• Tidak ada hasil yang ditemukan

-Harsasi Setyawati 1*, Hamami 2, Handoko Darmokusumo 3

* 031-5922427., [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengkarakterisasi senyawa koordinasi inti ganda besi(III)-fenantrolin menggunakan ligan jembatan CNS-. Senyawa koordinasi inti ganda ini disintesis dengan mereaksikan besi(III) dari senyawa (NH4)2Fe(SO4)2 ·12H2O, ligan fenantrolin serta ligan jembatan CNS- sesuai dengan perbandingan stoikiometri besi(III) : fenantrolin : CNS- = 2 : 4 : 1. Dari hasil sintesis ini diperoleh kristal berwarna coklat tanah dan dengan perbesaran 1000 kali diperoleh bentuk kristal jarum. Senyawa hasil sintesis ini akan dianalisis karakterisasinya dengan spektroskopi UV-VIS, Infrared (IR), X-Ray Diffraction (XRD), dan Magnetic Susceptibility Balance.. Dari hasil analisis spektroskopi UV-VIS diperoleh bahwa nilai panjang gelombang maksimumnya sebesar 466 nm dan 476 nm. Spektrum IR senyawa ini menunjukkan adanya serapan vibrasi Fe-N dari ligan fenantrolin pada daerah 339,4 cm-1, vibrasi ulur C=N dari ligan CNS- bebas muncul di daerah 2036,7 cm-1, vibrasi C=N dari ligan CNS- yang berinteraksi dengan besi muncul di daerah 848,6 cm-1, vibrasi ulur O-H dari ligan H2O muncul di daerah 3444,6 cm-1, dan serapan khas vibrasi logam-ligan muncul pada 424,3 cm-1. Spektrum XRD senyawa ini memberikan puncak yang tajam sehingga dapat dipastikan senyawa ini berbentuk kristal. Analisis dengan Magnetic Susceptibility Balance diperoleh harga momen magnet sebesar 2,82 BM dan dari ESR diperoleh dua spektrum yang berarti ada dua elektron tidak berpasangan pada senyawa ini.

Kata Kunci : Besi(III)-fenantrolin, ligan jembatan CNS-, Karakteristik.

1. Pendahuluan

Senyawa koordinasi adalah salah satu senyawa yang memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Senyawa ini terbentuk karena adanya ikatan antara ligan yang berperan sebagai donor pasangan elektron (basa lewis) dengan ion pusat (logam) yang berperan sebagai akseptor pasangan elektron (asam lewis). Dewasa ini perkembangan ilmu senyawa koordinasi semakin pesat.

Kajian dan penelitian tentang sintesis senyawa koordinasi juga semakin beragam.

Salah satunya adalah penelitian tentang senyawa koordinasi inti ganda dengan ion pusat logam transisi yang menggunakan ligan jembatan. Sebagai contoh adalah penelitian tentang spektroskopis senyawa koordinasi inti ganda [(NH3)5Ru(pyz)Ru[(NH3)]5+ yang disebut sebagai ” ion Creutz-Taube” dengan ligan gugus jembatan pirazin (Shriver D.F, et al, 1990). Pada tahun 1994 Bignozzi berhasil mensintesis senyawa koordinasi inti ganda dengan Ru(II) sebagai ion pusat dan 2,2’-bipiridin sebagai ligan bidentat serta ion sianida sebagai ligan gugus jembatan.

Sintesis senyawa koordinasi inti ganda Cr(III)-polipiridil dengan menggunakan ligan gugus jembatan 4,4-bipiridin dan pyrazin telah berhasil dilakukan (Rahadjeng, 1997). Sintesis senyawa polimer Fe(II) dengan ligan baru trans-4,4’-azo-1,2,4-triazole (atr) juga telah berhasil dilakukan. Setiap ligan atr menjadi jembatan diantara dua atom Fe(II). Senyawa kompleks Fe(II)-Fe(II) dengan ligan karboksilat yang halang rintangnya besar juga telah berhasil disintesis tanpa menggunakan khelat donor N (Hagadorn, J. R, et al, 1999). Senyawa kompleks Fe(II) -Cr(III) oksalat telah berhasil disintesis. Sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks polimer {MnIICrIII(C2O4)3][Fe(NH2-trz)3]Cl}.6H2O juga telah berhasil dilakukan (Jahro Iis dkk, 2005).

