• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sahata Saoloan (Seiya Sekata) Merangkul Perbedaan

Dalam dokumen Jabat Erat Dari Ambon Manado dan Medan S (Halaman 93-109)

diungkapkan satu per satu. Turut serta dalam program INGAGE merupakan sebuah keberuntungan dan kesempatan yang sanga tbaik sebab tidak semua orang bias mendapatkan kesempatan tersebut. Saya sangat mengapresiasi ICRS UGM, Lutheran World Federation (LWF) dan Norwegian Agency for Development Cooperation (Norad) yang telah berinisiatif mengadakan kegiatan ini.

INGAGE merupakan sebuah wadah yang sangat positif dalam rangka mewujudkan dan mendukung terciptanya masyarakat yang harmonis dan madani sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pancasila .INGAGE sebaga ititik awal untuk merintis langkah-langkah selanjutnya harus diapresiasi oleh setiap pihak terutama pemangku kepentingan. Sehingga cita-cita mewujudkan perdamaian di bumi pertiwi tidak hanya dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok saja dan tentu tidak bertepuk sebelah tangan. Mengingat Indonesia merupakan Negara yang sangat plural dan sering terjadi gesekan antar masyarakat yang berujung pada munculnya konlik social maka langkah-langkah praktis dan strategis seperti kegiatan INGAGE ini sangat perlu digalakkan.

Tiap-tiap celaka ada maknanya. Demikian juga INGAGE yang telah berlangsung. Celaka pada umumnya menyebabkan kerugian dan penderitaan akan tetapi INGAGE berbeda. Kecelakaan dengan mengikuti program INGAGE membawa saya pada sebuah keberuntungan. Saya beruntung dapat menemuka ncarapandang baru, membuka wawasan saya tentang betapa kaya dan pluralnya Indonesia. Sebelum terlalu jauh bercerita tentang pengalaman saya selama mengikuti program INGAGE ada baiknya saya menjelaskan sediki ttentang INGAGE supaya pembaca sekalian tidak bingung. Apakah sejenis Bika Ambon yang baru? Tentu tidak.

INGAGE (Interfaith New Generation Initiativeand Engagement) merupakan sebuah program yang mewadahi kaum muda untuk melibatkan diri dalam keberagaman iman dan tradisi keagamaan,

serta bersikap kritis terhadap hubungan antarkomunitas. Dalam program ini, kaum muda akan dibekali dengan pemahaman tentang perbedaan iman dan kesetaraan, mengeksplorasi per- bedaan tersebut melalui teknologi digital atau media sosial secara kreatif dan inovatif untuk bersama-sama membangun Indonesia yang madani.

Dari awal mengikuti program ini saya sudah mendapatkan banyak pengetahuan baru, bahkan sebelum INGAGE resmi dibuk asaya sudah belajar banyak hal dari para peserta yang notabene berbeda keyakinan dengan saya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah saya bertemu langsung dengan penganut aliran kepercayaan atau agama Parmalim. Selama ini saya hanya mendengar desas desus dan membaca melalui media sosial tentang keberadaan dan tantangan yang sering dihadapi para penganut agama asli bangso (suku) Batak tersebut.

Kesan pertama yang saya dapatkan sangat menarik walaupun awalnya saya canggung berada dalam satu kamar dengan peserta yang menganut agama Parmalim. Saya masih hati-hati dalam berbicara dan bertindak sebab dalam pikiran saya masih ada stigma yang “aneh” tentang kepercayaan Parmalim apalagi ini merupakan pertama kali saya mengenal orang yang menganut kepercayaan Parmalim. Di luar dugaan, teman satu kamar tersebut sangat ramah dan terbuka untuk menjelaska berbagai hal terkait kepercayaan Parmalim. Saya beruntung bias mendapatkan penjelasan secara langsung dari uluan (penganut) terkait kepercayaan Parmalim. Kami bercerita banyak soal sejarah, ritual, tantangan yang dihadapi pemeluk, penyebaran ajaran dan lain-lain. Saya sangat kaget ketika mengetahui bahwa aliran kepercayaan Parmalim ternyata berkembang pesat di luar Sumatera Utara. Awalnya saya mengetahui bahwa aliran kepercayaan Parmalim hanya bekembang di Toba dan sebagiankecil di Kota Medan. Ini merupakan sebuah fakta baru yang saya temukan berkat program INGAGE. Maka benarlah hipotesis yang mengatakan, “Jika ingin mengetahuii dentitasa atau keyakinan orang lain, tanyakan langsung pada orangnya, yaitu penganut kepercayaan tersebut.”

