• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.8 Ekologi perilaku bersuara

Perilaku bersuara ayam hutan hijau (Gallus varius) adalah rangkaian gerak yang dilakukan Gallus varius sehingga menghasilkan suara dari dalam tenggorokan yang digunakan untuk tujuan tertentu. Cara Gallus varius bersuara adalah dengan cara tungkai diluruskan, ekor sedikit diturunkan, tubuh ditegakkan, leher diluruskan keatas, kepala ditengadahkan, paruh terbuka dan suara dikeluarkan.

Aktivitas mengeluarkan suara ayam hutan hijau (Gallus varius) dilakukan dengan beberapa cara yang berbeda tergantung jenis suara yang akan dikeluarkan. Terdapat lima tipe suara Gallus varius yang ditemukan di lokasi penelitian, yaitu:

a. Tipe I “kek-kek-kek”

Suara ini dilakukan dengan cara paruh yang sedikit dibuka dan hanya jenis suara ini disuarakan pada saat ayam hutan hijau dalam posisi berjalan, berlari ataupun terbang. Tipe suara “kek-kek-kek” dapat disuarakan Gallus varius jantan dan betina. Suara tipe ini memiliki variasi yaitu “kek-kek-kek” tempo cepat dan

“kek-kek-kek” tempo lambat. “kek-kek-kek” tempo cepat dikeluarkan pada saat

berlari ataupun terbang karena adanya gangguan yang mengancam. “kek-kek-

kek” tempo lambat dikeluarkan pada saat mencari makan yang dilakukan Gallus varius yang berkelompok. Tipe suara “kek-kek-kek” terdengar satu kali di hutan musim dekat aktivitas manusia dan 3 kali terdengar di hutan musim jauh dari aktivitas manusia.

b. Tipe II “ce-ke-keer”

Suara ini dikeluarkan saat Gallus varius berada dalam posisi diam dengan kepala yang ditengadahkan, paruh terbuka dan leher yang diluruskan membentuk garis lurus dengan paruh. Tipe suara “ce-ke-keer” hanya disuarakan Gallus varius jantan. Suara ini dapat disuarakan di atas pohon atau permukaan tanah dengan cara menghentikan gerakan lainnya seperti berjalan dan fokus bersuara saja.

Gallus varius sering mengeluarkan suara ini pada pagi hari sesaat setelah bangun dari tidur dan sore hari sebelum naik ke percabangan pohon tidur. Tipe suara ini terdengar saling bersahutan dari berbagai arah di pagi dan sore hari. Suara tipe ini merupakan kokok bagi Gallus varius. Tipe suara “ce-ke-keer” terdengar 10 kali di hutan musim dekat aktivitas manusia dan 8 kali di hutan musim jauh dari aktivitas manusia.

c. Tipe III “kroo-kreek”

Suara ini dikeluarkan dengan posisi diam dengan kepala yang ditengadahkan, paruh terbuka dan leher yang diluruskan membentuk garis lurus

dengan paruh. Tipe suara “kroo-kreek” dilakukan di percabangan pohon ataupun di permukaan tanah.

Tipe suara ini disuarakan Gallus varius sebelum naik ke pohon tempat tidur

di sore hari dan setelah bangun dari tidur di pagi hari. Tipe suara “kroo-kreek” terdengar 2 kali di hutan musim dekat aktivitas manusia dan tidak ditemukan di hutan musim jauh dari aktivitas manusia.

d. Tipe IV “kokrek”

Tipe suara “kokrek” dikeluarkan di pagi hari setelah bangun dari tidur dan biasanya dibarengi dengan kepakan sayap dari Gallus varius. Suara dikeluarkan dengan cara kepala yang ditengadahkan, paruh terbuka dan leher yang diluruskan membentuk garis lurus dengan paruh dan sesekali dibarengi dengan kepakan sayap. Tipe suara “kokrek” dilakukan di percabangan pohon tempat tidur. Suara

“kokrek” terdengar sekali di hutan musim dekat aktivitas manusia dan tidak terdengar di hutan musim jauh dari aktivitas manusia.

e. Tipe V “keek”

Gallus varius mengeluarkan suara tipe “keek” dengan cara kepala yang ditengadahkan, paruh terbuka, leher diluruskan dengan paruh. Suara tipe ini dilkeluarkan paling awal di pagi hari yang merupakan awalan sebelum kokok dilakukan. Tipe suara “keek” dilakukan di percabangan pohon tempat tidur. Suara

“keek” ditemukan 3 kali di hutan musim dekat aktivitas manusia dan tidak

ditemukan di hutan musim jauh dari aktivitas manusia.

