BAB IV. PROFIL EKOSISTEM DAS CIDANAU
IV.3 KEADAAN SPESIES DAN GENETIK
IV.3.2 Jenis liar yang sudah diketahui nilai ekonominya (sudah
a. Daratan
Tumbuhan Lihat Lampiran 5 Satwa
Lihat Lampiran 6
Pemanfaatan satwa liar oleh masyarakat antara lain untuk jenis: Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Tringgiling (manis javanica), dan Babi Hutan. Selain itu, penduduk juga memanfaatkan kalong yang tidak teridentifikasi secara jelas jenisnya. Pemanfaatan terhadap satwa tersebut di atas tidak terlalu banyak. Umumnya, masyarakat memanfaatkannya sebagai sumber makanan, obat-obatan dan peliharaan.
Monyet Ekor Panjang umumnya digunakan oleh penduduk sebagai hewan peliharaan. Namun selain hewan peliharaan, money ekor panjang juga dipercaya untuk obat berbagai macam penyakit seperti campak, demam, penyakit dada dan panas. Untuk penyakit campak, penduduk umumnya menggunakan bagian otak yang diolah terlebih dahulu. Bagian otak juga dipercaya sebagai obat panas. Sedangkan penyakit demam, penyakit dada dan panas umumnya bagian yang dimasak
Properties of DLHK Prov. Banten
Tringgiling yang mulai terancam punah, oleh masyarakat umumnya hanya digunakan untuk konsumsi. Sebagian besar menyebutkan bahwa daging Tringgiling mirip dengan daging kambing baik tekstrur maupun rasanya. Bahkan sisik Tringgiling mampu mengobati penyakit hepatitis, tumor payudara dan disentri. Sisik tersebut umumnya disangrai kemudian dicampur dengan bahan-bahan lain sesuai jenis penyakitnya (Haryanto, 2006).
Babi hutan yang jumlahnya cukup melimpah di Cagar Alam Rawa Danau, umumnya digunakan penduduk untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Bahkan terdapat jadwal khusus perburuan babi hutan. Perburuan dilakukan secara rutin pada hari selasa dan sabtu. Hasil buruan digunakan untuk konsumsi, dijual dan kebanyakan digunakan sebagai makanan anjing penjaga. Mereka percaya jika anjing diberi makan daging babi hutan, maka anjing tersebut akan lebih ganas terhadap babi hutan yang sering merusak sawah dan perkebunan penduduk. Di Cagar Alam Tukung Gede juga terdapat tiga spesies mamalia penting, yaitu Macan Tutul, Kucing Kuwuk dan Surili.
Macan Tutul (Panthera pardus melas)
Macan Tutul/Javan Leopard (Panthera pardus melas) adalah hewan karnivora dari suku Felidae. Pada umumnya Macan Tutul mempunyai panjang 90-130 cm dan hampir separuhnya adalah ekor. Berat tubuh Macan Tutul dapat mencapai 60 kg. Namun ada pula catatan yang menyatakan bahwa beratnya dapai mencapai 90 kg. Dengan bentuk tubuhnya, memungkinkan Macan Tutul untuk memanjat, berlari cepat, melompat, berenang, berjalan dan menaklukan mangsanya sekalipun dalam keadaan gulap gulita.
Macan Tutul umumnya mempunyai bulu berwarna kecoklatan muda, atau kuning tua dengan bintik-bintik hitam kecoklatan berbetuk bunga roset yang tengahnya lebih gelap daripada warna dasarnya. Antara lain sub spesies
Properties of DLHK Prov. Banten
Macan Tutul terdapat berbagai variasi dalam warna dasar dan gambaran bercaknya. Macan Tutul dapat mengalami proses melanisme yaitu dominasi pigmen hitam pada bulunya sehingga seluruh tubuhnya berwarna hitam. Macan Tutul dengan warna hitam seluruhnya sering disebut Macan Kumbang. Sebaliknya, albanisme hampir tidak dikenal atau hanya satu atau dua kali ditemui.