Hari pertama mengikuti program INGAGE saya belajar banyak hal baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Di luar kelas saya belajar tentang keragaman aliran kepercayaan yang dimiliki oleh peserta INGAGE. Untuk pertama kalinya saya mengetahui bahwa selain Parmalim, masih ada kepercayaan lain yang dimiliki oleh bangso (suku) Batak. Walaupun saya asli suku Batak Toba, tetapi saya belum pernah mendengar atau belum mengetahui keberadaan aliran kepercayaan Ugamo Bangso Batak (UBB) dan Parbaringin. Ternyata suku Batak sangat kaya akan aliran kepercayaan dan masih tetap bertahan hingga saat ini. Selama ini saya hanya mengetahui aliran kepercayaan Pemena (kepercayaan asli suku Karo), Pelebegu dan Parmalim (kepercayaan asli suku Toba).

Selain kepercayaan suku, untuk pertama kalinya juga saya mengetahui keberadaan kepercayaan Agnostik. Sebuah kepercayaan yang berkembang dalam era modern yang d iilhami oleh perkembangan ilmu pengetahuan. Betapa kaya Indonesia, sungguh membuat saya takjub dan merasa menemukan sesuatu yang baru. Seperti ilmuwan atau peneliti saja. Setelah mengetahui keberadaan aliran-aliran kepercayaan tersebut,saya lantas menunjukkan ekspresi kekaguman dengan mengatakan, “Oohya? Wah cerita dong.”

Jujur saya merupakan tipe orang yang sangat kepo (selalu ingin tahu), makanya saya merasa tersesat di jalan yang tepat dengan mengikuti program INGAGE. Selain belajar di luar kelas, saya juga mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman di dalam kelas. Tapi jangan membayangkan kelas di sekolah atau di kampus. Sebab ini hanya penamaan untuk ruang di aula Asrama Haji Medan.

IsuHak Asasi Manusia (HAM) merupakan isu yang sangat sering diperbincangka ndi republic ini, seolah tak pernah ada habisnya. Hampir setiap hari di berbagai media cetak maupun eletronik tiga kata singkatan ini selalu dibahas. INGAGE tak mau ketinggalan. Topik tentang HAM juga diangkat dalam program ini. Tentu bukan sekedar ikut-ikutan supaya dibilang keren dan

kekinian atau supaya dibilang revolusionis ataupun akademis. Lebih dari itu, bicara soal HAM bukan hanya bicara soal pengetahuan akan hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap makhluk manusia. Akan tetapi terkait dengan bagaimana menciptakan kesadaran pada setiap orang untuk menghargai hak orang lain dan bagaimana supaya seseorang menyadari hak-hak yang dimiliki. Intinya penyadaran dan kesadaran. Dengan menyadari hak-hak yang dimiliki, seseorang akan berjuang untuk mempertahankan haknya sekaligus menghargai hak orang lain.

Dalam sesi ini, peserta diajak untuk mereleksikan bagaimana potret perlindungan HAM di bumi pertiwi serta fakta-fakta baru yang belum pernah muncul di permukaan terkait hak asasi manusia. Sebenarnya saya masih menyimpan beberapa pertanyaan dan kebingunan terkait dengan HAM yang dibahas dalam sesi ini. Akan tetapi karena keterbatasan ruang dan waktu makapertanyaan tersebut saya simpan. Seperti kata salah seorang fasilitator INGAGE, “Bagus kalau kita banyak bertanya dan bagus kalau pertanyaan tersebut belum terjawab, itu artinya kita tertantang untuk mencari tahu lebih jauh.”