Mekanisme perilaku bersuara ayam hutan hijau (Gallus varius) berlangsung pada pagi hari antara pukul 05:50 WITA sampai dengan pukul 06:50 WITA sedangkan di sore hari suara ayam hutan hijau dijumpai pada pukul 16:30 WITA sampai pukul 18:20 WITA. Pada siang hari Gallus varius jarang ditemukan

sedang bersuara, jika bersuara jenis yang dibunyikan hanya “kek-kek-kek” dengan tempo yang lambat dan merupakan suara yang dikeluarkan saat mencari makan ataupun istirahat.

Selama pengamatan ditemukan tujuh kali ayam hutan hijau yang bersuara di siang hari. Ketinggian dari permukaan tanah yang menjadi tempat Gallus varius bersuara berkisar antara 0 – 16 meter, sedangkan secara umum lebih sering dijumpai bersuara pada ketinggian 0 – 7 meter.

Perilaku bersuara yang dilakukan Gallus varius sebenarnya tidak bisa dikatakan mutlak rutin dilakukan pada waktu-waktu tertentu sebab ada saatnya

Gallus varius tidak bersuara di waktu yang biasanya digunakan untuk bersuara. Hal ini terlihat dalam pengamatan yang dilakukan di Tanjung Gelap, jantan yang bersuara berturut-turut selama hari pengamatan ke- 1 sampai dengan hari pengamatan ke- 8 pada waktu bangun dari tidur ternyata tidak bersuara 2 hari yaitu pada hari pengamatan ke-9 dan 10 dari total 10 hari pengamatan.

Perilaku bersuara yang dilakukan Gallus varius pada waktu bangun dari tidur menggabungkan beberapa tipe suara dan biasanya diawali dengan kepakan sayap. Urutan suara yang dibunyikan Gallus varius pada saat bangun tidur yaitu

dimulai dengan “keek” satu kali, “kokrek” dilakukan sebanyak dua sampai lima

kali dan “ce-ke-keer” atau “kroo-kreek” dilakukan sebanyak 7 sampai 25 kali dalam sekali periode.

Perilaku bersuara dengan tipe bunyi “kroo-kreek” atau “ce-ke-keer” yang dilakukan Gallus varius mempunyai selang waktu pengulangan yang makin lama dengan semakin seringnya bunyi tipe ini dibunyikan. Sebagai contoh adalah pola bersuara Gallus varius jantan di pagi hari saat bangun tidur di Tanjung Gelap: 06:48,..., 16, 36, 55, 40, 39, 53, 11, 27, 14, 06, 27, 03, 16, 45, 06, 25, 51, 18, 30, 48. Dari contoh diatas dapat dilihat Gallus varius bersuara pada pukul 06:48 dan suara yang dikeluarkan terjadi pada jam 06.48 lebih 16 detik. Angka 16, 36, 55

dan seterusnya pada contoh menunjukkan saat tipe bunyi “kroo-kreek” atau “ce- ke-keer” dikeluarkan. Pada contoh tersebut selang waktu mengeluarkan bunyi berkisar antara 12 detik sampai 59 detik.

Perilaku bersuara yang dilakukan Gallus varius lebih banyak ditemui pada pagi dan sore hari. Perilaku bersuara yang dilakukan pada pagi hari merupakan sebuah strategi yang digunakan kelompok untuk berkomunikasi sehingga dapat melakukan perjalanan bersama untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya secara berkelompok. Perilaku bersuara di sore hari juga merupakan strategi untuk berkomunikasi setelah melakukan aktivitas dan kembali ke lokasi tidur. Tipe

suara yag sering digunakan dalam komunikasi kelompok adalah “kek-kek-kek” dengan tempo yang lambat.

