12:20)
viii
ABSTRAK
MENGEMBANGKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK USIA DINI MELALUI METODE PEMBIASAAN DENGAN MEDIA
PERMAINAN DI TK B1 TARAKANITA BUMIJO YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2014/2015
Nurhayati
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
2015
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan karakter disiplin anak usia dini melalui metode pembiasaan dengan media permainan di kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/ 2015. Berdasarkan observasi dan wawancara menunjukkan bahwa anak kelas B1 dalam karakter disiplin masih sangat kurang.
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling (PTBK) yang dilaksanakan dalam pra tindakan dan dua siklus perbaikan. Setiap siklus dilaksanakan dalam satu pertemuan. Subjek pada penelitian ini adalah anak kelas B1 TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/ 2015, dengan jumlah 25 anak. Data hasil penelitian diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian mulai dari pra tindakan ke siklus I dan ke siklus II, serta berlanjut pada penerapan ke metode pembiasaan, menunjukkan adanya perkembangan karakter disiplin anak. Perkembangan karakter disiplin anak pada pra tindakan mencapai 60%, masuk pada kategori cukup. Pada siklus I 78%, masuk dalam kategori baik, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 96%, masuk dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyimpulkan ada perkembangan karakter disiplin melalui penerapan metode pembiasaan dengan media permainan pada anak usia dini di TK B 1Tarakanita Bumijo Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/ 2015.
Kata kunci: karakter disiplin, metode pembiasaan, anak usia dini.
ix
ABSTRACT
DEVELOPING DISCIPLINE CHARACTER OF YOUNG LEARNERS THROUGH HABITUATION METHOD USING GAME MEDIA IN THE
B1 OF TARAKANITA KINDERGARTEN BUMIJO YOGYAKARTA IN THE SCHOOL YEAR 2014/2015
Nurhayati
Sanata Dharma Univeristy Yogyakarta
2015
This research is aimed at developing discipline character of young learners through habituation method using game media in the B1 class of Tarakanita Kindergarten Bumijo Yogyakarta in the school year 2014/2015. Based on the observation and interview, it shows that the discipline character of B1 students was poor.
The research was counseling guidance action research that was conducted in two phases. They were pre action and two revision cycles. Each of cycle was conducted in one meeting. The research subjects were students of B1 class of Tarakanita Kindergarten Bumijo Yogyakarta in school year 2014/2015.The number of subjects were 25 students. The research data were gained from observation, interview, and documentation.
The result of the research from pre-action up to cycle I and cycle II and continued to implementation of habituation method, showed that the developing of students’ discipline character was increasing. Developing students’ character discipline in the pre-action was 60% which is categorized as moderate. In the cycle I was 78 % that categorized as good, and in the cycle II increased up to 96%
which is categorized as very good. Based on the result of the research, the writer concludes that developing discipline character of young learners through habituation method using game media for young learners in B1 class of the Tarakanita Kindergarten Bumijo Yogyakarta in the school year 2014/2015 was founded.
Keywords: discipline character, habituation method, young learners.
x
Kata Pengantar
Puji syukur atas berkah dan rahmat yang Tuhan berikan, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.
Penulis banyak menerima bantuan, semangat, dan doa dari berbagai pihak yang sangat mendukung dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rohadi, Ph.D., selaku Dekan Falkutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. Dr. Gendon Barus, M.Si selaku Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah membantu dan memberikan kelancaran dalam proses penyelesaian skripsi ini.
3. Ag. Krisna Indah Marheni, S.Pd., M.A selaku dosen pembimbing yang selalu meluangkan waktu dengan penuh kesabaran dan ketekunan dalam membimbing dan mendampingi penulis pada setiap tahap dan seluruh proses penyusunan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma yang telah mencurahkan ilmunya dengan sepenuh hati sehingga berguna untuk bekal hidup.
xi
5. Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus, yang telah memberi kepercayaan dan dukungan, baik secara spiritual, moril maupun financial kepada penulis untuk studi di BK Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
6. Para suster di Komunitas yang dengan caranya masing-masing telah memberikan semangat dan dukungan kepada penulis selama studi hingga penyelesaian penulisan skripsi ini.
7. Kepala Sekolah TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan penelitian, serta memberikan dukungan secara penuh kepada penulis dalam kelengkapan pengumpulan data.
8. Guru TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta yang banyak membantu dalam proses penelitian hingga selesai.
9. Anak-anak TK Tarakanita Bumijo Yogyakarta yang dengan senang hati menerima penulis dan bersedia mengikuti kegiatan layanan bimbingan.
10. Teman-teman BK khususnya angkatan 2010 yang dengan caranya masing- masing telah mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Mas A. Priyatmoko, atas kesabaran dan pelayanannya dalam membantu penulis mengurus administrasi perkuliahan serta penyelesaian skripsi.
12. Kedua orangtua tercinta, bapak Almatius. M. (alm), dan ibu Anna. S., yang selalu memberikan dukungan dalam nasehat dan doa-doanya, sehingga membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
xiii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xviii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 10
E. Definisi Operasional... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Karakter Disiplin ... 12
1. Pengertian Disiplin ... 12
2. Tujuan Perilaku Disiplin ………. 13
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cara Disiplin ... 16
4. Perlunya Disiplin Bagi Anak ... 18
5. Unsur-Unsur Displin ... 24
6. Cara Mendisiplin Anak ... 30
B. Konsep Dasar Metode Pembiasaan ... 34
1. Pengertian Metode Pembiasaan ... 34
2. Bidang Pengembangan Pembentukan Perilaku Melalui Pembiasaan ... 36
3. Proses Pembiasaan ... 38
xiv
4. Dasar dan Tujuan Pembiasaan……… 40
5. Tujuan Pengembangan Pembiasaan ……… 41
6. Fungsi Pembiasaan ……….. 42
C. Konsep Dasar Metode Pembiasaan pada Pengembangan Karakter ... 43
1. Konsep Pengembangan Pembiasaan……… 43
2. Metode Pembelajaran Perilaku Melalui Pembiasaan…. . 45
3. Pelaksanaan Pembiasaan………. 47
D. Media Bimbingan ... 58
1. Pengertian Media Bimbingan……….. 58
2. Media Bimbingan Anak Usia Dini………. . 58
E. Media Permainan ... 66
1. Pengertian Permainan……….. 66
2. Kriteria Dalam Bermain……….. 67
3. Fungsi Permainan……… 68
4. Bermain sambil Belajar……… 70
5. Sarana dan Alat Bermain Anak TK……… 72
F. Anak Usia Dini ... 74
1. Pengertian Anak Usia Dini……….. 74
2. Karakteristik Anak Usia Dini……….. 74
3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini……… 77
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 83
B. Subjek Penelitian ... 84
C. Waktu dan Tempat Penelitian ... 84
D. Setting Penelitian ... 84
E. Prosedur Penelitian... 87
F. Tahap Penelitian ... 89
G. Jadwal Kegiatan……… 101
H. Metode Pengumpulan Data ... 101
1. Observasi ... 102
2. Wawancara ... 104
3. Dokumentasi……… 105
I. Instrumen Data………... 105
J. Teknik Analisis Data ... 108
1. Analisis Data Wawancara ... 108
2. Analisis Data Observasi ... 108
3. Analisis Data Dokumentasi……….. 109
K. Kriteria Keberhasilan ... 109
1. Kuantitatif……… 109
2. Kualitatif……….. 110
xv
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ………... 111
1. Pra Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling ... 112
2. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus I ... 128
3. Penelitian Tindakan Bimbingan dan Konseling Siklus II ... 145
B. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ... 162
C. Pembahasan ... 164
D. Keterbatasan Penelitian ... 171
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 173
B. Saran ... 173
DAFTAR PUSTAKA ... 175
LAMPIRAN ... 177
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Wawancara Guru ... 106 Tabel 2. Kisi-kisi Pedoman Observasi Anak ... 107 Tabel 3. Kriteria Kategori Hasil Persentase Skor Observasi ...