Setelah belajar dan berdiskusi panjang lebar soal HAM, ternyata INGAGE masih punya topik yang jauh lebih menarik, menurut saya. Menarik karena saya merupakan orang yang sangat konsumtif dalam menggunakan media komunikasi yang satu ini. Menurut saya, antara topik pertama dengan topik kedua sangat berhubungan. Mengapa berhubungan karena seringkali pelanggaran HAM terjadi melalui alat yang satu ini. Sering kali pula konlik terjadi karena user kurang tepat dalam “membidik sasaran”. Bukannya mendatangkan berkah malah menimbulkan kerusuhan bahkan kematian. Masih segar dalam ingatan kasus kerusuhan yang terjadi di Kota Tanjung Balai Sumatera Utara. Salah satu pemicu terjadinya kerusuhan adalah penyalahgunaan media yang salah, yaitu Facebook. Banyak sekali pengguna termasuk diantaranya saya sendiri yang sering salah dalam menggunakan media sosial.

Bagi saya sendiri media social merupakan alat yang tepat untuk mengekspersikan diri dan menyampaikan informasi atau motivasi serta sharing pengalaman kepada orang lain. Melalui media social juga saya dapat berinteraksi dengan teman-teman yang berada jauh di luar Pulau Sumatera. Saya sering mempublikasikan berbagai hal yang saya alami atau saya lakukan di media sosial. Awalnya saya merasa bahwa hal tersebut tidak salah atau tidak berbahaya. Tak jarang saya mengumbar perasaan terutama emosi yang meluap- luap di media sosial, terutama ketika masih SMA. Akan tetapi berkat program INGAGE dimana dalam beberapa sesi diskusinya, saya dapat belajar bagaimana memanfaatkan media sosial dengan bijak dan pentingnya menjaga privasi di media sosial.

Perlahan saya mulai menyadari bahwa apa yang saya post

atau share di media sosial akan diakses atau dilihat oleh banyak orang. Berkat motivasi dan sharing dari fasilitator serta maraknya kasus penindakan pengguna media social dengan UU ITE, saya semakin hati-hati untuk membuat posting-an di media sosial. Lebih selektif dan pemilihan kata yang untuk menghindari munculnya kontroversi apalagi pertentangan akibat posting-an yang saya buat. Intinya sejak belajar tentang dunia digital dan media sosial dalam program INGAGE, saya semakin mantap untuk memegang moto yang berbunyi, “Ilove my privacy”.

Di samping mendorong kesadaran akan pentingnya menjaga privasi di media sosial, saya juga mendapatkan banyak hal baru terkait dunia digital. Saya diperkenalkan dengan aplikasi baru yang dapat memotivasi atau mendorong orang lain untuk melakukan hal positif, utamanya mendorong orang untuk menciptakan kerukunan di lingkungan sekitar masing-masing. Saya juga belajar tentang bagaimana seharusnya jurnalisme mampu mempengaruhi orang lain untuk tidak terprovokasi isu-isu negative serta bagaimana kualitas berita yang berimbang, actual dan terpercaya. Walaupun hanya sedikit, akan tetapi lebih dari cukup untuk mendukung kemampuan dalam menuliskan pesan-pesan positif di media sosial. Memang saya tidak menjadi seorang jurnalis sungguhan,

tetapi berkat pelatihan tersebut saya bias menjadi jurnalis dunia maya yang menyuarakan isu-isu keberagaman melalui tulisan di media sosial.

Selain dibekali dengan ilmu tentang HAM dan dunia digital, hal yang tak kalah penting dari program INGAGE adalah pembelajaran tentang multikulturalisme agama di dunia dan Indonesia. Mengapa topik ini penting karena isu agama, sebagaimana isu HAM merupakan isu yang tidak pernah habis untuk dibahas dan diperdebatkan di Nusantara tercinta ini. Sejarah mencatat bahwa ratusan konlik terjadi di bumi pertiwi yang dilatarbelakangi oleh fanatisme terhadap agama. Minimnya pemahaman terhadap agama atau kepercayaan orang lain, rasa superioritas atas agama orang lain dan merasa agama sendiri yang paling benar, serta adanya kepentingan-kepentingan politik dibalut isu agama, sering kali menjadi pemicu terjadinya konlik di Indonesia.