ISBN 978-979-95845-9-5 SEMINAR NASIONAL KIMIA

Surabaya, 28 Juli 2009

Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

AF-82 Dari penelitian-penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa kajian tentang senyawa koordinasi dengan ion pusat besi telah banyak dilakukan. Tetapi kajian tentang senyawa koordinasi inti ganda dengan ion pusat besi, ligan polipiridil dan ligan jembatan belum banyak dilakukan. Untuk menambah kajian tentang sintesis dan karakterisasi senyawa koordinasi inti ganda, maka pada penelitian ini akan dilakukan sintesis dan karakterisasi besi(III) dengan ligan fenantrolin dan ligan jembatan CNS-. Selain murah dan mudah didapat, ion besi (III) memungkinkan untuk membentuk senyawa oktahedral jika berikatan dengan 3 buah ligan polipiridil seperti 1,10-fenantrolin. Sistem oktahedral senyawa koordinasi dari logam besi(III) ini mudah untuk dipelajari dan dikaji karakteristiknya. Selain itu jika ditinjau dari konfigurasi elektronnya [Ar]3d54s0 , ion besi (III) ini memiliki 5 buah elektron yang tidak berpasangan, sehingga mudah dipelajari sifat kemagnetannya.

Karena kemampuannya membentuk khelat, diharapkan ligan 1,10-fenantrolin memiliki kemampuan membentuk senyawa koordinasi yang stabil dengan ion pusat. Ligan ini merupakan ligan bidentat karena mampu menyumbangkan dua pasang elektron bebasnya.

Contoh ligan bidentat lainnya adalah 2,2 bipiridin, oksalat, etilendiamin, dan lain sebagainya (Huheey, 1978). Ligan 1,10-fenantrolin ini memiliki kekuatan ligan yang relatif besar dibanding ligan bidentat lainnya. Sehingga diharapkan senyawa koordinasi yang terbentuk relatif stabil.

Ligan CNS- merupakan ligan jembatan yang dapat berikatan dengan dua buah ion logam dalam satu molekul. Contoh ligan jembatan lainnya adalah pirazin, CN-, NO2

-, ONO-,dan 4,4 bipiridin. Keunggulan dari penggunaan ligan CNS- ini adalah murah dan mudah didapat.

Pada umumnya senyawa koordinasi yang terbentuk dari ligan ini akan memberikan larutan yang berwarna sehingga mudah dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer UV-VIS.

Adanya ligan gugus jembatan ini memungkinkan terbentuknya senyawa koordinasi inti ganda (polinuclear complex) dan memungkinkan terbentuk senyawa koordinasi berantai yang dikenal dengan molekul supra (Miessler, 1991).

Untuk itu pada penelitian ini akan dipelajari sintesis dan karakterisasi senyawa koordinasi inti ganda dengan menggunakan ion logam besi(III) dengan ligan 1,10-fenantrolin dan ligan gugus jembatan CNS- sehingga bisa mendukung perkembangan ilmu senyawa koordinasi terutama senyawa koordinasi inti ganda.

2. Eksperimen

Bahan-bahan kimia yang digunakan pada penelitian ini berderajat kemurnian pure analysis (pa) yaitu: 1,10-fenantrolin monohidrat (C12H8N2.H2O) disingkat phen; kalium tiosianat (KCNS); (NH4)2Fe(SO4)2 ·12H2O, etanol absolut (C2H5OH); asam nitrat pekat (HNO3) dan akubides (H2O). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Spektrofotometer UV- VIS Beckaman DU 7500, Spektrofotometer Simadzhu, Jasco FT-IR 5300 Spektrofotometer, X-ray Diffractometer Jeol JDX-3530, Magnetic Susceptibility Balance, timbangan analitis Metler AE 200, hot plate, penyaring vakum, kertas saring Whatman dan peralatan gelas.

