1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
Sehimpun Cerita Dari Titik Temu Lintasiman © Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Rights Reserved
Cetakan Pertama, Januari 2017
Tim Penyunting : Alviani Permata & Ida Fitri Tata Letak : Dwi Pengkik
Pewajah Sampul : M. Rizal Abdi
Diterbitkan oleh:
Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)
Bekerjasama dengan
Ifada Press
Jl. Turen No. 240 KKN-54
Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman - Yogyakarta 55581 Telp. (0274) 625843
Mobile: 081359150899 (Fajar Saputro) Email: [email protected] Website: www.ifadabooks.com
Cet. 1–Sleman: Ifada Press, 2017 viii, 272 hlm. 14 x 20,5 CM
Daftar Isi ... v
Prolog
INGAGERS, damaimu terkonirmasi! ... 1
Leonard C. Epafras
I. Suara-suara yang Liris ... 11
Program Tujuh Hari Training
dan Live-in Bersama INGAGE ... 13
Bona Ronny Pati Butar Butar, INGAGE Medan
Pengalaman Luar Biasa Bersama INGAGE ... 25
Rasita Sarante, INGAGE Manado
Perjalanan Manja Tetapi Kritis,
ke Tempat Eksotis Hingga Mistis ... 41
Edison F. Swandika Butar Butar, INGAGE Medan
Karena Dia, Insan Bersatu dalam Perbedaan ... 49
Asri Rasjid, INGAGE Manado
Kesetaraan ... 67
Menghargai Keragaman Lintasiman ... 71
Pateki Sounawe, INGAGE Ambon
Perbedaan adalah Kekayaan ... 75
Wilhelmus Mance Salmon, INGAGE Ambon
II. Mereka yang Mendengar ... 83
Sahata Saoloan (Seiya Sekata)
Merangkul Perbedaan ... 85
Doharma Parulian Purba, INGAGE Medan
Tujuh Hari (Belajar) Mengenal Agama Lain ... 101
Sri Wahyuni Fatmawati Pulungan, INGAGE Medan
Nilai-nilai Universal dalam Agama-agama ... 113
Tauiq Lovonita, INGAGE Manado
Tuhanku adalah Tuhan Lintasagama ... 121
Ardiman Kelihu, INGAGE Ambon
INGAGE: Pesantren Keberagaman ... 127
Ridhwan Ibnu Luqman, INGAGE Ambon
III. Para Pelintas Batas ... 143
Komunikasi dalam Harmoni ... 145
Anton Sahputro Hutauruk, INGAGE Medan
Kerukunan Umat Beragama di Medan ... 151
Bhikkhu Dhirapunno, INGAGE Medan
Agamaku Agamaku, Agamamu Agamamu ... 155
Desi Ratna Hutajulu, INGAGE Medan
Menerima Keberagaman Sebagai Dasar
Persatuan Negara Indonesia ... 161
C.Pdt. Pahala Sihotang, INGAGE Medan
Embrace Your Diversity! ... 167
Devia Rumangu, INGAGE Manado
INGAGE: Pengalaman Bersama Teman
yang Berbeda Keyakinan ... 191
Dessi N. Wentuk, INGAGE Manado
Tulisan Releksi Saat Mengikuti Kegiatan INGAGE ... 205
Febrina Mato, INGAGE Manado
SemakinBanyak Warna,
Maka Akan Semakin Menarik ... 215
Indri Moniaga, INGAGE Manado
INGAGE dan Agenda Mengelola Keragaman ... 229
Tauiq Bilfaqih, INGAGE Manado
Ketika Hantu Jadi Tuhan ... 241
Eklin A. de Fretes, INGAGE Ambon
Berbeda-beda Tak Mesti Dibeda-bedakan ... 247
Wirda Salong, INGAGE Ambon
Jurnal Harian bersama Inang Siahaan ... 261
Indah Fikria Aristy, INGAGE Medan
Epilog
INGAGE, Lentera dalam Kegelapan Toleransi Berbangsa ... 269
K
ATA seorang teman saya, jika ingin berhasil dalam pemasaran produk, bidiklah tiga sasaran. Tiga sasaran itu diringkus dalamperpendekan kata YWN, yaitu youth (kaum muda), women (kaum
perempuan), dan netizen (penghuni dunia digital). Pandangan
ini berasal dari wacana pemasaran dan bisnis. Tanpa harus sepakat sepenuhnya dengan saran ini, ketiga penanda tersebut memang mempunyai posisi yang penting dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Dalam pengertian YWN di atas, perempuan dalam bingkai emansipasi maupun dalam konteks masyarakat yang lebih tradisional, punya peranan penting dalam menghubungkan generasi tua dan muda. Melalui perempuan aliran nilai di transportasikan, dan dalam banyak hal perempuan menjadi sumber sistem nilai itu sendiri. Jika dalam pemasaran, sistem nilai yang dimaksud adalah preferensi terhadap komoditas, maka dalam pemahaman yang lebih luas tentu saja perempuan mempunyai otonominya sendiri, sekaligus punya pola hubungan dengan elemen individual dan sosial yang lain secara unik. Namun, manapun yang menjadi cara pandangnya, tidak mungkin mengabaikan dan menomor duakan perempuan dan peranannya dalam masyarakat.
INGAGERS, damaimu terkonirmasi!
SementaraY dan N, yaitu youth dan netizen, meskipun tidak serupa, tapi kedua istilah ini saling berkaitan. Indonesia adalah salah satu pasar digital terbesar di dunia. Sekitar delapan puluh juta dari 230 sampai 250 juta penduduknya, terpapar internet. Jumlah pengguna telepon selular dan telepon pintar bahkan lebih mengesankan lagi, ada tiga ratus juta orang Indonesia yang terdaftar sebagai pengguna alat komunikasi ini. Dari pengguna internet, 85% adalah kaum muda! Jadi bisa dibayangkan bahwa potensi kaum muda yang dahsyat ini.
Dulu para pejabat suka bilang kalau kaum muda itu adalah “generasi penerus bangsa.” Itu juga kata tokoh Indonesianis, almarhum Ben Anderson di sebuah kuliah umum tahun 1999, mengamati bahwa di Indonesia, “... hingga saat ini, kekuatan politik istimewa yang dimiliki mahasiswa terletak pada posisi sosial mereka sebagai simbol masa depan bangsa.” Tokoh ini pula yang pertama kali menegaskan peranan sangat besar pemuda dan pelajar dalam revolusi kemerdekaan. Jadi sebenarnya tidak mungkin lagi mengabaikan peranan kaum muda dalam mengonstruksi relasi sosial dan membangun wacana kebangsaan.
Jiwa muda sering digambarkan penuh dengan gairah hidup, potensi, dan semangat yang masih dalam proses pencarian bentukyang mapan. Sering kali dalam kondisi seperti itu, kaum muda dipandang sebagai kelompok yang membutuhkan bimbingan dan arahan, sebab mereka masih dalam proses pencarian jati dirinya. Ada banyak hal yang dicapai oleh kaum muda dalam kreativitasnya, seperti yang ditunjukkan oleh para pendiri negeri ini, juga pada generasi muda masa kini dengan teknologi digital. Dalam penelitian saya tentang persepsi keagamaan di kalangan
muda, khususnya generasi Millennials (usia 17 – 30 tahun), ada
banyak sekali contoh bagaimana generasi ini terlibat aktif dalam
bisnis, bahkan politik, seperti munculnya apps (aplikasi pada
gawai) untuk Pemilihan Umum (Pemilu). Dalam kerangka ilmu budaya dan meminjam istilah Alvin Tofler, generasi ini adalah
Namun pada sayap yang lain, kaum muda juga dipandang sebagai generasi yang dapat tersesat dalam pencarian jati dirinya. Kaum muda sering dimanfaatkan sebagai corong dari pandangan yang tertutup, bahkan hingga menjadi target rekrutmen bagi agenda ekstremisme agama. Sering pula menjadi pion dalam memobilisasi pesan-pesan keagamaan yang keras. Ketakutan yang berselimut
moralitas (moral panic) sering juga melanda kaum yang lebih tua
terhadap tingkah polah kaum muda masa kini, terutama dalam hal pergaulan dan ideologi. Karena itu banyak pandangan yang menilik perlunya mengendalikan dan “membimbing” kaum muda. Ada semacam semangat untuk “menggurui” lapis masyarakat ini.
Dalam konsep pedagogi yang lebih mutakhir, pendekatan yang lebih baik adalah dialogis dan tidak menggurui. Kaum muda diberi ruang ekspresi, interaksi dan modal wacana, namun selebihnya mereka dapat menemukan jalan yang paling mengena dengan jiwa dan aspirasi mereka sendiri. Kata kuncinya adalah terbukanya ruang.
INGAGE (Interfaith New Generation Initiative and
Engagement) adalah ruang semacam itu. Di dalamnya berkumpul kaum muda yang berproses bersama, saling mengenal, belajar, berdebat dengan sehat, bermain, dan membangun aspirasi. Ia menjadi ajang, gelanggang perjumpaan kaum muda lintasagama, jender dan preferensi seksualitas, aliran keyakinan, dan pada batas tertentu lintasetnik pula.
INGAGE adalah sebuah inisiatif yang diprakarsai The Lutheran World Federation(LWF) dan Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS). LWF adalah persekutuan gereja-gereja Lutheran yang berkantor di Jenewa, Swiss. LWF bekerja mem bangun inisiatif-inisiatif kemanusiaan berlandaskan harkat kemanusiaan dan keadilan, kasih, penghormatan pada kebe ragaman, inklusivitas, dan mengembangkan partisipasi yang lebih luas tanpa memperhatikan perbedaan jender, kelas sosial, agama, dan etnisitas.
