As r i R a s j i d, I N G AG E M a n a d o
Peserta INGAGE Manado berfoto bersama di Pura Danu Mandara Tondano
antara lain: Fakultas Ushuludin, Adab dan Dakwah IAIN Manado, Universitas Kristen Indonesia Tomohon, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Utara, DPP GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia)Provinsi Sulawesi Utara, STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri) Manado, LAPEMA (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Antar Agama), LESBUMI (Lembaga Seni & Budaya Muslimin Indonesia) PWNU Sulawesi Utara, Tribun Manado, RAL 102,8 FM Manado, RRI Manado, Bukit Doa Kelong Kota Tomohon, Vihara Dhammadipa Manado, Mesjid Miftahul Jannah Manado, GMIM Solagratia Tikala, Pura Danu Mandara Tondano, dan FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) Provinsi Sulawesi Utara.
Hampir tiga jam saya memilih pakaian yang akan dibawa, karena jujur saja baru kali ini akan mengikuti kegiatan pelatihan yang durasinya cukup lama, yaitu tujuh hari dari tanggal 22 September sampai tanggal 28 September 2016. Hal unik dari kegiatan ini menurut saya adalah program Live-in, di mana peserta akan tinggal di rumah keluarga yang berbeda keyakinan selama tiga hari. Akan ada banyak kesan yang sangat disayangkan jika tidak tertuang dalam sebuah tulisan.
Saya cerita sedikit bagaimana saya bisa menjadi salah satu peserta dalam kegiatan ini, saya diinformasikan oleh seorang fasilitator lokal pada kegiatan ini yang bernama Taufani, kebetulan beliau mengajar di IAIN Manado dan juga aktif di LESBUMI NU Sulawesi Utara. Beliau menelepon saya kira-kira sebulan sebelum pelaksanaan kegiatan, beliau menjelaskan secara detail tentang INGAGE dan meminta saya untuk membantu menyebarkan informasi kegiatan ini, khususnya di komunitas Islam Syi’ah yang ada di Kota Manado.
“Nanti cari waktu ketemuan, saya akan menyerahkan poster terkait kegiatan ini. Sambil menunggu waktu bertemu, saya akan membagikan format pdf. poster tersebut di akun Facebook saya. Mohon dibagikan lagi lewat akun Facebook anda,”demikian kata beliau menutup obrolan di telepon.
Waktu berlalu, kurang lebih dua pekan tidak ada kabar dari saudara Taufani, hingga akhirnya pada hari minggu, 04 September 2016, beliau menelepon dan mengajak untuk bertemu. Saya menentukan tempatnya, yaitu di Waroeng Sahabat, tempat
nongkrong sahabat-sahabat yang bergelut di dunia media online
di malam hari. Sengaja saya pilih tempat itu agar saudara Taufani bisa saling kenal dengan sahabat jurnalis yang ada di Kota Manado, sehingga kedepannya beliau tidak susah lagi untuk mempublikasikan kegiatan seperti ini.
Mengawali pembicaraan pada pertemuan itu beliau menanyakan kalau sudah ada penganut Syi’ah yang mendaftar jadi peserta INGAGE. Saya menjawab belum ada, karena banyak penganut Syi’ah yang usianya sudah melewati batas yang disyaratkan oleh panitia, termasuk saya juga sudah lewat batas usia. Taufan berinisiatif mengajukan saya sebagai peserta yang mewakili Islam Syi’ah.