Pada penelitian ini akan disintesis tiga senyawa kompleks yaitu senyawa koordinasi awal Fe:phen, senyawa koordinasi intermediet Fe: phen: CNS dan senyawa koordinasi inti ganda Fe: phen: CNS.

Penentuan panjang gelombang maksimum senyawa koordinasi

Panjang gelombang maksimum senyawa koordinasi awal ditentukan dengan mereaksikan larutan phen dan larutan Fe(III) dengan perbandingan mol phen dibuat berlebih agar semua Fe(III) dapat bereaksi dengan phen dan ditambahkan akuabides sampai volume mencapai 10 mL. Sedangkan senyawa koordinasi intermediet dan senyawa koordinasi inti ganda ditentukan dengan mereaksikan larutan Fe(III): phen : CNS dan ditambahkan akuabides sampai volume mencapai 10 mL. Semua larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 380-700 nm.

Penentuan Stoikiometri Senyawa Koordinasi

Penentuan stikiometri senyawa koordinasi dilakukan dengan metode perbandingan mol (Metode Job). Untuk senyawa koordinasi awal, pada labu ukur 10 mL dimasukkan larutan Fe(III) dengan konsentrasi tertentu dan volume tetap kemudian ditambahkan larutan phen konsentrasi tertentu dan volume tertentu secara bertahap dan diencerkan dengan akuabides sampai tanda batas ukur, sehingga pada perbandingan mol tertentu menunjukkan terbentuknya spesi-spesi senyawa koordinasi. Untuk senyawa koordinasi intermediet dan senyawa koordinasi

AF-83 inti ganda, pada labu ukur 10 mL dimasukkan larutan Fe(III) dan phen dengan konsentrasi tertentu dan volume tetap kemudian ditambahkan larutan CNS konsentrasi tertentu dan volume tertentu secara bertahap dan diencerkan dengan akuabides sampai tanda batas ukur, sehingga pada perbandingan mol tertentu menunjukkan terbentuknya spesi-spesi senyawa koordinasi.

Sintesis Senyawa Koordinasi Sintesis Senyawa Koordinasi Awal

Pada pengerjaan 2.2 diperoleh stoikiometri senyawa koordinasi awal Fe(III) : phen= 1 : n. Dengan dasar perbandingan mol tersebut, maka disintesis kristal [Fe(phen)n]3+ (Szafran Z., et al., 1991). Garam feri ammonium sulfat dodekahidrat NH4Fe(SO4)2.12H2O padat dan ligan phen padat ditimbang dengan perbandingan mol Fe(III) : phen = 1 : n. Garam feri ammonium sulfat dodekahidrat NH4Fe(SO4)2.12H2O padat dilarutkan dalam akuabides sedikit demi sedikit sampai larut kemudian ligan phen padat ditambahkan dalam larutan tersebut dan ditambah dengan 5-10 ml akuabides. Larutan diaduk dan dipanaskan ± 80 °C(jangan sampai larutan mendidih) sampai benar-benar larut. Larutan tetap diaduk dan dipanaskan sampai volume larutan sisa sepertiganya dan terjadi perubahan warna larutan. Larutan didinginkan beberapa jam agar terbentuk kristal yang sempurna. Selanjutnya kristal disaring dengan kertas whatman dan dicuci berulang-ulang dengan etanol. Kristal dikeringkan pada temperatur ruang. Agar kristal dapat dianalisis maka kristal direkristalisasi dahulu, dengan melarutkan dalam akuabides sedikit demi sedikit sampai semua kristal larut (dipanaskan bila belum larut). Selanjutnya larutan disaring dengan kertas whatman, sisa larutan dalam beker gelas didiamkan pada temperatur ruang sampai terbentuk kristal kembali. Kristal disaring dengan kertas whatman dan dicuci berulang-ulang dengan etanol, kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. Kristal yang telah kering ditempatkan dalam eksikator untuk selanjutnya dianalisis (Bignozzi C.A., et al., 1994).