(UIN Suka), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Ketiga universitas ini diwakili oleh Centre for Religion and Cross-cultural Studies (CRCS), UGM, Sekolah Pasca-sarjana Studi Islam, UIN Suka, dan Program Pasca-sarjana Teologi, UKDW. Ketiga lembaga ini di tahun 2006 sepakat untuk membangun program bersama untuk menyediakan pendidikan doktoral bertaraf internasional, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Inisiatif-inisiatif yang dibangun dalam kaitan ketiga pilar tersebut adalah untuk membangun masyarakat tanpa diskriminasi, menghargai perbedaan, dan membangun keilmuan kajian agama yang berdampak pada kebijakan publik dan masyarakat yang lebih luas.
Sekalipun tidak ada kaitannya dengan pemasaran produk, merujuk pada YWN di atas maka ketiga elemen, kaum muda,
perempuan dan netizen diberi porsi besar dalam wacana
keberagaman, lintasagama, dan hak asasi manusia dalam memupuk masa depan Indonesia yang lebih baik. LWF dan ICRS sendiri telah berpengalaman dalam membangun inisiatif untuk kaum muda. ICRS mensponsori inisiatif Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) dan Interfaith Youth Pilgrimage (IYP). INGAGE adalah inisiatif ICRS paling mutakhir.
Program ini dengan sengaja mengupayakan kehadiran kelompok agama marjinal dan termarjinalkan seperti agama-agama lokal, meskipun belum sangat mewakili keragaman kelompok-kelompok ini. Kami beruntung dengan kehadiran dari agama Parmalim, Ugamo Bangso Batak, Masade, dan Nuaulu. Dari enam agama yang diakui pemerintah Indonesia, kami kurang beruntung untuk mengajak peserta dari Kong Hu Chu.Namun dalam tidak utuhan ini, kami tetap bahagia karena berkesempatan mengenali kekayaan tradisi Kristen (Protestan dan Katolik), Islam (Sunni, Syi’ah, dan Ahmadiyyah), Hinduisme (tradisi Bali dan India), dan juga Buddhisme Theravada.
mencoba menyisihkan sedikit ruang semi-publik bagi kaum muda, agar ada peluang bagi mereka untuk membangun wacana alternatif, membangkitkan DNA kebangsaan, dan memulihkan kepedihan sosial.
INGAGE diadakan di tiga kota: Medan, mewakili Indonesia Barat, Manado, mewakili Indonesia Tengah, dan Ambon, mewakili Indonesia Timur.Di masing-masing kota berkumpul dua puluh lima hingga tiga puluh peserta, ditambah beberapa pangamat, yang berasal dari beragam tradisi keagamaan, dan bahkan dari kekayaan orientasi seksualitas. Program ini mematok kaum muda yaitu mereka yang berusia tujuh belas hingga tiga puluh tahun. Tapi kenyataannya kategori ini tidak sepenuhnya dipatuhi. Beberapa peserta berusia lebih dari tiga puluh tahun.
Pilihan atas tiga kota ini tentu saja pantas dipertanyakan dan tentunya berdasarkan asumsi tertentu. Namun yang pasti adalah ketiga lokasi tersebut di luar pulau Jawa dan kota-kota yang sangat dinamis dalam hal hubungan sosial dan lintas-agama, sehingga diharapkan mewakili pengalaman ketiga wilayah Indonesia.
Program memusatkan perhatian pada tiga isu yang dianggap penting, yaitu membangun kesadaran hak asasi manusia, perjumpaan lintasagama, dan media sosial (medsos).Aktivitas didesain untuk tujuh hari yang terbagi dalam dua hari ceramah dan diskusi, satu
hari perjalanan antariman (Interfaith Journey) dengan mengunjungi
beragam rumah ibadah, dan Live-in, di mana peserta tinggal dalam
ruang sosial dan keagamaan keluarga yang berbeda agama. Ada banyak cerita. Ada kejutan, dan perjumpaan yang meng-harukan, menggugah sekaligus merontokkan paku citra (stereotip) yang selama ini masih bersemayam di benak saya. Saya belajar banyak sekali dari dinamika interaksi peserta, maupun dalam perjalanan antariman di berbagai tempat ibadah. Kecuali medsos, kedua isu yang lain tampak “biasa” dan mungkin bagi sebagian orang sudah klise, ternyata disambut dengan penuh antusiasme.
sebagai manusia berdasarkan kovenan yang diratiikasi oleh pemerintah Indonesia. Tujuannya bukan sekedar memperkaya pengetahuan tetapi juga edukasi dan memberi asas dan bingkai untuk mempraktikkannya dalam konteks lintasiman.
Interfaith Journey dan Live-in menjadi sesi yang paling menarik sekaligus penuh tantangan, baik bagi peserta maupun panitia. Keduanya menjadi ruang sosial di mana ada pertaruhan
identitas, titik jumpa, dan ekses dari perjumpaan. Interfaith Journey
secara umum di ketiga kota berjalan dengan baik dan sukses. Banyak dari peserta yang seumur hidup belum pernah berada dalam ruang sakral keyakinan lain. Perjumpaan di ruang-ruang semacam ini benar-benar memberi pengalaman, pembelajaran dan pertemanan baru, sebagaimana tertuang dalam pengalaman-pengalaman di buku ini.
Namun tantangan juga tidak kecil. Di Medan ada seorang peserta yang merasa tercederai rasa keberagamaannya ketika menyaksikan perjumpaan-perjumpaan lintasiman yang terjadi
selama Interfaith Journey. Ia merasa ada pendangkalan keyakinan
melalui aktivitas ini, dan karenanya mengundurkan diri prematur. Tak bisa disalahkan perasaan semacam ini. Di era kini, tarik menarik dalam diri seseorang menyangkut identitas agamanya memang menguat. Di satu sisi, ada tarikan ke luar berupa rasa ingin tahu dan berdampak dalam perjumpaan yang dapat mengubah cara pandang orang. Di sisi lain, ada tarikan ke dalam yang justru mengeraskan pemahaman dan meneguhkan prasangka selama ini.Karena itu titik tegangnya ada pada ruang antara yang tercipta dari tarik menarik ini. Apakah mau maju bergerak keluar atau menarik diri? Ia bisa menjadi titik perhentian di sempadan dan tidak ada keinginan untuk melampauinya, karena melihat apa yang di luar sana sebagai ancaman. Ia bisa juga menjadi titik transformasi kepada pemahaman baru dan keinginan untuk memperluas batas komitmen.
pengaruh dan saling silang jumpa dengan sesuatu nilai baru dan asing, namun tak luput bagi yang lain adanya sikap membatasi diri karena rasa takut maupun tak rukun pada nilai baru dan asing tersebut. Ini sesuatu yang jamak dan tidak bisa dipaksakan.
Tetapi eksesnya nyata sekali akhir-akhir ini dengan munculnya beragam hujatan, peredaran berita-berita palsu bertebaran tanpa kendali. Karena itu salah satu hal yang dipelajari dalam program
ini adalah bagaimana menghargai privasi diri (tagline: “I love my
privacy”) berkelindan dengan penghargaan dan perlindungan terhadap privasi orang lain.
Sekalipun sub-judul pengantar ini “INGAGE di tiga kota” tetapi ini bukan kisah saya semata. Saya juga sangat tergoda untuk menceritakan igur-igur tertentu yang demikian mengesankan di tiga kota ini, tetapi saya sengaja menundanya sampai Anda para pembaca, membacanya sendiri kisah-kisah di buku ini. Sebab pada akhirnya semua peserta memberikan kesan-kesan yang unik dan beragam, dengan caranya masing-masing.
Pada kenyataannya selama program berlangsung, saya justru menjadi orang yang di pinggir, mengamati, hanya sesekali terlibat dalam aktivitas, untuk menyerap dan belajar. Ibarat dalam ilm, “jagoannya” adalah para peserta sendiri yang berinteraksi langsung, memberi pertanyaan, dan membangun inisiatif sesudahnya.Sesuai dengan singkatan yang dipilih, yang
ke-Inggris-Inggrisan, INGAGE, terdengar seperti engage, yang berarti
“terlibat, bertunangan,” maka memang dampak yang diharapkan adalah keterlibatan peserta sesudah mengikuti program ini dalam aksi pembangunan masyarakat yang toleran dan damai. Ini sudah tampak dalam semangat mereka melakukan beragam aktivitas dan inisiatif. Mereka menyebut diri INGAGERS, yang bisa dibaca sebagai “mereka yang terlibat dan aktif” dalam wacana harmoni dan toleransi. Sebagian kecil dari inisiatif-inisiatif para Ingagers inisaya catat di bawah ini:
• Secara individual Ingagers dari tiga kota membagikan
laman medsos, seperti Facebook, Instagram, dan YouTube. Salah satu yang sangat aktif mengembangkan wacana damai, spiritual, isu-isu sosial, dan lintasiman misalnya yang dikelola oleh Bhante Samanera Dirapuñño dan Zikri Fadhillah, Ingagers Medan; Lenterakawanua (dikelola oleh Asri Rasjid), Ingager Manado; Ardiman Kelihu, Ingager Ambon; dan lain-lainnya.
• Ingagers (sebutan untuk alumni program INGAGE)
Manado, menggelar “Dialog an Bedah Buku Kebhinne-kaan” dengan tema “Menjaga Nusantara Merawat Bhinneka Tunggal Ika, di Gedung DPD RI Sulawesi Utara, pada Jum’at 9 Desember 2016.
• IngagersMedanakanmenyelenggarakanCampPemuda
Lintasagama, pada 30 Maret – 2 April 2016.
• Beberapa peserta Ingagers Medan adalah aktivis
pergerakan sosial dan advokasi kelompok masyarakat tertentu, mis. advokasi pada agama Parmalim, dan kelompok termarjinalkan lainnya. Keikutsertaan mereka dalam INGAGE, memperkuat dan memperluas wacana yang mereka perjuangkan.
• Ingagers Ambon menggagas Hitumesing Day, yang diselenggarakan tiap minggu. Momen adalah ruang jumpa di daerah Hitumesing bersama untuk belajar bersama dan mempererat persahabatan.
