• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Permainan

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 85-0)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

E. Media Permainan

1. Pengertian Permainan

Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan kegiatan bimbingan atau pembelajaran pada anak-anak Taman Kanak-Kanak. Melalui kegiatan bermain anak diajak untuk bereksplorasi, menemukan makna dari permainan yang dilakukan, serta memanfaatkan objek-objek yang dekat dengannya dengan situasi yang menyenangkan, sehingga anak tidak merasa bosan dalam mengikuti bimbingan atau pembelajaran.

Hurlock (dalam suyadi 2010) mendefinisikan bermain atau permainan sebagai aktivitas-aktivitas untuk memperoleh kesenangan. James Sully, sebagaimana dikutip oleh Mayke S. Tedjasaputra ( dalam Suyadi 2010) bermain adalah aktivitas yang sangat menyenangkan dengan ditandai gelak tawa oleh anak yang melakukannya. Oleh karena itu, suasana hati dalam diri anak yang sedang melakukan aktivitas menjadi penentu apakah anak tersebut sedang bermain atau tidak. Menurut kamus bahasa Indonesia bermain adalah berbuat sesuatu untuk menyenangkan hati ( dengan menggunakan alat-alat tertentu atau tidak). Dwi Yulianti (2010) mendefinisikan bermain sebagai sarana bagi anak untuk berlatih, mengekploitasi, dan merekayasa yang dilakukan secara berulang-ulang dengan menggunakan atau tanpa menggunakan alat untuk memperoleh informasi, kesenangan dan mengembangkan daya imajinasinya.

Permainan menurut Latuheru (1988) adalah suatu bentuk kegiatan dimana peserta yang terlibat didalamnya atau pemain-pemaninya bertindak sesuai dengan aruran-atruan yang telah ditetapkan, untuk mencapai suatu tujuan. Kadang-kadang

orang keliru dalam menafsirkan bahwa permainan itu hanya semata-mata untuk mendapatkan kesenangan belaka.

Penjelasan mengenai pengertian permainan atau bermain diatas mempunyai isi bahwa bermain selalu mengandung unsur menyenangkan hati bagi anak yang lakukan aktivitas bermain. Hati yang senang ditandai dengan tawa, tawa muncul karena adanya aktivitas bermain. Begitu juga suasana hati dalam diri anak akan menjadi penentu apakah anak sedang bermain atau tidak.

2. Kreteria dalam Bermain

Permainan kerapkali diartikan oleh sebagian orang sebagai kegiatan selingan bagi berlangsungnya suatu acara.. Apabila ditilik lebih jauh lagi kebermanfaatan dari permainan sangat banyak, apalagi itu terjadi dikalangan anak-anak dan dalam ruang lingkup bimbingan dan pembelajaran di sekolah. Selain itu sebagian besar orang juga mengerti apa yang dimaksud dengan bermain, namun mereka tidak dapat memberi batasan apa yang dimaksud dengan bermain. Batasan arti bermain dipisahkan oleh aspek-aspek tingkah laku yang berbeda dalam bermain. Dworetzky (dalam Moeslichatoen 2004) mengemukakan sedikitnya ada lima kreteria dalam bermain.

a. Motivasi intrinsik.

Tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak, karena itu dilakukan demi kegiatan itu sendiri dan bukan karena adanya tuntutan masyarakat atau fungsi-fungsi tubuh.

b. Pengaruh positif.

Tingkah laku itu menyenangkan atau mengembirakan untuk dilakukan.

c. Bukan dikerjakan sambil lalu.

Tingkah laku itu bukan dilakukan sambil lalu, karena itu tidak akan mengikuti pola atau aturan yang sebenarnya, melainkan lebih bersifat pura-pura.

d. Cara atau tujuan

Cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya. Anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan

e. Kelenturan

Bermain itu perilaku yang lentur. Kelenturan ditunjukkan baik dalam bentuk maupun dalam hubungan serta berlaku dalam setiap situasi

Demikian kelima kreteria dari bermain, maka apa pun batasan yang diberikan tentang pengertian bermain, bermain membawa harapan tentang dunia yang memberikan kegembiraan dan memungkinkan anak berkhayal serta berpetualang. Melalui bermain pulalah anak dapat belajar mengendalikan diri sendiri, memahami kehidupan, dan memahami dunianya.

