• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reaksi Siklisasi Sitronelal

3. Eksperimen Sintesis Al-MCM-41

Sampel Al-MCM-41 (Si/Al = 15, 25, 50, dan 75) disintesis secara hidrotermal dengan komposisi mol gel SiO2 : xAl2O3 : 0.2CTAB : 0.89H2SO4 : 120 H2O (x = bervariasi sesuai dengan rasio Si/Al). Sodium metasilikat dan aluminium sulfat digunakan sebagai sumber Si dan Al. CTAB digunakan sebagai template. 8.572 g CTAB dilarutkan dalam 65 ml aquademin selama 30 menit (larutan A). 14.956 g sodium metasilikat dilarutkan dalam 116 ml aquademineralisasi selama 30 menit (larutan B), dan sejumlah tertentu aluminium sulfat dilarukan dalam 70 ml aquademineralisasi (larutan B). Larutan B ditambahkan kedalam larutan A dengan cara ditetesi, setelah 1 jam kemudian ditambahkan larutan C dengan cara yang sama. Campuran diaduk secara terus meneru dengan 250 rpm selama 1 jam. Setelah terbentuk gel, pH diturunkan dengan menambahkan 2 M H2SO4 sampai pH 10.5 dengan pengadukan konstan selama 2 jam. Kemudian suspensi dimasukkan ke dalam botol polipropilen dan dipanaskan pada udara oven 100 °C selama 144 jam. Setelah itu sampel didinginkan pada suhu kamar dan disaring, dicuci dengan aquademin dan dikeringkan semalam pada suhu 100 °C. Sampel kemudian dikalsina si pada suhu 550 °C selama 6 jam.

Pertukaran Ion (Ion exchange)

1,4 g Al-MCM-41 diaduk perlahan dengan 40 mL 0,5 M NH4NO3 pada suhu 60oC selama 8 jam. Selanjutnya, padatan disaring, dicuci dengan aqua DM dan dikeringkan pada suhu 100oC selama 5 jam. Pertukaran ion diulang sampai empat kali. Kemudian padatan yang diperoleh dikalsinasi pada suhu 550oC selama 5 jam. Hasil yang diperoleh dikarakterisasi dengan XRD, FT-IR, FT-IR–piridin dan adsorpsi- desorpsi nitrogen.

Karakterisasi Katalis

Sampel Al-MCM-41 dan H-Al-MCM41 (semua rasio) di analisi fasanya dengan XRD.

Sinar-X dengan sumber sinar CuKα (λ = 1,5405) pada 40 kV dan 40 mA, difraktogram direkam pada 2θ = 1.5-10o, step 0,020o, dan waktu step 1 detik. Spektra IR katalis Al-MCM-41 dan H-Al-Al-MCM-41 direkam dengan Shimadzu Fourier Transform Infrared menggunakan teknik pelet KBr, 0.005 g sampel dicampur dengan 0.1 g KBr (Selvaraj, dkk 2005), kemudian digerus dan dibuat pelet dengan tekanan hidroulik sampai 2.5 ton.

Kemudian pelet dianalisis dengan FTIR simadzu dan direkam pada interval 4000-400 cm-1. Keasaman sampel dianalisis dengan menggunakan molekul piridin sebagai basa, sebanyak 10-15 mg sampel dimasukkan ke dalam sampel holder kemudian ditekan suhu 20 oC. Sifat thermal sampel dianalisis dengan sistem analisis termal Shimadzu DT-30 dibawah atmosphere N2 dengan laju aliran 40 mlmenit-1 menggunakan ~ 15 mg sampel.

Sampel dipanaskan pada interval temperatur 50-763 °C dengan laju pemanasan 10 °C menit

-1. Jumlah kandungan Al dan Si dalam Sampel Al-MCM-41 di analisis dengan teknik ICP-AES, larutan sampel dipreparasi dengan prosedur: sekitar 100 mg sampel terkalsinasi dilarutkan dalam campuran H2SO4/HF. Kelebihan asam dinetralkan dengan H3BO3 sebelum dianalisis.

Kemudian ditaruh pada flask volumetric standar. Kemudian dianalisis dengan ICP-AES.

Pengukuran adsorpsi-desorpsi N2 dilakukan pada 77 K menggunakan Sorptomatric 1990.

