(Mataharitimoer), ICT Watch Foto oleh Ainul Yaqin, INGAGE Medan
sudah menghadapi tiga isu berbasis SARA. Dimulai dari kejadian penolakan gabungan Organisasi Massa Islam, terhadap rumah makan tradisional BPK (Babi Panggang Karo) di Deli Serdang. Berikutnya kasus pembakaran vihara di Tanjung Balai. Kemudian yang terakhir adalah kasus percobaan peledakan bom di Gereja St. Joseph di Medan. Sumatera Utara yang selama ini menjadi salah satu prototipe keberagaman di Indonesia tampaknya sedang diuji. Sementara itu, kami di Medan sedang memulai program INGAGE yang dalam pelaksanaannya dibayangi tiga konlik diatas. Tantangan? Tentu saja!
Makan malam, 31 Agustus 2016 adalah perjumpaan pertama dengan panitia dan peserta INGAGE (Interfaith New Generation Initiative and Engagement). Awal yang meninggalkan kesan tersendiri, sebab untuk pertama kali saya mendengar ada beberapa aliran kepercayaan selainenam agama yang diakui oleh negara Indonesia. Hal ini membangun keingintahuan untuk dapat mengenal yang lain ini dengan lebih jauh. Usai makan malam kami mulai bertegur sapa satu sama lain. Kami mulai berdiskusi terkait ragam keyakinan kami. Malam itu, saya mendapatkan banyak pengetahuan tentang Parmalim. Bagi saya ini adalah pengalaman luar biasa karena bisa berkomunikasi langsung dengan salah satu penganutnya.
Komunikasi terus berlanjut, yaitu saat penyampaian materi
training yang dipadukan dengan diskusi. Di sela-selanya ada
game yang makin meng-engage kami satu sama lain. Saya merasakan suasana terbuka dan solidaritas sudah terbangun dari proses interaksi, baik antara peserta dengan peserta maupun panitia dengan peserta. Paparan materi DUHAM atau Deklarasi Hak Asasi Manusia adalah topik yang sangat mendasar dalam membahas tentang kesetaraan dalam berkeyakinan. Tercipta elaborasi pemikiran antara kami selama proses diskusi yang melibatkan pemateri dengan peserta serta antar sesama peserta untuk memahami hakikat Hak Asasi Manusia. Terutama,hak dalam berkeyakinan dan memeluk agama.
Sikap toleran dan intoleran sangat mudah untuk menyebar, baik melalui komunikasi langsung maupun melalui media sosial. Kami dibukakan pada pemahaman untuk bisa melihat gejala ini secara lebih jelas, bagaimana kaitan antara kultur masyarakat Indonesia di media sosial dan juga ancaman terhadap nilai-nilai toleransi yang selama ini dirawat. Mas Emte (Matahari Timoer) dari ICT Watch dan Pak Leo C. Epafras dari ICRS yang memberikan materi tentang Komunikasi Digital, menyampaikan tentangetika perilaku dalam berinteraksi di media sosial.
Materi yang paling mendapat respons dari para peserta –dapat dilihat dari antusiasme peserta dalam bertanya dan berdiskusi, adalah materi yang disajikan oleh Pak Al Makin. Beliau membagikan pengetahuan tentang agama-agama yang ada di Indonesia dan di dunia. Pak AlMakin menjelaskan dari aspek keilmuan tentang sejarah munculnya agama-agama tersebut hingga bagaimana mereka berkembang. Materi ini membukakan horizon ilmu pengetahuan yang sangat luas kepada para peserta. Tertinggal pesan bahwa keberagaman memang tidak dapat dihindari, sehingga perlu disikapi dengan toleransi. Misalnya, tidak perlu membuat klaim-klaim kebenaran agama kita yang dipaksakan kepada umat agama lain.
Sesi lain yang tak kalah menarik adalah Sharing Blogger.
