• Tidak ada hasil yang ditemukan

Embrace Your Diversity!

Dalam dokumen Jabat Erat Dari Ambon Manado dan Medan S (Halaman 175-189)

lainnya memunculkan sekat-sekat yang memecahbelahkan makna Bhinneka Tunggal Ika yang sejak dahulu telah diusung oleh para pendiri negeri ini.

Namun, apa yang terjadi jika sebuah ruang diciptakan guna menjembatani pertemuan antarkelompok ini, yang rindu untuk bertemu dan bertukar cerita tentang pengalaman imannya masing- masing, tanpa memusingkan sekat-sekat yang ada? Apakah akan menjadi Pertemuan yang indah? Atau merupakan wujud persatuan dalam keberagaman? Atau, justru sebaliknya, Pergesakan yang makin menjadi-jadi dan menimbulkan pencideraan yang berbahaya?

The Beginning

Semua bermula dari posting-an yang dibagikan oleh salah satu dosen fakultas saya, “Ibu” Angie Wuysang mengenai kegiatan INGAGE ini. Mengapa saya menggaris kata “Ibu itu? Kalian akan mengetahui ceritanya nanti. Sebagai seorang silent reader

yang biasanya hanya memerhatikan timeline tanpa sekali pun berniat mengomentari, saya pun merasa tertarik dengan kegiatan INGAGE karena menurut saya dimana lagi saya bisa bertemu dan berbagi dengan teman-teman di luar agama saya—di luar keluarga saya? Jujur saja, saya mengikutinya, pertama-tama, karena saya ingin mendapat pengalaman, apalagi skripsi saya bersinggungan dengan pertemuan antaragama, “Gotcha! Ini kesempatan emas yang tidak boleh saya sia-siakan.”

Akhirnya saya pun mengisi formulirnya, tanpa mengatakan apa pun kepada orang lain. Beberapa teman sefakultas membicarakan kegiatan ini dan bagaimana mereka sudah mengisi formulirnya serta harapan mereka untuk ikut, sedangkan saya hanya diam dan memilih bungkam. Pikir saya, untuk apa saya mengatakan saya juga mengisinya? Toh, belum ada jaminan saya akan diterima. Belum lagi jika pada akhirnya saya tidak bisa ikut, apa yang ada dalam pikiran mereka? Yeah, I know I am overthinking too much, namun apa kita bisa menahan apa yang berada di dalam pikiran orang lain?

Tak diduga, “Ibu” Kak Angie mengirimkan message pada saya di Facebook mengenai kegiatan ini, mengajak saya untuk ikut berpartisipasi, padahal saya sudah mengisi formulirnya di hari sebelumnya—dengan diam-diam tentu saja. Setelah mengatakan bahwa saya sudah mengisinya—saya merasa seperti baru saja mengakui perbuatan dosa karena telah diam-diam mengisi formulir itu. “Ibu” Kak Angie membalas dengan kalimat bernada positif, sehingga membuat saya lega. Setidaknya Kak Angie tidak menganggap saya bak pencuri yang diam-diam mengambil apa yang tidak seharusnya saya ambil.

Hari-hari pun berlalu, dan tak terasa waktu pengumuman penerimaan peserta semakin dekat. Kemudian, di suatu malam, saya menerima sms yang menyatakan saya masuk seleksi penerimaan peserta INGAGE. Hati saya melambung tinggi kala itu, saya nyaris melompat-lompat. Itu membuat keluarga saya terheran-heran. Saya pun memberitahukan bahwa saya mengisi formulir untuk mengikuti kegiatan INGAGE kepada keluarga saya, yang disambut baik oleh mereka, bahkan Mama memeluk saya dan mengatakan ia sangat bangga pada saya—entah mengapa tiba-tiba saja saya merasa seperti baru memenangkan medali emas olimpiade. Suasana yang mengharu-biru itu menjadi berantakan tatkala terdengar celetukan Ibu saya, “Tapi INGAGE itu kegiatan yang bagaimana memangnya?”