Sebelum adsorpsi, sampel dievakuasi pada 350 K selama 12 jam.Luas permukaan spesifik, ABET, ditentukan dari persamaan Brunauer-Emmett-Teller (BET).

AF-169 3. Hasil dan Pembahasan

Analisis Struktur dengan XRD

Gambar 1. Menunjukkan pola diffraksi sianr-X (XRD) dari sampel Al-MCM-41 sebelum dan sesudah kalsinasi. Pola XRD dari Al-MCM-41 sebelum kalsinasi menunjukkan sebuah puncak kuat dan tiga puncak tambahan dengan d-spacings yang sesuai dengan kisi heksagonal. Sedangkan pola XRD Al-MCM-41 setelah dikalsinasi pada temperatur 550 °C selama 6 jam, intensitas puncak XRD-nya meningkat dan tampak penambahan satu puncak baru (Gambar 1b). Penomena tersebut merupakan refleksi dari derajat keteraturan yang meningkat secara dramatis dengan hilangnya surfactan (CTAB). Hasil ini mengindikasikan bahwa Al-MCM-41 dengan derajat long range orderinng yang tinggi dan struktur heksagonal terbentuk dengan cukup baik. Dimana puncak tajam pada d[100] menandakan struktur heksagonal dari mesopori, dan pucak tambahan yang muncul pada refleksi [110], [200], [210]

dan [300] mengindikasikan keberadaan long range ordering struktur dan keteraturan struktur mesoporous (Palani, A., dkk. 2006).

Selain intensitas puncak yang meningkat setelah kalsinasi, terjadi juga pergeseran puncak (2θ) dan d-spaching. Nilai 2θ bergeser ke nilai yang lebih besar setelah kalsinasi mengindikasikan kontraksi dari kisi. Kontraksi kisi ini disebabkan oleh hilangnya molekul surfactan yang digunakan sebagai template dan selanjutnya kondensasi gugus silanol (Si-OH) (Azmi Bin Mohamed, 2005).

Sedangkan nilai d- spaching bergeser ke nilai yang lebih kecil (atau nilai 2θ yang lebih tinggi). Hal ini disebabkan oleh terjadinya pengurangan atau penyusutan unit cell sebagai akibat dari hilangnya molekul-molekut surfactan atau template (Sakthivel A., dkk.

2000). Pergeseran nilai d100-spaching ke nilai yang lebih rendah karena kalsinasi menyebabkan kondensasi gugus SiOH yang meningkatkan kontraksi dari unit sell (Beck, J.S.,dkk (1992), (Chen, C.-Y., dkk.1993), (Ryoo, R.,dkk. 1998), dan (Rabindran, J.B., dkk.

2005). Peningkatan intentensitas puncak yang signifikan setelah kalsinasi ini mengindikasikan bahwa terjadi reorganisasi atom selama penghilangan molekul surfactant pada proses kalsinasi (Chang, Z., dkk 1999).

Gambar 1. Pola Spektra XRD Al-MCM-41(75) (a) sebelum dikalsinasi dan (b) sesudah dikalsinasi

Tabel 1. Daftar nilai 2θ dan d-spaching (d(Å)) dari Al-MCM-41(75) sebelum dan sesudah kalsinasi

Katalis Sebelum Kalsinasi Sesudah Kalsinasi

hkl d(Å) d(Å)

100 2.165 40.768 2.311 38.200 110 3.746 23.567 3.949 22.356 200 4.324 20.420 4.563 19.350 210 5.650 15.628 6.003 14.710 Al-MCM-41

300 - - 6.745 13.093

Sementara itu, pola XRD (Gambar 2) dari kalsinasi Al-MCM-41 rasio Si/Al = 15, 25, 50, dan 75 menunjukkan lima puncak karakteristik yang dapat diindeksikan sebagai bidang

AF-170 kisi heksagonal [100], [110], [200], [210], dan [300] pada Al-MCM-41 (rasio Si/Al 25, 50, dan 75) dan tiga puncak pada Al-MCM-41 (rasio Si/Al = 15). Adanya puncak-puncak tersebut mengindikasikan bahwa pembentukan struktur heksagonal Al-MCM-41 telah terbentuk dengan cukup baik, sebaimana yang dinyatakan Back dkk (1992) bahwa keempat refleksi garis tersebut bisa diindeksikan berdasarkan pada unit cell heksagonal (a0 = 2d100/√3) sedangkan munculnya lima puncak menurut Jamal Hasan (2006) mengindikasikan long range ordering struktur MCM-41.