3. Fungsi Permainan atau Bermain

Hetherington dan Parke (dalam Moeslichatoen 2004) bermain berfungsi untuk mempermudah perkembangan kognitif anak. Melalui bermain akan memungkinkan anak meneliti lingkungan, mempelajari segala sesuatu, dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Bermain juga meningkatkan perkembangan sosial anak. Sejalan dengan Hetherington dan Parke di atas, Dworetzky (dalam Moeslichatoen 2004) juga mengemukakan bahwa fungsi bermain dan interaksi dalam permainan mempunyai peran penting bagi perkembangan kognitif dan sosial anak.

Fungsi lain juga untuk perkembangan bahasa, disiplin, perkembangan moral, kreativitas, dan perkembangan fisik anak.

Terdapat 8 fungsi bermain bagi anak menurut Hartley, Frank dan Goldenson (dalam Moeslichatoen 2004), yaitu:

a. Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Sebagai contoh ialah, meniru ibu memasak di dapur, dokter mengobati orang sakit, dan sebaginya.

b. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar di kelas, sopir mengendarai bus, petani menggarap sawah, dan sebagainya.

c. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga dan pengalaman hidup yang nyata. Sebagai contoh ialah, ibu memandikan adik, ayah membaca koran, kakak mengerjakan tugas sekolah, dan sebagainya.

d. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air, dan sebagainya.

e. Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, pelanggar lalu lintas, dan lain-lain.

f. Untuk kilas balik peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, naik angkutan kota, dan sebagainya.

g. Mencerminkan pertumbuhan, misalnya semakin bertambah tinggi tubuhnya, semakin gemuk badannya, semakin dapat berlari cepat.

h. Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan, menyiapkan jamuan makan, pesta ulang tahun.

Penjelasan menggambarkan bahwa bermain mempunyai banyak fungsi yang dapat meningkatkan perkembangan kognitif, sosial, bahasa, perkembangan moral, kreativitas, dan perkembangan fisik anak. Selain itu bermain mempunyai fungsi mengembangkan disiplin anak. Disiplin anak dibantu untuk tumbuh dan berkembang melalui peraturan-peraturan yang ada dalam suatu permain dan anak harus mentaati peruturan-perturan itu.

4. Bermain sambil belajar

Bermain sambil belajar menurut Dwi Yulianti (2010) adalah kegiatan yang dilakukan dengan atau tanpa menggunakan alat yang menghasilkan pengertian atau memberikan informasi, memberi kesenangan, maupun mengembangkan imajinasi anak dan menyebabkan terjadinya perubahan perilaku yang terjadi akibat interaksi antara individu dengan lingkungannya. Melalui bermain anak-anak dapat mengembangkan aspek-aspek perkembangan yang ada dalam dirinya, diantaranya:

a. Aspek Perkembangan Motorik

Aktivitas bermain memungkinkan anak bergerak sehingga mampu mengembangkan kemampuan motoriknya. Melalui bermain anak belajar melompat, memanjat, berayun, melangkah, berlari dan sebagainya.

b. Aspek Perkembangan kognitif

Piaget (dalam Dwi Yulianti 2010), menegaskan, bahwa anak akan memahami pengetahuan melalui interaksi dengan objek yang ada disekitarnya. Pada saat bermain anak akan memiliki kesempatan untuk mengetahui sifat-sifat objek dengan cara mengamati, menyentuh, dan mendengarkan.

c. Aspek Perkembangan bahasa

Pada saat bermain anak dilatih untuk mengungkapkan jawaban atau menceritakan pengalamannya selama bermain, yang artinya berlatih menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan mengungkapkan idea.

Demikian, bermain akan melatih perkembangan bahasa anak. Oleh karena itu guru atau orang tua hendaknya pandai-pandai merangsang dan memotivasi anak untuk berkomunikasi walaupun melalui kegiatan bermain.

d. Aspek Perkembangan moral

Setiap permainan mempunyai aturan. Aturan akan dikenalkan oleh teman bermain sedikit demi sedikit, tahap demi tahap sampai anak memahami aturan bermain. Oleh karena itu, bermain akan melatih anak menyadari adanya aturan dan pentingnya mematuhi aturan. Hal ini merupakan tahap awal dari perkembangan moral.

e. Aspek perkembangan sosial emosional.