Sintesis Senyawa Koordinasi Intermediet

Analog dengan sintesis senyawa koordinasi awal senyawa koordinasi intermediet disintesis dengan perbandingan stoikiometri Fe(III): phen: CNS- = 1: n´: m. Dengan dasar perbandingan mol tersebut, maka disintesis kristal [Fe(phen)n’(CNS-)m]2+ (Szafran Z., et al., 1991). Garam NH4Fe(SO4)2.12H2O padat, ligan phen padat dan ligan CNS- padat ditimbang dengan perbandingan mol Fe(III) : phen: CNS- = 1: n´: m. Garam NH4Fe(SO4)2.12H2O padat dilarutkan dalam akuabides sedikit demi sedikit sampai larut, kemudian ligan phen padat dengan perbandingan 1: n´ ditambahakan ke dalam larutan tersebut, kemudian ditambah dengan akuabides ± 5 ml. Campuran ini dipanaskan ± 80 °C (jangan sampai larutan mendidih), selanjutnya ditambahkan ligan gugus jembatan CNS- padat ke dalam larutan tersebut hingga perbandingan mol Fe(III) : phen: CNS- = 1: n´: m. Ketiga senyawa tersebut diaduk (jika belum larut sempurna bisa ditambahkan sedikit akuabides) dan dipanaskan ± 80 °C (jangan sampai larutan mendidih). Proses selanjutnya analog dengan sintesis senyawa koordinasi awal.

Sintesis Senyawa Koordinasi Inti Ganda

Berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu pada senyawa koordinasi inti ganda [(phen)2(H2O)Cr(CNS-)Cr(H2O)(phen)2]6+ diketahui bahwa dua buah ligan gugus jembatan CNS- mampu menggantikan sebuah ligan bidentat phen pada senyawa koordinasi [Cr(phen)3]3+. Hal ini berarti hanya satu sisi koordinasi pada ligan gugus jembatan yang berikatan dengan ion atom pusat Cr(III), sedangkan sisi koordinasi yang lain masih bebas dan sisi koordinasi yang masih bebas ini dapat mengikat ion logam lain (Rahadjeng, 1997). Berdasarkan hal tersebut maka akan dilakukan sintesis senyawa koordinasi inti ganda dengan menggunakan logam Fe(III) yang memperlihatkan adanya dua buah sisi koordinasi ligan gugus jembatan CNS- yang terikat pada dua buah ion Fe(III) (Rahadjeng, 1997).

Garam NH4Fe(SO4)2.12H2O padat, ligan phen padat dan CNS- padat ditimbang dengan perbandingan mol Fe(III) : phen: CNS- = 2 : 2n´ : 1. Garam NH4Fe(SO4)2.12H2O padat dilarutkan dengan akuabides sedikit demi sedikit sampai benar-benar larut dan ligan phen padat dengan perbandingan 2 : 2n´ dicampur ke dalam larutan tersebut, kemudian ditambah dengan akuades ± 5 ml. Campuran ini diaduk dan dipanaskan ± 80 °C (jangan sampai larutan mendidih), selanjutnya ditambahkan ligan gugus jembatan CNS- padat ke dalam larutan tersebut hingga perbandingan mol Fe(III): phen: CNS- = 2 : 2n´ : 1. Ketiga senyawa tersebut dicampur, ditambah 5-10 ml akuabides dan dipanaskan ± 80 °C (jangan sampai larutan mendidih). Proses selanjutnya analog dengan sintesis senyawa koordinasi awal.

AF-84 Karakterisasi Senyawa Koordinasi

Semua senyawa koordinasi yang disintesis akan dikarakterisasi dengan Spektrofotometer UV- VIS Beckaman DU 7500, Spektrofotometer Simadzhu, Jasco FT-IR 5300 Spektrofotometer, X-ray Diffractometer Jeol JDX-3530, dan Magnetic Susceptibility Balance.