Ya, saya lupa menceritakan pada mereka seperti apa kegiatan INGAGE itu, namun saya pikir melihat reaksi Ibu saya yang super excited—bahkan saya nyaris mengira Beliaulah yang terpilih menjadi peserta— yang sudah mengetahui kegiatan ini. Akhirnya, dengan wajah penuh keseriusan saya memberitahukan kepada beliau mengenai kegiatan INGAGE atau Interfaith New Generation Initiative and Engagement. Bagaimana kegiatan antariman ini mengumpulkan para generasi muda yang memiliki tujuan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dengan programTraining dan Live-in. Melalui INGAGE kaum muda diberi ruang untuk berinteraksi, berdialog, bahkan bersikap kritis

mengenai keragaman iman, tradisi keagamaan, juga hubungan antarkomunitas sekaligus juga membekali diri dengan pemahaman terhadap perbedaan iman dan kesetaraan yang dieksplor melalui teknologi digital. “Kira-kira begitu singkatnya, Ma,” ujar saya pada Beliau. Beliau mengangguk-angguk dan dengan bersemangat menyetujui keikutsertaan saya begitu pula dengan ayah saya. Starting Point

Tak terasa hari-H pun tiba, hari ketika saya mengikuti kegiatan INGAGE ini. Dikarenakan kami peserta akan mengikuti welcoming dinner malam sebelumnya, maka kami pun harus check-in di hotel sehari sebelumnya. Selama perjalanan menuju hotel hati saya berdegup tak karuan. Berbagai pertanyaan menyeruak di pikiran saya; siapa yang akan jadi teman sekamar saya? Bagaimana jalannya kegiatan ini? Apakah saya bisa mengikutinya dengan baik? Apalagi kami sudah diancam-beri nasihat oleh “Ibu” Kak Angie bahwa kami harus aktif, jangan malu-malu, apalagi bikin malu. Hal yang cukup sulit bagi saya pribadi karena berbicara di depan banyak orang, melihat begitu banyak mata menatap saya, bukanlah hal yang menyenangkan di mata saya. Saya lebih menyukai berbicara empat mata dengan orang lain ketimbang berbicara di depan umum. Namun, saya sadar ketakutan saya harus saya kikis. Bukan karena ini perkataan Kak Angie, melainkan agar saya menjadi lebih berani mengutarakan pendapat dan pemikiran saya tanpa mempedulikan apa tanggapan orang lain kepada saya.

Sesampainya di hotel, saya pun diberitahu bahwa teman sekamar saya sudah datang duluan. Saya menjadi semakin gugup; apa yang akan saya katakan pertama kali? Bagaimana jika saya bersikap memalukan? Tetapi saya tepis pikiran-pikiran aneh saya dan akhirnya menaiki lift menuju lantai satu. Sesampainya di lantai satu, mata saya tertancap di satu kamar bernomor 111 dan akhirnya saya pun mengetuk pintunya. Ibu saya yang mengantar saya pun masih setia mendampingi saya hingga saya masuk ke dalam kamar tersebut. Di situlah saya bertemu dengan Kak Nindy

untuk pertama kalinya, dan akhirnya kami menjalani kehidupan sebagai roommate selama empat hari. Kak Nindy juga begitu baik dan begitu sabar meskipun ada hal-hal ceroboh yang saya lakukan seperti dua kali “mengunci” Kak Nindy di luar kamar, karena kunci pintunya ada pada saya. Selidik punya selidik, kasus penguncian kamar yang pertama disebabkan oleh seseorang yang mengaku tetangga saya—karena lorong rumahnya berseberangan dengan lorong rumah saya—bernama Kak Asri, seorang Muslim Syi’ah yang biasa kami panggil “Bhante”. Kak Asri pun baru mengakui hal itu setelah kegiatan INGAGE selesai—sungguh pengakuan yang mulia. Kasus penguncian yang kedua, saya akui seratus persen kesalahan saya. Untunglah Kak Nindy bukan tipe orang yang pendendam, sehingga ia memaafkan saya atas perbuatan saya; kalau tidak, saya bisa jadi memikirkan hal itu berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Malam pun menyambut, dan kami pun bertemu dengan seluruh peserta dan panitia INGAGE Manado. Saya merasa sangat beruntung berada di sana, karena bisa berjumpa dengan teman- teman yang berbeda kepercayaan dengan saya. Para peserta INGAGE Manado terdiri atas beragam kepercayaan, seperti Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Islam Sunni, Islam Syi’ah, dan penghayat kepercayaan Masade. Penghayat kepercayaan Masade jelas begitu menarik perhatian saya, karena seperti yang diketahui di Indonesia hanya diakui enam agama, yakni Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu, sehingga adanya penghayat kepercayaan Masade membuat saya menyadari betapa luar biasanya Indonesia karena keberagamannya yang terkadang belum disadari secara luas.