Oh iya, saya lupa perkenalkan diri. Nama saya Asri Rasjid, kebetulan saat ini dipercaya menjadi ketua ormas Islam Syi’ah, Ahlulbait Indonesia (ABI) wilayah Sulawesi Utara. Mungkin karena saya penganut Islam Syi’ah sehingga saudara Taufan mengusulkan ke panitia untuk menjadikan saya sebagai peserta INGAGE. Katanya belum ada penganut Syi’ah yang mendaftar. Makin beragam latar belakang iman peserta, makin banyak pula pengetahuan yang akan diperoleh lewat kegiatan ini, begitu kata beliau. Latar belakang pendidikan saya hanya lulusan SMK. Saya lahir dan besar di Kota Bitung. Menurut cerita orang tua, sejak saya berusia satu tahun kita sudah tinggal di lingkungan mayoritas beragama Kristen, mungkin itulah sebabnya sikap toleransi sudah mendarah daging di tubuh saya. Motivasi saya ikut kegiatan ini adalah ingin mengenal orang-orang yang memiliki sikap dan pandangan yang sama dengan saya terhadap keberagaman, sehingga nantinya kita bisa membangun hubungan harmonis dalam berpartisipasi membangun Indonesia.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 WITA. Sesuai petunjuk dari panitia yang dikirim melalui Aplikasi Media Sosial Whatsapp
atau WA dan e-mail sehari sebelumnya, peserta harus berada di lokasi pelatihan yaitu di hotel Formosa Manado sebelum pukul 19.00 WITA. Karena agenda pertama akan dilaksanakan pada jam tersebut, yaitu makan malam bersama di restoran hotel. Dalam pesan tersebut panitia juga menginformasikan properti yang harus dibawa oleh peserta, juga menginformasikan bahwa peserta sudah bisa check-in secara mandiri mulai pukul 14.00 WITA. Dan saya pun segera berangkat mengingat perjalanan dari rumah ke hotel tempat pelatihan memakan waktu kurang lebih satu jam. Jaraknya tidak begitu jauh, tapi akibat peraturan ‘satu arah’ yang diterapkan oleh pemerintah dan kepolisian, maka kemacetan pun tak bisa dihindari.
Dalam perjalanan menuju hotel, hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah saya nanti akan tidur sekamar dengan orang yang berbeda agama. Itu sudah pasti karena sesuai tema kegiatan “membangun jembatan lintasiman”. Jembatan itu dibangun dari ruang kecil (kamar hotel) kemudian ke ruang yang lebih besaryakni ruang kelas tempat menerima materi. Di ruang itu kita berbaur dengan peserta lainnya yang tentunya lebih banyak ragam agama dan kepercayaan dibanding ketika berada di dalam kamar. Kemudian ke ruang yang lebih besar lagi yaitu di lingkungan masyarakat melalui program Live-in. Upaya membangun jembatan lintasiman tentunya tidak berhenti disini, masih banyak lagi ruang yang lebih besar yang harus kita hubungkan sehingga terciptalah jembatan-jembatan iman dalam ruang yang lebih besar lagi yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagi beberapa orang atau bahkan beberapa komunitas yang ada di negeri ini mungkin menganggap metode INGAGE ini metode biasa-biasa saja, bisa saja sekarang ini mereka juga sedang dan sudah melakukan hal yang sama dengan metode mereka sendiri. Saya pribadi juga tidak menganggap apa yang dilakukan oleh ICRS lewat program INGAGE adalah metode yang terbaik dari metode-metode lain yang dilakukan oleh komunitas lintasagama lainnya. Tapi menurut saya akan lebih kokoh lagi
jembatan lintasiman itu jika semua jembatan yang akan dibangun dan yang sudah dibangun dihubungkan satu sama lain. Lalu saling mendukung dan tidak saling menyalahkan sehingga benar-benar terwujud semboyan bernegara yang dicita-citakan para pendiri negeri yang sama-sama kita cintai ini.
Menurut saya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika belum terwujud seutuhnya, karena pada kenyataannya kita masih terkotak-kotak, masih mempersoalkan perbedaan agama, suku, ras dan budaya. Padahal kita semua tahu bahwa kita berbeda, tapi kita tak pernah sadar kalau kita memang beda, sehingga yang terjadi bukannya saling memahami perbedaan itu tapi ingin menyamakan perbedaan-perbedaan itu. Maka jangan heran kalau saat ini masih sering terjadi pertikaian antar suku dan agama. Salah satu contoh kasus pengusiran warga Syi’ah di Sampang, Madura yang hingga hari ini pun negara belum bisa menyelesaikannya dengan memulangkan mereka ke tanah kelahiran. Hal ini juga menjadi bukti belum terwujudnya kesetaraan hak dan kebebasan beragama dalam sebuah negara. Apa yang terjadi pada aktivis HAM? Dimana mereka? Apakah kita harus menyalahkan mereka? Tentu tidak, justru kita harus membangun jembatan dengan mereka para aktivis dan mencari solusi secara bersama-sama.