3. Hasil dan Pembahasan

Pada penelitian ini telah disintesis senyawa koordinasi inti ganda dari ion pusat besi(III) dan ligan phen dengan ligan jembatan CNS-. Proses sintesis senyawa koordinasi inti ganda ini melewati tiga tahap sintesis yaitu sintesis senyawa koordinasi besi(III)-phen yang merupakan senyawa awal kemudian sintesis senyawa koordinasi besi(III)-phen-CNS- yang merupakan senyawa intermediet dan yang terakhir adalah sintesis senyawa koordinasi inti ganda besi(III)-phen dengan ligan jembatan CNS-. Hasil penentuan stoikiometri senyawa koordinasi terlihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Penentuan Stoikiometri Senyawa Koordinasi

Senyawa Koordinasi Mol Fe(III) Mol phen Mol CNS

Awal 1 3 -

Intermediet 1 2 2

Inti Ganda 2 4 1

Hasil sintesis senyawa koordinasi diperoleh tiga kristal yang berbeda seperti pada gambar di bawah ini :

Senyawa koordinasi awal Senyawa koordinasi awal perbesaran 1000X

Senyawa koordinasi intermediet Senyawa koordinasi intermediet perbesaran 1000X

Senyawa koordinasi inti ganda Senyawa koordinasi inti ganda perbesaran 1000X .

Gambar 1. Senyawa Koordinasi dan Perbesarannya

Jika dilihat bentuk kristal perbesaran 1000X terlihat bahwa senyawa kordinasi awal dan senyawa koordinasi inti ganda berbentuk kristalin sedangkan senyawa intermediet berbentuk amorf. Hal ini didukung dengan peak-peak difraktogram senyawa koordinasi awal dan senyawa koordinasi inti ganda yang tajam sedangkan peak difraktogram senyawa koordinasi intermediet tidak tajam seperti pada gambar berikut :

AF-85 Difraktogram senyawa koordinasi awal Difraktogram senyawa koordinasi intermediet

Difraktogram senyawa koordinasi inti ganda Gambar 2. Difraktogram senyawa koordinasi

Hasil analisis senyawa koordinasi dengan spektrofotometri UV-VIS memberikan panjang gelombang maksimum seperti pada tabel berikut:

Tabel 2. Panjang Gelombang Maksimum Senyawa Koordinasi Senyawa Koordinasi λ maksimum (nm)

Awal 521

Intermediet 503

Inti Ganda 466 dan 476

Hasil analisis IR menunjukkan bahwa serapan untuk vibrasi Fe-N dari ligan fenantrolin muncul pada daerah bilangan gelombang antara 222-379 cm-1. Secara teoritis vibrasi Fe-N dari ligan fenantrolin akan muncul pada 222 cm-1 jika high spin dan 379 cm-1 jika low spin ( Nakamoto, 1978). Fenomena ini dapat dijelaskan bahwa ligan yang terikat pada masing-masing senyawa koordinasi tidak mutlak kekuatannya dalam menggeser ligan agar berpasangan untuk membentuk low spin atau high spin. Sehingga vibrasi Fe-N dari ligan fenantrolin muncul diantara daerah bilangan gelombang high spin dan low spin yaitu sebesar 320, 2 cm-1 untuk senyawa koordinasi awal , 351 cm-1 untuk senyawa koordinasi intermediet , 339,4 cm-1 untuk senyawa koordinasi inti ganda. Vibrasi ulur O-H dari ligan H2O yang terkoordinasi pada senyawa inti ganda terlihat jelas dengan ditandai adanya spektrum yang melebar di daerah bilangan gelombang 3444,6 cm-1. Vibrasi ulur C=C aromatis pada ketiga senyawa koordinasi hasil sintesis terlihat jelas dengan adanya spektrum yang tajam di daerah panjang gelombang 1650 – 1450 cm-1. Vibrasi ulur C=N ligan CNS- bebas hanya terlihat pada senyawa koordinasi intermediet dan senyawa koordinasi inti ganda yaitu ditandai dengan munculnya serapan di daerah bilangan gelombang 2140 – 2029 cm-1, sedangkan vibrasi C=N ligan CNS- yang terkoordinasi dengan logam besi muncul di daerah serapan yang lebih rendah yaitu di 850-800 cm-1. Hal ini dikarenakan vibrasi ligan CNS- yang sudah terikat dengan besi akan menjadi lebih lemah jika dibandingkan vibrasi ligan CNS- bebas, sehingga serapannya terjadi pada frekuensi yang lebih rendah. Serapan senyawa koordinasi awal dan senyawa koordinasi inti ganda terdapat serapan yang sama yaitu pada daerah bilangan gelombang 424,3 cm-1. Ini merupakan serapan yang khas yang dimiliki senyawa koordinasi dan berasal dari vibrasi logam-ligan.