Terhadap Karakter Disiplin ….…..……… 110 Tabel 4. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Kelas B1 TK
Tarakanita Bumijo Yogyakarta ... 111 Tabel 5. Analisis Hasil Observasi Karakter Disiplin
Pada Pra Tindakan ... 120 Tabel 6. Analisis Hasil Observasi Karakter Disiplin
Pada Siklus I ... 137 Tabel 7. Analisis Hasil Observasi Karakter Disiplin
Pada Siklus II ... 154 Tabel 8. Data Hasil Observasi Karakter Disiplin
Pra Tindakan, Siklus I, dan Siklus II ... 163
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagan Penelitian Tindakan Model Hopkins ( 1993 ) ………. ... 88 Gambar 2. Grafik Skor Karakter Disiplin Anak ……… ... 158 Gambar 3. Grafik Hasil Observasi Siswa Pra Tindakan, Siklus I,
Siklus II ... 160
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Program Rancangan Kegiatan Penelitian Tindakan ... 177
Lampiran 2. Satuan Pelayanan Bimbingan . ... 187
Lampiran 3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ... 197
Lampiran 4. Tabulasi Data Penelitian ... 203
Lampiran 5. Foto-Foto ... 208
Lampiran 6. Foto-Foto Observasi dalam Kehidupan Konkrit Anak-anak di Sekolah ... 217
Lampiran 7. Surat Ijin Penelitian ... 220
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini diuraikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi operasional dari istilah-istilah pokok yang digunakan dalam penelitian ini.
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan anak usia dini di Indonesia telah mendapatkan perhatian.
Masyarakat sudah mulai peduli dengan masa keemasan anak. Kenyataan ini terlihat dari banyaknya diselenggarakan pendidikan anak usia dini, misalnya play group dan taman kanak-kanak. Bahkan pendidikan anak usia dini ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat perkotaan saja, tetapi juga dilakukan di pedesaan. Pihak pemerintah menyambut baik respon masyarakat yang sangat peduli dengan pendidikan bagi anak usia dini ini. Terbukti respon baik dari pihak pemerintah ini adalah adanya undang-undang yang sah yang mengayomi pelaksanaan pendidikan anak. Sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU SISDIKNAS) No. 20 Tahun 2003 pada BAB 1 pasal 1 ayat 12 disebutkan bahwa pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Dalam pasal 1 ayat 14, dijelaskan pengertian pendidikan anak usia dini yang berbunyi: “Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut” (Suyadi:2010).
Pendidikan harus mendapat prioritas, mengingat betapa pentingnya pendidikan bagi seorang anak. Adapun pendidikan itu sendiri pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (UU Sistem Pendidikan Nasional, Pasal I:
1994). Atmadi dan Setianingsih (2000) menjelaskan, bahwa pendidikan masa depan adalah bagaimana mengupayakan pendidikan yang membentuk pribadi yang mampu belajar seumur hidup. Pernyataan ini mau menandaskan bahwa pendidikan bagi seseorang tidak terbatas oleh usia, ruang, dan waktu. Pendidikan harus senantiasa mengiringi perjalanan kehidupan manusia, atau dikenal dengan Long Life Education, dan pada usia dinilah, pendidikan sangat berpengaruh bagi terbentuknya karakter yang baik.
Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan awal pembentukan manusia.
Pendidikan awal pembentukan manusia erat kaitanya dengan pendidikan karakter. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Kegagalan penanaman kepribadian yang baik pada seseorang sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak (Erikson :1969).
Wibowo (2013) menyatakan, bahwa usia dini merupakan momen yang sangat penting bagi tumbuhkembangnya anak. Usia dini juga sering disebut sebagai masa keemasan, yaitu di mana semua stimulasi segenap aspek perkembangan mengambil peran penting bagi pertumbuhan anak selanjutnya. Usia dini terutama yang di taman kanak-kanak merupakan usia yang sangat baik untuk menumbuh kembangkan berbagai potensi dan kepribadian yang dimiliki oleh anak. Upaya menumbuh kembangkan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk melalui pendidikan karakter dalam proses pembelajaran
yang terus menerus. Suyanto (dalam Wibowo, 2013) menyatakan pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).
Jadi, pendidikan karakter dalam proses pembelajaran yang terus menerus, tidak hanya terbatas pada kemampuan kognitif saja, tetapi juga pada kemampuan sosial dan emosional. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya menumbuhkembangkan berbagai potensi dan kepribadian yang dimiliki anak harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan. Pengkonkritan pendidikan karakter pada anak usia dini dapat dituangkan dalam progam harian, yaitu tentang kepribadian anak, kemandirian anak, tanggung jawab serta kedisiplinan, sehingga anak siap mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya.
Kemendiknas (dalam Wibowo 2013) menyatakan nilai pendidikan karakter yang perlu untuk diinternalisasikan pada anak adalah disiplin. Dari penanaman pendidikan karakter disiplin ini, akan memunculkan nilai karakter disiplin pada anak usia dini.
Misalnya mengenal Tuhan dan segenap ciptaanNya, dengan mengajarkan disiplin dalam hal berdoa sebelum dan sesudah makan, cuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta makan sambil duduk yang sopan dan baik. Moeslichatoen (2004) menyatakan disiplin harus mempunyai unsur nilai mendidik dan tidak dengan pemberian sanksi, karena anak usia dini masih harus belajar bermacam-macam pola tingkah laku yang dapat diterima oleh lingkungannya. Pendidikan karakter menegaskan bahwa, jika disiplin hendak berfungsi, hal itu harus mengubah anak-anak dari dalam diri anak tersebut. Disiplin harus mengubah sikap mereka, cara mereka berpikir dan merasa. Disiplin harus menyebabkan mereka ingin berperilaku secara berbeda (Likona: 2012).
Wibowo (2013) menyatakan disiplin merupakan faktor yang sangat penting untuk membentuk manusia yang berkarakter, maka penting mengajarkan disiplin sejak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar-dasar pengembangan kemampuan, salah satunya adalah kemampuan disiplin. Berns (dalam Wibowo, 2013) menyatakan salah tugas perkembangan masa kanak-kanak awal adalah mengembangkan kesadaran untuk mematuhi peraturan. Pengembangan kemampuan disiplin yang dimulai dari usia dini, akan membentuk anak tersebut menjadi manusia dewasa yang disiplin pula dalam mematuhi peraturan.
Pada saat ini, di Indonesia bisa dikatakan disiplin masih merupakan masalah yang cukup berat, misalnya disiplin di jalan raya, disiplin kerja, disiplin waktu, dan juga disiplin dalam belajar. Disiplin dalam kehidupan bermasyarakat juga belum menjadi keterbiasaan. Ketidakdisiplinan yang terjadi pada masa sekarang ini sering kali menyebabkan munculnya berbagai macam persoalan. Sebagai contoh adalah ketidakdisplinan di jalan raya. Pelanggaran lalu lintas terjadi setiap hari di mana-mana.
Menerobos lampu merah, menerobos palang pintu kereta api, mengendarai sepeda motor tanpa helm pengaman masih sering dijumpai. Menyeberang jalan juga masih seenaknya, dan kurang memperhatikan keselamatan orang lain. Bentuk ketidakdisiplinan yang lain seperti membuang sampah sembarangan. Kebiasaan membuang sampah tidak pada tempatnya masih terjadi disebagian kalangan masyarakat. Sungai dan selokan masih menjadi tempat sampah terbesar dan terpanjang, sehingga ketika banjir datang masyarakat tinggal mengeluh.