Setelah melewati macetnya jalan Kota Manado di sore hari, akhirnya tiba juga di hotel Formosa, Saya langsung menelpon saudara Taufani untuk menginformasikan ketibaan saya sekaligus meminta arahan dari beliau apa yang harus saya lakukan. Jujur saja saat itu semacam ada keraguan apakah acaranya jadi dilaksanakan atau tidak karena suasana hotel tidak ada tanda- tanda akan diselenggarakannya kegiatan tersebut. Panitia pun belum berada di tempat, apalagi perserta, mungkin saya peserta yang pertama tiba di lokasi. Saudara Taufani mengarahkan saya untuk check-in sendiri sesuai dengan pesan Whatsappyang dikirim panitia sehari sebelumnya. Beliau juga mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju hotel. Sesaat setelah telepon ditutup segera saya menuju reception untuk melakukan check-in.
Recepsionis menyerahkan kunci kamar 102 pada saya. Saya pun segera menuju kamar itu.
Seperti dugaanku sewaktu dalam perjalanan ke hotel bahwa setiap kamar isinya dua orang, petugas reception pun mengatakan demikian. Tetapi teman sekamar saya belum datang. Teman baru untuk berbagi cerita suka dan duka, baik yang sudah dilewati maupun yang akan dilewati bersama-sama dalam kegiatan ini dan setelahnya. Di dalam kamar saya mengeluarkan baju yang ada di dalam tas ransel dan menaruhnya di lemari yang ada di kamar hotel. Setelah itu saya bersiap-siap untuk bergabung dengan teman-teman lainnya pada agenda pertama kegiatan ini yaitu makan malam bersama.
Dengan beragam latar belakang agama, kami duduk makan bersama dengan menu makanan yang sama pula. Nilai–nilai kesetaraan pun mulai terasa pada momenini karena yang berada di ruang makan ini bukan cuma beda agama, tapi juga beda suku, status sosial, dan lain sebagainya. Tapi semuanya melebur seolah-olah sudah saling kenal. Mungkin beberapa peserta sudah saling kenal sebelumnya, ada yang kuliah di kampus yang sama, ada yang pernah ikut kegiatan serupa maupun kegiatan lainnya bersama-sama. Ada juga yang tidak saling kenal sama sekali, contohnya saya sendiri. Saya hanya mengenal dua orang saja di ruangan itu, yaitu Jendri Frans Mamahit (peserta) dan Pak Taufani (panitia). Selain dua orang itu saya tidak kenal, bahkan ada yang baru bertemu di kegiatan ini.
Saya memilih duduk dengan peserta yang wajahnya asing di mata saya, dan mungkin sebaliknya demikian, wajah saya juga asing di mata mereka. Kami duduk berempat tepat di depan lift, kita pun langsung berkenalan. Orang pertama bernama Eka Naisah Putra, seorang wartawan media online yang ada di Kota Manado, kebetulan Eka beragama Islam. Berikutnya Hendy Hebimisa dan Surikno Manoka, mereka berdua penghayat kepercayaan Masade. Kepercayaan ini hanya ada di kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Hendy menjelaskan sedikit tentang ajaran Masade yang ternyata
ada kemiripan dengan agama Islam. Di Sangihe mereka dikenal dengan nama ‘Islam Tua’. Dengan kehadiran mereka berdua sebagai peserta INGAGE lebih menambah keberagaman agama dan suku pada kegiatan ini, yakni agama Masade dan suku
Sangihe.