Rekapitulasi frekuensi dan durasi perilaku bersuara Gallus varius yang diperoleh selama pengamatan di lokasi penelitian sebagai berikut:

Tabel 25 Rekapitulasi frekuensi dan durasi perilaku bersuara Gallus varius di TNBB

Tipe habitat

Total Hutan musim jauh dari

aktivitas manusia

Hutan musim dekat aktivitas manusia

Ekosistem savana

Frekuensi 26 91 0 117

Durasi 2006 4657 0 6663

Hasil uji chi-square terhadap frekuensi bersuara Gallus varius di tipe habitat berbeda menghasilkan nilai χ2 hitung = 0,004 lebih kecil dari χ2 tab = 5,99. Hasil berbeda diperlihatkan durasi perilaku bersuara yaitu nilai χ2 hitung = 135,182 yang melebihi χ2 tab = 5,99 disajikan seperti dalam tabel 26 berikut:

Tabel 26 Hasil uji chi-square frekuensi dan durasi perilaku bersuara di berbagai tipe habitat di TNBB

χ2 tab = 5,99; db = 2

Tipe habitat

χ2 hitung Hutan musim jauh

dari aktivitas manusia

Hutan musim dekat aktivitas manusia

Ekosistem savana

Frekuensi 0,003 0,001 0 0,004 Durasi 94,484 40,699 0 135,182

Berdasarkan hasil uji chi-square seperti yang disajikan dalam tabel diatas dapat dilihat nilai χ2 hitung = 0,004 yang lebih kecil dari χ2 tab = 5,99 yaitu tipe habitat tidak berpengaruh terhadap frekuensi perilaku bersuara. Frekuensi perilaku bersuara di habitat hutan musim dekat aktivitas manusia, hutan musim jauh dari aktivitas manusia dan hutan savana TNBB memiliki peluang yang sama. Sedangkan durasi perilaku bersuara dengan nilai χ2 hitung = 135,182 melebihi nilai

χ2

tab = 5,99 sehingga dapat dikatakan tipe habitat berpengaruh terhadap durasi perilaku bersuara.

5.2 Pembahasan

5.2.1 Habitat ayam hutan hijau (Gallus varius) di TNBB

Habitat ayam hutan hijau (Gallus varius) di Taman Nasional Bali Barat meliputi dua tipe vegetasi yaitu hutan musim dan savana. Pada habitat hutan musim Tanjung Gelap, ayam hutan hijau (Gallus varius) mudah dijumpai sedang

beraktivitas di area yang relatif terbuka dengan permukaan tanah yang ditumbuhi rumput dan semak belukar serta berbatu. Gallus varius yang hidup di habitat savana semenanjung Prapat Agung mudah dijumpai di area terbuka dengan tanah berpasir dan ditumbuhi rumput. Arifinsjah (1987) juga menyebutkan bahwa habitat Gallus varius meliputi hutan mangrove, hutan pantai, savana dan hutan musim.

Kerapatan vegetasi pada habitat hutan musim dekat aktivitas manusia, hutan musim jauh dari aktivitas manusia dan savana memiliki kesamaan yaitu tingkat vegetasi tumbuhan bawah mempunyai kerapatan tertinggi di ketiga tipe habitat. Tumbuhan bawah di hutan musim dekat aktivitas manusia memiliki kerapatan 40250 ind/ha sedangkan di hutan musim jauh dari aktivitas manusia kerapatannya 62500 ind/ha.

Jenis vegetasi dengan kerapatan tertinggi di habitat hutan musim dekat aktivitas manusia adalah jenis bun dingin (Porana volubilis) dengan kerapatan 11500 ind/ha. Jenis bun dingin (Porana volubilis) walaupun dengan kerapatan tertinggi tidak memiliki peranan penting bagi Gallus varius. Jenis tumbuhan bawah yang memiliki fungsi sebagai tempat berlindung dan istirahat Gallus varius di hutan musim dekat aktivitas manusia adalah jenis kerasi (Lantana camara) dengan kerapatan 4500 ind/ha.

Pada habitat hutan musim jauh dari aktivitas manusia yang memiliki fungsi vegetasi sebagai tempat istirahat dan berlindung adalah jenis kirinyuh (Eupatorium odoratum). Pada habitat savana semenanjung Prapat Agung, jenis vegetasi yang berfungsi sebagai tempat istirahat dan berlindung adalah jenis kirinyuh (Eupatorium odoratum) yang juga merupakan tumbuhan bawah dengan kerapatan tertinggi yaitu dengan 17750 ind/ha.

Kebutuhan air Gallus varius di habitat hutan musim Tanjung Gelap diperoleh dari bak-bak penampungan air yang dibuat oleh pengelola Resort Menjangan disepanjang jalur safari yang menjadi salah satu lokasi beraktivitas Gallus varius. Pada habitat savana semenanjung Prapat Agung tidak ditemukan sumber air. Jika dibandingkan dari ketiga tipe habitat Gallus varius di TNBB maka dapat dikatakan bahwa habitat savana menjadi yang paling tidak baik dilihat dari fungsi habitat sebagai penyedia air.