Selain jumlah puncak karakteristik dari pola XRD Al-MCM-41 (Gambar 2) tampak terjadi beberapa perubahan diantaranya: Intensitas puncak, 2θ (Tabel 2), d-spaching, dan parameter kisi (Tabel 3) dari struktur heksagonal mesoporous Al-MCM-41. Intensitas puncak berkurang secara teratur dari rasio Si/Al = 75, 50, 25, dan 15 seiring dengan bertambahnya jumlah logam Al yang terinkorporasi ke dalam framework MCM-41. Penurunan intensitas ini diikuti dengan pergeseran nilai 2θ ke arah yang lebih besar, sedangkan nilai d-spaching dan parameter unit sel (a0) bergeser kearah yang lebih kecil dengan bertambahnya loading aluminium (Tabel 2 dan 3). Dengan demikian substitusi isomorphous dari heteroatom (dalam hal ini logam Al) ke dalam framework molecular sieve menghasilkan perubahan parameter dan volume unit cell (Karuna Chaudhari, (2000).

Gambar 2. Pola XRD dari 41: (a) 41 (15), (b) 41 (25), (c) Al-MCM-41 (50) dan Al-MCM-Al-MCM-41 (75).

Tabel 2. Nilai 2θ dari Al-MCM-41 rasio Si/Al = 15, 25, 50, dan 75

Katalis 2θ hkl

Al-MCM-41

Rasio Si/Al (1 0 0) (1 1 0) (2 0 0) (2 1 0) (3 0 0)

15 2.405 4.121 4.749 - -

25 2.321 3.949 4.558 6.026 6.787

50 2.311 3.930 4.539 6.006 6.767

75 2.311 3.910 4.500 5.968 6.748

Tabel 3 Sifat tekstur katalis Al-MCM-41 dengan variasi rasio Si/Al

Katalis d100

-spaching (Å)

Parameter unit cell (a0) Al-MCM-1 (15) 2.405 36.706 42.386 Al-MCM-1 (25) 2.321 38.035 43.920 Al-MCM-1 (50) 2.311 38.199 44.110 Al-MCM-1 (75) 2.311 38.200 44.111

Pelebaran puncak diffraksi dan penurunan intensitas dengan meningkatnya kandungan Aluminium, kemungkinan disebabkan oleh perubahan sudut ikatan T-O-T dari Aluminium yang terinkorporasi sehingga terjadi distorsi (penyimpangan) pada long range ordering struktur mesopori heksagonal (Kresge, C.T., dkk. 1992) dan (Chen, X., dkk. 1997).

Ion logam Al yang terinkorporasi ke dalam struktur SiO2 akan membentuk kerangka

Al-AF-171 MCM-41, dimana jari-jari ion Al3+(0.39 Å) mempunyai ukuran yang lebih besar dari jari-jari ion Si4+ (0.26 Å) (Azmi, B.M, 2005). Oleh karena itu jumlah ion logam Al3+ yang terinkorporasi dalam MCM-41 dapat mempengaruhi regularitas struktur dan ukuran Al-MCM-41.

Meningkatnya jumlah loading atom Al mengakibatkan regularitas struktur Al-MCM-41 turun (bertambah amorf) karena dimungkinkan terjadi kerusakan parsial pada struktur heksagonal karena Si-O-Al terasosiasi tidak stabil dengan bertambahnya atom Al. Seperti yang dilaporkan oleh Robert dkk., (1997) bahwa dengan meningkatnya jumlah Al yang tergabung dalam framework MCM-41 dapat mengakibatkan kerusakan parsial pada struktur heksagonal yang disebabkan oleh terasosiasi tidak stabil dengan meningkatnya jumlah Al framework. Dan hal tersebut menurunkan regularitas struktur (Ribeiro dkk, 2006).

Walaupun demikian, dari spektra XRD pada Gambar 2. Masih menunjukkan puncak-puncak karakteristik heksaggonal MCM-41 dengan jelas, hal ini menunjukkan bahwa derajat long range ordering struktur Al-MCM-41 hasil sintesis cukup tinggi. Hanya dengan meningkatnya loading aluminium sedikit mengrangi regularitas struktur heksagonal MCM-41.