Pada saat bermain anak belajar untuk mengembangkan aspek sosial emosionalnya. Perkembangan sosial emosional anak dimulai dari egosentris individual yang artinya hanya memandang dari satu sisi yaitu dirinya sendiri, konsep diri dan kontrol diri kemudian secara bertahap menuju kearah terinteraksi dengan orang lain. Anak dapat merasakan bahagia dan senang bermain dengan teman- temannya. Anak dapat bersosialisasi dengan teman- temannya, dan mudah bergaul dengan teman yang baru, anak merasakan kasihan terhadap teman yang sakit, anak dapat menolong temannya yang membutuhkan pertolongan, dan lain sebagainya.

Bermain akhirnya tidak hanya menyenangkan bagi anak, tetapi juga mempunyai manfaat yang sangat besar bagi perkembangannya. Melalui kegiatan bermain anak memperoleh pengalaman belajar yang sangat berguna bagi dirinya.

5. Sarana dan Alat Bermain Anak TK

Moeslichatoen (2004) menjelaskan bahwa sarana dan alat bermain anak TK perlu untuk mendapatkan perhatian, yaitu dalam hal:

a. Ruang dan tempat bermain bagi anak taman kanak-kanak

Penyediaan ruang dan tempat bermain perlu memperhatikan tempat kegiatan bermain yang dapat membantu pengembangan dimensi perkembangan anak Taman Kanak-Kanak secara seimbang. Ruang dan tempat itu seperti untuk kesenian, pengembangan bahasa, bermain musik, menyusun balok-balok, bermain pertukangan dan pasir.

b. Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan dimensi perkembangan anak Taman Kanak-Kanak.

Bahan dan peralatan yang hendaknya disediakan mengacu pada sumber belajar yang dapat membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak usia TK, seperti perkembangan motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, sosial, perkembangan emosional.

Peralatan untuk melatih gerakan motorik misalnya kegiatan turun naik tangga, berayun-ayun dengan menggunakan papan keseimbangan, memanjat, dan lain sebagainya. Kemudian perkembangan kognitif dapat dikembangkan melalui kegiatan mengamati dan mendengarkan. Mengamati dengan dilakukan dengan melihat bentuk, warna, ukuran, melihat persamaan dan perbedaan

bentuk. Sedangkan kegiatan mendengar dilaksanakan dengan mendengarkan bunyi, suara, nada, memilih persamaan dan perbedaan bunyi, pengenalan bunyi, suara. Bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan kreativitas anak TK seperti tanah liat, cat, krayon, balok-balok, air, pasir dan bahan yang dapat digerakkan. Bermacam ragam bahan tersebut akan mendorong anak TK untuk mencoba cara-cara baru dan dengan sendirinya akan meningkatkan kreayivitas anak. Kemudian bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan bahasa anak dapat dikembangkan melalui memahami perintah seperti perintah untuk berbaris, masuk kelas. Menjawab pertanyaan seperti siapa namamu?, siapa nama ibumu?. Menguasai kata-kata baru seperti berlari, berjalan, melompat (kata kerja), anak juga menguasai kata-kata yang menyatakan persaan seperti senang, susah, bahagia.

Moeslichatoen (2004) juga menjelaskan mengenai bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan sosial anak. Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak lain. Bahan dan peralatan yang dapat digunakan adalah tempat air yang digunakan secara bergilir, buku cerita, buku bergambar, bahan teka-teki, kuda-kudaan, telepon mainan dan sebaginya. Lalu bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan emosi anak adalah tanah liat dan lumpur. Media ini dapat menyalurkan perasaan anak, karena dapat ditumbuk, dicubit, diaduk, dibanting-banting. Kemudian bermain memelihara hewan

piaraan. Kegiatan ini akan menubuhkan perasaan sayang, memberikan perawatan dan perlindungan.