Area terbuka yang berada di ketiga tipe habitat Gallus varius di TNBB menjadi sangat penting karena digunakan untuk beraktivitas. Aktivitas utama yang sering terlihat di area terbuka adalah mencari makan. Area terbuka yang banyak ditumbuhi jenis rumput digunakan untuk mencari biji-biji rumput yang terjatuh dan serangga yang menjadi makanan Gallus varius. Arifinsjah (1987) juga menyatakan bahwa area terbuka digunakan untuk mencari biji rumput, buah- buahan, hijauan dan serangga.

Jenis rumput yang dapat ditemukan di hutan musim dekat aktivitas manusia adalah jenis rumput santen (Oplismenus hirtellus). Jenis rumput ini memiliki kerapatan yang cukup tinggi yaitu 10500 ind/ha dan tumbuh di lokasi-lokasi yang menjadi tempat mencari makan sehingga besar kemungkinan jenis rumput inilah yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan bagi Gallus varius.

Jenis rumput di hutan musim jauh dari aktivitas manusia adalah rumput pring-pringan (Pogonatherum crinitum) dengan kerapatan 1500 ind/ha. Jenis rumput ini tumbuh di lokasi mencari makan Gallus varius sehingga diduga menjadi makanannya.

Habitat savana memiliki 3 jenis rumput yaitu rumput duri (Bulbostylis capillaris), rumput pring-pringan (Pogonatherum crinitum), dan rumput merakan (Themeda arguens). Kerapatan masing-masing jenis secara berturut-turut 7250 ind/ha, 9750 ind/ha dan 20250 ind/ha. Ketiga jenis rumput ini tumbuh di lokasi yang menjadi tempat mencari makan sehingga diduga menjadi makanan bagi Gallus varius.

5.2.2 Aktivitas harian

Aktivitas harian yang dilakukan Gallus varius bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya seperti makanan dan air serta kebutuhan lain yang menunjang kelangsungan hidupnya. Arifinsjah (1987) menyatakan bahwa aktivitas harian Gallus varius adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan Gallus varius yang dimulai pada saat bergerak dari posisi tidur pada tempat tidurnya sampai dengan kembali pada tempat tidur selanjutnya.

Perilaku istirahat memiliki persentase terbesar dalam aktivitas harian Gallus varius yaitu sebesar 52 %. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melakukan aktivitas

hariannya Gallus varius memperhatikan faktor lingkungan seperti panas sinar matahari sehingga menghentikan perilaku yang sedang dilakukan dan memulai perilaku istirahat. Perilaku istirahat memilki persentase terbesar karena kondisi cuaca selama pengamatan sangat panas akibat sinar matahari sehingga Gallus varius banyak istirahat demi efisiensi energi.

Perilaku makan memegang proporsi yang cukup besar pula setelah perilaku istirahat yaitu sebesar 45 %. Gallus varius memerlukan gerakan lainnya seperti berjalan yang termasuk dalam perilaku bergerak dalam perilaku makan, namun perilaku bergerak disini dimasukkan dalam perilaku makan. Perilaku berjalan selama aktivitas makan berlangsung dimasukkan dalam perilaku makan karena termasuk dalam perilaku yang mendukung aktivitas makan. Perilaku makan sangat penting dilakukan untuk mendapatkan makanan sehingga dapat diperoleh energi untuk melakukan aktivitas harian. Hasil yang sama juga diperoleh Arifinsjah (1987) yang menyatakan perilaku istirahat memiliki proporsi terbesar dalam aktivitas harian Gallus varius.

Gallus varius memiliki pola jalur pergerakan yang relatif sama dalam aktivitas hariannya. Pola pergerakan yang relatif sama ini dilakukan karena fungsi habitat sebagai penyedia makanan, air, shelter dan cover sangat mendukung di habitat hutan musim Tanjung Gelap. Fungsi habitat seperti ini membuat Gallus varius tidak perlu bergerak terlalu jauh untuk mendapatkan makanan, air, shelter dan cover.

5.2.3 Ekologi perilaku makan

Perilaku makan ayam hutan hijau (Gallus varius) adalah kegiatan yang dilakukan Gallus varius untuk mendapatkan makanan. Dalam mendapatkan makanan Gallus varius melakukan berbagai macam gerakan tertentu sehingga diperoleh makanan yang diinginkan seperti berjalan, mengais, mematuk dan menelan makanan yang didapat.