Dari semua peserta yang terlibat dalam kegiatan ini, ada seorang peserta yang ternyata bertetangga dengan saya, namanya Tiarastella Amanda Kangiras, seorang mahasiswi semester tujuh di Universitas Kristen Tomohon (UKIT). Rumahnya tidak jauh dari rumah saya, hanya berbeda lorong saja. Secara administrasi negara kita berdua tercatat dalam satu buku register kependudukan di Kelurahan Singkil Dua Lingkungan II. Jadi mestinya jembatan lintasiman sudah terbangun dari lingkungan tempat tinggal kitakarena kita punya banyak kesempatan untuk bertemu, tapi yang terjadi kita dipertemukan oleh Tuhan di ruang kelas INGAGE. Mungkin saja Tuhan berkehendak memang berkehendak demikian. Setelah selesai sesi makan malam bersama, peserta diper- silakan istirahat. Jadwal kegiatan pun sudah dibagikan ke masing- masing peserta sesaat sebelum makan malam, Peserta tinggal menyesuaikan waktu sesuai jadwal tersebut. Saya pun bergegas menuju kamar setelah bincang-bincang sedikit dengan tiga sahabat baru yang saya ceritakan di atas sambil menghabiskan beberapa batang rokok. Sampai di kamar, saya melihat tas pakaian teman sekamar sudah ada tapi orangnya tidak ada, dugaan saya ia masih di ruang makan sedang asyik ngobrol dengan peserta lainnya. Saya pun langsung berbaring, rasa kantuk sudah mulai menyerang mata saya.
Tiba-tiba pintu kamar berbunyi seperti ada yang membukanya, dan ternyata teman sekamar yang membuka. Saya pun bergerak menghampirinya, kami bersalaman dan berkenalan. Ia lantas memperkenalkan diri, namanya Deo Runtunuwu, calon pilot muda yang gemar mengikuti kegiatan interfaith seperti ini, Ia sudah pernah mengikuti beberapa kegiatan lintasiman sebelumnya yang diselenggarakan oleh Organisasi Keagamaan Pemuda (OKP) yang
ada di Sulawesi Utara, seperti GP ANSOR Sulut, GAMKI Sulut dan lain-lain. Lewat kegiatan-kegiatan tersebut, Deo jadi punya banyak teman yang beragama Islam, khususnya dari komunitas ANSOR Manado. Salah satu temannya berteman juga dengan saya, teman bersama itu bernama Rusli Umar, biasa disapa ‘Abeng’. Menurut Deo, ia banyak mendapatkan informasi tentang Islam dari Abeng, baik itu tentang ajaran, budaya, bahkan ia sempat belajar membaca Alquran dan sempat menghafal surat Al-Fatihah. Namun itu semua tidak merubah keyakinannya terhadap ajaran Kristus yang telah ia yakini sejak kecil. Deo hidup di tengah keluarga Kristen yang taat, ayahnya menjabat sebagai ketua Jemaat GMIM Sentrum Manado, Ibunya kerja di Sinode AM Gereja-Gereja se Suluttenggo dan aktif juga di kegiatan lintasiman.
Malam itu kami berdua larut dalam cerita pengalaman masing- masing. Sesekali kami diskusi tentang kisruh antar umat beragama dimana agama minoritas selalu jadi sasaran empuk kaum intoleran. Di Jawa misalnya, sering kita melihat berita di televisi atau membaca berita di media online dan media cetak sering terjadi pelarangan mendirikan gereja, bahkan sering terjadi pembakaran gereja. Begitu juga sebaliknya, di Kota Bitung, Sulawesi Utara, belum lama ini terjadi pelarangan mendirikan masjid di salah satu kelurahan oleh orang-orang yang mengatasnamakan organisasi berbasis Kristen-Minahasa. Tindakan mereka tidak tanggung- tanggung, mereka sampai menaruh kepala babi di dalam rangka bangunan masjid tersebut. Tindakan ini mendapat respons balik dari orang Islam setempat. Untung saja pemerintah Kota Bitung cepat mengatasinya sehingga tidak terjadi pertumpahan darah. Kita berdua sepakat bahwa intoleransi tidak diajarkan di agama manapun. Deo menjelaskan bahwa Yesus Kristus justru mengajarkan kasih sayang kepada umatnya.