Penjelasan di atas hanya menggambarkan beberapa tindakan perilaku tidak disiplin yang ada di masyarakat. Masih ada sekian retetan perilaku tidak disiplin terjadi di
masyarakat Indonesia. Pertanyaannya adalah mengapa semua ini terjadi dan bagaimana mengatasinya? Salah satu bentuk jawabannya adalah ada pada pendidikan yang membiasakan seseorang pada perilaku disiplin. Membiasakan berperilaku disiplin ini harus ditanamkan dari sejak anak usia dini. Kedisiplinan yang ditanamkan dari sejak dini akan menghasilkan pribadi-pribadi yang berkarakter disiplin.
Pada kaitannya dengan metode pengajaran yang dilaksanakan di taman kanak- kanak, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah cara atau metode yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai dengan tuntutan yang ada di masyarakat. Sebagai permulaan dan pangkal pendidikan anak usia dini, maka pembiasaan harus diterapkan pada anak. Maka dari itu tepatlah kalau pembiasaan dijadikan sebagai metode dalam mendidik anak usia dini. Anak bisa diarahkan dan dibimbing pada kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan yang baik, karena anak berada pada usia sensitif, mudah dipengaruhi oleh lingkungan serta suka meniru (Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanan dan Sekolah Dasar, 2007). Pada proses arahan dan bimbingan melalui metode pembiasaan ini dapat dilaksanakan dengan media permainan. Pilihan terhadap media permainan ini mengacu pada perkembangan anak usia TK yang senang melakukan aktivitasnya dengan bermain, di mana bermain merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak TK (Moeslichatoen, 2004).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan perilaku menjadi baik melalui metode yang tepat. Metode yang diberikan pada pendidikan anak usia dini agar berjalan secara efektif dan efisien, tidak hanya materi yang didapatkan oleh seorang anak ketika belajar, tetapi pengalaman dan penerapan dari apa yang telah diperoleh di bangku
sekolah melalui pembiasaan-pembiasaan pada pengembangan karakter, dan itulah yang lebih penting untuk ditekankan.
Berdasarkan uraian di atas, akhirnya peneliti berusaha untuk melakukan penelitian tindakan. Penelitian tindakan dilakukan pada anak usia dini di TK B Tarakanita Bumijo. Hasil observasi (6 Juni 2014 dan 7 Juni 2014) pada saat proses pembelajaran berlangsung menunjukkan bahwa perilaku disiplin masih sangat kurang. Misalnya anak masih berjalan-jalan dan main sendiri di kelas saat guru mengajar, anak yang kurang perhatian dan tidak memelihara peralatan milik sendiri dengan membiarkan alat tulis berserakan di meja dan lantai, kurang menjaga kebersihan diri sendiri dengan mengusapkan tangan yang kotor ke baju atau celana, belum ada kesediaan untuk bermain bersama, seringnya menganggu teman dengan mencolek, menarik buku dan menjatuhkan buku tersebut. Selain itu anak belum bersikap tertib, dan tenang dalam berdoa, seperti saat berdoa anak jalan-jalan di kelas, masih mengajak temannya berbicara. Kemudian anak- anak juga masih ada yang memukul teman lain, dan juga belum ada kemauan untuk membantu teman yang membutuhkan bantuan. Observasi ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru kelas TK Tarakanita Bumijo (6 Juni dan 7 Juni 2014) bahwa karakter disiplin anak-anak masih harus dikembangkankan.
Berdasarkan Focus Group Discussion (FGD) melalui observasi dan wawancara dengan guru kelas terdapat kesamaan, dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kurangnya anak mendengarkan orang lain, anak-anak juga kurang perhatian dan tidak memelihara peralatan milik sendiri, anak-anak masih kurang juga dalam menjaga kebersihan diri sendiri, belum ada kesediaan untuk bermain bersama, seringnya menganggu teman, berebut mainan, kurang peka untuk menolong teman, keluar kelas tanpa
ijin, kurang tenang dalam berdoa, dan anak-anak juga masih suka memukul teman lain.
Hal ini menunjukan masih kurang maksimalnya perilaku disiplin anak. Perilaku disiplin anak yang kurang maksimal, yang ditemukan saat Focus Group Discussion (FGD), dilihat dari aspek sosial emosional, moral dan agama. Alasan penelitian dilihat dari aspek-aspek ini, yaitu bahwa untuk membangun karakter, maka anak-anak harus memiliki perilaku disiplin disemua aspek, yaitu aspek sosial emosional, moral dan agama.
Disiplin menurut Wibowo (2013) sebagai sesuatu yang penting. Orang tua atau guru harus menyakinkan anak bahwa disiplin itu merupakan bagian penting pembentukan karakter. Perkembangan karakter disiplin anak usia dini sangat dipengaruhi oleh lingkungan terutama dari orang tua. Anak belajar untuk mengenal nilai-nilai dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dilingkungannya tersebut. Dalam pengembangan karakter anak usia dini peranan orang tua dan guru pendidik sangatlah penting. Berbagai bentuk kejahatan dan tindakan tidak bermoral dikalangan anak menunjukkan bahwa anak didik belum memiliki karakter yang baik. Hal ini membutuhkan orang tua dan guru pendidik yang mampu mengembangkan karakter sesuai dengan kondisi anak, tidak sekedar pengetahuan tetapi lebih menjangkau dalam wilayah emosi anak.
Penyebab masih kurangnya perilaku disiplin pada anak dilihat dari aspek sosial, emosional, moral, dan agama adalah guru pendidik dalam membiasakan anak untuk berperilaku disiplin, kurang mengajak anak untuk melihat sebab dan akibat dari perilaku yang tidak disiplin tersebut. Selain itu dalam pembelajaran saat pembagian tugas kepada anak sering kali bersifat individu. Proses pembelajaran dengan mendengarkan guru dan saat mengerjakan tugas-tugas jarang menggunakan media permainan. Hal ini bisa membuat anak bosan dan jenuh tinggal di kelas. Mensikapi situasi seperti ini perlu diupayakan
suatu yang baru untuk membantu mengembangkan karakter disiplin anak agar berkembang lebih optimal yaitu, melalui pembiasaan berperilaku disiplin kepada anak-anak. Nilai-nilai yang terkandung dalam berperilaku disiplin, disampaikan saat pembelajaran dengan menggunakan media permainan. Melalui permainan anak akan dilatih untuk bersikap disiplin dalam aspek sosial, emosional, moral, dan agama.
Wibowo (2013) mengatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Pasalnya anak-anak pada usia dini memahami dunia sekitarnya secara alami melalui bermain. Bagi anak, bermain bukan sekedar kesenangan, melainkan juga merupakan sarana belajar untuk mendapatkan pengetahuan, pembentukan watak dan sosialisasi. Anak yang sudah mulai masuk pada tahap pendidikan pra sekolah bentuk permainan yang dilakukan di rumah dan di sekolah berbeda. Biasanya di sekolah memiliki kesempatan bermain dalam kelompok yang lebih besar bila dibandingkan kelompok bermain di rumah. Materi permainannya jauh berbeda. Umumnya anak-anak tidak memiliki balok-balok dalam jumlah yang besar seperti di sekolah. Patmonodewo (2008) menjelaskan bahwa macam alat permainan yang ada di rumah juga berbeda dengan yang ada di sekolah, sementara anak-anak harus belajar berbagi alat permainan dengan teman. Anak perlu menyesuaikan diri dalam kelompok teman di sekolah. Saat melakukan kegiatan di sekolah, anak seringkali mengalami gangguan dari teman-teman mereka. Anak perlu belajar mengatasi gangguan dari temannya tersebut. Frank dan Theresa Caplan (dalam Moeslichatoen, 2004) menegaskan bahwa begitu besar nilai yang terkandung dalam suatu permainan yang dilakukan anak dalam kehidupannya, maka pemanfaatan kegiatan bermain dalam pelaksanaan program kegiatan anak TK merupakan syarat mutlak yang sama sekali tidak bisa ditinggalkan. Melalui
bermain seorang anak dapat memperoleh nilai yang berarti untuk meraih prestasi dalam belajar dan perkembangannya dalam aspek sosial, emosional, dan moral.