Pola difraktogram dari katalis H-Al-MCM-41 mengalami beberapa perubahan dibandingkan dengan pola difraksi Al-MCM-41, yaitu: Penurunan intensitas, berkurangnya jumlah puncak, pergeseran nilai 2θ ke arah yang lebih besar, penurunan harga d-spaching dan parameter unit sell, semuanya dirangkum dalam Tabel 4.

Gambar 3. H-Al-MCM-41 Hasil Sintesis

Tabel 4. Perbandingan Sifat tekstur katalis Al-MCM-41 dan H-Al-MCM-41

Al-MCM-41 H-Al-MCM-41

Rasio

Si/Al d100 -spaching

Parameter unit cell a0

(Å)

d100 -spaching

Parameter unit cell a0

(Å)

15 2.405 36.706 42.386 2.477 35.636 41.150

25 2.321 38.035 43.920 2.438 36.201 41.802

50 2.311 38.199 44.110 2.387 36.979 42.701

75 2.311 38.200 44.111 2.329 37.905 43.770

Perubahan-perubahan tersebut mengindikasikan bahwa terjadi perubahan orde atau keteraturan struktur heksagonal Al-MCM-41 setelah perlakuan pertukaran kation. Pertukaran ion akan mengakibatkan berubahnya atom Al terkoordinasi tetrahedral (AlO4) menjadi terkoordinasi lima (AlO5) dan atau terkoordinasi enam (AlO6), hal ini terjadi karena pada saat kalsinasi dari [NH4]Al-MCM-41 terjadi pertukaran NH4

+ dengan zat padat yang disertai dengan dealuminasi (Yongrui dkk., 2006). Pada saat kalsinasi dengan precursor NH4

+, Al tetrahedral tidak bisa dipertahankan koordinasinya dan berubah membentuk spesi 5-dan 6-koordinat. Spesies baru tersebut responsible terhadap sisi asam Lewis (Yongrui dkk., 2006).

Namun melihat besarnya perubahan tersebut (Tabel 4), hanya sedikit mengalami perubahan, baik intensitas, 2θ, d-spaching dan parameter kisis menunjukkan bahwa long range ordering struktur katalis Al-MCM-41 dan Al tetrahedral terassosiasi stabil sehingga

AF-172 sidikit mengalami kerusakan pada suhu kalsinasi setelah perlakuan pertukaran ion. Hal ini sesuai dengan pendapat Yongrui dkk., (2006), jika AlO4 tetrahedral tidak stabil pada suhu kalsinasi setelah pertukaran ion, maka AlO4 tetrahedral terkonversi ke bentuk spesi AlO5 dan atau AlO6 pada saat kalsinasi.

Profil TGA dari sampel Al-MCM-41 sebelum dikalsinasi ditunjukan oleh Gambar 4.

Kurva TGA di rekam secara kontinu sampai suhu 650 °C. Dari gambar spektra tersebut pengurangan berat dibagi tiga tahap. Tahap pertama terjadi pengurangan berat sampai suhu 184 °C sebesar (∆ω1) = 28.919%, pada tahap ini terjadi desorpsi dari air atau molekul etanol yang teradsorp secara fisik pada luar permukaan kristal atau occluded keberadaan makropori dan mesopori antara aggregat kristal. Tahap kedua, terjadi pengurangan berat sebesar (∆ω2)

= 42.171% antara suhu 184-288 °C merupakan pertanda penghilangan dari template organik (CTAB). Sedangkan pada tahap ketiga terjadi pengurangan berat sebesar (∆ω3) = 28.907%

antara suhu 288-450 °C. Pengurangan berat pada taha p ini berhubungan dengan penghilangan air dari kondensasi gugus silanol (Si-OH) yang berdekatan membentuk ikatan siloksan (siloxan) (Selvaraj M., dkk. 2005).

Gambar 4. Spektra TGA Al-MCM-41 tampa kalsinasi

Spektra FT-IR dari sampel Al-MCM-41 ditunjukkan oleh gambar 5. Gambar 5e merupakan gambar Al-MCM-41 sebelum dikalsinasi yang menunjukan adanya pita absorpsi di sekitar 2921, 2851 dan 1479 cm-1 sebagai pita asimetri dan simetri vibrasi CH2 dari molekul surfactan CTAB yang digunakan sebagai template (Helda Hamid, 2005).

