• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Teknik Pengolahan dan Analisa Data

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

6. Permainan anak nagari

Suku Minangkabau memiliki kebiasaan meluangkan waktu untuk bermain. Permainan ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak kecil, bahkan orang dewasa pun kadang memainkannya. Segala jenis permainan yang ada di tanah Minangkabau biasa disebut sebagai permainan anak nagari. Berbagai kesenian yang ada di masyarakat sebagian besar berupa permainan anak nagari. Beberapa jenis permainan dipergunakan untuk seni pertunjukkan, seperti permainan gasiang

(gasing) dan seni gamat. Permainan gasing dilakukan dengan mengadu gasing di arena. Seni gamat merupakan perpaduan unsur musik, tari dan nyanyian. Permainan ini banyak digemari oleh muda- mudi karena pertunjukkan seni gamat merupakan permainan untuk pergaulan. Permainan ini dilakukan oleh sejumlah

Gambar 11. Alat-alat tradisional yang digunakan dalam kegiatan pertanian

muda-mudi yang berpasangan. Sambil menari mereka bernyanyi dan bersahut- sahutan pantun. Cabang olahraga sepak takraw yang dipertandingkan di PON, menyerupai bentuk permainan sepak rago. Sepak rago adalah permainan yang menggunakan bola terbuat dari anyaman rotan. Sepak rago biasa dimainkan pada upacara anak nagari.

Ada sebuah permainan yang cukup populer di masyarakat. Anak-anak maupun orang dewasa biasa memainkannya. Permainan diberi nama alang-alang

(layang- layang). Seperti permainan layang- layang pada umumnya namun ukuran layang-layang relatif lebih besar. Masyarakat Tanah Datar menyebutnya layang- layang darek, berbentuk elips dan mempunyai ekor panjang. Permainan ini biasa dimainkan di lapangan terbuka sebagai pengisi waktu senggang atau sehabis panen di sawah. Adakalanya permainan ini dilombakan antar kelompok atau antar suku.

7. Kesenian

Sebagai Luhak nan Tuo, kesenian di Tanah Datar tumbuh dan berkembang dengan pesat. Beragam bentuk kesenian (beladiri, tari- tarian dan festival/atraksi) menjadi tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun. Silat merupakan salah satu kesenian Minangkabau. Silat yang dikenal di Tanah Datar adalah silat Kumango dan silat Lintau. Selain sebagai alat untuk membela diri silat juga digunakan untuk seni pertunjukkan. Kesenian randai dan tari- tarian Minangkabau pada umumnya menggunakan silat sebagai gerakan dasarnya. Tari randai

Gambar 12. Permainan anak nagari sepak rago Sumber : Koleksi foto penelitian

Sumber: Koleksi foto penelitian

dibawakan oleh sekelompok orang dengan gerakan dan formasi silat. Di dalam tari randai terdapat juga seni dalam berpantun, pasambahan serta gurindam yang dilakukan tiap penari. Tari jenis lain yang juga digemari dan sering dipertontonkan antara lain tari piring, tari persembahan, tari galuak, tari gelombang dan lain sebagainya.

Setiap tarian atau kesenian lain biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian yang berasal dari instrumen/alat musik tertentu. Instrumen khas Minangkabau memiliki beragam bentuk dan keunikan. Ada yang berupa alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul, ditiup, ataupun digesek. Contoh dari alat musik tiup adalah pupuik batang padi dan saluang. Pupuik batang padi terbuat dari batang padi yang dilubangi seperti bansi. Sedangkan saluang (seruling) dibuat dari bambu jenis talang (beruas panjang dan berdaging tipis). Untuk alat musik yang digesek ada rabab yang menyerupai biola. Badan rabab terbuat dari tempurung kelapa yang paling besar. Bagian permukaan ditutupi dengan kulit kambing. Lehernya terbuat dari seruas bambu.

Alat musik pukul diantaranya adalah talempong dan gendang. Talempong terbuat dari logam jenis kuningan. Bentuk talempong bulat seperti piring tertelungkup. Sebelah bawahnya kosong dan sebelah atas terdapat benjolan. Sedangkan gendang adalah alat musik yang berbentuk tabung atau silinder, terbuat dari kayu. Pada masing- masing mulut tabung ditutup dengan kulit. Jenis gendang beragam, ada yang diberi nama indang (gendang yang bersisi satu), rebana (indang yang dua kali lebih besar), gandang kaliang dan gandang tabuik

(gendang dua sisi yang panjang ukurannya dengan mulut yang berbeda besarnya) Gambar 13. Alat musik saluang (kiri), rabab (tengah) dan talempong (kanan)

8. Bahasa

Bahasa yang digunakan oleh suku Minangkabau adalah bahasa Minang, termasuk di Kabupaten Tanah Datar. Bahasa Minang termasuk ke dalam rumpun bahasa Melayu. Aturan tata bahasa amat dekat dengan bahasa Indonesia. Kesenian yang terindah dan terbesar terletak pada bahasanya. Bahasa Minangkabau banyak mempunyai dialek, bahkan suatu nagari yang bertetanggapun bisa berbeda dialeknya.

