• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PROFIL EKOSISTEM DAS CIDANAU

IV.2 EKOSISTEM DAS CIDANAU

Berdasarkan analisa GIS terhadap mosaik Citra Satelit Ikonos Tahun 2008 – 2010, Peta Penggunaan Lahan, Peta Kawasan Hutan dan pengamatan lapangan diidentifikasi bahwa pada DAS Cidanau terdapat 6 tipe ekosistem, yaitu ekosistem sungai air tawar, ekosistem buatan pemukiman, ekosistem buatan pertanian, hutan alam pegunungan, hutan tanaman dan rawa pegunungan.

Ekosistem sungai air tawar terdapat di hilir DAS Cidanau, dimulai dari Curug Betung sampai muara Sungai Cidanau. Pada ekosistem ini terdapat hewan air seperti ikan jungjulung, kadal, kodok, ular sawah, ikan cenang, ikan bayong/gabus, ikan lele, ikan sepat, ikan mujair, ikan nilem dan lain-lain Sedangkan tumbuhan air yang hidup pada ekosistem ini antara lain kirai, kayambang, eceng gondok, kangkung liar dan teratai. Pada ekosistem Sungai Cidanau terdapat bendung PT. KTI dan rumah pompa PT. KTI untuk mengambil air dari Sungai Cidanau yang kemudian airnya dialirkan melalui pipa ke Waduk Kerenceng di Kota Cilegon. Ekosistem ini sangat dipengaruhi oleh suplai air dari Cagar Alam Rawa Danau dan relatif aman dari gangguan manusia karena di tepi Sungai Cidanau belum banyak dihuni oleh manusia. Ekosistem buatan pemukiman merupakan ekosistem yang dibangun oleh manusia untuk tempat tinggal. Ekosistem ini tersebar merata di DAS Cidanau kecuali di Kawasan Cagar Alam. Ekosistem buatan pemukiman paling banyak terdapat di sepanjang Jalan Provinsi Pallima – Cinangka (PALKA). Ekosistem

Properties of DLHK Prov. Banten

Properties of DLHK Prov. Banten

ada di DAS Cidanau. Jenis tanaman yang ada di ekosistem buatan pemukiman biasanya tanaman pekarangan seperti jambu air, jambu batu, pepaya, mangga, rambutan, durian dan lain-lain. Sedangkan satwa yang terdapat di ekosistem pemukiman umumnya satwa yang sudah dibudidayakan seperti kambing, kerbau, kucing, anjing, burung, terkadang ditemukan kera ekor panjang dipelihara masyarakat.

Ekosistem buatan pertanian merupakan ekosistem terluas di DAS Cidanau. Terdapat 2 (dua) sub-ekosistem di ekosistem ini, yaitu sub-ekosistem kebun campuran dan sub-ekosistem lahan basah. Sub-ekosistem kebun campuran umumnya didominasi tanaman tahunan yang bernilai ekonomi tinggi seperti melinjo, cengkeh, durian, petai, jengkol, albasia, sobsi, kecapi. Satwa yang ditemui di sub-ekosistem kebun campuran antara lain: tando, babi hutan, ular tanah, dan berbagai jenis burung. Sub-ekosistem kebun campuran memegang peranan penting sebagai pengatur tata air (hidrologi) DAS Cidanau karena sub-ekosistem ini banyak terdapat di hulu DAS Cidanau.

Sub-ekosistem lahan basah merupakan ekosistem sawah dimana sebarannya paling banyak di bagian tengah DAS Cidanau di sekeliling Cagar Alam Rawa Danau. Bahkan berdasarkan data BKSDA Jawa Barat pada tahun 2013 luasan sub-ekosistem lahan basah yang merambah kawasan Cagar Alam Rawa Danau sebesar 851 Ha. Hal ini menjadi ancaman terhadap ekosistem rawa pegunungan yang dimiliki Cagar Alam Rawa Danau. Berbagai macam upaya telah dilakukan oleh BKSDA Jawa Barat untuk mencegah terjadinya perambahan tetapi sampai saat ini belum berhasil. DI sub-ekosistem lahan basah dibudidayakan tanaman padi varietas kewal, ciherang, IMPARI, mikongga. Pada sub-ekosistem lahan basah terdapat kawasan persawahan Cipatujah dimana di kawasan ini dibudidayakan varietas padi kewal Ciomas yang merupakan varietas lokal unggul dan memiliki keunggulan kualitas padi yang pulen dan rasanya yang enak walaupun masa tanamnya hampir 6 bulan. Ekosistem alam pegunungan tersebar di sebelah Utara DAS Cidanau yaitu pada Kawasan Cagar Alam Tukung Gede Timur dan Barat. Pada ekosistem ini tumbuh jenis-jenis pohon hutan alam seperti Kalapa tiung, Kalumpang, Kantung Semar, Kapinango, Karuembi, Kedoya, Kipasang, Kipacing, Karet Kebo, Kondang, Mamangguan dan Mara. Pohon-pohon tersebut jarang dibudidayakan oleh masyarakat di lahan kebun. Pada ekosistem ini menjadi habitat satwa liar seperti macan tutul, surili, babi hutan, trenggiling, musang, kera ekor panjang, tupai terbang/tando dan kucing kuwuk. Ekosistem ini masih relatif baik karena aksesibilitas ke lokasi ini masih rendah dimana kelerengannya yang terjal. Ancaman pada ekosistem ini terjadi pada Cagar Alam Tukung Gede Timur karena cagar alam ini berbatasan dengan Jalan

