Pengantar dari Redaksi
Masa transisi merupakan hal yang wajar terjadi dan dialami oleh setiap makhluk hidup. Sebagai contoh, lihat saja proses kehidupan kupu-kupu yang awalnya berasal dari seekor ulat. Demikian pula dengan manusia, berkembang dari embrio menjadi bayi. Pertambahan usia membawanya dari anak-anak menjadi remaja, kemudian menjadi orang dewasa hingga akhirnya memasuki masa tua.
Pada setiap masa transisi pun sudah pasti terjadi gejolak dan dampak dalam diri orang yang mengalaminya. Dalam siklus kehidupan manusia, masa yang paling bergejolak dan berdampak adalah pada saat beranjak remaja (atau masa puber) dan pada saat beranjak paruh baya, atau lebih sering disebut puber kedua. Puber kedua inilah yang sering kali menimbulkan masalah karena biasanya orang yang mengalami masa ini adalah mereka yang sudah berumah tangga. Meskipun tidak semua orang mengalami gejolak puber kedua, namun penting bagi kita untuk mengetahui tanda-tanda dan gejolak apa saja yang akan muncul.
Bila saat ini Anda atau pasangan Anda sudah mulai menginjak usia-usia "rawan" puber kedua ini, berikut kami sajikan bahan-bahan yang kiranya bisa menjadi bekal bagi Anda untuk menghadapi gejolak puber kedua. Silakan simak, semoga dapat memperkaya wawasan kita.
Pemimpin redaksi e-Konsel, Christiana Ratri Yuliani
190
Cakrawala: Bahaya Puber Kedua
Saat ini ketika jalan-jalan di mal, banyak terlihat orang setengah baya yang jika dilihat dari belakang tampak seperti anak-anak remaja. Mereka mengenakan baju dan berpotongan rambut masa kini yang luar biasa model maupun warnanya. Tak jarang pemandangan lucu tersebut membuat orang yang berpapasan tersenyum kala melihat seorang ibu dengan perut yang tidak lagi langsing mengenakan blus pendek yang memperlihatkan pusarnya, dengan polesan bedak tebal seolah memakai topeng. Wah, apa gerangan yang terjadi?
Begitu juga yang terjadi belakangan ini dengan Taty yang bingung sendiri melihat tingkah suaminya yang "agak lain" dari biasanya. Tadinya suaminya malas sekali kalau diajak menemani ke salon, sekarang malah dia yang rajin ke sana. Pulang kerja
langsung ke salon atau ke spa untuk perawatan rambut, muka, badan. Juga refleksi kaki dan sebagainya. Mula-mula Taty curiga, jangan-jangan itu hanya alasan. Mungkin suaminya punya pacar baru dan ketemunya di salon, spa, atau mal.
Taty sampai menyewa detektif amatiran, yaitu anaknya sendiri, untuk menguntit sang suami yang kelihatan jadi ganjen (genit) sekali. Dan sang anak melaporkan hasil kuntitannya. Demikian bunyinya, "Ibu, ternyata ayah beneran ke salon untuk merawat rambutnya yang rontok, terus minta dicat. Katanya sudah banyak yang putih. Lalu ke spa minta dilulur. Katanya, supaya kulit keriputnya hilang. Terus ke toko pilih baju. Katanya, warna baju yang di rumah semuanya kuno, ingin diganti dengan yang model dan warnanya ok punya! Ha ... ha ...." Sang anak terbahak-bahak mengakhiri cerita tentang ayahnya yang lagi "GR" (gede rasa) dan mendadak jadi pesolek berat. Sang ibu yang mendapat laporan seperti itu hanya bisa menarik napas panjang dan
geleng-geleng kepala menandakan bingung.
Menghadapi keadaan suami atau istri yang mendadak bertingkah seperti ABG (Anak Baru Gede) memang sangat membingungkan. Belum lagi biasanya sifat pasangan yang mudah curiga kalau-kalau sang suami atau istri punya "daun muda". Karuan saja hal ini bisa membuat suasana rumah yang tadinya adem nyaman menjadi sedikit bergejolak dan panas. Tak jarang menjurus menjadi pertengkaran hebat yang berujung pada perpisahan.
Nah, mengapa sang suami atau istri yang mulai memasuki usia empat puluh tahun bisa berubah serta bertingkah dan berpenampilan seperti layaknya anaknya yang SMU? Ternyata menurut para ahli jiwa, hal itu merupakan masa tahapan puber, yaitu transisi tahapan untuk pindah ke tahapan berikutnya. Kita mengenal dua tahapan yang mudah dilihat dan dirasakan, yaitu masa puber pertama dan masa puber kedua.