Peliputan oleh RAL FM, LIPS FM, Televisi Republik Indonesia (TVRI) Stasiun Medan, Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Manado and Ambon, pemberitaan berbagai media online dan cetak membantu memperluas wacana kaum muda lintasiman ini. Aktivitas INGAGE Ambon mendapat kesempatan diliput oleh ICTWatch, sebuah lembaga masyarakat sipil yang memberi perhatian besar pada edukasi internet dan medsos. Kehadirannya diwakili oleh Mas Matahari Timoer (MT).
ketegangan sosial akhir-akhir ini: meningkatnya intoleransi, kaum muda yang menjadi radikal, dan tantangan sosial-budaya-politik lainnya. Tentu saja INGAGE dan Ingagers adalah bagian dari upaya memberikan jawab atas tantangan tersebut. Tetapi pada dasarnya program ini bukanlah resep mujarab, tetapi ruang untuk membangun keadaban, orientasi berpikir dan bertindak alternatif, yang dampaknya mungkin baru belakangan terasa, atau bahkan INGAGE hanyalah jembatan antara bagi aspirasi kaum muda yang lebih besar. Sebab program ini serba terbatas, baik jumlah peserta, keterwakilannya, waktu, dan sumber daya lainnya. Ia seperti benih yang ditanam, tetapi Ingagers dan masyarakat yang lebih luas, termasuk pemerintah daerah yang perlu memberi pupuk, air, dan lingkungan yang sehat untuk menumbuhkannya menjadi sesuatu yang berdampak bagi masyarakat.
Para Ingagers diharapkan memelihara percakapan lintasiman senantiasa.Percakapan ke depan mesti melampaui klise-klise yang ada, yang menganggap kebaikan masing-masing agama dan budaya sebagai sesuatu yang statik. Sama seperti kearifan
lokal seperti, pela-gandong, mapalus, sahata saoloan yang tidak
boleh berhenti sebagai sekedar status dan kondisi ideal, tapi harus dihidupi terus menerus dan diberi makna baru pada konteks
medsos saat ini. Bagaimana pela-gandong, mapalus, sahata
seoloan berfungsi dan difungsikan dalam medsos?
Pada akhirnya, ada demikian banyak pihak-pihak yang terlibat melancarkan program ini. Terimakasih Bang Abidin Wakano dan Lusia Pellouw di Ambon, Bang M. Jailani dan Febrisa Miranti di Medan, Angie Olivia Wuysang dan Taufani di Manado. Serta terimakasih tak terhingga diberikan kepada para pendukung program ini, juga dengan apresiasi mereka, bantuan dan dukungan moril maupun material, serta ruang-ruang lanjutan yang mereka sediakan.
LWF dan ICRS sudah membentangkan lembar putih, membuka ruang jumpa, yang disebut INGAGE. Tinggal para Ingagers yang memutuskan untuk membubuhkan makna, mengisinya, melanjutkan, dan mengembangkannya. Di tengah riuh kebencian yang menguat, pelembagaan rasa takut, dan terpilah-pilahnya kelompok masyarakat, Ingagers dinanti untuk memberi jalan bagi masyarakat alternatif yang nirbenci, produktif, dan kreatif.
Kisah-kisah dibuku ini adalah permulaan percakapan hidup. Semoga menjadi permulaan percakapan hidup tanpa koda, yang tiada habis-habisnya. Tidak saja di kalangan Ingagers, melainkan meluas ke segala arah. Menjadi virus dan viral.
INGAGERS, damaimu terkonirmasi!
Leo
S
AYA mengetahui INGAGE melalui Group Parmalim di sebuah media sosial Whatsapp dari akun milik Wanri Lumbanraja –salah seorang mahasiswa alumni Universitas Gadjah Mada.Beliau memberikan link atau tautan untuk pendaftaran online.
Disebutkan bahwa batas usia calon peserta adalah tidak lebih dari tiga puluh tahun dan berdomisili di Medan. Namun, saya tetap mendaftarkan diri, dengan harapan saya terpilih dan mendapat ilmu tentang keragaman sebagai inti dari acara pelatihan INGAGE yang diselenggarakan oleh ICRS (Indonesian Consortium for Religious Studies). Entah kenapa saya sangat yakin akan terpilih,
Program Tujuh Hari
Training
dan
Live-in
Bersama INGAGE
Ibadah di Bale Parsantian Parmalim
Foto oleh Novita Sari Tobing, INGAGE Medan
walaupun usia melebihi batas dan domisili saya di luar Sumatera Utara, mungkin karena ketertarikan yang kuat terhadap bahasan dari program yang memang sesuai dengan posisi saya sebagai
Pemimpin Umat Parmalim atau disebut Ulu Punguan di Riau.
Di tengah-tengah keributan antaragama dan kepercayaan, baik di masyarakat umum atau pun di media sosial, kegiatan ini sangat relevan, karena acara pelatihan yang diselenggarakan oleh ICRS, The Lutheran World Federation, dan Norad ini mencakup kegiatan diskusi tentang keragaman agama yang berguna untuk semua umat.
Pendek cerita, tanggal 25 Agustus 2016 saya mendapat email dari Ibu Cendy Vebriana dari ICRS yang menyatakan saya diterima dan diikutsertakan dalam Program INGAGE Medan. Saya diminta untuk mengkonirmasi bersedia mengikuti kegiatan sebelum tanggal 29 Agustus 2016. Tanpa pikir panjang saya langsung menyatakan komitmen saya melalui WA dan e-mail. Namun muncul keraguan, jangan-jangan panitia salah membaca formulir pendaftaran saya. Untuk menghilangkan rasa ragu, saya langsung menelepon panitia. Tidak selesai di situ, keraguan lain timbul bercampur rasa takut ketika menginjakkan kaki di Kota Medan. Saya takut akan jadi bahan omongan dan dikucilkan oleh peserta yang rata-rata masih muda, sebab saya sebenarnya tidak masuk kategori.
Lebih lagi, setelah saya browsing mencari informasi tentang
Pukul 19.00 WIB, semua peserta berkumpul dan makan
bersama. Setelahnya, panitia membagikan seminar kit dan
memperkenalkan perihal kegiatan yang akan dilaksanakan mulai besok pagi. Saat makan malam itu, saya langsung menjadi sorotan karena agama saya Parmalim. Saya menunjukkan diri dengan yakin bahwa saya lain dari peserta lainnya yang mayoritas beragama Islam dan Kristen. Tetapi, tanggapan orang-orang di luar perkiraan. Mereka menyambut saya dengan hangat dan rasa kekeluargaan, hingga salah satu panitia, yaitu pak Leo selaku koordinator kegiatan ini mengajak berdiskusi tentang Parmalim. Juga kajian sejarah, cara ibadah, ragam tradisi agama-agama yang ada di Indonesia, bahkan hingga membahas asimilasi budaya dan agama di Indonesia. Peristiwa ini makin luar biasa karena seorang
Pendeta yang ikut dalam sharing kami menanggapi Parmalim
secara positif, padahal pada umumnya umat Batak Kristen Protestan menganggap kami beraliran sesat.
Ternyata suasana sudah berubah di Kota Medan. Saya tidak mendapat perlakuan diskriminatif sama sekali. Saya juga tidak mendapat serangan pertanyaan yang memojokkan, bahkan Pendeta yang notabene sangat religius itu, sangat terbuka sekali dengan perbedaan. Seperti arahan dari pak Leo, INGAGE ini diharapkan membuka ruang bagi kaum muda untuk dapat melibatkan diri dalam keragaman iman dan tradisi keagamaan, serta dapat membangun keharmonisan antarkomunitas. Untuk itu peserta dibekali dengan pemahaman tentang perbedaan iman sekaligus kesetaraan. Diharapkan peserta mampu mengeksplorasinya melalui teknologi digital secara kreatif dan inovatif untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik.
Pelatihan INGAGE ini dirancang selama tujuh hari, yaitu empat
hari Training dan tiga hari Live-in. Kedepan, program ini menjadi
kesetaraan hak serta membangun jembatan lintasiman. Lebih jauh, seperti yang tertulis di dalam buku panduan, peserta diharapkan mampu (1) menganalisis hubungan antara kelompok agama minoritas dan mayoritas di Indonesia, (2) secara aktif terlibat dengan keragaman agama dan memperkuat kesetaraan, (3) mampu menilai dan menjaga peran media sosial dalam hubungan antaragama, (4) serta aktif dan kreatif menggunakan alat komunikasi untuk menegaskan keragaman dan kesetaraan.
Pada acara pembukaan, INGAGE mengundang khalayak yang lebih luas, mulai dari perwakilan komunitas pemuda dan agama, ulama serta pejabat pemerintah. Salah satunya dari Kementerian Agama Medan, FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Medan, dan beberapa instansi dan komunitas lain.
Hari Kamis, 1 September 2016, pelatihan dimulai dengan
materi Apakah itu HAM (Hak Asasai Manusia). Pematerinya
dalam hal ini HAM memiliki ruang untuk mengesampingkan norma adat atau sistem suatu negara, (4) HAM sebagai norma-norma penting, meskipun tidak seluruhnya bersifat mutlak, tetapi cukup kuat kedudukannya sebagai pertimbangan normatif untuk diberlakukan berhadapan dengan norma nasional yang mungkin saja bertentangan, (5) HAM mengimplikasikan kewajiban bagi individu maupun pemerintah yang menekankan pada hubungan antara warga negara dan negara.
Kelima kriteria di atas memberikan perbedaan yang sangat jelas antara hak dengan Hak Asasi Manusia atau HAM. Tidak seluruh persoalan di setiap negara digolongkan dalam persoalan HAM. Kelima kriteria di atas juga telah dirangkum menjadi tiga puluh pasal HAM yang dijelaskan dalam Kovenan Hak Sipil dan Politik, serta Kovenan Ekonomi Sosial Budaya. Kriteria-kriteria tersebut memberikan pandangan bahwa tidak semua hak termasuk HAM. Cukup jelas HAM memiliki prioritas dan legalitas tinggi yang diakomodasi oleh hukum dan dapat diperjuangkan secara internasional. Dalam wacana HAM, manusia dianggap sebagai subjek yang harus dihargai, dilindungi, dan dipenuhi haknya.