Demikian hasil dari penelitian tindakan melalui FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan oleh peneliti, dan berdasarkan penelitian tindakan ini peneliti menetapkan judul “Upaya Mengembangkan Karakter Disiplin Anak Usia Dini melalui Metode Pembiasaan dengan Media Permainan di TK B1 Tarakanita Bumijo Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015 ”. Penelitian ini dilakukan terhadap kelas yang berdasarkan observasi dan wawancara kurang memiliki karakter disiplin yaitu kelas B1. Melalui metode pembiasaan dengan menggunakan media permainan diharapkan dapat membantu mengembangkan karakter disiplin bagi anak.
B. Rumusan Masalah
Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah karakter disiplin anak usia dini di TK B1 Tarakanita Bumijo Yogyakarta tahun ajaran 2014/ 2015 dapat dikembangkan melalui metode pembiasaan dengan media permainan?
2. Seberapa tinggi perkembangan karakter disiplin anak usia dini di TK B1 Tarakanita Bumijo Yogyakarta tahun ajaran 2014/ 2015, melalui penerapan metode pembiasaan dengan media permainan pada setiap siklusnya?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan uraian rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan karakter disiplin anak usia dini melalui metode pembiasaan dengan media permainan di TK B1 Tarakanita Bumijo Yogyakarta Tahun Ajaran 2014/2015.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan wacana baru pemikiran bagi dunia pendidikan, khususnya bagi dunia pendidikan anak usia dini bagi pengasuh, pendidik dalam memberikan pendidikan karakter bagi anak usia dini.
b. Memberikan kontribusi pemikiran positif sebagai upaya membantu memecahkan permasalahan-permasalahan dalam dunia pendidikan karakter terutama bagi anak usia dini.
2. Manfaat Praktis a. Bagi anak
Menyadari dan mengenal perilaku yang dikehendaki dalam kehidupan sehari-hari.
Menerima perilaku yang dikehendaki dan menolak perilaku yang tidak dikehendaki, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Memilih perilaku yang mencerminkan nilai-nilai yang dikehendaki, misalnya disiplin, mandiri, sopan, ramah, hormat, dan menghargai orang lain. Menginternalisasi nilai-nilai yang baik sebagai bagian dari kepribadian yang menuntun perilaku sehari-hari.
b. Bagi pendidik
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pendidik untuk membuat program peningkatan metode pembiasaan bagi pengembangan karakter anak.
c. Bagi orang tua
Melalui penelitian ini orang tua mengetahui perkembangan yang dialami oleh anaknya. Melalui penelitian ini orang tua juga akan mengetahui kesulitan-kesulitan apa yang dialami anaknya, sehingga dengan demikian orang tua dapat membantunya.
E. Definisi Operasional
Definisi operasional menurut Suryabrata (dalam Purwanto, 2007) adalah definisi yang didasarkan pada sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati (diobservasi).
Berdasarkan pengertian tersebut maka definisi operasional pada penelitian ini adalah:
1. Karakter Disiplin
Disiplin merupakan kemampuan seorang anak untuk taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang diperoleh dari suatu proses belajar mengembangkan kebiasaan, sehingga anak menjadi lebih serasi, selaras dan seimbang dengan tuntuntan yang berlaku dimasyarakat, dan dapat menunjang terwujudnya kualitas hidup yang lebih bermakna.
2. Metode Pembiasaan
Pembiasaan merupakan proses pembentukan sikap dan perilaku melalui proses pembelajaran dan praktik yang berulang-ulang, sehingga sikap dan perilaku yang terus diulang dalam kehidupan sehari-hari dapat menetap dan otomatis.
3. Permainan
Permainan adalah suatu aktivitas yang dilakukan beberapa anak untuk mencari kesenangan dan aktivitas dalam permainan dapat membantu anak untuk mencapai perkembangan fisik, intelektual, sosial, moral dan emosional.
4. Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun. Anak usia tersebut biasanya mengikuti program pendidikan pra sekolah, seperti kelompok bermain, Taman Kanak- Kanak, atau penitipan anak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi penjelasan mengenai karakter disiplin, metode pembiasaan, metode pembiasaan pada pengembangan karakter, media permainan, karakteristik anak usia dini.
A. Dimensi Pengembangan Karakter Disiplin pada Anak 1. Pengertian Disiplin
Menumbuhkan dan mengembangkan karakter anak usia dini, disiplin memegang peranan yang sangat penting. Disiplin sendiri berasal dari kata yang sana dengan
“disciplin,” yakni seseorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seorang
pemimpin. Orang tua dan guru merupakan seorang pemimpin dan anak adalah murid yang belajar dari mereka cara hidup yang berguna dan bahagia (Hurlock:1992).
Disiplin adalah kemampuan seorang anak untuk menyeimbangkan antara pola pikir dan pola tindakan dikarenakan adanya situasi dan kondisi tertentu dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh lingkungan dimana individu berada. (Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanan dan Sekolah Dasar, Jakarta : 2007).
Menyeimbangan antara pola pikir dan tindakan karena adanya situasi tertentu adalah yang diharapkan. Lalu bagaimana kalau seorang anak yang sudah tahu bahwa waktu belajar sudah tiba dan dia masih asyik bermain. Tentu dalam hal ini keseimbangan antara pola pikir dan tindakan anak belum ada. Seorang anak yang memiliki mampu menyeimbangkan antara pola berpikir dan pola tindakan, maka sikap
yang ambil adalah berhenti bermain karena waktu belajar telah tiba. Disinilah ada keseimbangan antara pola pikir dan pola tindakan.
Wibowo (2013) menjelaskan disiplin adalah satu karakter utama yang harus diinternalisasikan pada anak sejak dini. Sayangnya, sebagian besar orang tua di negeri ini sering salah persepsi mengenai disiplin. Mereka menyamakan disiplin itu dengan hukuman, dan anak yang melanggar harus dihukum secara fisik.
Disiplin merupakan bagian penting pembentukan karakter. Proses untuk mencapai pembentukan pribadi yang berkarakter, keterlibatan orang tua sangat penting. Proses pendisplinan ini bukan tindakan hukuman terhadap anak, ketika anak tidak mengikuti apa yang dikehendaki oleh orang tua, tetapi justru pendisplinan yang senantiasa tercurahi oleh kasih sayang. Kasih sayang yang anak terima akan memberi rasa aman terhadap anak dalam belajar untuk berperilaku disiplin.
Penjelasan di atas dapat simpulkan, bahwa disiplin merupakan cara untuk mengajari anak untuk bertindak atau berperilaku baik. Perilaku anak sesuai dengan situasi dan kondisi di mana anak tersebut tinggal dan perilaku itu disetujui kelompok masyarakat pada umumnya. Perilaku disiplin itulah yang akan menjadikan anak menjadi pribadi yang memiliki karakter baik.
2. Tujuan Perilaku Disiplin
Hurlock (1992) menjelaskan tujuan seluruh disiplin ialah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga anak akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat anak itu diidentifikasi. Oleh karena, tidak ada pola budaya tunggal, tidak ada pula pendidikan anak yang menyeluruh sama untuk mempengaruhi cara menanamkan disiplin. Jadi metode spesifik yang digunakan dalam kelompok
budaya sangat beragam, walaupun mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengajarkan anak bagaimana berperilaku dengan cara yang sesuai dengan standar kelompok masyarakat di mana anak tinggal.
Gartrell (dalam Carlo dan Barbara 2008) menyatakan tujuan disiplin adalah membimbing perilaku anak agar mampu menjadi pribadi yang mandiri, terkendali perilaku mereka sendiri tidak peduli apakah ada orang dewasa didekatnya. Mulyasa (2012) menyatakan akan tujuan disiplin yaitu untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi kegiatan belajar dan bermain, sehingga mereka menaati segala peraturan yang ditetapkan.
Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanan dan Sekolah Dasar (2007) menyebutkan tujuan perilaku disiplin terdiri atas:
a. Secara umum: membentuk perilaku sedemikian hingga akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya atau tempat individu itu diidentifikasi.
Budaya dari setiap daerah itu berbeda-beda, jadi tidak ada pola budaya yang tunggal. Begitu juga pola pendidikan untuk menanamkan disiplin terhadap anak tidaklah sama. Pada daerah tertentu mengajarkan disiplin pada anak ketika mengucapkan salam pada orang dewasa dengan jabat tangan dan mencium tangan orang dewasa tersebut, tetapi di daerah lain cukup dengan berjabat tangan. Jadi metode yang digunakan di dalam kelompok budaya berbeda dan beragam. Walaupun semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu mengajarkan anak berperilaku dengan cara yang sesuai dengan tuntutan yang ada di masyarakat.
b. Jangka pendek: Membuat anak terlatih dan terkontrol perilakunya dengan membelajarkan pada anak tingkah laku yang pantas dan tidak pantas atau yang masih baru atau asing bagi mereka.
Mengenalkan nilai disiplin pada anak. Anak perlu dikenalkan apa yang pantas dan tidak pantas, serta batasan perilakunya supaya dapat diterima di lingkungannya. Misalnya, ketika bertamu di rumah orang lain, anak masuk rumah tidak duduk di atas meja, tetapi anak tahu bahwa ia akan duduk di kursi atau tempat yang memang disiapkan untuk duduk.
c. Jangka panjang: melatih pengendalian diri sendiri (self control and
self direction) yaitu dalam hal mana anak-anak dapat mengendalikan diri sendiri
tanpa terpengaruh dan pengendalian dari luar. Misalnya, anak masih asyik- asyiknya bermain dengan teman-temannya, tetapi karena saatnya belajar tiba, maka anak berani untuk mengambil keputusan untuk tidak bermain terus.
Demikian anak tidak terpengaruh oleh situasi yang ada diluar dirinya, namun memiliki pengendalian diri.
Jadi, tujuan dari disiplin yaitu untuk membentuk perilaku sedemikian rupa agar anak mampu menjadi pribadi yang mandiri, terkendali atau terkontrol perilakunya, mampu menaati segala peraturan yang ada di lingkungan sekitarnya, serta anak dapat menikmati suasana yang aman, nyaman, dan menyanangkan ketika kegiatan belajar dan bermain.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Cara Disiplin
Suksesnya pembentukan disiplin pada anak oleh orang tua atau guru ditentukan oleh beberapa faktor. Hurlock (1992) menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi cara disiplin anak, diantaranya:
a. Kesamaan dengan disiplin yang digunakan orang tua.
Teknik yang serupa yang digunakan antara guru dan orang tua akan berhasil dalam mendidik anak. Contoh, guru mendisiplin anak untuk makan makanan yang sehat seperti makan dengan sayur. Ketika di rumah anak pun disiplinkan oleh orang tua untuk makan makanan yang sehat seperti makan dengan sayur.
Disanalah ada kesamaan antara guru dan orang tua cara mendidik anak untuk menjadi disiplin.
b. Penyesuaian dengan cara yang disetujui kelompok
Lingkungan di mana anak tinggal akan mempengaruhi disiplin. Anak dengan usia dini akan mudah terpengaruhi oleh perilaku-perilaku orang lain yang ada disekitarnya. Anak akan beranggapan bahwa perilaku yang ditunjukan oleh orang lain itu sebagai cara yang terbaik daripada apa yang sudah menjadi pendiriannya mengenai apa yang baik. Contoh, anak tahu bahwa menolong teman yang jatuh itu baik, tetapi karena teman-temannya lari meninggalkan temannya yang jatuh, anak tersebut ikut-ikutan lari, karena takut kalau tidak ikut lari ia nanti tidak akan diajak bermain lagi.
c. Usia orang tua atau guru
Orang tua dan guru muda cenderung lebih demokrasi dan permisif dibandingkan dengan mereka yang lebih tua. Mereka cenderung mengurangi kendali tatkala anak menjelang masa remaja.
d. Pendidikan untuk menjadi orang tua dan guru
Orang tua yang telah mendapat kursus dalam mengasuh anak dan kebutuhannya lebih menggunakan teknik demokratis dibandingkan orang tua yang tidak mendapatkan pelatihan demikian.
e. Jenis kelamin
Wanita pada umumnya lebih mengerti anak dan kebuthannya dibandingkan dengan pria, dan mereka cenderung kurang otonomi. Hal ini berlaku untuk orang tua dan guru maupun untuk para pengasuh lainnya.
f. Status sosial ekonomi
Orang tua dan guru yang berasal dari kelas menengah dan rendah cenderung lebih keras dan memaksa, dan kurang toleran. Hal ini terjadi karena pendidikan dan status sosial ekonomi yang rendah, sehingga untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan pokok keluarga, seperti sandang, pangan, papan, serta pemenuhan pendidikan untuk pembentukan kedisiplinan tidak bisa diupayakan secara sistematis, terencana, dan terarah dibandingakan dengan orang yang memiliki pendidikan dan status sosial ekonomi menengah ke atas.
g. Konsep mengenai peran orang tua
Orang tua yang mempertahankan konsep tradisional mengenai peran orang tua, cenderung otoriter dibandingkan orang tua yang menganut konsep lebih modern.
Contoh, konsep mendisiplin anak untuk bangun pagi kemudian mandi. Ketika anak tidak lekas bangun dan mandi maka orang tua siap memukulnya dengan ikat pinggang. Orang tua yang seperti ini memiliki konsep bahwa anak hanya bisa disiplin kalau sudah kena cambukan ikat pinggang.
h. Usia anak
Disiplin otoriter jauh lebih umum digunakan untuk anak kecil daripada untuk anak yang lebih besar. Kebanyakan orang tua dan guru merasa bahwa anak kecil belum mengerti penjelasan, sehingga memusatkan perhatian mereka pada pengendalian otoriter.
i. Situasi
Ketakutan dan kecemasan biasanya tidak diganjar hukuman, tetapi sikap menantang, agresi kemungkinan lebih mendorong pengendalian yang otoriter.
Contoh, anak menaati peraturan bahwa dengan ia harus mengerjakan tugas dari sekolah di rumah, karena kalau tidak mengerjakan tugas maka ia akan mendapat hukuman.
4. Perlunya Disiplin Bagi Anak
Mengingat pentingnya pendidikan yang harus dimulai dari usia dini, terkait dengan membangun karakter disiplin, Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanan dan
Sekolah Dasar (2007) menjabarkan mengenai perlunya disiplin bagi anak usia dini, diantaranya:
a. Mengontrol tingkah laku anak (mengatur diri sendiri).
Berbagai permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan ini banyak diakibatkan karena ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol tingkah lakunya. Alasan kedisplinan diterapkan pada anak sangat tepat, karena untuk mencegah terjadinya permasalahan-permasalah seperti misalnya terjadinya tawuran antar pelajar, terjadinya perampasan hak (mencuri, merampok, korupsi), penyalahgunaan obat terlarang, di mana semua ini merupakan contoh perilaku yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengontrol tingkah laku diri.
Maka perlulah dicermati dari sejak dini perilaku-perilaku anak yang mengarah pada perilaku tawuran seperti berkelahi dengan temannya karena berebut mainan, perilaku anak yang pinjam alat tulis teman tanpa memberi tahu, di mana bila hal ini dibiarkan akan mengarah pada perilaku mencuri. Mensikapi persoalan-persoalan seperti ini maka bimbingan dari seorang guru pembimbing memiliki peran yang sangat penting. Peran guru pembimbing yaitu membantu anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keterampilan dalam mengontrol tingkah laku dirinya.
b. Menjaga anak dari bahaya baik bagi dirinya ataupun orang lain.