Gallus varius melakukan perjalanan di habitatnya untuk mencari makanan dan perjalanan mencari makan ini sering dilakukan pada pagi dan sore hari pada saat matahari tidak terlalu terik. Pada pagi hari perilaku makan dilakukan sesaat setelah turun dari pohon tempat tidurnya antara pukul 06:00 WITA sampai

dengan pukul 11:20 WITA. Pada sore hari perilaku makan dilakukan setelah masa istirahat berakhir yaitu pada pukul 14:10 WITA sampai dengan menjelang matahari terbenam pukul 18:30 WITA. Demikian juga dari penelitian Arifinsjah (1987) yang menyatakan bahwa Gallus varius mempunyai dua periode makan yaitu pada pagi dan sore hari namun dengan waktu yang sedikit berbeda. Perilaku makan pagi dilakukan pukul 04:30 WIB sampai dengan 07:30 WIB, dan sore hari pada pukul 15:30 WIB sampai pukul 17:30 WIB.

Durasi makan pagi Gallus varius di tipe habitat hutan musim dekat aktivitas manusia, hutan musim jauh dari aktivitas manusia dan savana TNBB lebih lama dibandingkan dengan durasi makan di sore hari. Durasi perilaku makan ini diduga dipengaruhi oleh temperatur antara pagi dan sore hari, pada saat sinar matahari pagi hari yang tidak begitu panas menyebabkan Gallus varius lebih lama melakukan perilaku makan sebelum memulai untuk berlindung dari sinar matahari. Hal ini juga diduga dipengaruhi oleh kebutuhan akan makanan telah terpenuhi di pagi hari sehingga pada sore hari waktu yang diperlukan untuk mencari makanan lebih sedikit.

Pada saat mengais Gallus varius membentuk bekas kaisan menyerupai oval dan berdiameter antara 15-30 cm. Hasil kaisan hanya akan terlihat pada permukaan tanah yang berserasah dan permukaan tanah yang gembur saja. Hasil kaisan Gallus varius jantan memiliki bentuk yang lebih tidak beraturan dan relatif lebih lebar dibandingkan dengan hasil kaisan Gallus varius betina. Pernyataan ini juga didukung oleh penelitian (Arifinsjah 1987) yang menyatakan pejantan memiliki kemampuan untuk membuat hasil kaisan yang lebih besar dibanding dengan betina.

Tipe perilaku makan ayam hutan hijau dapat dibedakan menjadi tipe makan bergerak berpindah dan tipe makan pada titik tertentu berdasarkan frekuensi berpindahnya. Pemilihan tipe ini dipengaruhi oleh organisasi sosial Gallus varius. Gallus varius soliter cenderung makan dengan tipe makan pada titik tertentu karena tidak ada pembagian sumber makanan saat perilaku makan berlangsung. Gallus varius berkelompok lebih sering ditemui sedang melakukan perilaku makan bergerak berpindah untuk tetap mendapatkan cukup makanan sebab

perilaku makan dilakukan lebih dari satu individu Gallus varius di suatu lokasi ditemukannya makanan.

Selama siang hari yaitu selang antar dua periode makan, Gallus varius menuju lokasi istirahat dan didalamnya juga dilakukan kegiatan lainnya seperti mencari makanan tambahan di sekitar tempat istirahatnya. Makan yang dilakukan pada selang waktu ini merupakan aktivitas makan tambahan sedangkan perilaku makan utamanya pada pagi dan sore hari. Hal ini merupakan sebuah strategi untuk mendapatkan makanan yang lebih banyak.

Berdasarkan hasil uji chi-square frekuensi perilaku makan Gallus varius di tiga tipe habitat berbeda TNBB diperoleh bahwa perilaku makan tidak dipengaruhi oleh tipe habitat. Hal ini terjadi karena Gallus varius memiliki dua periode makan di pagi dan sore hari selama sehari yang dilakukan di berbagai tipe habitat.

Hasil berbeda diperoleh dari uji chi-square terhadap durasi perilaku makan bahwa perilaku makan di tiga tipe habitat Gallus varius TNBB dipengaruhi oleh tipe habitat. Lamanya waktu untuk mencari makan akan berbeda-beda tergantung tipe vegetasi yang menjadi habitat Gallus varius. Hal ini terjadi diduga karena masing-masing tipe habitat memiliki potensi pakan yang berbeda sehingga waktu yang diperlukan untuk mencari makanan akan berbeda.