Terdapat dua macam seni bahasa yang khas Minangkabau, bahasa berirama dan pantun. Pengertian pantun termasuk pula sesomba, talibun, pepatah

dan petitih. Pantun tidak lain artinya perumpamaan, umumnya mengadopsi

peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan alam sekitar. Misalnya, gajah mati tulang batimbun yang artinya orang besar/berpangkat tinggi jika mati maka banyak harta pusaka yang ditinggalkan. Berpantun terutama bagi ninik mamak seolah-olah seperti berayat atau berhadis bagi seorang ulama. Kemahiran berpantun atau berperibahasa itu merupakan lambang tertinggi dari kecerdikan seseorang. Kemahiran berbahasa tidak hanya dipakai dalam komunikasi sehari- hari tetapi juga digunakan dalam upacara adat tertentu, seperti upacara kematian, upacara perkawinan, upacara pengangkatan penghulu dan lain- lain.

Dalam bahasa percakapan dikenal istilah Kato Nan Ampek (empat cara berkata). Empat cara berkata tersebut adalah Kata Mendatar, Kata Mendaki, Kata Menurun, dan Kata Melereng. Kata mendatar ialah bahasa orang sepergaulan atau seusia. Kata mendaki ialah bahasa orang kecil kepada yang lebih tinggi kedudukannya. Kata menurun ialah kata yang orang yang lebih tinggi kepada orang kecil. Kata melereng adalah bahasa orang yang saling segan menyegani, baik karena hubungan kekerabatan ataupun karena hubungan jabatan. Dalam kata melereng inilah biasa peribahasa atau sindiran digunakan (Depdikbub, 1983).

9. Upacara adat

Upacara adat bagi masyarakat Minangkabau sangatlah penting. Upacara adat menjadi sebuah mekanisme dalam memenuhi ketentuan adat yang berlaku secara turun temurun. Upacara adat merupakan bentuk perayaan terhadap perjalanan seorang manusia dalam melalui tahap-tahap kehidupannya. Begitu pula

dengan upacara adat yang berlaku di masyarakat Minangkabau. Upacara adat yang ada, seperti kelahiran, kedewasaan, perkawinan, kematian dilaksanakan dengan aturan dan tata cara yang berbeda-beda tiap daerah.

Macam- macam upacara adat yang masih sering diadakan oleh masyarakat Kabupaten Tanah Datar diantaranya upacara turun mandi, perkawinan, batagak gala, upacara kematian, sunatan, dan khatam Al Qur’an.

Setiap pelaksanaan upacara adat yang diadakan suatu suku tertentu akan melibatkan setiap paruik atau kaum dari suku tersebut. Pelaksanaan upacara adat bagi suku menjadi momen penting yang menunjukkan eksistensi dari suku. Di dalam pelaksanaan upacara adat dapat kita lihat perpaduan dari unsur-unsur budaya lain. Seperti unsur- unsur budaya pakaian, makanan, bahasa, kekerabatan, kesenian dan unsur lainnya menjadi kesatuan yang bulat yang tidak terpisahkan.

10.Sistem ekonomi

Sesuai dengan keadaan geografis Kabupaten Tanah Datar, maka yang menjadi lapangan hidup utama masyarakat adalah pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, niaga dan industri. Pertanian menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar penduduk Tanah Datar. Tanaman utama yang ditanam adalah padi. Beberapa jenis tanaman lain yang juga menjadi komoditas antara lain palawija seperti jagung, ubi- ubian, kedelai, ubi kayu dan sayur-sayuran. Untuk sumber pangan berupa ikan, masyarakat membuat kolam-kolam di sekitar rumahnya sebagai tempat budidaya, seperti yang terlihat pada gambar dibawah. Selain itu, masyarakat ada yang mengambilnya langsung dari alam. Seperti terlihat pada

Sumber: Koleksi foto penelitian Gambar 14. Upacara adat batagak gala (kiri) dan upacara adat

Sumber: Koleksi foto penelitian

gambar 15, penduduk di kecamatan Lintau Buo yang sedang menjaring ikan di sungai Batang Sinamar.