Disiplin yang ditanamkan pada diri anak, dimaksudkan supaya anak mampu menjaga dirinya, serta ikut menjaga keselamatan orang lain, dengan cara menaati peraturan yang berlaku dilingkungannya. Contoh, anak tidak diperbolehkan main korek api, karena jika korek api dinyalakan akan berbahaya bagi dirinya dan lingkungannya, misalnya bisa terjadi kebakaran. Agar sampai
pada kesadaran akan bahaya yang ditimbulkan oleh nyala korek api, anak perlu mendapatkan penjelasan dengan kata-kata yang sederhana, atau orang tua memperlihatkan gambar kebakaran akibat dari nyala korek api.
c. Menghindarkan diri anak dari kesalahpahaman.
Pemahaman mengenai perilaku disiplin harus disampaikan kepada anak, hingga anak benar-benar mengerti apa akibatnya jika ia tidak memiliki perilaku disiplin. Penjelasan ini harus disampaikan dengan bahasa yang sederhana yang bisa ditangkap anak, serta disampaikan secara terus menerus. Selain itu dalam penyampaian mengenai perilaku disiplin, anak harus dibawa pada pemahaman bahwa disiplin yang diterapkan bukan suatu tindakan yang menghukum, dengan demikian anak tidak akan salah paham dengan tindakan disiplin yang berlaku dilingkungannya.
Penulis mengambil contoh, anak terlambat masuk kelas, dan ketika terlambat teman-temannya sedang berdoa. Peraturan yang berlaku ialah, anak belum boleh masuk kelas sampai teman-temannya selesai berdoa, dan ia diharapkan ikut berdoa diluar kelas. Hal ini dimaksudkan bukan menghukum anak yang terlambat, tetapi hendak mendidikan anak untuk tepat waktu, menghormati, menghargai, dan tidak menganggu teman yang sedang berdoa. Maksud dan tujuan ini disampaikan pada anak sehingga anak tidak salah paham dengan apa yang dilakukan oleh guru kepadanya.
d. Membuat anak disenangi karena dapat berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat di mana anak berada.
Perilaku disiplin bukan hanya sebatas pada disiplin dalam mentaati waktu jam masuk sekolah, tetapi disiplin yang mencakup semua tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh anak. Entah itu perilaku disiplin dari aspek sosial, emosional, moral, ataupun agama. Bila dalam kehidupan sehari-hari anak sudah mencoba menerapkan perilaku disiplin, hal tersebut akan membuat anak disenangi oleh masyarakat di mana ia tinggal.
Penulis mengambil contoh, ketika anak bermain dengan teman- temannya, ia tidak merebut mainan teman, ia tidak memukul, tetapi justru mengajak temannya untuk bermain bersama. Melihat temanya jatuh langsung ia menolong dan membantunya untuk lekas bangun, dan lain sebagainya. Pada intinya perilaku yang dilakukan oleh anak menunjukan perilaku disiplin.
e. Menyadarkan anak-anak bahwa ia mampu menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri dan diharuskan melakukan apa yang kita tentukan.
Melalui kesadaran yang dimiliki bahwa ia mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah sendiri. Anak sudah dapat memilah mana yang baik dan harus dilakukan serta mana yang tidak baik dan tidak perlu dilakukan
Penulis mengambil contoh, ketika pembelajaran anak-anak diajak mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka. Secara personal anak menghadapi tantangan untuk menyelasaikan masalah yang muncul saat mengerjakan tugas dan ia harus melakukan apa yang menjadi perintah dari
guru. Agar anak mampu menghadapi tantangan untuk meyelesaikan masalah, maka anak dibiasakan untuk disiplin dalam mendengarkan guru, tidak jalan-jalan di kelas. Melalui pembiasaan ini harapannya akan membuat anak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi ketika harus mengerjakan tugas.
f. Melalui disiplin anak belajar bertingkah laku yang menimbulkan pujian, ia akan melihat ini sebagai indikasi dari cinta dan penerimaan.
Disiplin yang ditanamkan pada anak seperti misalnya anak berusaha taat dengan peratuan yang dibuat oleh orang tuanya. Ketaatan yang dilakukan oleh anak akan menimbulkan pujian, dan pujian ini akan dirasakan sebagai bentuk cinta dan penerimaan dari orang tuanya.
Penjelasan ini mau menekankan bahwa perhatian dan kasih sayang dari orang tua maupun orang-orang disekitar di mana anak itu tinggal akan sangat membantu anak dalam mengkonkritkan kedisplinan, dan sebagai contoh, anak bangun tidur tidak menangis, dan anak melipat selimutnya sekalipun tidak rapi.
Kemudian yang dilakukan oleh orang tua, yaitu memeluk dan mencium. Pelukan dan ciuman dirasa anak sebagai cinta dan penerimaan karena ia sudah bertingkah laku disiplin
g. Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani atau suara-suara halus di dalam diri yang membantunya dalam membuat keputusan dan mengendalikan tingkah laku.
Disiplin menolong orang lain yang secara berulang-ulang diajarkan kepada anak, akan menjadikan hati peka akan keadaan disekitarnya, dan tanpa disuruh anak sudah bisa memutuskan apa yang harus dilakukan. Anak yang biasa melakukan disiplin menolong orang lain, jika tidak melakukan, maka hatinya akan merasa bersalah. Keputusan yang ia ambil dalam melakukan suatu tindakan berdasarkan apa kata hati. “Hati” mengatakan menolong orang lain, maka anak melakukan, jika tidak melakukan hatinya akan terusik dengan rasa tidak nyaman.
Penulis mengambil contoh, ada anak saat bermain dan berlari-lari melihat bahwa tas temannya jatuh dari rak tempat meletakan tas. Spontan anak ini berhenti, kemudian berjalan menuju di mana tas itu jatuh, lalu mengambilnya dan meletakkan tas tersebut ditempat yang biasanya digunakan untuk meletakkan tasnya anak-anak.
Hurlock (1992) mengungkapkan keyakinan, bahwa anak-anak memerlukan disiplin dari dulu sudah ada, tetapi terdapat perubahan dalam sikap mengenai mengapa mereka memerlukannya. Pada masa lampau, disiplin dianggap perlu untuk menjamin bahwa anak akan menganut standar yang ditetapkan masyarakat dan yang harus dipatuhi anak agar ia tidak ditolak di masyarakat. Namun, sekarang telah diterima bahwa anak membutuhkan disiplin, bila mereka ingin bahagia, dan menjadi orang yang baik penyesuaiannya. Jadi, melalui disiplin anak-anak dapat belajar berperilaku dengan cara yang diterima masyakat, dan sebagai hasilnya diterima oleh anggota kelompok masyarakat di mana ia tinggal.
Ditegaskan lagi oleh Hurlock (1992) bahwa disiplin perlu untuk perkembangan anak, karena ia memenuhi beberapa kebutuhan tertentu. Beberapa kebutuhan yang diisi oleh disiplin adalah:
a. Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
b. Membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah.
c. Anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai kasih sayang dan penerimaan. Hal ini ensesial bagi penyesuaian yang berhasil dan kebahagiaan.
d. Disipiln yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya.
e. Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani. Hati nurani sebagai pembimbing dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku.
5. Unsur-Unsur Disiplin
Bila disiplin diharapkan mampu mendidik untuk berperilaku sesuai dengn standar yang ditetapkan kelompok masyarakat di mana anak tinggal, maka ia harus mempunyai unsur-unsur disiplin. Seperti dijelaskan oleh Hurlock (1992) bahwa ada empat unsur disiplin, yaitu peraturan, hukuman, konsistensi, dan penghargaan.
a. Peraturan
Unsur pertama disiplin adalah peraturan. Peraturan merupakan pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola itu mungkin ditetapkan oleh orang tua, guru, atau teman bermain. Tujuannya ialah untuk membekali anak dengan pedoman
perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu. Hal peraturan di sekolah misalnya, peraturan mengatakan pada anak apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan sewaktu di kelas, koridor sekolah, atau lapangan bermain sekolah.
