• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VIII SIRKULASI DARAH

H. Elemen-Elemen Darah

Eritrosit mamalia tidak memiliki inti, dan pada manusia berbentuk cakram bikonkav dengan garis tengah 7,2 µm (gambar 13-4). Eritrosit dengan garis tengah yang lebih besar dari 9 µm dinamakan makrosit, dan yang mempunyai garis tengah kurang dari 6 µm dinamakan mikrosit. Bentuk bikonkav menyebabkan eritrosit mempunyai permukaan yang luas sehingga mempermudah pertukaran gas. Eritrosit manusia dapat hidup (life span) dalam sirkulasi sekitar 120 hari. Eritrosit yang tidak digunakan dibuang dari sirkulasi oleh sel-sel limpa dan sumsum tulang. Konsentrasi normal eritrosit dalam darah sekitar 4,5-5 juta/µL pada wanita dan 5 juta/µL pada pria. Eritrosit kaya akan hemoglobin. Molekul hemoglobin (suatu conjugated protein) terdiri atas 4 subunit, masing-masing mengandung gugus heme yang dihubungkan dengan suatu polipeptida. Gugus heme adalah suatu derivat porfirin yang mengandung besi dalam bentuk ferro (Fe 2+).

2. Leukosit

Berdasarkan granula (buitran-butiran) spesifik pada sitoplasmanya, sel-sel darah putih digolongkan dalam 2 kelompok: granulosit dan agranulosit.

Berdasarkan morfologi inti leukosit juga dapat dibagi dalam sel-sel polimorfonuklear dan mononuklear dipandang. Selain itu, mereka dapat digolongkan berdasarkan asal mula sebagai sel-sel mieloid atau limfoid, tergantung dari asalnya. Granulosit mempunyai bentuk inti tidak teratur, dalam sitoplasma terdapat granula spesifik yang dinamakan – neutrofil, eosinofil, basofil.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

49

Agranulosit mempunyai inti dengan bentuk teratur, sitoplasma tidak mempunyai granula granula nonspesifik, tetapi mungkin mempunyai granula-granula nonspesifik khas seperti granula azurofilik yang juga terdapat dalam leukosit lainnya. Tergantung pada bentuk intinya dan sifat pewarnaan sitoplasma, agranulosit dapat digolongkan sebagai limfosit atau monosit.

Leukosit berperanan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asing. Bila tersuspensi dalam sirkulasi darah mereka berbentuk sferis tetapi mampu berubah menjadi seperti amoeba bila menemukan substrat padat. Melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus ke dalam jaringan penyambung.

Jumlah leukosit dalam jaringan penyambung demikian banyak sehingga mereka dianggap merupakan komponen seluler normal jaringan tersebut.

Jumlah leukosit per mikroliter (µL) darah pada orang dewasa normal adalah 4-11 ribu.

3. Neutrofil

Neutrofil memiliki satu inti yang terdiri atas 2-5 lobus (bersegmen) biasanya 3 lobus satu sama lain saling dikaitkan oleh benang-benang halus kromatin. Neutrofil berperan didalam garis depan pertahanan seluler terhadap invasi kuman-kuman. Neutrofil mengfagosit partikel-partikel kecil dengan aktif, dan hal ini mungkin disebabkan spesialisasi membrannya untuk proses ini. Sel-sel yang tidak aktif berbentuk sferis, tetapi waktu beredar bentuknya berubah, dimana mereka bermigrasi dengan pseudopodia.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

50

4. Eosinofil

Eosinofil jumlahnya jauh lebih sedikit daripada neutrofil, hanya 1- 4%

leukosit dalam darah normal. Inti biasanya berlobus dua. Ciri khas eosinofil adalah adanya granula ovoid yang diwarnai merah oleh eosin (granula asidofilik). Eosinofil mampu melakukan gerakan amoeboid dan mampu melakukan fagositosis, walaupun fagositosisnya lebih lambat tetapi lebih selektif daripada neutrofil. Fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif terhadap kompleks antigen-antibodi. Infeksi oleh parasit.

5. Basofil

Jumlah basofil hanya 0-1% dari leukosit darah. Basofil mempunyai satu inti besar dengan bentuk pilinan ireguler, umumnya dalam bentuk huruf S.