F. Anak Usia Dini

1. Pengertian Anak Usia Dini

Biechler dan Snowman (dalam Patmonodewao, 2008) menyatakan bahwa anak pra sekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun. Mereka pada umumnya mengikuti program pra sekolah dan Kinderganten. Di Indonesia umumnya mereka mereka mengikuti program Tempat Penitipan Anak (3 bulan sampai 5 tahun) dan Kelompok Bermain (usia 3 tahun), dan pada usia 4-6 tahun biasanya mereka mengikuti program Taman Kanak-Kanak.

Dwi Yulianti (2010) menjelaskan bahwa anak usia dini merupakan anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis yang meliputi perkembangan intelektual, bahasa, motorik, sosial emosional.

Anak pra sekolah dengan usia 3 sampai 6 tahun di Indonesia pada umumnya mengikuti program pendidikan Taman Kanak-Kanak. Pada lingkup pendidikan ini anak membutuhkan mendidikan untuk mencapai perkembangan yang baik. Taman Kanak-Kanak yang merupakan jenjang pendidikan yang memberi manfaat bagi penyiapan anak untuk masuk Sekolah Dasar.

2. Karakteristik Anak Usia Dini

Anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya. Pada masa ini stimulasi

seluruh aspek perkembangan memiliki peran penting untuk tugas perkembangan selanjutnya. Mulyasa (2012) menjelaskan bahwa anak usia dini memiliki sifat yang unik karena di dunia ini tidak ada satu pun anak yang sama, meskipun lahir kembar.

Mereka dilahirkan dengan potensi yang berbeda, memiliki kelemahan dan kelebihan, bakat, dan minat masing-masing. Perilaku anak pun juga beragam, demikian pula dalam belajar. Oleh karena itu para pendidik anak usia dini perlu mengetahui keunikan tersebut agar dapat membantu mengembangkan potensi mereka dengan baik.

Isjoni (2010) menjelaskan bahwa secara umum anak usia dini dapat dikelompokkan dalam usia (0-1 tahun), (2-3 tahun), dan (4-6 tahun) dengan karakteristik masing-masing sebagai berikut:

1. Usia 0-1 tahun

a) Mempelajari keterampilan motori mulai berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan.

b) Mempelajari keterampilan menggunakan pancaindra seperti melihat, mengamati, merapa, mendengar, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda yang dipegangnya ke mulutnya.

c) Mempelajari komunikasi sosial. Bayi yang baru lahir telah siap melaksanakan kontak sosial dengan lingkungannya. Komunikasi reposif dari orang dewasa akan mendorong dan memperluas respon verbal dan nonverbal.

2. Usia 2-3 tahun

a) Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada di sekitarnya.

Eksplorasi anak yang dilakukan anak terhadap benda apa saja yang ditemui merupakan proses belajar yang sangat efektif.

b) Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Diawali dengan berceloteh, kemudian satu dua kata dan kalimat yang belum jelas maknanya. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikirannya.

c) Anak mulai belajar mengembangkan emosi. Perkembangan emosi anak didasarkan pada bagaimana lingkungan memperlakukan dia. Sebab emosi bukan ditentukan oleh bawaan, namun lebih banyak pada lingkungan.

3. Usia 4-6 tahun

a) Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan. Hal itu bermanfaat pengembangan otot-otot kecil maupun besar, seperti memanjat, melompat, dan berlari.

b) Perkembangan bahasa juga semakin baik. Anak mampu memahami pembicaraan orang lain dan mampu mengungkapkan pikiran dalam batas-batas tertentu, seperti meniru, mengulang pembicaraan.

d) Perkembangan kognitif (daya pikir) sangat pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu anak yang luar biasa terdapat lingkungan sekitar. Hal itu terlihat dari seringnya anak menanyakan segala sesuatu yang terlihat.

e) Bentuk permainan anak masih bersifat individu, bukan permainan sosial, walaupun aktivitas bermain dilakukan anak secara bersama.

Usia 0-1 tahun merupakan masa bayi, tetapi perkembangan fisik mengalami kecepatan yang sangat luar biasa, paling cepat dibandingkan dengan usia selanjutnya. Pada masa bayi ini berbagai kemampuan dan keterampilan dasar tersebut merupakan modol penting bagi anak untuk menjalani proses perkembangan selanjutnya. Pada usia 2-3 tahun terdapat beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya, yang secara fisik masih mengalami pertumbuhan pesat. Kemudian pada usia 4-6 tahun anak sangat aktif melakukan berbagai kegiatan, perkembangan berbahasanya juga sudah baik, dan kognitifnya berkembang pesat, ditunjukkan dengan rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.