Saya berasumsi jika masing-masing individu tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap agama atau kepercayaan orang lain, serta tidak ada keinginan untuk mengenal agama atau kepercayaan orang lain, maka sampai kapanpun Indonesia tidak akan pernah sepi dari konlik yang berbau agama. Belum lagi ketimpangan ekonomi yang berlarut-larut akan menimbulkan kecemburuan social yang dengan mudah menyulut munculnya konlik.

Beruntung saya dipertemukan dengan seorang ahli agama- agama yang merupakan salah satu fasilitator dalam program INGAGE. Ahli tersebut telah membuka cakrawala saya tentang bagaimana sejarah agama, tradisi dan budaya yang berbeda-beda baik di dunia maupun di Indonesia. Terimakasih saya ucapkan atas penjelasan singkat tapi cukup bermakna serta pemberian buku secara cuma-cuma. Saya sadar belajar tentang perbedaan agama dan aliran kepercayaan tidak cukup dalam tiga hari, bahkan seumur hidup pun tak akan cukup waktu untuk membahasnya. Akan tetapi sebagai pedoman awal, saya rasa cukup baik sehingga saya akan lebih termotivasi lagi untuk mempelajari perbedaan-

perbedaan agama dan aliran kepercayaan di Indonesia, khususnya di sekitar tempat tinggal saya.

Saya juga bersyukur dapat bertemu langsung dengan peserta INGAGE, baik yang memiliki agama atau keyakinan yang sama dengan saya maupun yang berbeda. Tidak ada kesempatan yang lebih baik selama ini untuk mengenal keberagaman agama dan keyakinan di Indonesia selain di INGAGE. Tidak banyak orang yang mau memberikan penjelasan secara panjang lebar tentang ajaran agama atau keyakinan yang dianut. Tapi dalam program INGAGE saya bias bebas bertanya langsung kepada Bhikkhu, Pendeta, Ulu Punguan, umat atau pengikut ajaran agama atau keyakinan yang dianut. Bahkan tentang agama saya sendiri pun masih banyak yang belum saya ketahui, dan melalui INGAGE saya bisa mengetahuinya dengan berdiskusi bersamapesertayang mendalami ilmu teologi. Sungguh sebuah perjumpaan yang sangat baik.

Sebagai aplikasi awal dari program pelatihan yang telah berlangsung selama empat hari, para peserta program pelatihan INGAGE mengikuti kegiatan Live-in selama tiga hari di beberapa tempat ibadah atau rumah penduduk pemeluk agama yang berbeda di Kota Medan. Program Live-in merupakan kegiatan yang bertujuan melatih para peserta untuk mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Juga untuk mengenal perbedaan- perbedaan yang ada di lingkungan dimana peserta mengikuti kegiatan Live-in, seperti perbedaan keyakinan, bahasa, budaya, dan lain-lain.

Saya sendiri mengikuti kegiatan Live-in di Pesantren Modern Nurul Hakim Medan. Pesantren ini mendidik para santri dan santriwati yang terdiri dari siswa Madrasah Tsanawiyah atau SMP dan Madrasah Aliyah atau SMA. Pesantren ini didirikan oleh seorang dermawan bernama Hj. Abdul Hakim Nasution. Pesantren di bawah Yayasan Haji Abdul Hakim Nasution Medan ini didirikan pada tahun 1990-an dan resmi memulai proses pembelajaran pada tahun 1992 dengan membuka sekolah tingkat Madrasah Tsanawiyah atau SMP. Kemudian pada tahun 1996, Yayasan Haji

Abdul Hakim Medan membuka sekolah untuk jenjang Madrasah Aliyah atau SMA. Saat ini Pesantren Nurul Hakim Medan di bawah binaan putrid Haji Abdul Hakim yaitu Ibu Hj. Meilani Nasution dan dipimpin oleh Bapak Nazaruddin Siregar sebagai ketua yayasan.