Sehari sebelum melakukan Live-in (menginap di rumah umat agama yang berbeda), kami diberi kesempatan untuk memahami bagaimana bisa memanfaatkan internet. Antara lain melalui media sosial atau aktivitas jurnalistik untuk mendukung penyebaran nilai- nilai toleransi. Kami menjadi paham bahwa banyak dari kita yang memanfaatkan media sosial hanya untuk kepentingan pribadi,tetapi tanpa sadar akan ekses negatif yang bisa ditimbulkannya, terutama bagi nilai-nilai toleransi. Untuk itu pula kegiatan ini dimaksudkan, memberikan pemahaman agar kami memiliki kemampuan dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi di media sosial.
Dari seluruh materi yang sudah dipaparkan saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru. Hal ini sangat bermanfaat dan efektif menurut saya, karena kami belajar mulai dari konsep yang
bersifat general sampai tataran teknis. Tujuannya agar pemahaman umum dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di dunia nyata maupun dunia maya. Tentu saja paradigma berikir kami sudah bergeser untuk lebih mencintai keberagaman dan merawat perdamaian di lingkungan kami.
Program Live-in
Konsep Live-in yang diterapkan adalah sistem silang. Artinya, peserta menginap di rumah atau tempat ibadah yang berbeda dengan agama yang dianutnya. Tujuannya adalah peserta bisa memahami kehidupan dan tradisi pemeluk agama atau aliran kepercayaan yang berbeda. Selama tiga hari peserta tinggal dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kepercayaan yang berbeda. Saya sendiri mengambil bagian untuk tingal di pesantren Modern NurulHakim didaerah Tembung Medan.
Sebagai seorang pemuda Protestan yang selama ini banyak beraktivitas diruang-ruang agama mayoritas, saya rasa tidak terlalu sulit untuk hidup dan berinteraksi dilingkungan pesantren. Hal yang membuat menarik adalah bergabungnya seorang Bikkhu, tentu saja beragama Buddha, dan seorang Pendeta Protestan, bersama-sama kami tinggal di Pesantren. Selama di pesantren, selain berinteraksi dengan para pengajar atau Ustaz serta para santri, saya juga memperhatikan bagaimana komunikasi yang terjalin diantara Pendeta (Pak Boy Tampubolon) dan Bhikkhu (Bhante Dhira) dengan pihak pesantren.
Pada awal kedatangan, tentu saja kami menjadi pusat perhatian para santri –terlihat dari tatap heran yang tertuju kepada kami. Rombongan langsung menuju ruang rapat dipesantren dan disambut langsung oleh sekertaris pimpinan. Setelah Pak Jailani selaku fasilitator lokal INGAGE dan Ibu Simone Sinn dari LWF memberikan sedikit kata pengantar, kemudian kami dipersilakan masuk kekamar dan bersiap untuk makan malam.
Saat malam, kami keluar kamar dan mulai berdiskusi dengan beberapa pengajar di pesantren yang bertempat di depan masjid.
Pak Ustaz memberikan apresiasi kepada kami semua. Terlebih kepada Pak Boy sebagai seorang Pendeta yang bersedia datang ke sebuah pesantren. Kami merasakan sebuah komunikasi yang sangat akrab serta hangat. Jauh dari kecurigaan atau gap-gap lain yang selama ini sering muncul. Saya kira situasi yang harmonis ini adalah representasi masyarakat Indonesia yang bercorak
multicultural dan multireligions.
Keesokan harinya, kami mulai terbiasa untuk bercengkrama dan berdiskusi dengan penghuni pesantren, baik saat makan siang maupun perjumpaan didalam lingkungan pesantren. Bhante Dhira, Sang Bhikhhu, banyak menghabiskan aktivitasnya di masjid NurulHakim. Saya melihatnya berkomunikasi dengan para santri yang menyambut dengan sangat baik. Mereka tak hanya berdiskusi, tetapi juga berfoto sambil tertawa riang. Para santri banyak bertanya terkait baju yang dikenakan oleh Bhante. Saya sendiri banyak berdiskusi di masjid tentang mahzab-mahzab dalam Islam (Hambali,Hanai,Syai’i, dan lain-lain) dengan Pak Ustaz ketika para santri sedang belajar mengaji.