Mereka disebut kaum Tua, dan telah berkembang sejak abad ke-12 M. Orang-orang di luar mereka menyebut para penghayat kepercayaan Masade sebagai “Islam Tua” sekali pun mereka sendiri tidak pernah mengatakan hal tersebut. Penghayat kepercayaan Masade berkembang di Sangihe, tepatnya di Lenganeng, Tabukan Utara. Saya sempat bercakap-cakap dengan

Kak Surikno, salah satu peserta INGAGE yang merupakan seorang penghayat kepercayaan Masade. Berbincang dengannya tentang tradisi keagamaan Masade, yang jika dilihat dari mata kaum awam memiliki tradisi Islam juga Kristen, membuat saya tertarik. Mereka adalah contoh agama lokal yang masih mengalami diskriminasi karena kurangnya pemahaman mengenai kepercayaan yang mereka anut.

Selain penghayat kepercayaan Masade, ada pula seorang peserta perempuan muslim yang memakai cadar. Saya akui ketika pertama kali melihatnya saya kaget dan sekaligus juga bertanya- tanya mengapa ia memakai cadar tersebut—apalagi ada stigma negatif yang dilekatkan kepada para perempuan yang bercadar. Namun, setelah mengenalnya, stigma itu terhapus begitu saja. Jika ada yang berpikir wanita yang bercadar itu kaku, tidak mudah bergaul, terlalu menjaga diri, dan lain-lain, ia malah sebaliknya. Anaknya begitu asyik diajak mengobrol, berpikiran terbuka, bahkan tidak ada kesan menjaga jarak, meskipun ia tahu saya berbeda keyakinan dengannya. Salah satu penyesalan saya ialah tidak sempat melihat wajahnya, yang membuat saya penasaran sampai sekarang.

Saya pun sempat berbincang dengan Sita, nama peserta tersebut, mengenai alasannya memakai cadar. Menurutnya, batasan auratlah yang membuatnya memakai cadar. Sekali pun ada yang berpendapat telapak tangan dan wajah bukan merupakan aurat, akan tetapi jika karena hal itu menimbulkan fitrah di hati laki-laki, contohnya jika wajahnya cantik atau menarik, maka ada baiknya menutupinya dengan cadar. Sekali pun keluarga saya ada yang beragama Islam, namun saya jarang berbincang-bincang secara dalam dengan mereka mengenai agama Islam, apa saja tradisi mereka, latar belakang agama Islam, dan sebagainya. Mungkin jika saya tidak mengikuti INGAGE, hal-hal seperti ini tidak akan pernah saya ketahui bahkan sampai saya menutup usia.

Pagi menjelang, tanggal 22 September atau hari pertama kegiatan INGAGE resmi dimulai. Saya duduk bersama tiga orang

peserta muslim, dan kami masih sempat-sempatnya juga membahas mengenai pengaruh kebudayaan Barat terhadap budaya Indonesia di sela-sela waktu sebelum acara pembukaan kegiatan dimulai. Ketika acara pembukaan itulah dimulailah bertemu Kak Angie, dosen saya yang menyabet gelar panitia dan fasilitator tercantik versi peserta. Saya masih sedikit canggung awalnya, tapi saya pikir tak masalah, lagipula “Ibu” Kak Angie masih terlihat seumuran ketika berfoto bersama kami, para peserta. Setelah mendapat wejangan dan nasihat dari para tokoh agama dan pemimpin perguruan tinggi, maka kegiatan INGAGE pun resmi dimulai.