Hal ini berkaitan dengan materi kedua yang disampaikan oleh Dr. Leonard C. Epafras. Beliau memetakan perkembangan dunia digital dan media sosial saat ini, kemudian mengkaitkannya dengan pelanggaran HAM. Salah satu contohnya adalah ekspos gambar dan video orang lain tanpa izin orang yang bersangkutan termasuk juga ekspos gambar maupun video porno seseorang
yang notabane adalah editing/capture hasil kehebatan dunia
digital. Dijelaskan pula dampak dari dunia digital ini bagi dinamika antarkelompok dan lintasiman. Semakin banyaknya jenis media dengan beragam aktivitas sedemikian rupa, sehingga mempengaruhi relasi, otoritas, dan struktur sosial di masyarakat.
sendiri tanpa menyadari bahwa tindakannya sudah memicu api peperangan dan menanam bibit kebencian antar komunitas. Maka dari itu, INGAGE mengajarkan cara berinternet sehat. Jika memahami apa itu internet sehat, kita dapat saling berbagi ilmu pengetahuan baik itu dalam hal pendidikan, sosial budaya, bahkan agama. Seperti yang dijelaskan Dr. Al Makin, sebagai
fasilitator dalam penyampaian materi Kemunculan Agama-agama
di Dunia, Beliau berharap peserta mengetahui sejarah agama-agama di dunia. Peserta dapat menyadari betapa kompleksnya sejarah agama-agama itu, tidak hanya agama yang dipeluknya dan kepercayaan yang diyakininya. Dalam kesempatan ini Pak Al Makin menyampaikan bagan kronologis agama-agama dan keterkaitannya antara agama satu dan yang lainnya.
Seperti materi yang disampaikan oleh Bu Alviani, kemerdekaan dan kesetaraan agama ataupun kepercayaan seseorang kurang diperhatikan di negeri ini. Agama dan budaya asing yang masuk lebih diakui dan dilindungi, sedangkan kepercayaan dan budaya lokal yang faktanya masih ada dan diyakini tidak dilindungi dan kurang diperhatikan. Mereka merasa dijajah di negeri sendiri. Sama seperti yang saya alami. Hal ini juga dirasakan oleh beberapa komunitas yang kurang menampilkan dirinya. Untuk itu, pemahaman yang telah dicapai bisa membuat orang lebih terbuka, kemudian bersama-sama mempermalukan pemerintah yang telah sebelah mata memandang warganya yang tetap setia.
Banyak orang kurang mengerti dan mengetahui sejarah munculnya agama-agama di negara ini. Banyak orang beranggapan bahwa keyakinan dan kepercayaannya itulah yang benar. Hal ini menyangkut suatu faham berupa fanatisme sempit, yang pengikutnya hanya menganggap golongan mereka adalah yang paling baik, sehingga mereka selalu mementingkan kepentingan golongannya saja tanpa mengindahkan norma-norma dan aturan-aturan dalam kehidupan bersama.
Para peserta INGAGE diharapkan nantinya bisa me
imple-mentasikannya dalam bentuk sikap nyata di komunitas masing-masing, sehingga akan tercipta negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika, yang harmonis dengan begitu banyak perbedaan dan keragaman. Materi ini menambah bekal dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga kepada pesertanya. Saya pribadi sangat bersyukur, karena hal ini sangat berguna bagi saya sebagai Ulu Punguan Parmalim. Kedepan, saya akan lebih sadar dengan HAM, sehingga bisa lebih dewasa dalam memimpin rumah tangga dan Punguan Parmalim di Kota Duri.
Sabtu, 3 September 2016, INGAGE mengadakan Interfaith
Journey, yaitu kunjungan ke berbagai tempat ibadah dan komunitas agama. Tujuannya adalah untuk melihat dan berinteraksi dengan mereka secara langsung. Tidak ada lagi kata mungkin, kira-kira, saya rasa, atau kata ragu-ragu lainnya. Tempat ibadah yang pertama kami kunjungi adalah kuil umat Hindu, yaitu Kuil Shri Mariamman. Kami berkeliling dan berdiskusi dengan pak Chandra –seorang Pandita sekaligus Sekretaris PHDI Medan.
Berikutnya kami mengunjungi Bale Parsantian Parmalim yang ada di jalan Air Bersih, Medan. Para peserta INGAGE ikut menghadiri peribadatan umat Parmalim. Saya juga dengan hikmat mengikuti ibadah dan sejenak lupa bahwa saya juga peserta INGAGE. Saya sangat terharu dan hormat kepada teman-teman peserta, juga panitia yang memberikan perhatian kepada kami, bahkan teman-teman meminta saya berfoto dengan mereka untuk mengabadikan kebersamaan ini. Tanpa sadar, air mata menetes begitu saja karena haru sekaligus gembira. Dari peristiwa ini, saya dibukakan pada kenyataan bahwa perbedaan ini indah jika kita saling memahami.
Satu hal yang menarik, umat Parmalim di Medan ini sama sekali tidak mengingat siapa saya, mungkin karena telah delapan tahun saya meninggalkan Medan. Meskipun kini saya sekarang menjadi seorang Ulu Punguan, saya tidak perlu menyombongkan hal itu.
langkah ke Vihara ITBC (Indonesia Theravada Buddhist Centre). Di sana kami disambut hangat oleh para Bhikkhu. Secara singkat, Bhikkhu yang telah senior menceritakan sejarah berdirinya vihara. Beliau juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan. Tepat pukul 17.30 WIB, kami kembali ke Asrama Haji Medan untuk makan malam bersama dan melanjutkan acara releksi atas perjalanan hari itu. Namun, karena jalanan yang macet, acara releksi dibatalkan karena kami terlambat tiba di penginapan. Kami diminta istirahat atau mengadakan acara bebas atau diskusi.
Malam itu Bhante Dhira –peserta INGAGE yang juga seorang Bhikkhu mendapat izin dari vihara untuk menginap di Asrama Haji bersama-sama dengan kami. Beliau mengenalkan kepada kami cara dan tujuan bermeditasi. Beberapa teman yang lain melakukan diskusi dan membuat permainan untuk keakraban, sedangkan saya sendiri memilih untuk diskusi dengan yang lainnya di taman luar gedung.
Esoknya, hari keempat, Minggu 4 September 2016, acara dimulai pukul 13.30 WIB karena memberi kesempatan teman-teman umat Kristiani selesai Kebaktian Minggu di Gereja. Materi siang itu adalah tentang ilmu Blogger dan ilmu Jurnalistik. Setelah itu pak Leo menyarankan untuk membangun sebuah komunitas digital sebagai sarana komunikasi dan aksi untuk hal yang positif dan sehat. Pak Leo memperkenalkan media sosial karya anak
bangsa bernama Sebangsa dan komunitas digital komunita.id.
Pukul 20.00 WIB, setelah makan malam kami diberitahu
tempat untuk Live-in. Umat Kristiani akan tinggal di Pesantren
Nurul Hakim. Umat Muslim tinggal di rumah-rumah jemaat gereja HKBP Moria di Tanjung Mulia. Dua peserta menginap di keluarga umat UBB (Ugamo Bangso Batak). Saya dan dua peserta lain menginap di Kuil Shri Mariamman.
Hari pertama di kuil Shri Mariamman. Kami berkenalan dengan keluarga yang tinggal dan bertugas menjaga kuil. Kami dipandu oleh Pak Chandra yang sangat dihormati oleh umat Hindu yang ada di situ, sehingga kami pun dihormati karena dianggap
di restoran yang berada di luar kuil. Sorenya, seorang perempuan India mengantarkan teh tarik yang masih hangat. Salah seorang dari kami memilih pulang ke rumah karena Ibunya sakit. Tinggallah kami berdua di ruangan kecil. Malamnya kami merasa bosan lalu berkeliling di sekitar kuil, siapa tahu ada yang belum tidur dan bisa diajak untuk bercerita. Seorang gadis India yang tadi mengantarkan teh tarik, mendatangi kami. Ia tidak memakai kalung Manggal Sutra di lehernya. Tak tampak pula Sindor di dahinya. Pertanda ia belum menikah. Tetapi tentu saja kami tetap merasa segan untuk mengajaknya berdiskusi pada waktu malam seperti itu.
Di hari kedua, kami bertemu lagi dengannya. Ia menyarankan jika ingin berdiskusi dengan Pendeta dilakukan pada sore hari karena beliau sangat sibuk dengan ritual sembahyang di pagi hari. Pada pagi berikutnya, kami memutuskan untuk melihat langsung ritual pemujaan. Kami menanyai salah satu umat yang baru selesai ibadah, mengapa setiap selesai melakukan pemujaan mereka berjalan mundur, meskipun ada pula yang tidak melakukannya. Ternyata, berjalan mundur adalah simbol penghormatan kepada Dewa yang dipuja, sedangkan bagi mereka yang tidak berjalan mundur tidak bisa dianggap menyalahi aturan, sebab perilaku ini bergantung pada hati dan iman seseorang.
Kami beruntung, karena selama kami tinggal di kuil, bisa melihat acara pernikahan umat Hindu yang biasanya hanya bisa dilihat dari serial TV. Pernikahan umat Hindu Tamil India dianggap tidak sah jika tidak memakai Manggal Sutra dan Sindor di kening mempelai wanita.
“Pasangan yang menikah itu mengitari api suci sebagai simbol dan penghargaan kepada Dewa,” demikian kata seorang pria yang kami tanyai. Ia bernama Prakhas dan tinggal di sekitar Kampung Keling. Belakangan kami tahu, ia adalah saudara dari mempelai perempuan yang menikah pada hari itu.
sang Pandita. Hal ini untuk meluruskan informasi atau pendapat keliru yang kami baca di blog maupun media sosial.