Pada suatu malam, kami berdiskusi dengan pimpinan pesantren, yaitu Ustaz Najamudin.Setelah kata pengantar dari Pak Najamudin, kami dipersilakan untuk bertanya. Pesesta laki- laki dan perempuan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dengan sangat baik. Dalam kesempatan itu kami diberikan pemahaman tentang aksi-aksi radikalisme yang saat ini banyak terjadi. Ustaz menjelaskan hal itu bukanlah representasi Islam. Karena Islam mengajarkan kedamaian dan juga bertujuan menjadi hikmat untuk alam semesta. Pesantren Modern NurulHakim juga mencegah agar pergerakan radikalisme yang ada di Timur Tengah tidak merambat ke Indonesia.
Diskusi malam itu bersama Pak Ustaz Najamudin juga memberikan pemahaman yang baru kepada kami semua: bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi selama ini bukanlah representasi Islam. Karena justru Islam tidak pernah membenarkan aksi-aksi kekerasan dan mengajak kami semua sebagai umat beragama
dan masyarakat Indonesia untuk saling peduli dan merawat keberagaman dan perdamaian untuk kemajuan bangsa.
Refkesi Pribadi dan Rencana Tindak Lanjut
Ketika Program INGAGE Medan selesai saya dihadapkan pada dua hal, yaitu senang sekaligus sedih. Senang karena sudah melewati pengalaman dan pengetahuan yang luar biasa terkait dengan Interfaith dialogue dan pemahaman atas kesetaraan dalam berkeyakinan. Sekaligus sedih karena program yang sangat baik seperti itu hanya bisa diikuti oleh tiga puluh orang dari ratusan ribu pemuda di Sumatera Utara. Tentu saja, dengan kemampuan dan pemahaman yang sudah didapatkan dalam pelatihan INGAGE, kami harus menjelma menjadi peacemaker yang meng-influence
pandangan toleran ala Indonesia.
Pengalaman-pengalaman yang kami diskusikan dan kami dapat dalam program Live-in setidaknya memberi gambaran tentang perdamaian yang mesti dirawat diatas keberagaman. Asal saja semua pihak bersedia untuk berkomunikasi. Kasus-kasus selama ini yang terjadi di Sumatera Utara diakibatkan kurangnya komunikasi. Ketika dialog dilakukan maka kecurigaan dan pandangan negatif yang mendahului, dapat hilang. Persis seperti diskusi Bhante yang sangat hangat dengan para santri dan begitu pula diskusi Pendeta Boy bersama Pak Ustaz di pondok pesantren NurulHakim. Semua itu adalah Indonesia yang sebenarnya. Toleransi dan perdamaian adalah sikap masyarakat Pancasilais.
Penyebarluasan pandangan dan pemahaman intoleran memang mudah dilakukan dan banyak terjadi. Dalam kondisi tidak ada atau terputusnya komunikasiantarumat beragama, memang sangat rentan untuk terjadi konlik. Tetapi dalam rencana tindak lanjut, kami para peserta sudah berkomitmen untuk menyebarluaskan pandangan toleran dan juga membuka ruang komunikasi seluas-luasnya di lingkungan sekitar. Saya yakin kami bisa menjadi jembatan demi terjalinnya komunikasi, untuk saling memahami dan membangun kerangka kebhinnekaan agar tercipta harmoni.
Belajar keharmonisan dan toleransi umat beragama dari pelatihan INGAGE dan Live-in
di pesantren Nurul Hakim, Medan.
K
ERUKUNAN umat beragama di Sumatera Utara merupakan persoalan yang akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang menegangkan di masyarakat. Program dan pelatihan yang diadakan, ditambah dengan kearifan lokal yang dimiliki Sumatera Utara, sebenarnya merupakan modal, upaya sekaligus sarana untuk mengatasi permasalahan yang ada. Terkait dengan hal ini,B h i k k h u D h i r a p u n n o, I N G AG E M e d a n