Pengalaman pertama mengikuti kegiatan Live-in di Pesantren Nurul Hakim dimulai pada hari Senin, 5 September 2016. Tepat pukul 08.55 WIB, saya dan sepuluh orang teman tiba di sana. Peserta INGAGE yang didampingi oleh panitia yakni Bapak Muhammad Jailani dan Ibu Simone Sinn serta beberapa panitia lainnya, disambut oleh pihak pesantren yakni Ustaz Mahyudin dan diarahkan menuju aula untuk mengikuti acara penyambutan dan perkenalan. Acara penyambutan diawali dengan penyampaian salam dan kata sambutan dan perkenalan oleh panitia. Setelah itu, pihak pesantren yang diwakili oleh Ustaz Mahyudin menyampaikan kata sambutan sekaligus menjelaskan beberapa peraturan dan kegiatan keseharian anak-anak pesantren yang harus diikuti oleh peserta Live-in.

Setelah mendengarkan penjelasan Ustaz Mahyudin, beberapa peserta mengajukan pertanyaan sebagairespon atas penjelasan Ustaz Mahyudin. Selanjutnya peserta dan pihak perwakilan pesantren berfoto bersama di depan gedung utama pesantren. Lalu peserta diarahkan untuk menuju kamar masing-masing yang mana peserta pria dan wanita terpisah tempat sesuai dengan peraturan pesantren. Peserta laki-laki di tempatkan pada satu kamar yang berada di lantai satu. Kondisi kamar sangat sederhana dan sangat merepresentasikan kehidupan anak pesantren yang sederhana, yang mengingatkan akan masa-masa sekolah di asrama putra dulu.

Sekitar pukul 13.15 WIB, kami diarahkan untuk makan siang bersama santri dan santriwati di ruang makan. Ketika tiba di ruang makan, saya sangat kaget menyaksikan suasana ruang makan yang sangat asing. Saya melihat cara makan yang sangat berbeda dan belum pernah saya saksikan sebelumnya. Para santri mengambil makanan langsung dari wadah besar tanpa menggunakan sendok. Ada pula santri yang menggunakan piring kotor bekas piring santri

lainnya untuk makan. Sungguh saya kaget dan merasa mendapat pengalaman unik yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Lalu saya perhatikan lagi bagaimana cara mereka mengambil ikan dan sayur, siang itu lauk yang tersedia adalah ikan Dencis goreng dan sayur daun ubi yang dihaluskan. Berbeda dengan nasi, kali ini para santri tidak mengambil langsung lauk dan menaruh kepiring, akan tetapi disajikan oleh seorang Ibu ke masing-masing piring santri. Yang jelas, cara itu sangat

asing dan belum pernah saya lihat juga sebelumnya. Selama berada di ruang makan, mata saya tak berhenti menerawang ke setiap sudut, seolah tak rela melewatkan setiap momen di mana para santri sedang menyantap makansiang. Bahkan satu persatu santri yang saya perhatikan merasa malu dan salah tingkah.

Usai makan siang, saya menuju masjid, bukan untuk me- lakukan sholat ,yah. Tetapi untuk memulai aktivitas kehidupan sebagai anak pesantren. Ketika berada di masjid, saya menyapa beberapa santri yang masih duduk di bangku kelas1 Madrasah (SMP). Saat memasuki masjid, perhatian seluruh santri langsung tercurah sepenuhnya pada saya. Mungkin mereka berpikir, “Orang mana ini, masuk masjid dengan pakaian tidak Islami dan pakai symbol agama lain pula?”

Ketika saya duduk di beranda masjid dan menyapa beberapa santri, banyak dari mereka yang menghindar dan masuk ke dalam masjid. Saya langsung mencairkan suasana dengan bercanda bersama beberapa santri. Kami mulai berbincang-bincang walaupun mereka masih malu-malu saat menjawab. Saya sangat ingat dan mungkin akan selalu ingat, pertanyaan yang pertama kali mereka ajukan ialah .“Om, Kristen ya?”

“Ya ampun, muda begini dipanggil Om. Astaga, hahahaha!” saya tertawa, lalu menjawab dan menjelaskan dengan singkat terkait maksud dan tujuan berada di pesantren tempat mereka belajar dan menikmati masa pertumbuhan dan perkembangan sebagai anak. Setelah mendengarkan penjelasan saya, mereka mengangguk-anggukkan kepala, lalu kami melanjutkan berbagi

cerita lainnya, yang tak perlu semua ditulis di sini. Setelah berbincang-bincang sekitar satu jam, saya dan salah seorang peserta Live-in mendengarkan seruan azan dari seorang santri bernama Adam. Ia sangat cakap dalam membaca Alquran dan merupakan seorang haiz (penghafal Alquran). Seruan azan itu bukan pertanda shoal takan tetapi saya yang meminta Adam untuk mempraktikkannya.

