IV.1 Analisis Data
IV.1.1 Analisis Sampul 1
2. Kode Pembacaan
1) Kode Hermeneutika (kode teka-teki)
Mengapa Jokowi menatap tajam ke arah kamera? Mengapa resolusi fotonya sangat tinggi? Mengapa kerutan wajahnya terlihat jelas? Mengapa noda-noda wajahnya terlihat jelas? Mengapa fotonya tidak seluruh badan? Mengapa kumis dan jenggotnya tidak dicukur rapi? Mengapa Jokowi tersenyum tipis? Mengapa kening Jokowi terlihat sedikit berkerut? Mengapa nuansa warna wajah Jokowi terlihat mendung? Mengapa Jokowi mengenakan batik? Mengapa warna batik Jokowi campuran warna putih, cokelat dan biru dongker? Mengapa warna identitas Majalah TIME abu-abu? Mengapa tulisan “A NEW HOPE” diberikan efek bold dan ukurannya diperbesar? Mengapa tulisan “INDONESIAN PRESIDENT JOKO WIDODO IS A FORCE FOR DEMOCRACY” ukurannya lebih kecil?
Mengapa tulisan nama pengarangnya diberi efek bold dan berwarna kuning?
2) Kode Proairetik (logika tindakan)
Presiden Jokowi menatap tajam ke arah kamera menunjukkan ketegasan dan keteguhan hati, visi yang jelas dan tekad yang kuat, namun ia tersenyum tipis menunjukkan bahwa ia merupakan seorang yang ramah dan percaya diri. Bagian wajah Jokowi berbeda kiri dan kanannya. Bagian kanan wajahnya tersenyum tipis dan terlihat lebih ramah serta ceria. Bagian kiri wajahnya terlihat lebih serius dan waspada. Foto Jokowi tidak seluruh badan karena ingin menonjolkan ketokohannya menggunakan teknik pengambilan gambar portrait, close up dan eye level. Jokowi mengenakan batik karena ia bangga akan produk buatan Indonesia. Warna abu-abu pada identitas majalah TIME mendukung/menguatkan
headlinenya, TIME seolah-olah bosan dan tidak bersemangat. Tulisan “A NEW HOPE” diberikan efek bold, berwarna putih dan dibesarkan ukurannya agar pembaca dapat melihatnya dengan jelas, sebagai judul sampul dan penjelasan akan ketokohan Joko Widodo. Tulisan yang lain memiliki ukuran yang lebih kecil karena tidak sepenting judul besarnya. Foto Jokowi dengan resolusi tinggi dimaksudkan untuk menunjukkan keaslian Jokowi dan apa adanya.
3) Kode Simbolik
Bingkai berwarna merah dan garis putih kecil menguatkan kesan dan kekuatan objek di dalamnya. Latar belakang hitam menguatkan kesan objek di atasnya, memberikan kesan misterius dan elegan, serta karakter yang kuat. Warna abu-abu pada identitas Majalah TIME adalah campuran warna putih dan hitam dengan kadar tertentu atau warna hitam yang sifat ‘terang’nya dikurangi, menunjukkan bahwa TIME seperti sedang bosan atau sedih, kesan yang konservatif, ragu-ragu dan tidak mencolok. Warna putih, efek bold, dan ukuran yang besar pada tulisan “A NEW HOPE” menunjukkan penekanan yang lebih pada tulisan ini, ‘Sebuah Harapan Baru,’ warna putihnya menunjukkan kesucian, keramahan dan kesederhanaan, namun juga menunjukkan kekuatan yang murni. Tulisan
lain yang memiliki ukuran kecil dianggap sebagai pelengkap judul besar, kecuali nama “Joko Widodo” yang diberi efek bold. Tulisan nama pengarangnya berwarna kuning menunjukkan tanggung jawab dan kepercayaan diri.