Gambar 5. Spektra FT-IR dari: (a) Al-MCM-41(15), (b) Al-MCM-41(25), (c) Al-MCM-41(50), (d) Al-MCM-41(75), dan (e) uncal-Al-MCM-41(75).

AF-173 Di daerah pertengahan dari 400-1300 cm-1 mengandung vibrasi dari struktur framework Zeolit. Serupa dengan mesoporous molecular sieves juga menunjukan rangkaian pita karakteristik unit tetrahedral SiO4 dan modifikasinya dengan memasukkan ion logam.

Spektra IR dari vibrasi kisi Al-MCM-41 sebelum dan sesudah kalsinasi ditunjukan oleh gambar (Gambar 5) Tampak lima puncak utama dengan pita absorpsi pada daerah sekitar 1210-1245, 1034-1090, 949-970, 790-805 dan 440-477 cm-1, yang serupa dengan spektra silika amorp (Chen, X., dkk 1997), Chen, C-Y., dkk 1993). Vibrasi kisi T-O-T ditemukan bergeser ke bilangan gelombang lebih kecil untuk Al-MCM-41yang dimungkinkan karena inkorporasi Al kedalam dinding (walls) chanel, seperti ikatan Al-O lebih panjang daripada ikatan Si-O (Flanigen, E.M., dkk 1976).

Tabel 5. Vibrasi puncak karakteristik Struktur Al-MCM-41 dengan variasirasio Si/Al Katalis yang membuktikan adanya lima anggota cincin pada dinding (walls) struktur MCM-41. Pita ini menjadi berkurang intensitasnya dengan kalsinasi mengindikasikan kemungkinan terjadi penyusunan kembali dari dinding struktur pada perlakuan temperatur lebih tinggi (Chang, Z., dkk 1999). Pada simulasi untuk mempelajari dinamika molekul, Feuston dan Higgins (Feuston, B.P., dkk. 1994)melaporkan bahwa jumlah maksimum 5 anggota cincin dalam dinding MCM-41.

Pita didaerah 1034-1090 cm-1 adalah vibrasi stretching asymmetric dari kerangka SiO4 (TO4) tampak pita kuat pada spektra tersebut pada semua silika. Pelebaran pita ini setelah kalsinasi mungkin karena superimposition dari beberapa pita yang dapat menjelaskan TO4 muncul dari sudut T-O-T (T = Si atau Al) yang berbeda. Pada kasus silika amorp seperti silikat-1, dan TS-1 pita kuat teramati pada 1100 (±1) cm-1, sedangkan pada sampel Si-MCM-41 dan Al-MCM-Si-MCM-41, pita ini secara signifikan bergeser ke bilangan gelombang lebih rendah (1066 cm-1). Kemungkinan ini karena stretching dari ikatan Si-O dengan rantai panjang molekul surfactan yang membentuk micelles sekeliling spesi SiO4 mengalami kerusakan selama pembentukan mesoporous molecular sieves. Oleh karena itu, streching ikatan Si-O tidak teramati dalam kasus material microporos molecular sieves. Yang menarik, bahwa pita

~1066 cm-1 pada mesoporous molecular sieves ditemukan bergeser kearah bilangan gelombang lebih besar dengan penghilangan molekul surfactan selama kalsinasi. Ini dianggap bahwa terjadi kontraksi dari ikatan Si-O untuk mengambil tempat (takes place) selama kalsinasi, yang juga sesuai dengan hasil karakterasi XRD (Kresge, C.T., dkk. 1992).

Semua spektra IR menunjukan sebuah pita utama pada 970 cm-1(hasil sintesis bergeser ke ~955 cm-1). Koreksi interpretasi dari pita vibrasional ini memberikan studi intensif suatu bahan/material. Gambar 5. memperlihatkan bahwa dengan inkorporasi ion logam Al, intensitas dari pita ini secara garis besar meningkat. Pita ini secara umum dipertimbangkan sebagai bukti untuk inkorporasi dari hetere atom kedalam framework (Chamblor, M.A., dkk.