Demikian juga, peraturan di rumah mengajarkan anak apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan di rumah atau dalam hubungan dengan anggota keluarga. Misalnya, tidak boleh mengambil milik saudara, tidak boleh membantah nasehat orang tua dan tidak boleh lalai merapikan kembali mainan yang dipakai untuk bermain.
Peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok masyarakat. Misalnya, anak belajar dari peraturan tentang member dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa menyerahkan tugas yang dibuatnya sendiri merupakan satu- satunya metode yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasinya.
Peraturan juga membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila merupakan peraturan keluarga bahwa anak tidak boleh mengambil mainan milik saudaranya tanpa sepengetahuan atau seijin dari saudaranya tersebut, anak segera belajar bahwa hal ini dianggap perilaku yang tidak diterima karena mereka dimarahi bila melakukan tindakan terlarang ini.
Agar peraturan dapat berfungsi dengan baik, maka peraturan itu harus dimengerti, diingat dan diterima oleh anak. Bila peraturan diberikan dalam kata- kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian dimengerti, peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku dan gagal mengekang perilaku yang tidak diijinkan.
b. Hukuman
Unsur kedua disiplin ialah hukuman. Hukuman untuk perbuatan yang salah hanya dapat dibenarkan bila hukuman mempunyai nilai pendidikan, dan pada waktu anak memahami arti kata dengan cukup baik untuk mengerti peraturan, penjelasan verbal harus menggantikan hukuman.
Hukuman mempunyai fungsi menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, anak akan urung melakukan tindakan tersebut. Selain itu hukuman mempunyai fungsi mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan yang lain salah dangan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolehkan.
Hukuman juga mempunyai fungsi memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
Bila anak mampu mempertimbangkan tindakan alternatif dan akibat masing-masing alternatif, mereka harus belajar memutuskan sendiri apakah suatu tindakan yang salah cukup menarik untuk dilakukan. Jika mereka memutuskan tidak, maka mereka akan mempunyai motivasi untuk menghindari tindakan tersebut.
Hukuman mempunyai tujuan untuk mendidik, menghalangi,dan memberi motivasi. Misalnya, apakah hukuman itu memberitahu anak mengapa suatu tindakan itu salah atau memberitahu mereka bahwa mereka adalah anak-anak yang nakal. Apabila seperti sering terjadi pada hukuman badan, hukuman ini
mengisyarakatkan bahwa orang dewasa mempunyai hak memukul anak kecil, hukuman itu akhirnya tidak mempunyai fungsi mendidik, yang seharusnya memberitahukan pada anak mengapa tindakan tertentu itu salah dan karenannya tidak boleh diulang. Sebaliknya, mengajar anak-anak beranggapan bahwa orang dewasa mempunyai hak memukul anak yang lebih kecil, maka keyakinan ini akan menyebabkan munculnya anak-anak yang suka menteror anak yang lebih lemah.
Jika hukuman yang digunakan membuat anak suka melawan dan bersikap bermusuhan, motivasi untuk mencoba bersikap lebih baik akan hilang. Sebaliknya, anak akan berusaha membalas, walaupun mungkin dengan memproyeksi rasa marah dan sikap permusuhan pada korban yang tidak bersalah alih-alih pada orang yang menghukumnya. Karena pengaruh psikologis hukuman badan potensial membahayakan, kini disadari hukuman badan sebaiknya tidak digunakan.
c. Penghargaan
Unsur ketiga disiplin ialah penggunaan penghargai. Istilah penghargaan berarti tiap bentuk penghargaan untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau tepukan di punggung.
Penghargaan mempunyai peranan penting dalam mengajar anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui masyarakat. Penghargaan mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, anak merasa bahwa hal itu baik.
Penghargaan mengisyaratkan pada anak bahwa perilakunya baik. Penghargaan berfungsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara social.
Anak bereaksi dengan positif terdapat persetujuan yang dinyatakan dengan
penghargaan. Penghargaan juga mempunyai fungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara social, dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku.
Penghargaan bertindakan sebagai sumber motivasi yang kuat bagi anak untuk melanjutkan usahanya untuk berperilaku sesuai dengan harapan. Sepanjang masa kanak-kanak, penghargaan mempunyai nilai pendidikan yang penting.
Imbalan mengatakan pada mereka bahwa perilaku mereka sesuai dengan harapan social dan motivasi mereka untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara social ini. Jadi penghargaan merupakan agen pendorong untuk perilaku yang baik.
d. Konsistensi
Unsur keempat disiplin ialah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Ia tidak sama dengan ketetapan, yang berarti tidak adanya perubahan. Sebaliknya, artinya ialah suatu kecenderungan menuju kesamaan. Contoh, bila anak pada suatu hari dihukum untuk suatu tindakan dan pada lain hari tidak, mereka tidak akan mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Bila suatu tindakan dihargai hari ini dan tidak dihargai lain kali, nilai pendorong dari pengahrgaan akan hilang.
Konsistensi dalam disiplin mempunyai peran yang sangat penting.
Konsistensi mempunyai nilai mendidik. Bila peraturannya konsisten, maka proses belajar akan terpacu. Hal ini disebabkan karena pendorongnya. Sebagai contoh, jauh lebih mudah anak akan belajar peraturan “Kamu tidak boleh mengambil milik seseorang tanpa meminta ijinnya terlebih dulu,” daripada bila anak diijinkan mengambil mainan saudaranya tanpa ijinnya dan kemudian mendapatkan hukuman.
Konsistensi juga mempunyai nilai motivasi yang kuat. Anak akan menyadari bahwa penghargaan selalu mengikuti perilaku yang disetujui dan hukuman selalu mengikuti perilaku yang dilarang, maka anak akan mempunyai keinginan yang lebih besar untuk menghindari tindakan yang dilarang dan melakukan tindakan yang disetujui. Selain itu konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa. Anak kecil pun bisa kurang menghargai orang dewasa, jika orang dewasa tidak konsisten dalam memberikan suatu peraturan dalam tindakan.
Konsistensi memacu proses belajar dan membantu anak belajar peraturan dan menggabungkan peraturan tersebut kedalam aspek moral. Hasilnya, anak-anak yang terus diberi pendidikan moral yang konsisten cenderung secara keseluruhan menjadi lebih matang secara moral dibandingkan dengan teman sebaya mereka yang mendapat pendidikan moral yang tidak konsisten.
Pengetahuan yang diberikan di rumah maupun di sekolah yang konsisten, akan menciptakan dalam diri anak rasa hormat terhadap orang tua dan guru. Lebih penting lagi, anak yang mendapat disiplin yang konsisten mempunyai motivasi yang lebih kuat untuk berperilaku menurut standar yang disetujui secara social daripada mereka yang disiplin dengan tidak konsisten.
Peraturan, hukuman, penghargaan, dan konsistensi menjadi empat unsur pokok, bila disiplin diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan kelompok masyarakat di mana anak tinggal. Unsur-unsur disiplin ini sangat penting diketahui oleh orang tua atau pun guru, supaya mereka tidak salah dalam
membimbing dan mendidik anak untuk menjadi pribadi yang memiliki karakter disiplin.
6. Cara Mendisplinkan Anak
Kekerasan kepada anak di Indonesia kerap terjadi, baik kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, maupun kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak. Para pelaku kekerasan pada anak seringkali berdalih bahwa yang mereka lakukan adalah cara untuk mendisiplinkan anak. Pelaku kekerasan berpikir bahwa jika anak tidak melaksanakan aturan yang mereka buat, maka anak wajib diberi sanksi atau hukuman yang salah satu bentuknya adalah hukuman fisik.