AF-86 Hasil analisis sifat kemagnetan senyawa koordinasi ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 3. Hasil Momen Magnet Senyawa Hasil Sintesis

Senyawa Koordinasi Momen magnet (BM)

Awal 1,68

Intermediet 4,27

Inti Ganda 2,82

Berdasarkan data di atas terlihat bahwa senyawa awal [Fe(phen)3]3+ memiliki nilai momen magnet yang paling kecil. Hal ini dikarenakan pada senyawa ini ligan phen yang terikat termasuk ligan kuat karena kemampuannya membentuk khelat, sehingga jumlah elektron yang tidak berpasangan pada orbital d logam Fe yang seharusnya lima buah menjadi lebih sedikit karena didesak ligan untuk berpasangan. Nilai 1,68 BM mendekati nilai 1,73 BM yaitu nilai teoritis momen magnet untuk satu elektron yang tidak berpasangan.

Senyawa intermediet [Fe(phen)2(CNS)2]+ memiliki nilai momen magnet yang lebih besar yaitu sebesar 4,27 BM. Hal ini dikarenakan satu ligan phen yang terikat disubstitusi oleh ligan CNS yang kekuatan ligannya lebih lemah. Sehingga kekuatannya untuk mendesak elektron untuk berpasangan menjadi berkurang. Nilai momen magnet 4,27 BM mendekati nilai 4,90 BM yaitu nilai teoritis momen magnet untuk empat elektron yang tidak berpasangan.

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Senyawa koordinasi inti ganda besi(III)-fenantrolin dengan ligan jembatan CNS- dapat disintesis dengan mereaksikan besi(III) dari senyawa (NH4)2Fe(SO4)2 ·12H2O, ligan fenantrolin serta ligan jembatan CNS- sesuai dengan perbandingan stoikiometri besi(III) : fenantrolin : CNS- = 2 : 4 : 1.

2. Dari hasil sintesis ini diperoleh kristal berwarna coklat tanah dan dengan perbesaran 1000 kali diperoleh bentuk kristal jarum. Hasil analisis spektroskopi UV-VIS diperoleh nilai panjang gelombang maksimumnya sebesar 466 nm dan 476 nm. Spektrum IR senyawa ini menunjukkan adanya vibrasi Fe-N dari ligan fenantrolin, vibrasi ulur C=N dari ligan CNS -bebas, vibrasi C=N dari ligan CNS- yang berinteraksi dengan besi, vibrasi ulur O-H dari ligan H2O, dan vibrasi logam-ligan. Spektrum XRD senyawa ini memberikan puncak yang tajam sehingga dapat dipastikan senyawa ini berbentuk kristal. Analisis dengan Magnetic Susceptibility Balance diperoleh harga momen magnet sebesar 2,82 BM.

Daftar Pustaka

Balzani V., Juris A., Venturi M.,(1996), Luminescent and Redox-Active Polynuclear Transition Metal Complexes, Chem Rev., 96, 759-833.

Basolo, F and R.C Johnson., (1964), Coordination Chemistry, The Chemistry of Metal Complexes, W.A Benjamin Inc, California.