Puber pertama, masa seorang anak berpindah ke tahap menjadi masa remaja di mana di masa-masa ini seorang anak ingin secepatnya menjadi orang dewasa yang
memunyai "kewenangan" lebih, baik dari segi penampilan maupun keingintahuan. Pokoknya dalam masa ini, seseorang pada tahap menjadi berani. Kiasannya "tidak takut mati". Pada masa inilah seorang anak yang biasanya lembut bisa berubah
191
menjadi pemberontak, segala aturan diterjang, sikapnya semau gue dan maunya benar sendiri. Dalam tahapan ini, seorang anak remaja berada pada masa rawan karena mudah dipengaruhi pergaulan negatif. Maka perhatian serta kasih sayang orang tualah yang sangat dibutuhkan untuk memberi bimbingan yang benar. Orang tua pun harus berusaha merangkul sang anak dengan menghindari sikap otoriter yang gemar mendikte atau memerintah. Sebaiknya sikap orang tua lebih bersifat berteman. Puber kedua adalah tahapan dari seorang dewasa berpindah menjadi tua. Berbeda dengan masa puber pertama yang super berani, masa puber kedua justru menjadi masa-masa di mana seseorang dihinggapi rasa takut, yaitu takut menjadi tua, takut menjadi tidak menarik lagi, takut mati, takut tidak berguna lagi, takut tidak kuat lagi, dan sebagainya. Maka dalam tahapan ini kelakuan seorang dewasa tampak menjadi aneh, yaitu bertingkah seperti anak baru gede, baik dari segi penampilan maupun perilakunya, sebagai bayarannya (kompensasi) untuk menutupi ketakutannya itu. Semakin dia takut, kelakuan dan penampilannya menjadi semakin aneh. Nah, pada masa-masa ini
seseorang menjadi demikian rapuh, mudah tersinggung. di sinilah peran pasangannya harus lebih toleran dan mencoba memahami apa yang ditakutkannya. Misalkan, dia takut dikatakan tua karena fisiknya yang memang sudah menurun vitalitasnya. Maka pasangannya mencoba menghindari untuk menyinggung masalah fisik. Sebaiknya, cobalah untuk memuji dan membesarkan hatinya bahwa dia tetap sebagai orang yang disayangi.
Hal yang berbahaya dalam tahapan ini adalah seseorang justru ingin menutupi
ketakutannya dengan perilaku yang berbahaya. Misalnya, akibat takut dikatakan tidak menarik lagi dan sudah menurun vitalitasnya dalam berhubungan seks, dia akan mencoba untuk menutupinya dengan berhubungan dengan orang yang lebih muda, dengan harapan dia bisa bersaing dengan yang muda. Dalam tahapan ini, seseorang sering jatuh dalam percintaan semu sehingga menjadi masalah dalam rumah tangga. di sinilah saatnya pasangan -- terutama seorang istri -- harus bisa menyelaraskan
keadaan dengan melakukan "penyegaran" dengan berlaku seperti masa-masa
pengantin baru atau masa-masa pacaran. Misalnya, pergilah menonton berdua, jalan-jalan berdua, bersikap lebih mesra, atau berdandan lebih muda dari biasanya supaya sang suami juga merasa dirinya kembali muda. Dan tunjukkan bahwa Anda sangat membutuhkannya dan tetap mengaguminya.
Karena masa puber adalah gejala yang dialami semua orang, bersikaplah arif dalam menjalaninya. Pada masa puber kedua ini, banyak hal yang ikut menyumbangkan ketakutan, seperti daya ingat yang melemah, belum lagi masa pensiun yang mulai menghadang dan anak-anak yang sedang membutuhkan biaya besar untuk pendidikan dan kebutuhan hidup. Semua itu memacu timbulnya depresi dan membuat daya tahan tubuh serta daya pikir semakin berkurang kemampuannya sehingga berefek ke masalah stamina, baik pada saat keseharian maupun pada saat berhubungan intim.
Semua orang mengalami tahapan ini, tapi setiap orang berbeda kondisinya sebab seorang yang lebih percaya diri, perilaku kompensasinya tidak terlalu parah. Sebaiknya pasangan bersiap untuk menjadi penolong untuk siapa yang lebih dulu merasakan atau
192
mengalaminya, entah sang istri atau sang suami. Jadilah penolong untuk pasangan dengan mencoba memupuk rasa kebersamaan yang lebih sering lagi. Komunikasi yang baik di antara pasangan akan sangat berguna untuk meredam efek-efek negatif yang ditimbulkan pada masa-masa ini.