Sitoplasma basofil terisi oleh granula-granula yang lebih besar daripada granula yang terdapat dalam granulosit lainnya. Granula-granula ini bentuknya ireguler. Dalam keadaan tertentu, basofil merupakan jenis sel utama pada tempat peradangan. Keadaan ini dinamakan hipersensitivitas kulit (alergi) basofil. Seperti granulosit lainnya, basofil mampu bergerak amoeboid dan melakukan fagositosis, walaupun dalam hal ini mereka tidak sangat aktif.

6. Limfosit

Limfosit merupakan sel sferis dengan garis tengah 6-8 µm, dikenal sebagai limfosit kecil. Sitoplasma limfosit kecil sedikit sekali, dan pada sediaan apus darah tampak sebagai lingkaran sekitar inti. Klasifikasi limfosit berdasarkan tanda-tanda molekuler khusus pada permukaan membran sel-sel tersebut.

Beberapa diantaranya membawa reseptor seperti imunoglobulin yang mengikat antigen spesifik pada membrannya yang tidak terdapat pada lainnya,

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

51

dan mereka juga menunjukkan perbedaan letak dan kelas imunoglobulin yang mereka kandung.

Terdapat pembagian fungsi limfosit. Sel-sel prekursor yang terdapat dalam sumsum tulang pada kehidupan fetus yang lanjut dan postnatal mampu mengadakan perbedaan dan menjadi sel-sel imunokompeten pada tempat-tempat di luar sumsum tulang. Pada burung, diferensiasi ini terjadi dalam 2 tempat yang berbeda : bursa Fabricius dan timus. Bursa Fabricius merupakan suatu massa jaringan limfoid dalam kloaka burung progenitor limfosit berdiferensiasi menjadi sel-sel plasma, yang menghasilkan antibodi – imunoglobulin – terhadap antigen spesifik. Mereka berperanan dalam kekebalan humoral tubuh. Limfosit-limfosit ini dinamakan limfosit B (bursa-dependent). Pada mamalia, bursa Fabricius tidak ada, tetapi sel-sel progenitor sumsum berdiferensiasi menjadi sel-sel B dalam daerah yang bursa equivalen, suatu daerah yang belum diketahui dengan pasti yang dihubungkan dengan saluran pencernaan atau dengan sumsum tulang itu sendiri.

Sel plasma dan sel memori yang dapat menghasilkan antibodi (immunoglobulin). Timus, “undifferentiated lymphosites” yang berasal dari sumsum tulang dirangsang menjadi sel-sel progenitor yang berfungsi dalam kekebalan seluler organisma. Limfosit-limfosit ini dinamakan limfosit T (Thymus dependent). Timus dan bursa ekuivalen pada mamalia dinamakan organ limfoid sentral, dan limfosit berdiferensiasi dalam daerah-daerah koloni organ tubuh lain ini di mana jaringan limfoid ditemukan berkapsul, difus, atau dalam bentuk organ. Dalam darah, sebagian besar limfosit adalah sel-sel T dan bertanggung jawab terhadap reaksi-reaksi imun yang diperantarai sel tidak

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

52

tergantung pada antibodi yang beredar bebas. Penolakan cangkokan adalah suatu contoh reaksi imun yang diperantarai sel. Pada jenis respon imun ini.

Limfosit T langsung mengikat sel-sel asing dan menghasilkan faktor-faktor yang bekerja pada cangkokan sel yang terdapat di sekitarnya.

Berdasarkan alasan ini, reaksi-reaksi yang diperantarai sel yang berlangsung bila limfosit T itu sendiri terdapat mengeluarkan faktor-faktor tersebut dalam lingkungan sekitarnya. Limfosit T memegang peranan penting dalam penentuan tipe dan jumlah antibodi yang dihasilkan oleh beberapa limfosit B. Limfosit B menimbulkan memory cells. Ini adalah limfosit yang sebelumnya telah terkena antigen tetapi tidak berdiferensiasi menjadi sel-sel plasma. Bila mereka kelak mengadakan kontak dengan antigen yang sama lagi, sel sel yang teraktivitas ini dengan cepat membelah beberapa kali secara mitosis dan menghasilkan sel-sel plasma yang mensintesis antibodi terhadap antigen. Memory cells menerangkan mengapa penyuntikan ke dua antigen diikuti oleh suatu pembentukan antibodi yang lebih tinggi dan lebih cepat daripada penyuntikan pertama. Memory cells juga berasal dari limfosit T, yang juga bereaksi dan proliferasi setelah kontak dengan suatu antigen yang sebelumnya mereka pernah berkontak. Ringkasnya, limfosit T dan B keduanya berperanan dalam immunologic memory.