Bignozzi C.A., Argazzi R., Chiorboli C., Scandola F., Dryer R.B., Schoonover J.R., Meyer T.J.,(1994), Vibrational and Electronic Spectroscopy of Electronically Excited Polychromophoric Ruthenium (II) Complexes, Inorg.Chem., 33, 1652-1659.

Brisdon, Alan K., (1998), Inorganic Spectroscopic Methods, Oxford University Press Inc, New York Butler I.S., Harrod J.S., (1989), Inorganic Chemistry, Principles and Apllications, Benjamin/Cumings

PbI.Co.Inc, California.

De Vito, D., Weber, J., Merbach, A, E., Calculated Volume and Energy Profiles for Water Exchange on t2g Rhodium (III) and Iridium (III) Hexaaquaions :Conclusive Evidence for an Ia Mechanism.

Hagadorn J.R., et al., (1999), Conformational Tuning of Valence Delocalization in Carboxylate-Rich Diiron Complexes, American Chemical Society., 121, 9760-9761.

Hendayana, Sumar., dkk., Kimia Analitik Instrumen, Edisi Kesatu, IKIP Semarang Press, Semarang Huheey Y.E., (1978), Inorganic Chemistry, Principles of Structure and Reactivity, Second Edition., Harper

International Edition, New York.

Jahro Iis S., dkk., (2005), Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks Polimer {MnIICrIII(C2O4)3][Fe(NH2 -trz)3]Cl}.6H2O,Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.

Lever, A.B.P., (1984), Inorganic Electronic Spectroscopy, Second Edition, El Sevier Science B.V, Netherlands.

Martak Fahimah., dkk., (2005), Sintesis Kompleks Fe(II)-Cr(III) Oksalat, Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.

AF-87

Mickey C.D., (1981), Some Aspects of Coordination Chemistry, J.Chem.Educ., 58, 3, 257-262.

Miessler G.L., Tarr D.A., (1991), Inorganic Chemistry, Prentice-Hall International Inc: New Jersey.

Nakamoto K., (1978), Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination Compound, Third Edition., John Wiley and Sons Inc, New York.

O’Neil, Maryadete, J., (2001), The Merck Index, 13th edition, Published by Merck Research laboratories.

Rahadjeng S., (1987), Senyawa Koordinasi, Struktur, Teori dan Reaksi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Airlangga, Surabaya.

Rahadjeng S., (1997), Sintesis dan Karakteristik Senyawa Koordinasi Inti Ganda Krom (III) –polipiridil dengan Ligan Gugus Jembatan 4,4’Bipiridin dan Pyrazin, Tesis, Universitas Indonesia, Jakarta.

Shriver D.F., Atkins P.W., Langford C.H., (1990), Inorganic Chemistry, Oxford University Press, Oxford.

Silverstein R.M., Basller G.C., and Morril T.C., (1974), Spectroscopic Identification of Organic Compounds, John Wiley and Sons Inc, California.

Sukardjo., 1985, Kimia Koordinasi, Edisi Pertama, PT Bina Aksara, Jakarta.

Surdia, N.M., 1984, Difraksi Sinar X, LPPM ITB, Bandung.

Szafran Z., Pike R.M., Singh M.M., 1991., Microscale Inorganic Chemistry, A Comprehensive Laboratory Experience, John Wiley and Sons Inc, USA.

Tapolsky G., Duesing R., Meyer T.J., 1991, Solvent Control of Electronic Distribution in the MLCT Excited States of [(bpy)(CO)3Re’(4,4’-bpy)Re’(CO)3(bpy)]2+, J.Phys.Chem, 95, 1105-1112.

Van Holde K.E., 1990, Biochemistry, The Benjamin Cummings Publishing Company Inc, California.

Vogel A.I., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro, Edisi Kelima, Terjemahan oleh L.Setiono dan A. Hadyana P. Cetakan Kedua, PT.Kalman Media Pusaka, Jakarta.

AF-88

Peranan Asam Akrilat Terhadap Kompatibilitas Poliblen