Dari percakapan itu, kami mendapat pengetahuan mengenai sejarah kuil Shri Mariamman. Berbeda dari yang ditulis di salah satu blog, bahwa kuil Hindu tertua di Kota Medan ini dibangun tahun 1884, bukan tahun 1881. Kuil yang terletak di Kampung Keling Kota Medan ini dibangun untuk memuja Dewi Mariamman, dengan mengatasnamakan Dewa antara lain Dewa Shri Vinajagar, Shri Murugan, Dewi Shri Mariamman (Dewi Durga dan Dewi Kali). Pada pintu dihiasi sebuah gapura dan menara bertingkat yang biasa ditemukan di kuil-kuil India selatan. Kuil yang selalu penuh oleh umat Hindu pada saat perayaan Deepawali dan Thaipusam ini memiliki sembilan patung kecil di sebelah kiri bagian dalam bangunan, yang merupakan cerminan bumi dikelilingi sembilan planet.
Saat bersembahyang, umat Hindu bebas memohon kepada Dewa manapun, tetapi harus melalui Dewa Shiva sang Maha Dewa. Keterangan ini memperkuat pendapat saya bahwa semua agama dan kepercayaan itu sama. Hanya cara dan pelaksanaanya yang berbeda. Demikian pemahaman yang saya dapatkan sebelum akhirnya kami dijemput oleh panitia pada esok harinya.
ketakutan. Apalagi akan menjadi dosa karena mewujudkan tujuan dengan cara-cara yang tidak baik.
Tidak ada kata terlambat bila sekarang mulai memperbaiki kehidupan beragama dalam lingkungan sekitar kita. Tidak boleh pesimis, meskipun niat yang baik seringkali mendapat halangan dan cobaan. Jika bersatu maka akan sangat mudah mewujudkan semua itu. Kita semua memiliki hak. Maka hak-hak setiap golongan agama dalam masyarakat harus kita lindungi dan hormati. Jika pemerintah telah mengeluarkan surat keputusan untuk mengatur kehidupan beragama, harapannya hal ini akan menjadi payung hukum bagi golongan-golongan tertindas, untuk memperjuangkan hak-haknya.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terimah kasih kepada panitia dan fasilitator yang namanya tidak dapat saya sebutkan semuanya. Terimah kasih sudah mendidik kami dan berbagi ilmu pengetahuan kepada kami semoga semunya bermanfaat dan kita semua diberkati Tuhan Yang Maha Esa, karena kita adalah objek sekaligus sebagai subjek. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan mewujudkannya?
Setiap saat dalam hidup ini adalah ibarat gambar yang belum pernah terlihat, dan gambar yang tidak akan pernah terlihat lagi. Jadi, marilah kita nikmati hidup ini dan menjadikan setiap momen menjadi indah. Jangan merusak apa yang kita miliki sekarang dengan mengejar sesuatu yang tidak mungkin kita miliki. Sebab, apa yang ada pada kita saat ini pasti bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kita impikan.
Diskusi
Foto oleh Lefrando Andre, INGAGE Manado -
Hari Pertama: Rabu, 21 September 2016
K
EGIATAN Pelatihan dan Live-in yang disebut INGAGE inisebenarnya baru dimulai pada tanggal 22 September, tetapi panitia meminta kami harus ada di hotel Formosa –tempat pelatihan berlangsung- pada tanggal 21 September.Tanggal 21 September 2016, sekitar pukul 14.30 saya sampai di hotel dan melakukan
check-in. Selain sayaada teman saya, Maghirah, dari IAIN juga. Kami masuk ke kamar masing-masing yang telah disediakan. Setiap satu kamar akan ada dua peserta yang berbeda agama.
Pengalaman Luar Biasa Bersama INGAGE
Saya sedang beres-beres, ketika Maghirah datang ke kamar mau numpang sholat Ashar. Sementara Maghirah sholat, ponselnya berbunyi dan yang menelpon itu Ibu Ida. Beliau meminta saya dan Magirah menemani Pak Leo, Ketua Pelaksana INGAGE pergi ke stasiun radio RAL FM untuk wawancara. Kami bertiga pun pergi ke sana.
Sebelum siaran kami berbincang-bincang ringan. Pewawan-cara nya adalah Mbak Linda yang mrupakan salah satu panitia lokal INGAGE Manado. Mbak Linda bertanya tentang INGAGE kepada Pak Leo dan sekali dua bertanya kepada saya dan Maghirah. Jujur saya baru kali ini melakukan wawancara di radio, siaran langsung pula, jadi memang saya agak canggung dan gugup, bahkan ada kata-kata yang tidak bisa saya ucapkan dengan jelas.Sebenarnya ini merupakan pelajaran bagi saya untuk membiasakan diri berbicara di depan banyak orang. Ada beberapa hal yang saya petik dari perbincangan kami. Pertama dari Pak Leo, yang mengatakan bahwa Program INGAGE tidak melakukan islamisasi, kristenisasi, buddhaisasi atau hinduisasi. Tetapi,dalam INGAGE,akan dibangun toleransi antarumat beragama dengan membaurkan mereka yang berbeda keyakinan, melihat tatacara ibadah agama-agama, dan juga Live-in, yaitu mengirim peserta untuk tinggal di rumah atau lingkungan yang berbeda agama dengannya. Di akhir Pelatihan dan Live-in, peserta akan membuat laporan yang akan dipilih yang paling baik dan yang mewakili. Kemudian tulisan-tulisan ituakan digabungkan dengan karya peserta dari Medan dan Ambon.
Misalnya, ketika Live-in saya takut diusir karena saya membawa tas yang dapat dikira berisi bom, padahal isinya baju. Saya juga takut disangka seorang teroris hanya karena saya menggunakan cadar. Mbak Linda pun menyampaikan kepada para pendengar radio, “Perlu diketahui para pendengar setia RAL FM bahwa Rasita ini seorang wanita yang bercadar yang menutup wajahnya.”
Setelah selesai siaran kami semua berbincang-bincang di ruang tamu, lalu langsung berangkat kembali menuju hotel. Sesampai di hotel sudah banyak orang yang datang baik peserta maupun panitia lokal. Saya langsung ke kamar dan sudah ada teman sekamar saya. Kami berkenalan dan berbincang-bincang. Namanya Sintike Raika Limpele asal dari Tompaso lulusan dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT). Orangnya baik,
mudah bergaul, dan easy going.
Menjelang makan malam, Pak Leo menyampaikan selamat datang untuk kami, para peserta dan panitia. Ada juga perkenalan singkat dari panitia lokal. Selesai makan malam kami kembali ke kamar masing-masing dan saya kembali bersama dengan Kak Raika.
Sebelum kami kembali ada sesi ambil gambar (selfie). Keakraban
kami mulai muncul sedikit demi sedikit, antara kami peserta muslim dan non-muslim begitu juga dengan panitia muslim dan yang non-muslim. Jadi, para peserta pelatihan ini berasal dari beragam keyakinan dan begitu juga panitianya. Ada Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Katolik, Islam Syiah, dan agama lokal Masade. Saya dan
Raika sesampai di kamar belum langsung tidur tapi kami ngobrol
sampai pukul dua belas malam. Setelahnya, baru kami tidur.
Hari Kedua: Kamis, 22 September 2016
Sesudah makan siang, pelatihan pun dimulai. Sebelum penyampaian materi, kami melakukan aktivitas perkenalan.
Caranya dengan melakukan game. Setiap orang menyebutkan
nama dan julukannya. Peserta ada tiga puluh orang dan kami harus hafal semua nama peserta. Para panitia dan fasilitator juga ikut dalam acara perkenalan itu. Sehabis perkenalan sedikit demi sedikit kecanggungan saya pun melebur dalam keakraban di antara kami.
Materi kami yang pertama adalah Hak Asasi Manusia. Kami
diberikan panduan bacaan materi yang bersangkutan. Disini kami banyak berdiskusi. Menurut fasilitator, persoalan HAM ini masih belum dipahami sepenuhnya baik oleh aparat pemerintah maupun oleh masyarakat, sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang benar tentang persoalan HAM ini. Materi berikutnya adalah materi yang
disampaikan oleh Pak Leo, yaitu Dunia Digital dan Media Sosial.
Pak Leo bertanya kepada kami, “Ada yang punya smartphone?”
Dan jawab kami,“Iya ada”. Pak Leo pun melanjutkannya dengan memetakan perkembangan dunia digital dan media sosial saat ini. Kami juga diberi bacaan tentang hal itu. Dari materi kedua ini saya mengetahui bahwa pengguna medsos atau dunia digital kebanyakan anak muda. Pengguna perempuan ternyata lebih aktif ketimbang laki-laki.
Dengan banyaknya peristiwa yang merugikan sehubungan dengan aktivitas di dunia maya, kami diminta untuk mengintro-speksi diri apakah sudah benar dalam menggunakan internet dengan caramelihat status atau kegiatan di media sosial seminggu atau dua minggu sebelumnya. Kami pun diminta mengklasiikasikan status yang positif dan yang negatif; apa yang kami lakukan
terhadap posting-an. Misalnya, apakah kami menandai posting
-an, Menyebarkan (sharing) posting-an orang lain, menulisstatus
pribadi,ataumenyebarkan (sharing) karya tulis. Dari aktivitas
itu, dijelaskan bahwa pengguna internet, mediasosial,atau dunia digital itu terbagi tiga, yaitu orang yang senang membuat opini (opinion makers); orang yang suka ngobrol (conversationalists);
dari materi kedua ini adalah ajakan untuk menghargai privasi diri sendiri dan orang lain. Hargai privasimu dan privasi orang lain!
Sepanjang siang di hari kedua itu, kami pun mulai akrab satu
dengan yang lain. Saya pun mulai ngobrol dengan teman-teman
yang lain, salah satunya dengan Sterky,mahasiswa dari UKIT yang
duduk di samping saya. Setiap kali game, Sterky selalu mengejek
saya, karena saya menutup wajah saya dengan cadar dan meminta saya untuk membuka cadar saya. Tentu saja dia hanya bercanda. Dia nggak serius dengan permintaannya itu. Setiap dia duduk di samping saya, dia terus saja memperhatikan bagaimana saya makan dengan tetap memakai cadar.