7. Monosit

Agranulosit yang berasal dari sumsum tulang ini mempunyai garis tengah yang berkisar dari 9-12 µm. Inti oval, berbentuk tapal kaki kuda, atau berbentuk ginjal dan umumnya terletak konsentris. Sitoplasma monosit adalah basofilik dan sering kali mengandung granula azurofilik yang sangat halus,

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

53

sebagian diantaranya dalam batas-batas resolusi mikroskop optik. Granula-granula ini dapat tersebar di seluruh sitoplasma, memberikan warna abu-abu kebiru-biruan pada sediaan hapus yang diwarnai. Granula azurofilik monosit adalah lisosom. Aparatus Golgi yang berkembang dengan baik berperanan dalam sintesis granula-granula yang menyerupai lisosom terdapat dalam sitoplasma. Biasanya ditemukan mikrofilamen dan mikrotubulus pada daerah dekat identasi inti. Ditemukan banyak mikrovilli dan vesikel-vesikel pinositotik pada permukaan sel.

Monosit ditemukan dalam darah, jaringan penyambung, dan rongga-rongga tubuh. Mereka tergolong sistem fagositik mononuklear (sistem retikuloendotel) dan mempunyai tempat-tempat reseptor pada permukaan membrannya untuk imunoglobulin dan komplemen. Monosit beredar melalui aliran darah dan mampu menembus dinding kapiler, masuk ke dalam jaringan penyambung, dan berdiferensiasi menjadi sel-sel fagositik sistem makrofag 8. Trombosit

Kepingan darah (trombosit) adalah sel tak berinti, berbentuk cakram dengan garis tengah 2-5 µm. Keping darah berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Jumlah normal berkisar dari 150.000 – 300.000 µL darah. Sebagai indikator demam berdarah dengue (DBD). Setelah masuk aliran darah, kepingan darah mempunyai masa hidup sekitar 8 hari.

Fungsinya untuk penjendalan darah. Mekanismenya: Setelah pembuluh darah pecah, tombosit pecah dalam daerah cedera mengeluarkan granula yang mengandung serotonin. Serotonin akan menyebabkan mengakibatkan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

54

vasokonstriksi kontraksi otot polos vaskuler, menghambat atau menghentikan aliran darah dalam daerah cedera. Trombosit dengan mudah melekat pada kolagen yang terbuka pada tempat cedera dan, bersamaan dengan kerusakan sel-sel endotel, mengeluarkan enzim tromboplastin (trombokinase). Dalam suatu rangkaian reaksi, tromboplastin secara enzimatik mengubah protombin plasma menjadi trombin, yang selanjutnya mengubah fibrinogen menjadi fibrin.

Protrobin dan fibrinogen keduanya disintesis oleh hati dan dikeluarkan ke dalam darah. Setelah pembentukannya, fibrin berpolimerisasi menjadi matriks fibriler yang menangkap trombosit-trombosit dan sel-sel darah dan menimbulkan sumbatan hemostatik, dasar dari bekuan darah (trombus).

Trombosit juga mengeluarkan trombotenin, suatu protein kontraktil yang digabungkan dalam bekuan dan menyebabkan retraksi bekuan. Lisosom trombosit selanjutnya dapat memegang peranan dalam lisis bekuan setelah penyembuhan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

55

SISTEM PERSYARAFAN

A. Sistem Saraf

Sistem saraf adalah sistem kompleks yang berperan dalam mengatur dan mengoordinasikan seluruh aktivitas tubuh. Sistem ini memungkinkan Anda untuk melakukan berbagai kegiatan, seperti berjalan, berbicara, menelan, bernapas, serta semua aktivitas mental, termasuk berpikir, belajar, dan mengingat. Ini juga membantu Anda mengontrol bagaimana tubuh bereaksi dalam keadaan darurat.