Sama seperti orang tua yang menghadapi anaknya pada saat melakoni puber pertama, begitu juga kita pada saat menghadapi pasangan yang melakoni puber kedua ini. Sikap berteman dan komunikasi yang baik akan sangat bermanfaat. Hindari sikap
menghakimi dan marah, dan segalanya akan berjalan lebih lancar, damai dan baik-baik saja.
Sumber:
Diambil dan diedit seperlunya dari: Nama situs : Suara Pembaruan
Judul asli artikel: Bahaya Puber Kedua Penulis : Lianny Hendranata
193
Cakrawala 2: Cinta Pada Pandangan Setengah Baya
Akhirnya saya lulus juga! Kemarin istri saya baru saja memberikan sebuah kartu kepada saya yang melukiskan keadaan pernikahan kami belakangan ini. Dalam satu kata, ia merasa "bahagia". Saya juga!
Beberapa hari yang lalu, kami sempat membincangkan apakah sebenarnya yang membuat kami tetap mencintai satu sama lain setelah enam belas tahun menikah. Kesimpulan kami adalah ketekunan, yakni sikap pantang menyerah dan niat terus mencoba memperbaiki relasi kami.
Seperti pasangan nikah lainnya, kami pun pernah merasa kecewa satu sama lain, pernah merasa sedih akibat perbuatan masing-masing, bahkan pernah cukup sering marah karena ulah masing-masing, dan pernah menyesal mengapa memilih satu sama lain. Namun, kami tidak berhenti pada perasaan-perasaan itu saja; kami berjalan terus, berusaha menyelesaikan yang belum terselesaikan, dan mengoreksi perbuatan yang menimbulkan bencana.
Bak petani yang telah bersusah payah menabur, sekarang kami mulai menuai hasilnya. Pengertian kami terhadap satu sama lain makin bertambah sehingga kami lebih dapat "memadamkan api sebelum kebakaran". Kami pun makin menikmati kebersamaan kami sehingga keterpisahan sungguh menyengsarakan, baik itu keterpisahan geografis akibat jarak maupun keterpisahan emosional karena pertengkaran.
Suatu keadaan sebaik apa pun tidak akan terus bertahan dengan sendirinya. Demikian pula dengan pernikahan; kita harus terus menjaganya dengan hati-hati. Pernikahan ibarat gelas; kita dapat menggunakannya untuk minum sebanyak mungkin, namun dengan satu syarat: kita harus tetap memegangnya. Kenikmatan yang kita peroleh dari pernikahan harus disertai usaha untuk menjaganya. Perasaan harus dijaga, kebutuhan harus dipenuhi, pengertian harus diberikan, mulut harus dikekang, komunikasi harus dilancarkan. Semua ini adalah "tangan" yang memegang gelas; tanpa itu, "gelas pernikahan" kita niscaya jatuh dan pecah.
Jika Saudara bertanya, "Apa itu yang membedakan cinta pada masa berpacaran dan cinta pada masa sekarang pada usia kami yang separuh baya?" Saya akan
menjawabnya seperti ini: pada masa berpacaran, saya mencintai istri saya karena dia menarik; sekarang saya "tergila-gila" padanya; sekarang jika dia tidak di samping saya, rasanya saya seperti orang "gila."
Waktu tidak memusnahkan cinta; waktu mentransformasi cinta. Berangkat dari rasa tertarik, berakhir dengan rasa sayang karena dia begitu berharga. Dimulai dengan tergila-gila, diakhiri dengan "seperti orang gila kalau harus hidup tanpanya". yang menentukan adalah perjalanan di tengahnya, di antara titik berangkat dan titik akhir. Kalau kita berhenti berusaha dan menyerah, ujung akhirnya sudah pasti bukanlah rasa sayang karena dia berharga. Apabila kita tidak menjaga dan memegang gelas
194
Amsal 16:31 mengingatkan kita, "Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran." Salah satu terjemahan bahasa Inggris lebih
menekankan maknanya, yakni "... if it is found in the way of righteousness". Dengan kata lain, masa tua titik akhir atau ujung perjalanan pernikahan kita hanyalah akan bertransformasi menjadi mahkota yang indah bila kita menjalaninya dalam kebenaran. Teruslah berjalan, teruslah perbaiki, makin hari makin benar di bawah terang
Kebenaran. Pada akhirnya, kita akan memetik buahnya yang manis dan mulia. Sumber:
Diambil dan diedit seperlunya dari:
Judul buletin: Parakaleo (Edisi Jan. -- Mar. 2001, Vol. VIII, No. 1) Penulis : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.
Penerbit : Departemen Konseling STTRII Halaman : 3 -- 4
Artikel ini dapat pula Anda dapatkan di situs C3I dengan URL: ==> http://c3i.sabda.org/artikel/isi/?id=89&mulai=150
195