1993). Camblor dkk (1993). mengajukan bahwa pita pada 960 cm-1 disebabkan oleh vibrasi stretching Si-O dari adanya gugus Si-OH pada sisi defect. Vibrasi ini juga teramati pada Ti- dan V- yang mengandung silika molecular sieves (Thangaraj, A., dkk. 1991). Akan tetapi pita ini juga teramati pada Si-MCM-41, dengan demikian puncak ini tidak dapat menjadi bukti inkorporasi dari hetereatom ke dalam framework mesoporous melecular sieves (Karuna Chaudhari, (2000).

Substitusi silikon dengan aluminium menyebabbkan pergeseran pita vibrasi kisi ke bilangan gelombang lebih rendah. Pergeseran tersebut disebabkan oleh meningkatnya jarak rata-rata T-O (T = Si, Al) pada dinding. Hal ini karena substitusi dari atom silikon yang kecil (r Si4+ = 0.26 Å) dengan atom aluminium yang lebih besar (r Al3+ = 0.39 Å) (Azmi B.M, 2005).

AF-174 Spektra FT-IR dari H-Al-MCM-41 menunjukkan nilai serapan karakteristik pada daerah bilangan gelombang yang hampir sama dengan katalis Al-MCM-4, namun sedikit bergeeser ke arah bilangan gelombang lebih rendah. Gambar 6.

Gambar 6 Spektra FT-IR dari: (a) 41(15), (b) 41(25), (c) H-Al-MCM-41(50), dan (d) H-Al-MCM-41(75).

4. Kesimpulan

Dari hasil sintesis dan karakterisasi katalis Al-MCM-41 dan H-Al-MCM-41 dapat disimpulkan beberapa hal diantaranya:

1. Material Al-MCM-41 yang disintesis dengan metode hidrotermal 100 °C selama 144 jam berdasarkan hasil analisa XRD berhasil disintesis dengan derajat long rangge ordering struktur heksagonal yang tinggi, ditandai dengan intensitas dan jumlah puncak bidang kisi yang terobservasi.

2. Meningkatnya jumlah Al yang terinkorporasi seedikit menyebabkan perubahan struktur, ditandai dengan pergeseran nilai 2θ ke yang lebih besar, nilai d-spaching dan parameter unit cell bergeser ke nilai yang lebih kecil karena terjadi perubahan struktur karena substitusi Si4+ yang lebih kecil oleh Al3+ yang lebih besar.

3. Dengan perlakuan ion exchangge, pola XRD H-Al-MCM-41 sedikit berbeda dengan pola XRD Al-MCM-41, karena dengan perlakuan ion dimungkinkan terjadi cacat struktur, dealuminasi, dan atau perubahan AlO4 menjadi AlO6.

4. Hasil analisis FTIR menunjukan spektra karakteristik dari MCM-41, dan dengan meningkatnya jumlah kandungan Al yang berbeda terjadi pergeseran puncak karakteristik ke bilangan gelombang yang lebih kecil sebagai indikasii substitusi Si4+ (0.26 Å) oleh Al3+

(0.39 Å). Sebagai akibatnya: panjang ikatan T-O menjadi lebih panjang dan sudut T-O-T juga berubah.

Daftar Pustaka

Chen, C-Y, Hong-Xin Li dan Mark E. Davis, (1993), “Studies on Mesoporous Material I. Synthesis Mechanism of MCM-41”, Microporous Materials, Vol. 2, hal. 17-26.

Chen, C-Y, Sandra L. Burkett, Hong-Xin Li dan Mark E. Davis, (1993), “Studies on Mesoporous Material II. Synthesis Mechanism of MCM-41”, Microporous Materials, Vol. 2, hal. 21-34.

Chen, L.Y., Jaenicke S., Chuah G.K., (1997), ”Thermal and Hydrothermal Stability of Framework-Substituted MCM-41 Mesoporou Materials”, Mesoporou Materials, vol. 12, hal. 323-330.

Chuah, G. K., Liu, S. H., Jaenicke, S., Harrison, J., (2001), “Cyclisation of Citronellal to Isopulegol Catalysed by Hydrous Zirconia and Other Solid Acids”, Journal of Catalysis, Vol. 200, hal. 352-359.

Helda H, (2005), “Iron (III)-Porphyrin Immobilized on Mesoporous Al-MCM-41 and Polymethacrylic Acid as Catalysts for the Single-Step Synthesis of Phenol From Benzene”, A Thesis submitted in fulfilment of the requirements for the award of the degree of Master of Science (Chemistry), Faculty of Science Universiti Teknologi Malaysia.