Kerutan antara dua alis Jokowi menunjukkan bahwa dia adalah orang yang sering berpikir dan menunjukkan keseriusan, tatapan matanya menunjukkan keteguhan hati, kumis dan jenggot tidak dicukur rapi karena beliau tidak terlalu peduli dengan penampilan namun lebih mengutamakan kesiapan untuk bekerja. Noda dan kerutan pada wajah Jokowi yang terlihat jelas menunjukkan dirinya yang sering bekerja dan turun ke lapangan. Baju Batik yang ia pakai menunjukkan bahwa ia mengangkat produk dalam negeri dan melawan aturan ‘resmi’ dan ‘rapi’ dari konsep berpakaian dunia barat, yang menggunakan kemeja, jas dan dasi. Paduan warna baju batik Jokowi (putih, cokelat, biru gelap/dongker) menunjukkan ketegasan dan ‘pengalaman’ yang panjang, kemisteriusan dan siap mengambil keputusan.
4) Kode Gnomik (kode kultural)
Headline sampul majalah TIME memiliki kemiripan dengan judul dan cerita dari film garapan sutradara George Lucas, Star Wars, yaitu film seri pertama Star Wars yang berjudul A NEW HOPE. Kata force pada judul kecil sampul tersebut juga memiliki kemiripan dengan jalan cerita film tersebut. Pada film Star Wars, Force adalah medan energi yang tercipta dari semua makhluk hidup yang mengelilingi kita, memasuki diri kita, dan menyatukan galaksi. Energi ini dapat digunakan dan memungkinkan penggunanya untuk memiliki kekuatan supra-natural, kemampuan fisik yang hebat, dan memiliki kemampuan kepekaan (Force-Sensitives). Namun selain memiliki sisi terang, energi ini memiliki sisi gelap yang akan menanamkan sifat jahat dan keji pada penggunanya.
Penggunaan kata “A, An” dan “The” sebagai pendamping dan keterangan kata benda pada bahasa Inggris memiliki aturan dan artinya sendiri. Kata “A” dan ”An” memiliki arti sebuah, seorang, seekor, sepotong, atau untuk menunjukkan jumlah tunggal namun tidak spesifik.
Contohnya seperti frase ”give me a pen” yang memiliki arti “berikan aku sebuah pulpen,” namun tidak menunjukkan spesifikasi pulpen yang jelas, pulpen yang diminta tadi bisa pulpen yang mana saja yang berada dalam area fisik orang-orang yang berbicara.Kata “The” tidak memiliki arti yang tetap, artinya ia dimaknai sesuai dengan kata pendampingnya dan bisa untuk menunjukkan suatu ketunggalan serta menunjukkan spesifikasi yang jelas, namun makna kata “The” secara umum adalah “Sang.” Contohnya seperti frase “give me the pen” yang memiliki arti “berikan aku pulpen (pulpen yang itu, yang kita sudah sama-sama tahu dan paham),” yang artinya antara komunikator dan komunikan telah memiliki pemahaman yang sama terhadap pulpen yang dimaksud.
Secara singkat, penggunaan kata “A” dan “An” diperuntukkan untuk masyarakat yang sampai pada tahap keseragaman makna melalui konvensi sosial dan memiliki nilai supra-individual yang sama, seperti sebuah pulpen, seekor kambing, sepotong kue, dan sebagainya. Namun kata ”The” diperuntukkan untuk level yang lebih dalam, untuk dua atau lebih orang, atau kelompok masyarakat yang telah terjalin keseragaman makna melalui konvensi sosial, memiliki nilai supra-individual yang sama, serta FOE dan FOR yang sama terhadap kata benda yang didampingi oleh kata “The” tersebut. Contohnya seperti seorang pemain bola A yang berkata “give me the ball” pada pemain bola lain, mereka sudah tahu bola apa yang dimaksud oleh si pemain bola A.
Headline “A NEW HOPE” tersebut menunjukkan bahwa harapan baru tersebut tidak hanya satu orang saja (Presiden Joko Widodo). Presiden Joko Widodo disamakan seperti karakter utama Star Wars, Luke Skywalker (anaknya Anakin Skywalker dan Padme Amidala), yang pada awal film tersebut masih ‘anak bawang’ yang belum berani, lemah dan tidak tahu apa-apa.