Potensi pakan yang melimpah adalah di hutan musim dekat aktivitas manusia karena lebih banyak areal terbuka yang ditumbuhi rumput yang menjadi makanan Gallus varius. Tumbuhan bawah yang menjadi sumber makanan di hutan musim dekat aktivitas manusia memiliki kerapatan 40250 ind/ha. Jenis tumbuhan bawah yang ditemukan sebanyak 5 jenis. Jenis rumput yang ditemukan adalah jenis rumput santen (Oplismenus hirtellus) dengan kerapatan 10500 ind/ha.

Jenis pakan yang menjadi makanan Gallus varius adalah rumput duri (Bulbostylis capillaris), rumput pring-pringan (Pogonatherum crinitum), rumput merakan (Themeda arguens) dan rumput santen (Oplismenus hirtellus). Berdasarkan hasil pengamatan selama perilaku makan Gallus varius di tiga habitat berbeda, tidak ditemukan secara langsung mematuk ke arah bagian suatu tumbuhan. Gallus varius diduga memakan biji dari rumput yang telah jatuh ke tanah karena Gallus varius terlihat mematuk ke arah permukaan tanah yang

ditumbuhi rumput. Jenis biji rumput yang memiliki kemungkinan terbesar menjadi pakan Gallus varius adalah jenis rumput pring-pringan (Pogonatherum crinitum) karena ditemukan di dua tipe habitat.

5.2.4 Ekologi perilaku minum

Perilaku minum Gallus varius adalah rangkaian gerakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya akan air. Gerakan yang dilakukan dimulai dengan melakukan perjalanan untuk mencari, mencari posisi yang tepat untuk dapat memasukkan paruh ke air, mengangkat kepala dan meneguk air tersebut. Setelah mendapatkan lokasi minum Gallus varius akan mencari posisi yang tepat agar dapat dengan mudah memasukkan paruh ke air. Waktu yang diperlukan untuk sekali tegukan dan menengadahkan kepala dalam perilaku minum Gallus varius antara 2-10 detik dan antara setiap tegukan terdapat selang waktu selama 1-2 detik. Jumlah tegukan antara 2-5 tegukan dalam sekali mematuk ke air. Hasil yang sedikit berbeda diperoleh dari penelitian Arifinsjah (1987) menyatakan bahwa dalam sekali tegukan dan menengadahkan kepala, Gallus varius membutuhkan waktu 4-6 detik, selang waktu yang sama 1-2 detik dan jumlah tegukan antara 3-5 tegukan.

Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa frekuensi perilaku minum Gallus varius tidak dipengaruhi oleh tipe habitat. Hal ini terjadi karena selama satu hari Gallus varius memiliki sekali periode minum yaitu di siang hari yang terjadi di berbagai tipe habitat. Perilaku minum lebih sering ditemui di hutan musim dekat aktivitas manusia dibandingkan hutan musim jauh dari aktivitas manusia. Hal ini diduga disebabkan oleh jumlah tempat minum lebih banyak terdapat di hutan musim jauh dari aktivitas manusia sehingga Gallus varius tidak terkonsentrasi pada tempat minum tertentu. Pada habitat hutan musim dekat aktivitas hanya terdapat dua tempat minum saja sehingga terkonsentrasi pada tempat minum ini saja.

Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa durasi perilaku minum dipengaruhi tipe habitat. Hal ini diduga terjadi karena perbedaan jumlah tempat minum dan jarak tempat minum terhadap Gallus varius di kedua tipe habitat yang berada di hutan musim Tanjung Gelap, sehingga waktu perilaku minum lebih

beragam. Perilaku minum lebih sering ditemui di habitat hutan musim dekat aktivitas manusia sebanyak 8 kali dibandingkan dengan hutan musim jauh dari aktivitas manusia sebanyak 2 kali. Pada habitat savana semenanjung Prapat Agung tidak ditemukan Gallus varius sedang melakukan perilaku minum karena tidak ada sumber air apapun di habitat savana.

5.2.5 Ekologi perilaku bergerak

Gallus varius melakukan perilaku bergerak adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk menghindari gangguan yang mengancam kelangsungan hidupnya. Jika kondisi lingkungan sekitar yang dianggap aman oleh Gallus varius maka perilaku bergerak yang dilakukan berhubungan erat dengan

Dokumen terkait