Jamal H, (2006), “NMR Study of Exchange and Hydration Site Identification in MCM-41”, Thesis for the degree of Doctor of Philosophy in Physics, University of Waterlo.

Jentys, A., Kleestofer, Vinek, H., (1999), “Concentration of surface hydroxyl groups on MCM-41”

Microporous and Mesoporous Material, Vol. 27, hal. 321-328

AF-175

Karuna Chaudhari, 2000, ”Shyntesis, characterizatio and catalytic properties of mesoporous molecular sieves” Thesis for the degree of Doctor of Phylosophy, in chemistry. Catalysis Division National Chemical Laboratory PUNE-411008, India.

Pandurangan, A., Palani, A., (2006), “Esterification of Terephthalic Acid with Methanol Over Mesoporous Al-MCM-41 Moleculer Sieves”, Moleculer Catalysis A: Chemical, Vol. 245, hal.

101-105.

Rabindran, J., Pandurangan, A., (2005), “A Highly Effecient Catalyst for the Esterification of Acetic Acid Using n-butyl Alcohol”, Journal of Moleculer Catalysis A: Chemical, Vol. 237, hal. 146-154.

Poh, Ng Eng., Nur, H., Muhid, M.N.M., and Hamdan, H., (2006), “Sulphated AlMCM-41 : Mesoporous solid Bronsted acid catalyst for dibenzoylation of biphenyl”, Catalysis Today, Vol. 114, hal. 257-262.

Riberio, M.M.L., Conceicao, F.L., Lopes, J.M., Carrott, P.J.M., Bernardes, C., Rocha, J., Ramoa Ribeiro, F., (2006), “Comparative Study of Al-MCM Material Prepared at Room Temperature with Different Aluminium Sources and by Some Hydrothermal Methods”, Microporous and Mesoporous Materials, Vol. 92, hal. 270-285.

Robert, M., Jones, W., (1997), “Physicochemical Characterisation and Catalytic Activity of Primery Amine Templated Aluminosilicate Mespporous Catalysts”, Journal of Catalysis, Vol. 172, hal.

211-221.

Sakthivel, A., Dapurkar, S.E., Gupta, N.M., Kulshreshtha, S.K., Selvam. P., (2003), “The Influence of Aluminum sources on the Behaviour as Well as on the Catalytc Activity of Mesopori H-Al-MCM-41 Moleculer Sieves”. Mesopourous Material, Vol. 65, hal. 177-187.

Selvaraj, M., Lee, T.G., (2005a), “t-Butylation of Toluene with t-butyl Alkohol Over Mesoporous Zn-AlMCM-41 Molekular Sieves”, Microporous and Mesoporous Materials, Vol. 85, hal. 59-74.

Selvaraj, M., Lee T.G., (2005b), “Synthesis of 2- Acetyl-6- Methoxynaphthalene Using Mesoporous SO4

2-/AlMCM-41 Molecular Sieves”, Microporous and Mesoporous Materials, Vol. 81, hal. 343-355.

Thangaraj, A., R.Kumar, S.P. Mirajkar, and P. Ratnasamy, (1991). “Catalytic Properties of Crystalline Titanium Silicalites”, Journal of Catalysis, Vol. 130, hal.1-8.

Trasarti, A.F., Marchi, A.J., Apesteguia, C.R., (2007), “Design of Catalyst Systems for the one-pot Synthesis of Menthols from Citral”, Journal of Catalysis, Vol. 247, hal. 155-165.

Yongrui, W., Natacha, L., Alain T., (2006), “Nature and Acidity of Aluminum Spesies in AlMCM-41 with a High Aluminum Content (Si/Al = 1,25)”, Microporus and Mesoporus Material., Vol. 93, 46-54.

Camblor, M.A. J.P-rez-Pariente, and V. Forn-s, (1993), “Synthesis and characterization of gallosilicates and galloaluminosilicates isomorphous to zeolite Beta”, Instituto de Tecnologia Quimica, uPv-CSIC, Universidad Polid-cnica de Valencia, Valencia, Spain.

AF-176

Pengaruh Suhu Hidrotermal pada Sintesis Zeolit dari