“Tetapi sekarang Aku berkata kepadamu:jangan membalas dendam terhadap orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya kalau orang menampar pipi kananmu, biarkanlah dia menampar pipi kirimu juga” (Matius 5:39. Versi BIS 1985).
Firman ini jelas mengajarkan umat Kristiani untuk tidak membalas tindakan zalim seperti yang dilakukan penganut agama mayoritas di daerah yang jumlah penganut Kristen minoritas. Pelaku peristiwa di Bitung adalah orang-orang yang mengaku beragama Kristen tetapi sejatinya mereka tidak beragama.
Demikian pula dalam ajaran Islam tentang toleransi, saya pun menjelaskan bahwa dalam Alquran, Allah berirman:
“Tiadalah Allah menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam” (Al-Anbiya:107).
Berbicara toleransi dalam pandangan Islam tidak perlu membaca seluruh isi Alquran, cukup satu ayat ini dijadikan acuan untuk bertoleransi. Rahmat yang dimaksud dalam ayat ini adalah sikap atau akhlak terhadap semua makhluk ciptaan Tuhan. Bukan hanya terbatas pada manusia, apalagi hanya dibatasi pada satu golongan saja, yaitu hanya kepada golongan yang sama agama, suku, dan lain sebagainya. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan memiliki hawa nafsu. Hal inilah yang mendorong manusia untuk selalu dinamis berubah ke segala arah. Jika tidak dikendalikan akan mendorong manusia untuk melakukan perbuatan tercela, intoleransi dan kerusakan-kerusakan di muka bumi. Inilah hawa nafsu manusia yang diucapkan oleh Nabi Yusuf yang diabadikan dalam ayat suci Alquran:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku maha pengampun lagi maha penyayang”. (Yusuf:53).
Sikap intoleran banyak terjadi di dunia, terlebih lagi terjadi di bumi nusantara yang katanya memiliki semboyan “Bhinneka Tungkal Ika”. Akankah sikap ini akan terus kita turuti? Jawabannya ada pada diri sendiri. Jangan mudah menyalahkan orang lain hanya karena dia berbeda, karena setiap kita adalah bernafsu. Nabi Muhammad diutus Allah untuk membimbing nafsu manusia, bagaimana membimbing, dikendalikan dan diarahkan sehingga
Islam betul-betul menjadi rahmat bagi semesta alam.Allah SWT juga berirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Muhammad itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah” (Al-Ahzab:21).
Ayat ini lebih mempertegas pandangan Islam terhadap toleransi. Nabi Muhammad sebagai teladan bagi semua manusia yang mengharap rahmat Tuhan dan kedatangan hari kiamat dengan selalu menyebut nama Tuhan, bukan hanya sebagai teladan bagi pemeluk Islam.Dalam banyak riwayat diceritakan bagaimana akhlak Nabi Muhammad pada orang yang berbeda agama. Salah satu contoh adalah kisah seorang buta dan miskin beragama Yahudi yang setiap hari diberi makan oleh beliau. Terlalu eksklusif seorang Muhammad jika akhlak beliau hanya untuk diteladani oleh penganut Islam saja.Ada banyak kisah Nabi Muhammad dan para utusan Tuhan, yaitu Nabi &Rasul lainnya yang bisa kita teladani dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat. Tentunya dengan tanpa memandang agama yang kita anut, karena Nabi Muhammad dan para Nabi & Rasul lainnya diutus sebagai rahmat dan teladan bagi kita semua.