Setelah makan malam, materi ketiga pun dimulai. Materi ini dibawakan oleh Pak Al Makin seorang dosen di UIN Sunan
Kalijaga. Beliau membawakan materi tentang Kemunculan
Agama-agama Dunia. Luar biasa materi ini. Kami pun mengetahui agama yang paling tua dan paling muda. Ternyata agama saya, Islam adalah salah satu agama yang paling muda. Melalui materi ini, saya pribadi mendapat pemahaman tentang pentingnya sejarah,
karena dari bukti sejarah kita bisa mengetahui wisdom dan sistem
pewarisan nilai-nilai antara agama yang satu dengan yang lain. Sebelum menutup hari kedua, kami melakukan releksi harian. Peserta yang memberikan releksi diberi buku. Pada malam itu saya masih belum bisa mereleksikan kegiatan hari pertama.
Hari Ketiga: Jumat, 23 September 2016
Di hari kedua, kami melakukan olah raga, tetapi pada pagi hari ketiga ini tidak ada yang olahraga. Semua orang tidur larut, sehingga kelelahan. Meskipun demikian, pagi itu tetap ada yang melakukan olah raga, yaitu kami berlima, saya, Kak Fika, Kak Jesy, serta Devia, dan Indri. Hari ini ada lima materi yang akan kami diskusikan dalam pelatihan.Selesai sarapan, kami pun memulai sesi pertama hari itu.
kami mengenai Pasal 1 DUHAM atau Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia. Dari materi keempat ini saya belajar bahwa sebuah negara berkewajiban untuk melaksanakan tiga hal terkait
hak asasi manusia, yaitu menghormati (to respect), melindungi
(to protect), dan memenuhi (to fulfill). Selesai materi ini, kami menikmati kudapan pagi dan lanjut dengan materi kelima.
Internet Sehat menjadi materi kelima oleh Bapak Leonard C. Epafras. Kami pun diberi bacaan yang berisi kasus-kasus yang berhubungan dengan aktivitas seseorang di media sosial. Misalnya, Ibu Ervani yang terjerat UU ITE karena mencemarkan nama baik orang perusahaantempat suaminya bekerja lalu mengalami pemutusan hubungan kerja. Materi ini mengajak kami untuk memposisikan diri dalam dunia maya. Kami pun diminta oleh fasilitator untuk mengomentari video tentang FPI yang menghujat dan mencaci maki Ahmadiyah. Ada beragam tanggapan dari kami
semua, ada yang ‘komen’, tetapi ada juga yang ‘no komen’. Dari
materi ini, saya paham bahwa kita harus mengontrol diri kita ketika ada tautan atau berita di internet yang kurang baik. Kita harus mem-filter-nya. Apabila kita hendak membicarakan kejahatan atau menyindir orang lain kita tidak diizinkan menuliskan namanya, karena itu akan mencemarkan nama baik pihak yang namanya disebut. Selain itu, tidak perlu mencantumkan lokasi rumah. Terakhir,Pak Leo mengatakan bahwa orang yang menggunakan internet itu beragam, tetapi banyak yang buta hukum atau literasidigitalnya rendah.
mempraktikan tatacara sholat. Mereka banyak bertanya tentang tatacara sholat mengapa harus menutup aurat dan mengapa hanya laki-laki yang diwajibkan untuk sholat Jumat dan kami pun menjelaskan sesuai dengan pemahaman kami orang Islam. Selesai kunjungan ke masjid, kami kembali dan makan siang, untuk lanjut materi keenam.
Materi Agama-agama di Indonesia oleh Pak Al Makin
mengingatkan kami kembali bahwa agama-agama dunia itu terbagi atas agama-agama Barat yang berasal dari wilayah duniaBarat dan agama-agama Timur yang berasal dari wilayah dunia bagian Timur. Keduanya tidak pernah berjumpa. Tetapi, di Indonesia tidak demikian.Agama-agama dunia malah menyatu di Indonesia. Di Indonesia itu ada banyak sekali agama lokal dan agama ‘impor’ yang kemudian terjadi percampuran di antara agama- agama itu.
Setelah game selingan, materi selanjutnya adalah Kovenan
oleh Ibu Alviani Permata. Kovenan merupakan perjanjian inter-nasional. Materi berikutnya adalah materi dari Pak Al Makin
tentang Keberagaman dan Perbedaan. Beliau menyatakan bahwa
ketika kita mau menilai sesuatu maka kita harus melihatnya dari berbagai sisi. Jika ingin mengetahui agama orang lain maka kita harus menanyakan kepada orang yang mempunyai iman. Releksi harian dilakukan setelah semua materi selesai.Ada beberapa peserta yang menyampaikan releksinya dan saya salah satunya. Akhirnya, saya mendapat buku. Rangkaian sesi selesai untuk hari itu dan kami pun diminta untuk kembali ke kamar untuk istirahat karena besok kami akan mengadakan kegiatan lagi.
Hari Keempat: Sabtu, 24 September 2016
Pada pukul 07.30 kami sarapan setelah selesai mandi dan olah raga. Kami memakai kaos yang sama berwarna kuning dari
INGAGE. Selanjutnya kami mengadakan Interfaith Journey. Ada
Di Bukit Doa Tomohon
Setiba di Bukit Doa kami langsung diminta duduk untuk men-dengarkan sambutan dari pengelola Taman Bukit Doa Tomohon dan juga penjelasan tentang agama Katolik oleh Romo atau Pendeta Umat Katolik. Di sana kami mengambil gambar. Teman-teman peserta dan panitia sebagiannya meminta foto bersama dengan saya. Saya sempat menanyakan kepada mereka mengapa mau berfoto sama saya.Kata mereka, karena belum pernah berfoto bersama dengan wanita yang bercadar. Bukannya saya merasa ekslusif dan
ge’er tapi saya bisa merasakan keakraban dan saling memahami di antara kami semakin bertambah di INGAGE ini.
Di Pura Danu Mandara Tondano
Dari taman Bukit Doa Tomohon kami lanjut ke Tondano ke tempat ibadah umat Hindu, yaitu pura. Ini tempat yang sangat mengesankan bagi saya pribadi. Lokasinya agak jauh dari pemukiman warga. Pintu masuk atau gapura berjarak sekitar lima puluh meter lebih untuk sampai ke pintu yang kedua.Di pintu kedua terdapat patung penyambut tamu perempuan di kanan dan laki-laki di kiri. Untuk mencapai pintu ketiga kami harus naik tangga.Pada tangga ada tiga tempat datar sebagai tempat perhentian. Tempat perhentian ini memiliki makna tersendiri. Di ujung tangga ada pintu yang ketiga. Di samping pintu itu ada patung Ganesha yang ditemani kelinci dan tikus di sebelah kiri dan kanan pintu.
Setelah pintu ketiga terdapat beberapa bangunan di dalamnya. Ada aula, tempat memainkan musik (gamelan), dan ada satu pintu masuk lagi yang berhadapan langsung dengan patung Ganesha. Di dalamnya ada tempat pemujaan. Kami diminta duduk di aula untuk mendengarkan penjelasan dari Pandita, kalau dalam agamaKristen disebut Pendeta dan dalam agama Islam
disebut Imam. Kami diberi salam Om suasti astu yang artinya
sama dengan Assalamu’alaikum dalam Islam. Sang Pandita
istilah Trimurti Ang Ung Om, maksudnya Tuhan itu hanya satu hanya saja ada terbagi dalam tiga nama sifatnya. Dalam Hindu
ada tiga nama sifat Tuhan.Yang pertama Brahmayang mencipta,
Wisnuyang memelihara dan Siwayang mengembalikan. Agama Hindu tidak menyembah patung tetapi arca-arca atau prasasti.Hal itu merupakan kontekstualisasi perwujudan Tuhan lalu diberikan sesajen di hadapan-Nya.
Di Vihara Dhammadipa
Selesai kami mengunjungi pura di Tondano kami kembali ke Manado menuju vihara tempat ibadah umat Buddha. Kami diminta naik ke lantai dua tempat peribadatan dilaksanakan. Di sana diletakkan patung Buddha. Tangga menuju lantai dua itu memisahkan perempuan dan laki-laki. Sesampai di atas, kami diminta duduk di atas bantal yang telah disediakan. Banyak lilin di ruangan itu. Patung Buddha diapit oleh dua patung pengawal saling berhadapan di kiri dan kanan. Dalamagama Buddha pemimpin
jama’ah disebut Bhikkhu atau Bhante. Di antara pertanyaan yang diajukan, salah satunya adalah saya yang menanyakan tentang tempat duduk Buddha. Jawaban Bhante adalah bunga teratai. Saya bertanya lagi apakah makna bunga teratai dalam agama Buddha? Bhante pun menjawab bahwa bunga teratai yang hidup di lumpur, tetapi bunganya tidak terkena lumpur. Jika dianalogikan dengan hidup manusia, maka meskipun kita manusia hidup di tempat yang penuh dengan kemaksiatan, tetapi kita harus tetap menjadi pribadi yang bersih dari kejahatan.
Interfaith Journey dilanjutkan dengan releksi dan saya mengajukan diri untuk menyampaikan releksi saya untuk hari itu. Alhamdulillah, saya bisa mendapatkan buku yang kedua.
Hari Kelima: Minggu, 25 September 2016
hanya karena bercadar. Tetapi, ternyata mereka menyambut kami semua dengan baik. Memang ada beberapa orang yang menatap heran kepada saya, tapi saya harus memaklumi karena mungkin itu pengalaman pertama kali mereka beribadah lalu ada orang yang beragama non-Kristen duduk bersama-sama mendengarkan khotbah.Bagi saya, duduk di dalam gereja untuk mendengarkan khotbah juga kali pertama saya. Selesai khotbah ada persembahan. Kami pun semua bergiliran memberikan persembahan.Hari itu kami berkesempatan memberikan persembahan berupa lagu persaudaraan.Kami semua baik peserta, panitia maupun fasilitator maju ke depan untuk menyanyi.