Sedangkan di sektor perkebunan, tanaman kayu manis (Cassiavera), karet dan tebu menjadi komoditas yang utama di Kabupaten Tanah Datar. Umumnya sektor perkebunan dilakukan oleh masyarakat yang memiliki modal yang kuat. Begitu juga dengan getah karet dan tebu. Sektor peternakan sebagai suatu industri tidak tersebar secara merata di Kabupaten Tanah Datar. Hanya di beberapa kecamatan tertentu saja seperti di Kecamatan Rambatan, Lintau Buo dan Batipuh yang menjadi produsen hasil peternakan. Pada umumnya masyarakat memelihara ternak untuk memenuhi kebutuhan gizi (telur dan daging) sehari- hari atau sebagai tenaga untuk membajak atau keperluan produksi lainnya.

Sektor industri yang berkembang sebagian besar adalah industri kecil baik formal maupun non formal serta pusat kerajinan. Berdasarkan data dari BPS, industri yang ada di Kabupaten Tanah Datar dibagi menjadi industri kimia agro, industri hasil hutan, industri logam, dan industri elektronika. Sektor perdagangan sebagian besar didominasi oleh perusahaan dengan skala kecil. Pasar tradisional di semua daerah bersifat harian. Artinya hanya ramai pada hari tertentu saja, misal dalam seminggu hanya sekali atau dua kali.

Kabupaten Tanah Datar memiliki objek wisata yang cukup banyak dan menarik untuk dikunjungi. Objek wisata yang ada di Kabupaten Tanah bervariatif, seperti objek yang berupa alam, situs-situs sejarah, lansekap hingga budaya atau adat istiadat masyarakat Tanah Datar. Salah satu objek wisata yang terkenal di Kabupaten Tanah Datar adalah Istano Basa Pagarruyung yang menjadi objek

Gambar 15. Anak-anak yang sedang mencari ikan di sungai (kiri) dan kolam untuk budidaya ikan (kanan)

wisata nasional (Gambar 16c). Gambar 16a merupakan Gunung Merapi dilihat dari Kecamatan X Koto. Gunung ini biasa digunakan untuk kegiatan pendakian/hiking. Saat ini keadaan Gunung Merapi menunjukkan tanda-tanda erupsi dengan seringkali mengeluarkan asap. Gambar 16b merupakan wisata agro yang berada di Nagari Pandai Sikek.

Sistem kekerabatan

Masyarakat Minangkabau memiliki empat tali kekerabatan dengan hubungan-hubungan tertentu antara perseorangan satu dengan perseorangan lainnya dan atau antara perseorangan group group dengan perseorangan group lainnya. Empat tali tersebut terdiri atas tali kerabat anak kemenakan, tali kerabat suku sako, tali kerabat induak bako anak pisang, dan tali kerabat sumando pasumandan (Depdikbud, 1983).

Tali kerabat anak kemenakan dan tali kerabat suku sako bersifat ke dalam, timbul karena pertalian darah menurut hukum ibu (matrilineal). Sedangkan tali kerabat induak bako anak pisang dan tali kerabat sumando pasumandan bersifat keluar, timbul karena perkawinan antara seorang anggota rumah gadang atau kampung (klan, suku) yang satu dengan anggota rumah gadang kampung (suku yang berbeda).

Tali kerabat anak kemenakan adalah hubungan yang menonjolkan sifat- sifat fungsional antara seorang laki- laki dengan anak-anak dari saudara perempuannya atau sebaliknya antara seorang anak dengan saudara laki- laki ibunya. Kondisi ini yang menyebabkan seorang laki- laki memangku dua fungsi yang sifatnya vertikal, yaitu sebagai mamak dari saudara perempuannya dan sebagai kemenakan dari saudara laki- laki ibunya.

Gambar 16. Objek-objek wisata yang ada di Kabupaten Tanah Datar

Tali kerabat induk bako anak pisang adalah hubungan antara seorang perempuan dengan anak-anak saudara laki- laki ibunya atau sebaliknya, antara seorang anak dengan anak saudara perempuan bapaknya. Tali kerabat sumando pasumandan merupakan antara anggota rumah gadang atau kampung dari seorang suami dengan anggota rumah gadang isterinya. Tali kerabat ini disebabkan karena perkawinan.