Hurlock (1992) menyebutkan bahwa ada tiga cara menanamkan atau mendisplinkan anak, yaitu dengan cara mendisiplin otoriter, permisif, dan demokratis.
Disiplin otoriter seperti termaktub dalam namanya, yaitu melatih anak berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat merupakan tanggung jawab mereka yang berwewenang yaitu orang tua, guru dan orang lain yang bertindak sebagai pengasuh.
Contohnya di lingkungan sekolah adalah guru yang memberi peraturan keras di dalam kelas, apabila siswa tidak mengerjakan pekerjaan rumah maka harus berdiri di depan kelas selama jam pelajaran berlangsung.
Kemudian munculah mendisplinkan anak dengan disiplin permisif, yaitu sebagai disiplin yang kendor. Contohnya di sekolah adalah guru yang tidak memberikan hukuman apapun kepada siswanya yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah, jadi ia membiarkan siswanya yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah begitu saja tanpa memberinya pengarahan bahwa tindakan yang dilakukannya tersebut merupakan hal yang tidak baik. Nampak bahwa baik cara otoriter maupun cara permisif tidak mencapai
tujuan untuk membentuk orang menjadi lebih baik, dan rupanya menurut Hurlock (1992) cara disiplin demokratis dirasa cara yang paling baik, karena cara disiplin demokratis tidak mengandung kelemahan dan ciri-ciri yang buruk dalam mendisiplinkan anak.
Seperti jelaskan oleh Hurlock (1992) bahwa metode atau cara demokratis menggunakan penjelasan, disikusi, dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan edukatif dari disiplin daripada aspek hukuman, sebagai contoh, bila ada peraturan bahwa anak tidak boleh menyentuh kompor di dapur, anak diberitahu bahwa perbuatan itu akan menyakitinya, atau diperlihatkan dengan mendekatkan tangannya pada kompor, arti kata
“sakit” mau mengatakan kepada anak mengapa ia tidak boleh menyentuh kompor.
Jadi, cara disiplin demoktratis ini mempunyai tujuan mengajar anak mengembangkan kendali atas perilaku mereka sendiri, sehingga mereka akan melalukan apa yang benar, meskipun tidak ada penjaga yang mengacam mereka dengan hukuman.
Hukuman yang dimaksud disini misalnya diberi teguran. Teguran merupakan suatu peringatan terhadap perbuatan yang dianggap salah yang tidak perlu dilakukan dengan marah.
Mendisiplinkan anak usia dini sangat membutuhkan peran dari orang dewasa, terlebih orang tua, karena orang tua menjadi orang yang terdekat bagi itu sendiri. Allen (dalam Wibowo 2010) menyatakan orang tua dalam memilih pendekatan disiplin dengan memberi sanksi yang keras, karena melihat pada masa kecilnya, jika masa kecilnya orang tua menggunakan pendekatan memukul maka pendekatan tersebut akan diberlakukan secara turun temurun. Lalu bagaimana sebaiknya cara mendisiplinkan
anak yang baik dan manusiawi. Wibowo (2010) menyebutkan ada beberapa seni mendisiplinkan anak diantarnya:
a. Berikan aturan pada anak, tetapi imbangi dengan curahan kasih sayang yang lebih besar. Kasih sayang menjadi penting sebagai imbal balik dari aturan yang sudah diterapkan oleh orang tua. Kasih sayang dan perhatian yang diberikan orang tua akan membuat anak merasa tidak sendiri. Orang tua dalam memberikan aturan hendaknya juga menyesuaikan perilaku mereka kepada anak.
Misalnya, orang tua tidak boleh memperlakukan anak umur lima tahun sama dengan anak yang baru umur dua tahun, karena anak mempunyai kebutuhan- kebutuhan yang berbeda.
b. Disiplin sebagai bagian dari pengajaran dan pembelajaran. Melalui hal ini orang tua menggunakan kebijiksanaan untuk mengajarkan nilai-nilai yang memperlihatan betapa anak bisa menentukan pilihannya sendiri dengan baik.
Disiplin sebagai pengajaran, memungkinkan orang dewasa untuk memandang sifat anak yang kurang menyenangkan sebagai suatu kesempatan untuk mengadakan perubahanan. Orang dewasa bisa mengembangkan sikap lebih positif terhadap anak, menghilangkan kata-kata hinaan terhadap perilaku kurang menyenangkan yang dilakukan anak, dan mendorong anak untuk lebih bisa bekerja sama untuk memilih dan memutuskan perilaku yang tepat untuk dilakukan.
c. Tanamkan persepsi bahwa disiplin itu sebagai sesuatu yang penting. Orang tua maupun guru hendaknya bisa menyakinkan anak bahwa disiplin itu merupakan bagian yang untuk pembentukan karakter. Disiplin sangat diperlukan oleh anak
karena anak akan mengerti konsep mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidk boleh dilakukan. Anak juga mempunyai penyesuaian pribadi dan sosial yang baik serta pengendalian diri yang baik.
d. Pengenalan secara tegas mana yang benar dan mana yang salah. Membangun karakter disiplin, anak perlu dikenalkan pada apa yang salah dan apa yang benar serta batasan terhadap perilakunya supaya diterima di kelompok masyarakat.
Anak harus diajarkan batasan pedoman yang tegas agar mengerti seberapa jauh ia harus berperilaku dan kapan harus berhenti. Anak juga harus diajarkan bagaimana bertingkah laku dan bersikap terhadap tata cara yang ada.
e. Pentingnya motivasi. Orang tua atau guru perlu memberikan motivasi agar anak mempertahankan perilaku yang baik, misalnya dengan member pujian kepada anak yang sudah berperilaku baik. Sementara yang kurang baik tidak mendapatkan pujian, dengan demikan anak akan merasa bahwa perilaku yang buruk itu tidak diinginkan orang-orang yang ada disekitarnya atau oleh kelompok masyarakat.
f. Ajarkan disiplin sejak dini. Usia dini merupakan masa keemasan sekaligus masa kristis dalam tahapan kehidupan manusia. Menurut Gunarso (dalam Wibowo 2010) mengajarkan disiplin sejak dini dimaksudkan agar lebih mengakar pada anak sehingga menjadi suatu kebiasaan.
Membangun karakter disiplin anak itu membutuhkan seni. Ketika orang dewasa berusaha membangun karakter disiplin ini dengan memberikan suatu aturan, mengajarkan disiplin sebagai bagian dari pengajaran dan pembelajaran, menanamkan persepsi bahwa disiplin itu sebagai sesuatu yang penting,
mengenalkan secara tegas mana yang benar dan mana yang salah, kemudian beri motivasi, hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa seluruh dari tindakan itu harus disertai dengan kasih sayang. Kasih sayang yang diterima anak dalam prosesnya belajar untuk disiplin akan menjadikan anak merasa tidak sendiri.
B. Konsep Dasar Metode Pembiasaan 1. Pengertian Metode Pembiasaan
a. Metode.
Metode berasal dari kata “Method” yang berarti cara, menurut Kamus Ilmiah Popular Internasional, “Method” atau metode berarti cara yang disusun secara teratur, mapan, sistematis sebagai landasan untuk suatu kegiatan tertentu atau pelaksanaan sesuatu. Metode juga diartikan sebagai cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai suatu maksud. Moeslichatoen (2004) menegaskan metode merupakan dari strategi kegiatan. Metode dipilih berdasarkan kegiatan yang sudah dipilih dan ditetapkan. Metode merupakan cara yang dalam bekerjanya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan.
Berdasarkan pengertian diatas disimpulkan bahwa metode merupakan cara atau strategi yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan atau pekerjaan supaya apa yang diinginkan tercapai sesuai dengan yang diharapkan.
b. Pembiasaan
Direktorat Pembinaan Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (2007) menuliskan mengenai pembelajaran pembiasaan. Pembiasaan adalah sesuatu perbuatan atau keterampilan tertentu secara terus menerus dan konsisten untuk