Macan Tutul adalah hewan soliter. Macan Tutul jantan dan betina akan terlihat bersama-sama pada saat musim kawin. Umumnya Macan Tutul akan melahirkan setelah hamil selama 90 hingga 95 hari. Jumlah anak tiap kelahiran, bervariasi dari 2 sampai 5 ekor. Induk Macan Tutul memangsa Rusa, Kancil, Babi Hutan, Kera serta bangkai yang ditinggalkan binatang lainnya. Dalam keadaan terdesak, Macan Tutul seringkali memangsa ayam dan ternak di perkampungan penduduk. Dalam menangkap mangsa, Macan Tutul mempunyai perilaku unik yaitu akan membawa mangsanya naik ke atas pohon untuk menghindari predator lain. Macan Tutul termasuk ke dalam Appendix I CITES serta masuk ke dalam katagori Near Threatned dalam katagori IUCN, selain itu termasuk yang dilindungi dalam PP No. 7 Th 1999.
Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis)
Kucing Kuwuk/Meong Congkok/Leopard Cat (Prionailurus bengalensis) adalah binatang carnivora dari suku Falidae atau bangsa kucing. Pada umumnya Kucing Luwuk berwarna coklat kekuningan pucat dengan bintik hitam pada tubuh bagian atas sampai ke ekornya. Kucing Kuwuk biasanya akan melahirkan anak antara 2 hingga 3 ekor yang kemudian dirawat sang induk hingga berumur sekitar 5 bulan. Makanannya meliputi mamalia kecil dan serangga
Properties of DLHK Prov. Banten
Kucing Kuwuk hidup terrestrial, namun terkadang Kucing Kuwuk aktif di pepohonan kecil. Jenis ini umumnya aktif pada malam hari (nocturnal). Habitatnya adalah pada hutan-hutan baik primer maupun sekunder, perkebunan, bahkan dapat juga ditemukan di kebun-kebun. Kucing Kuwuk di Rawa Danau dapat ditemukan di hutan rawa sekitar resort dan hutan dataran rendah sekitar resort. Di hutan alam, beberapa tempat di hutan alam menunjukkan bahwa home range Kucing Kuwuk bertumpuk dengan Macan Tutul. Kucung Kuwuk kini termasuk ke dalam Appendix I CITES serta masuk katagori Least Concern atau konsentrasi rendah dalam katagori IUCN. Selain itu, Kucing Kuwuk juga dilindungi dalam PP No. 7 Th 1999.
Surili (Prebytis comata)
Surili/Grizzles Leaf Monkey (Prebytis comata) adalah salah satu jenis primata yang mempunyai bentuk dan warna yang khas. Pada umumnya warna bagian (dorsal) tubuh Surili dewasa berwarna hitam atau coklat tua keabuan. Pada bagian kepala sampai jambul berwarna hitam. Tubuh bagian depan (ventral) mulai dari bawah dagu, dada, perut, bagian dalam tangan, kaki dan ekor berwarna putih. Warna kulit muka dan telinga hitam pekak agak kemerahan, warna iris mata coklat gelap dan warna bibir kemerahan. Pada individu yang baru lahir, tubuhnya berwarna putih keperakan dengan garis hitam mulai dari kepala hingga ekor. Panjang tubuh individu jantan dan betina hampir sama yaitu antara 430-600 mm. Panjang ekor berkisar antara 560-720 mm. Berat tubuh rata-rata mencapai 6,5 kg.
Surili aktif disiang hari (diurnal) dan lebih banyak melakukan aktivitasnya pada bagian atas dan tengah dari tajuk pohon (arboreal). Kadang-kadang jenis primata ini juga turun ke dasar hutan untuk memakan tanah. Pada saat anggotannya turun ke lantai hutan, pimpinan kelompok akan terlihat
Properties of DLHK Prov. Banten
mengawasi dengan waspada. Pada malam hari kelompok Surili tidur saling berdekatan pada ketinggian sekitar 20 meter di atas permukaan tanah. Surili jarang menggunakan pohon sebagai tempat tidur yang sama dengan hari sebelumnya.
Surili termasuk jenis primata yang banyak mengkonsumsi daun muda atau kuncup daun sebagai makanannya. Bila dilihat komposisi makanan yang dikonsumsi Surili, 64% dari makanannya adalah daun muda, 14% buah dan biji, 7% bunga dan sisanya berupa serangga, jamur dan tanah. Di samping itu jenis tumbuhan yang menjadi makanan Surili juga sangat beragam. Beberapa hasil penelitian memperlihatkan bahwa Surili mengkonsumsi lebih dari 75 jenis tumbuhan yang berbeda. Satwa ini dilindungi oleh perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yaitu PP No. 7 Th 1999. b. Perairan Tumbuhan Lihat lampiran 7 Satwa Lihat Lampiran 8
IV.3.3 Jenis yang sudah dibudidayakan (keanekaragaman, persebaran)