3. Tugas Perkembangan Anak Usia Dini

Pada masa usia dini, anak membutuhkan pemberian layanan yang optimal dari orang dewasa, lebih lanjut perlu secara khusus memahami berbagai karakteristis perkembangannya. Isjoni (2010) menjelaskan bahwa secara khusus perlulah memahami bagaimana perkembangan anak usia pra sekolah, yaitu dengan memahami karakteristik masing-masing aspek perkembangannya. Adapun karakteristik masing-masing aspek perkembangan anak usia dini menurut Mulyasa (2012) adalah sebagai berikut:

a. Perkembangan Fisik dan Motorik

Perkembangan motorik anak sudah dapat terkoordinasi dengan baik, sesuai dengan perkembangan fisiknya yang beranjak matang. Gerakan-geraknya sudah selaras dengan kebutuhan dan minatnya, serta cenderung menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang cukup gesit dan lincah. Usia dini masa yang tepat untuk

mengajarkan berbagai keterampilan motorik seperti menulis, menggambar, melukis, berenang, dan bermain bola.

Perkembangan fisik dan motorik anak cenderung mengikuti pola yang relative sama sehingga dapat diramalkan, normal atau menghambat. Meskipun demikian, terdapat perbedaan laju perkembangan antara anak yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada dua individu yang sama persisi, baik dalam pertumbuhan fisik maupun motoriknya

Terdapat karakteristik yang sangat menonjol dan berbeda ketika anak mencapai tahapan pra sekolah dan kelompok bermain dengan usia bayi.

Perbedaan tersebut terletak pada penampilan, porposi tubuh, berat, panjang badan serta keterampilannya. Pada umumnya anak usia pra sekolah dan kelompok bermain memiliki sifat hangat dan aktif, mereka memiliki penguasaan terhadap tubuhnya dan sangat menyukai kegiatan yang dilakukannya sendiri.

Meskipun demikian, mereka tetap memerlukan waktu istirahat yang cukup mengingat aktivitas yang dilakukan oleh mereka pada masa ini sangat memerlukan energi yang besar.

b. Perkembangan Kognitif

Kognitif sering disinonimkan dengan intelektual karena prosesnya banyak berhubungan dengan berbagai konsep yang telah dimiliki anak dan berkenaan dengan kemampuan anak dalam memecahkan suatu masalah. Memecahkan masalah dari yang sederhana merupakan langkah yang kompleks pada diri anak, yang sebelumnya perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara pemecahannya.

Faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar, karena sebagian besar ativitas belajar selalu berhubungan dengan mengingat dan berpikir. Piaget, tokoh Psikologi Kognitif yang memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan. Piaget menyakini bahwa anak harus dipandang seperti ilmuwan yang sedang mencari jawaban dalam upaya melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi.

Anak usia dini masa pra sekolah atau kelompok bermain sudah mampu berpikir dengan menggunakan simbol, berpikiran masih dibatasi oleh persepsi.

Mereka meyakini apa yang dilihatnya, dan hanya terfokus pada satu dimensi terhadap satu objek dalam waktu yang sama, serta berpikirnya masih memusat dan kaku. Anak sudah mulai mengerti dasar-dasar mengelompokkan sesuatu atas dasar satu dimensi seperti atas kesamaan warna, bentuk, dan ukuran.

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa pada masa pra sekolah anak sudah mampu berpikir dengan menggunakkan simbol. Meskipun cara berpikir mereka masih dibatasi oleh persepsi serta masih bersifat memusat dan kaku, namun mereka sudah mulai mengerti bagaimana mengklasifikasi sesuatu berdasarkan pemahaman mereka yang masih sederhana.

c. Perkembangan Emosi

Pada tahap ini emosi anak usia dini lebih rinci atau anak cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan dan sering berebut perhatian guru. Pada masa ini anak mampu melakukan partisipasi dan mengambil inisiatif dalam kegiatan fisik. Anak sering memiliki keraguan untuk memilih antara apa yang ingin dikerjakan dengan apa

yang harus dikerjakan.Ciri khas emosi anak adalah emosinya kuat, sifat tersebut seringkali tampak, emosinya bersifat sementara atau labil, dan emosi tersebut dapat diketahui melalui perilaku anak.