Sistem saraf pada manusia terdiri dari otak, sumsum tulang belakang, organ-organ sensorik (mata, telinga, dan organ-organ lainnya), dan semua saraf yang menghubungkan organ-organ tersebut dengan seluruh tubuh. Sistem ini bekerja dengan mengambil informasi melalui bagian tubuh atau indera tertentu, memproses informasi tersebut, serta memicu reaksi, seperti membuat otot Anda bergerak, merasakan sakit, atau bernapas. Dalam menjalankan kerjanya tersebut, sistem saraf terbagi menjadi dua struktur atau susunan, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan saraf tepi terdiri dari saraf yang menghubungkan saraf pusat ke seluruh tubuh Anda. Adapun saraf tepi terbagi ke dalam dua susunan besar, yaitu saraf somatik dan otonom.

B. Anatomi Dan Bagian Sistem Saraf

Secara garis besar, terdapat tiga bagian pada sistem saraf pusat manusia.

Ketiga bagian tersebut adalah:

IX

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

56

1. Otak

Otak adalah mesin pengendali utama dari segala fungsi tubuh. Seperti yang disebutkan di atas, organ ini merupakan bagian dalam sistem saraf pusat manusia. Jika saraf pusat merupakan pusat kontrol tubuh, maka otak adalah markas besarnya.

Otak terbagi ke dalam beberapa bagian dengan fungsinya masing-masing.

Secara umum, bagian otak terdiri dari otak besar, otak kecil, batang otak, serta bagian-bagian otak lainnya. Bagian-bagian ini dilindungi oleh tengkorak dan selaput otak (meninges) dan dikelilingi oleh cairan serebrospinal untuk menghindari terjadinya cedera otak

2. Sumsum tulang belakang

Sama dengan otak, sumsum tulang belakang juga merupakan bagian dari susunan saraf pusat. Sumsum tulang belakang langsung terhubung ke otak melalui batang otak dan kemudian mengalir sepanjang ruas tulang belakang.

Saraf tulang belakang berperan dalam aktivitas sehari-hari dengan mengirimkan sinyal dari otak ke bagian lain dari tubuh dan memerintahkan otot untuk bergerak. Selain itu, sumsum tulang belakang juga menerima masukan sensorik dari tubuh, memprosesnya, dan mengirimkan informasi tersebut ke otak.

3. Sel saraf atau neuron

bagian tang tak kalah penting dari anatomi sistem saraf adalah sel saraf itu sendiri atau disebut neuron. Fungsi sel saraf atau neuron adalah menghantarkan implus saraf.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

57

Berdasarkan fungsinya, neuron terbagi ke dalam tiga jenis, yaitu neuron sensorik yang membawa pesan ke saraf pusat, neuron motorik yang membawa pesan dari saraf pusat, serta interneuron yang menghantarkan pesan di antara neuron sensorik dan motorik di saraf pusat.Setiap neuron atau sel saraf tersebut terdiri dari tiga bagian atau struktur dasar. Anatomi neuron tersebut, yaitu:

a. Badan sel, yang memiliki inti.

b. Dendrit, yang berbentuk seperti cabang dan berfungsi menerima situmulus dan membawa impuls ke badan sel.

c. Akson, yaitu bagian dari sel saraf yang membawa impuls keluar dari badan sel. Akson umumnya dikelilingi oleh mielin, yaitu lapisan padat berlemak yang melindungi saraf dan membantu pesan untuk keluar.

Pada saraf tepi, mielin ini diproduksi oleh sel Schwann.

Sel-sel saraf ini dapat ditemukan di seluruh tubuh dan berkomunikasi satu sama lain untuk menghasilkan respons dan tindakan fisik. Dilansir dari National Institues of Health, diperkirakan terdapat sekitar 100 miliar neuron di otak. Sel saraf ini termasuk dengan 12 pasang saraf kranial, 31 pasang saraf tulang belakang, dan di bagian lainnya.

C. Fungsi Saraf

Secara umum, sistem saraf pada manusia memiliki beberapa fungsi. Fungsi tersebut adalah:

1. Mengumpulkan informasi dari dalam dan luar tubuh (fungsi sensorik).

2. Mengirimkan informasi ke otak dan sumsum tulang belakang.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

58

3. Memproses informasi di otak dan sumsum tulang belakang (fungsi integrasi).

4. Mengirimkan informasi ke otot, kelenjar, dan organ sehingga dapat merespon dengan tepat (fungsi motorik)

D. Pembagian Sistem Saraf 1. Sistem Saraf Pusat

Sistem saraf pusat, yang terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, memiliki fungsi untuk menerima informasi atau rangsangan dari semua bagian tubuh, kemudian mengontrol dan mengendalikan informasi tersebut untuk menghasilkan respons tubuh. Informasi atau rangsangan ini termasuk yang berkaitan dengan gerakan, seperti bicara atau berjalan, atau gerakan tak sadar, seperti berkedip dan bernapas. Ini juga termasuk bentuk informasi lainnya, seperti pikiran, persepsi, dan emosi manusia.