Sekitar pukul 14.00 para santri tersebut berkumpul di beranda masjid sebab pelajaran akan dimulai. Siang itu mereka akan belajar bahasa Arab yang dipimpin oleh seorang Ustaz. Ketika mereka belajar, saya dan seorang peserta Live-in lainnya menyaksikan betapa cakapnya santri-santri tersebut melafalkan setiap ayat-ayat Alquran. Puas menyaksikan para santri belajar bahasa Arab, kami berpindah tempat tidak jauh dari masjid.

Tepat di bawah sebuah pohon rindang, terdapat sekumpulan santri yang duduk di bangku Madrasah Aliyah atau SMA yang sedang belajar mata pelajaran Fisika bersama seorang Ustazah yang mereka sebut Ustazah cantik. Karena proses belajar telah usai, kami pun berkenalan dengan Ustazah dan dengan para santri tentunya. Mereka santri yang sangat lucu dan suka melawak. Setelah sekitar 15 menit berbincang-bincang dengan para santri, kami memutuskan untuk membubarkan diri sebab para santri harus mengikuti kegiatan selanjutnya. Lalu kami kembali ke kamar untuk beristirahat sore. Beberapa peserta Live-in mengikuti kegiatan para santri yakni olahraga sore.

Ketika sore tiba, saya hendak mandi akan tetapi tidak ada air di dalam bak. Pada malam harinya, kami makan bersama dengan beberapa Ustaz. Setelah makan malam, kami menuju ruang rapat untuk mengikuti temu ramah dengan pimpinan dan para pembimbing di pesantren. Temu ramah dimulai pada pukul 21.00 WIB. Acara temu ramah diawali dengan perkenalan masing- masing peserta dan dilanjutkan dengan pemaparan dari Ustaz Nazaruddin. Beliau menjelaskan tentang sejarah Pesantren Nurul Hakim, kurikulum, perkenalan para pembimbing pesantren dan

lain-lain. Setelah mendengarkan pemaparan Ustaz Nazaruddin, peserta Live-in diajak berdiskusi dengan kegiatan tanya jawab. Setelah selesai,masing-masing meninggalkan ruang rapat dan kembali ke kamar masing-masing lalu istirahat.

Pada hari pertama berada di Pesantren Nurul Hakim, saya mendapat pengalaman yang unik dimana satu jam setelah tiba di Pesantren Nurul Hakim, sandal saya hilang entah siapa yang ambil. Mendengar sandal saya hilang, seorang Ustaz langsung mengganti dengan membeli sandal baru untuk saya. Sebenarnya saya tidak menginginkan sandal itu diganti sebab saya masih punya sandal yang lain. Tapi karena sudah telanjur dibelikan, akhirnya saya terima. Selain sandal, saya juga merasa gemas dengan kondisi air dimana ketika saya mandi, tiba-tiba air mati dan saya harus melap sabun yang ada di badan dengan menggunakan handuk. Bayangkan! Mungkin lucu.

Selama berada di pesantren Nurul Hakim, saya belajar bagaimana menghargai identitas para santri dan santriwati. Selama menjadi santri dadakan, saya mengenakan pakaian layaknya santri sungguhan. Hal ini saya lakukan sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri pada para santri. Bukan saya mau menghilangkan identitas diri akan tetapi saya hanya ingin para santri tidak menjaga jarak dengan saya hanya karena saya berbeda penampilan. Saya juga ingin menjukkan kepada para santri bahwa walaupun saya berbeda keyakinan dengan meraka, akan tetapi saya sangat menghargai identitas dan kepercayaan mereka dalam hal ini ajaran agama Islam.

Walaupun saya berpakaian secara Islami akan tetapi saya tetap mengenakan kalung salib sebagai identitas agama saya. Dengan

Dalam dokumen Jabat Erat Dari Ambon Manado dan Medan S (Halaman 93-109)