11.Sistem hukum

Undang-undang adat mengatakan, nagari itu adalah persekutuan hukum adat yang mempunyai sistem masyarakat yang Seadat Nan Salimbago (satu adat dan satu lembaga). Artinya Seadat bahwa di dalam nagari berlaku norma masyarakat untuk seluruh warga dari komunitas itu. Sedangkan Salimbago

maksudnya suatu pemerintahan, tidak ada yang dapat mengatur komunitas tersebut. Berdasarkan sistem tersebut maka hukum adat pada tiap-tiap nagari berbeda-beda. Namun pada dasarnya hukum yang ada dalam masyarakat berpedoman pada syariat Islam, Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah.

Sistem hukum yang ada di Tanah Datar umumnya di Minangkabau, berupa hukum tertulis (UU) dan hukum tidak tertulis yang diwariskan secara turun-temurun. Hukum yang ada antara lain yang mengatur tentang hubungan antar manusia (hutang-piutang, waris/harta pusaka dll), hukum yang mengatur kegiatan adat (perkawinan, pengangkatan penghulu, kematian dll). Undang- undang yang berlaku digunakan sebagai pedoman untuk menyelesaikan permasalahan. Fungsi dari undang-undang ini mirip dengan peraturan yang berlaku sekarang ini. Undang-undang yang umum digunakan antara lain UU Nan 20, UU nan 12 dan UU Nan 8. UU Nan 20 banyak kesamaannya dengan dengan undang-undang KUHP sekarang ini. Undang-undang tersebut mengatur mengenai tindak kejahatan dan hukuman atau sanksi yang sesuai untuk tiap tindak kriminal. Di dalam undang-undang terdapat pasal-pasal yang mengatur tindak kejahatan seperti pembunuhan, pencurian, perampokan, fitnah, penipuan dan lain- lain.

12.Sistem pemerintahan

Sistem pemerintahan adat yang berlaku akan berbeda pada tiap nagari. Kekuasaan dipegang oleh lembaga kepenghuluan yang ada pada nagari (kerapatan

nagari). Sebagaimana yang dikatakan oleh adat Adat Salingka Nagari, Harato Salingka Kaum yang artinya ketentuan hanya berlaku untuk satu nagari, harta adalah untuk kaum tertentu secara turun temurun.

Sistem pemerintahan nagari dipimpin oleh penghulu dari masing- masing suku. Setiap suku mempunyai beberapa buah paruik yang dikepalai seorang

tungganai, yaitu seorang laki- laki tertua dari keluarga menurut sistem matrilineal (kaum dari turunan garis ibu). Sedangkan yang memimpin penduduk ialah kepala kaum yang disebut penghulu andiko. Sedangkan kampung atau pemukiman penduduk diatur oleh seorang yang dinamakan tuo kampung. Pemerintahan yang berada ditangan penghulu suku pada umumnya diturunkan secara turun temurun dari mamak kepada kemenakan.

Selain pemerintahan adat terdapat juga pemerintahan yang formal. Sistem pemerintahan formal timbul di era orde baru. Pemerintahan yang diatur dalam nagari diganti dengan sistem pemerintahan desa. Di dalam sistem pemerintahan terdapat lembaga untuk mewadahi aspirasi rakyat. Lembaga tersebut seperti Kerapatan Adat Nagari (KAN) dan BPRN.

B. Stakeholder Wanita di Kabupaten Tanah Datar 1. Karakteristik Responden Wanita

Kaum wanita di masyarakat Minangkabau khususnya di Kabupaten Tanah Datar, memiliki keistimewaan bila dibandingkan dengan suku-suku lain di Indonesia. Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan yang bersifat matrilineal (garis keturunan ibu). Wanita yang menjadi responden kebanyakan bermatapencaharian sebagai petani atau buruh tani. Wanita yang bekerja selain di bidang pertanian, biasanya tingkat pendidikan lebih tinggi, setingkat diploma atau sarjana. Mereka pada umumnya bekerja di lingkungan pemerintahan atau sebagai pegawai negeri. Beberapa matapencaharian lain yang ditemukan selama penelitian antara lain, pengusaha/wirausaha (kue tradisional, ukiran dll), pengrajin kain tenunan dan anyaman. Namun, pada umumnya pekerjaan utama mereka adalah bertani di sawah dan ladang.

Seluruh responden merupakan masyarakat asli Tanah Datar. Umur responden yang paling banyak berada pada rentang umur 35-39 tahun, yaitu

sebesar 25%. Sebagian besar pendapatan rata-rata/bulan responden berada pada kisaran Rp. 250.000-750.000,-. Pendidikan terakhir responden kebanyakan adalah lulusan SLTA, yaitu sebesar 43,3% kemudian SLTP 36,7%, sarjana dan diploma hanya sebesar 20%. Untuk lebih terperincinya dapat dilihat pada Lampiran 3.