Begitu selesai acara ibadah, ada sesi foto-foto, dan saya dipanggil untuk berfoto bersama dengan Pendeta. Begitu juga waktu di vihara saya juga diminta untuk berfoto bersama Bhante. Saya mengungkapkan ini bukanlah untuk pamer bahwa saya orang eksklusif, tetapi bagi saya pribadi, saya berharap ini merupakan bukti bahwa perbedaan bukanlah benteng bagi kita untuk menjalin tali persahabatan antaragama. Selesai foto dengan Pak Pendeta saya berfoto dengan teman-teman lain salah satunya
Sterky yang dari awal melihat saya dan terus saja mem-bully
saya. Dia mengajak saya berfoto didepan mimbar yang ada tanda salibnya di belakang kami. Foto-foto kami sudah banyak diunggah dan salah satunya foto saya dan Sterky tanpa saya ketahui.
Dari gereja kami kembali ke hotel untuk makan siang. Kami
harus check-out dari hotel untuk Live-in. Sebelum berangkat, ada
pembekalan dan persiapan. Pembekalan disampaikan oleh staf dari pemerintah provinsi. Dalam pembekalan, kami diingatkan
untuk tidak memicu keresahan warga tempat kamiLive-in tetapi
saling berbaur, dan menjaga ketenangan, serta saling melindungi.
Seusai pembekalan kami pun berangkat ke tempat Live-in.
peliharaan Si Ibu. Saya sudah tidak kaget dengan anjing peliharaan ini, karena sebelumnya Ibu Angie sudah memberitahulebih dulu.
Soal anjing ini, panitia meminta maaf, karena nggak bisa meminta
pemilik rumah untuk memindahkan anjingnya. Tetapi, bagi saya
pribadi, tidak apa-apa kok, meski jujur saya takut dengan hewan
yang satu ini.
Saya berhenti sebentar dan berdoa, “Semoga mereka bisa menerima saya, Ya Allah. Allah saya takut diusir dari rumah atau
diapa-apakan. ”Bayangan yang nggak-nggak pun menerawang
dan saya deg-degan ketika masuk ke rumah. Tetapi,subhanallah,
segala puji bagi Allah. Kami disambut dengan tangan terbuka. Kami pun saling berkenalan.
Pak Leo berkata,“Panitia INGAGE sangat berharap Bapak
dan Ibu bisa menerima mereka dan kami juga tidak bisa lama-lama, karena masih ada peserta yang harus kami antar ke tempat
Live-in mereka. Terima kasih sekali dan kami mohon pamit.”Saya langsung memegang lengan baju Pak Leo dan menggelengkan kepala. Mata saya menunjukan rasa takut dan ternyata Pak Leo bisa membaca aura wajah saya yang takut, meski hanya terlihat dari mata saya dan Pak Leo berkata, “Tidak apa-apa kok, nggak usah takut.” Saya pun melepaskan lengan baju Beliau.
peliharaan sang Ibu. Rumah mereka nyaman. Di pojok ruang makan ada pohon terang yang dilingkari pernak-pernik simbol
natal, pohonnya gede. Itulah kondisi dalam rumah dan keluarga
mereka. Selesai berbincang-bincang, kami pun beristirahat.
Hari Keenam: Senin, 26 September 2016
Pagi ini kami awali dengan sarapan yang dibuat Ibu dan
Oma Poppy, berasa di rumah sendiri. Kami ngobrol tentang nilai
toleransi yang harus dijadikan prioritas utama. Saya mengatakan kalau inti kegiatan kami adalah memberikan pemahaman bahwa kalau ingin mengetahui agama orang lain bertanyalah langsung kepada sipenganut agama tersebut, bukan kepada sesama orang yang bertanya. Maka saya pun bertanya kepada Bapak tentang konsep ketuhanan dalam iman Kristen.
Bapak menjelaskan bahwa di dalam iman Kristen ada Tritunggal atau Trinitas, yaitu ada tiga substansi yang sebenarnya itu satu. Saya dan ka Fikra mulai menyimak dengan penuh perhatian. Bapak mengulangi dan menjelaskan bahwa sebenarnya Tuhan itu hanya satu tetapi mempunyai tiga nama. Nah, tiga nama ini yang di sebut Allah, Anak, dan Roh Kudus. Kebanyakan orang yang diluar Kristen atau mereka yang tidak percaya sebagian menganggap kalau orang Kristen itu menyembah tiga tuhan yang berbeda-beda, padahal tidak. Trinitas itu dapat diandaikan seperti misalnya,“saya seorang Bapak ketika di rumah, seorang dosen ketika di kampus, dan seorang warga di lingkungan masyarakat. Tugas saya sebagai Bapak berbeda dengan saya saat di kampus sebagai dosen apa lagi saat saya di lingkungan masyarakat.”
Dan, saya terkesima karena hal ini hampir sama dengan konsep tuhan yang ada pada agama Hindu dan Buddha. Saya ingat juga bahwa waktu di hotel, teman sekamar saya Kak Fikra menyatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Bapak.
sudah menikah. Di sana kami bertemu dengan cucu imut mereka, Luvi. Ada satu hal yang saya suka dari Luvi yang usianya sekitar 11 bulan, ia anak yang pintar.Biasanya anak-anak yang baru pertama kali melihat saya pasti akan menghindar dan paling parah sampai
mereka menangis.Tetapi kali ini berbeda. Si bayi kecil ini nggak
takut dengan saya, bahkan mau saya gendong. Kami banyak bercanda di sana dan juga mengambil beberapa foto. Lalu kami langsung ke stasiun sehabis dari sana. Dari stasiun Ibu membawa saya dan Kak Fikra ke kantor KPU. Kami bertemu dengan orang-orang di KPU, kami ngobrol ringan tentang kegiatan kami.
Ketika ketua KPU datang, kami diminta Ibu untuk ke ruangan ketua KPU yang tidak lain adalah ketua GAMKI yang menjadi salah satu pemberi motivasi saat Pembukaan INGAGE. Kami ngobrol lagi di ruang Ketua. Karena sesudah itu ada rapat, saya dan Kak Fikra ke ruangan Ibu yang tidak jauh dari ruang rapat.
Setelah rapat kami diajak Ibu untuk makan siang di rumah makan. Selesai makan saya lihat WA dan ada beberapa teman yang jalan-jalan ke tempat-tempat bersejarah di Tondano. Saya bertanya kepada Ibu tentang adanya tempat-tempat bersejarah di situ, dan Ibu bilang, “Iya ada”. Ibu bertanya apakah saya dan Kak Fikra mau kesana. Saya dan Kak Fikra ingin ke sana. Sehabis dari rumah makan, kami pun diajak ke benteng Belandadan tidak lupa mengambil foto. Selesai dari sini, kami pulang.
Sampai di rumah kami beristirahat siang. Pada sore harinya
Ibu mengajak kami ke lapangan. Disana Ibu main Volley Ball dan
kami menonton. Banyak warga yang menonton mereka main volly dan waktu itu baru saya dan Oma Poppy, sedang Kak Fikra masih di rumah. Saya berdiri di dekat Ibu penjual pisang goreng. Salah seorang tante dari mereka itu bertanya kepada saya seperti ini,
“Cewek, emang nggak boleh ya, kamu lepasin penutup wajahmu?”
Saya bingung mau jawab apa. Lalu hanya berkata, ”Eee,
engggggak bisa, Bu.”
“Kalau misalkan di daerah atau lingkungannya orang Islam, silakan kamu pakai cadar tapi kalau daerah orang Kristen, ya, harus menyesuaikan. Kalau di Arab, ya, silakan kamu pake.”
Sekali lagi saya hanya bisa diam. Saat itu saya ingin kembali ke rumah, tapi Ibu-ibu yang lain bilang ke Ibu itu, “nDa perlu mau urusin cara berpakaiannya. Itu keimanan dia.Itu agamanya dia. Torang (kita) mesti hargai dia. Terserah dia mau pakai apa, jangan ambil pusing. Itu dorang pe (mereka punya) iman.”
Oma Poppy yang memakai bahasa daerah Tondano bilang ke Ibu itu, yang tidak lain adalah anaknya. Oma Poppy mengajak saya ke warung sebelah dan si Ibu itu masih membicarakan mengenai cadar saya, tetapi Ibu-ibu lain tetap mengatakan hal yang sama ke dia. Mereka tidak setuju dengan pernyataannya kepada saya. Seusai
ibu main volley dan kami kembali ke rumah. Saya menceritakan
tentang Ibu tadi yang meminta saya untuk melepaskan cadar saya dan Ibu sangat tidak setuju dengan Si Ibu tadi.
Hari Ketujuh: Selasa, 27 September 2016
Seusai sarapan kami ke kantor menemani Ibu. Ketika Ibu rapat kami menunggu di ruangannya. Kak Fikra membuka WA dan bilang kalau hari ini Kak Rivo salah satu panitia lokal akan datang mengambil gambar atau video kegiatan kami. Selang beberapa lama Kak Rivo datang dan mulai meliput kegiatan kami. Ada dua peserta lain yang datang, yaitu Arianto dan Tauik. Kami berbincang-bincang di ruangan pak Ketua KPU. Arianto dan Tauik menceritakan perjalanan mereka ke makam Kyai Modjo
dan Riedel,salah seorang penginjil di Minahasa. Selasai ngobrol
Kak Rivo mengambil gambar, lalu mereka pulang.
pulang, Ibu singgah di pasar dan kami menunggu di mobil. Ada yang menarik dengan pasar ini. Di dekat pasar ada masjid yang berdekatan dengan gereja.Jika dilihat sekilas, kubah dan menara gereja tampak seperti satu bangunan.
Hari Kedelapan: Rabu, 28 September 2016
Pagi itu saya cerita ke Ibu kalau teman-teman kami yang lain sudah pergi ke Danau Tondano sembari memperlihatkan foto yang diunggah kepadaIbu. Dan Ibu langsung bilang,“Ya sudah, kita ke sana pagi ini karena kalian akan berangkat kembali ke Manado sebentar siang.”
