• Tidak ada hasil yang ditemukan

II.2 Uraian Teoritis

II.2.2 Semiologi Roland Barthes

Roland Barthes (1915-1980) adalah salah satu tokoh semiotika struktural sampai pascastruktural. Sebagai penerus de Saussure, Barthes setuju dengan konsep oposisi biner penanda dan petanda milik de Saussure. Barthes dan de Saussure sama-sama menganut teori tanda yang dikotomis atau diadik, yaitu tanda terdiri dari dua komponen yang berbeda tetapi berkaitan erat satu sama lain seperti dua sisi selembar kertas. Konsep oposisi biner dan hubungannya (sintagmatik dan paradigmatik) yang dikembangkan de Saussure inilah yang kemudian menjadi cikal bakal strukturalisme.

Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga kelas menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Pada 1976, Barthes diangkat sebagai profesor untuk “semiologi literer” di Collegede France. Barthes telah banyak menulis buku dan mencipta karya, antara lain: Le degre zero de l’ecriture atau “Nol Derajat di Bidang Menulis” (1953, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Writing Degree Zero, 1977), Michelet (1954), Mythologies (1957), Criticial Essays (1964),

Eléments de sémiologie (1964), Criticism and Truth (1966), The Fashion System

(1967), S / Z (1970), The Empire of Sign (1970), Sade, Fourier, Loyola (1971),

The Pleasure of the Text (1973), Roland Barthes by Roland Barthes (1975), The Death of Author (1977), A Lover’s Discourse: Fragments (1977), Camera Lucida: Reflections on Photography (1980), The Grain of the Voice: Interviews 1962-1980

(1981), The Responsibility of Forms (1982), L’aventure Sémiologique (1985), dan banyak lagi karya serta tulisan Barthes lainnya (Sobur, 2004: 63-67).

Semiologi Barthes pada awalnya didasarkan pada kritik budaya, eksplorasi tanda-tanda, budaya massa sebagai bentuk mitos yang menandai hadirnya petit bourgeois (borjuis kecil) yang dianggap sebagai representasi universal. Pada tulisannya yang berjudul Systéme de la Mode (Sistem Mode) (Barthes, 1967), ia menjelaskan bahwa istilah-istilah yang digunakan dalam dunia mode penuh dengan idealisme kaum borjuis. Seperti konsep mode celana gentleman yang dianggap cocok dengan jas dan dasi, diterima oleh masyarakat seakan-akan sebagai sebuah kebenaran absolut (Barthes, 2007: vi).

Teori semiologi Barthes secara harfiah diturunkan dari teori bahasa menurut de Saussure. De Saussure mengemukakan empat konsep teoritis, yakni konsep langue-parole, signifiant-signifié, sintagmatik-paradigmatik, dan sinkroni-diakroni. Empat konsep dasar ini digunakan dan dikembangkan oleh Barthes dalam bukunya Eléments de sémiologie (1964) yang terbit di Paris (Penerbit Seuil). Dua dari beberapa konsep yang dikembangkan oleh Barthes, yaitu sintagmatik dan paradigmatik, denotasi dan konotasi.

Barthes mengembangkan pandangan sintagmatik dan paradigmatik dengan berbicara tentang sintagme dan sistem sebagai dasar untuk menganalisis gejala kebudayaan sebagai tanda. Sintagme merupakan suatu susunan yang didasari oleh

hubungan sintagmatik, sintagme berbeda dari sistem. Barthes menjelaskannya lewat pengamatannya terhadap mode busana. Secara singkat, sintagme merupakan gatra (ruang kosong) yang memiliki “fungsi” masing-masing. Keseluruhan urutan sintagme tersebut membentuk sebuah struktur. Dalam hal mode busana, terdapat proses diferensiasi (memiliki tempat sendiri serta masing-masing saling membedakan) antar sintagme sehingga membentuk makna masing-masing, dan karenanya sintagme-sintagme itu berada dalam suatu relasi paradigmatik. Sementara itu, dalam hal praktik busana, sintagme-sintagme tersusun sesuai dengan tempatnya pada tubuh manusia, terjukstaposisi dalam suatu susunan. Susunan tersebut disebut susunan sintagmatik (Hoed, 2014: 23).

Dalam sistem busana kita, terdapat (a) tutup kepala, (b) pelindung tubuh bagian atas, (c) pelindung tubuh bagian bawah, (d) alas kaki. Dalam kebudayaan busana di dunia, masing-masing mempunyai ciri fisik yang berbeda dan diberi nama khusus. Misalnya untuk (a) topi, peci, lobe, kerudung; (b) baju, blus, blazer,

tank top, t-shirt, kaftan, jas; (c) celana panjang, celana pendek, jeans, kain sarung; (d) sepatu, sendal, terompah, geta. Urutan (a) sampai (d) merupakan urutan sintagmatis, setiap bagian atau gabungannya merupakan sintagme, sintagme-sintagme tersebut berada dalam relasi paradigmatik karena setiap sintagme-sintagme sudah memiliki tempatnya sendiri serta saling membedakan sehingga membentuk makna masing-masing (Hoed, 2014: 23-24).

