IV. KONSTRUKSI DATA DASAR
4.4. Elastisitas dan Parameter Lain
Konstruksi data dasar dalam model CGE juga membutuhkan sejumlah koefisien elastisitas dan parameter behavioural. Parameter elastisitas yang dibutuhkan dalam membangun data dasar dalam penelitian ini terdiri dari elastisitas Armington, elastisitas permintaan ekspor, elastisitas substitusi input primer, elastisitas substitusi tenaga kerja, elastisitas pengeluaran, dan elastisitas upah. Sejumlah elastisitas tersebut dapat diperoleh dengan melakukan estimasi terhadap data time series dengan menggunakan model ekonometrika. Namun demikian, karena adanya keterbatasan estimasi koefisien elastisitas tidak dilakukan dalam penelitian. Koefisien elastisitas tersebut diadopsi dari GTAP (Global Trade Analysis Project) model.
4.4.1. Elastisitas Armington
Elastisitas Armington pada dasarnya merupakan suatu konsep yang mengukur derajat substitusi antara barang. Substitusi yang dimaksud adalah substitusi barang produksi domestik dan barang impor. Armington mengembangkan teori mengenai permintaan barang dalam aktivitas perdagangan
internasional. Dalam teorinya, Armington memperkenalkan asumsi bahwa produk yang diperdagangkan secara internasional dibedakan berdasarkan lokasi produksinya (differentiation of product). Artinya, dalam suatu negara setiap industri hanya menghasilkan satu produk dan produk ini berbeda dari produk industri yang sama dari negara lain. Bagi konsumen barang produksi domestik dan impor merupakan kelompok barang yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan dapat saling menggantikan (substitusi). Namun demikian, substitusi antara barang produksi domestik dan impor tersebut bersifat tidak sempurna. Derajat substitusi diantara kedua barang tersebut selanjutnya dikenal secara luas sebagai elastisitas substitusi Armington atau disingkat elastisitas Armington.
Elastisitas Armington pada model CGE Recursieve Dynamic
mendefinisikan data permintaan barang-barang domestik dan barang-barang impor. Dalam penelitian ini, elastisitas Armington seluruhnya mengadaptasi data pada model GTAP (Global Trade Analysis Project) dengan melakukan penyesuaian klasifikasi sektor dan industri 44 sektor. Seluruh data elastisitas Armington yang digunakan pada model CGE Recursieve Dynamic ditunjukkan pada Lampiran 4.
4.4.2. Elastisitas Permintaan Ekspor
Elastisitas permintaan ekspor menunjukkan respon permintaan komoditas ekspor terhadap perubahan harganya di pasar dunia. Berdasarkan konsep ini, permintaan ekspor (yang dinyatakan dalam ton) pada studi ini dianggap sebagai fungsi dari harga ekspor (dalam US$ per ton) tanpa memperhatikan variabel- variabel lainnya yang kemungkinan juga berpengaruh terhadap permintaan
ekspor berbagai produk seperti tingkat pendapatan masyarakat di negara partner dagang utama Indonesia.
Pada model CGE Recursive Dynamic ini, nilai-nilai elastisitas permintaan ekspor untuk 44 sektor mengadaptasi data pada database pada GTAP (Global
Trade Analysis Project). Karena adanya perbedaan klasifikasi sektor, maka dilakukan penyesuaian klasifikasi sektor dan industri menjadi 44 sektor. Seluruh data elastisitas permintaan ekspor yang digunakan pada model CGE Recursive
Dynamic ditunjukkan pada Lampiran 4.
4.4.3. Elastisitas Substitusi Faktor Primer
Faktor primer pada model CGE Recursive Dynamic terdiri atas tanah, tenaga kerja dan modal. Penggunaan ketiga faktor ini dalam proses produksi diasumsikan mengikuti fungsi produksi CES. Dengan fungsi produksi ini, antara satu faktor dan faktor lainnya saling bersubstitusi dengan koefisien elastisitas substitusi yang konstan dan nilainya sama untuk seluruh pasangan faktor. Besarnya nilai elastisitas ini akan menentukan responsivitas penggunaan input pada setiap sektor apabila terjadi perubahan biaya relatif suatu faktor terhadap faktor lainnya.
Pada sebagian besar studi, koefisien elastisitas faktor primer difokuskan pada dua input yaitu tenaga kerja dan stok modal. Hal ini disebabkan oleh dominannya kedua input tersebut dalam proses produksi pada hampir seluruh aktivitas ekonomi. Penggunaan faktor produksi lahan hanya dominan pada aktivitas produksi pertanian. Pada studi ini, elastisitas input primer juga difokuskan pada input tenaga kerja dan stok modal. Untuk mengestimasi koefisien elastisitas kedua input ini diperlukan data tenaga kerja beserta tingkat upah dan
data stok modal beserta sewa modal yang terperinci per komoditas. Keterbatasan ketersediaan data seperti ini menjadi kendala dalam melakukan estimasi elastisitas substitusi input primer di Indonesia. Dengan pola pertanian yang tidak terspesialisasi, sangat sulit memisahkan tenaga kerja per komoditi atau kelompok komoditi. Pada satu tahun tertentu seorang petani dapat bekerja dalam menghasilkan lebih dari satu jenis komoditi pertanian. Kesulitan yang sama juga ditemukan untuk data stok kapital tetap beserta nilai sewanya. Hal ini mengingat aktivitas pertanian umumnya dilakukan dalam skala kecil.