Ekpresi emosi anak mudah berubah dari satu bentuk ekpresi ke bentuk ekspresi lainnya. Anak dalam situasi gembira tiba-tiba berubah menjadi marah karena ada sesuatu yang dirasakan tidak menyenangkan, sebaliknya ketika dalam keadaan marah, melalui bujukan yang menyenangkan bisa berubah menjadi riang.

d. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial berhubungan dengan perilaku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dimana ank itu berada.

Perkembangan sosial anak merupakan hasil belajar, bukan hanya sekadar kematangan. Perkembangan sosial diperoleh anak melalui kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon terhadap dirinya. Bagi anak TK, kegiatan bermain menjadikan fungsi sosial anak semakin berkembang.

Ciri sosial anak usia pra sekolah sudah mulai mudah bersosialisasi dengan lingkungannya. Pada masa ini juga muncul kesadaran anak akan konsep diri yang berkenaan dengan “ Gender“ yang mana anak telah mampu memahami perannya sebagai anak perempuan dan sebagai anak laki-laki. Oleh karena itu, salah satu keuntungan pendidikan pra sekolah adalah dapat memberikan pengalaman sosial di bawah bimbingan guru yang dapat membantu mengembangkan hubungan sosial yang menyenangkan.

e. Perkembangan Bahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi. Pengertian ini tercakup pada semua cara untuk berkomunikasi, sehingga pikiran an perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat, bunyi, lambing, dan gambar.

Anak usia dini biasanya telah mampu mengembangkan keterampilan berbicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunkkan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan bernyanyi. Sejak usia dua tahun anak menunjukkan minat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berkembang sejalan dengan bertambahnya usia dan menunjukkan bertambah pula perbendaharaan kata. Perbendaharaan kata yang dimiliki anak mampu berkomunikasi dengan lingkungannya yang lebih luas.

f. Perkembangan Moral

Saat mempelajari perilaku moral, terdapat empat pokok utama, yaitu (a) mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok sosial terhadap anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum, kebiasaan, dan peraturan; (b) mengembangkan hati nurani; (c) belajar mengalami perasaan bersalah bila perilakunya tidak sesuai dengan harapan kelompok.

g. Perkembangan Spiritual

Perkembangan spiritual sangat tergantung pada lingkungan keluarga yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama keturunan (orang tua),

pembiasaan dan lingkungan. Oleh karena itu sebagai orang tua atau guru harus melakukan pembiasaan, dan menyediakan lingkungan yang kondusif.

Pada anak usia dini aspek perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, bahasa, moral, dan spiritual dalam perkembangannya sangat membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua, guru atau orang-orang dewasa yang tinggal disekitarnya. Semua dimaksudkan supaya anak siap untuk menerima kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan, dan anak juga dibina supaya dalam perilaku sosialnya berkembang dengan baik, karena itu yang akan menentukan kepribadiannya. Selain itu dari aspek moral hendaknya mendapatkan bimbingan supaya anak dapat menentukan suatu pilihan mana yang benar dan mana yang salah dari suatu masalah atau peristiwa, dan dari aspek spiritual orang tua atau

Pada anak usia dini aspek perkembangan fisik, kognitif, emosi, sosial, bahasa, moral, dan spiritual dalam perkembangannya sangat membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua, guru atau orang-orang dewasa yang tinggal disekitarnya. Semua dimaksudkan supaya anak siap untuk menerima kegiatan yang berkaitan dengan keterampilan, dan anak juga dibina supaya dalam perilaku sosialnya berkembang dengan baik, karena itu yang akan menentukan kepribadiannya. Selain itu dari aspek moral hendaknya mendapatkan bimbingan supaya anak dapat menentukan suatu pilihan mana yang benar dan mana yang salah dari suatu masalah atau peristiwa, dan dari aspek spiritual orang tua atau

Dalam dokumen PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI (Halaman 85-0)