Barthes kemudian mengembangkan model dikotomis penanda-petanda de Saussure menjadi lebih dinamis. Barthes mengemukakan bahwa dalam kehidupan sosial budaya, penanda adalah “ekspresi” (E) tanda, sedangkan petanda ada “isi” (dalam bahasa Prancis contenu [C]), dan tanda adalah “relasi” R antara E dan C. model tersebut dikenal dengan E-R-C (Hoed, 2014: 25)

Model E-R-C disebut juga sebagai pemaknaan sistem “pertama” (denotasi). Biasanya pemakai tanda mengembangkan pemakaian tanda ke dua arah, ke dalam apa yang disebut Barthes sebagai sistem “kedua” (metabahasa dan konotasi). Metabahasa adalah pengembangan makna pada segi E, dan membentuk “kesinoniman.” Segi ini merupakan segi “retorika bahasa” (bahasa dalam arti umum). Jika pengembangan itu berproses ke arah C, yang terjadi adalah

pengembangan makna yang disebut konotasi. Konotasi merupakan segi “ideologi” tanda. Berikut adalah peta tanda metabahasa dan konotasi Roland Barthes:

Gambar II.2

Peta Tanda Metabahasa dan Konotasi Roland Barthes

E2 R2 C2 sistem sekunder METABAHASA

E1 R1 C1 sistem primer Orang yang pandai DENOTASI mengobati secara

spiritual

sistem sekunder E2 R2 C2

KONOTASI orang jahat, kaki tangan setan, syirik dan

musyrik

Sumber: Barthes, 1957, 1964 (dalam Hoed, 2014: 97-98) (dengan sedikit penambahan interpretasi dari peneliti)

Konotasi adalah makna baru yang diberikan oleh pemakai tanda sesuai dengan keinginan latar belakang pengetahuan serta konvensi sosial yang ada di dalam masyarakatnya. Dalam teori linguistik, konotasi tidak dijelaskan sebagai makna dalam rangka E dan C, tetapi merupakan reaksi (pemberian nilai) terhadap

Tanda orang pintar

paranormal dukun

suatu tanda. Misalnya pada kata mati, meninggal, tutup usia, pemilihan kata tersebut berdasarkan penilaian atas setiap kata itu (reaksi emosional): kasar, halus, pantas, tidak pantas, positif atau negatif.

Barthes menggunakan konsep konotasi untuk membahas makna gejala budaya. Dalam bukunya Mythologies (1957), Barthes menggunakan konotasi untuk melakukan kritik budaya. Seperti konotasi le vin (minuman anggur) sebagai “minuman totem” (boisson-totem), yakni minuman yang berkonotasi “keprancisan” (Frenchness).

Bagi masyarakat Prancis, minuman anggur bukan sekadar minuman beralkohol, melainkan minuman yang dirasakan sebagai pemameran (étalement,

display; sebagai ajang unjuk gigi dan prestise) kesenangan (étalement d’un plaisir), bukan sekadar minuman memabukkan yang membawa pada tindakan bercinta (philtre), melainkan suatu tindakan minum yang berefek jangka panjang dalam kehidupan sosial, sedangkan tindakan minumnya memiliki nilai retoris. Menurut Barthes, konotasi minuman anggur berakar pada kebudayaan Prancis selama berabad-abad sehingga menjadi mitos (Hoed, 2014: 25-26).

Barthes berbicara tentang mitos melalui proses konotasi (pengembangan model penanda-petanda de Saussure) yang hidup dalam masyarakat tertentu. Bila konotasi menjadi tetap, maka akan menjadi mitos. Bila mitos menjadi mantap akan menjadi ideologi. Penekanan teori tentang tanda Barthes adalah pada konotasi dan mitos.

Model konotasi Barthes dapat diterapkan pada kebudayaan nonbahasa. Modelnya dapat diterapkan pada simbol atau ikon suatu hal. Misalnya pada masyarakat tertentu, bendera Nabi Muhammad SAW bukan sekedar bendera perang dan persatuan umat Muslim. Relasi [R] antara E (konsep bendera Nabi Muhammad SAW) dan C (Salah satu lambang yang mewakili umat Muslim dan bendera perang Nabi Muhammad SAW) pada sistem primernya memang demikian. Akan tetapi untuk kalangan tertentu, terjadi perkembangan C dalam sistem sekundernya, yakni ‘lambang teroris,’ ‘bendera ISIS.’ Relasi antara E dan C berubah dalam sistem sekundernya. Ini adalah suatu gejala konotasi yang semakin menguat sejak sepak terjang kelompok ekstrimis ISIS yang

mengatasnamakan Agama Islam dalam menduduki wilayah-wilayah Timur Tengah demi membentuk Negara Islam Irak dan Suriah.

Saat berbicara mitos, maka kita akan berbicara mengenai kajian budaya masyarakat setempat. Proses konotasi menjadi mitos sudah jauh dari konsep awal de Saussure. Walaupun strukturalisme de Saussure masih terlihat di sini, tapi Barthes telah meninggalkan de Saussure jauh di depan. Pada tahap konotasi, mitos dan ideologi, Barthes tidak lagi masuk pada kaum strukturalis, tapi sudah masuk pada golongan awal pascastrukturalis.

Dokumen terkait