Selanjutnya pada penelitian ini, nilai-nilai elastisitas substitusi faktor primer menggunakan data pada model GTAP. Penyesuaian klasifikasi sektor dan industri menjadi 44 sektor dilakukan untuk menyesuaikan data dasar Tabel Input Output dan SNSE tahun terbaru (tahun 2005). Seluruh informasi elastisitas substitusi faktor primer yang digunakan pada model CGE Recusive Dynamic
ditunjukkan pada Lampiran 4.
4.4.4. Elastisitas Tenaga Kerja
Tenaga kerja dalam penelitian ini, seperti telah dikemukakan sebelumnya, diklasifikasikan kedalam dua kelompok yaitu: tenaga kerja tidak terdidik dan tenaga kerja terdidik. Tenaga kerja ini diasumsikan dapat saling bersubstitusi dalam proses produksi mengikuti fungsi CES. Derajat substitusi diantara tenaga kerja ini disebut sebagai elatisitas substitusi tenaga kerja. Hasil estimasi koefisien elastisitas ini untuk perekonomian Indonesia cukup sulit untuk ditemukan. Sebagian besar studi yang membangun atau menerapkan model CGE di Indonesia mengadopsinya dari studi-studi sebelumnya untuk negara lain. Pada konstruksi
data dasar model INDOF misalnya, Oktaviani (2001) menggunakan angka 0.5 untuk seluruh sektor penelitiaannya yang juga dipakai pada penelitian ini. Angka ini diperoleh dari studi Horridge et al. (1993) untuk model CGE perekonomian
Australia. Angka yang sama juga telah digunakan oleh Buetre (1996) untuk model perekonomian Filipina.
4.4.5. Elastisitas Pengeluaran
Elastisitas pengeluaran menunjukkan respon pengeluaran rumahtangga terhadap konsumsi berbagai jenis komoditi atas perubahan tingkat pendapatannya. Secara teoritis pola hubungan antara tingkat pendapatan dan pengeluaran konsumsi rumahtangga dipresentasikan oleh Hukum Engel yang menyatakan bahwa peningkatan pendapatan rumahtangga akan diikuti oleh peningkatan pengeluaran konsumsi. Namun proporsi pengeluaran konsumsi untuk produk pangan cendrung menurun, sementara proporsi pengeluaran untuk konsumsi produk non-pangan cendrung meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan rumahtangga. Berdasarkan konsep ini, rumahtangga yang tingkat penghasilannya relatif rendah pola konsumsinya akan dicirikan oleh proporsi pengeluaran untuk produk pangan yang lebih besar sehingga permintaan pangan pada kelompok rumahtangga ini akan bersifat relatif elastis. Sebaliknya, pada kelompok rumahtangga yang berpenghasilan lebih tinggi, justru permintaan produk non pangan yang akan bersifat relatif lebih elastis.
Estimasi koefisien elastisitas pengeluaran rumahtangga secara terperinci untuk keseluruhan kelompok rumahtangga terhadap berbagai jenis komoditas yang dikonsumsi, membutuhkan data dan informasi yang sangat banyak dan waktu yang cukup lama. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka pada penelitian
ini tidak dilakukan pengestimasian koefisien elastisitas pengeluaran rumahtangga. Untuk memenuhi keperluan penyusunan data dasar model CGE Recursive
Dynamic, koefisien elastisitas pengeluaran diambil dari data Susenas. Besarnya koefisien elastisitas pengeluaran menurut kelompok rumahtangga untuk keseluruhan komoditas yang diteliti, ditunjukkan pada Lampiran 5.
4.4.6. Elastisitas Upah
Elastisitas upah menunjukkan respon permintaan atau penawaran tenaga kerja terhadap perubahan tingkat upah. Di dalam model INDOF nilai elastisitas upah mengikuti nilai yang terdapat pada model ORANIGRD (Oktaviani, 2008). Nilai tersebut sebesar 0.5 untuk elastisitas tenaga kerja dan 1 untuk aktual/trend tenaga kerja.
4.4.7. Parameter Lainnya
Selain data untuk mengestimasi koefisien elastisitas, juga diperlukan data untuk mengukur beberapa parameter lainnya. Parameter-parameter tersebut terdiri dari parameter investasi, rasio antara kapital dan investasi, tingkat depresiasi faktor, tingkat pengembalian modal bersih, dan trend tenaga kerja. Seluruh parameter tersebut mengikuti besaran nilai yang digunakan di dalam model INDOF (Oktaviani, 2000).