2. Sistem Saraf Tepi

Secara garis besar, fungsi saraf tepi adalah menghubungkan respon sistem saraf pusat ke organ tubuh dan bagian lainnya di tubuh Anda. Saraf ini meluas dari saraf pusat ke area terluar tubuh sebagai jalur penerimaan dan pengiriman rangsangan dari dan ke otak. Masing-masing susunan saraf tepi, yaitu somatik dan otonom, memiliki fungsi yang berbeda. Berikut adalah penjelasan mengenai fungsi dari bagian-bagian sistem saraf tepi 3. Sistem saraf Somatik

Sistem saraf somatik bekerja dengan mengontrol semua hal yang Anda sadari dan secara sadar memengaruhi respon tubuh, seperti menggerakkan lengan, kaki, dan bagian tubuh lainnya. Fungsi saraf ini menyampaikan

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

59

informasi sensorik dari kulit, organ indera, atau otot ke sistem saraf pusat.

Selain itu, saraf somatik juga membawa respons keluar dari otak untuk menghasilkan respon berupa gerakan. Sebagai contoh, saat menyentuh termos panas, saraf sensorik membawa informasi ke otak bahwa ini adalah sensasi panas. Setelah itu, saraf motorik membawa informasi dari otak ke tangan untuk segera menghindar dengan menggerakkan, melepas, atau menarik tangan dari termos panas tersebut. Keseluruhan proses ini terjadi kurang lebih dalam waktu satu detik.

4. Sistem saraf otonom

Sebaliknya, sistem saraf otonom mengontrol aktivitas yang Anda lakukan secara tak sadar atau tanpa perlu memikirkannya. Sistem ini terus menerus aktif untuk mengatur berbagai aktivitas, seperti bernapas, detak jantung, dan proses metabolisme tubuh. Ada dua bagian dari saraf ini:

1. Sistem Saraf Simpatik

Sistem ini mengatur respons perlawanan dari dalam tubuh ketika ada ancaman diri Anda. Sistem ini juga mempersiapkan tubuh untuk mengeluarkan energi dan menghadapi potensi ancaman di lingkungan.

Misalnya, ketika Anda sedang cemas atau takut, saraf simpatik akan memicu respons dengan mempercepat detak jantung, meningkatkan laju pernapasan, meningkatkan aliran darah ke otot, mengaktifkan kelenjar produksi keringat, dan melebarkan pupil mata. Ini dapat membuat tubuh merespons dengan cepat dalam situasi gawat darurat

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

60

2. Sistem saraf Parasimpatis

Sistem ini gunanya menjaga fungsi tubuh normal setelah ada sesuatu yang mengancam diri Anda. Setelah ancaman berlalu, sistem ini akan memperlambat detak jantung, memperlambat pernapasan, mengurangi aliran darah ke otot, dan menyempitkan pupil mata. Ini memungkinkan kita untuk mengembalikan tubuh ke kondisi normal

E. Berbagai Penyakit Gangguan Saraf

Ada beberapa gangguan atau penyakit yang mungkin terjadi hingga mengganggu fungsi vital dari sistem saraf pada manusia. Berikut adalah macam-macam penyakit saraf tersebut:

1. Alzheimer

Penyakit Alzheimer adalah penyakit yang menyerang sel-sel otak dan neurotransmitter (bahan kimia yang membawa pesan di antara sel-sel otak). Penyakit ini memengaruhi fungsi otak, memengaruhi ingatan Anda, dan cara Anda berperilaku.

2. Parkinson

Penyakit Parkinson adalah gangguan yang terjadi ketika sel-sel saraf tidak menghasilkan cukup dopamin, yaitu bahan kimia yang sangat penting untuk kelancaran kontrol otot dan gerakan.

