VISI/MISI
C. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Tanah Datar 1.Karakteristik Responden LSM 1.Karakteristik Responden LSM 1.Karakteristik Responden LSM
4. Elemen Budaya Makanan dan Kesenian sebagai Identitas Regional Kabupaten Tanah Datar Kabupaten Tanah Datar Kabupaten Tanah Datar
4.1 Elemen budaya makanan
Elemen budaya makanan dalam masyarakat meliputi makanan seha ri- hari, makanan- makanan untuk adat istiadat, berbagai jenis minuman tradisional dan kue-kue khas yang mencirikan Minangkabau. Pada umumnya masyarakat menggunakan elemen ini untuk memenuhi kebutuhan biologis tubuh, kebutuhan akan nutrisi dan cairan. Menurut Soekanto (1999), elemen budaya makanan termasuk dalam kebudayaan kebendaan karya manusia yang berfungsi untuk melindungi manusia dari lingkungan alamnya.
Secara ekonomis, elemen budaya makanan dapat digunakan sebagai komoditas yang dijual ke konsumen. Kenyataan di lapangan, beberapa masyarakat Tanah Datar menggunakan jenis makanan dan kue tradisional tertentu untuk dijual. Lembaga- lembaga kemasyarakatan yang ada di beberapa daerah mendirikan usaha-usaha pembuatan makanan yang dijual ke masyarakat setempat ataupun dikirim ke daerah-daerah lain.
Usaha-usaha yang dibentuk oleh masyarakat selain menjadi sumber pendapatan keluarga, juga dapat mengangkat dan memperkenalkan makanan/kue tersebut kepada masyarakat. Di Nagari V Kaum, terdapat kelompok masyarakat menjadi produsen kue lamang tapai. Kue lamang tapai sudah dijual ke pasaran di luar daerah dan Nagari V Kaum telah dikenal sebagai daerah penghasil lamang tapai. Di Nagari Barulak Kecamatan Tanjung Baru terdapat makanan khas berupa
ikan yang lunak sampai ke tulang-tulangnya, seperti ikan yang dipresto. Pangek lapuak merupakan resep keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Di beberapa nagari, misalnya di Nagari Pangian membentuk kelompok produsen/industri kecil penghasil kipang. Sejenis kue yang bahan dasarnya adalah kacang. Rasanya sangat manis dan lengket karena gula-gulanya.
Fungsi yang terdapat pada makanan telah membentuk interaksi yang kuat dengan masyarakat. Elemen budaya makanan memiliki kaitan yang erat dengan pembuatnya. Berdasarkan grafik biplot karakteristik responden (Gambar 24) diketahui bahwa responden LSM yang memilih elemen budaya makanan sebagai identitas regional berjenis kelamin perempuan dengan umur 35-39 tahun. Lazim wanita memiliki kedekatan dengan elemen budaya makana n. Dalam lingkup keluarga, umumnya wanita/ibu menjadi tulang punggung keluarga untuk pemenuhan kebutuhan akan makanan dan gizi. Mereka memasak dan menyiapkan makanan untuk seluruh anggota keluarga. Dalam adat Minangkabau, nilai- nilai kekerabatan membuat perempuan-perempuan atau para ibu bergotong royong dalam menyiapkan makanan sebagai hidangan untuk upacara adat yang dilakukan sukunya. Demikian juga dengan fungsi seorang bundo kanduang dalam kaum atau sukunya.
Pemanfaatan elemen budaya makanan dalam kehidupan bermasyarakat di
Ranah Minang menimbulkan penilaian terhadap masyarakat. Pemanfaatan
makanan dan minuman dalam kehidupan sehari-hari memberikan penilaian tentang persepsi, motivasi dan preferensi terhadap elemen budaya makanan sebagai identitas regional Kabupaten Tanah Datar. Fungsi makanan dalam mendukung kegiatan adat, sebagai komoditas-komoditas yang jual ke konsumen ataupun untuk memenuhi kebutuhan biologi tubuh telah membangun persepsi, motivasi dan preferensi yang baik oleh masyarakat. Resep dan bahan yang dipakai, langkah- langkah dalam membuatnya dan prosesi dalam memakannya memberikan pemahaman persepsi dan kerangka pengetahuan. Nilai- nilai budaya sebagai warisan leluhur yang terkandung dalam makanan, memotivasi masyarakat untuk mengembangkannya dan melestarikannya. Rasa makanan yang manis, enak, renyah, gurih dan bentuk yang berbeda-beda tiap jenis makanan memberikan masyarakat pilihan berdasarkan nilai kesukaan masing- masing.