Selama empat hari kami akan dibekali dengan materi-materi yang berhubungan dengan agama, kesetaraan, juga teknologi digital dari narasumber luar biasa, yakni Bapak Al Makin, Ibu Alviani Permata, serta Bapak Leonard Epafras. Setelah bekal materi, peserta mengikuti program Live-in bersama keluarga yang berbeda keyakinan dengan kami selama tiga hari.

Dari sekian banyak materi yang diberikan kepada kami, saya menyukai pernyataan Bapak Al Makin kala ia memberi materi Agama-agama di Dunia. Beliau menyatakan bahwa, jika kita ingin mengetahui suatu agama, tanyakan langsung kepada yang mengimaninya. Jangan hanya mengira-ngira atau malah memfokuskan diri pada persepsi orang lain yang belum tentu bersentuhan langsung dengan agama tersebut. Pernyataan Bapak Al Makin jelas membuat saya menyadari bahwa dalam proses belajar mengenai agama-agama lain, sangat penting bagi kita untuk bertanya pada mereka langsung karena bisa saja apa yang kita yakini tentang suatu agama belum tentu seperti itulah apa yang mereka yakini selama ini. Perspektif saya sebagai seorang Kristen jelas berbeda dengan mereka yang beragama Hindu atau Islam. Jika saya memaksakan pikiran saya, tentu tidak akan membuahkan apa- apa selain konlik dan pergesekan yang bisa saja berbuntut panjang.

Berkenaan dengan pernyataan itu, teringat pula saya dengan kalimat dari Kak Taufan, salah satu fasilitator INGAGE Manado, yakni, “Kita perlu ‘meminjam’ kacamata pemeluk agama lain

dalam memandang agama mereka dan menanggalkan sejenak kacamata kita selaku penganut agama yang berbeda”.

Dalam mempelajari agama lain, sangat perlu bagi kita untuk memiliki keterbukaan yang tulus terhadap pemahaman mereka mengenai agama mereka sendiri, tanpa menambahkan embel- embel agama kita sebagai usaha membanding-bandingkan, bahkan menjatuhkan agama tertentu. Indonesia yang memiliki kebe- ragamaan yang luar biasa dari berbagai bidang pun, masyarakatnya belum sepenuhnya mampu mempraktikkan hal ini di setiap segi kehidupannya. Banyak warganya yang masih berpikiran sempit dan menutup diri terhadap usaha dialog lintasagama yang jelas diperlukan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk ini.

Menurut Wesley Ariarajah, pada dasarnya setiap pemeluk agama adalah peziarah yang memiliki tujuan yang satu, yakni kepada Sang Maha Kuasa. Sebagai sesama peziarah, sangat tidak etis bagi kita untuk saling sikut, saling menjatuhkan, bahkan saling meninggikan diri mengenai perjalanan ziarah siapa yang paling baik, paling hebat, dan paling bermakna. Oleh karenanya, diperlukan rasa saling menghargai, menghormati, juga toleransi dan penerimaan yang tulus terhadap agama lain diiringi komitmen untuk menjaga agama yang berbeda dengan agama kita.