Judul kecil “INDONESIAN PRESIDENT JOKO WIDODO IS A FORCE FOR DEMOCRACY,” (Presiden Indonesia Joko Widodo Adalah Sebuah Energi/Kekuatan Untuk Demokrasi) tersebut makin menguatkan Joko Widodo sebagai gambaran Luke Skywalker dalam film Star Wars
disebabkan penggunaan kata force (status force yang disebutkan belum jelas apakah ada dalam sisi gelap atau terang, namun bisa ditarik kesimpulan bahwa force yang dimaksud ada pada sisi yang baik karena Joko Widodo disandingkan dengan Luke Skywalker) dan penguatan pada kata INDONESIAN PRESIDENT JOKO WIDODO IS A FORCE. Tapi, pada kata Democracy di akhir judul, tidak diberikan kata a atau the yang berarti Demokrasi secara keseluruhan (semua negara yang menganut sistem Demokrasi), tidak hanya untuk Demokrasi Indonesia saja.
Tulisan nama pengarang “BY HANNAH BEECH” yang menggunakan warna kuning dan diberi aksen bold tersebut menunjukkan kepercayaan diri dan tanggung jawab, juga merupakan sebuah penghargaan dan kebanggaan dari majalah TIME untuk Hannah Beech karena telah mewawancarai Presiden terpilih Indonesia ke-7.
Baju batik Presiden Joko Widodo menunjukkan identitas dan rasa bangganya sebagai bangsa Indonesia. Menunjukkan perlawanannya terhadap konsep “rapi” dan “resmi” ala barat yang mengharuskan memakai kemeja, celana gentle, jas, dan dasi.
Warna abu-abu pada identitas majalah TIME senada dengan nuansa warna mendung atau kelabu pada foto Presiden Joko Widodo, walaupun nuansa warna kelabu tersebut tidak terlalu jelas, menunjukkan kekonsistenan dan dukungan majalah TIME pada Presiden Joko Widodo. Di sisi lain, warna abu-abu tersebut mengesankan Presiden Joko Widodo yang konservatif dan jauh dari kaum modernis, peragu dan tidak bersemangat.
Pada kebudayaan barat yang masih terdapat sedikit masalah perbedaan warna kulit, warna kulit Jokowi yang ‘berwarna’ tidak sesuai dengan konsep kaum terhormat yang berkulit putih. Bagi masyarakat Asia dan yang khususnya tinggal di daerah khatulistiwa tentu tidak berlaku konsep warna kulit putih dan hitam, walaupun konsep kecantikan dan warna kulit masyarakat timur mulai tergerus akibat akulturasi budaya lewat paparan media massa barat, namun hal tersebut belum menjadi hal
yang krusial seperti di negara-negara barat dan umumnya hanya menyerang kaum perempuan.
5) Kode Semik (makna konotatif)
Pada sampul ini, Jokowi terlihat tegas dan siap menghadapi tugas apapun serta tetap ramah dan membumi, merupakan sebuah harapan baru bagi Demokrasi yang sudah hampir kehilangan kepercayaannya. Ia merupakan penggambaran bagaimana sosok tokoh Demokrasi yang seharusnya. Pada sampul ini, Jokowi juga dengan bangga menyatakan bahwa ia adalah orang Indonesia yang bangga dengan kebudayaannya.
Di lain pihak, selain mendukung Presiden Joko Widodo sebagai Presiden terpilih ke-7 dengan menampilkannya bersama pakaian batiknya, terdapat sedikit kontradiksi dalam desain sampul Majalah TIME tersebut. Majalah TIME terlihat mengesankan Joko Widodo sebagai orang yang tak bersemangat dan juga konservatif walaupun memiliki karakter yang kuat, lewat warna abu-abu pada identitas majalahnya. Warna abu-abu tersebut tidak mengesankan putih atau hitam yang murni, Jokowi dianggap tidak sepenuhnya berdiri di atas kakinya sendiri.
Jokowi merupakan seorang tokoh harapan Demokrasi yang baru, untuk Indonesia juga untuk dunia. Namun, Jokowi masih tergolong ‘muda’ serta masih ‘anak bawang,’ juga Jokowi dianggap tidak sepenuhnya berdiri di atas kakinya sendiri.