Sumber: internet 4.2Elemen budaya kesenian
Pada umumnya masyarakat Minangkabau gemar meluangkan waktu untuk melakukan permainan atau melihat seni-seni pertunjukkan. Mereka melakukannya untuk mendapatkan kesenangan (kepuasan spiritual). Elemen budaya kesenian di masyarakat Tanah Datar meliputi seni gerak dan seni suara. Seni gerak yang ada seperti silek (silat), dabuih dan beragam tari- tarian, sedangkan seni suara seperti shlawat dulang dan berbagai macam lagu daerah. Selain itu juga terdapat beragam alat-alat musik yang berfungsi sebagai pengiring. Alat musik tersebut banyak bentuk dan fungsinya. Ada alat musik yang cara penggunaannya dengan ditabuh/dipukul (dulang, gendang, talempong), ditiup (saluang, pupuik padi) atau dipetik (rebab)
Kesenian sebagai sebuah seni pertunjukkan akan melibatkan lembaga-lembaga kesenian dalam masyarakat, terutama yang berkecimpung di bidang hiburan (entertain). Kelompok-kelompok ini mengembangkan bentuk kesenian yang ada untuk dipertontonkan kepada masyarakat. Biasanya kelompok-kelompok tersebut diundang ketika ada perayaan upacara adat, seperti pada upacara perkawinan, batagak gala, sunatan rasul dan upacara adat lainnya. Bentuk-bentuk kesenian yang sering dipertontonkan seperti seni randai, seni gamat dan shalawat dulang. Sedangkan untuk jenis-jenis tarian, seperti tari persembahan, tari gelombang, tari lilin, tari piring.
Berdasarkan perhitungan MCA dan grafik biplot karakteristik responden LSM, diketahui bahwa responden yang memilih kesenian sebagai identitas regional adalah laki- laki dengan umur 20-24 tahun. Karakteristik ini termasuk
dalam golongan pemuda. Pemuda merupakan tahapan usia dimana manusia mulai mencari jati diri, memiliki sifat ingin tahu yang besar dan keinginan yang kuat untuk mencoba segala hal yang menarik, salah satunya adalah keinginan untuk mencari hiburan untuk bersenang-senang. Hakekatnya, generasi muda merupakan generasi penerus yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan.
Hiburan dan kesenangan yang terdapat pada tiap bentuk kesenian menjadi salah satu faktor yang menggarisbawahi penilaian responden LSM. Mereka menyukai keunikan dan manfaat yang ada pada tiap unsur dari kesenian. Faktor inilah yang dapat digunakan untuk memotivasi generasi muda untuk mempelajari, mempraktekkannya untuk kemudian melestarikannya. Sekolah, sebagai lembaga formal dalam masyarakat telah menjadi media untuk mentransfer ilmu dan pengetahuan dari kesenian, salah satunya dengan kegiatan ekstrakulikulernya. Lembaga informal seperti karang taruna atau kelompok-kelompok pemuda turun berperan dalam mewadahi ide-ide dan gagasan untuk mengaktualisasikan daya pikir dan kreasi. Selain itu, surau sebagai lembaga infomal dalam masyarakat berperan sebagai tempat menempa para pemuda ilmu dan pengetahuan agama Islam dan beladiri (silat). Menurut tradisi Minangkabau, anak laki- laki tinggal di surau-surau. Surau menjadi tempat untuk mempersiapkan bekal ilmu agama dan alat untuk membela diri sebelum pergi merantau.
Interaksi yang terjadi antara masyarakat dengan kesenian telah membangun nilai persepsi, motivasi dan preferensi yang positif. Masyarakat memerlukan kepuasan spiritual yang dapat dipenuhi oleh elemen kesenian. Penilaian lembaga- lembaga swadaya masyarakat akan semakin kuat. Masyarakat awam akan semakin mengenal berbagai jenis kesenian, mengerti bagaimana cara menggunakan alat-alat musik atau memahami cerita dan gerakan dari tari-tarian yang ada. Dengan semakin membudayanya berbagai bentuk kesenian, motivasi untuk melestarikan akan timbul sejalan dengan kebutuhan masyarakat akan manfaat elemen kesenian. Kemunculan berbagai jenis kesenian dalam setiap acara, baik dalam bentuk perayaan upacara adat, atraksi-atraksi yang menarik ataupun festival- festival masyarakat dapat menjamin kelestarian budaya tersebut. Hal ini akan menyebabkan timbulnya apresiasi terhadap kesenian lokal.
5. Bermacam-macam Jenis Makanan dan Kesenian Masyarakat Di