Begitu pula dengan sosok Yesus Kristus yang menurut saya diutus Tuhan sebagai wujud kasih bagi semua makhluk ciptaanNya. Ada keteladanan dalam pribadi beliau yang bisa diteladani oleh semua umat manusia. Yesus dapat dijadikan contoh bagi manusia merdeka. Ia hanya berpihak dan berpijak pada kebenaran, cinta dan pelayanan cinta kasih. Ia berbicara benar sejak usia bayi. Ia melayani manusia, menyembuhkan yang buta, dan menghidupkan yang mati. Setiap diri kita harus menjadi Yesus. Sesungguhnya, Yesus-yesus tengah menanti kelahirannya dari dalam setiap pribadi kita. Namun Yesus tidak rela dilahirkan kecuali oleh Bunda Suci Maria. Siapakah Bunda Maria di dalam diri kita? Tidak lain ia adalah akal dan nurani kita. Saat kita memariakan dan menjaga kesucian akal dan hati nurani kita, maka saat itulah lahir Yesus
dari dalam diri kita berupa kebenaran dalam bersikap, berucap dan bertindak. Segera setelah Sang Yesus lahir dari diri kita, ia tidak menunggu hari esok untuk berkata benar. Ia akan mulai hidup melayani manusia di sekitarnya. Ia bekerja menyembuhkan orang-orang yang buta mata hatinya agar dapat melihat kebenaran. Ia terus bekerja menghidupkan orang-orang yang mati semangat hidupnya, mati cita-citanya dan mati harapannya agar dapat hidup aktif, produktif, kreatif, progresif dan responsif.
Jelas sudah bahwa Tuhan melalui para utusanNya tidak mengajarkan manusia untuk bertikai, tapi mengajarkan kasih dan kedamaian. Manusia itu sendiri yang selalu mengikuti hawa nafsunya sehingga merasa paling benar dengan keyakinan yang dianutnya.
Kamis 22 September 2016, adalah hari dimana kami memulai kegiatan INGAGE. Dimulai dengan seremonial pembukaan yang dihadiri oleh unsur pemerintah, unsur petinggi ormas, petinggi sekolah keagamaan, dan tokoh-tokoh agama, yang berlangsung penuh hikmat. Acara ini diwarnai dengan berbagai macam nasehat kepada para peserta tentang pentingnya menjaga dan merawat Kebhinnekaan di Nusantara.
Selesai seremonial pembukaan dilanjutkan dengan sesi istirahat, sholat dan makan selama satu jam. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi perkenalan peserta, panitia dan pemateri. Metode perkenalan yang dipakai sangat praktis dan luar biasa menurut saya, dalam sekejap kita sudah saling mengingat nama seluruh peserta, panitia dan pemateri. Kami membentuk lingkaran kemudian dimintamenyebutkan nama dan memilih satu atau dua kata dari inisial namanya. Setelah itu, orang yang berada disamping kiri menyebutkan kembali nama dan kata yang telah dipilih oleh orang yang di sebelah kanannya sebelum ia melakukan hal yang sama. Begitu seterusnya sampai ke orang yang terakhir. Uniknya, orang yang paling terakhir harus menyebutkna nama dan kata yang telah disebutkan dari orang pertama sampai orang terakhir sebelum dia. Kami pun disibukkan dengan menghafal nama-nama
dan memadankan kata-kata yang telah disebutkan oleh sejumlah orang sebelum giliran kita.
Kami melewati sesi itu dengan penuh tawa sambil menghafal, rasa dan suasana yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Perbedaan tak nampak lagi, hilang ditelan suasana gembira dalam satu ruangan. Inilah salah satu momenterbaik menurut saya saat mengikuti kegiatan INGAGE. Hari itu kami lewati dengan menerimatiga materi yang sudah terjadwal. Materi yang kami terima di hari pertama adalah Hak Asasi Manusia atau HAM
yang disampaikan oleh Ibu Alviani Permata, kemudian materi
Dunia Digital & Media Sosial yang dibawakan oleh Bapak Leo Epafras, dan ditutup dengan materi Agama-Agama Dunia yang disampaikan oleh Bapak Al-Makin. Di materi inilah kami diajarkan untuk tidak menilai agama lain dari perspektif agama yang kita anut. Kita diajarkan untuk senantiasa bertanya langsung kepada penganut suatu agama jika ingin mengetahui ajaran agamanya secara subjektif. Agar kita tahu dimana letak perbedaan ajaran agama-agama yang ada di dunia untuk dipahami dan dimengerti