II.2 Uraian Teoritis
II.2.6 Desain Komunikasi Visual
II.2.6.1 Elemen-Elemen Desain Grafis
Keindahan sebagai kebutuhan setiap orang, mengandung nilai-nilai subjektifisme. Pemahaman yang baik pada elemen-elemen atau unsur-unsur desain grafis adalah wajib. Dalam penciptaan sebuah pesan komunikasi visual, banyak elemen penting yang harus diperhatikan. Elemen tersebut adalah Garis, Bentuk, Ruang, Tekstur, dan Warna. Berikut adalah penjelasannya:
1. Garis
Dalam desain grafis, garis dibagi menjadi 4, yaitu: vertikal, horisontal, diagonal dan kurva. Selain digunakan sebagai penunjuk bagian-bagian tertentu dengan tujuan sebagai penjelas kepada pembaca, garis juga digunakan untuk memisahkan posisi antara elemen grafis lainnya, atau garis bisa diterapkan untuk menunjukkan arah mata pembaca.
Model dan tingkat ketebalan garis juga mempengaruhi psikologi komunikan. Penekanan pada sebuah karya visual juga dapat menggunakan garis sebagai alatnya. Misalnya, sebuah garis putus-putus digunakan untuk menunjukkan alur, dan perpaduan garis horisontal diagonal bisa digunakan untuk penekanan.
2. Bentuk
Menurut Sony Kartika, bentuk adalah suatu bidang yang terjadi karena dibatasi oleh sebuah kontur (garis) dan atau dibatasi oleh adanya warna yang berbeda atau oleh gelap terang pada arsiran atau karena adanya tekstur. Bentuk bisa berupa wujud alam (figur) yang tidak sama sekali menyerupai wujud alam (non figur). Bentuk memiliki perubahan wujud berupa stilisasi, distorsi dan transformasi. Makna ini dikonstruksi dalam grafis dua dimensi. Lazim juga disebut area. Sedangkan dalam grafis 3 dimensi bentuk disamaartikan dengan massa.
3. Ruang
Ruang terjadi karena adanya persepsi mengenai kedalaman sehingga terasa jauh dan dekat, tinggi dan rendah, tampak melalui indra penglihatan (Kusmiati, 1999). Dalam beberapa praktiknya dikenal ruang kosong (white space), merupakan tempat bernafas bagi pembaca/komunikan. Kosong
bukan berarti tidak berarti apa-apa, hal tersebut juga merupakan suatu pesan yang mendukung keseluruhan isi pesan komunikasi visual.
4. Tekstur
Tekstur adalah unsur rupa yang menunjukkan rasa permukaan bahan (material), yang sengaja dibuat dan dihadirkan dalam susunan untuk mencapai bentuk rupa, baik dalam bentuk nyata ataupun semu. Tekstur memperkuat dan mempertegas rasa dari karya desain grafis.
5. Warna
Warna merupakan nuansa visual yang direfleksikan oleh cahaya yang jatuh pada objek dan dipantulkan ke mata, cahaya memiliki spektrum (rangkaian sistematis) warna yang membantu kita mengenali warna. Pada saat kita melihat warna, sebenarnya kita melihat gelombang cahaya yang dipantulkan atau dipancarkan oleh obyek yang kita lihat. Permasalahan mendasar dari warna diantaranya adalah Hue (spektrum warna), Saturation
(nilai kepekatan) dan Lightness (nilai cahaya dari gelap ke terang).
Menurut Brewster dalam teori warna miliknya (1831), warna dikelompokkan menjadi 4 kelompok warna, yaitu: warna primer, sekunder, tersier dan warna netral. Warna primer adalah warna dasar yang digunakan untuk menciptakan warna sekunder. Warna juga dapat menciptakan persepsi psikologis bagi pembacanya. Leatrice Eiseman, seorang konsultan warna dan penulis buku More Alive With Color, memberi arti dari warna-warna tersebut, yaitu:
Biru memiliki arti kesetiaan, ketenangan, sensitif dan bisa diandalkan. Keabu-abuan memiliki arti serius, bisa diandalkan dan stabil. Merah Muda memiliki arti cinta, kasing sayang, kelembutan dan feminin. Merah memiliki arti kuat, berani, percaya diri dan bergairah. Kuning memiliki arti muda, gembira dan imajinasi. Hitam memiliki arti elegan, kuat dan dewasa. Hijau memiliki arti kesejukan, keberuntungan dan kesehatan. Sementara itu, Barker (1984: 86, dalam Mulyana, 2005: 377) mendeskripsikan karakter warna, sebagaimana dijelaskan berikut ini:
1) Merah
Warna merah melambangkan rangsangan/merangsang, warna yang menggambarkan perlindungan dan sifat mempertahankan. Warna ini mengesankan tantangan, perlawanan dan permusuhan. Merah adalah energi yang kuat, menunjukkan erotisme, keberanian, simbol dari api. Warna ini dapat menjadi stopping point suatu pesan pada suatu desain. 2) Biru
Warna biru memberikan kesan aman dan nyaman, lembut dan menenangkan, perlindungan dan pertahanan, kalem, damai dan tentram. Warna biru juga mengesankan persahabatan, harmoni, kasih sayang dan dapat menciptakan perasaan yang dingin dan tenang.
3) Oranye
Warna oranye menunjukkan suasana hati yang tertekan, terganggu dan
bising. Namun juga merepresentasikan keceriaan jika dipadu dengan warna lain.