Salah satu pengalaman luar biasa yang saya rasakan secara pribadi ialah ketika kami mengikuti sholat Jum'at di salah satu masjid di Manado. Selama dua puluh tahun saya hidup, itulah pertama kalinya saya masuk ke dalam masjid—bukan hanya masuk, melainkan juga ikut menyaksikan bagaimana ibadah mereka. Saya bahkan memakai hijab yang tidak pernah saya kenakan sebelumnya. Selama ini saya berpikir semua jenis hijab itu sama, yang penting menutupi kepala. Nyatanya ada perbedaan hijab biasa dengan hijab longgar yang juga saya lihat dipakai oleh teman-teman peserta yang lain. Semakin tertutup dan semakin longgar hijabnya maka yang memakainya telah siap untuk meninggalkan hal-hal “duniawi dan mendekatkan diri kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Semua kembali kepada diri sendiri, jika telah siap, maka dipersilahkan. Selain itu kami bahkan belajar bagaimana teman- teman yang muslim melakukan sholat, yang membuat beberapa orang sibuk melirik kami dengan tatapan penuh tanya. Saya jadi merasa bersalah, karena secara tak langsung kami membuat mereka tak khusyuk dalam beribadah. Sekalipun banyak yang belum memahami bahwa tujuan kami menyambangi masjid, gereja, pura, bahkan vihara adalah untuk belajar mengenai agama- agama lain—dalam keragamannya, namun melaluinya kami selaku partisipan aktif mendapat pelajaran dan pengalaman berharga yang jelas saja tidak akan bisa ditakar dengan apapun. Seperti yang diungkapkan oleh Dr.Noudy Tendean, ketika memberikan pembekalan untuk kegiatan Live-in bahwa kita boleh kemana- mana, tapi iman kita jangan kemana-mana. Kita jelas boleh untuk datang ke tempat kaum Muslim, Hindu, Buddha, dan yang lainnya, dan tidak membuat iman percaya kita terhadap Tuhan menyusut bahkan bisa jadi kita semakin dekat dengan Tuhan melalui para peziarah lain. Perbedaan agama bukan alasan untuk memutus tali silaturahmi yang telah terjalin atau yang seharusnya terjalin.

Selain materi mengenai agama-agama dan keberagamannya, ada pula materi mengenai HAM, kesetaraan dan kemerdekaan, juga mengenai Digital Communication. Sebagai salah satu orang yang pernah mengalami cyberbullying yang masih membekas di diri saya sampai sekarang, materi mengenai Internet Sehat juga Kesetaraan dan Kemerdekaan jelas membangkitkan rasa keingintahuan saya. Bagi siapa pun yang pernah mengalami cyberbullying atau pun

bullying di kehidupan nyata tentu pengalaman itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan untuk diingat. Bullying bukan hanya dilakukan secara isik, namun segala bentuk perbuatan yang membuat orang lain tidak nyaman, seperti berkata kasar atau mengucilkan, baik di dunia nyata maupun cyber.

Banyak orang tidak menyadari apa yang disampaikan di internet bisa saja membuat orang lain merasa tertekan, terluka karenanya, bahkan bunuh diri. Kebebasan yang diberikan kepada

kita untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi memang merupakan hak asasi kita selaku manusia. Akan tetapi, kebebasan itu bukan alasan bagi kita untuk menjatuhkan orang lain dengan perbuatan kita yang tidak menyenangkan, kemudian beralasan bahwa itu adalah hak kita untuk menyampaikan pendapat. Kita perlu menyaring apa pun informasi yang kita terima, bahkan yang kita bagikan di dunia maya, sebab di zaman sekarang ini barrier

antara dunia offline dan online nyaris tidak ada. Setiap kali kita membuka timeline media sosial, tak jarang kita menemui berbagai ‘posting-an’ mulai dari ucapan syukur, doa, foto foto, bahkan komentar-komentar atas tautan yang dibagikan. Seakan apa pun yang akan dilakukan dan dikerjakan tak afdol rasanya jika tidak dibagikan di dunia maya. Moto yang disampaikan di dalam materi

Internet Sehat menyentakkan saya, “Hargai privasi diri sendiri dan hargai juga privasi orang lain”.

“Hargai privasi diri sendiri” menunjukkan bahwa kita berhak untuk membatasi apa yang akan kita bagikan di dunia maya, kita berhak untuk menyaring hal-hal tidak penting yang tidak perlu kita sampaikan di dunia maya, sebab tidak semua hal yang kita bagikan akan berdampak positif bagi kita. Ingat, ada begitu banyak kasus yang berujung ke pengadilan terjadi karena ‘posting-an’ di dunia maya. Ketika kita mampu menghargai privasi diri sendiri, maka kita pasti mampu menghargai privasi orang lain. Kita tidak akan memaksa seseorang memberikan nomor teleponnya hanya karena kita merasa tertarik padanya sampai-sampai membombardirnya dengan ribuan pesan di direct message bahkan wall-nya diiringi kalimat-kalimat tidak pantas. Misalnya, No means no!