Properties of DLHK Prov. Banten

Properties of DLHK Prov. Banten

Provinsi Serang – Mancak. Di Desa Luwuk Kecamatan Gunungsari terdapat lokasi Panenjoan yang memiliki pemandangan yang indah untuk melihat Cagar Alam Rawa Danau dari ketinggian. Di lokasi ini banyak dikunjungi orang untuk menikmati pemandangan yang indah dan lahan disekitar Panenjoan banyak dikuasai oleh perorangan walaupun lokasinya berada di luar kawasan Cagar Alam Tukung Gede Timur.

Ekosistem hutan tanaman berada di hulu DAS Cidanau. Ekosistem ini dikelola oleh Perhutani KPH Banten. Jenis tanaman yang dibudidayakan oleh KPH Banten adalah mahoni. Ekosistem hutan tanaman ini mendapat ancaman dari masyarakat sekitar berupa perambahan. Perambahan yang dilakukan adalah masyarakat menanam tanaman hortikultura dan perkebunan seperti durian, jengkol, petai, kelapa, cengkeh dan tangkil. Seringkali ekosistem hutan tanaman memiliki kemiripan dengan sub-ekosistem kebun campuran karena tanaman mahoni yang dibudidaya oleh KPH Banten lebih sedikit dibanding tanaman lainnya.

Ekosistem rawa pegunungan berada di tengah Cagar Alam Rawa Danau. Ekosistem ini merupakan ekosistem satu-satunya di Pulau Jawa sehingga perlu dilindungi. Ekosistem ini menjadi habitat dari ikan lendi, ikan bayong, belut, lele, sepat, betik dan buaya. Tumbuhan yang ada di ekosistem rawa pegunungan antara lain gempol, kakasoan, pandan, laban, pakis rawa dan jejawai. Tumbuhan ini membentuk hutan rawa pegunungan yang rapat sehingga sulit dilalui manusia. Akses untuk mencapai ekosistem ini harus menggunakan perahu. Ancaman terhadap ekosistem ini adalah sedimentasi, perambahan untuk bercocok tanam padi, memancing/mencari ikan. Sedimentasi bersumber dari hasil erosi di hulu DAS Cidanau yang terangkut air. Walaupun kondisi kerapatan vegetasi di hulu DAS Cidanau relatif tinggi (>40%) tetapi sedimentasi tetap tinggi. Hal ini diduga karena jenis tanah di hulu DAS Cidanau mudah tererosi. Berdasarkan pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat hulu, parit-parit yang ada di kebun campuran semakin lama semakin melebar, hal ini membuktikan bahwa erosi terjadi tebing-tebing parit. Salah satu upaya pengendaliannya adalah dibuatkan cek dam/dam penahan sedimen untuk mengendalikan sedimen dan laju kecepatan aliran air di parit.

Properties of DLHK Prov. Banten

Properties of DLHK Prov. Banten

Gambar IV-6. Peta Sebaran Tipe Ekosistem DAS Cidanau

Luasan masing-masing tipe ekosistem yang berada di DAS Cidanau sebagaimana tabel berikut.

Tabel IV-8. Luas Tipe Ekosistem Di DAS Cidanau

NO TIPE EKOSISTEM LUAS (Ha) %

1 Air tawar 42,67 0,19 2 Buatan Pemukiman 999,69 4,45 3 Buatan Pertanian 15.723,82 70,06 4 Hutan Alam Pegunungan 1.388,17 6,18 5 Hutan Tanaman 1.558,59 6,94 6 Rawa Pegunungan 2.731,75 12,17

Dokumen terkait