4) Coklat
Warna coklat menunjukkan perlindungan dan pertahanan, kesedihan, kemurungan. Warna coklat juga menunjukkan persahabatan, pengalaman yang panjang dan ‘dalam,’ bumi, pemikiran yang materialis, reliabilitas, produktivitas dan kerja keras.
5) Putih
Warna putih menunjukkan kedamaian, kesucian, kemurnian, permohonan maaf, kejelasan, spiritualitas, kesederhanaan, kesempurnaan, kebersihan, cahaya, tak bersalah, keamanan, persatuan. Warna putih menekankan dan menguatkan warna lain serta memberi kesan.
6) Hitam
Warna hitam melambangkan perlindungan, pertahanan, pengusiran, sesuatu yang negatif, kesedihan mendalam, kemurungan, ketidakbahagiaan, pertentangan dan permusuhan. Warna hitam mengesankan kemisteriusan dan berbahaya, kekayaan, ketakutan, kejahatan, perasaan yang dalam. Latar belakang warna hitam dapat memberikan ruang pada karya desain grafis.
7) Hijau
Warna hijau menunjukkan warna yang tenang, kalem, damai dan tenteram. Menggambarkan bumi, kesuburan, pertumbuhan, umur yang masih muda. 8) Kuning
Warna kuning merupakan warna yang menyenangkan, keceriaan, riang, gembira dan harapan. Warna yang merujuk pada matahari ini, dapat merangsang dan menarik perhatian.
9) Ungu
Warna ungu menunjukkan keagungan dan kewibawaan, perlindungan dan pertahanan. Juga memberikan kesan tentang kekuatan spiritual, keagungan, kebangsawanan, misterius dan kepercayaan yang dalam.
Hingga derajat tertentu, tampaknya ada hubungan antara warna yang digunakan dengan kondisi fisiologis dan psikologis manusia.
II.2.6.2 Tipografi
Tipografi adalah sebuah disiplin khusus dalam desain grafis yang mempelajari mengenai seluk beluk huruf (font). Tipografi dalam konteks desain komunikasi visual mencakup pemilihan bentuk huruf; besar huruf; cara dan teknik penyusunan huruf menjadi kata atau kalimat sesuai dengan karakter pesan (sosial atau komersial) yang ingin disampaikan (Tinarbuko, 2009: 25)
Dalam perkembanganya, ada lebih dari seribu macam huruf Romawi atau Latin yang telah diakui oleh masyarakat dunia. Tetapi huruf tersebut sejatinya merupakan hasil perkawinan silang lima jenis huruf berikut ini (Tinarbuko, 2009: 26):
1. Huruf Romein. Garis hurufnya memperlihatkan perbedaan antara tebal-tipis dan mempunyai kaki atau kait yang lancip pada setiap batang hurufnya.
2. Huruf Egyptian. Garis hurufnya memiliki ukuran yang sama tebal pada setiap sisinya. Kaki atau kaitnya berbentuk lurus atau kaku.
3. Huruf Sans Serif. Garis hurufnya sama tebal dan tidak mempunyai kaki atau kait.
4. Huruf Miscellaneous. Jenis huruf ini lebih mementingkan nilai hiasnya daripada nilai komunikasinya. Bentuknya senantiasa mengedepankan aspek dekoratif dan ornamental.
5. Huruf Script. Jenis huruf ini menyerupai tulisan tangan dan bersifat spontan.
Sementara itu, Danton Sihombing (2001: 96, dalam Tinarbuko, 2009: 26) mengelompokkan keluarga huruf berdasarkan latar belakang sejarahnya:
1. Old Style, jenis huruf ini meliputi: Bembo, Caslon, Galliard, Garamond.
2. Transitional, jenis huruf ini meliputi: Baskerville, Perpetua, Times New Roman.
3. Modern, jenis huruf ini meliputi: Bodoni
4. Egyptian atau SlabSerif, jenis huruf ini meliputi: Bookman, Serifa.
5. Sans Serif, jenis huruf ini meliputi: Franklin Gothic, Futura, Gill Sans, Optima.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi mudah-tidaknya ketersampaian sebuah pesan verbal yang terkandung dalam karya desain komunikasi visual, di antaranya (Tinarbuko, 2009: 27):
Pertama, latar belakang, yakni warna dasar dan tekstur kertas yang digunakan. Teks akan terlihat jelas manakala keberadaan warna latar dan hurufnya cukup kontras.
Kedua, besar huruf yang digunakan. Ukuran standar teks adalah antara 6 sampai 10 point, juga disesuaikan dengan keluarga huruf yang ingin ditampilkan. Perbedaan tampilan yang pokok dalam keluarga huruf dibagi menjadi tiga bentuk pengembangan: (1) kelompok berat terdiri atas light, regular dan bold. (2) Kelompok proporsi condesed, regular dan extended. (3) kelompok kemiringan yaitu italic.
Ketiga, spasi antarhuruf, kata, maupun jarak antar baris kalimat. Keempat, faktor-faktor subjektif seperti jarak baca maupun kualitas penerangan ketika membaca.
Dalam praktik desain grafis, pemilihan, pengolahan dan penerapan huruf sebaiknya tidak dilakukan sembarangan. Pemilihan warna dan elemen-elemen desain grafis dalam desain komunikasi visual memiliki maksud dan tujuan, yang mendukung isi inti informasi yang hendak disampaikan.