Apabila saya pernah menjadi korban dari orang-orang yang tidak menghargai privasi saya, maka saya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama. Kebebasan yang diterima seharusnya tidak digunakan untuk kesenangan pribadi dan merasa bahagia melihat orang lain kesusahan atas apa yang kita lakukan. Melakukan

bullying pada seseorang tidak membuat kita lebih superior dari orang yang kita bully. Serta bagi siapa pun yang mengalami

bullying, you’re not alone. Memang, itu bukan pengalaman yang mudah dilupakan. Namun, apabila kita mampu bangkit dan menjadikan pengalaman itu batu pijakan agar menjadi orang yang lebih baik— bahkan tidak melakukan hal tersebut kepada orang lain—kita perlahan-lahan akan mampu mengatasinya. Bukan hal yang mudah, memang. Namun, bukan berarti mustahil, bukan?

Bertemu Dulu Sekarang (Siapa Tahu Besok-besok Bertamu)

Saya benar-benar menikmati jalannya kegiatan INGAGE, bukan hanya karena materi-materinya yang menarik, melainkan juga karena pertemuan yang indah dengan teman-teman yang berbeda agama dan kelompok dengan saya. Saya masih ingat bagaimana beberapa malam kami berdiskusi sampai larut mengenai agama kami masing-masing. Juga tak lupa ketika saya mengikuti program Live-in di rumah Ibu Rosdalina. Di sana saya melihat secara langsung bagaimana kehidupan keluarga Muslim dalam keseharian mereka. Mereka menyambut saya dengan begitu baik, dan membuat saya nyaman berada di tengah-tengah mereka. Berada di tengah-tengah keluarga Ibu Rosdalina begitu menyenangkan, dan waktu yang diberikan selama tiga hari tersebut terasa kurang karena saya merasa masih ada begitu banyak hal yang bisa saya perbincangkan dengan Beliau.

Saya juga menyambangi kampus IAIN Manado. Di sana saya dan peserta lain mengikuti kuliah Kak Taufan dan Kak Tauik— dan, ya, saya pun mengenakan hijab selama tiga hari berturut-turut. Berdiskusi dengan teman-teman di kampus IAIN Manado, berbagi pengalaman tanpa sekali pun saling menjatuhkan sesungguhnya merupakan deinisi dari kata damai yang sesungguhnya. Kegiatan bertukar pikiran itu bukan hanya berhenti di ruang kuliah, melainkan pun merembet sampai di kantin kampusnya. Kami pun berkenalan dengan beberapa orang teman baru yang berkuliah di kampus IAIN Manado, yang semuanya mau sama-sama saling belajar dan memahami agama masing-masing, dari perspektif penganutnya sendiri.

Dari pertemuan dengan para peserta INGAGE Manado, keluarga Ibu Rosdalina, dan teman-teman dari kampus IAIN Manado, saya belajar makna silaturahmi yang sesungguhnya. Bahwa nyatanya, sekali pun di setiap pertemuan akan selalu ada perpisahan, namun tali silaturahmi dan persaudaraan yang telah terjalin jangan sampai putus atau berhenti saat itu saja. Kehidupan memang akan berjalan terus, saya bisa saja menemui orang-orang baru yang menambah pengetahuan dan pengalaman saya suatu hari kelak. Akan tetapi, apa yang telah diperoleh saat itu tetap akan menjadi bagian terindah dalam sejarah kehidupan saya. Kapan lagi saya bisa berkunjung secara bebas ke kampus IAIN Manado jika bukan karena ini? Dimana lagi saya bisa bertemu dengan teman-teman yang begitu hebat dan berbakat, generasi muda yang begitu bersemangat untuk menyatukan tekad demi masa depan Indonesia yang lebih baik? Bisa saja kali ini kami hanya bertemu dan bercakap, tapi siapa tahu besok-besok kita bisa saling bertamu guna menjaga silahturahmi?

Pada Akhirnya...

Tujuh hari telah berlalu secepat kedipan mata. Rasa-rasanya

Dalam dokumen Jabat Erat Dari Ambon Manado dan Medan S (Halaman 175-189)