3. Multiple sclerosis

Multiple sclerosis adalah penyakit kronis yang memengaruhi saraf pusat.

Kondisi ini ditandai dengan adanya kerusakan pada selubung pelindung (mielin) yang mengelilingi serabut saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

61

4. Bell’s palsy

Bell’s palsy adalah kondisi lemah atau lumpuh tiba-tiba pada satu sisi wajah. Ini disebabkan karena adanya saraf di wajah Anda yang meradang.

Biasanya kondisi ini hanya sementara dan bisa pulih dalam jangka waktu tertentu.

5. Epilepsi

Epilepsi adalah kondisi yang ditandai dengan kejang yang berulang atau kambuhan. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan aktivitas listrik di otak

6. Meningitis

Meningitis merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang (meninges) mengalami radang. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri.

7. Ensefalitis

Ensefalitis merupakan penyakit infeksi yang ditandai dengan munculnya peradangan pada jaringan otak. Sama seperti meningitis, penyakit ini juga disebabkan oleh infeksi virus.

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

62

SISTEM PERKEMIHAN

A. Sistem Perkemihan

Sistem perkemihan adalah sistem organ yang memproduksi, menyimpan, dan mengalirkan urin. Pada manusia, sistem ini terdiri dari dua ginjal, dua ureter, kandung kemih, dua otot sphincter, dan uretra.Sistem perkemihan terdiri dari beberapa organ, seperti ginjal, renal pelvis, ureter,kandung kemih, dan uretra.

Sistem perkemihan berperan penting dalam kelangsungan hidupmanusia karena sistem ini berfungsi untuk menyaring darah dan menghasilkan urine

B. Fungsi Sistem Perkemihan

Sistem perkemihan berfungsi untuk menghasilkan urine dengan menyaring sisa pembuangan tubuh dan air berlebih dari darah. Urine kemudian akan disalurkan ke kandung kemih dengan melalui dua tabung tipis yang disebut ureter.

Ketika kandung kemih penuh, Anda akan membuang urine melalui uretra.Selain itu, sistem perkemihan dan ginjal juga berfungsi untuk menghilangkan cairan pembuangan yang disebut dengan urea, serta menjaga keseimbangan air, natrium, dan kalium. Urea sendiri diproduksi saat makanan yang mengandung protein dipecah dalam tubuh.Sistem ini akan bekerja sama dengan kulit, usus, dan paru-paru untuk menjaga keseimbangan tersebut. Orang dewasa akan mengeluarkan sekitar dua liter cairan per hari. Jumlah ini bergantung dengan jumlah cairan yang diminum dan yang keluar melalui keringat serta pernapasan.

C. Gangguan Kesehatan Pada Sistem Perkemihan

Gangguan kesehatan pada sistem kemih meliputi kelainan atau kondisi yang memengaruhi ginjal, ureter, dan kandung kemih. Beberapa contoh gangguan

X

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK (DIV) INSTITUT KESEHATAN MEDISTRA LUBUK PAKAM

63

sistem perkemihan, di antaranya kanker saluran kemih, ketidakmampuan mengontrol aliran urine, batu ginjal, gagal ginjal, hingga infeksi saluran kemih.

Gejala dan pengobatannya tergantung pada gangguan kesehatan tersebut. Berikut ini adalah beberapa penyakit yang berkaitan dengan sistem kemih.

1. Penyakit ginjal kronis

Ginjal merupakan organ utama dari sistem perkemihan. Gangguan terhadap organ yang satu ini akan memengaruhi kesehatan Anda.

Pada penyakit ginjal kronis, ginjal mengalami kerusakan dan tidak mampu menyaring darah dengan baik.Kerusakan ini dapat mengarah kepada pembentukan zat pembuangan dan masalah lainnya, termasuk gagal ginjal.

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Ginjal yang terkena kondisi ini akan memiliki permukaan yang kasar dan terlihat lebih kecil.Kerusakan ginjal umumnya permanen. Meski demikian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga ginjal tetap sehat.Contohnya dengan menjaga kadar gula darah, menjaga tekanan darah

Ginjal yang terkena kondisi ini akan memiliki permukaan yang kasar dan terlihat lebih kecil.Kerusakan ginjal umumnya permanen. Meski demikian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga ginjal tetap sehat.Contohnya dengan menjaga kadar gula darah, menjaga tekanan darah