Saya dan Kak Fikra antusias dengan ajakan Ibu. Kami pun pergi ke Danau Tondano bertiga dan berfoto di sana.Dari sana kami langsung ke kantor KPU menunggu teman-teman yang lain
yang lokasi Live-in-nya di Tondano juga. Sebelumnya saya sudah
pamitan dengan orang-orang di rumah juga sama Luvi. Tidak lama kemudian Pak Leo dan Ibu Angie pun datang dan ada penyerahan
cinderamata dari INGAGE bagi tiap-tiap orang tua Live-in, dan
yang menyerahkannya adalah kami. Selesai penyerahan dan
perpisahan serta foto bersama dengan orang tua Live-in kami
berangkat ke Tomohon menjemput teman yang lain dan lanjut ke Manado. Tangan saya terus melambaikan ke Ibu saat saya sudah di dalam mobil dan Ibu pun membalasnya. Teman-teman yang
lain bilang kalau saya udah nggak mau pulang, sepertinya begitu.
Karena Ibu sangat baik sama saya dan Kak Fikra, kami selalu diajak jalan dan dianggap seperti anak mereka sendiri.
Di Tomohon kami menjemput Indah, kami dijamu makan siang dilanjutkan dengan foto bersama, lalu lanjut ke Manado
untuk Penutupan. Di dalam bus, kami sharing-sharing tentang
saya duduk bersama Kak Mardiansyah. Dia bercerita bahwa ada beberapa foto dari kegiatan INGAGE yang menjadi perbincangan di Kementrian Agama dan juga di kampus IAIN Manado, yaitu foto saya dan Kak Nindy. Saya kaget, katanya yang tersebar itu foto Kak Nindy yang berfoto di depan patung Bunda Maria dengan mengunci tangan dan menunduk seakan sedang berdoa di dalam Kapel dengan menggunakan hijab serta foto saya dan Sterky di gereja. Menurut Kak Mardiansyah,hal itu sudah dijelaskan oleh pak Leo kepada staf Kementrian Agama.
Selesai makan ada testimoni satu persatu tentang program
tujuh hari Pelatihan dan Live-in kami. Ada beberapa orang yang
maju menceritakan tentang Live-in dan saya salah satunya. Saya
katakan bahwa itu pengalaman yang luar biasa. Saya bisa berbaur dengan mereka yang berbeda dengan saya. Mereka menghargai kita dan kita pun harus menghargai mereka. Meskipun terkadang ada orang yang memicu konlik, misalnya menganggap kalau daerah Kristen haruslah bertindak dan berpakaian Kristen dan kalau daerah Islam harus berpakaian Islami, tetapi ada juga dan lebih banyak orang yang mencintai kedamaiandan memiliki toleransi yang tinggi. Mereka tidak setuju dengan pendapat seperti itu. Kami
dikumpulkan di aula dan membahas tentang aplikasi Sebangsa,
menentukan rencana, dan juga foto-foto perpisahan bersama. INGAGE yang diselenggarakan oleh ICRS bukanlah untuk islamisasi, kristenisasi, hinduisasi, buddhaisasi, masadeisasi (agama lokal), dan syiahisasi (aliran dalam Islam); bukanlah untuk memaksakan perbedaan menjadi satu warna dan mencari persamaan antaragama. Akan tetapi, disini kita diajak untuk
merayakan perbedaan dan meningkatkan toleransi. Celebrate Our
Peserta INGAGE Medan berfoto bersama dengan panitia, fasilitator dan tamu undangan di acara Pembukaan.
Foto oleh Ainul Yaqin, INGAGE Medan
Day 1: Pada Mulanya Kami Menciptakan Cinta
U
ngkapan “kesan awal akan menentukan proses dan kesanakhir” selalu saya pakai saat bertemu dengan orang baru. Juga ketika sedang mengikuti kegiatan baru, termasuk INGAGE! Kegiatan yang saya ikuti selama tujuh hari itu mempunyai kisah mundur, beberapa minggu sebelumnya. Ya, saat formulir INGAGE masih berenang bebas di Facebook. Saya ‘mengambil’ formulir dari dinding salah satu teman. Saya membuka, lalu mengisinya dengan perasaan yang tidak yakin ingin terlibat dalam kegiatan
Perjalanan Manja Tetapi Kritis,
ke Tempat Eksotis Hingga Mistis
ini. Tiap selesai menjawab satu pertanyaan, saya berhenti dan berikir, apakah ingin melanjutkannya. Berulang terjadi demikian, hingga akhirnya formulir yang selesai diisi itu terkirim.
Saya belum pernah terlibat dalam kegiatan lintas iman. Inilah yang membuat ragu. Maklum, saya lebih aktif bergerak di seputar isu jender dan seksualitas –yang sering dianggap tabu oleh sebagian orang‘beriman’. Hal lain yang membuat ragu adalah bayangan awal saya sendiri, bahwa mungkin pesertanya merupakan orang-orang yang sangat mendalami pengetahuan agama. Sedangkan
saya? Mungkin hanya akan menjadi pendengar yang syantik (baca:
cantik)ketika diskusi berlangsung. Tetapi, akhirnya saya berada di sana.Tak akan kembali karena memang nurani yang menuntun saya untuk memulai kisah tujuh hari ini.
Awalnya, saat pembukaan acara, semuamasih terlihat biasa, bahkan hanya sedikit saja menarik perhatian saya, karena merupakan rangkaian pidato yang sekadar seremonial dan hanya mengusung retorika belaka. Beberapa kali saya keluar (maaf, kepada para kakak
panita yang kece), karena merasa bosan.Sampai saatnya makan
siang pun masih sama membosankan.Untung saja saya sudah
‘klik’dengan seorang teman baru. Kami bertukar cerita, berdiskusi hingga bergosip manja untuk bisa menghilangkan rasa bosan.
Berlanjut ke acara perkenalan dengan peserta pelatihan yang membuat kesan tersendiri. Saya suka cara menata ruangannya. Kursi ditata melingkar tanpa meja. Artinya, panitia dan fasilitator tidak membuat jarak dengan peserta. Dengan demikian, kami bisa saling melihat: ke kanan, ke kiri, ke depan, dan juga ke belakang
dengan leluasa. Perkenalan diiringidengan nyanyian ala Dora the
Explorer yang memecahkan tawa juga mencairkan suasana. Lalu kami memperkenalkan nama masing-masing dengan cara yang tak kalah menarik. Sangat menohok dan melekat di ingatan. Menurut saya, perkenalannya efektif. Dalam kurang lebih satu jam saja, saya bisa mengenal setiap nama peserta, panitia dan
fasilitator, termasuk embel-embel kata sifat yang mencerminkan
Waktu berjalan. Sesi berlanjut. Kontrak belajar, family rules
hingga hal-hal yang berkaitan dengan pelatihan dijelaskan oleh panitia. Berikutnya adalah penyampaian materi. Pertama, tentang Hak Asasi Manusia. Sesi ini membuatku sedikit terkejut. Biasanya, materi ini menimbulkan pertentangan dan perdebatan. Sering kali dikatakan sebagai produk Barat yang kerap dianggap tidak penting oleh beberapa kelompok agama, karena bukan berasal dari irman atauwahyu. Ternyata dugaanku salah. Peserta dari latar belakang berbagai agama dan kepercayaan ini begitu terbuka saat membahas hal ini.
Dilanjut dengan materi selanjutnya, yaitu tentang dunia digital dan sejarah agama-agama. Diskusi berlangsung terbuka. Ruang-ruang perdebatan dilandasi penghormatan dan cinta di antara peserta, membuat saya merasa bahwa tempat ini bukan tempat yang menyedihkan, tetapi justru merupakan tempat yang penuh keceriaan dan cinta antaranak muda lintasiman.Tak lupa bumbu candaan yang tidak garing, tidak mendiskriminasi menjadikan suasana cair. Kedekatan dan rasa cinta yang terbangun dari awal perkenalan terus merasuk dalam ingatan dan perbuatan, terlihat pada wajah saya dan peserta lain. Ahh, ternyata ini menyenangkan!Tak sabar rasanya menunggu hari esok untuk melihat apakah cinta ini akan bertambah besar. Ditunggu ya.
Day 2: Adil Sejak dalam Pikiran Lalu Mengubah Dunia
Medan memancarkan rasa hangat yang tak perlu diungkapkan dengan kata-kata. Cukup dirasakan dengan sepenuh jiwa.
Materi pokok selain Hak Asasi Manusia, perilakudi media sosial dan sejarah agama-agama, dilanjutkan di hari kedua untuk memantapkan yang telah diberikan pada hari pertama. Berbeda dengan kemarin, materi hari ini lebih terasa dekat denganku. Memang, materi Hak Asasi Manusia sudah biasa saya dengarkan, tetapi materi tentang perilaku di media sosial adalah materi baru bagi saya. Selama ini kita hanya melakukan, tapi terkadang tak terpikirkan. Kiat-kiat berperilaku di media sosial yang baik merupakan salah satu materi yang sangat penting dan membantu
saya sebagai bagian dari masyarakat digital dengan kategori hyper.
Saya seringkali hanya sibuk beretorika di media sosial tanpa
mempedulikan etika. Kadang menjadi sutradara life streaming
diri saya sendiri dimedia sosial tanpa pernah berpikir bahwa itu ternyata tak menarik dan tak layak dipertontonkan.
Melalui materi ini juga saya sering berpikir betapa tidak adilnya kita terhadap tubuh kita sendiri hanya karena eksotisme dunia digital. Melepaskan isik lalu berenang bebas dimedia sosial membuat kita lupa akan isik kita yang sesungguhnya telah kita jual-belikan di dunia maya. Misalnya, dengan membuat ‘status’ di
media sosial seperti “Rambut baru, nih”, “Sepatu baru diskon 50%
dari toko X”, dan lain sebagainya. Saya dulu sering melakukannya, tetapi hari ini saya menyadari betapa sesungguhnya telah memperjualbelikan rambut dan kaki kepada semua orang, yang belum tentu isik saya menginginkan itu.